Memang Begitulah Abu Al Hasan (Ali bin Abu Thalib)

Semua tahu, Ali Ra dan Muawiyah Ra terlibat perselisihan berkepanjangan. Perang Shiffin, Tahkim, dan sejumlah peristiwa lainnya menjadi saksi pilu gejolak hubungan keduanya.

Apapun alasan dan kondisi yang melatari perselisihan tersebut, Muawiyah tidak pernah berhenti mengagumi dan menaruh hormat sangat mendalam kepada sosok Ali bin Abu Thalib.

Beberapa saat setelah Ali syahid dibunuh Khawarij, Muawiyah kedatangan seorang tamu penting. Dia adalah Dhirar bin Dhamrah al-Kinani, salah seorang terdekat sekaligus pengikut setia Ali.

Sesaat kemudian Muawiyah berkata, “Jelaskan padaku, bagaimana sosok Ali menurutmu?!” Dhirar menjawab, “Kalau Amirul Mu’minin sudi, maafkan aku untuk tidak menjawabnya.” Muawiyah membalas singkat, “Tidak bisa!”

Dhirar berkata lirih, “Jika memang harus, maka baiklah, aku akan jelaskan, ‘Demi Allah, Ali adalah seorang yang berpandangan jauh, pendiriannya teguh, kata-katanya ringkas dan jelas, kebijakannya adil, ilmunya memancar dari sekujur tubuh, hikmahnya mengalir dari segala sisi.

Dia sangat menjaga jarak dari dunia dan keindahannya, tapi begitu merindukan malam dan kesunyiannya.

Demi Allah, derai air mata Ali kerap mengalir, pikirannya tenggelam dalam perenungan panjang. Ia selalu mengevaluasi diri dan berbicara dengan hatinya sendiri. Ia begitu suka berpakaian sederhana dan makan apa adanya.

Demi Allah, Ali selalu menempatkan dirinya sama seperti kami. Dia meminta kami duduk begitu dekat dengannya, apabila kami mengunjungi. Dia selalu menjawab, bila kami bertanya.

Akan tetapi, meski begitu dekat, kami jerih berbalas kata dengannya, karena wibawanya yang begitu hebat.

Senyuman Ali ibarat untaian mutiara yang indah tersusun. Dia sangat menghargai orang yang taat beragama dan begitu menyayangi orang-orang miskin. Orang kuat tidak dapat berharap akan kebatilannya. Sedang orang lemah tidak mungkin kehilangan harapan akan keadilannya.

Aku bersaksi atas nama Allah, aku pernah melihat langsung apa yang dilakukannya. Kala itu, malam sudah begitu larut dan bintang-bintang di langit pun hanya sesekali tampak berkedip.

Aku melihat sosok tubuh Ali bergerak ke kanan dan ke kiri di tempat shalatnya, sembari tangannya menggenggam janggut. Ia tampak terguncang seperti orang kesakitan karena  terkena sengatan binatang berbisa. Dia menangis tersedu-sedu selayaknya orang menahan pilu. Aku pun seakan-akan saat ini masih mendengar suaranya berucap, ‘Ya Rabb, ya Rabb…,’ ia mengadu kepada-Nya.

Selang beberapa saat kemudian, dia berkata, seolah-olah berdialog dengan dunia, ‘Wahai dunia, apakah engkau mau menipuku, atau engkau ingin aku jatuh dalam pelukanmu? Itu mustahil, itu mustahil. Goda saja orang lain, jangan aku, karena aku telah menceraikanmu dengan talak tiga. Dunia! Umurmu terlalu pendek, keindahanmu terlalu hina, dan kebesaranmu terlalu rendah. Ah, betapa sedikitnya bekal yang kumiliki, padahal perjalananku begitu jauh dan jalan pun teramat terjal.'”

Mendengar penjelasan Dhirar yang begitu mengharu biru, Muawiyah pun tak kuasa menahan emosi. Ia menangis sangat hebat, hingga air matanya bercucuran membasahi janggutnya. Muawiyah terus berusaha menyeka air matanya dengan ujung kainnya sendiri, lalu berkata:

“Memang begitulah Abu al-Hasan (Ali), semoga Allah mengasihinya. “

Muawiyah lalu berkata lagi kepada Dhirar, “Lantas, seperti apa perasaanmu kepadanya saat ini, wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab lirih, “Seperti perasaan seorang ibu yang menyaksikan anak semata wayangnya dibunuh di atas pangkuannya sendiri. Air matanya tidak mungkin berhenti mengalir dan kesedihannya pun tak akan pernah pupus.”

(Ibn Qudamah, ar-Riqqah wa al-Buka’, 197-198)

Siroh Club Indonesia

Petani – Guru

Anak saya bisa-bisanya nyeletuk, “kok petani itu tua-tua, ya, Pak?”. Mungkin karena dia memperhatikan usiatetangga-tetangganya yang jadipetani. Kalau masih muda, biasanya bukan petani. Entah buruh seperti bapaknya, entah pedagang seperti pamannya, entah profesi yang lain.

Saya penasaran, apa yang dipikirkannya. “Emang kenapa, Zu?””sawahnya luasss, kalau sudah tua, bukannya capek? Nanti kalau meninggal, siapa yang menanam padi?”Kekhawatiran yang beralasan. Mungkin karena Zuhdi kadang mencuri dengar pembicaraan Bapaknya.

Sebelumnya, saya memang sempat bergosip dengan tetangga yang umumnya berprofesi petani. Mereka mengeluh. Sulit sekali mencari tenaga tani sekarang. Untuk buruh tanam, tinggal ada satu grup berisi lima orang nenek. Utuk grup membajak, cuma ada dua orang kakek. Kalau mereka semua sudah kundur kepada Gustinya, apa masih ada yang dinamakan petani?

Beginilah akibatnya bila sebuah profesi semata-mata dikaitkan dengan rejeki. Ada atau tidaknya orang yang memilih profesi tersebut, ditentukan oleh banyak tidaknya pundi-pundi. Buruh tani adalah salah satu contohnya. Berapa sih yang diterima buruh tani? Sedikiiiit! Sehari paling 10 ribu plus beberapa bungkus supermie sebagai upah. Masa tanamnya setiap 3 sampai 4 bulan. Dalam periode itu, tidak setiap hari mereka dikontrak. Untuk jaman ini, uang sebesar itu bisa buat apa?

Dengan kondisi begitu, profesi petani saya golongkan dalam profesi yang terancam punah dan harus dilindungi.

Nah, bagaimana dengan profesi guru? Bila paradigmanya masih sekitar pundi-pundi, beberapa tahun lagi, profesi ini pun akan punah. “Sekarang masih banyak, kok. Itu masih pada ngantri…”. Menurut opini saya, ini cuma karena masih banyak saudara kita yang belum sejahtera. Untuk umat yang begini, dalam paradigma penghasilan semata, profesi guru masih berada dalam status “jauh lebih baik dari pada tidak berprofesi”. Tunggu saja beberapa tahun lagi. “Yen ana rejaning jaman”, saat bangsa ini sudah makmur, bila profesi ini masih dipandang sebagai sumber pendapatan, insyaAllohakan punah. Karena memang secara alamiah, profesi ini bukan profesi untuk hidup. Seperti kata Bapak Pendidikan,”diurip-urip, dudu dianggo urip”(-dihidupkan, bukan untuk hidup), ini adalah profesi penuh pengorbanan.

Dalam kasus petani, solusinya cukup sederhana. Tingkatkanlah kesejahteraan petani. Secara alamiah, orang akan berbondong-bondong menjadi petani. Selesai. Caranya bagaimana… bukan pokok bahasan cerita ini.

Namun dalam kasus guru, tidak bisa semudah itu. Meningkatkan kesejahteraan guru hanya secara finansial tidak lantas menghidupkan ghirah per-guru-an. Apalagi bilacaranya dilakukan dengan pelecehan seperti TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU. Yang akan semakin besar dengan cara itu adalah semangat berprofesi sebagai guru.

Apa bedanya? Sejak dahulu kala, orang-orang yang berkhidmat sebagai pengajar, yang mengabdikan diri untuk ilmu, tidak pernah berasal dari golongan yang silau terhadap harta. Masih ada pemeo dalam golongan santri bahwa mereka belajar supaya bisa mengajar.

Dalam kondisi ekstreem, masih lestari tradisi di kalangan mereka bahwa bila mengajar, tidak boleh dibayar. Dengan premis ini, meningkatkan pendapatan guru sebagai satu-satunya instrumen kesejahteraan, tidak akan menyelesaikan masalah per-guruan-secara berkelanjutan. Pada satu generasi, mungkin bisa menjadi obat. Tapi generasi berikutnya, profesi ini akan diisi oleh gelombang guru yang memilih profesi ini sebagai sumber penghidupan. Apa tidak boleh? Boleh, kok. Tapi dijamin, pelakunya akan kecewa. Sebab profesi ini adalah profesi yang sangat jauh dari sejahtera dan glamour sebesar apapun gajinya. Kalau toh para pelakunya tampak bahagia, sejahtera, dan kaya, itu karena mereka, para guru, sudah sejiwa dengan profesinya. Gaji yang diterima, berapapun nilainya, dicukupkan dengan syukur. Karenanya, berkah langit turun dengan derasnya. Kami sejahtera dalam kekurangan karena belas kasih Ilahi.

Tapi bila dinilai dengan gaji semata, dibandingkan dengan teman-teman kami seangkatan, yang dulu saat kuliah nilainya setara, tentu akan berbeda bagai bumi dan langit. Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang akhir-akhir ini sedang berusaha mendaftar sebagai dosen PNS.

Bersiaplah untuk kecewa bila yang anda cari dari profesi guru itu cuma sekedar pendapatan. Sebab gaji kami ini tidak seberapa. Kalau ingin kaya, pergilah ke dunia swasta atau setidaknya pegawai BUMN. Kalau anda cari santai, jadi petani saja.

Tidak ada ceritanya jadi dosen itu santai. Kami ini mirip dokter. Tidak punya waktu libur bahkan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar.

Bila yang anda cari adalah berhidmat untuk pengetahuan maka gaji, tunjangan, pangkat itu cuma semat yang tidak penting. Sebab bos anda, pemerintah, tidak pernah peduli dengan hal itu.

Kami, para guru cuma dipandang sebagai angka nun jauh di atas sana oleh para executive dan legistative. Naik pangkat anda akan sulit sehebat apapun anda kecuali anda masuk dunia politik.

Status “Dadi masinis wae po, Yo? Kata Pak Jonan, “Gaji Masinis Sekarang Bisa Rp 13 Juta, Penjaga Pintu Rp 6,5 Juta”. Ora usah kuliah S2 apa maneh S3. Punya hari libur. Pulang kerja langsung tidur. Dosen, S3, Golongan IIIB paling 6 juta sebulan termasuk sertifikasi. Tidak punya libur, pulang masih lembur. Naik Pangkat sulit tak Teratur.Dadi Masinis wae po, yo? Dadi Masinis wae po, yo?” adalah sindiran satiris terhadap kondisiini.

Semoga yang memang sudah mantap melamar menjadi dosen PNS dengan niyat berhidmat untuk ilmulah yang diterima. Salam menjadi guru :D

Oleh: Dosen Jteti Ft Ugm – dari group Madrasah Peradaban.

gaza

Kami Bersumpah Tak Akan Meninggalkanmu Selamanya

Sungguh keterlaluan, jika situasi yang sedang riuh di piala dunia dan riuhnya pemilihan presiden di Indonesia telah mengaburkan dan melalaikan kita dari kepedulian kita terhadap apa yang sedang terjadi di Gaza!pildun

Selain Gaza, Suriah pun kembali bersimbah darah. Didapatkan kabar bahwa Basyar Assad kembali melakukan serangan pada 8 Juli lalu yang menewaskan 22 orang muslim dan mengakibatkan puluhan lainnya luka luka. Korban sipil Suriah sejak konflik tahun 2011 mencapai 150 ribu jiwa lebih. Jutaan mengungsi ke Negara-negara tetangga. Saya sendiri sudah bertemu dengan para pengungsi Suriah di Istanbul akhir Juni lalu. Mereka tegar, mereka tetap mampu menghadiahkan senyuman kepada kita yang datang kepada mereka. Allaah…

Suriah adalah bagian dari Syam negeri, yang dirahmati oleh Allah. Negeri Syam di mana dalam nash syariah akan menjadi tempat peperangan akhir zaman antara yang haq melawan kebatilan. Syam, adalah titik pusat keimanan muslim dunia. Negeri di mana para pesuruh Allah, orang terbaik setiap zaman masa lalu pernah diutus, dan hingga akhir zaman akan selalu menjadi indikator ummat terbaik. Negeri Syam.

Bukti lain, Syam sebagai indicator ummat terbaik setiap zaman.

Sebagai seorang pemuda, muslim.. setidaknya ukuran ini terbukti nyata di hadapan saya. Di Istanbul akhir Juni lalu saya temui seorang pemuda usia 29 tahun. Namanya Yasser. Aktifis anticoup bersama sejumlah kawan-kawannya yang kini diblack list oleh pemerintahan Al Sisi dari Mesir. Yasser dkk tak bisa pulang ke negerinya sendiri, terusir. Tapi jiwanya benar-benar merdeka, kualitas pemuda ini pun sangat luar biasa. Menguasai lebih dari 4 bahasa, retorika dan pidato yang memukau, menggerakkan jiwa-jiwa yang lain untuk bangkit. Dan yang lebih hebat lagi, ketika menjadi imam shalat jamaah suaranya indah sekali, masya Allah.

Rata-rata pemuda timur tengah, Syam telah menyelesaikan hafalan qurannya. Bagaimana dengan mayoritas pemuda di Indonesia? Malu rasanya. Inilah salah satu fakta indikator ummat terbaik selalu dinisbatkan pada bumi syam.

Sungguh, kitalah yang berhutang budi terhadap mereka. Syam, Suriah, Palestina. Rakyat Palestina. Karena mereka telah mewakili kita (umat islam seluruh dunia) menjaga dan bertahan di tanah waqaf ummat Islam, masjid suci al aqsa.

Kita teriak menangis dan kasihan kepada rakyat Gaza, iya itu sudah benar. Tapi sesungguhnya kitalah yang patut dikasihani. Mereka berdiri tegak, terusir, jatuh bersimbah darah demi menjadi membela tanah suci Al Aqsa, bagaimana dengan kita di Indonesia yang masih sibuk bahkan rebut sendiri sesama saudara kita hanya karena berbeda pendapat tentang demokrasi dan pemilihan presiden! Miris!

Untukmu Syam, Suriah, Gaza, dan seluruh saudara kami yang terdzalimi… Maafkan kami yang masih lemah. Maafkan kami yang masih sibuk dengan fitnah syubhat dan syahwat di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini. Tapi.. kami bersumpah demi Allah.. tak akan meninggalkanmu, tak akan membiarkan mu sendiri selamanya!

Mari berikan yang terbaik semampu kita, untuk saudara-saudara kita di sana. gaza-gaza

Gontor-Kaderkan-Pemimpin-pemimpin-Baru

Kaderisasi Ulama Dunia – Robithoh ‘alam Islamy

Dalam rangka kaderisasi ulama, Ma’had ‘Idad aimmah wa du’at, Mekkah Al mukarromah, di bawah bimbingan Robithoh ‘alam Islamy, membuka Program Satu Tahun. (Program Diplom ‘Aam – Dirosat ‘Ulya, Pasca Sarjana). Bagi teman-teman yang berminat, bisa langsung cek dan penuhi persyaratannya ya.

I. Persyaratan:

  1. FotoCopy ijazah S1 yg sudah dilegalisir, atau scanan ijazah berwarna (ijazah bukan arab, harus diterjemahkan melalui penerjemah resmi)
  2. Scan Paspor warna
  3. Tazkiyah 2 orang (DDII, Muassasah Ta’limiyah, Dosen, Asatidz, tokoh agama dll)
  4. Pas foto 4×6 (4 lembar) pendaftaran ini untuk angkatan ke (37), insya Allah, kalo keterima berangkatnya hajian 2015.

II. Materi kuliah untuk dua semester:

  1. Tafsir
  2. Hadis.
  3. Siroh.
  4. Fiqih
  5. Ushul dakwah
  6. Fiqh dakwah
  7. Khitobah
  8. Adyan wa firoq
  9. Hafalan alquran (Juz 27 & 28)
  10. Tsaqofah Islamiyah
  11. Hadlir ‘Alam Islamy
  12. Aqidah.
  13. Mu’awwiqa�t fi dakwah.
  14. dll

III. Fasilitas:

  1. Mukafaah bulanan 850 Real.
  2. Asrama plus makan.
  3. Tiket Pesawar PP (untuk berangkat, dibawar sendiri terlebih dahulu, kemudian akan mendapat penggantian)
  4. Haji bersama Para Tamu undangan Robithah alam Islamy.
  5. lokasi dekat masjidil harom, memungkinkan untuk sholat berjama’ah dan umrah setiap saat.
  6. Ada daurah-daurah tambahan, dan kajian Ulama-ulama di Masjidil Harom bagi yang ingin menambah ilmu tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
  7. Kitab-kitab gratis. 8. dll IV: Cara pendaftaran: Semua berkas dikirimkan melalui kantor pos, ditujukan ke alamat ma’had (tertera di bawah formulir) V. Batas akhir: Tidak ada batas akhir, karena ini adalah program tahunan Robithoh alam islamy. Semua berkas yang masuk ke idaroh qobul Ma’had akan ditampung lalu dirapatkan untuk penentuan kelulusan.

http://www.itimams.net/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=51&Itemid=92

Barakallaah.

Cara Rasulullah Dicintai Musuhnya

Catatan untuk kita semua, kajian ini disampaikan oleh Ust Arifin Nugroho, tgl 17 Mei di Masjid Sunda Kelapa.

1. Byk para sahabat rasulullah saw dulunya adl musuh”/ org” yg benci pd beliau, seperti ‘Umar bin Khathab dan Khalid bin Walid.

2. Ada dua sikap rasulullah saw yg penting utk kita terapkan thd org” yg kita benci ato org” yg membenci kita: mendoakan kebaikan utknya dan membalas keburukan dgn kebaikan.

3. Kisah ‘Umar: Rasulullah saw prnh berdoa pd Allah spy Islam dimuliakan dgn ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) ato ‘Umar bin Khathab, akhirnya doa tsb terkabul dgn msk Islamnya ‘Umar, yg stlh berhijrah bertrasaformasi menjadi sahabat yg amat mencintai rasululullah saw dan salah satu sahabat plg utama stlh Abu Bakr.

4. Moral lesson dari kisah tsb: jgn meremehkan ato meninggalkan kebiasaan mendoakan org yg tdk sejalan dgn kita dgn doa yg baik, rasulullah pun mencontohkannya. Ucapkan doa terbaik utk org yg tdk kita sukai krn bisa jadi Allah akan memberi hidayah kpd org tsb dari lisan kita. Ini jg utk mengubah sudut pandang kita thd sesuatu/seseorang yg tdk kita sukai. Mendoakan org yg tdk kita sukai tentu lbh “menantang” drpd mendoakan org” yg memang kita cintai.

5. Kisah rahib Yahudi (Zaid… Sy lupa namanya,hehe): seorang rahib/ pendeta yahudi yg berusaha mencari kejelekan dan kelemahan rasulullah saw tp tdk berhasil. Kisahnya ada di sirah nabawiyah, pd saat rasulullah berhutang kurma dan si pendeta menagih utang di saat blm jatuh tempo, dia menagih dgn cara kasar (mencengkeram baju rasulullah saw) di dpn para sahabat hingga ‘Umar minta izin pd rasulullah saw membunuh org tsb. Tetapi rasulullah justru memarahi ‘Umar dan menyuruh ‘Umar mengambil kurma yg terhutang plus tambahannya sbg bonus (krn ‘Umar telah membuatnya takut). Seketika itu jg si pendeta memeluk rasulullah dan menyatakan keislamannya. Dia terharu dgn kesabaran dan kemuliaan rasulullah saw. Bayangkan jika kita ada di posisi rasulullah, bisakah kita sabar?

6. Kisah wanita tua Yahudi yg selalu meludahi wajah rasulullah saw tiap bertemu, tapi rasulullah tdk prnh marah dan hanya membersihkan wajah beliau saja. Saat wanita tua itu sakit, beliau pun mendoakan dan mengunjunginya hingga wanita tsb terharu dan menyatakan keislamannya.

7. Kisah diatas menunjukkan bahwa rasulullah saw selalu membalas keburukan dgn kebaikan. Beliau yakin bahwa yg memberi hidayah adl Allah semata, shg beliau ingin menjadi perantara hidayah tsb.

8. Kisah Khalid bin Walid: Khalid selalu mendapat info” ttg kebaikan rasulullah dr saudaranya yg lbhi dulu msk islam.

9. Kisah dr mesir (kisah jaman modern) ttg seorang ustad dan seorang pemuda pemabuk yg berpenampilan kumuh: mrk dipertemukan dlm satu kereta. Slama perjalanan si ustad menceramahi pemuda ini dan si pemuda cuek aja krn teler. Bbrp thn berlalu dan mrk bertemu dlm suatu kajian islam, si ustad kaget stlh pemuda tsb menceritakan kisah pertemuannya dulu dgn ustad dan kondisinya skrg yg sudah berubah jd pemuda shaleh. Ternyata pemuda tsb tobat bkn krn ceramah si ustad, tp dia terharu krn selama berceramah di kereta dulu, si ustad menyelingi dgn minum, saat itu si pemuda jg kehausan dan ustad tsb menawarkan minumnya dan tetap meminum air tsb wlpn udh diminum si pemuda. Si pemuda terharu krn ustad tdk merasa jijik dgn minumannya, pdhl slama ini org” slalu jijik dan bahkan membuang benda” yg prnh kena sentuh pemuda tsb. Ini menunjukkan sikap menghormati lawan bicara dan tdk menggurui, wlpn saat itu dia sdg menasihati/menceramahi si pemuda.

10. Ketika kita sadar prnh menzalimi seseorang, maka itu adl anugerah.

11. Ketika kita merasa tdk prnhi menzalimi seseorang, maka itu adl bencana kesombongan.

12. Semangat jgn hanya utk diri sendiri, tapi hrs dialirkan ke jamaah dgn cara yg baik, ga cuma ngomong tp jg action, sperti rasulullah yg sedikit berbicara tp sekali berbicara begitu menyentuh dan tindakannya begitu menginspirasi.

13. Pentingnya mengenal rasulullah baik ciri fisiknya maupun kepribadiannya shg kita tdk asing dgn rasul kita.

14. Rasulullah tetaplah manusia, wlpn beliau dibebaskan dr dosa. Shg tdk ada alasan bagi kita utk ngeles “itu kan nabi, bisa sabar, lha kalo saya nih siapa” ini tdk baik, krn Allah pun menjelaskan bahwa rasulullah adl suri teladan yg baik bagi kita smua. Kalopun prnh melakukan kesalahan, Allah lah yg akan lgs menjaga beliau.

15. Sekilas ciri fisik rasulullah: beliau adl org yg bersih (ini hrs ditiru, mengingat di masa beliau, air sgt jarang dan tanah arab adl padang pasir gersang dan berdebu), wajahnya berseri (tdk pelit senyum, pdhl di arab masa itu org” jrg sekali tersenyum, kl di indonesia mgkn udh biasa tersenyum), beliau scr kseluruhan memiliki fisik yg sempurna dan kuat (krn gaya hidup sehat). Krn itu musuh” beliau (kafir quraisy) tdk prnh mencela dr segi fisik, yg mrk cela hanyalah “penyihir”, “penyair” dsb. Bahkan tdk ada yg mengatakan bahwa beliau pendusta krn sifat amanahnya yg terkenal (al amin), musuh” beliau pun sering “nitip barang” ke beliau. Beliau jg pandai menangkap sinyal dr para sahabatnya shg beliau amat dicintai mrk. Misalnya ketika ada yg sdg kelaparan, sedih, dan gembira beliau slalu empati dan peduli.

Demikian sharenya, smoga share yg sedikit dan amat terbatas ini tetap bisa menambah kecintaan kita pd rasulullah muhammad saw dan smoga kelak kita dipertemukan dgnnya, aamiin yaa rabbal ‘alamiin 

Oleh : Dania Diniari

bg

Menjawab Keimanan dan Keadilan Pemimpin

Telah sama-sama kita ketahui bahwa tidak ada kepemimpinan kecuali adanya sebuah keyakinan yang diwujudkan. Tidak ada kepemimpinan kecuali didasari oleh ideologi yang tegas ditegakkan. Sebuah keyakinan yang menjiwai gerak langkah seseorang untuk memperjuangkan hingga tetes darah penghabisan.

Ideologi akan mendorong seseorang memiliki kepercayaan (iman). Iman adalah sebuah kondisi jiwa yang yakin akan sebuah janji. Keimanan akan diwujudkan dalam menghujamnya kemantapan hati, lisan dan perbuatan. Kesesuaian antara hati lisan dan perbuatan inilah yang membuat setiap pemimpin diikuti. Ia tidak munafik, apalagi khianat.

Silih berganti kepemimpinan negeri ini telah terjadi, namun keadaan bangsa belum seperti yang dicita-citakan. Padahal kita telah merasakan kemerdekaan dan kemandirian pemerintaahn sejak tahun 1945. Lebih dari 60 tahun pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia seolah masih saja jauh belum terlaksana secara merata.

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul Inilah Presidenku Nanti, penulis memasukkan kriteria pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan memimpin masyarakat yang plural, memahami kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini membutuhkan keadilan sejati. Ia tegas dan konsisten penjagaannya terhadap prinsip-prinsip masing-masing golongan. Ia pemimpin yang adil, bukan pemimpin plural. Dan perlu diketahui bahwa tidak ada konsep keadilan sejati yang terbaik selain dari konsep Islam. Pemahaman tersebut juga bersyarat bahwa hanya orang berimanlah yang mampu menerapkan keadilan bagi seluruh golongan.

Sebagai bukti, apakah anda mampu menjawab bangsa mana yang memiliki toleransi melebihi bangsa Indonesia? Di mana mayoritas berpenduduk muslim namun sangat menghormati prinsip agama dan golongan lain?

Di Indonesia, orang kafir (non muslim) diberikan hak untuk berprestasi dan berkarya yang sama. Sesuai kapasitas diberikan kesempatan menjabat sebagai pejabat pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang islam. Apakah ada di Negara barat atau eropa yang mayoritas non muslim, umat Islam diberikan kewenangan untuk duduk bersama dalam parlemen atau kursi pemerintahan?

Sangat jelas bahwa ketika muslim menjadi minoritas, terjadi diskriminasi. Bahkan yang kita tahu hingga ada pembersihan etnis muslim di Afrika tengah, Suriah, Myanmar, dll. Namun dunia dan PBB bungkam. ini jelas menjadi bukti bahwa Tuhan ternyata tidak memberikan karunia sifat adil yang sejati kepada pemimpin yang non muslim. Ada dimensi iman yang tak mampu dipahami oleh orang kafir apalagi mereka yang tidak percaya tuhan. Padahal bangsa kita tegas menjadikan ideologi sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Esa adalah tunggal, dan tiada Tuhan yang tunggal selain Allah.

Nah pemimpin yang mampu menghormati, menjaga dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa yang majemuk adalah pemimpin yang adil, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Islam diturunkan sebagai agama rahmatan lil aalamiin yang adil, yang menegakkan kemaslahatan bagi seluruh elemen. Pemimpin yang beriman, menjaga keimanannya dengan bertakwa, ia akan dituntun oleh Tuhannya untuk tidak berbuat sia-sia apalagi aniaya/dzalim. Pemimpin yang beriman, yang adil akan menjamin 5 hal diantaranya adalah:

Pertama, menjaga agama. Ini adalah dharuriyat tertinggi dalam Islam. Islam akan menjaga agama agar tidak tercampuraduk antara yang haq dan yang bathil. Islam menghormati pilihan setiap orang untuk memeluk Islam maupun menolak Islam dengan syarat tidak memusuhi dan berbuat kerusakan (adu domba, penodaan agama). Islam tidak boleh memaksakan kehendak beragama, karena dalam Islam setiap amal harus ikhlas dan tanpa intervensi dari pihak-pihak lain. Saya yakin, selain Islam, tidak ada yang secara adil menjaga agama. Ini terbukti dengan terjadinya kasus-kasus yang saya sebutkan di atas.

Ke dua, menjaga jiwa. Konsep Islam tegas mengharamkan pembunuhan, yaitu menumpahkan darah sesama muslim, menumpahkan darah dzimmah (orang kafir yang hidup berdampingan dan tidak memusuhi islam)  serta mu’ahid (orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan muslim dengan persyaratan tertentu). Tuhan kami umat Islam yaitu Allah, mengancam keras bagi yang melanggar dengan ancaman dimasukkan ke neraka jahannam dan kekal di dalamnya. Tidak hanya itu, Allah juga menyediakan azab yang besar bagi si pelaku pembunuhan jiwa. (QS. 4:93)

Ke tiga, menjaga akal. Islam diturunkan untuk menjaga akal manusia. Perintah pertama dalam Islam adalah iqra, ilmu. Maka dengan ilmulah manusia dijaga oleh Allah akalnya sehingga mampu memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dari ilmu dan akal inilah muslim mengetahui halal dan haram, sehingga mencegah perbuatan yang merusak dan merugikan kepentingan orang lain apalagi kepentingan Negara.

Ke empat, menjaga harta. Islam menjaga keutuhan dan hak harta pada setiap individunya yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dalam konsep islam juga dididik bahwa mengumpulkan harta selain untuk kehormatan dan kemapanan hidup, juga untuk dikeluarkan zakatnya. Dengan ini, tidak akan terjadi kesenjangan sosial, si kaya dan si miskin mampu hidup harmonis menikmati kesejahteraan secara adil dan merata.

Selain itu, yakin bahwa apabila harta dikumpulkan oleh  orang-orang kafir maka digunakan untuk kepentingan penguasaan. Faham kapitalisme yang telah identik dengan sistem liberal yang didengung-dengungkan peradaban barat telah membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Yang kaya bisa melakukan apa saja. Ada memang sebagian orang kafir baik, tapi ketidakfahaman mereka tentang adanya hari hisab kelak membuat mereka tidak lepas dari kehidupan bersenang-senang yang identik dengna miras, prostitusi, keserakahan eksploitasi alam, menghalalkan segala cara, dll.

Di tangan orang beriman, harta akan berputar pada pusaran-pusaran kebaikan. Contoh zakat, infaq, sedekah, dakwah, pembangunan sarana publik, dan benar-benar utk kesejahteraan bersama.

Ke lima, menjaga nasab (keturunan). Islam melarang penganutnya untuk melakukan pergaulan bebas,  zina seperti yang difahami oleh paham liberal. Islam melarang muslim melakukan kawin sejenis,  dan berperilaku tidak semestinya sesuai gender. Islam menjaga kejelasan status seorang anak dengan ikatan perkawinan yang sah disaksikan oleh segenap orang yang beriman dan direstui oleh Tuhan.

Nah, itulah konsep keadilan yang berketuhanan yang maha esa dengan iman. Orang seperti inilah yang berhak menjadi pemimpin negeri ini. Yaitu orang beriman, yang memahami bahwa dia memimpin bukan semata-mata untuk kepentingan partai dan konstituennya, tapi  untuk kepentingan rakyat. Ia yang memahami bahwa pengabdian menjadi pemimpin adalah pelayan umat, menjamin kesejahteraan rakyat, melakukan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya adalah ibadah kepada Tuhannya. Ia akan menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan nasab untuk semua golongan. Insya Allah Indonesia akan damai, sejahtera, makmur dan sentosa.

inilah-presidenku-nanti

Inilah Presidenku Nanti

Indonesia adalah Negara yang amat luas, beragam etnic, agama, budaya dan masih banyak lagi. Kekayaan alam dan SDM ini membutuhkan intelektual yang cakap dalam pemanfaatannya secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat. Kekayaan etnic dan ragam agama pun akhirnya membutuhkan kepemimpinan yang handal dalam harmonisasi kehidupan bermasyarakatnya. Selama ini, pemerintahlah yang mengatur dan memberdayakan semua yang berkaitan dengan pembangunan bangsa.

Tahun ini adalah tahun kepemimpinan. Pesta demokrasi 5 tahunan yang menghabiskan dana kurang lebih 170 Triliyun untuk memilih pemimpin-pemimpin yang mewakili aspirasi rakyat akan segera dihelat. Alangkah sayang jika dalam pemilu ini tidak menghasilkan pemimpin yang tepat. Oleh karena itu, izinkan saya memberikan gambaran kriteria pemimpin Indonesia nanti.

Pertama, Indonesia butuh sosok pemimpin yang mampu memahami kemajemukan (pluralistik) bangsa. Plural adalah keadaan di mana perbedaan secara prinsip tidak bisa dihindarkan, namun keharmonisan hidup wajib dihadirkan. Masyarakat plural membutuhkan pemimpin yang adil, bukan pemimpin yang plural.

Pemimpin yang adil konteks ini adalah yang menghormati pluralistik secara konsisten dengan cara yang konsisten. Maksudnya adalah bahwa masyarakat diberikan aturan sedemikian rupa sehingga saling menghargai prinsip masing-masing tanpa meminta untuk diikuti, membiarkan prinsip masing-masing tanpa ada motif secara paksa untuk mempengaruhi. Jika aturan tersebut dilanggar atas nama apapun, pemimpin harus tegas memberikan sanksi hukum yang menjerakan. Maka pemimpin yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Selain itu, kriteria kedua yang harus dimiliki oleh calon pemimpin di Indonesia adalah yang memiliki determenasi sosial tinggi. Ia mampu membaca peta perubahan sosial Indonesia maupun dunia.

Yang ketiga, pemimpin Indonesia harus memiliki kapasitas membawa Indonesia menuju masyarakat yang terjamin pendidikan dan adabnya. Karena pendidikan tanpa adab hanya akan menghasilkan masyarakat yang tak bermoral. Ujung ujungnya menghasilkan pemimpin yang banyak gelar tapi miskin hikmah dan rendah moralnya.

Terakhir pemimpin Indonesia nanti harus memiliki kapasitas membangun Indonesia secara ekonomi dan geopolitik menuju Indonesia yang mandiri.

Dalam menjalankan semua amanah tersebut, harus dilandasi rasa cinta kepada bangsa, Negara dan agama. Dengan begitu, pemimpin Indonesia akan teguh menjaga kehormatan bangsa Negara dan agama, dan tidak mudah menggadaikan identitas ideologi hanya demi kucuran uang dana bantuan.

Sungguh negeri ini kaya dan berdaya jika dipimpin oleh pemimpin yang tangguh dan amanah.

12295_113845321961387_100000077582915_270407_675741_n

Menukar Dosa

Karena jiwa manusia itu diciptakan dengan ciptaan yang sebaik-baiknya, maka Islam melarang umat Islam mengotori jiwa dengan perbuatan dosa sekecil apapun dan memerintahkan kita untuk berbuat kebajikan. (Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi Ketua Miumi Pusat )

“Kebajikan adalah akhlaq yang bagus (untuk Allah dan untuk manusia), sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa seseorang ketika melakukannya dan yang bersangkutan tidak suka diketahui orang lain” (penjelasan dari HR.Muslim 4633).

Iya.. sekecil apapun, dosa adalah yang menggelisahkan.. ia membuat titik noda seperti noda tinta hitam pada kertas. Jika lah yang kecil saja menoda, bagaimana yang besar?

Benar kata Ibn Mas’ud. Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat.

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,mudah-mudahan tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”….(QS. At-Tahrim : 8 )

Sesungguhnya Allah telah mengurniakan suatu penangguhan kepada hambanya dari ditulis dosa yang telah dibuatnya oleh Malaikat Kiramul Kaatibiin supaya dia sempat bertaubat kepada tuhanya,maka telah berkatanya rasulullah sallallahu alaihi wassalam :

إن صاحب الشمال ليرفع القلم ست ساعات عن العبد المسلم المخطئ، فإن ندم واستغفر الله منها ألقاها، وإلا كتبت واحدة

Sesungguhnya malaikat yang disebelah kiri akan mengangkat penanya selama enam jam (tidak menulis lagi dosa tersebut) terhadap hamba muslim yang berbuat kesalahan,jika dia menyesal dan meminta ampun kepada Allah dari dosa tersebut maka akan dilemparkan sahaja dosa tersebut,jika dia tidak berbuat demikian,maka akan ditulis sebagai satu dosa » (HR. At-Thobrani dari Abu Umamah di dalam Al-Kabir)

Maka, janganlah kita coba-coba mempermainkan agama dengan menganggap setiap perbuatan yang berdosa itu sebagai perkara remeh temeh.

**

“Dari Abu Bakar radiallahu anhu berkata : Aku telah mendengar rasulullah sallallahu alaihi wassalam bersabda : Tidaklah seorang lelaki itu yang melakukan dosa kemudianya bangun dan membersihkan diri (berwudhuk) kemudian bersolat (solat taubat dua rakaat) kemudianya meminta ampun kepada Allah dengan beristighfar melainkan akan diampunkan Allah baginya ,kemudian beliau membaca ayat ini :

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri (segera) mengingati Allah ,lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui”(Ali-Imran : 135) (HR. At-Tirmizi dan Abu Daud)

Dan perbanyakkanlah beristighfar (meminta keampunan kepada Allah) sebagaimana yang dilakukan oleh baginda :

قال أبو هريرة : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة

Diterjemahkan : “Demi Allah! Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya setiap hari lebih daripada 70 kali (HR.Bukhari no:6307)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس! توبوا إلى الله. فإني أتوب، في اليوم، إليه مائة مرة

Diterjemahkan : Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah,sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali (HR.Muslim)

“Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan kejahatan-kejahatan kemudianya melakukan kebaikkan-kebaikkan seperti seorang lelaki yang memakai baju perang besi yang sempit,sehingga mencekiknya,kemudianya apabila dia membuat amalan kebaikkan maka terbukalah suatu lubang,kemudian dia melakukan kebaikkan yang lain dan terbukalah lubang yang lain sehinggalah terbuka kesemuanya dan jatuh ke atas tanah” (HR. at-Thobrani di dalam Al-Kabir )

“Dan laksanakanlah solat pada kedua hujung siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam, perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingati Allah” (Hud :114)

*ntms

bersyukur-kepada-allah

Ketika Kekalahan Menimpa Orang-orang Shalih

Bismillahirrahmaanirrahim

Ingin ku bertanya padamu

Telah berapa tahunkah kita bersama?

Satu, dua, tiga, atau melampai 13 tahun?
adakah engkau tetap tidak mengenalku?
atau engkau mengenalku samar-samar?
dalam malam pekat tertutup kabut?

Atau perkenalan kita seterang rembulan?
engkau mengenalku dengan sungguh mengenal,
mengetahui apa yang menjadi cita dan mimpiku
apakah engkau telah mengenalnya?

Ini adalah hari-hari yang akan sungguh sulit bagi kita..
tahun politik yang penuh ujian..

Lama tertegun dalam kalimat yang disampaikan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, terhadap peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, Ali berkata “aku tidak membunuh Utsman, dan aku tidak ingin membunuhnya, dan aku tidak pernah memerintahkan membunuhnya, tetapi akudikalahkan , dan semoga aku dan Utsman kelak di surga termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat ini “Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

Dua sahabat mulia
Enam tahun itu dilalui bersama
penuh kenangan manis akan keteguhan perjuangan
masa-masa sulit Mekkah adalah masa indah
Ali kecil samar “mendengar” Utsman
dan lalu terpisahkan lautan
laut merah
antara Mekkah dan Habasyah
waktu berlalu
ketika 8 tahun kemudian setelah perpisahan itu
dipertemukan kembali di sebuah kota baru
kini Ali telah dewasa usia mencapai 23 tahun
sesudah itu keduanya tak terpisahkan, dalam medan-medan jihad, dalam kehidupan keseharian,
saling mengenal tindak-tanduk

Hingga tibalah pada suatu masa,
Allah telah menakdirkan Utsman menjadi Khalifah,
dengan banyak tindak-tanduk yang ditenggarai tidak disepakati
adapun beberapa tindak-tanduk yang sangat penting dan krusial, sangat disepakati ALi, semisal penulisan kembali al Qur’an yang telah dibukukan dizaman Abu bakar

tetapi api perbedaan meliputi dan menggelayut
tentang cara pengelolaan negara, tentang cara-cara pengelolaan keuangan negara, tentang beberapa hukum fiqih

Api yang panas,membuat “lupa”
Lupa akan suatu kisah, bahwa surga pasti akan dimasuki Utsman
lupa bahwa apapun yang dilakukan Utsman sesudah perannya dalam perang tabuk tidak akan menimpakan bahaya bagi posisi sejati Utsman.

maka perkataan Ali bahwa “aku telah dikalahkan”
adalah suatu perkataan mendalam

dan tentang kita,
kau dan aku
apakah kita terpisah jarak yang sangat jauh, sehingga kau tak lagi mengenalku
sehingga engkau berprasangka buruk
atas buah-buah pikiran yang dianugerahkan Allah berada dalam kepalaku
atau buah pikiran itu justru ujian padaku, bagaimana ku bersikap
dan ujian padamu, bagaimana engkau bersikap
tentang perbedaan merespon peristiwa
tentang kesalahan dan kekeliruan

tentang potensi “kekalahan”
dikalahkan persepsi dan euporia peristiwa sesaat
keadaan sering mendorong pada melupakan,
siapa fulan sebenarnya?
apa hakikat sesuatu yang terjadi?

Demikianlah orang-orang shalih negeri ini, sering terkalahkan oleh persepsi
Kekalahan itu terdiri dari sikap menjauh
dari sikap tidak percaya
kekalahan yang sering berupa keluar dari gelanggang
kekalahan yang sering berwajah tak mengambil sikap

Duhai orang shalih negeri ini..
jangan kalah !
mari kita atasi dan kelola segala macam perbedaan

Mari bersinergi membangun negeri!

Disadur dari pengikatsurga.wordpress.com dengan beberapa tambahan.

rindu

Makna Cinta

Jika ditanya tentang cinta, apa yang terbayang di benakmu? | Cobalah berhenti sejenak membaca tulisan ini, tutup mata dan bantu saya mendefinisikan itu ya. Hayoo, kok diterusin baca? psst! bandel! :p -> oke kalau udah, msge via fb atau email boleh.  Nah, setelah selesai mendefinisikan, boleh lah lanjut membaca artikel ini. :)

Ada yang bilang.. cinta itu.. sebuah keputusan. Cinta itu seperti desiran angin yang menyejukkan. Tak perlu tergesa untuk mengungkapkannya. Cinta itu seperti kupu-kupu. dst… Ah pastilah begitu berjuta makna yang disetiap sisinya memiliki keindahannya masing-masing menurut penafsiran dirinya. Dan memag tiada hak untuk menyalahkan.

“Semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta.” – (Ibnul Qoyyim dalam bukunya ‘Taman Surga Para Pecinta’)

Mungkin ini salah satu Maha Hebatnya Allah, tiada batas penguasaan tentang definisi maupun hikmah sebuah kata dan nama. Dan tentang cinta, Ia pun memiliki definisi menurut diriNya sendiri. Maka tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan :

“Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada diantaranya kecuali dengan kebenaran.”(QS. Al Hijr: 85)

Jadi cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing tangan Abu Bakar, Al Najasyi, dll. Begitu kata Anis Matta.

Jika cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan, maka yang menutupi kebenaran menurut Buya Hamka adalah Juhd (angkuh bersudi tantang dengan kebenaran) dan hasad (Asyhadun), dengki. Maka cinta pun tertutupi, yang membuta nan menyesatkan siapa saja, seperti Abu Jahal, Haraklius dll. Ia ada pada makna kaafir (kufur terhadap kebenaran) yang ditafsirkan dari Al Baqarah:6-7.

Maka cinta…
Kaulah sesungguhnya pintu hidayah, juga pintu mawaddah.
Kaulah pelembut jiwa penentram hati karena kebenaran dariNya menghujam terpatri.

Kalau nak, seribu daye | kalau tak nak, seribu daleh! (Pepatah Melayu)

Tidak ada cinta yang terlalu sulit, yang ada ialah kemauan dan upaya yang terlalu sedikit
Ianya untuk menjemput hidayah, ianya juga untuk menjemput mawaddah

berbagi hikmah, semangat dan keberkahan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,788 other followers