Category Archives: Catatan ku

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. [Rahmat Idris]

Smoga mnjadi bahan renungan dan pembelajaran. (Hilman Rosyad S.)

Ulama dan Akhlaq

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Penuntut ilmu yang datang di majelis Imam Ahmad 5.000 orang atau lebih, 500 menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliau”.
(Syiar A’lamunnubala’:11/316).

Berkata Abu Bakar Bin Al-Muthowi’i: “Saya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anak²nya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliau”.
(Siyar A‘lamunNubala’:11/316).

Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri-rohimahulloh-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”.
(Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361).

Berkatalah Abdullah bin Mubarak-rohimahulloh-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446).

Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120).

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rohimahulloh-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Hilyah: 17. Jami’li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49).

Berkata Abdulloh bin Mubarok: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain-rohimahulloh-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit drpd hadits walaupun banyak”.
(Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80).

Mengapa demikian ucapan para ‘Ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yg masuk kepada seseorang yg memiliki adab yg baik akan bermafaat baginya & kaum muslimin.

Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari-rohimahulloh-:
“Ilmu tanpa adab spt api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu spt jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Saya pernah menyampaikan ini di beberapa kesempatan pertemuan bahwa ilmu tanpa didahului adab, ia lemah, bagai orang buta dan bahkan percuma. Kepintaran yang diperolehnya justru menggelincirkan diri sendiri dan berdampak kerusakan kepada orang lain.

Bagi insan muslim, mukmin, muslih, muhsin.. akhlaq yang baik adalah wajib. Itulah kenapa rasul sawa mengisyaratkan “Qul khairan aw liyasmuth”, karena akhlaq ucapan yang baik didengarkan oleh seluruh manusia. Dan beginilah bagaimana cara berdakwah mendahulukan kebaikan menuju tahapan-tahapan kebenaran.

Mempelajari dan berakhlaq yang baik bahkan menurut ulama mendahului pentingnya berilmu itu sendiri. Rasulullaah shalallaahualayhi wasallaam telah mencontohkan, sebelum diutus menjadi rasul beliau terlebih dahulu meneladankan akhlaqul kariimah selama 40 tahun hingga beliau wafat.

Wallaahualam bishawab. (Tebet, A.H 10/10/2014)

Memberi dan Berbagi Arti

Setiap orang yang hadir dalam kehidupan, akan silih berganti datang dan pergi. Kita bisa memilih siapa yang akan menjadi teman sejati, siapa yang akan kita biarkan meninggalkan kehidupan kita dengan arti. Lihatlah, sebenarnya baik buruk adalah persepsi, sejatinya mereka mengajarkan hikmah manis pahitnya kehidupan. Seperti Allah mengisyaratkan bahwa hidup dan mati bagi mukmin itu sama saja. Yang terpenting bagiNya adalah Ia ingin mengetahui siapa diantara kita yang paling (sungguh-sungguh selalu) baik disetiap sikap. liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala…

Setiap insan adalah guru, ia mengajarkan hal yang berbeda kepada kita. Ketika kita meminta kesabaran dan kekuatan, Allah memberi kita ujian bertubi agar menjadikan kita tangguh. Ketika kita memohon kebijaksanaan, Allah memberikan segernap masalah untuk dipecahkan. Ketika kita memohon keberanian, Allah memberikan situasi berbahaya untuk diatasi. Ketika kita memohon sebuah cinta, Allah memberikan orang-orang bermasalah untuk dibantu.

Kita mungkin merasa tak pernah menerima apa yang kita pinta, tapi lebih dari itu, Ia faham betul apa yang kita butuhkan.

Wahai diri, sampaikan kepadaNya, kepada semua orang … betapa bersyukurnya engkau memiliki mereka, orang-orang terkasih, yang kau cintai tanpa syarat. Betapa indahnya hidup ini mengenal siapa saja yang menjalinmu atas nama kebaikan dan cinta. Allahu rahmaan, rahiim..

Kepada engkau yang mencintaiku.. Seperti lirik “So soon” yang dibawakan Maher Zain di bawah ini, entah mengapa bait-baitnya mengisyaratkan makna yang begitu mendalam bagi diri ini. Terasa begitu terlalu indah hidup ini untuk tidak berbagi. Terlalu indah hidup ini untuk tidak memberi arti. Terlalu indah hidup ini untuk tidak mengenang setiap insan yang pernah singgah dan pergi, apapun itu ia telah berjasa memberikan arti, yang membuat diri kita menghebat hingga kini. :)

Bagi sesiapa saja yang harus move on karena telah ditinggalkan, baik secara suka rela maupun terpaksa.. sampaikan lirik ini padanya .. tentu dengan lapis-lapis doa.

Bagi sesiapa saja yang orang terkasihnya masih dalam dekapan, berikan tanpa lelah yang terbaik untuknya. Dekaplah, dekaplah. Jangan sampai tersia. :)

(Tebet, A.H 08/10/2014)

“So Soon”

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around [x2]
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

bumi1

Mengindera Tuhan

Kita tentu pernah merasa kagum dengan sesuatu. Apakah itu seseorang karena kebesaran (ilmu dan kharismanya), atau kagum terhadap sesuatu yang besar seperti megahnya gedung pencakar langit, gunung-gunung yang megah menjulang, luasnya samudera membentang, atau tanpa batasnya langit menyelimuti pandangan. Sungguh ini adalah nikmat yang begitu besar, diizinkannya kita menikmati kebesarannya melalui tanda-tanda yang ada di sekitar kita.

Lalu, kita pun tertuju pada siapa yang menciptakan ini semua? Ya, tentu Ia-lah Allah, Al Akbar, Al Aziizul Jabbar, Al Mutakabbir. Sesuatu yang mampu kita indera telah mengagumkan kita. Besar, perkasa, kuat. Bagaimana dengan Tuhan? sanggupkah kita menginderanya?

Mari kita coba mengindera makhluk-makhlukNya dulu. Mencoba untuk metadabburi ayat-ayatNya, melalui segala kebesaran ciptaanNya.

Perbandingan Bumi dengan planet-planet terdekat seperti Merkurius, Venus, Mars & Pluto? (Silahkan dilihat gambar dibawah), ternyata Bumi masih LEBIH BESAR dibandingkan planet-planet tersebut.

bumi1Lalu bagaimana dengan planet setelahnya? Mari kita cek.

bumi2

Masya Allah, bumi kita yang besar ternyata masih kalah besar. Bagaimana dengan perbandingannya dg matahari?

bumi3

Masya Allah. Inilah galaksi Bima Sakti. Matahari sebagai bintang pusat sekaligus sumber energi di bumi dan tata surya kita.

Mari kita melihat menuju bintang lain.

bumi4bumi5Allaahu Akbar. Ini baru ciptaanNya. Butiran planet, bintang, matahari, galaksi yang berada di dalam lingkup langit yang hingga kini terus mengembang. Kekuatan seperti apa yang mampu mengatur seluruh alam ini kecuali Allah?

Sedikit tadabbur hadist yang pernah saya pelajari. Semasa Muhammad saw bermi’raj bersama Jibril menuju sidrotul muntaha, dalam riwayat shahih bukhari menyebutkan bahwa tidak ada aku (Muhammad saw) temui dalam setiap jarak 3 buah jari, kecuali di sana ada malaikat yang bertasbih dan bersujud mengagungkanNya. Masya Allah. Artinya bermilyar bintang betebaran di langit, disertai jumlah malaikat yang tak terhitung.

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haaqah: 17)

Lalu apakah ada yang lebih besar dari ini? ada! Mari kita lihat.

Dari Ibnu Masud radhiallahu anhu dia berkata,

بين السماء الدنيا والتي تليها خمسمائة عام وبين كل سماء خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة والكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي والماء  خمسمائة عام ، والعرش فوق الماء ، والله فوق العرش لا يخفى عليه شيء من أعمالكم (رواه ابن خزيمة في ” التوحيد ” )

“Antara langit dunia dengan langit berikutnya berjarak lima ratus tahun dan jarak antara masing-masing langit berjarak lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan Kursy berjarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara Kursy dengan air berjarak lima ratus tahun. Arasy berada di atas air, sedangkan Allah berada di atas Arasy. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya amal-amal kalian.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105, Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Qayim dalam ‘Ijtima Juyusy Islamiyah’, hal. 100 dan Az-Zahaby dalam ‘Al-Uluw’, hal. 64)

Dalam riwayat lain yang shahih, dijelaskan bahwa perbandingan antara langit pertama dengan langit ke dua adalah seperti sebuah koin yang dilempar di atas luasnya padang pasir. Bagaimana dengan langit ke tiga? adalah seperti langit pertama dan kedua dijadikan satu, seperti koin dilempar ke padang pasir. Begitulah seterusnya hingga langit ke tujuh. Seluruh langit dijadikan satu lalu seperti koin yang dilempar di atas hamparan pandang pasir jika dibandingkan dengan Kurys dan Air. Dan yang terbesar dan terluas dari semua ciptaan Allah adalah Arsy.

“{ وهو رب العرش العظيم }

“Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah: 119)

Maksudnya adalah bahwa Dia adalah pemilik segala sesuatu yang Penciptanya. Karena Dia pemilik Arasy yang agung yang menungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan dibumi serta apa yang terdapat di dalamnya dan di antara keduanya berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya terlaksana terhadap segala sesuatu, Dia adalah pelindung atas segala sesuatu.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 2/405)

Allah Ta’ala berfirman,

الذين يحملون العرش ومن حوله يسبحون بحمد ربهم ويستغفرون للذين آمنوا ربنا وسعت كل شيء رحمة وعلماً فاغفر للذين تابوا واتبعوا سبيلك وقهم عذاب الجحيم (سورة غافر: 7)

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Ghafir: 7)

Mereka adalah makhluk yang besar.

Dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

” أُذِن لي أن أحدِّث عن ملَك من ملائكة الله من حملة العرش ، إنَّ ما بين شحمة أذنه إلى عاتقه مسيرة سبعمائة عام ” (رواه أبو داود، رقم 4727 )

“Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun.” (HR. Abu Daud, no. 4727)

Hadits ini dinyatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar, sanadnya berdasarkan syarat yang shahih (Fathul Bari, 8/665)

Arasy di atas Kursy, bahkan di atas seluruh makhluk.

Ibnu Qayim rahimahullah berkata,

“Karena itu, ketika langit meliputi bumi, dia berada di atasnya. Ketika Kursy meliputi langit, maka dia berada di atasnya. Ketika Arasy meliputi Kursy, maka dia berada di atasnya.” (Ash-Shawaiqul Mursalah, 4/1308)

Dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas dalam firman Allah Ta’ala,

وسع كرسيه السموات والأرض

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” (Qs. Al Baqarah)

Dia berkata, “Kursy adalah tempat dua kaki, sedangkan Arasy tidak ada yang dapat memperkirakan ukurannya kecuali Allah Ta’ala.”

Mengindera ciptaanNya membuat kita semakin yakin bahwa Allah yang menguasai dan memiliki semua ini tiada yang menyamaiNya. inilah makna Allah Maha Besar (Akbar). Al Aziiz Al Jabbar, Al Mutakabbir. Sebagai mukmin, kita wajib mengimaninya. Mengidera Tuhan, ideralah ciptaanNya. Begitulah iman.

wallahu’alam bshwab.

Memang Begitulah Abu Al Hasan (Ali bin Abu Thalib)

Semua tahu, Ali Ra dan Muawiyah Ra terlibat perselisihan berkepanjangan. Perang Shiffin, Tahkim, dan sejumlah peristiwa lainnya menjadi saksi pilu gejolak hubungan keduanya.

Apapun alasan dan kondisi yang melatari perselisihan tersebut, Muawiyah tidak pernah berhenti mengagumi dan menaruh hormat sangat mendalam kepada sosok Ali bin Abu Thalib.

Beberapa saat setelah Ali syahid dibunuh Khawarij, Muawiyah kedatangan seorang tamu penting. Dia adalah Dhirar bin Dhamrah al-Kinani, salah seorang terdekat sekaligus pengikut setia Ali.

Sesaat kemudian Muawiyah berkata, “Jelaskan padaku, bagaimana sosok Ali menurutmu?!” Dhirar menjawab, “Kalau Amirul Mu’minin sudi, maafkan aku untuk tidak menjawabnya.” Muawiyah membalas singkat, “Tidak bisa!”

Dhirar berkata lirih, “Jika memang harus, maka baiklah, aku akan jelaskan, ‘Demi Allah, Ali adalah seorang yang berpandangan jauh, pendiriannya teguh, kata-katanya ringkas dan jelas, kebijakannya adil, ilmunya memancar dari sekujur tubuh, hikmahnya mengalir dari segala sisi.

Dia sangat menjaga jarak dari dunia dan keindahannya, tapi begitu merindukan malam dan kesunyiannya.

Demi Allah, derai air mata Ali kerap mengalir, pikirannya tenggelam dalam perenungan panjang. Ia selalu mengevaluasi diri dan berbicara dengan hatinya sendiri. Ia begitu suka berpakaian sederhana dan makan apa adanya.

Demi Allah, Ali selalu menempatkan dirinya sama seperti kami. Dia meminta kami duduk begitu dekat dengannya, apabila kami mengunjungi. Dia selalu menjawab, bila kami bertanya.

Akan tetapi, meski begitu dekat, kami jerih berbalas kata dengannya, karena wibawanya yang begitu hebat.

Senyuman Ali ibarat untaian mutiara yang indah tersusun. Dia sangat menghargai orang yang taat beragama dan begitu menyayangi orang-orang miskin. Orang kuat tidak dapat berharap akan kebatilannya. Sedang orang lemah tidak mungkin kehilangan harapan akan keadilannya.

Aku bersaksi atas nama Allah, aku pernah melihat langsung apa yang dilakukannya. Kala itu, malam sudah begitu larut dan bintang-bintang di langit pun hanya sesekali tampak berkedip.

Aku melihat sosok tubuh Ali bergerak ke kanan dan ke kiri di tempat shalatnya, sembari tangannya menggenggam janggut. Ia tampak terguncang seperti orang kesakitan karena  terkena sengatan binatang berbisa. Dia menangis tersedu-sedu selayaknya orang menahan pilu. Aku pun seakan-akan saat ini masih mendengar suaranya berucap, ‘Ya Rabb, ya Rabb…,’ ia mengadu kepada-Nya.

Selang beberapa saat kemudian, dia berkata, seolah-olah berdialog dengan dunia, ‘Wahai dunia, apakah engkau mau menipuku, atau engkau ingin aku jatuh dalam pelukanmu? Itu mustahil, itu mustahil. Goda saja orang lain, jangan aku, karena aku telah menceraikanmu dengan talak tiga. Dunia! Umurmu terlalu pendek, keindahanmu terlalu hina, dan kebesaranmu terlalu rendah. Ah, betapa sedikitnya bekal yang kumiliki, padahal perjalananku begitu jauh dan jalan pun teramat terjal.'”

Mendengar penjelasan Dhirar yang begitu mengharu biru, Muawiyah pun tak kuasa menahan emosi. Ia menangis sangat hebat, hingga air matanya bercucuran membasahi janggutnya. Muawiyah terus berusaha menyeka air matanya dengan ujung kainnya sendiri, lalu berkata:

“Memang begitulah Abu al-Hasan (Ali), semoga Allah mengasihinya. “

Muawiyah lalu berkata lagi kepada Dhirar, “Lantas, seperti apa perasaanmu kepadanya saat ini, wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab lirih, “Seperti perasaan seorang ibu yang menyaksikan anak semata wayangnya dibunuh di atas pangkuannya sendiri. Air matanya tidak mungkin berhenti mengalir dan kesedihannya pun tak akan pernah pupus.”

(Ibn Qudamah, ar-Riqqah wa al-Buka’, 197-198)

Siroh Club Indonesia

safe_image

Akar UIN yang Terlupakan

Siapa sangka, awal berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) -sekarang UIN- di Indonesia, tak lepas darigentlement agreement (perjanjian luhur) bangsa ini yang dinamakan Piagam Jakarta. Pada tahun 1960, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.11 tentang pembentukan IAIN yang dalam Perpres ini tercantum pertimbangan pertamanya sebagai berikut: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut, untuk memperbaiki dan memadjukan pendidikan tenaga ahli agama Islam guna keperluan Pemerintah dan masjarakat dipandang perlu untuk mengadakan  Institut Agama Islam Negeri.” [1]

Seperti diketahui, bunyi Piagam Jakarta kita sebagai berikut:

“Pembukaan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa , dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannnya. Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk  memajukan kesejahteran umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.”[2]

Menurut Perpres 11/1960, IAIN adalah merupakan penggabungan antara Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (Jogjakarta) No.34 tahun 1950, dengan Akademi Dinas Ilmu agama (ADIA), yang dibentuk atas Penetapan Menteri Agama No.1 tahun 1957.

Tujuan pembentukan IAIN sendiri disebutkan dalam pasal 2, Perpres 11/1960 yaitu “IAIN tersebut bermaksud untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam.

Dalam Perpres ini juga dijelaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang mayoritas muslim sangat penting menerima pendidikan agama Islam. Sebab bagi Indonesia, Islam selain sebagai agama, juga “merupakan dan sudah meluluh  adat-istiadat jang meresapi segala aspek hidup dan kehidupannja. Dengan demikian mempertinggi taraf pendidikan dalam lapangan  Agama dan Ilmu pengetahuan Islam adalah berarti mempertinggi taraf kehidupan bangsa Indonesia dalam lapangan kerochanian (spirituil) dan ataupun dalam taraf intellektualismenja.”

Hingga pada tanggal 2 Rabi’ul Awal 1380 H bertepatan dengan 24 Agustus 1960, Menteri Agama K.H. Wahib Wahab meresmikan pembukaan IAIN “al-Djami’ah al-Islamijah al Hukumijah di sebuah tempat yang dahulu menjadi ibukota negara ini dan dijuluki Kota Universitas, yaitu Yogyakarta.

Dalam acara peringatan sewindu IAIN pada tahun 1968. K.H. M.Dachlan, Menteri Agama  yang juga Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kala itu, memberikan pidatonya yang begitu menggugah dan mencerahkan. K.H. M.Dachlan katakan:

“Institut Agama Islam Negeri  pada permulaannja merupakan suatu tjita-tjita jang selalu bergelora di dalam djiwa para Pemimpin Islam jang didorong oleh hadjat-kebutuhan terhadap adanja sebuah Perguruan Tinggi jang dapat memelihara dan mengemban adjaran2  Sjariat Islam dalam tjorak dan bentukjna jang sutji murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian jang mendalam tentang hukum-hukum Islam sebagaimana jang dikehendaki oleh Allah Jang Maha Pengasih dan Penjajang . ”

K.H. M.Dachlan juga menyebutkan tujuan lain IAIN adalah untuk membasmi tahayul dan khurafat yang telah ditimbulkan oleh kelalaian kita akan ajaran Allah dan kurangnya pengertian generasi kita terhadap tujuan Islam yang suci murni.

Lebih dari itu, K.H. M.Dachlan menegaskan pentingnya memelihara semangat untuk melawan penjajahan dalam dunia pendidikan.

“Di dalam rapat2 sering kami djelaskan, bahwa di masa pendjadjahan kita telah berhidjrah (non Cooperation/tidak kerdja sama) dengan pendjadjah, akibat sikap yang demikian itu kita tidak menjekolahkan anak2 kita di dalam Sekolah2  jang diadakan oleh Kaum Pendjadjah. Sebaliknja anak-anak kita semuanja beladjar dan mendapatkan pendidikan di Sekolah2 Agama (Madrasah2 dan Pesantren jang kita adakan sendiri) karena kita mendjaga djangan sampai anak2 kita keratjunan dengan pendidikan/peladjaran yang diberikan oleh pendjadjah dimasa itu, dimana anak2 ditjiptakan untuk menjadi hamba2 pendjadjah untuk menjadi orang-orang jang membantu pendjadjah di dalam usahanja  memprodusir manusia2 robot untuk kepentingan mereka,” kata K.H. M.Dachlan.

Mengapa institut ini diikuti nama ‘Islam’? kata K.H. M.Dachlan:

“Nama Islam jang dihubungkan dengan Institut ini, djuga merupakan suatu manifestasi tentang adanja suatu ikatan jang kokoh kuat dan jang telah berakar-berurat didalam djiwa kita semuanja, jaitu dalam hubungan seorang Muslim dengan sesama saudaranja, jang tak dapat dipisahkan karena berlainan darah, berlainan bahasa, berlainan warna, berlainan tanah air (Negara) dan sebagainja, hal mana telah mengikat kesatuan Ummat Islam satu dengan lainnja, sehingga Agama, kehormatan dan harakat-martabat Ummat Islam terlindung oleh ikatan jang teguh kuat itu, jang menjebabkan orang2 dan penguasa tyrani dimasa lampau tak berani menjentuh badan djasmani kita dengan suatu siksaan atau pukulan, karena kita telah menjadi satu badan, bilamana suatu anggota tubuh badan itu ditjubit orang, maka seluruh badan tersebut akan merasakan pedih dan sakitnja.”

Dalam kesempatan itu, K.H. M.Dachlan  membeberkan tantangan dan rintangan yang berat dalam upaya mendirikan IAIN yang menurutnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak menghendaki kemajuan Islam. Oleh karena itu, K.H. M.Dachlan mengingatkan bahwa sejak awal dilahirkan, IAIN senantiasa berusaha dan bekerja keras untuk mengisi otak dan jiwa angkatan muda dengan mental Islam dan membeberkan kepada mereka sejarah Islam yang sebenarnya, karena generasi muda telah melalaikan atau belum mengetahuinya.[3]

Begitu berkobar-kobar tokoh Islam memperjuangkan agamanya dalam pembentukan IAIN ini. Begitu besar harapan mereka kepada generasi muda agar kelak menjadi cendekiawan dan ulama yang tinggi ilmu dan kuat mental Islamnya.

Tapi kini apa yang terjadi di IAIN/UIN? Mengejutkan! Pada tanggal 27 September 2004 di Fakultas Ushuluddin IAIN Bandung diadakan acara ta’aruf mahasiswa baru. Sejak mahasiswa baru memasuki ruangan fakultas ini dan menaiki panggung, seorang mahasiswa yang menjadi pembawa acara untuk fakultas itu menyambut dengan perkataan “Selamat bergabung di area bebas tuhan.”

Tak kalah heboh saat jurusan sosiologi agama menyambut juniornya. “Mahasiswa sosiologi agama adalah insan kreatif inovatif yang sosialis demokratis. Beri kesempatan kepada teman-teman kami yang senantiasa mencari tuhan,” kata ketua himpunan jurusan sosiologi agama. Pernyataan lainnya keluar dari mulut salah satu di antara mereka. “Kami tidak ingin punya tuhan yang takut dengan akal manusia,” katanya.

Yang lebih menyeramkan, pernyataan dari seorang mahasiswa jurusan aqidah filsafat. “Kita berdzikir bersama anjing hu akbar,” teriaknya lantang sambil mengepalkan tangan.

Lain halnya dengan Sumanto Al-Qurtuby ketika menjadi mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang.  Sumanto  pernah memimpin sebuah jurnal bernama Justisia yang terbit atas izin pimpinan Fakultas. Pada tahun 2004, jurnal ini menulis sebuah cover story dengan judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dalam pengantar judul ini dikatakan bahwa hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.

Baru ini, spanduk bertuliskan “Tuhan Membusuk; Rekonstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan”menyambut mahasiswa baru saat Ospek Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kita bertanya-tanya sambil menggelengkan kepala dan mengelus dada, mengapa kampus yang menyandang nama ‘Islam’ ini justru membiarkan pemikiran yang menyimpang bahkan melecehkan Islam malah berkembang?

Ternyata dulu IAIN diusahakan menjadi pusat studi Islam yang unggul dan bertaraf internasional. Salah satu usaha itu dilakukan oleh Prof. Harun Nasution. Tidak ada yang salah sampai sini. Namun sayangnya usaha Harun tidak sesuai dengan cita-cita awal IAIN ini didirikan. Upaya Prof. Harun Nasution tertangkap dalam bukunya, yang berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” disingkat IDBA dan mengubah kurikulum IAIN.

Buku IDBA ini oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi  dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia. Setelah buku itu dicetak, muncul kritik yang tajam dari seorang Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, Prof. Dr. M. Rasjidi.

Pada tanggal 3 Desember 1975, Rasjidi menuliskan laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Departemen Agama (Depag). Rasjidi bercerita:

“Mula-mula saya tidak mau melakukan koreksi tersebut di muka umum. Pada tanggal 3 Desember 1975, saya menuliskan laporan rahasia kepada  Saudara Menteri Agama dan beberapa orang staf eselon tertinggi di Kementrian Agama.  Laporan rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik pasal demi pasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi  dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

Laporan Rasjidi tidak digubris sama sekali oleh Departemen Agama (Depag). Menurutnya ada dua kemungkinan sikap Depag ini: (a) Pihak Departemen Agama, Khususnya Diperta, setuju dengan isi buku tersebut dan ingin mencetak sarjana IAIN menurut konsepsi Dr. Harun Nasution tentang Islam. (b) Pihak-pihak tersebut di atas tidak mampu menilai buku tersebut dan bahayanya bagi eksistensi Islam di Indonesia serta umatnya. “Kedua kemungkinan di atas tidak memberi harapan yang baik,” katanya.  Apa mau dikata, penguasa ikut mempengaruhi dan menentukan.

Selama satu tahun lebih, surat Rasjidi tidak mendapat tanggapan Depag. Akhirnya Rasjidi meyampaikan kritiknya terhadap buku Harun tersebut dengan menulis sebuah buku yang berjudul “Koreksi terhadap Dr.Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.”

 “Tulisan ini akan membuka cakrawala baru bagi cara berpikir umat Islam Indonesia dalam menghadapi aliran-aliran dan ideoogi-ideologi yang bermacam-macam yang serentak kita hadapi semuanya,”  harapannya.[4]

Bila Rasjidi bersikap sangat kritis terhadap pemikiran orientalis[5], lain halnya dengan Harun. Harun mengakui bahwa dirinya mengerti Islam dari orientalis. Harun bercerita:

“Sewaktu di Belgia setiap ada uang, aku pergi ke toko buku. Mencari buku-buku Islam. Aku membeli, lalu kubaca. Aku tahu di Belanda banyak buku mengenai Islam. Karena Belanda dekat, aku pun pergi kesana. Kebetulan ada temanku di Kedutaan Indonesia di Den Hagg. Dia yang membawaku ke toko buku. Aku mencari buku-buku mengenai Islam. Banyak buku Islam yang ditulis oleh orang orientalis. Itu kubaca dan baru aku mengerti Oh ini Islam.

Aku semakin tertarik. Aku membaca buku-buku itu dan mempelajarinya. Kemudian aku mencari majalah-majalah berbahasa Inggris, yang dikarang oleh Islam. Yang kudapatkan adalah surat-surat kabar Ahmadiyah terbitan London. Nah, disana aku menemukan Islam yang rasional. Di situ aku mulai tertarik sama Islam.”

Harun juga merasa tidak puas dengan pendidikan Islam di tempatnya dulu menuntut ilmu di Mesir. Harun justru mengaku benar-benar puas belajar Islam di Mc. Gill University.[6]

“Di situlah aku betul-betul puas belajar Islam. Aku mendapat beasiswa selama beberapa tahun. Di sana juga aku memperoleh pandangan Islam yang luas. Bukan Islam yang diajarkan di Al-Azhar Mesir. Di Mc. Gill aku punya kesempatan baik secara ekonomi maupun waktu. Aku mebeli buku-buku modern, karangan orang Pakistan atau orang orientalis. Baik dalam bahasa Inggris, Prancis, atau Belanda. Di sana liberal. Bebas. Jadi, mudah mencarinya.

Di sana baru kulihat Islam bercorak nasional. Bukan Islam irasional seperti didapatkan di Indonesia, Mekah, dan Al-Azhar. Aku bisa mengerti kalau orang berpendidikan Barat mengenal Islam dengan baik melalui buku-buku karangan orientalis. Bisa kumengerti mengapa orang tertarik Islam karena karangan orientalis.

Aku memang tidak tertarik dengan karangan orang Islam sendiri. Kecuali yang modern seperti Ahmad Amin. Tapi bagaimana intelektual kita? Mana bisa membaca serupa buku-buku dari Inggris, Pakistan, India, dan sebagainya? Karangan dari Indonesia tak ada yang menarik… Di Mc Gill itulah aku sadar: pengajaran Islam di dalam dan di luar Islam berbeda betul. Kuliah dengan dialog. Semua mata kuliah diseminarkan. Aku benar-benar merasakan manfaatnya. Aku tak hanya menerima pelajaran, tetapi terlibat untuk mengerti.  Di situlah aku baru mengerti Islam ditinjau dari berbagai aspeknya.”[7]

Proyek Harun mendapat dukungan dari Menteri Agama, Mukti Ali yang juga lulusan Mc.Gill University. Harun lebih leluasa menerapkan ide-idenya setelah dikokohkan sebagai rektor IAIN Jakarta. Kata Harun:

“Langkah pertama kami di IAIN adalah mengubah kurikulum. Kami para rektor IAIN mengadakan pertemuan di Ciumbuleuit. Pengantar Ilmu Agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, metodologi riset kita masukkan pula.

Semula usulku untuk mengadakan pembaharuan kurikulum ditolak para rektor tua. Oleh H.Isma’il Ya’kub, oleh K.H. Bafaddal. Tapi dalam perkembangan selanjutnya aku didukung oleh kalangan atas seperti Mulyanto Sumardi ketika menjadi Direktur Jenderal Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama. Juga Zarkawi Suyuti sebagai sekretaris Dirjen Bimas Islam.”[8] 

Begitulah Harun Nasution yang silau dengan orientalis. Pantas saja Rasjidi ingin memakaikan kaca mata Islam ke Harun. Rasjidi mengoreksi buku IDBA dari banyak aspek diantaranya tentang agama dan pengertian agama dalam berbagai bentuknya, kemudian Islam dalam pengertian yang sebenarnya, lalu soal ibadat, latihan spirituil dan ajaran moral, sejarah dan kebudayaan, politik, lembaga kemasyarakatan, hukum, teologi, filsafat, mistisme, dan pembaharuan dalam Islam. Ini menunjukkan bahwa buku IDBA memiliki banyak kekeliruan.

Dari semua aspek yang ada, menurut Rasjidi, yang sangat negatif dari buku IDBA adalah aspek filsafat. Harun membicarakan filsafat Al-Razi, orang yang hidup sebelum zaman Al-Ghazali sehingga filsafatnya termasuk dikritik oleh Al-Ghazali. Kata Harun dalam bukunya di halaman 69:

“Al-Razi seorang rasionalis, yang hanya percaya pada akal dan tidak percaya pada wahyu. Menurut keyakinannya, akal manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu, Nabi dan Rasul tidak perlu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua agama ia kritik. Al-Qur’an baik dalam bahasa maupun isinya bukanlah mu’jizat.”[9] 

Aspek lainnya dalam buku IDBA yang negatif adalah masalah keaslian hadits dan agama monoteisme[10]. Kata Harun dalam bukunya, jilid 1 halaman 29 sebagai berikut:

“Karena hadits tidak dihafal dan dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadits yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadits yang dibuat-buat… Tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinilan semua hadits dari Nabi.”

Menurut Rasjidi, keterangan Prof.Harun Nasution tersebut sudah cukup untuk memasukkan rasa goyah dalam keimanan generasi muda kita, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh kaum orientalis yang tidak suka Islam menjadi kuat.

“Sunnah Nabi atau hadits begitu penting dalam Islam. Al-Qur’an penting karena ia adalah wahyu dan barang siapa yang membacanya dengan mengerti bahasa dan maknanya, ia akan hidup dalam suasana kerohanian yang tinggi… Tetapi, orang yang tidak suka kepada Islam mencoba untuk menyerang sumber kedua, yakni al-sunnah, karena jika didiskreditkan, maka akan kuranglah sumber kekuatan Islam. Cara mendiskreditkan hadits adalah pertama menunjukkan bahwa ada kemungkinan hadits itu dibuat-buat atau dipalsukan dan memang hal itu terjadi, khususnya ketika terjadi sengketa politik dan perebutan kekuasaan,” terang Rasjidi, seorang lulusan Sorbonne.[11]

Kemudian tentang agama monoteisme, Harun mengatakan dalam bukunya di halaman 19: “Agama monoteisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu.” Dan di halaman 22: “Monoteisme Kristen dengan paham Trinitas dan monoteisme Hindu dengan paham politeisme[12] yang banyak terdapat di dalamnya, tidak dapat dikatakan monoteisme murni.”

Pernyataan tersebut ditentang oleh Rasjidi. Kata Rasjidi:

 “Kata-kata tersebut di atas adalah kata-kata lidah yang tidak bertulang, yang tersirat di dalamnya adalah bahwa semua agama itu sama, sedikitnya bagi bangsa Indonesia. Agama Kristen diberi penjelasan Protestan dan Katolik. Padahal di samping Protestan dan Katolik ada lagi kelompok besar, lebih besar dari Protestan, yaitu kelompok ortodoks yang terdapat di Rusia, Eropa Timur, Asia Barat, dan Abbyssinia. Agama Hindu yang merupakan agama alamiah disejajarkan dengan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dan ini sama sekali tak dapat diterima oleh orang Islam.

Kemudian Dr. Harun Nasution mengakui bahwa Kristen dengan Trinitasnya dan Hindu dengan politeismenya tidak dapat dikatakan monoteisme murni. Jadi soalnya dijadikan begitu ringan, bukan prinsip monoteisme atau bukan monoteisme, tetapi monoteisme murni atau monoteisme tidak murni. Semuanya monoteisme dan semuanya agama.

Uraian Dr. Harun Nasution yang berselubung uraian ilmiah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya; jika soalnya agar terdapat jiwa toleransi di antara bangsa Indonesia, maka Islam sudah lengkap dengan toleransinya yang diakui oleh sarjana-sarjana Barat sendiri. Tetapi janganlah menyamaratakan segala agama dan mengatakan segala agama itu sama, seperti yang sering kita dengar dari orang-orang yang tak pernah menyelidiki agama.”[13]

Akan tetapi kritik-kritik Rasjidi atas seperti itu tidak diperhatikan oleh petinggi Depag dan IAIN. Akibatnya selama 33 tahun, buku IDBA masih dijadikan sebagai buku pegangan dalam mata kuliah pengantar studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal kesalahannya begitu nyata dan fatal.

Setelah 40 tahun berlalu, peringatan Rasjidi tentang metode orientalis yang dapat mencetak ‘sarjana ragu-ragu’ terhadap Islam telah menjadi kenyataan. Harun bagaikan menabur angin pemikiran orientalis yang kini menjadi badai liberalisasi yang memporak-porandakan arena studi Islam di Indonesia. Akibatnya tidak sedikit sarjananya yang aktif mengkampanyekan keraguan dan penghancuran terhadap Islam.

Menurut peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS),  Dr.Adian Husaini, Harun Nasution ini ibarat orang yang telah membuka pintu, kemudian berjubellah para mahasiswa atau doktor, dan guru besar dalam studi Islam yang berlomba-lomba menjadi ekstrem dalam menyerang dan meragukan kebenaran Islam, jauh lebih ekstrem daripada Harun Nasution sendiri.[14]

Sementara dosen pascasarjana UIN Gunung Djati Bandung, Dr. Daud Rasyid menilai Harun sebagai induk dari segala pemikiran sekular dan liberal di Indonesia.[15]

Bahkan buku berjudul “IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia” yang diterbitkan atas kerjasama Canadian Internasional Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama mengakui sendiri bahwa Harun berusaha meliberalkan IAIN.

Seperti diceritakan dalam buku tersebut, ketika Harun menjadi direktur pascasarjana UIN Jakarta, liberalisasi Islam dimulai dari pascasarjana UIN Jakarta, kemudian dikembangkan ke perguruan tinggi umum melalui dosen-dosen agama yang diberi kesempatan untuk mengambil S2 dan S3 di IAIN Jakarta. “Dosen-dosen mata kuliah agama di perguruan tinggi umum  dipersilakan mengambil program S2 dan S3 di IAIN Jakarta, dimana Harun Nasution sebagai direktur. Dari sinilah kemudian paham Islam rasional dan liberal yang dikembangkan Harun Nasution mulai berkembang juga di lingkungan perguruan tinggi umum.”[16] Maka jangan heran bila guru agama di peguruan tinggi umum saat ini berpikiran liberal.

Oleh karena itu, maka ide Rasjidi yang dilemparkan ke tong sampah Depag, mari kita pungut. Mari kembalikan UIN sesuai cita-cita awalnya dulu yaitu Perguruan Tinggi jang dapat memelihara dan mengemban adjaran2 Sjariat Islam dalam tjorak dan bentukjna jang sutji murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian jang mendalam tentang hukum-hukum Islam sebagaimana jang dikehendaki oleh Allah Jang Maha Pengasih dan Penjajang. Dan kita sebagai generasi muda, seperti dinasihatkan oleh Tokoh Muhammadiyah Buya Hamka, harus tegak menantang dan membendung propaganda paham materialisme dan segala isme-isme (paham) baru yang diimpor dari Barat untuk menyebarkan rasa keragu-raguan atau melemahkan dalam Islam. [17] Wallahu a’lam.

Oleh : Andi Ryansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

[1] Dikutip oleh Adian Husaini, IAIN DULU DAN SEKARANG, Jurnal Islamia Vol.III. No.3, 2008, hlm. 54 dari BukuSewindu Institut Agama Islam Negeri Al-Djami’ah Al-Islamijah Al Hukumijah “Sunan Kalidjaga” Jogjakarta 1960-1968, Yogyakarta:IAIN Sunan Kalidjaga, 1968

[2] Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan Sejarah Konsensus Nasional antara Nasionalis Islami dan Nasionalis “Sekular” tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1945-1959, Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 27

[3] Dikutip oleh Adian Husaini, Ibid, hlm. 54-56 dari Buku Sewindu Institut Agama Islam Negeri Al-Djami’ah Al-Islamijah Al Hukumijah “Sunan Kalidjaga” Jogjakarta 1960-1968, Yogyakarta:IAIN Sunan Kalidjaga, 1968

[4] Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Depok:Kalam Ilmu Indonesia, 1434, hlm. 17-18

[5] Orang-orang Barat yang mengkaji Islam.

[6] Universitas yang didirikan oleh Wilfred Cantwell Smith, seorang Presbyterian yakni seorang Kristen penganut tokoh reformis John Calvin (1509-64).

[7] Dikutip oleh Adian Husaini, hlm.58-59 dari Buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam:70 Tahun Harun Nasution, Jakarta:LSAF, 1989, hlm. 34 

[8] Dikutip oleh Adian Husaini hlm.59 dari Buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam:70 Tahun Harun Nasution, Jakarta:LSAF, 1989, hlm. 41-50

[9] Rasjidi hlm. 144-145

[10] Ajaran agama yang mempercayai adanya satu Tuhan

[11] Rasjidi hlm. 39-40

[12] Ajaran agama yang mempercayai adanya lebih dari satu Tuhan

[13] Rasjidi, Ibid, hlm. 28-29

[14] Adian Husaini, Ibid, hlm. 62

[15] Prolog dalam Rasjidi, Ibid, hlm. 7

[16] Adian Husaini, Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012, hlm. 208

[17] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang Agama, Sosial-Budaya, Politik, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 141

Petani – Guru

Anak saya bisa-bisanya nyeletuk, “kok petani itu tua-tua, ya, Pak?”. Mungkin karena dia memperhatikan usiatetangga-tetangganya yang jadipetani. Kalau masih muda, biasanya bukan petani. Entah buruh seperti bapaknya, entah pedagang seperti pamannya, entah profesi yang lain.

Saya penasaran, apa yang dipikirkannya. “Emang kenapa, Zu?””sawahnya luasss, kalau sudah tua, bukannya capek? Nanti kalau meninggal, siapa yang menanam padi?”Kekhawatiran yang beralasan. Mungkin karena Zuhdi kadang mencuri dengar pembicaraan Bapaknya.

Sebelumnya, saya memang sempat bergosip dengan tetangga yang umumnya berprofesi petani. Mereka mengeluh. Sulit sekali mencari tenaga tani sekarang. Untuk buruh tanam, tinggal ada satu grup berisi lima orang nenek. Utuk grup membajak, cuma ada dua orang kakek. Kalau mereka semua sudah kundur kepada Gustinya, apa masih ada yang dinamakan petani?

Beginilah akibatnya bila sebuah profesi semata-mata dikaitkan dengan rejeki. Ada atau tidaknya orang yang memilih profesi tersebut, ditentukan oleh banyak tidaknya pundi-pundi. Buruh tani adalah salah satu contohnya. Berapa sih yang diterima buruh tani? Sedikiiiit! Sehari paling 10 ribu plus beberapa bungkus supermie sebagai upah. Masa tanamnya setiap 3 sampai 4 bulan. Dalam periode itu, tidak setiap hari mereka dikontrak. Untuk jaman ini, uang sebesar itu bisa buat apa?

Dengan kondisi begitu, profesi petani saya golongkan dalam profesi yang terancam punah dan harus dilindungi.

Nah, bagaimana dengan profesi guru? Bila paradigmanya masih sekitar pundi-pundi, beberapa tahun lagi, profesi ini pun akan punah. “Sekarang masih banyak, kok. Itu masih pada ngantri…”. Menurut opini saya, ini cuma karena masih banyak saudara kita yang belum sejahtera. Untuk umat yang begini, dalam paradigma penghasilan semata, profesi guru masih berada dalam status “jauh lebih baik dari pada tidak berprofesi”. Tunggu saja beberapa tahun lagi. “Yen ana rejaning jaman”, saat bangsa ini sudah makmur, bila profesi ini masih dipandang sebagai sumber pendapatan, insyaAllohakan punah. Karena memang secara alamiah, profesi ini bukan profesi untuk hidup. Seperti kata Bapak Pendidikan,”diurip-urip, dudu dianggo urip”(-dihidupkan, bukan untuk hidup), ini adalah profesi penuh pengorbanan.

Dalam kasus petani, solusinya cukup sederhana. Tingkatkanlah kesejahteraan petani. Secara alamiah, orang akan berbondong-bondong menjadi petani. Selesai. Caranya bagaimana… bukan pokok bahasan cerita ini.

Namun dalam kasus guru, tidak bisa semudah itu. Meningkatkan kesejahteraan guru hanya secara finansial tidak lantas menghidupkan ghirah per-guru-an. Apalagi bilacaranya dilakukan dengan pelecehan seperti TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU. Yang akan semakin besar dengan cara itu adalah semangat berprofesi sebagai guru.

Apa bedanya? Sejak dahulu kala, orang-orang yang berkhidmat sebagai pengajar, yang mengabdikan diri untuk ilmu, tidak pernah berasal dari golongan yang silau terhadap harta. Masih ada pemeo dalam golongan santri bahwa mereka belajar supaya bisa mengajar.

Dalam kondisi ekstreem, masih lestari tradisi di kalangan mereka bahwa bila mengajar, tidak boleh dibayar. Dengan premis ini, meningkatkan pendapatan guru sebagai satu-satunya instrumen kesejahteraan, tidak akan menyelesaikan masalah per-guruan-secara berkelanjutan. Pada satu generasi, mungkin bisa menjadi obat. Tapi generasi berikutnya, profesi ini akan diisi oleh gelombang guru yang memilih profesi ini sebagai sumber penghidupan. Apa tidak boleh? Boleh, kok. Tapi dijamin, pelakunya akan kecewa. Sebab profesi ini adalah profesi yang sangat jauh dari sejahtera dan glamour sebesar apapun gajinya. Kalau toh para pelakunya tampak bahagia, sejahtera, dan kaya, itu karena mereka, para guru, sudah sejiwa dengan profesinya. Gaji yang diterima, berapapun nilainya, dicukupkan dengan syukur. Karenanya, berkah langit turun dengan derasnya. Kami sejahtera dalam kekurangan karena belas kasih Ilahi.

Tapi bila dinilai dengan gaji semata, dibandingkan dengan teman-teman kami seangkatan, yang dulu saat kuliah nilainya setara, tentu akan berbeda bagai bumi dan langit. Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang akhir-akhir ini sedang berusaha mendaftar sebagai dosen PNS.

Bersiaplah untuk kecewa bila yang anda cari dari profesi guru itu cuma sekedar pendapatan. Sebab gaji kami ini tidak seberapa. Kalau ingin kaya, pergilah ke dunia swasta atau setidaknya pegawai BUMN. Kalau anda cari santai, jadi petani saja.

Tidak ada ceritanya jadi dosen itu santai. Kami ini mirip dokter. Tidak punya waktu libur bahkan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar.

Bila yang anda cari adalah berhidmat untuk pengetahuan maka gaji, tunjangan, pangkat itu cuma semat yang tidak penting. Sebab bos anda, pemerintah, tidak pernah peduli dengan hal itu.

Kami, para guru cuma dipandang sebagai angka nun jauh di atas sana oleh para executive dan legistative. Naik pangkat anda akan sulit sehebat apapun anda kecuali anda masuk dunia politik.

Status “Dadi masinis wae po, Yo? Kata Pak Jonan, “Gaji Masinis Sekarang Bisa Rp 13 Juta, Penjaga Pintu Rp 6,5 Juta”. Ora usah kuliah S2 apa maneh S3. Punya hari libur. Pulang kerja langsung tidur. Dosen, S3, Golongan IIIB paling 6 juta sebulan termasuk sertifikasi. Tidak punya libur, pulang masih lembur. Naik Pangkat sulit tak Teratur.Dadi Masinis wae po, yo? Dadi Masinis wae po, yo?” adalah sindiran satiris terhadap kondisiini.

Semoga yang memang sudah mantap melamar menjadi dosen PNS dengan niyat berhidmat untuk ilmulah yang diterima. Salam menjadi guru :D

Oleh: Dosen Jteti Ft Ugm – dari group Madrasah Peradaban.

gaza

Kami Bersumpah Tak Akan Meninggalkanmu Selamanya

Sungguh keterlaluan, jika situasi yang sedang riuh di piala dunia dan riuhnya pemilihan presiden di Indonesia telah mengaburkan dan melalaikan kita dari kepedulian kita terhadap apa yang sedang terjadi di Gaza!pildun

Selain Gaza, Suriah pun kembali bersimbah darah. Didapatkan kabar bahwa Basyar Assad kembali melakukan serangan pada 8 Juli lalu yang menewaskan 22 orang muslim dan mengakibatkan puluhan lainnya luka luka. Korban sipil Suriah sejak konflik tahun 2011 mencapai 150 ribu jiwa lebih. Jutaan mengungsi ke Negara-negara tetangga. Saya sendiri sudah bertemu dengan para pengungsi Suriah di Istanbul akhir Juni lalu. Mereka tegar, mereka tetap mampu menghadiahkan senyuman kepada kita yang datang kepada mereka. Allaah…

Suriah adalah bagian dari Syam negeri, yang dirahmati oleh Allah. Negeri Syam di mana dalam nash syariah akan menjadi tempat peperangan akhir zaman antara yang haq melawan kebatilan. Syam, adalah titik pusat keimanan muslim dunia. Negeri di mana para pesuruh Allah, orang terbaik setiap zaman masa lalu pernah diutus, dan hingga akhir zaman akan selalu menjadi indikator ummat terbaik. Negeri Syam.

Bukti lain, Syam sebagai indicator ummat terbaik setiap zaman.

Sebagai seorang pemuda, muslim.. setidaknya ukuran ini terbukti nyata di hadapan saya. Di Istanbul akhir Juni lalu saya temui seorang pemuda usia 29 tahun. Namanya Yasser. Aktifis anticoup bersama sejumlah kawan-kawannya yang kini diblack list oleh pemerintahan Al Sisi dari Mesir. Yasser dkk tak bisa pulang ke negerinya sendiri, terusir. Tapi jiwanya benar-benar merdeka, kualitas pemuda ini pun sangat luar biasa. Menguasai lebih dari 4 bahasa, retorika dan pidato yang memukau, menggerakkan jiwa-jiwa yang lain untuk bangkit. Dan yang lebih hebat lagi, ketika menjadi imam shalat jamaah suaranya indah sekali, masya Allah.

Rata-rata pemuda timur tengah, Syam telah menyelesaikan hafalan qurannya. Bagaimana dengan mayoritas pemuda di Indonesia? Malu rasanya. Inilah salah satu fakta indikator ummat terbaik selalu dinisbatkan pada bumi syam.

Sungguh, kitalah yang berhutang budi terhadap mereka. Syam, Suriah, Palestina. Rakyat Palestina. Karena mereka telah mewakili kita (umat islam seluruh dunia) menjaga dan bertahan di tanah waqaf ummat Islam, masjid suci al aqsa.

Kita teriak menangis dan kasihan kepada rakyat Gaza, iya itu sudah benar. Tapi sesungguhnya kitalah yang patut dikasihani. Mereka berdiri tegak, terusir, jatuh bersimbah darah demi menjadi membela tanah suci Al Aqsa, bagaimana dengan kita di Indonesia yang masih sibuk bahkan rebut sendiri sesama saudara kita hanya karena berbeda pendapat tentang demokrasi dan pemilihan presiden! Miris!

Untukmu Syam, Suriah, Gaza, dan seluruh saudara kami yang terdzalimi… Maafkan kami yang masih lemah. Maafkan kami yang masih sibuk dengan fitnah syubhat dan syahwat di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini. Tapi.. kami bersumpah demi Allah.. tak akan meninggalkanmu, tak akan membiarkan mu sendiri selamanya!

Mari berikan yang terbaik semampu kita, untuk saudara-saudara kita di sana. gaza-gaza

kami-ingin-bangkit

Jangan Menghalangi Kami Bangkit

Setelah Musa yang hafidz 30 Juz di usia 5,5 tahun, bangsa ini telah melahirkan anak yang luar biasa lagi yaitu Syeikh Rasyid, di usia 6 bulan sudah berucap Allah, dan di usianya yg masih kecil ini sudah bisa bahasa arab sendiri, tanpa ada yang mengajari. cek -> https://www.youtube.com/watch?v=Txf30h4zgvI

Allaahummarhamna bil quran 3x..

Melihat Indonesia, ini adalah pertanda baik. Setelah menjamurnya ODOJ, berbondong-bondong kegiatan menghafal quran menjadi trend. Tempat kajian islam semakin dilirik para anak muda dan bertadabbur quran pun telah menjadi gaya hidup.

Ada hal lain yang tak kalah menarik dalam perkembangan peradaban negeri ini. Tentang Indonesia.

Memahami sejarah bangsa ini ternyata menjadi sebuah keniscayaan. Saya benar-benar merasa tertipu dengan pelajaran sejarah selama ini di bangku sekolah. Tapi sekaligus berterima kasih karena dengan begitu saya bisa mengetahui mana yang benar. Ini tentang sejarah nasional kita.

Kita hidup ini secara tak langsung adalah kumpulan waktu demi waktu mengukir sejarah kehidupan. Baik pribadi, maupun sejarah yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Banyak cara untuk mengukir sejarah hidup secara manis dan baik. Agama kita pun mengajarkan bagaimana cara kita mengukir sejarah hidup kita. Lihat QS. Ar-Ra’ad :13, QS. Al Hisyr: 18.

Kekiniannya bagaimana?

Saya coba arahkan ke kontestasi kepemimpinan dan keadaan politik di Indonesia. Yu lihat. Bapak Anies Baswedan pernah bilang “Undang pakai rupiah cara pintas mobilisasi massa. Mempesona ditulis di berita, memalukan saat ditulis sejarahwan” (cek : https://www.facebook.com/aniesbaswedan/photos/a.184628331574161.32084.182838371753157/677041718999484/?type=1&theater ). Berhubungan dengan itu, izinkan saya menulis hal yang mirip, bahwa :

(mengerahkan) membuat citra, image, mencari simpati publik, meraih kehormatan, dengan cara menggunakan uang dan memanfaatkan kekuasaan (jabatan)- memang mempesona ditulis di media massa atau kolom berita. Namun sungguh memalukan saat ditulis oleh sejarahwan, memalukan saat dikenang oleh anak dan keturunan!

Ini nasihat untuk diri sendiri, juga untuk teman-teman seperjuangan mengabdi kepada negeri. Mari mengukir sejarah hidup dengan jujur, jernih.

Masih banyak orang baik dan jujur yang memiliki kejernihan jiwa. Hati yang bersih akan mudah menjernihkan jiwa. Cirinya apa? ia tenang, santun, tegas tanpa menjatuhkan. Sebab satu hal alasan kenapa seseorang hendak dan mau menjatuhkan, adalah adanya penyakit hati yakni iri, hasad, dengki.

Ksatria itu jujur, melahirkan ketulusan sikap. Ia jernih, dari hati. Nah itu datang dari dalam internal diri. Bukan topeng dan polesan.

Buktinya apa?

Attraction. Arruhul junnudum mujannadah. Teman-teman pasti setuju kan jika apa yang dari hati pasti sampai ke hati. Itulah ketulusan, dan setiap orang memilikinya. Dan sesiapa yang memiliki frekuensi yang sama, ia akan segera bersepakat. Mereka semua segera merapat. Karena ruh dulu pernah bertemu, ia mencari sekutunya di dunia ini. Yang baik dengan yang baik. Sehati, sevisi.

Mereka yang sehati, saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama.

Ok. Saya akan ambil contoh lagi dari perkataan Pak Anies Baswedan. “Perilaku pendukung mewakili yang didukung”. Nah itulah bentuk seiya-sekata-nya ruh yang saling bersepakat, sesandi dan se-frequensi hati. Maka izinkan kami menjelaskan ‘wujud konkretnya dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang politik’ -> http://chirpstory.com/li/216911.

Contoh lain, saya juga mengelola salah satu akun anonim. Pernah saya bilang dengan hashtag . Maka lihat pula moral para pendukungnya, begitulah moral dan mental ‘mayoritas’ yang didukung. Saya tidak katakan semua, tapi mungkin banyak. Mungkin di sinilah akan ada pro kontra. :)

Ala kulli hal, dari semua cerita di atas. kami hendak bangkit. Sudah sekian lama kami terlena dengan sistem sekuler liberal yang seolah-olah memberikan kemajuan pesat untuk intelektual kami. Terima kasih atas pengajarannya kepada bangsa ini.

Apalagi jika pemimpinnya MAU dan MAMPU (Qawiyyun) serta amiinun (amanah) menjaga keharmonisan masyarakat yang bhineka ini, MURNI setiapnya pada jalannya. Mau dan mampu menjaga dan menguatkan simpul kebangsaan. Bukan menyalahi, melanggari, menyesati, menghinai dan menistai satu sama lain.

Para founding fathers bangsa ini telah sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dijiwai oleh Piagam Djakarta (yang dari naskah itu pula-lah Pancasila lahir) yang di dalamnya pula termaktub kalimat pernyataan “atas berkat rahmat Allah …” lah kemerdekaan dan kebangkitan bangsa ini tercapai.

Ya, bagi saya, menurut saya… jiwa dan simpul kebangsaan itu ada pada Piagam Djakarta tertanda dan tersaksikan oleh 9 orang perumusnya pada tanggal 22 Juni 1945, yang selanjutnya menjadi mukadimah UUD 1945. Mereka TELAH dan SELESAI BERSEPAKAT! ini simpul kebangsaan yang FINAL. (monggo disimak Piagam Djakarta, 22 Juni 1945. Mereferensi pada buku “Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusi Islam”). Lihat pula ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966. Memorandum DPRGR 1966 mengenai sumber tertib Hukum RI ditingkatkan menjadi keputusan MPRS Nomor XX/MPRS/1966, di dalam keputusan ini ditegaskan kembali bawasanya bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Berikut ini adalah Piagam Djakarta tertada panitia 9, 22 Juni 1945.

Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945
Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945

Satu lagi. Saya kutip dari tulisan Dr. Adian Husaini. Balasan surat untuk Franz Magnis Suseno, tokoh katolik terkenal. Kutipan itu adalah :

Usul agar Indonesia menjadi negara sekuler dengan mengubah Mukaddimah UUD 1945,  misalnya, pernah diajukan oleh seorang Tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandono, melalui artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 tidak Sakral” di Harian Suara Pembaruan, 9 Februari 2004. Soedjati mengusulkan agar Indonesia secara terbuka menjadi dan mengaku sebagai sebuah “negara sekuler”.

Artikel Soedjati itu ditanggapi dengan sangat tajam oleh Prof. Franz Magnis-Suseno, melalui sebuah artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 Tidak Boleh Diganti!”.   Franz Magnis menulis: “Lebih serius lagi, Soedjati mau membongkar salah satu tabu paling kental dalam politik Indonesia: ia menuntut agar Indonesia menjadi, dan mengaku menjadi, sebuah negara sekuler. Menurut saya, Soedjati di sini main api, dan itu terlalu mahal.” (Lihat, Franz Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa, 2006:224-229).

Itu mungkin sedikit pengakuan seseorang yg berfikir secara konsisten, memakai iman versi keimanannya, menempatkan sesuatu yang seharusnya dihormati secara terhormat.

Maka saya katakan tegas kepada semua pihak yang culas, dan dengki melihat bangsa ini untuk berjaya “STOP!! Berhentilah melarang bangsa kami untuk merdeka. Berhentilah menghalang-halangi bangsa ini untuk bangkit dan berjaya!. Kalian akan menghadapi ribuan patriot yang cinta dan siap jadi abdi untuk izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) agama, bangsa dan negara.

68 tahun sudah usia bangsa ini. Simpul kebangsaan anak negeri ini telah melampaui hampir 70 tahun lamanya. Seorang profesor dari Havard University pernah menuliskan bahwa suatu negara akan ditentukan bangkit dan berjaya atau hancur tenggelam setelah melalui fase usia 70 tahun. Ngga perlu percaya sepenuhnya juga :), namun yang terpenting menurut saya adalah dengan memahami sejarah perjuangan baik islam maupun nasional… maka …. semakin lama dan tua usia suatu bangsa atau negara, memang sudah seharusnya semakin dekat dengan cita-cita para pejuangnya, para founding father nya. Bener kan?

Ya, 2014 saat ini sederhananya kami bangsa Indonesia menemukan memontum itu.. bangsa ini hendak bangkit. Antara waktu, perjuangan dan zaman, sejarah dan peradaban, negeri ini tertemukan simpul perjuangannya, simpul kebangsaannya. Negeri ini memiliki banyak pejuang, banyak patriot dan putra terbaik yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Sejak berabad-abad silam. Simpul kebangsaan kami secara tabu dan sederhana telah terpaparkan di atas.

Dan saat ini segenap anak negeri ingin memperkuat simpul kebangsaan itu. Kami hendak bangkit. Kami ingin meraih cita-cita, memenuhi janji-janji kemerdekaan para pejuang dan pahlawan. Dan benang dari simpul itu semua mampu tertali dengan kuat dan sempurna oleh Islam. Bagi saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, kita memiliki simpul kebangsaan yang kuat yang kita telah bersepakat yakni Piagam Jakarta, Pancasila, UUD 1945.

“pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya”, (Ir. Soekarno)

soekarnoJangan menghalangi kami BANGKIT!
Nyuwun sewu.. #kalem :)

Kembali kepada Musa dan Syeikh Rasyid, semoga semakin banyak generasi anak negeri ini yang seperti kalian. Mewujudkan peradaban Indonesia yang unggul, berjaya, merdeka dan bermartabat dengan izzah dari al quran, Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin.

(Rangkaian simpul dari Istanbul, Doha, Jakarta), 4 Juli 2014. Ramadhan ke-7.

oke

Negara Yang “Bocor” dan Tergadai

Senin, 23 Juni 2014 adalah hari ke-2 konferensi intelektual muda Islam (pemuda) dari seluruh dunia. Saya katakan pemuda karena hampir semua peserta masih berusia di bawah 40 tahun. Sedikit sharing yang saya coba berikan dalam presentasi perkembangan dakwah dan perjuangan pemuda Islam di Indonesia salah satu point penting adalah tentang ketahanan nasional bangsa kita yang rapuh.  Selain keberadaan pangkalan militer yang sudah mengelilingi nusantara, point penting lain adalah tentang kebocoran sumber daya alam negara kita.

southeast-asia-political-map
Pangkalan militer amerika dan sekutunya di ASEAN

Lalu qadarullah di lini masa saya muncul catatan ini dari seorang WNI di Belanda bernama Tasniem Fauzia setelah sebelumnya membaca pula status facebook yang ditulis oleh Prayudhi Azwar, seorang mahasiswa PhD yang sedang belajar Monetary Economics di The University of Western Australia (UWA) dengan judul “Kutatap tulus cinta dimatanya”.

Mereka berdua adalah 2 dari warga negara Indonesia yang sangat peduli dengan perbaikan bangsa ini, apalagi momen pilpres 2014 sangat tepat dan penting dalam memilih pemimpin agar negeri ini bisa bangkit. Berikut ulasannya :

10407000_513797057916_8108719900847534131_n

Jika anda masih tertawa mendengar kata bocor yang selalu didengung-dengungkan oleh capres nomer 1, maka sungguh, anda akan menyesal, karna anda berarti sedang menertawakan keadaan negara anda sendiri yang sedang menangis, anda berarti belum mengerti tentang keadaan pedih negara kita saat ini.

Saya memang cuman Ibu rumah tangga, tapi saya mau membaca.
Mari teman-teman kita perbanyak membaca supaya kita bisa mengerti duduk permasalahan bangsa kita saat ini yang sangat urgent.

Saat ini Indonesia memang sudah merdeka, tapi mengapa rakyatnya masih miskin? Mengapa bangsa kita kok selalu tertindas di negeri yang kaya raya ini ? Ini karna kita sedang dijajah, tapi memang bukan dalam bentuk penjajahan fisik seperti jaman dulu, penjajahan yang ada sekarang ini adalah dalam bentuk korporatokrasi internasional di negara-negara berkembang salah satunya Indonesia.

Negara kita sudah puluhan tahun dijajah oleh korporatokrasi asing, dan kita memang butuh pemimpin yang berani melawan korporatokrasi asing ini.

Apa itu Korporatokrasi asing? Korporatokrasi adalah sebuah sistem kekuasaan yang di kontrol oleh korporasi besar, bank internasional dan pemerintahan. (Noam Chomsky, Media Control, Second Edition: The Spectacular Achievements of Propaganda, 2002)

Korporatokrasi adalah pengendalian suatu negara adidaya di suatu negara berkembang, salah satunya dengan memberikan bantuan pinjaman uang dan menguasai kekayaan alamnya. Korporatokrasi besar tersebut akan dengan leluasa mengarahkan kebijakan suatu negara demi mendapatkan keuntungan maksimal. (Bisa di-google dengan memasukkan kata sandi “Corporatocracy in Indonesia”, ngenes banget kondisi kita saat ini)

Bayangkan, di foto ini kita bisa lihat kekayaan sumber daya alam di Indonesia yang telah dikuasai oleh korporatokrasi internasional.

Kalau dulu sebelum kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945, kolonialisme adalah berbentuk penyiksaan fisik, sekarang ini di jaman globalisasi, penjajahan kepada negara-negara berkembang adalah bentuk dominasi negara asing dan negara adidaya di negara-negara berkembang. Kekayaan kita dikuras dan digerus terus oleh pihak asing, uangnya mengalir ke asing, dan negara kita tidak dapat apa-apa.

Kalau jaman VOC dan jaman penjajahan Belanda dulu ada Amangkurat I dan Amangkurat II yang berkhianat kepada negara dengan menjadi antek Belanda, untuk memperkaya dirinya sendiri, sekarang pun tidak ada bedanya. Ada elite-elite politik yang memang berkhianat dan menjadi antek aseng.

Ditambah lagi ini terjadi karna pemimpin saat ini yang kurang tegas dengan kekuatan negara asing. Harus ada pemimpin yang berani untuk melawan korporatokrasi dunia yang berusaha mengacak-ngacak kesatuan negara kita.

Indonesia harus bisa belajar dari negara-negara bermartabat seperti Malaysia, Iran, Venezuela, Argentina, Bolivia, China, Ekuador dan India yang berani menolak untuk bergantung kepada asing, menolak tawaran pinjaman dari IMF dan World Bank yang sangat mengikat dan merugikan negara.

Indonesia merindukan pemimpin yang berani dan tegas, seperti Soekarno dulu, yang tidak tunduk kepada asing.Mari teman-teman kita berdoa, semoga Indonesia masih bisa diselamatkan.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh pemimpinannya. Ke mana dia akan membawa kita 5 tahun ke depan. Jika Prabowo Subianto menjadi presiden kita 2014-2019 nanti, insya Allah Indonesia akan bisa keluar dari cengkraman dan kungkungan korporasi asing di negara kita, tidak ada lagi penjualan kekayaan alam, mulai dari hasil hutan, laut, pertambangan, dan energi ke pihak asing yang merugikan negara. Karna dia 100% bisa dibuktikan kesetiaannya kepada negara, tidak ada korporatrokrasi asing yang mem-back up dia saat ini. Dia hanya mengabdi untuk negara dan rakyat Indonesia. Bukan untuk negara asing. (20 Juni 2014 – Nijmegen, Belanda)

Itu adalah penggalan sudut pandang kecintaan terhadap tanah air dari seorang ibu rumah tangga. Maka bagaimana dengan anda? Maaf jika kurang berkenan menyebut nama salah satu capres, tapi demi Allah, beliaulah yang saat ini secara kualitas dan kapasitas insya Allah yang sedang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Mari membuktikan bahwa ibu pertiwi Indonesia masih melahirkan banyak patriot-patriot yang siap mengabdi kepada negerinya tanpa pamrih! Mari buktikan bahwa negeri ini mampu mandiri!

Biz gerçekten dünyada işgale karşı oldu! Kita benar-benar sedang (serius) melawan penjajahan… mari berjuang!

Agastya Harjunadhi,
Sakarya, 25 Juni 2014.
Ditulis di pagi hari yang cerah, ditemani mentari yg bersinar semangat nan Indah.