Smart itu …

Seorang sahabat pernah bertanya, apa arti smart menurutmu? Pintar, cerdas. Barangkali kita semua sepakat dan sependapat jika smart diartikan demikian. Tapi mengenai kriteria, mungkin saja masing – masing kita berbeda. Ada yang mengatakan smart itu begini begitu, ada juga yang menyebutkan smart jika ini dan itu, tapi bagiku smart itu…

Bisa menjaga keseimbangan hak dan kewajiban

Seorang yang smart akan menempatkan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban, tidak juga melaksanakan kewajiban tetapi yang menjadi hak justru diabaikan. Ada kalanya memang kewajiban harus didahulukan, diutamakan, tapi ketika hak yang lebih dulu didapat tidak lantas membuat lalai akan kewajiban. Seorang yang smart mengerti bahwa setelah melaksanakan kewajiban, ada hak yang akan dia dapatkan. Seorang yang smart memahami bahwa setelah hak didapat, ada kewajiban yang harus dijalankan.

Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan

Keinginan dan kebutuhan sekilas memang sama, tapi sejatinya berbeda. Tidak semua yang diinginkan adalah termasuk kebutuhan, tapi biasanya apa yang dibutuhkan secara otomatis menjadi keinginan. Seorang yang smart dapat membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Seorang yang smart tidak akan terjebak pada budaya konsumtif yang kebablasan, selalu memenuhi apa yang diinginkan, walau sebenarnya tidak terlalu atau bahkan sama sekali tak dibutuhkan. Ia akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan dibanding keinginan.

Sebagai contoh, di era globalisasi seperti sekarang ini, tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan alat komunikasi mendorong para produsen untuk berlomba mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, salah satunya dengan menambahkan berbagai fitur dan fasilitas yang canggih pada gadget produksi mereka. Tapi orang yang smart akan teliti dalam memilih, jeli sebelum membeli. Orang yang smart tidak akan menghambur-hamburkan uang untuk membeli gadget hanya karena gengsi. Orang yang smart akan memilah gadget yang ia inginkan dan memilih sesuai yang ia butuhkan.

Bisa memilah dan memilih yang penting dan genting

Masih berkaitan dengan kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan, orang yang smart juga sanggup menetapkan pilihan penting di antara yang penting. Menggunakan skala prioritas, orang yang smart akan memilah-milah di antara yang penting, memilih yang genting dan harus diprioritaskan.

Bisa berdamai dengan keadaan dan juga kenyataan

Tidak selamanya apa yang kita inginkan, kita upayakan akan sesuai dengan kenyataan. Orang yang smart senantiasa mampu berdamai dengan keadaan, dan juga kenyataan. Ia tahu bahwa yang terbaik baginya adalah menikmati keadaan, mensyukuri kenyataan, mengupayakan keduanya untuk sesuatu yang positif dan bernilai lebih.

Selalu mencari kawan dan menghindari lawan

Selain makhluk pribadi, kita adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi. Ibarat ikan-ikan di lautan, tingginya kadar garam tak serta merta membuat tubuhnya menjadi asin, maka orang yang smart mampu membawa dan menjaga diri dalam bersosialisasi. Selalu mencari kawan dan persahabatan, menghindari lawan dan permusuhan adalah prinsip orang yang smart. Perbedaan dalam beberapa hal adalah sebuah keniscayaan, tidak selalu salah juga tidak perlu dipermasalahkan. Orang yang smart akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik, termasuk dalam hal pergaulan. Kepada orang lain ia akan berupaya untuk dekat, seperti sahabat, dan hangat layaknya kerabat.

Selalu berpikir positif dan berimajinasi kreatif

Orang yang smart tidak akan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang negatif. Orang yang smart selalu aktif dan kreatif, mengupayakan kebaikan dan juga perbaikan baik bagi diri pribadi, keluarga maupun lingkungannya. Orang yang smart tidak akan menginjak orang lain untuk menaikkan dirinya. Orang yang smart tidak akan berperilaku primitif untuk meraih cita-citanya. Orang yang smart tidak merendahkan orang lain untuk membuatnya tinggi. Dan orang yang smart tidak akan merugikan orang lain untuk keuntungan pribadi.

Selalu sabar dalam ujian dan sadar dalam perjuangan

Hidup ini tak luput dari yang namanya ujian, bahkan ada yang mengatakan hidup itu sendiri adalah ujian dan juga perjuangan. Orang yang smart tidak akan berputus asa ketika berbagai ujian datang mendera. Orang yang smart tidak akan berkeluh kesah ketika hidup harus dijalaninya dengan penuh perjuangan. Orang yang smart akan senantiasa sabar dalam setiap kesempatan dan keadaan. Orang yang smart akan selalu sadar dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Orang yang smart tidak akan mengambil jalan pintas untuk sebuah keberhasilan.

Mengakui bahwa kita adalah makhluk sempurna yang tiada sempurna

Dibanding makhluk lainnya, manusia diberikan banyak kelebihan, namun demikian ia juga mempunyai kekurangan. Orang yang smart senantiasa mensyukuri apa yang menjadi kelebihannya, dan menjadikan kekurangan sebagai pengingat bahwa di atas langit masih ada langit, kita bisa merasa satu-satunya tapi tak boleh merasa segala-galanya. Orang yang smart mengakui bahwa masih ada orang lain yang lebih dari kita, dan meyakini bahwa di atas semuanya ada yang Maha Segala-galanya

***

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Disadur dari tulisan Abi Sabila dengan sedikit penambahan tanpa mengubah pesan-pesan.

Ibu, Aku Tak Mau Jadi Pahlawan

Sebuah sekolah yang di sana aku menitipkan pendidikan Indah anakku, untuk persiapan masa depannya. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuknya.

Di sekolahannya, teman sekelasnya ada 50 orang murid. Setiap kenaikan kelas, anak perempuanku ini selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orang tua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya anak kami menjawab:

“Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru”.

“TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab:

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK? Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai. Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu:

SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : Indah! (ANAKKU!)

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya lantas bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, nak”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab:

“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dengan senyum yang teduh nan manis, anakku melanjutkan perkataannya, “Ibu, Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya,

Mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang berhati baik dan jujur?

(Disadur dari sharing peer group Madrasah Peradaban dengna beberapa penyesuaian tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan)

Nak, Ibu Ingin Bicara soal Memilih Perempuan

Allaahu yaa Rahmaan, yaa rahiim. Dia lah sumber inspirasi kasih sayang tiada batas dan tanpa menuntut balas. Dalam terminolgi asmaus sifat, 2 asma Allah tersebut tadi bersumber dari 1 kata sifat yakni Rahmah.. Yang secara sederhana berarti kasih sayang yang (memberi walau tak diminta, memberi melebihi yang diminta, dan memberi tanpa mengharap imbalan).

Berikut ini adalah Surat dari seorang ibu, untuk anaknya. Sang Ibu bukan seorang muslim, tapi fitrahnya sebagai manusia makhluk ciptaan Allah yaa rahmaan yaa rahiim, menuntun hatinya menuturkan nasihat untuk anaknya. Mari ambil yang baik, nilai-nilai universal yang sesuai dengan agama kita, dan tinggalkan yang kurang berkenan. Ditulis oleh Ellen Maringka pada kompasiana muda, yuk simak.

Nak,

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki-laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more…

Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh.

Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that.

Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu  :Contohilah ayahmu.

Soal cewek, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.

Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini…

Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.

Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan.

Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki…

Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life.

Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah. Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya.

Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…

Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.

Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik….  Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…

- Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya.

Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?.

Perlu waktu untuk menilai ini semua. Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buruTake your time… give time enough time.

- Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.

Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi….

Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian.

- Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary…

Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair…

Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan.

- Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you.

Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna.

Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.

For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)

Hmm.. Yap, nasihat ini penuh kejujuran hati seorang ibu. Siapapun ibu, pasti memiliki rasa yang sama terhadap anaknya. Semoga nilai-nilai baik mampu dipetik hikmahnya dengan penuh ketawadhu’an, penuh penghormatan. Dan yang sesuai dengan agama kita, kita ikuti penuh ketaatan, baik tentang etika adab menghormati Ibu (ortu), maupun dalam memilih calon ibu bagi anak-anak kita, semata-mata karena Allah SWT dan rasulNya saw telah tuntunkan. Barakallaah. *ntms

643961_3645086846728_390000336_n

Nasihat: Dialogku denganmu

Jikapun harus berproses, tak hentinya si musuh nyata (setan) mengusik dan membayang. Setiap sisi kehidupan akan coba ia gelincirkan kita dari petunjukNya dengan berbagai macam cara. Sisi pernikahan pun tak luput, bahkan menjadi fitnah (ujian) terbesar. Maka, untukmu yang ku cinta walau sebenarnya cinta itu pun sulit untuk ku definisikan dan kumengerti sendiri. Ketahuilah, logika ini serasa lumpuh.

Meski begitu, misteri hati dan waktu memiliki domain yang tak kalah rumit mendifiniskannya. Aku pun tak pernah kuasa memahami ujung jari Ar Rahmaan yang membolak balikkan hati dan menguasai waktu. Apapun itu, untukmu sekali lagi… untukmu yang ku cintai, izinkan dalam lisanku terbilang apa yang pernah Ust Felix sampaikan…

01. maukah engkau menjadi istriku dan kelak ibu bagi anak-anakku? | “pertanyaan itu aku tak tahu jawabannya sekarang, mungkin nanti..”

02. bukan bermaksud memaksa namun jawabmu adalah penenang bagi hatiku | penghapus asa bila tidak dan penambat harap bila iya

03. “kita tidak saling mengenal” | benar, namun siapapun yang mengenal Tuhannya akan saling mengenal

04. “engkau belum mengetahui semua tentang diriku” | benar, namun sebagian kecil yang sudah kuketahui sudah cukup bagi diriku

05. “engkau dan aku berbeda segala-galanya” | biarlah perbedaan jadi penambah rahmat, asalkan sama-sama kita dalam taat

06. “entahlah aku belum pasti, aku belum yakin” | ini pernikahan yang kita berdua belum pernah menjalaninya, kita sama dalam rasa

07. “bila nanti kita hidup susah?” | susah bersamamu dalam taat akan jadi cerita indah, nikmat maksiat sekarang akan jadi sesalan musibah

08. “aku takut, ragu, gundah” | ragu, gundah, takut, risau itu ujian, sedangkan pengetahuan itu obatnya, bertanyalah pada-Nya

09. “mengapa harus aku?” | tidak harus engkau, hanya saja manusia bisa memilih, dan akupun juga boleh memilih

10. “apa yang engkau harapkan dariku?” | mempercayaiku dalam jalan Allah, mendukungku dalam taat, patuh padaku dalam syariat, itu cukup

11. “bila satu saat aku membantahmu?” | aku mungkin akan marah, namun aku akan bersabar padamu, aku haramkan tanganku atas wajahmu

12. “bila satu saat aku mengecewakanmu?” | Rasulullah mengajarkan berbaik padamu, mengajarmu dengan lisan Al-Qur’an dan sunnah Nabi

14. “apa yang engkau larang dariku?” | semua yang dilarang Rasulullah saw

15. “bagaimana engkau memperlakukan diriku kelak?” | aku akan memperlakukanmu sebagaimana ayahmu menjagamu, menyayangimu, mendidikmu

16. bagaimana denganmu? apa yang engkau pinta dariku? sekarang dan kelak? | “dengarkan hamba Allah..”

17. “uang, harta, kemewahan, popularitas, semua bukan sebabku menikah, namun taat, patuhlah pada Allah | maka akupun padamu begitu”

18. “bila ada bagian dunia yang Allah titipkan padamu maka jadikanlah ia bagian dakwah | kita hidup hanya sementara dan tak lama”

19. “bila ada panggilan Allah maka tinggalkanlah aku | InsyaAllah aku berharap ada waktu bersamamu selama-lamanya nanti”

20. “aku akan mendukungmu saat ada disampingku | mempercayaimu saat engkau terpisah dariku”

21. “percayakan bagiku anak-anakmu untuk kujaga dan kudidik | begitu juga harta dan kehormatanmu aman bersamaku”

22. “jadilah lelaki pemberani menghadapi manusia tapi takutlah pada Allah | muliakan aku sebagaimana engkau muliakan ibumu”

23. “jangan kecewakan amanah dari ayahku | didiklah aku, peringatkan aku | namun mohon dengan lisan kelembutan”

24. “jangan cintai aku karena aku bisa saja berubah | cintai Tuhanku dan minta Tuhanku untuk mengajariku mencintaimu”

25. “sesungguhnya aku hendak membuat bidadari-bidadari surga cemburu kepadaku | maka bantulah aku…”

Jika dialog di atas telah terbilang, dan kau setuju. Maka, mari melangkah dengan basmallaah …

nikah 3

Katakan YA untuk Menikah

Duh, lagi-lagi seorang gadis, berjilbab putih, menangis di kursi konsultansi :

“Lelaki yang kucintai tak mau menungguku untuk menyelesaikan Studi S3-ku untuk menikah denganku. Kini ia meninggalkanku. Hiks…”

Dan ternyata deritanya nggak sampai di situ :

“Lalu aku berkenalan dengan lelaki lain, baru beberapa bulan. Ia bersedia menikah denganku, asal kelak aku hanya menjadi ibu rumahtangga saja. Dan ketika aku tolak, dia meninggalkapannku”.

Gadis di depanku, ia sangat ingin menikah. Namun tampaknya ia tak siap untuk berkorban besar demi sebuah pernikahan. Mungkin menurutnya gelar doktor dan karir yang menjanjikan di masa depan terlalu besar untuk dikorbankan demi sebuah mahligai. Atau, mungkin dia tak paham seberapa besar arti sebuah pernikahan itu sendiri.

Pernikahan, sungguh besar. Dari sanalah lahirnya kehidupan, kemanusiaan, lalu peradaban. Maka, ia patut memperoleh perhatian besar dan pengorbanan besar. Harga mahal untuk sebuah manfaat kemanusiaan yang besar adalah pantas, bahkan itulah yang adil. Rasulullah SAW menimbangnya sebagai “setengah agama”. Karena, separuh dari perintah agama yang bermacam ragam ini dapat diwujudkan dengan satu kata : “menikah !”. Pada pernikahan ada cinta, taat, ikhlas, syukur, istiqamah, ikhtiar, sabar, berbakti, jihad, manfaat, mendidik, ridha dsb. Bukankah itu setengah agama ?

Alhasil, orang yang patut menikah hanyalah orang yang mengutamakan pernikahan itu sendiri, lebih dari yang lain. Saya dapat mengijinkan orang yang belum siap menikah karena butuh waktu mempersiapkannya. Tapi saya tak pernah tertarik memproses pernikahan seseorang yang berkata :

“Tunggu dulu, kebetulan karirku lagi bagus-bagusnya”

Bukan apa-apa. Orang semacam ini kalau toh menikah, usia pernikahannya sulit tahan lama. Karena ia tak berani mengorbankan yang terbaik dari dirinya, demi sesuatu yang terbaik bagi peradaban.

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Berkata “Ya !” pada pernikahan, adalah mahar atas pernikahan itu sendiri. Dan karena mahar itu seringkali menuntut pengorbanan, maka kata “ya” bahkan berubah menjadi “Aku terima…” : Qabiltu…

Sebegitu berat dan menyakitkankah pengorbanan bagi pernikahan itu, sehingga banyak yang tidak siap bahkan menampiknya ?

Mungkin… Ia mungkin seberat pengorbanan yang harus dipikul nabiyullah Ibrahim as yang diminta untuk menyembelih sang putra yang telah ia nanti kehadirannya sejak lama. Tapi, percayalah… Seringkali pengorbanan yang Allah minta hanyalah sebuah “gertak” untuk menguji keseriusan hambanya. Sebagaimana Ismail as yang tak jadi disembelih, pengorbanan yang Allah tantang juga sering tak jadi Allah tagih. Bahkan Allah balas dengan sebuah karunia besar.

Jadi, keputusan menikah adalah keputusan jenial yang gemilang

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Sumber : Pak Adriano Rusfi Pembina Islamic Humanity

Ulama dan Umara

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".
Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I’tiqad.

Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qal’i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: “Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain”.

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari’at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi”. (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama’) berkata: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I’tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: “Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: “Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara’, dan sebaik-baik umara’ adalah orang yang mendekati ulama”. Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa’ rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: “Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur’an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara’, KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: “Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi”.

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: “Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana’ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya’bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Ditulis oleh : Henri Shalahudin (mustanir.net)

Satu Rindu

Terinspirasi dari perkongsian dengan sahabat Malaysia, rupa-rupanye ade budak yang buat saye ni cemburu sangat. Dia adalah Ahmad Ammar. Budak 20 Tahun ini telah mendahului kita beberapa minggu lalu karena kecelakaan. Namun “kematiannya membawa kehidupan” begitu ayahnya cakap pada laman resmi fanpage. Kematiannya disangka syahid karena dalam masa menuntut ilmu di Turki.

Kepergian Ammar yang dimakamkan di pemakaman Turki bersama Abu Ayyub Al Anshari dan 60 sahabat rasulullah shalallaahu’alay wasallam lainnya ini membuat begitu iri dan harunya hati. Bagaimana tidak, sama seperti kita apabila meninggal dan berwasiat dimakamkan di taman makam pahlawan / kompleks kenegaraan, Ammar justru mendapat ‘karunia’ Allah SWT penghargaan tertinggi bersanding dengan makam para sahabat rasulullaah shalallaahu’alayhi wasallam. Makam di pinggiran kota Konstantinopel, tempat di mana orang Turki bermimpi untuk dimakamkan di sana pun tak pernah saking tingginya. Subhanallaah. Akhirnya, kesedihan keluarga yang ditinggal menjadi haru. Hati kita yang melihatnya pun tak hanya haru, namun rindu dibuatnya. Satu rindu yang dirindukan para perindu di jalan Allah. Meninggal dengan mulia, jalanNya. Semoga syahid insya Allah.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya berada di belakang Nabi saw – dalam kendaraan atau membonceng – pada suatu hari, lalu beliau bersabda: “Hai anak, sesungguhnya saya hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yaitu: Peliharalah Allah – dengan mematuhi perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya, pasti Allah akan memeliharamu, peliharalah Allah, pasti engkau akan dapati Dia di hadapanmu.

Jikalau engkau meminta, maka mohonlah kepada Allah dan jikalau engkau meminta pertolongan, maka mohonkanlah pertolongan itu kepada Allah pula.

Ketahuilah bahwasanya sesuatu ummat – yakni makhluk seluruhnya – ini, apabila berkumpul – bersepakat – hendak memberikan kemanfaatan padamu dengan sesuatu – yang dianggapnya bermanfaat untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan kemanfaatan itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu.

Juga jikalau ummat-seluruh makhluk – itu berkumpul – bersepakat – hendak memberikan bahaya padamu dengan sesuatu – yang dianggap berbahaya untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan bahaya itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat – maksudnya ketentuan – ketentuan telah ditetapkan – dan lembaran-lembaran kertas telah kering – maksudnya catatan-catatan di Lauh Mahfuzh sudah tidak dapat diubah lagi.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Hadist tersebut di atas juga diriwayatkan dari jalur lain yang hasan shahih.

#Tadabbur

Banyak sekali sisi hadist ini yang bisa ditadabburi. Dikaitkan dengan peristiwa kepergian Ammar, tentu sangat banyak hikmah. Salah satunya yang ingin coba kita bahas di sini adalah tentang satu rindu. “pena telah di angkat, lembaran kertas telah kering”. Apa yang terjadi, semua telah menjadi ketetapanNya. Sungguh tiada kebetulan.

Satu rindu di antara kita, syahid di jalanNya. Rindu-rindu kita ini telah terukir sejak dulu, dan bersyukurlah apabila engkau ada dalam lingkaran satu rindu itu. Satu rindu dengan berkomitmen Qul hadzihi sabilii, ad’uu ilallaah.. seruan bagi mereka ‘thaifah’ yang meniti di jalan Rabbnya. Rindu berjumpa di medan juang, rindu berjumpa karena satu visi dan tujuan.

Jalan ini memang panjang dan belum bahkan tak terluhat ujungnya. Namun satu rindu inilah yang menjadi keyakinan yang mengurai peluh dan air mata menjadi irama yang indah di setiap sisinya. Dan semakin indah jika satu rindu bersanding dengan satu kata kunci perubahan, pergerakan dan kebangkitan. Pemuda.

Masa muda adalah masa yang menjadi simbol perjuangan dan perubahan. Rasulullah saw memuliakan masa muda sehingga memasukkan ke dalam salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah kelak di hari tiada naungan selain naunganNya. Masa muda, yang disertai dengan ilmu, berjuang untuk menegakkan Islam.

Mungkin di dunia, rindu ini seolah tanpa hias. Namun kami yakin kelak Allah hiaskan rindu ini dengan keindahan yang tak terbayangkan berbalas.

Satu rindu, syahid. qul haadzihi sabiili ad’u ilallaah. 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah..” (QS. Yusuf : 108)

berbagi hikmah, semangat dan keberkahan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,194 other followers