Memaknai Ikhwan dan Akhwat

Memaknai Ikhwan dan Akhwat dengan ‘Adl (sesuai makna – sesuai pada tempatnya). Artikel ini berusaha menyuguhkan fenomena yang terjadi dalam dunia kita khususnya bagi teman2 yang semangat untuk belajar dan berdakwah..

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

(QS. Al-Hujuraat [49]: 13).

Saya mengutip artikel dari akhi Eko, berikut artikelnya..

Seorang kawan dekat yang aktivis dakwah di kampus bercerita tentang temannya yang mengaku belum pantas menjadi seorang ‘ikhwan’ karena belum memiliki ilmu agama yang cukup dan belum menjalankan ajaran agama dengan sempurna. Kawan saya bilang kalau dia ingin tertawa mendengar pengakuan temannya itu. Begitu juga saya. Ada juga kawan, seorang aktivis dakwah juga, yang menulis di sebuah blog bahwa dia merasa geli ketika mendengar teman-temannya sesama aktivis yang ngomong seperti ini: “dia itu rajin shalat tahajjud lho, padahal dia bukan ikhwan,” atau “dia itu meski bukan ikhwan, tapi pinter ngaji lho..” nah lhoo..

Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.

Secara lughowi (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara. Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst.

Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai di kalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis di dalamnya ataukah hanya sekedar pilihan, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan brother atau sister. Yang jelas, dengan mamakai bahasa apapun, jika pemaknaannya sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan akidah, tentu akan menjadi masalah.

Kembali kepada cerita kawan saya di atas. Berdasarkan pengakuan teman dari kawan saya itu, tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat di kalangan para aktivis. Menariknya lagi, sepertinya ada lebih dari satu pergeseran makna di sana;

pertama, ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai di sini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.

Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini adalah seperti yang dipahami oleh teman dari kawan saya di atas. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dst.

> Perubahan Makna

Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar (dalam psikologi kognitif ada istilah primary effect, hallo effect, fundamental attribution error danconfirmation bias untuk menjelaskan hal tersebut). Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.

Dalam ilmu linguistik, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.

Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah, misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.

> Simbol dan Hakikat

Apa yang dapat kita pelajari dari bincang-bincang kita tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.

Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka, untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi kenalilah, selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata ‘kecil’ dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW. datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu di sisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.

Maka dari itu Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

***

Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, maka itu telah melampaui batas.

> Kesimpulan

Yap, Akhirul kalam, baik saya dan akhi eko, memiliki cara pandang yang sama… saudara-saudara yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ , atau istilah apapun dari bahasa apapun, ya silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut, antum semua harus mengetahui dan memahami makna asli dan tujuan penggunaan istilah tersebutagar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar, karena jika tidak, akan dikhawatirkan pergeserannya hingga sampai pemaknaan secara hakikat, ini gawat. kenapa bisa begitu? karena setiap insan itu berbeda maqam ilmu dan pemahamannya, alangkah lebih baiknya jika menempatkan makna sesuai pada tempatnya (‘adl : adil ) sehingga tidak memberikan pemahaman yang telah bergeser (kurang tepat) thd orang awwam yang mengakibatkan terbangunnya persepsi yang menyempit (baca : bergeser dari makna asli) pemahamannya. Ya, bukankah Allah itu mengajarkan utk berbuat adil? dan ketahuilah, ukuran terberat setelah keimanan seseorang sbg pemimpin (khalifah fil ardh) adalah rasa ‘adl (keadilan) terhadap apapun sesuai yang Allah gariskan.

Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.

Wallahu A’lam.

by Abu Naashir

inspired by A.B. Eko Prasetyo  

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s