Category Archives: Catatan ku

gaza

Kami Bersumpah Tak Akan Meninggalkanmu Selamanya

Sungguh keterlaluan, jika situasi yang sedang riuh di piala dunia dan riuhnya pemilihan presiden di Indonesia telah mengaburkan dan melalaikan kita dari kepedulian kita terhadap apa yang sedang terjadi di Gaza!pildun

Selain Gaza, Suriah pun kembali bersimbah darah. Didapatkan kabar bahwa Basyar Assad kembali melakukan serangan pada 8 Juli lalu yang menewaskan 22 orang muslim dan mengakibatkan puluhan lainnya luka luka. Korban sipil Suriah sejak konflik tahun 2011 mencapai 150 ribu jiwa lebih. Jutaan mengungsi ke Negara-negara tetangga. Saya sendiri sudah bertemu dengan para pengungsi Suriah di Istanbul akhir Juni lalu. Mereka tegar, mereka tetap mampu menghadiahkan senyuman kepada kita yang datang kepada mereka. Allaah…

Suriah adalah bagian dari Syam negeri, yang dirahmati oleh Allah. Negeri Syam di mana dalam nash syariah akan menjadi tempat peperangan akhir zaman antara yang haq melawan kebatilan. Syam, adalah titik pusat keimanan muslim dunia. Negeri di mana para pesuruh Allah, orang terbaik setiap zaman masa lalu pernah diutus, dan hingga akhir zaman akan selalu menjadi indikator ummat terbaik. Negeri Syam.

Bukti lain, Syam sebagai indicator ummat terbaik setiap zaman.

Sebagai seorang pemuda, muslim.. setidaknya ukuran ini terbukti nyata di hadapan saya. Di Istanbul akhir Juni lalu saya temui seorang pemuda usia 29 tahun. Namanya Yasser. Aktifis anticoup bersama sejumlah kawan-kawannya yang kini diblack list oleh pemerintahan Al Sisi dari Mesir. Yasser dkk tak bisa pulang ke negerinya sendiri, terusir. Tapi jiwanya benar-benar merdeka, kualitas pemuda ini pun sangat luar biasa. Menguasai lebih dari 4 bahasa, retorika dan pidato yang memukau, menggerakkan jiwa-jiwa yang lain untuk bangkit. Dan yang lebih hebat lagi, ketika menjadi imam shalat jamaah suaranya indah sekali, masya Allah.

Rata-rata pemuda timur tengah, Syam telah menyelesaikan hafalan qurannya. Bagaimana dengan mayoritas pemuda di Indonesia? Malu rasanya. Inilah salah satu fakta indikator ummat terbaik selalu dinisbatkan pada bumi syam.

Sungguh, kitalah yang berhutang budi terhadap mereka. Syam, Suriah, Palestina. Rakyat Palestina. Karena mereka telah mewakili kita (umat islam seluruh dunia) menjaga dan bertahan di tanah waqaf ummat Islam, masjid suci al aqsa.

Kita teriak menangis dan kasihan kepada rakyat Gaza, iya itu sudah benar. Tapi sesungguhnya kitalah yang patut dikasihani. Mereka berdiri tegak, terusir, jatuh bersimbah darah demi menjadi membela tanah suci Al Aqsa, bagaimana dengan kita di Indonesia yang masih sibuk bahkan rebut sendiri sesama saudara kita hanya karena berbeda pendapat tentang demokrasi dan pemilihan presiden! Miris!

Untukmu Syam, Suriah, Gaza, dan seluruh saudara kami yang terdzalimi… Maafkan kami yang masih lemah. Maafkan kami yang masih sibuk dengan fitnah syubhat dan syahwat di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini. Tapi.. kami bersumpah demi Allah.. tak akan meninggalkanmu, tak akan membiarkan mu sendiri selamanya!

Mari berikan yang terbaik semampu kita, untuk saudara-saudara kita di sana. gaza-gaza

kami-ingin-bangkit

Jangan Menghalangi Kami Bangkit

Setelah Musa yang hafidz 30 Juz di usia 5,5 tahun, bangsa ini telah melahirkan anak yang luar biasa lagi yaitu Syeikh Rasyid, di usia 6 bulan sudah berucap Allah, dan di usianya yg masih kecil ini sudah bisa bahasa arab sendiri, tanpa ada yang mengajari. cek -> https://www.youtube.com/watch?v=Txf30h4zgvI

Allaahummarhamna bil quran 3x..

Melihat Indonesia, ini adalah pertanda baik. Setelah menjamurnya ODOJ, berbondong-bondong kegiatan menghafal quran menjadi trend. Tempat kajian islam semakin dilirik para anak muda dan bertadabbur quran pun telah menjadi gaya hidup.

Ada hal lain yang tak kalah menarik dalam perkembangan peradaban negeri ini. Tentang Indonesia.

Memahami sejarah bangsa ini ternyata menjadi sebuah keniscayaan. Saya benar-benar merasa tertipu dengan pelajaran sejarah selama ini di bangku sekolah. Tapi sekaligus berterima kasih karena dengan begitu saya bisa mengetahui mana yang benar. Ini tentang sejarah nasional kita.

Kita hidup ini secara tak langsung adalah kumpulan waktu demi waktu mengukir sejarah kehidupan. Baik pribadi, maupun sejarah yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Banyak cara untuk mengukir sejarah hidup secara manis dan baik. Agama kita pun mengajarkan bagaimana cara kita mengukir sejarah hidup kita. Lihat QS. Ar-Ra’ad :13, QS. Al Hisyr: 18.

Kekiniannya bagaimana?

Saya coba arahkan ke kontestasi kepemimpinan dan keadaan politik di Indonesia. Yu lihat. Bapak Anies Baswedan pernah bilang “Undang pakai rupiah cara pintas mobilisasi massa. Mempesona ditulis di berita, memalukan saat ditulis sejarahwan” (cek : https://www.facebook.com/aniesbaswedan/photos/a.184628331574161.32084.182838371753157/677041718999484/?type=1&theater ). Berhubungan dengan itu, izinkan saya menulis hal yang mirip, bahwa :

(mengerahkan) membuat citra, image, mencari simpati publik, meraih kehormatan, dengan cara menggunakan uang dan memanfaatkan kekuasaan (jabatan)- memang mempesona ditulis di media massa atau kolom berita. Namun sungguh memalukan saat ditulis oleh sejarahwan, memalukan saat dikenang oleh anak dan keturunan!

Ini nasihat untuk diri sendiri, juga untuk teman-teman seperjuangan mengabdi kepada negeri. Mari mengukir sejarah hidup dengan jujur, jernih.

Masih banyak orang baik dan jujur yang memiliki kejernihan jiwa. Hati yang bersih akan mudah menjernihkan jiwa. Cirinya apa? ia tenang, santun, tegas tanpa menjatuhkan. Sebab satu hal alasan kenapa seseorang hendak dan mau menjatuhkan, adalah adanya penyakit hati yakni iri, hasad, dengki.

Ksatria itu jujur, melahirkan ketulusan sikap. Ia jernih, dari hati. Nah itu datang dari dalam internal diri. Bukan topeng dan polesan.

Buktinya apa?

Attraction. Arruhul junnudum mujannadah. Teman-teman pasti setuju kan jika apa yang dari hati pasti sampai ke hati. Itulah ketulusan, dan setiap orang memilikinya. Dan sesiapa yang memiliki frekuensi yang sama, ia akan segera bersepakat. Mereka semua segera merapat. Karena ruh dulu pernah bertemu, ia mencari sekutunya di dunia ini. Yang baik dengan yang baik. Sehati, sevisi.

Mereka yang sehati, saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama.

Ok. Saya akan ambil contoh lagi dari perkataan Pak Anies Baswedan. “Perilaku pendukung mewakili yang didukung”. Nah itulah bentuk seiya-sekata-nya ruh yang saling bersepakat, sesandi dan se-frequensi hati. Maka izinkan kami menjelaskan ‘wujud konkretnya dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang politik’ -> http://chirpstory.com/li/216911.

Contoh lain, saya juga mengelola salah satu akun anonim. Pernah saya bilang dengan hashtag . Maka lihat pula moral para pendukungnya, begitulah moral dan mental ‘mayoritas’ yang didukung. Saya tidak katakan semua, tapi mungkin banyak. Mungkin di sinilah akan ada pro kontra. :)

Ala kulli hal, dari semua cerita di atas. kami hendak bangkit. Sudah sekian lama kami terlena dengan sistem sekuler liberal yang seolah-olah memberikan kemajuan pesat untuk intelektual kami. Terima kasih atas pengajarannya kepada bangsa ini.

Apalagi jika pemimpinnya MAU dan MAMPU (Qawiyyun) serta amiinun (amanah) menjaga keharmonisan masyarakat yang bhineka ini, MURNI setiapnya pada jalannya. Mau dan mampu menjaga dan menguatkan simpul kebangsaan. Bukan menyalahi, melanggari, menyesati, menghinai dan menistai satu sama lain.

Para founding fathers bangsa ini telah sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dijiwai oleh Piagam Djakarta (yang dari naskah itu pula-lah Pancasila lahir) yang di dalamnya pula termaktub kalimat pernyataan “atas berkat rahmat Allah …” lah kemerdekaan dan kebangkitan bangsa ini tercapai.

Ya, bagi saya, menurut saya… jiwa dan simpul kebangsaan itu ada pada Piagam Djakarta tertanda dan tersaksikan oleh 9 orang perumusnya pada tanggal 22 Juni 1945, yang selanjutnya menjadi mukadimah UUD 1945. Mereka TELAH dan SELESAI BERSEPAKAT! ini simpul kebangsaan yang FINAL. (monggo disimak Piagam Djakarta, 22 Juni 1945. Mereferensi pada buku “Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusi Islam”). Lihat pula ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966. Memorandum DPRGR 1966 mengenai sumber tertib Hukum RI ditingkatkan menjadi keputusan MPRS Nomor XX/MPRS/1966, di dalam keputusan ini ditegaskan kembali bawasanya bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Berikut ini adalah Piagam Djakarta tertada panitia 9, 22 Juni 1945.

Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945
Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945

Satu lagi. Saya kutip dari tulisan Dr. Adian Husaini. Balasan surat untuk Franz Magnis Suseno, tokoh katolik terkenal. Kutipan itu adalah :

Usul agar Indonesia menjadi negara sekuler dengan mengubah Mukaddimah UUD 1945,  misalnya, pernah diajukan oleh seorang Tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandono, melalui artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 tidak Sakral” di Harian Suara Pembaruan, 9 Februari 2004. Soedjati mengusulkan agar Indonesia secara terbuka menjadi dan mengaku sebagai sebuah “negara sekuler”.

Artikel Soedjati itu ditanggapi dengan sangat tajam oleh Prof. Franz Magnis-Suseno, melalui sebuah artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 Tidak Boleh Diganti!”.   Franz Magnis menulis: “Lebih serius lagi, Soedjati mau membongkar salah satu tabu paling kental dalam politik Indonesia: ia menuntut agar Indonesia menjadi, dan mengaku menjadi, sebuah negara sekuler. Menurut saya, Soedjati di sini main api, dan itu terlalu mahal.” (Lihat, Franz Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa, 2006:224-229).

Itu mungkin sedikit pengakuan seseorang yg berfikir secara konsisten, memakai iman versi keimanannya, menempatkan sesuatu yang seharusnya dihormati secara terhormat.

Maka saya katakan tegas kepada semua pihak yang culas, dan dengki melihat bangsa ini untuk berjaya “STOP!! Berhentilah melarang bangsa kami untuk merdeka. Berhentilah menghalang-halangi bangsa ini untuk bangkit dan berjaya!. Kalian akan menghadapi ribuan patriot yang cinta dan siap jadi abdi untuk izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) agama, bangsa dan negara.

68 tahun sudah usia bangsa ini. Simpul kebangsaan anak negeri ini telah melampaui hampir 70 tahun lamanya. Seorang profesor dari Havard University pernah menuliskan bahwa suatu negara akan ditentukan bangkit dan berjaya atau hancur tenggelam setelah melalui fase usia 70 tahun. Ngga perlu percaya sepenuhnya juga :), namun yang terpenting menurut saya adalah dengan memahami sejarah perjuangan baik islam maupun nasional… maka …. semakin lama dan tua usia suatu bangsa atau negara, memang sudah seharusnya semakin dekat dengan cita-cita para pejuangnya, para founding father nya. Bener kan?

Ya, 2014 saat ini sederhananya kami bangsa Indonesia menemukan memontum itu.. bangsa ini hendak bangkit. Antara waktu, perjuangan dan zaman, sejarah dan peradaban, negeri ini tertemukan simpul perjuangannya, simpul kebangsaannya. Negeri ini memiliki banyak pejuang, banyak patriot dan putra terbaik yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Sejak berabad-abad silam. Simpul kebangsaan kami secara tabu dan sederhana telah terpaparkan di atas.

Dan saat ini segenap anak negeri ingin memperkuat simpul kebangsaan itu. Kami hendak bangkit. Kami ingin meraih cita-cita, memenuhi janji-janji kemerdekaan para pejuang dan pahlawan. Dan benang dari simpul itu semua mampu tertali dengan kuat dan sempurna oleh Islam. Bagi saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, kita memiliki simpul kebangsaan yang kuat yang kita telah bersepakat yakni Piagam Jakarta, Pancasila, UUD 1945.

“pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya”, (Ir. Soekarno)

soekarnoJangan menghalangi kami BANGKIT!
Nyuwun sewu.. #kalem :)

Kembali kepada Musa dan Syeikh Rasyid, semoga semakin banyak generasi anak negeri ini yang seperti kalian. Mewujudkan peradaban Indonesia yang unggul, berjaya, merdeka dan bermartabat dengan izzah dari al quran, Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin.

(Rangkaian simpul dari Istanbul, Doha, Jakarta), 4 Juli 2014. Ramadhan ke-7.

oke

Negara Yang “Bocor” dan Tergadai

Senin, 23 Juni 2014 adalah hari ke-2 konferensi intelektual muda Islam (pemuda) dari seluruh dunia. Saya katakan pemuda karena hampir semua peserta masih berusia di bawah 40 tahun. Sedikit sharing yang saya coba berikan dalam presentasi perkembangan dakwah dan perjuangan pemuda Islam di Indonesia salah satu point penting adalah tentang ketahanan nasional bangsa kita yang rapuh.  Selain keberadaan pangkalan militer yang sudah mengelilingi nusantara, point penting lain adalah tentang kebocoran sumber daya alam negara kita.

southeast-asia-political-map
Pangkalan militer amerika dan sekutunya di ASEAN

Lalu qadarullah di lini masa saya muncul catatan ini dari seorang WNI di Belanda bernama Tasniem Fauzia setelah sebelumnya membaca pula status facebook yang ditulis oleh Prayudhi Azwar, seorang mahasiswa PhD yang sedang belajar Monetary Economics di The University of Western Australia (UWA) dengan judul “Kutatap tulus cinta dimatanya”.

Mereka berdua adalah 2 dari warga negara Indonesia yang sangat peduli dengan perbaikan bangsa ini, apalagi momen pilpres 2014 sangat tepat dan penting dalam memilih pemimpin agar negeri ini bisa bangkit. Berikut ulasannya :

10407000_513797057916_8108719900847534131_n

Jika anda masih tertawa mendengar kata bocor yang selalu didengung-dengungkan oleh capres nomer 1, maka sungguh, anda akan menyesal, karna anda berarti sedang menertawakan keadaan negara anda sendiri yang sedang menangis, anda berarti belum mengerti tentang keadaan pedih negara kita saat ini.

Saya memang cuman Ibu rumah tangga, tapi saya mau membaca.
Mari teman-teman kita perbanyak membaca supaya kita bisa mengerti duduk permasalahan bangsa kita saat ini yang sangat urgent.

Saat ini Indonesia memang sudah merdeka, tapi mengapa rakyatnya masih miskin? Mengapa bangsa kita kok selalu tertindas di negeri yang kaya raya ini ? Ini karna kita sedang dijajah, tapi memang bukan dalam bentuk penjajahan fisik seperti jaman dulu, penjajahan yang ada sekarang ini adalah dalam bentuk korporatokrasi internasional di negara-negara berkembang salah satunya Indonesia.

Negara kita sudah puluhan tahun dijajah oleh korporatokrasi asing, dan kita memang butuh pemimpin yang berani melawan korporatokrasi asing ini.

Apa itu Korporatokrasi asing? Korporatokrasi adalah sebuah sistem kekuasaan yang di kontrol oleh korporasi besar, bank internasional dan pemerintahan. (Noam Chomsky, Media Control, Second Edition: The Spectacular Achievements of Propaganda, 2002)

Korporatokrasi adalah pengendalian suatu negara adidaya di suatu negara berkembang, salah satunya dengan memberikan bantuan pinjaman uang dan menguasai kekayaan alamnya. Korporatokrasi besar tersebut akan dengan leluasa mengarahkan kebijakan suatu negara demi mendapatkan keuntungan maksimal. (Bisa di-google dengan memasukkan kata sandi “Corporatocracy in Indonesia”, ngenes banget kondisi kita saat ini)

Bayangkan, di foto ini kita bisa lihat kekayaan sumber daya alam di Indonesia yang telah dikuasai oleh korporatokrasi internasional.

Kalau dulu sebelum kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945, kolonialisme adalah berbentuk penyiksaan fisik, sekarang ini di jaman globalisasi, penjajahan kepada negara-negara berkembang adalah bentuk dominasi negara asing dan negara adidaya di negara-negara berkembang. Kekayaan kita dikuras dan digerus terus oleh pihak asing, uangnya mengalir ke asing, dan negara kita tidak dapat apa-apa.

Kalau jaman VOC dan jaman penjajahan Belanda dulu ada Amangkurat I dan Amangkurat II yang berkhianat kepada negara dengan menjadi antek Belanda, untuk memperkaya dirinya sendiri, sekarang pun tidak ada bedanya. Ada elite-elite politik yang memang berkhianat dan menjadi antek aseng.

Ditambah lagi ini terjadi karna pemimpin saat ini yang kurang tegas dengan kekuatan negara asing. Harus ada pemimpin yang berani untuk melawan korporatokrasi dunia yang berusaha mengacak-ngacak kesatuan negara kita.

Indonesia harus bisa belajar dari negara-negara bermartabat seperti Malaysia, Iran, Venezuela, Argentina, Bolivia, China, Ekuador dan India yang berani menolak untuk bergantung kepada asing, menolak tawaran pinjaman dari IMF dan World Bank yang sangat mengikat dan merugikan negara.

Indonesia merindukan pemimpin yang berani dan tegas, seperti Soekarno dulu, yang tidak tunduk kepada asing.Mari teman-teman kita berdoa, semoga Indonesia masih bisa diselamatkan.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh pemimpinannya. Ke mana dia akan membawa kita 5 tahun ke depan. Jika Prabowo Subianto menjadi presiden kita 2014-2019 nanti, insya Allah Indonesia akan bisa keluar dari cengkraman dan kungkungan korporasi asing di negara kita, tidak ada lagi penjualan kekayaan alam, mulai dari hasil hutan, laut, pertambangan, dan energi ke pihak asing yang merugikan negara. Karna dia 100% bisa dibuktikan kesetiaannya kepada negara, tidak ada korporatrokrasi asing yang mem-back up dia saat ini. Dia hanya mengabdi untuk negara dan rakyat Indonesia. Bukan untuk negara asing. (20 Juni 2014 – Nijmegen, Belanda)

Itu adalah penggalan sudut pandang kecintaan terhadap tanah air dari seorang ibu rumah tangga. Maka bagaimana dengan anda? Maaf jika kurang berkenan menyebut nama salah satu capres, tapi demi Allah, beliaulah yang saat ini secara kualitas dan kapasitas insya Allah yang sedang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Mari membuktikan bahwa ibu pertiwi Indonesia masih melahirkan banyak patriot-patriot yang siap mengabdi kepada negerinya tanpa pamrih! Mari buktikan bahwa negeri ini mampu mandiri!

Biz gerçekten dünyada işgale karşı oldu! Kita benar-benar sedang (serius) melawan penjajahan… mari berjuang!

Agastya Harjunadhi,
Sakarya, 25 Juni 2014.
Ditulis di pagi hari yang cerah, ditemani mentari yg bersinar semangat nan Indah.

sujud

Setan Pun Berdoa

Kawan saya berkata, “Kita kalau berdoa itu mesti mengharapkan keberkahannya juga, jangan hanya mengharapkan agar dikabulkan. Sebab dulu Setan berdoa (meminta) kepada Allah agar diberikan umur panjang sampai hari kiamat untuk mengganggu anak cucu Adam, dan dikabulkan oleh Allah. Tapi dengan itu Allah melaknat mereka.”

*deg

Benar juga! Kalau di cerita-cerita fiksi, ada saja tokoh yang dulunya miskin lalu berdoa agar dilimpahi harta. Namun setelah Allah kabulkan maka tokoh ini menjadi kufur terhadap nikmat dan menjadi orang yang zhalim terhadap sesama.

Atau dalam kisah tentang seorang miskin ahli ibadah yang berdoa agar Allah mengkaruniakan harta berlimpah dengan niat agar harta tersebut bisa digunakan untuk berinfak dan sedekah. Lalu Allah berikan rizki ternak yang gemuk dan subur-subur. Semakin banyak, beranak-pinak. Hingga dia disibukkan oleh urusan dunianya tersebut. Dan kehilangan waktu-waktu yang dulu dihabiskan untuk beribadah kepada Allah. Niatnya pun sedikit demi sedikit bergeser. Disorientasi. Hingga Allah dengan kasih sayang-Nya menegur hamba-Nya yang khilaf tersebut.

Lihat lah. Ternyata permintaan kita yang terlihat baik belum tentu berakhir baik. Makanya jangan cuma mengharapkan Allah mengabulkan doa kita. Tapi harapkan juga agar keberkahan dan hidayah Allah senantiasa menaungi diri kita. Agar doa yang terkabul itu tak menjadi hal yang menggelincirkan kita.

Berkaitan hal tersebut, saya teringat arti dari doa Istikharah.

duaa-istikhaara
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.

Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.

Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

Doa Istikharah ini mengajarkan kita agar selalu membawa dimensi akhirat ke dalam segala keputusan-keputusan hidup. Agar tak hanya selamat di dunia, tapi juga di akhirat.

Oleh : Hermawan S

anakanak

Pentingkah Memaksakan Anak Usia Dini dan SD Wajib Bisa Baca Tulis Hitung?

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.

Inilah jawabanya;

  1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
  2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
  3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

  1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
  2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
  3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
  4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
  5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya…. padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, SEKOLAH2 dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya… Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya… seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,

Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, … mau ?

Salam syukur penuh berkah…

Ayah Edy Parenting

bersyukur-kepada-allah

Ketika Kekalahan Menimpa Orang-orang Shalih

Bismillahirrahmaanirrahim

Ingin ku bertanya padamu

Telah berapa tahunkah kita bersama?

Satu, dua, tiga, atau melampai 13 tahun?
adakah engkau tetap tidak mengenalku?
atau engkau mengenalku samar-samar?
dalam malam pekat tertutup kabut?

Atau perkenalan kita seterang rembulan?
engkau mengenalku dengan sungguh mengenal,
mengetahui apa yang menjadi cita dan mimpiku
apakah engkau telah mengenalnya?

Ini adalah hari-hari yang akan sungguh sulit bagi kita..
tahun politik yang penuh ujian..

Lama tertegun dalam kalimat yang disampaikan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, terhadap peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, Ali berkata “aku tidak membunuh Utsman, dan aku tidak ingin membunuhnya, dan aku tidak pernah memerintahkan membunuhnya, tetapi akudikalahkan , dan semoga aku dan Utsman kelak di surga termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat ini “Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

Dua sahabat mulia
Enam tahun itu dilalui bersama
penuh kenangan manis akan keteguhan perjuangan
masa-masa sulit Mekkah adalah masa indah
Ali kecil samar “mendengar” Utsman
dan lalu terpisahkan lautan
laut merah
antara Mekkah dan Habasyah
waktu berlalu
ketika 8 tahun kemudian setelah perpisahan itu
dipertemukan kembali di sebuah kota baru
kini Ali telah dewasa usia mencapai 23 tahun
sesudah itu keduanya tak terpisahkan, dalam medan-medan jihad, dalam kehidupan keseharian,
saling mengenal tindak-tanduk

Hingga tibalah pada suatu masa,
Allah telah menakdirkan Utsman menjadi Khalifah,
dengan banyak tindak-tanduk yang ditenggarai tidak disepakati
adapun beberapa tindak-tanduk yang sangat penting dan krusial, sangat disepakati ALi, semisal penulisan kembali al Qur’an yang telah dibukukan dizaman Abu bakar

tetapi api perbedaan meliputi dan menggelayut
tentang cara pengelolaan negara, tentang cara-cara pengelolaan keuangan negara, tentang beberapa hukum fiqih

Api yang panas,membuat “lupa”
Lupa akan suatu kisah, bahwa surga pasti akan dimasuki Utsman
lupa bahwa apapun yang dilakukan Utsman sesudah perannya dalam perang tabuk tidak akan menimpakan bahaya bagi posisi sejati Utsman.

maka perkataan Ali bahwa “aku telah dikalahkan”
adalah suatu perkataan mendalam

dan tentang kita,
kau dan aku
apakah kita terpisah jarak yang sangat jauh, sehingga kau tak lagi mengenalku
sehingga engkau berprasangka buruk
atas buah-buah pikiran yang dianugerahkan Allah berada dalam kepalaku
atau buah pikiran itu justru ujian padaku, bagaimana ku bersikap
dan ujian padamu, bagaimana engkau bersikap
tentang perbedaan merespon peristiwa
tentang kesalahan dan kekeliruan

tentang potensi “kekalahan”
dikalahkan persepsi dan euporia peristiwa sesaat
keadaan sering mendorong pada melupakan,
siapa fulan sebenarnya?
apa hakikat sesuatu yang terjadi?

Demikianlah orang-orang shalih negeri ini, sering terkalahkan oleh persepsi
Kekalahan itu terdiri dari sikap menjauh
dari sikap tidak percaya
kekalahan yang sering berupa keluar dari gelanggang
kekalahan yang sering berwajah tak mengambil sikap

Duhai orang shalih negeri ini..
jangan kalah !
mari kita atasi dan kelola segala macam perbedaan

Mari bersinergi membangun negeri!

Disadur dari pengikatsurga.wordpress.com dengan beberapa tambahan.

Smart itu …

Seorang sahabat pernah bertanya, apa arti smart menurutmu? Pintar, cerdas. Barangkali kita semua sepakat dan sependapat jika smart diartikan demikian. Tapi mengenai kriteria, mungkin saja masing – masing kita berbeda. Ada yang mengatakan smart itu begini begitu, ada juga yang menyebutkan smart jika ini dan itu, tapi bagiku smart itu…

Bisa menjaga keseimbangan hak dan kewajiban

Seorang yang smart akan menempatkan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban, tidak juga melaksanakan kewajiban tetapi yang menjadi hak justru diabaikan. Ada kalanya memang kewajiban harus didahulukan, diutamakan, tapi ketika hak yang lebih dulu didapat tidak lantas membuat lalai akan kewajiban. Seorang yang smart mengerti bahwa setelah melaksanakan kewajiban, ada hak yang akan dia dapatkan. Seorang yang smart memahami bahwa setelah hak didapat, ada kewajiban yang harus dijalankan.

Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan

Keinginan dan kebutuhan sekilas memang sama, tapi sejatinya berbeda. Tidak semua yang diinginkan adalah termasuk kebutuhan, tapi biasanya apa yang dibutuhkan secara otomatis menjadi keinginan. Seorang yang smart dapat membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Seorang yang smart tidak akan terjebak pada budaya konsumtif yang kebablasan, selalu memenuhi apa yang diinginkan, walau sebenarnya tidak terlalu atau bahkan sama sekali tak dibutuhkan. Ia akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan dibanding keinginan.

Sebagai contoh, di era globalisasi seperti sekarang ini, tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan alat komunikasi mendorong para produsen untuk berlomba mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, salah satunya dengan menambahkan berbagai fitur dan fasilitas yang canggih pada gadget produksi mereka. Tapi orang yang smart akan teliti dalam memilih, jeli sebelum membeli. Orang yang smart tidak akan menghambur-hamburkan uang untuk membeli gadget hanya karena gengsi. Orang yang smart akan memilah gadget yang ia inginkan dan memilih sesuai yang ia butuhkan.

Bisa memilah dan memilih yang penting dan genting

Masih berkaitan dengan kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan, orang yang smart juga sanggup menetapkan pilihan penting di antara yang penting. Menggunakan skala prioritas, orang yang smart akan memilah-milah di antara yang penting, memilih yang genting dan harus diprioritaskan.

Bisa berdamai dengan keadaan dan juga kenyataan

Tidak selamanya apa yang kita inginkan, kita upayakan akan sesuai dengan kenyataan. Orang yang smart senantiasa mampu berdamai dengan keadaan, dan juga kenyataan. Ia tahu bahwa yang terbaik baginya adalah menikmati keadaan, mensyukuri kenyataan, mengupayakan keduanya untuk sesuatu yang positif dan bernilai lebih.

Selalu mencari kawan dan menghindari lawan

Selain makhluk pribadi, kita adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi. Ibarat ikan-ikan di lautan, tingginya kadar garam tak serta merta membuat tubuhnya menjadi asin, maka orang yang smart mampu membawa dan menjaga diri dalam bersosialisasi. Selalu mencari kawan dan persahabatan, menghindari lawan dan permusuhan adalah prinsip orang yang smart. Perbedaan dalam beberapa hal adalah sebuah keniscayaan, tidak selalu salah juga tidak perlu dipermasalahkan. Orang yang smart akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik, termasuk dalam hal pergaulan. Kepada orang lain ia akan berupaya untuk dekat, seperti sahabat, dan hangat layaknya kerabat.

Selalu berpikir positif dan berimajinasi kreatif

Orang yang smart tidak akan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang negatif. Orang yang smart selalu aktif dan kreatif, mengupayakan kebaikan dan juga perbaikan baik bagi diri pribadi, keluarga maupun lingkungannya. Orang yang smart tidak akan menginjak orang lain untuk menaikkan dirinya. Orang yang smart tidak akan berperilaku primitif untuk meraih cita-citanya. Orang yang smart tidak merendahkan orang lain untuk membuatnya tinggi. Dan orang yang smart tidak akan merugikan orang lain untuk keuntungan pribadi.

Selalu sabar dalam ujian dan sadar dalam perjuangan

Hidup ini tak luput dari yang namanya ujian, bahkan ada yang mengatakan hidup itu sendiri adalah ujian dan juga perjuangan. Orang yang smart tidak akan berputus asa ketika berbagai ujian datang mendera. Orang yang smart tidak akan berkeluh kesah ketika hidup harus dijalaninya dengan penuh perjuangan. Orang yang smart akan senantiasa sabar dalam setiap kesempatan dan keadaan. Orang yang smart akan selalu sadar dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Orang yang smart tidak akan mengambil jalan pintas untuk sebuah keberhasilan.

Mengakui bahwa kita adalah makhluk sempurna yang tiada sempurna

Dibanding makhluk lainnya, manusia diberikan banyak kelebihan, namun demikian ia juga mempunyai kekurangan. Orang yang smart senantiasa mensyukuri apa yang menjadi kelebihannya, dan menjadikan kekurangan sebagai pengingat bahwa di atas langit masih ada langit, kita bisa merasa satu-satunya tapi tak boleh merasa segala-galanya. Orang yang smart mengakui bahwa masih ada orang lain yang lebih dari kita, dan meyakini bahwa di atas semuanya ada yang Maha Segala-galanya

***

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Disadur dari tulisan Abi Sabila dengan sedikit penambahan tanpa mengubah pesan-pesan.

Ibu, Aku Tak Mau Jadi Pahlawan

Sebuah sekolah yang di sana aku menitipkan pendidikan Indah anakku, untuk persiapan masa depannya. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuknya.

Di sekolahannya, teman sekelasnya ada 50 orang murid. Setiap kenaikan kelas, anak perempuanku ini selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orang tua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya anak kami menjawab:

“Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru”.

“TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab:

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK? Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai. Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu:

SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : Indah! (ANAKKU!)

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya lantas bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, nak”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab:

“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dengan senyum yang teduh nan manis, anakku melanjutkan perkataannya, “Ibu, Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya,

Mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang berhati baik dan jujur?

(Disadur dari sharing peer group Madrasah Peradaban dengna beberapa penyesuaian tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan)

ok

Tamparan Habibie Bagi Bangsa Indonesia

Sudah membaca buku kisah “Ainun dan Habibie” atau bahkan sudah menonton filmnya? Mungkin kebanyakan anda lebih tertarik dan tersentuh dengan kisah romantis kesetiaan sepasang suami istri, namun justru yang saya rasakan di sepanjang tulisan dalam buku dan film, adalah sebuah pertunjukan “peperangan” dari seorang anak bangsa kepada kebijakan pemerintahnya yang tidak berdaulat dan “tamparan” bagi budaya bangsanya yang tidak mandiri di atas tanah airnya sendiri.
TS contoh-kan, bagaimana tidak mandirinya Indonesia yg menjadi budak ditanah airnya sendiri.
Pada paruh tahun 80an akhir, sosok Habibie menjelma menjadi idola dan simbol sosok intelektual yang shalih. Seorang intelektual yang mumpuni diakui dunia barat, yang secara material sudah kaya karena royalti dari rancangan sayap pesawat terbang yang terus mengalir seumur hidup, dan digambarkan sebagai sosok yang taat dan rajin beribadah, bahkan tidak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis.
Pada masanya bahkan masih sampai kini, sosok ini menjadi model bagi banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam, dengan jargon “mencetak cendekiawan yang berotak Jerman dan berhati Mekkah”. Beberapa pihak bahkan menyebut sekolahnya sebagai lembaga yang mencetak Ulil Albab. Bisa jadi karena sedikit banyak sosok Habibie waktu masa itu dianggap pantas sebagai model Ulil Albab dalam perspektif cendekiawan.
Begitulah, “ruh intelektual” dari sosok Habibie nampaknya lebih kental dikenal dari “ruh pejuang”. Makna Ulil Albab pun menyempit menjadi makna seorang cendekiawan pandai yang memiliki kesalihan personal.
Efeknya adalah lahirlah konsep2 pendidikan Islam yang berupaya memadukan kedua sisi itu dengan nama “IMTAQ dan IPTEK”, dengan ciri khas bergedung hebat, berorientasi mecusuar dan elitis alias terpisah dari masyarakatnya, sebagaimana pusat menara gading para intelektual.
Apa yang salah? Mungkin tiada yang salah, namun yang kurang adalah memunculkan “ruh perlawanan” untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain dan memperjuangkannya menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Sesungguhnya itulah esensi semangat dari Habibie muda.
Benarkah Habibie hanya seorang Intelektual atau Cendekiawan saja?
Sejak menginjakkan kaki di Jerman, yang ada di kepala Habibie adalah membuat pesawat untuk Indonesia, untuk mensejahterakan bangsanya, untuk keadilan sosial di negerinya. Hanya itu! Bukan sebagaimana cita2 para mahasiswa hasil gemblengan pendidikan berorientasi kelas pekerja, yaitu bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar.
Habibie muda sadar dengan potensinya di masa depan. Ia mendatangi pemerintah dan menawarkan untuk membangun Industri Pesawat sendiri. Mental demikian mustahil lahir dari jiwa2 yang tidak merdeka dan tidak mencintai Indonesia.
Soekarno dan pemerintahannya tidak mendengar jelas suara itu. Maka, habibie muda melakukan perlawanan. Ia bekerja di negeri Jerman, hasil karyanya begitu dihargai. Bahkan sindiran2 tentang Indonesia, seakan sirna dengan karya-karya yang dibuat oleh Habibie.
Rezim Soekarno berubah menjadi Rezim Soeharto. Nama habibie yang sudah meroket di luar negeri, membuat ketertarikan rezim pemerintahan Soeharto. Yang ingin dilakukan Soeharto adalah menjadikan Indonesia menjadi macan di asia. Maka, ia membutuhkan hal2 yang mendukung itu. Teknologi salah satunya.
Habibie pun dipanggil. Dia diminta memimpin proyek industri transportasi Indonesia. Lagi-lagi Habibie, melihat jeli masa depan Indonesia yang jaya. Ia yakin benar, bila Industri Strategis dikembangkan sedemikian rupa, maka Indonesia yang terdiri atas 17.000 kepulauan ini berubah menjadi pesat. Mantan ketua umum ICMI ini, menyadari bahwa selaiknya potensi besar negeri ini disadari.
Visi Habibie terhadap teknologi adalah agar bangsa ini berdaulat, agar pulau2 terpencil bisa terhubung dan sejahtera, agar putra bangsa bisa membuat sendiri pesawat yang murah namun canggih sesuai kebutuhan bangsa ini. Bandingkan dengan visi teknologi dari mobil nasional, robot nasional dsbnya yang hanya berorientasi industri semata.
“I have some figures which compare the cost of 1kg of airplane compared to 1kg of rice. 1kg of airplane costs $30000 and 1kg of rice is $0,07. And if you want to pay for your 1kg of high-tech products with a kg of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)
Kalimat di atas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah $30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen. Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh 4,5 juta ton beras.
Jadi Habibie sungguh-sungguh menginginkan bangsa ini berdaulat, bukan sekedar mempelajari dan membuat teknologi yang tidak ada kaitannya dengan kondisi bangsa kini dan masa depan.
Proyek pesawat terbang, gatotkaca mengguncang dunia. Barat melalui media, berupaya melunturkan semangat kebangkitan Indonesia. Bahkan, Soeharto yang arogan itu, kini menjadi musuh masa depan bagi Kapitalisme Eropa dan Amerika.
Dikisahkan, kritik terhadap permainan Korupsi terlihat. Bagaimana mudahnya cara-cara tender kotor sering dilakukan. Habibie mengkritik itu semua. Siapa yang tidak tahu semua Partai dan Pengusaha menghalalkan konspirasi tender proyek pemerintahan untuk logistik pemilu mereka.
Jujur, Indonesia tidak pernah kekurangan para Teknokrat yang memiliki kapasitas keilmuan di atas teknokrat barat. Indonesia memliki pula para Politikus ulung yang bersahaja, taqwa bahkan jenius dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Indonesia memiliki para ahli kesehatan yang sangat konsen dalam menyelesaikan krisis kesehatan dan penyakit. Bahkan, bila diberikan keleluasaan dan peluang bisa jadi Obat HIV/AIDS itu dapat ditemukan.
Potensi Indonesia ini begitu besar. Sangat besar sebesar luasnya wilayah teritorial Indonesia. Inilah pentingnya ruh perjuangan dan pembebasan atas penindasan dan penguatan kemandirian bangsa ditanamkan di sekolah-sekolah. Lihatlah bagaimana ruh intelektual berpadu dengan ruh pembebasan atas penindasan ini nampak pada sosok HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantoro, M. Hatta, Kartini dsb.
Alangkah jahatnya (bukan lucunya) para pemimpin negeri ini. Mereka kurang bersahabat dengan nurani dan tidak mensyukuri karunia ilahi atas Indonesia. Politik kotor telah jadi kebiasaan dan dihalalkan atas nama kepentingan kelompok. NeoKapitalisme telah subur dan mencengkram. Diperparah oleh sekolah dan lembaga pendidikan yang hanya berorientasi melahirkan intelektual atau kelas pekerja. Padahal sejatinya pendidikan melahirkan jiwa-jiwa pembebas penindasan negeri ini melalui beragam potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia, teknologi adalah salah satunya.
Alhasil, sampai kapanpun maka Indonesia akan jalan di tempat. Kita tidak sekedar butuh banyak habibie baru, tetapi mereka yang berani berkata benar, memberikan kemampuannya dengan keseriusan dalam membangun negeri, dan tentu negeri yang besar tidak akan melupakan Tuhannya. Maka, sepatutnya lahir para birokrat, politikus, teknokrat, ilmuwan dan akademisi serta kaum muda yang mau berjuang untuk membebaskan negeri ini karena Allah SWT
Lihatlah bagaimana Habibie dengan kecintaannya pada Technology berhasil memadukannya dengan kecintaan pada Indonesia, kecintaan pada bangsa Indonesia dan kecintaan pada keluarganya. Semuanya adalah karunia Allah swt yang mesti disyukuri secara terpadu dengan perjuangan sampai mati. Bukan kecintaan pada kelompok dan golongan, dengan mengatasnamakan cinta pada Indonesia.
Kita semua yang masih mencintai negeri ini tentu merasa sedih dan terpukul ketika menyaksikan Habibie ditemani Ainun masuk ke dalam hanggar pesawat di PTDI, menyaksikan pesawat CN235. karya anak bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa dan raga, teronggok bagai besi tua. Tiada yang berteriak membela, tiada yang peduli. Semua bungkam masa bodoh. Sambil memegang tangan Ainun, Habibie berkata: “Maafkan aku untuk waktu-waktu mu dan anak-anak yang telah kuambil demi cita-cita ini”
Sesungguhnya kita tidak sedang menangisi Habibie, tetapi sesungguhnya kita seolah sedang ditampar oleh Habibie, kita sedang menangisi diri sendiri, menangisi ketidakmampuan kita untuk menjadi seperti Habibie atau membuat pendidikan yang banyak melahirkan Habibie.
Menjadi seperti Habibie, bukan untuk menjadi intelektual seperti Beliau, namun untuk memiliki cinta murni yang sama, yaitu Cinta pada potensi unik pribadi kita, Cinta pada Bangsa ini, Cinta pada Alam Indonesia, Cinta pada Keluarga, Cinta pada Allah Swt, Cinta pada semua karunia yang ada lalu kemudian memadukannya dalam Perjuangan di Jalan Allah untuk membebaskan bangsa dan manusia demi Peradaban yang lebih adil dan damai. Habibie menyebutnya keterpaduan ini dengan Manunggal.
Habibie berkata:
”Manunggal adalah ”Compatible” atau kesesuaian, Karena dalam cinta sejati terdapat empat elemen berupa, Cinta yang mumi, cinta yang suci, cinta yang sejati dan cinta yang sempurna
Sumber : http://www.menjelma.com/2014/01/tamparan-habibie-bagi-bangsa.html

Ulama dan Umara

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".
Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I’tiqad.

Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qal’i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: “Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain”.

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari’at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi”. (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama’) berkata: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I’tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: “Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: “Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara’, dan sebaik-baik umara’ adalah orang yang mendekati ulama”. Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa’ rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: “Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur’an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara’, KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: “Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi”.

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: “Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana’ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya’bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Ditulis oleh : Henri Shalahudin (mustanir.net)