Ilmu, Baitul Hikmah dan Peradaban Islam

Karakter dari peradaban Islam adalah menyebarkan kebaikan seluas-luasnya untuk seluruh penduduk dunia. Dari titik kecil di jazirah Arab, dalam kurun 100 tahun mampu meluas hingga Eropa Timur sampai perbatasan Cina.
Islam tidak mengenal penjajahan, melainkan futuhat. Futuhat artinya penerangan dan pencerahan. Selama 100 tahun (sampai kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz), wilayah yang masuk ke dalam futuhat Islam menjadi tercerahkan.

Seluruh wilayah yang hidup dalam futuhat Islam menyaksikan kebaikan kepemimpinan umat Islam. Selama 700 tahun setelahnya, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menyamai atau menggantikan kekuatan Islam. Barat yang menggantikan posisi kepemimpinan ini tertatih-tatih dalam menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam. Mereka butuh waktu hingga 500 tahun hanya untuk menerjemahkannya.
Buku kedokteran karya Fakhrudin Ar-Razi dipakai di Prancis selama 400 tahun.
Ilmuwan Eropa mengatakan: Kami mengalami Renaissance (pencerahan). Mereka mengakui bahwa sebelumnya berada dalam kondisi kegelapan, dan baru tercerahkan setelah menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam.
Sayangnya, Barat hanya mengambil aspek keduniaan saja, ilmu agamanya (ruhiyah) ditinggalkan.

Seluruh masyarakat dunia merasakan manfaat atas kepemimpinan umat Islam. Bukan hanya umat Islam saja, namun juga ahlu dzimmah (nonmuslim yang hidup dalam wilayah kekuasaan Islam). Bahkan, kuda tua yang sudah tidak terurus dan kucing liar yang telantar pun dipelihara oleh Muslimin melalui dana wakaf.

Orang Eropa manusiawi saat mereka berada di wilayah Eropa. Di luar wilayah Eropa mereka kehilangan kemanusiaannya.

Namun Islam berbeda dengan Eropa. Risalah Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik di mana pun dan kapan pun.

Continue reading

Hijrah, Ruang Perubahan

Seluruh permukaan Bumi adalah medan Hijrah, dan seluruh ruang waktu adalah MOMENTUM berhijrah.

HIJRAH adalah ENERGI perubahan hidup menuju kelapangan dan kesenangan. TIDAK BERHIJRAH berarti hidup sampai mati dalam tempurung kegelapan.

BERHIJRAH adalah ritual membuka pintu rahmat MAHA PENCIPTA SEMESTA, TIDAK BERHIJRAH akan hidup tertatih-tatih.

Berhijrah adalah proses hidup menjadi orang SUKSES, karena sudah beruntung sejak langkah pertamanya.

Jiwa orang berhijrah tak akan pernah TERKUBUR, spiritnya seperti air mengalir Yang Suci dan Mensucikan.

Ya Allah …
Kami telah yaqin …
Dari ENGKAU kami berasal, dan kepada ENGKAU jua pasti kami kan kembali.

(Bachtiar Nasir)

Maka, kepada setiap insan mari berjalan. Walau kira kita apa yang kita tinggalkan adalah terangnya dunia.. mari haqqul yaqin memperjalankan jiwa kita menuju kepada benderangnya akhirat..

Salam hijrah 1436
@agastyaharjuna
MM, 25 Okt 2014

Dusta, Pintu Kehancuran Sebuah Bangsa

Ketika Pak Habibie ditanya: Lebih suka jadi presiden atau bikin pesawat?

Beliau menjawab:

Saya lebih suka bikin pesawat. Semua rasional dan tidak ada pikiran yang tidak jujur dan tidak transparan, karena jikalau ada manipulasi, pesawat terbang akan jatuh!

***

Manipulasi dan ketidak jujuran pada pesawat akan membawa dampak instan, langsung kelihatan akibatnya. Makanya tidak ada orang yang berani manipulasi dan dusta dalam membuat pesawat.

Beda dengan memimpin sebuah negara, sekalipun dustanya sudah menyesak sampai ke langit dan ke dasar bumi, mengeruhkan seluruh air laut, mengotori seluruh udara, namun dampaknya tidak akan langsung terasa.

Oleh karena itu, orang tidak segan dan malu berdusta dalam masalah ini. Bahkan tidak ada kecemasan dan ketakutan. Padahal kehancuran sebuah pesawat, bahkan seribu pesawat sekalipun tidaklah lebih berbahaya daripada hancurnya sebuah bangsa atau peradaban.

Sementara dusta dapat merusak dan memporak porandakan sendi-sendi akhlak atau moral anak bangsa. Dan bila akhlak itu sudah hilang maka tidak ada arti keberadaan fisik sebuah peradaban.

Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Ahmad Syauqi:

إنما الأمم أخلاق ما بقيت فإن همو ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Sebuah peradaban itu akan tetap terjaga eksistensinya selama akhlaknya masih ada. Apabila akhlaknya telah lenyap maka lenyap pulalah peradaban itu.

Bagaimana kabar bangsaku? Bagaimana kabar akhlak dan adab bangsaku? Bagaimana kabar kepemimpinan ilmu dan agama bangsaku? Masihkah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ini dijunjung tinggi? Masihkah Persatuan Indonesia menjadi sebuah harga yang harus dijaga? Masihkah Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan menjadi haluan kepemimpinan? Sudahkah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ini terpenuhi?

Empat hari sudah, kepemimpinan baru negeri ini berjalan. Namun pesona kerja dan kinerja yang membangkitkan semangat perbaikan tak kunjung datang Justru kerugian beratus bahkan milyar terbilang. Diawal, justru kedustaan telah nampak mengambang.

Benar lho ternyata.. kita ini tidak cukup hanya sekedar menjadi orang jujur, tapi kita harus melawan ketidakjujuran itu. Jangan biarkan, jangan diamkan, apalagi ikut mendukung dan membenarkan.

Kalau tidak, kita akan kehilangan generasi, kita akan kehilangan bangsa, kita akan kehilangan peradaban.

**
Disarikan dari pesan brodkes, disesuaikan tanpa mengurangi makna yang sebenarnya.

Mega Mendung, 24 Oktober 2014.
@agastyaharjuna

Dosa Tak Akan Terhapus dari Lembaran Catatan Amal

Dosa kita tak akan terhapus sekalipun taubat kita telah diterima oleh Allah.
Al-Hafizh Ibnu Rojab rohimahulloh:

Berkata al-al-Hasan (al-Bashri):

“Maka seorang hamba yang berbuat dosa, kemudian dia bertaubat, dan memohon ampun: maka akan diberikan ampunan baginya, akan tetapi dosa-dosa itu tak kan terhapus dari catatannya sebelum dihadapkan kepadanya, kemudian ditanyakan kepadanya, kemudian al-Hasan pun menangis sejadi-jadinya, seraya berkata: dan kalaulah sekiranya kita tidak menangis kecuali karena malu terhadap tempat tersebut (yakni yaumul hisab, pent) , tentulah sepantasnya bagi kita untuk menangis.”

 Dan berkata Bilal bin Sa’ad:

“Sesungguhnya Alloh akan mengampuni semua dosa, akan tetapi tidak akan menghapusnya dari catatan amal hingga dia dihadapkan kepada pemiliknya di hari kiamat sekalipun dia telah bertaubat (darinya). “

 Berkata Abu Huroiroh rodhiallohu ‘anhu:

“Alloh akan mendekatkan setiap hamba di hari kiamat, maka akan diletakkan pada hamba tersebut sayapnya (malaikat), sehingga menutupi hamba tersebut dari makhluk-makhluk semuanya, dan menyodorkan kepada hamba tersebut catatan amalnya di balik sayap tersebut, dan berkata: bacalah wahai anak Adam catatanmu, kemudian dia pun membacanya, dan melintasi catatan kebaikan sehingga menjadi putih bersinar lah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi gembira karenanya, maka Alloh pun berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, kemudian Alloh berfirman: sesungguhnya Aku menerimanya darimu, maka sujudlah dia, kemudian Alloh berfirman: angkatlah kepalamu dan kembalilah kepada catatan amalmu, maka dia pun membacanya hingga melewati catatan kejelekan, maka menjadi menghitamlah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi takut karenanya, dan bergetarlah seluruh tubuhnya, dan mulailah dia malu kepada Robb nya apa yang tidak diketahui oleh lainnya, kemudian Alloh berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, wahai Robb ku, dan Alloh berfirman: sungguh telah Aku ampuni dosa-dosa itu untukmu, maka dia pun bersujud, dan tidak ada makhluk yang melihatnya kecuali sujudnya hingga satu sama lainnya saling bersahutan mengatakan: berbahagialah bagi setiap hamba yang tidak pernah berbuat maksiat kepada Alloh sedikitpun, dan mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dalam perjumpaan antara hamba tersebut dengan Robb nya dari apa yang telah dihadapkan kepadanya.”

 Dan berkata Abu ‘Utsman an-Nahdiy dari Salman:

📈 setiap orang akan diberi catatan amalnya di hari kiamat, maka dia pun membaca bagian atasnya, dan ternyata dia jumpai kejelekan-kejelekannya, dan dikala itu hampir-hampir saja dia berburuk sangka, dia pun melihat ke bagian bawahnya, dan ternyata didapati kebaikan-kebaikannya, kemudian dia melihat di bagian atasnya, dan ternyata telah diganti dengan catatan kebaikan-kebaikan.”

📚 Jami’ul ‘ulum wal hikam hal. 453.

__

 الذنوب لا تمحى من الصحيفة حتى يوقفه عليها يوم القيامة وإن تاب…

 قال الحافظ ابن رجب رحمه الله :

 قال الحسن :
فالعبد يذنب، ثم يتوب، ويستغفر: يغفر له، ولكن لا يمحاه من كتابه دون أن يقفه عليه، ثم يسأله عنه، ثم بكى الحسن بكاء شديدا، وقال: ولو لم نبك إلا للحياء من ذلك المقام، لكان ينبغي لنا أن نبكي.

 وقال بلال بن سعد :
إن الله يغفر الذنوب، ولكن لا يمحوها من الصحيفة حتى يوقفه عليها يوم القيامة وإن تاب.

 وقال أبو هريرة رضي الله عنه :
يدني الله العبد يوم القيامة، فيضع عليه كنفه، فيستره من الخلائق كلها، ويدفع إليه كتابه في ذلك الستر، فيقول: اقرأ يا ابن آدم كتابك، فيقرأ، فيمر بالحسنة فيبيض لها وجهه، ويسر بها قلبه، فيقول الله: أتعرف يا عبدي؟ فيقول: نعم، فيقول: إني قبلتها منك، فيسجد، فيقول: ارفع رأسك وعد في كتابك، فيمر بالسيئة، فيسود لها وجهه، ويوجل لها قلبه، وترتعد منها فرائصه، ويأخذه من الحياء من ربه ما لا يعلمه غيره، فيقول: أتعرف يا عبدي؟ فيقول: نعم، يا رب، فيقول: إني قد غفرتها لك، فيسجد، فلا يرى منه الخلائق إلا السجود حتى ينادي بعضهم بعضا: طوبى لهذا العبد الذي لم يعص الله قط، ولا يدرون ما قد لقي فيما بينه وبين ربه مما قد وقفه عليه.

 وقال أبو عثمان النهدي عن سلمان : يعطى الرجل صحيفته يوم القيامة، فيقرأ أعلاها، فإذا سيئاته، فإذا كاد يسوء ظنه، نظر في أسفلها، فإذا حسناته، ثم نظر في أعلاها، فإذا هي قد بدلت حسنات.

📚 [جامع العلوم و الحكم، (٤٥٣) ]

✰ ~ Al-‘Ilmu | العلم 🌠

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. [Rahmat Idris]

Smoga mnjadi bahan renungan dan pembelajaran. (Hilman Rosyad S.)

Ulama dan Akhlaq

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Penuntut ilmu yang datang di majelis Imam Ahmad 5.000 orang atau lebih, 500 menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliau”.
(Syiar A’lamunnubala’:11/316).

Berkata Abu Bakar Bin Al-Muthowi’i: “Saya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anak²nya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliau”.
(Siyar A‘lamunNubala’:11/316).

Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri-rohimahulloh-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”.
(Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361).

Berkatalah Abdullah bin Mubarak-rohimahulloh-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446).

Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120).

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rohimahulloh-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Hilyah: 17. Jami’li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49).

Berkata Abdulloh bin Mubarok: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain-rohimahulloh-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit drpd hadits walaupun banyak”.
(Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80).

Mengapa demikian ucapan para ‘Ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yg masuk kepada seseorang yg memiliki adab yg baik akan bermafaat baginya & kaum muslimin.

Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari-rohimahulloh-:
“Ilmu tanpa adab spt api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu spt jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Saya pernah menyampaikan ini di beberapa kesempatan pertemuan bahwa ilmu tanpa didahului adab, ia lemah, bagai orang buta dan bahkan percuma. Kepintaran yang diperolehnya justru menggelincirkan diri sendiri dan berdampak kerusakan kepada orang lain.

Bagi insan muslim, mukmin, muslih, muhsin.. akhlaq yang baik adalah wajib. Itulah kenapa rasul sawa mengisyaratkan “Qul khairan aw liyasmuth”, karena akhlaq ucapan yang baik didengarkan oleh seluruh manusia. Dan beginilah bagaimana cara berdakwah mendahulukan kebaikan menuju tahapan-tahapan kebenaran.

Mempelajari dan berakhlaq yang baik bahkan menurut ulama mendahului pentingnya berilmu itu sendiri. Rasulullaah shalallaahualayhi wasallaam telah mencontohkan, sebelum diutus menjadi rasul beliau terlebih dahulu meneladankan akhlaqul kariimah selama 40 tahun hingga beliau wafat.

Wallaahualam bishawab. (Tebet, A.H 10/10/2014)

Memberi dan Berbagi Arti

Setiap orang yang hadir dalam kehidupan, akan silih berganti datang dan pergi. Kita bisa memilih siapa yang akan menjadi teman sejati, siapa yang akan kita biarkan meninggalkan kehidupan kita dengan arti. Lihatlah, sebenarnya baik buruk adalah persepsi, sejatinya mereka mengajarkan hikmah manis pahitnya kehidupan. Seperti Allah mengisyaratkan bahwa hidup dan mati bagi mukmin itu sama saja. Yang terpenting bagiNya adalah Ia ingin mengetahui siapa diantara kita yang paling (sungguh-sungguh selalu) baik disetiap sikap. liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala…

Setiap insan adalah guru, ia mengajarkan hal yang berbeda kepada kita. Ketika kita meminta kesabaran dan kekuatan, Allah memberi kita ujian bertubi agar menjadikan kita tangguh. Ketika kita memohon kebijaksanaan, Allah memberikan segernap masalah untuk dipecahkan. Ketika kita memohon keberanian, Allah memberikan situasi berbahaya untuk diatasi. Ketika kita memohon sebuah cinta, Allah memberikan orang-orang bermasalah untuk dibantu.

Kita mungkin merasa tak pernah menerima apa yang kita pinta, tapi lebih dari itu, Ia faham betul apa yang kita butuhkan.

Wahai diri, sampaikan kepadaNya, kepada semua orang … betapa bersyukurnya engkau memiliki mereka, orang-orang terkasih, yang kau cintai tanpa syarat. Betapa indahnya hidup ini mengenal siapa saja yang menjalinmu atas nama kebaikan dan cinta. Allahu rahmaan, rahiim..

Kepada engkau yang mencintaiku.. Seperti lirik “So soon” yang dibawakan Maher Zain di bawah ini, entah mengapa bait-baitnya mengisyaratkan makna yang begitu mendalam bagi diri ini. Terasa begitu terlalu indah hidup ini untuk tidak berbagi. Terlalu indah hidup ini untuk tidak memberi arti. Terlalu indah hidup ini untuk tidak mengenang setiap insan yang pernah singgah dan pergi, apapun itu ia telah berjasa memberikan arti, yang membuat diri kita menghebat hingga kini. :)

Bagi sesiapa saja yang harus move on karena telah ditinggalkan, baik secara suka rela maupun terpaksa.. sampaikan lirik ini padanya .. tentu dengan lapis-lapis doa.

Bagi sesiapa saja yang orang terkasihnya masih dalam dekapan, berikan tanpa lelah yang terbaik untuknya. Dekaplah, dekaplah. Jangan sampai tersia. :)

(Tebet, A.H 08/10/2014)

“So Soon”

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around [x2]
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Memang Begitulah Abu Al Hasan (Ali bin Abu Thalib)

Semua tahu, Ali Ra dan Muawiyah Ra terlibat perselisihan berkepanjangan. Perang Shiffin, Tahkim, dan sejumlah peristiwa lainnya menjadi saksi pilu gejolak hubungan keduanya.

Apapun alasan dan kondisi yang melatari perselisihan tersebut, Muawiyah tidak pernah berhenti mengagumi dan menaruh hormat sangat mendalam kepada sosok Ali bin Abu Thalib.

Beberapa saat setelah Ali syahid dibunuh Khawarij, Muawiyah kedatangan seorang tamu penting. Dia adalah Dhirar bin Dhamrah al-Kinani, salah seorang terdekat sekaligus pengikut setia Ali.

Sesaat kemudian Muawiyah berkata, “Jelaskan padaku, bagaimana sosok Ali menurutmu?!” Dhirar menjawab, “Kalau Amirul Mu’minin sudi, maafkan aku untuk tidak menjawabnya.” Muawiyah membalas singkat, “Tidak bisa!”

Dhirar berkata lirih, “Jika memang harus, maka baiklah, aku akan jelaskan, ‘Demi Allah, Ali adalah seorang yang berpandangan jauh, pendiriannya teguh, kata-katanya ringkas dan jelas, kebijakannya adil, ilmunya memancar dari sekujur tubuh, hikmahnya mengalir dari segala sisi.

Dia sangat menjaga jarak dari dunia dan keindahannya, tapi begitu merindukan malam dan kesunyiannya.

Demi Allah, derai air mata Ali kerap mengalir, pikirannya tenggelam dalam perenungan panjang. Ia selalu mengevaluasi diri dan berbicara dengan hatinya sendiri. Ia begitu suka berpakaian sederhana dan makan apa adanya.

Demi Allah, Ali selalu menempatkan dirinya sama seperti kami. Dia meminta kami duduk begitu dekat dengannya, apabila kami mengunjungi. Dia selalu menjawab, bila kami bertanya.

Akan tetapi, meski begitu dekat, kami jerih berbalas kata dengannya, karena wibawanya yang begitu hebat.

Senyuman Ali ibarat untaian mutiara yang indah tersusun. Dia sangat menghargai orang yang taat beragama dan begitu menyayangi orang-orang miskin. Orang kuat tidak dapat berharap akan kebatilannya. Sedang orang lemah tidak mungkin kehilangan harapan akan keadilannya.

Aku bersaksi atas nama Allah, aku pernah melihat langsung apa yang dilakukannya. Kala itu, malam sudah begitu larut dan bintang-bintang di langit pun hanya sesekali tampak berkedip.

Aku melihat sosok tubuh Ali bergerak ke kanan dan ke kiri di tempat shalatnya, sembari tangannya menggenggam janggut. Ia tampak terguncang seperti orang kesakitan karena  terkena sengatan binatang berbisa. Dia menangis tersedu-sedu selayaknya orang menahan pilu. Aku pun seakan-akan saat ini masih mendengar suaranya berucap, ‘Ya Rabb, ya Rabb…,’ ia mengadu kepada-Nya.

Selang beberapa saat kemudian, dia berkata, seolah-olah berdialog dengan dunia, ‘Wahai dunia, apakah engkau mau menipuku, atau engkau ingin aku jatuh dalam pelukanmu? Itu mustahil, itu mustahil. Goda saja orang lain, jangan aku, karena aku telah menceraikanmu dengan talak tiga. Dunia! Umurmu terlalu pendek, keindahanmu terlalu hina, dan kebesaranmu terlalu rendah. Ah, betapa sedikitnya bekal yang kumiliki, padahal perjalananku begitu jauh dan jalan pun teramat terjal.'”

Mendengar penjelasan Dhirar yang begitu mengharu biru, Muawiyah pun tak kuasa menahan emosi. Ia menangis sangat hebat, hingga air matanya bercucuran membasahi janggutnya. Muawiyah terus berusaha menyeka air matanya dengan ujung kainnya sendiri, lalu berkata:

“Memang begitulah Abu al-Hasan (Ali), semoga Allah mengasihinya. “

Muawiyah lalu berkata lagi kepada Dhirar, “Lantas, seperti apa perasaanmu kepadanya saat ini, wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab lirih, “Seperti perasaan seorang ibu yang menyaksikan anak semata wayangnya dibunuh di atas pangkuannya sendiri. Air matanya tidak mungkin berhenti mengalir dan kesedihannya pun tak akan pernah pupus.”

(Ibn Qudamah, ar-Riqqah wa al-Buka’, 197-198)

Siroh Club Indonesia

Petani – Guru

Anak saya bisa-bisanya nyeletuk, “kok petani itu tua-tua, ya, Pak?”. Mungkin karena dia memperhatikan usiatetangga-tetangganya yang jadipetani. Kalau masih muda, biasanya bukan petani. Entah buruh seperti bapaknya, entah pedagang seperti pamannya, entah profesi yang lain.

Saya penasaran, apa yang dipikirkannya. “Emang kenapa, Zu?””sawahnya luasss, kalau sudah tua, bukannya capek? Nanti kalau meninggal, siapa yang menanam padi?”Kekhawatiran yang beralasan. Mungkin karena Zuhdi kadang mencuri dengar pembicaraan Bapaknya.

Sebelumnya, saya memang sempat bergosip dengan tetangga yang umumnya berprofesi petani. Mereka mengeluh. Sulit sekali mencari tenaga tani sekarang. Untuk buruh tanam, tinggal ada satu grup berisi lima orang nenek. Utuk grup membajak, cuma ada dua orang kakek. Kalau mereka semua sudah kundur kepada Gustinya, apa masih ada yang dinamakan petani?

Beginilah akibatnya bila sebuah profesi semata-mata dikaitkan dengan rejeki. Ada atau tidaknya orang yang memilih profesi tersebut, ditentukan oleh banyak tidaknya pundi-pundi. Buruh tani adalah salah satu contohnya. Berapa sih yang diterima buruh tani? Sedikiiiit! Sehari paling 10 ribu plus beberapa bungkus supermie sebagai upah. Masa tanamnya setiap 3 sampai 4 bulan. Dalam periode itu, tidak setiap hari mereka dikontrak. Untuk jaman ini, uang sebesar itu bisa buat apa?

Dengan kondisi begitu, profesi petani saya golongkan dalam profesi yang terancam punah dan harus dilindungi.

Nah, bagaimana dengan profesi guru? Bila paradigmanya masih sekitar pundi-pundi, beberapa tahun lagi, profesi ini pun akan punah. “Sekarang masih banyak, kok. Itu masih pada ngantri…”. Menurut opini saya, ini cuma karena masih banyak saudara kita yang belum sejahtera. Untuk umat yang begini, dalam paradigma penghasilan semata, profesi guru masih berada dalam status “jauh lebih baik dari pada tidak berprofesi”. Tunggu saja beberapa tahun lagi. “Yen ana rejaning jaman”, saat bangsa ini sudah makmur, bila profesi ini masih dipandang sebagai sumber pendapatan, insyaAllohakan punah. Karena memang secara alamiah, profesi ini bukan profesi untuk hidup. Seperti kata Bapak Pendidikan,”diurip-urip, dudu dianggo urip”(-dihidupkan, bukan untuk hidup), ini adalah profesi penuh pengorbanan.

Dalam kasus petani, solusinya cukup sederhana. Tingkatkanlah kesejahteraan petani. Secara alamiah, orang akan berbondong-bondong menjadi petani. Selesai. Caranya bagaimana… bukan pokok bahasan cerita ini.

Namun dalam kasus guru, tidak bisa semudah itu. Meningkatkan kesejahteraan guru hanya secara finansial tidak lantas menghidupkan ghirah per-guru-an. Apalagi bilacaranya dilakukan dengan pelecehan seperti TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU. Yang akan semakin besar dengan cara itu adalah semangat berprofesi sebagai guru.

Apa bedanya? Sejak dahulu kala, orang-orang yang berkhidmat sebagai pengajar, yang mengabdikan diri untuk ilmu, tidak pernah berasal dari golongan yang silau terhadap harta. Masih ada pemeo dalam golongan santri bahwa mereka belajar supaya bisa mengajar.

Dalam kondisi ekstreem, masih lestari tradisi di kalangan mereka bahwa bila mengajar, tidak boleh dibayar. Dengan premis ini, meningkatkan pendapatan guru sebagai satu-satunya instrumen kesejahteraan, tidak akan menyelesaikan masalah per-guruan-secara berkelanjutan. Pada satu generasi, mungkin bisa menjadi obat. Tapi generasi berikutnya, profesi ini akan diisi oleh gelombang guru yang memilih profesi ini sebagai sumber penghidupan. Apa tidak boleh? Boleh, kok. Tapi dijamin, pelakunya akan kecewa. Sebab profesi ini adalah profesi yang sangat jauh dari sejahtera dan glamour sebesar apapun gajinya. Kalau toh para pelakunya tampak bahagia, sejahtera, dan kaya, itu karena mereka, para guru, sudah sejiwa dengan profesinya. Gaji yang diterima, berapapun nilainya, dicukupkan dengan syukur. Karenanya, berkah langit turun dengan derasnya. Kami sejahtera dalam kekurangan karena belas kasih Ilahi.

Tapi bila dinilai dengan gaji semata, dibandingkan dengan teman-teman kami seangkatan, yang dulu saat kuliah nilainya setara, tentu akan berbeda bagai bumi dan langit. Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang akhir-akhir ini sedang berusaha mendaftar sebagai dosen PNS.

Bersiaplah untuk kecewa bila yang anda cari dari profesi guru itu cuma sekedar pendapatan. Sebab gaji kami ini tidak seberapa. Kalau ingin kaya, pergilah ke dunia swasta atau setidaknya pegawai BUMN. Kalau anda cari santai, jadi petani saja.

Tidak ada ceritanya jadi dosen itu santai. Kami ini mirip dokter. Tidak punya waktu libur bahkan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar.

Bila yang anda cari adalah berhidmat untuk pengetahuan maka gaji, tunjangan, pangkat itu cuma semat yang tidak penting. Sebab bos anda, pemerintah, tidak pernah peduli dengan hal itu.

Kami, para guru cuma dipandang sebagai angka nun jauh di atas sana oleh para executive dan legistative. Naik pangkat anda akan sulit sehebat apapun anda kecuali anda masuk dunia politik.

Status “Dadi masinis wae po, Yo? Kata Pak Jonan, “Gaji Masinis Sekarang Bisa Rp 13 Juta, Penjaga Pintu Rp 6,5 Juta”. Ora usah kuliah S2 apa maneh S3. Punya hari libur. Pulang kerja langsung tidur. Dosen, S3, Golongan IIIB paling 6 juta sebulan termasuk sertifikasi. Tidak punya libur, pulang masih lembur. Naik Pangkat sulit tak Teratur.Dadi Masinis wae po, yo? Dadi Masinis wae po, yo?” adalah sindiran satiris terhadap kondisiini.

Semoga yang memang sudah mantap melamar menjadi dosen PNS dengan niyat berhidmat untuk ilmulah yang diterima. Salam menjadi guru :D

Oleh: Dosen Jteti Ft Ugm – dari group Madrasah Peradaban.

gaza

Kami Bersumpah Tak Akan Meninggalkanmu Selamanya

Sungguh keterlaluan, jika situasi yang sedang riuh di piala dunia dan riuhnya pemilihan presiden di Indonesia telah mengaburkan dan melalaikan kita dari kepedulian kita terhadap apa yang sedang terjadi di Gaza!pildun

Selain Gaza, Suriah pun kembali bersimbah darah. Didapatkan kabar bahwa Basyar Assad kembali melakukan serangan pada 8 Juli lalu yang menewaskan 22 orang muslim dan mengakibatkan puluhan lainnya luka luka. Korban sipil Suriah sejak konflik tahun 2011 mencapai 150 ribu jiwa lebih. Jutaan mengungsi ke Negara-negara tetangga. Saya sendiri sudah bertemu dengan para pengungsi Suriah di Istanbul akhir Juni lalu. Mereka tegar, mereka tetap mampu menghadiahkan senyuman kepada kita yang datang kepada mereka. Allaah…

Suriah adalah bagian dari Syam negeri, yang dirahmati oleh Allah. Negeri Syam di mana dalam nash syariah akan menjadi tempat peperangan akhir zaman antara yang haq melawan kebatilan. Syam, adalah titik pusat keimanan muslim dunia. Negeri di mana para pesuruh Allah, orang terbaik setiap zaman masa lalu pernah diutus, dan hingga akhir zaman akan selalu menjadi indikator ummat terbaik. Negeri Syam.

Bukti lain, Syam sebagai indicator ummat terbaik setiap zaman.

Sebagai seorang pemuda, muslim.. setidaknya ukuran ini terbukti nyata di hadapan saya. Di Istanbul akhir Juni lalu saya temui seorang pemuda usia 29 tahun. Namanya Yasser. Aktifis anticoup bersama sejumlah kawan-kawannya yang kini diblack list oleh pemerintahan Al Sisi dari Mesir. Yasser dkk tak bisa pulang ke negerinya sendiri, terusir. Tapi jiwanya benar-benar merdeka, kualitas pemuda ini pun sangat luar biasa. Menguasai lebih dari 4 bahasa, retorika dan pidato yang memukau, menggerakkan jiwa-jiwa yang lain untuk bangkit. Dan yang lebih hebat lagi, ketika menjadi imam shalat jamaah suaranya indah sekali, masya Allah.

Rata-rata pemuda timur tengah, Syam telah menyelesaikan hafalan qurannya. Bagaimana dengan mayoritas pemuda di Indonesia? Malu rasanya. Inilah salah satu fakta indikator ummat terbaik selalu dinisbatkan pada bumi syam.

Sungguh, kitalah yang berhutang budi terhadap mereka. Syam, Suriah, Palestina. Rakyat Palestina. Karena mereka telah mewakili kita (umat islam seluruh dunia) menjaga dan bertahan di tanah waqaf ummat Islam, masjid suci al aqsa.

Kita teriak menangis dan kasihan kepada rakyat Gaza, iya itu sudah benar. Tapi sesungguhnya kitalah yang patut dikasihani. Mereka berdiri tegak, terusir, jatuh bersimbah darah demi menjadi membela tanah suci Al Aqsa, bagaimana dengan kita di Indonesia yang masih sibuk bahkan rebut sendiri sesama saudara kita hanya karena berbeda pendapat tentang demokrasi dan pemilihan presiden! Miris!

Untukmu Syam, Suriah, Gaza, dan seluruh saudara kami yang terdzalimi… Maafkan kami yang masih lemah. Maafkan kami yang masih sibuk dengan fitnah syubhat dan syahwat di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini. Tapi.. kami bersumpah demi Allah.. tak akan meninggalkanmu, tak akan membiarkan mu sendiri selamanya!

Mari berikan yang terbaik semampu kita, untuk saudara-saudara kita di sana. gaza-gaza

berbagi hikmah, semangat dan keberkahan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,857 other followers