Category Archives: Catatan ku

bersyukur-kepada-allah

Ketika Kekalahan Menimpa Orang-orang Shalih

Bismillahirrahmaanirrahim

Ingin ku bertanya padamu

Telah berapa tahunkah kita bersama?

Satu, dua, tiga, atau melampai 13 tahun?
adakah engkau tetap tidak mengenalku?
atau engkau mengenalku samar-samar?
dalam malam pekat tertutup kabut?

Atau perkenalan kita seterang rembulan?
engkau mengenalku dengan sungguh mengenal,
mengetahui apa yang menjadi cita dan mimpiku
apakah engkau telah mengenalnya?

Ini adalah hari-hari yang akan sungguh sulit bagi kita..
tahun politik yang penuh ujian..

Lama tertegun dalam kalimat yang disampaikan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, terhadap peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, Ali berkata “aku tidak membunuh Utsman, dan aku tidak ingin membunuhnya, dan aku tidak pernah memerintahkan membunuhnya, tetapi akudikalahkan , dan semoga aku dan Utsman kelak di surga termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat ini “Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

Dua sahabat mulia
Enam tahun itu dilalui bersama
penuh kenangan manis akan keteguhan perjuangan
masa-masa sulit Mekkah adalah masa indah
Ali kecil samar “mendengar” Utsman
dan lalu terpisahkan lautan
laut merah
antara Mekkah dan Habasyah
waktu berlalu
ketika 8 tahun kemudian setelah perpisahan itu
dipertemukan kembali di sebuah kota baru
kini Ali telah dewasa usia mencapai 23 tahun
sesudah itu keduanya tak terpisahkan, dalam medan-medan jihad, dalam kehidupan keseharian,
saling mengenal tindak-tanduk

Hingga tibalah pada suatu masa,
Allah telah menakdirkan Utsman menjadi Khalifah,
dengan banyak tindak-tanduk yang ditenggarai tidak disepakati
adapun beberapa tindak-tanduk yang sangat penting dan krusial, sangat disepakati ALi, semisal penulisan kembali al Qur’an yang telah dibukukan dizaman Abu bakar

tetapi api perbedaan meliputi dan menggelayut
tentang cara pengelolaan negara, tentang cara-cara pengelolaan keuangan negara, tentang beberapa hukum fiqih

Api yang panas,membuat “lupa”
Lupa akan suatu kisah, bahwa surga pasti akan dimasuki Utsman
lupa bahwa apapun yang dilakukan Utsman sesudah perannya dalam perang tabuk tidak akan menimpakan bahaya bagi posisi sejati Utsman.

maka perkataan Ali bahwa “aku telah dikalahkan”
adalah suatu perkataan mendalam

dan tentang kita,
kau dan aku
apakah kita terpisah jarak yang sangat jauh, sehingga kau tak lagi mengenalku
sehingga engkau berprasangka buruk
atas buah-buah pikiran yang dianugerahkan Allah berada dalam kepalaku
atau buah pikiran itu justru ujian padaku, bagaimana ku bersikap
dan ujian padamu, bagaimana engkau bersikap
tentang perbedaan merespon peristiwa
tentang kesalahan dan kekeliruan

tentang potensi “kekalahan”
dikalahkan persepsi dan euporia peristiwa sesaat
keadaan sering mendorong pada melupakan,
siapa fulan sebenarnya?
apa hakikat sesuatu yang terjadi?

Demikianlah orang-orang shalih negeri ini, sering terkalahkan oleh persepsi
Kekalahan itu terdiri dari sikap menjauh
dari sikap tidak percaya
kekalahan yang sering berupa keluar dari gelanggang
kekalahan yang sering berwajah tak mengambil sikap

Duhai orang shalih negeri ini..
jangan kalah !
mari kita atasi dan kelola segala macam perbedaan

Mari bersinergi membangun negeri!

Disadur dari pengikatsurga.wordpress.com dengan beberapa tambahan.

Smart itu …

Seorang sahabat pernah bertanya, apa arti smart menurutmu? Pintar, cerdas. Barangkali kita semua sepakat dan sependapat jika smart diartikan demikian. Tapi mengenai kriteria, mungkin saja masing – masing kita berbeda. Ada yang mengatakan smart itu begini begitu, ada juga yang menyebutkan smart jika ini dan itu, tapi bagiku smart itu…

Bisa menjaga keseimbangan hak dan kewajiban

Seorang yang smart akan menempatkan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban, tidak juga melaksanakan kewajiban tetapi yang menjadi hak justru diabaikan. Ada kalanya memang kewajiban harus didahulukan, diutamakan, tapi ketika hak yang lebih dulu didapat tidak lantas membuat lalai akan kewajiban. Seorang yang smart mengerti bahwa setelah melaksanakan kewajiban, ada hak yang akan dia dapatkan. Seorang yang smart memahami bahwa setelah hak didapat, ada kewajiban yang harus dijalankan.

Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan

Keinginan dan kebutuhan sekilas memang sama, tapi sejatinya berbeda. Tidak semua yang diinginkan adalah termasuk kebutuhan, tapi biasanya apa yang dibutuhkan secara otomatis menjadi keinginan. Seorang yang smart dapat membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Seorang yang smart tidak akan terjebak pada budaya konsumtif yang kebablasan, selalu memenuhi apa yang diinginkan, walau sebenarnya tidak terlalu atau bahkan sama sekali tak dibutuhkan. Ia akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan dibanding keinginan.

Sebagai contoh, di era globalisasi seperti sekarang ini, tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan alat komunikasi mendorong para produsen untuk berlomba mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, salah satunya dengan menambahkan berbagai fitur dan fasilitas yang canggih pada gadget produksi mereka. Tapi orang yang smart akan teliti dalam memilih, jeli sebelum membeli. Orang yang smart tidak akan menghambur-hamburkan uang untuk membeli gadget hanya karena gengsi. Orang yang smart akan memilah gadget yang ia inginkan dan memilih sesuai yang ia butuhkan.

Bisa memilah dan memilih yang penting dan genting

Masih berkaitan dengan kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan, orang yang smart juga sanggup menetapkan pilihan penting di antara yang penting. Menggunakan skala prioritas, orang yang smart akan memilah-milah di antara yang penting, memilih yang genting dan harus diprioritaskan.

Bisa berdamai dengan keadaan dan juga kenyataan

Tidak selamanya apa yang kita inginkan, kita upayakan akan sesuai dengan kenyataan. Orang yang smart senantiasa mampu berdamai dengan keadaan, dan juga kenyataan. Ia tahu bahwa yang terbaik baginya adalah menikmati keadaan, mensyukuri kenyataan, mengupayakan keduanya untuk sesuatu yang positif dan bernilai lebih.

Selalu mencari kawan dan menghindari lawan

Selain makhluk pribadi, kita adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi. Ibarat ikan-ikan di lautan, tingginya kadar garam tak serta merta membuat tubuhnya menjadi asin, maka orang yang smart mampu membawa dan menjaga diri dalam bersosialisasi. Selalu mencari kawan dan persahabatan, menghindari lawan dan permusuhan adalah prinsip orang yang smart. Perbedaan dalam beberapa hal adalah sebuah keniscayaan, tidak selalu salah juga tidak perlu dipermasalahkan. Orang yang smart akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik, termasuk dalam hal pergaulan. Kepada orang lain ia akan berupaya untuk dekat, seperti sahabat, dan hangat layaknya kerabat.

Selalu berpikir positif dan berimajinasi kreatif

Orang yang smart tidak akan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang negatif. Orang yang smart selalu aktif dan kreatif, mengupayakan kebaikan dan juga perbaikan baik bagi diri pribadi, keluarga maupun lingkungannya. Orang yang smart tidak akan menginjak orang lain untuk menaikkan dirinya. Orang yang smart tidak akan berperilaku primitif untuk meraih cita-citanya. Orang yang smart tidak merendahkan orang lain untuk membuatnya tinggi. Dan orang yang smart tidak akan merugikan orang lain untuk keuntungan pribadi.

Selalu sabar dalam ujian dan sadar dalam perjuangan

Hidup ini tak luput dari yang namanya ujian, bahkan ada yang mengatakan hidup itu sendiri adalah ujian dan juga perjuangan. Orang yang smart tidak akan berputus asa ketika berbagai ujian datang mendera. Orang yang smart tidak akan berkeluh kesah ketika hidup harus dijalaninya dengan penuh perjuangan. Orang yang smart akan senantiasa sabar dalam setiap kesempatan dan keadaan. Orang yang smart akan selalu sadar dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Orang yang smart tidak akan mengambil jalan pintas untuk sebuah keberhasilan.

Mengakui bahwa kita adalah makhluk sempurna yang tiada sempurna

Dibanding makhluk lainnya, manusia diberikan banyak kelebihan, namun demikian ia juga mempunyai kekurangan. Orang yang smart senantiasa mensyukuri apa yang menjadi kelebihannya, dan menjadikan kekurangan sebagai pengingat bahwa di atas langit masih ada langit, kita bisa merasa satu-satunya tapi tak boleh merasa segala-galanya. Orang yang smart mengakui bahwa masih ada orang lain yang lebih dari kita, dan meyakini bahwa di atas semuanya ada yang Maha Segala-galanya

***

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Disadur dari tulisan Abi Sabila dengan sedikit penambahan tanpa mengubah pesan-pesan.

Ibu, Aku Tak Mau Jadi Pahlawan

Sebuah sekolah yang di sana aku menitipkan pendidikan Indah anakku, untuk persiapan masa depannya. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuknya.

Di sekolahannya, teman sekelasnya ada 50 orang murid. Setiap kenaikan kelas, anak perempuanku ini selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orang tua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya anak kami menjawab:

“Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru”.

“TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab:

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK? Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai. Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu:

SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : Indah! (ANAKKU!)

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya lantas bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, nak”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab:

“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dengan senyum yang teduh nan manis, anakku melanjutkan perkataannya, “Ibu, Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya,

Mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang berhati baik dan jujur?

(Disadur dari sharing peer group Madrasah Peradaban dengna beberapa penyesuaian tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan)

ok

Tamparan Habibie Bagi Bangsa Indonesia

Sudah membaca buku kisah “Ainun dan Habibie” atau bahkan sudah menonton filmnya? Mungkin kebanyakan anda lebih tertarik dan tersentuh dengan kisah romantis kesetiaan sepasang suami istri, namun justru yang saya rasakan di sepanjang tulisan dalam buku dan film, adalah sebuah pertunjukan “peperangan” dari seorang anak bangsa kepada kebijakan pemerintahnya yang tidak berdaulat dan “tamparan” bagi budaya bangsanya yang tidak mandiri di atas tanah airnya sendiri.
TS contoh-kan, bagaimana tidak mandirinya Indonesia yg menjadi budak ditanah airnya sendiri.
Pada paruh tahun 80an akhir, sosok Habibie menjelma menjadi idola dan simbol sosok intelektual yang shalih. Seorang intelektual yang mumpuni diakui dunia barat, yang secara material sudah kaya karena royalti dari rancangan sayap pesawat terbang yang terus mengalir seumur hidup, dan digambarkan sebagai sosok yang taat dan rajin beribadah, bahkan tidak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis.
Pada masanya bahkan masih sampai kini, sosok ini menjadi model bagi banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam, dengan jargon “mencetak cendekiawan yang berotak Jerman dan berhati Mekkah”. Beberapa pihak bahkan menyebut sekolahnya sebagai lembaga yang mencetak Ulil Albab. Bisa jadi karena sedikit banyak sosok Habibie waktu masa itu dianggap pantas sebagai model Ulil Albab dalam perspektif cendekiawan.
Begitulah, “ruh intelektual” dari sosok Habibie nampaknya lebih kental dikenal dari “ruh pejuang”. Makna Ulil Albab pun menyempit menjadi makna seorang cendekiawan pandai yang memiliki kesalihan personal.
Efeknya adalah lahirlah konsep2 pendidikan Islam yang berupaya memadukan kedua sisi itu dengan nama “IMTAQ dan IPTEK”, dengan ciri khas bergedung hebat, berorientasi mecusuar dan elitis alias terpisah dari masyarakatnya, sebagaimana pusat menara gading para intelektual.
Apa yang salah? Mungkin tiada yang salah, namun yang kurang adalah memunculkan “ruh perlawanan” untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain dan memperjuangkannya menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Sesungguhnya itulah esensi semangat dari Habibie muda.
Benarkah Habibie hanya seorang Intelektual atau Cendekiawan saja?
Sejak menginjakkan kaki di Jerman, yang ada di kepala Habibie adalah membuat pesawat untuk Indonesia, untuk mensejahterakan bangsanya, untuk keadilan sosial di negerinya. Hanya itu! Bukan sebagaimana cita2 para mahasiswa hasil gemblengan pendidikan berorientasi kelas pekerja, yaitu bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar.
Habibie muda sadar dengan potensinya di masa depan. Ia mendatangi pemerintah dan menawarkan untuk membangun Industri Pesawat sendiri. Mental demikian mustahil lahir dari jiwa2 yang tidak merdeka dan tidak mencintai Indonesia.
Soekarno dan pemerintahannya tidak mendengar jelas suara itu. Maka, habibie muda melakukan perlawanan. Ia bekerja di negeri Jerman, hasil karyanya begitu dihargai. Bahkan sindiran2 tentang Indonesia, seakan sirna dengan karya-karya yang dibuat oleh Habibie.
Rezim Soekarno berubah menjadi Rezim Soeharto. Nama habibie yang sudah meroket di luar negeri, membuat ketertarikan rezim pemerintahan Soeharto. Yang ingin dilakukan Soeharto adalah menjadikan Indonesia menjadi macan di asia. Maka, ia membutuhkan hal2 yang mendukung itu. Teknologi salah satunya.
Habibie pun dipanggil. Dia diminta memimpin proyek industri transportasi Indonesia. Lagi-lagi Habibie, melihat jeli masa depan Indonesia yang jaya. Ia yakin benar, bila Industri Strategis dikembangkan sedemikian rupa, maka Indonesia yang terdiri atas 17.000 kepulauan ini berubah menjadi pesat. Mantan ketua umum ICMI ini, menyadari bahwa selaiknya potensi besar negeri ini disadari.
Visi Habibie terhadap teknologi adalah agar bangsa ini berdaulat, agar pulau2 terpencil bisa terhubung dan sejahtera, agar putra bangsa bisa membuat sendiri pesawat yang murah namun canggih sesuai kebutuhan bangsa ini. Bandingkan dengan visi teknologi dari mobil nasional, robot nasional dsbnya yang hanya berorientasi industri semata.
“I have some figures which compare the cost of 1kg of airplane compared to 1kg of rice. 1kg of airplane costs $30000 and 1kg of rice is $0,07. And if you want to pay for your 1kg of high-tech products with a kg of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)
Kalimat di atas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah $30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen. Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh 4,5 juta ton beras.
Jadi Habibie sungguh-sungguh menginginkan bangsa ini berdaulat, bukan sekedar mempelajari dan membuat teknologi yang tidak ada kaitannya dengan kondisi bangsa kini dan masa depan.
Proyek pesawat terbang, gatotkaca mengguncang dunia. Barat melalui media, berupaya melunturkan semangat kebangkitan Indonesia. Bahkan, Soeharto yang arogan itu, kini menjadi musuh masa depan bagi Kapitalisme Eropa dan Amerika.
Dikisahkan, kritik terhadap permainan Korupsi terlihat. Bagaimana mudahnya cara-cara tender kotor sering dilakukan. Habibie mengkritik itu semua. Siapa yang tidak tahu semua Partai dan Pengusaha menghalalkan konspirasi tender proyek pemerintahan untuk logistik pemilu mereka.
Jujur, Indonesia tidak pernah kekurangan para Teknokrat yang memiliki kapasitas keilmuan di atas teknokrat barat. Indonesia memliki pula para Politikus ulung yang bersahaja, taqwa bahkan jenius dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Indonesia memiliki para ahli kesehatan yang sangat konsen dalam menyelesaikan krisis kesehatan dan penyakit. Bahkan, bila diberikan keleluasaan dan peluang bisa jadi Obat HIV/AIDS itu dapat ditemukan.
Potensi Indonesia ini begitu besar. Sangat besar sebesar luasnya wilayah teritorial Indonesia. Inilah pentingnya ruh perjuangan dan pembebasan atas penindasan dan penguatan kemandirian bangsa ditanamkan di sekolah-sekolah. Lihatlah bagaimana ruh intelektual berpadu dengan ruh pembebasan atas penindasan ini nampak pada sosok HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantoro, M. Hatta, Kartini dsb.
Alangkah jahatnya (bukan lucunya) para pemimpin negeri ini. Mereka kurang bersahabat dengan nurani dan tidak mensyukuri karunia ilahi atas Indonesia. Politik kotor telah jadi kebiasaan dan dihalalkan atas nama kepentingan kelompok. NeoKapitalisme telah subur dan mencengkram. Diperparah oleh sekolah dan lembaga pendidikan yang hanya berorientasi melahirkan intelektual atau kelas pekerja. Padahal sejatinya pendidikan melahirkan jiwa-jiwa pembebas penindasan negeri ini melalui beragam potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia, teknologi adalah salah satunya.
Alhasil, sampai kapanpun maka Indonesia akan jalan di tempat. Kita tidak sekedar butuh banyak habibie baru, tetapi mereka yang berani berkata benar, memberikan kemampuannya dengan keseriusan dalam membangun negeri, dan tentu negeri yang besar tidak akan melupakan Tuhannya. Maka, sepatutnya lahir para birokrat, politikus, teknokrat, ilmuwan dan akademisi serta kaum muda yang mau berjuang untuk membebaskan negeri ini karena Allah SWT
Lihatlah bagaimana Habibie dengan kecintaannya pada Technology berhasil memadukannya dengan kecintaan pada Indonesia, kecintaan pada bangsa Indonesia dan kecintaan pada keluarganya. Semuanya adalah karunia Allah swt yang mesti disyukuri secara terpadu dengan perjuangan sampai mati. Bukan kecintaan pada kelompok dan golongan, dengan mengatasnamakan cinta pada Indonesia.
Kita semua yang masih mencintai negeri ini tentu merasa sedih dan terpukul ketika menyaksikan Habibie ditemani Ainun masuk ke dalam hanggar pesawat di PTDI, menyaksikan pesawat CN235. karya anak bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa dan raga, teronggok bagai besi tua. Tiada yang berteriak membela, tiada yang peduli. Semua bungkam masa bodoh. Sambil memegang tangan Ainun, Habibie berkata: “Maafkan aku untuk waktu-waktu mu dan anak-anak yang telah kuambil demi cita-cita ini”
Sesungguhnya kita tidak sedang menangisi Habibie, tetapi sesungguhnya kita seolah sedang ditampar oleh Habibie, kita sedang menangisi diri sendiri, menangisi ketidakmampuan kita untuk menjadi seperti Habibie atau membuat pendidikan yang banyak melahirkan Habibie.
Menjadi seperti Habibie, bukan untuk menjadi intelektual seperti Beliau, namun untuk memiliki cinta murni yang sama, yaitu Cinta pada potensi unik pribadi kita, Cinta pada Bangsa ini, Cinta pada Alam Indonesia, Cinta pada Keluarga, Cinta pada Allah Swt, Cinta pada semua karunia yang ada lalu kemudian memadukannya dalam Perjuangan di Jalan Allah untuk membebaskan bangsa dan manusia demi Peradaban yang lebih adil dan damai. Habibie menyebutnya keterpaduan ini dengan Manunggal.
Habibie berkata:
”Manunggal adalah ”Compatible” atau kesesuaian, Karena dalam cinta sejati terdapat empat elemen berupa, Cinta yang mumi, cinta yang suci, cinta yang sejati dan cinta yang sempurna
Sumber : http://www.menjelma.com/2014/01/tamparan-habibie-bagi-bangsa.html

Ulama dan Umara

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".
Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I’tiqad.

Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qal’i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: “Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain”.

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari’at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi”. (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama’) berkata: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I’tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: “Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: “Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara’, dan sebaik-baik umara’ adalah orang yang mendekati ulama”. Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa’ rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: “Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur’an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara’, KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: “Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi”.

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: “Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana’ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya’bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Ditulis oleh : Henri Shalahudin (mustanir.net)

Siapa Jodoh Kita di Surga?

DALAM ayat Al Qur’an maupun hadits nabawi disebutkan bahwasanya pria yang shalih di surga kelak akan didampingi/beristrikan para bidadari (huurul ‘ ain), lalu bagaimana dengan para wanita yang masuk surga?

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:

  1. Dia meninggal sebelum menikah.
  2. Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
  3. Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
  4. Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
  5. Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
  6. Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:

- Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga.

Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah – ’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi.

Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga. Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘ anhu-: “Tidak ada seorangpun bujangan dalam surge.”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177,“ Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:

31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.“ Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Fushshilat: 31)

Dan juga dari firman Allah -Ta ’ala: “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya. ” (Az-Zukhruf: 71)

Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas.”

Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta ’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan.”

- Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.

- Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin-berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan. Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘ alaihi wasallam- bersabda: “Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir.” (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)

Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:

“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surge,” (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199). [fadhlihsan]

sumber : islampos

Sakit itu Penyeimbang

Sakit itu penyeimbang. Agar manusia mampu memetik ibrah tentang nikmat sihat, dan tentang syukur. Namun sakit dan sihat bagi Allah itu sama saja, semua keadaan Allah inginkan bukti bahwa seberapa besar hambaNya mempertahankan dan meningkatkan ketaqwaan kepadaNya. Ketika sakit pun akhirnya menjadi penyeimbang rasa, di sana ada sunnatullaah yang sedang berjalan. Dalam sakit Allah seolah hendak berbisik ‘hei manusia, kau ni makhluk lemah. Kepada siapa mau bersandar jika bukan kepadaKu?’.

Tak hanya itu, dalam sakit juga ada kehendak Allah yang tersembunyi atas hambaNya.  Sakit, dalam bentuknya yang lain, itu harus disyukuri karena itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”

Allah memerintahkan :

  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau pe­nyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh Allah,” (HR Bukhari-Muslim).

“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya,” (HR Ath-Thabarani).

“Penyakit panas itu menjaga tiap mu’min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun,” (HR Al-Qadha’i).

Begitu sayangnya Allah kepada kita, maka ketika sakit pun tak sepatutnya kita berkeluh kesah. Ya, ucapkanlah syukur. Alhamdulillaah ‘ala kulli hal…. alhamdulillaah.. alhamdulillaah…

Mendidik Tanpa Emansipasi

MENDIDIK TANPA EMANSIPASI
(REFLEKSI PERJUANGAN RAHMAH EL-YUNUSIYYAH DALAM PENDIDIKAN)
Oleh: Sarah Larasati Mantovani

ABSTRAK

Sejak awal,Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu dan berpendidikan tinggi, asalkan ia tidak melupakan kewajibannya sebagai perempuan, seperti Rahmah El-Yunusiyyah yang mendirikan perguruan Diniyyah Puteri School Padang Panjang. Sebagai perempuan, Rahmah sangat tahu dan memahami posisi kaumnya saat itu yang masih sulit mendapatkan ilmu pengetahuan dan akses pendidikan. Namun, ia tidak pernah putus asa, ia berusaha memahamkan masyarakat saat itu dengan membangun sekolah khusus perempuan. Ia juga ingin menunjukkan pada masyarakat di daerahnya bahwa pendidikan mempunyai arti yang sangat penting bagi perempuan. Ia menyadari benar, mendidik seorang perempuan seperti mendidik sebuah keluarga, terlebih perempuan akan menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya kelak. Membangun sekolah khusus perempuan bukan berarti Rahmah ingin ada persamaan hak dalam segala bidang, seperti yang dilakukan pejuang emansipasi.Karena itu, Rahmah tetap memasukkan pendidikan keperempuanan dalam kurikulum sekolahnya, seperti kerumahtanggaan dan menjahit. Seorang pendidik juga bukan hanya sekadar mengajarkan teori, melainkania harus mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Sebagai pendidik dan pengajar, Rahmah mampu menjadikan dirinya sebagai telada.Ia juga mampu memadukan pendidikan keperempuanan dengan pendidikan formal dan memadukan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. Inilah yang disebut dengan mendidik tanpa emansipasi, yaitu mendidikperempuan agar tetap pada fitrahnya, pada jalur yang semestinya.

Kata Kunci: Pendidikan, Perempuan, Emansipasi

ABSTRACT

Since the beginning, Islam has never prohibited a woman to be knowledgeable and high educated. As long as, she does not forget her duties as a woman, such as Rahmah El-Yunusiyyah who has founded the college of Diniyyah Puteri School Padang Panjang. As a woman, Rahmah really knew and understood the position of her people in west Sumatra while it was still difficult to obtain knowledge and access to education because of the indigenous ban. However, she is never give up, she tried to make the society at that time understand by building a school for girls. She also wanted to show people surrounded her that education had a very important meaning for women. She truly realized that educating a woman was like educating a family, moreover a woman would become a mother for her children someday. Building a school for girls does not mean Rahmah wants equal rights in all fields like fighters emancipation did. Therefore, Rahmah keeps including womanhood education in her school curriculum, such as domesticity and sewing. An educator should not only teach the theory, but also he or she should be able to educate their students to be faithful and pious people. As an educator and a teacher, Rahmah is able to make herself a role model, she is also able to combine feminity (womanhood) with formal education and integrate religious sciences with general sciences. This is called educating without emancipation – educating women to remain in their nature, the track.

Keywords: Education, Woman, Emancipation

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sejak awal,Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu dan berpendidikan tinggi, asalkan ia tidak melupakan fitrahnya sebagai perempuan. Seperti yang dilakukanRahmah El-Yunusiyyah, ia tidak segan menimba ilmu pada para ulama Minangkabau saat itu.Bahkan menurut Hamka, Rahmahlah pelopor perempuan belajar agama.

Rahmah menyadari pendidikan sangat penting artinya bagi perempuan. Terlebih, saat itu masih banyak perempuan di daerahnya yang belum mendapatkan pendidikan seperti yang ia rasakan. Atas dasar inilah, ia mendirikan sekolah khusus perempuan dengan model pesantren. Tidak lupa, ia memasukkan pendidikan keperempuanan dalam kurikulum sekolahnya agar perempuan tidak melupakan hak dan kewajibannya.

Kontribusi dan perjuangan Rahmah yang begitu besar puntidak lepas dari sorotan para feminis.Oleh mereka, ia diklaim sebagai tokoh emansipasi, salah satunya seperti dalam sebuah jurnal yang diterbitkan institusi agama Islam negeri di Jawa Tengah,ia digambarkan sebagai sosok wanita yang prokesetaraan gender, padahal Rahmah tidak seperti demikian. Sebagaimana ini terlihat pada 1 Februari 1937, ia mendirikan Kulliyatul Mu’allimat El-Islamiyah (KMI), sekolah yang didirikan untuk mempersiapkan  guru agama wanita karena menurut Rahmah, guru adalah pekerjaan yang sesuai dengan kodrat wanita.

PEMBAHASAN

  1. A.    Sekilas Tentang Rahmah El-Yunusiyyah

Rahmah lahir di Padang Panjang, 29 Desember 1900.Ia merupakan bungsu dari lima bersaudara.Rahmah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat adat dan agama. Walaupun adat sangat kuat, keluarganya tidak mempertentangkan antara adat dan agama. Jika terdapat pertentangan antara adat dan agama maka aturan agama yang mereka utamakan.Karena begitu kuatnya pengaruh agama dalam lingkungan keluarganya, Rahmah tidak disekolahkan di luar lingkungan rumahnya.

Di Surau Jembatan Besi, Rahmah dan ketiga temannya (Rasuna Said, Nanisah,dan Djawana Basjir) belajar fikih, tasawuf, bahasa Arab, ilmu falak, sejarah Islam, tauhid dan tafsir al-Qur’an. Pada Syaikh Abdul Karim Amrullah juga Rahmah memperdalam masalah agama dan perempuan secara privat di rumahnya di Gatangan.

Bersama dengan kakak perempuannya, Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri.Murid-murid pertamanya saat itu berjumlah 71 orang yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu rumah tangga muda, dengan pelajaran diberikan setiap hari selama tiga jam di sebuah Masjid Pasar Usang, Padang Panjang, dengan sistem halaqah.Dalam perkembangannya, sekolah ini menjadi pesantren dan hanya menerima murid perempuan yang belum menikah.

Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri karena selain ingin memajukan pendidikan perempuan, khususnya pendidikan agama.Ia melihat banyak masalah hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan tidak dibahas mendalam oleh guru-guru di daerahnya. Menurutnya, segala hal yang berkaitan dengan perempuan perlu dikaji agar perempuan tahu akan hak dan kewajibannya.

Tidak hanyaDiniyyah Puteri, Rahmah juga mendirikan lembaga pendidikan Menyesal School untuk kaum Ibu yang belum bisa baca-tulis, kemudianFreubel School (taman kanak-kanak), Junior School (setingkat HIS), Diniyah School Puteri 7 tahun secara berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (4 tahun), dan Tsanawiyah (3 tahun).

  1. B.     Mendidik Dengan Metode 3M

Selain mempelajari ilmu-ilmu agama, Rahmahmempelajari ilmu-ilmu lain yang berguna untuk diajarkan pada murid-murid perempuannya kelak, seperti ilmu kesehatan dan kebidanan yang kemudian menjadikannya sebagai seorang bidan,juga olahraga seperti senam dan renang.

Karena bagi Rahmah, guru tidak hanya dipersiapkan menguasai satu bidang ilmu saja, tetapi juga harus menguasai ilmu-ilmu yang lain.Maka,oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daudinilah yang disebut dengan tradisi keilmuan Islam. Tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat spesialisasi buta. Ilmuwan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang ilmu.

Kemudian saat Rahmah menjadi guru, ia tidak hanya sekadar membagi atau mengajarkan ilmu yang sudah ia pelajari dan pahami pada murid-muridnya, namun lebih dari itu. Kunci mendidik Rahmah terletak pada 3M, yaitu mendidik denganketeladanan, mendidik bukan hanya mengajar, dan mendidik tanpa emansipasi, yang akan dijelaskan pada poin-poin berikut:

  1. Mendidik Dengan Keteladanan

Sebelum maupun sesudah menjadi guru, Rahmah telah banyak memberikan keteladanan, tidak hanya pada anak-anak didiknya, namun juga masyarakat sekitar.Iabanyak memberikan keteladanan melalui kepribadian dan perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Salah satunya keteladanan itu adalah kedisiplinan.Ia selalu memberi contoh pada murid-muridnya bagaimana disiplin itu harus dijalankan dan dipatuhi, seperti jadwal kegiatan sejak bangun tidur pukul 05.00 pagi sampai tidur kembali pukul 22.30.

Kemudian,saat Rahmah harus ditahan oleh Belanda karena menentang kebijakan Belanda yang melarang memasukkan kurikulum Islam ke dalam sekolah dan harus menerapkan pendidikan secara sipil.Kepribadiannya yang sabar dan pantang menyerah juga ia buktikan saat sekolah yang baru tiga tahun didirikannya runtuh oleh gempa pada 1926, beliau tidak putus asa dan bangkit kembali mencari dana bantuan bersama pamannya hingga ke Selat Malaka.

Menurut Mohammad Natsir yang pernah dekat dengan Rahmah, Rahmah tidak mempunyai sifat buruk sangka kepada orang lain. Dalam dirinya tidak terdapat sifat ananiyah, yaitu sifat egois yang mementingkan diri sendiri.Selain itu, ia mempunyai kepribadian yang sederhana, lemah lembut, dan tawadhu.

  1. Mendidik Bukan Hanya Mengajar

Menurut Rahmah, guru bukan hanya sebagai pengajar, namun ia juga merupakan seorang pendidik. Fauziah Fauzan, cicit Rahmah yang kini Pimpinan Diniyyah Puteri School pernah menyampaikan,

guru adalah pengajar dan pendidik. Oleh karenanya, guru hendaklah mampu melaksanakan kedua fungsi tersebut dengan seimbang dan optimal dalam menyiapkan generasi.

Sebagai pendidik, Rahmah ingin menunjukkan bahwa mendidik bukan hanya mengajarkan teori, melainkan lebih dari itu.Seorang pendidik harus mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang beriman dan bertakwa.

  1. Mendidik Tanpa Emansipasi

Meski menolak pembatasan mencari ilmu bagi perempuan,Rahmah tidak menyetujui emansipasi seperti yang digaungkan oleh feminis.Rahmah ingin perempuan tetap pada fitrahnya dan anak didiknya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.Karena itu,  ia tetap memasukkan pendidikan rumah tangga, seperti menjahit, memasak, dan keterampilan rumah tangga lainnya ke dalam kurikulum sekolahnya.

Ini terlihat saat materi kurikulum sekolahnya sarat dengan berbagai mata pelajaran (sehingga jumlah pelajaran dalam satu minggu mencapai 45 jam). Mengingat pentingnya pelajaran keterampilan dan kerumahtanggaan maka pelajaran tersebut oleh Rahmah diberikan pada sore harinya.

Karena menurut Rahmah, masyarakat bisa baik bila rumah tangga dari masyarakat tersebut juga baik karena rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam.Ia menginginkan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangganya, masyarakat, dan sekolah. Menurut Rahmah, hal ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

  1. C.    Konsep Pendidikan Adab Rahmah

Berdasarkan tujuan pendirian Diniyyah Puteri yang ingin membentuk putri  berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air  atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.

Maka,Rahmah jugamemasukkan pelajaran Adab dalam kurikulum sekolahnya, hal ini terlihat pada1928, dimana kelas satu hingga kelas enam Ibtidaiyah (sekolah dasar) mendapatkan pelajaran Adab.

Pelajaran Adab merupakan pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan.Imam Abu Hamid Al-Ghazali menafsirkan adab sebagai pendidikan diri jasmani dan rohani (ta’dib al-zahir wa’l batin) yang meliputi empat perkara: perkataan, perbuatan, akidah,dan niat seseorang. Maka, proses untuk melahirkan insan mulia ini dikatakan ta’dib atau pendidikan dalam Islam.

Menurut sarjana-sarjana terdahulu, kandungan ta’dib adalah akhlak.Hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh hadis Nabi yang menyatakan bahwa misinya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan proses pendidikan yang sebenarnya karena ia memasukkan empat ciri penting pendidikan:

  1. 1.      Proses penyempurnaan insan secara berperingkat (al-tarbiyah).
  2. 2.      Pengajaran dan pembelajaran (al-ta’lim wa’l ta’allum), yaitu bertumpu pada aspek kognitif, kecerdasan, dan akidah seorang murid.
  3. 3.      Disiplin diri (riyadah al-nafs) yang meliputi jasad, ruh, dan akal.
  4. 4.      Proses penyucian dan pemurnian akhlak (tahdhib al-akhlaq).

Mengingat pentingnya pelajaran Adab ini maka pada 1933, kelas satu hingga kelas tiga Tsanawiyah (sekolah mengenah pertama) juga mendapat pelajaransama.

SIMPULAN

Pada saat kurikulum studi gender masih diterapkan di beberapa perguruan tinggi, salah satunya perguruan tinggi Islam negeri, Rahmah dengan sekolah yang didirikannya mempu mengintegrasikan, menyatukan, dan menerapkan pendidikan umum, pendidikan agama, serta pendidikan keperempuanan dalam satu kurikulum dan sistem pesantren. Sehingga, bisa disimpulkan, Diniyyah Puterilah pelopor integrasi tiga pendidikan tersebut.

Sebagai seorang guru, Rahmah mendidik para muridnya dengan akhlak yang bisa dijadikan teladan, seperti kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, kesederhanaan, dan sikap optimistis.Keteladanan akhlak inilah yang hilang dari banyak guru saat ini.

Kemudian,Rahmah juga mampu mendidik tanpa emansipasi,tanpa menuntut kesetaraan gender bagi perempuan dalam segala bidang kehidupan.Ia merasa perlu mendidik tanpa emansipasi karena menyadari pentingnya peran perempuan sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak.

Selain itu, apa yang dilakukan Rahmah El-Yunusiyyah sejalan dengan keinginanmantan Rektor Unissula Semarang, M. Rofiq Anwar, yaitu ingin melahirkan anak-anak dididiknya menjadi generasi khairu ummah, yaitu generasi yang berpotensi memimpin dunia untuk kerahmatan. Ciri-ciri khairuummah adalah mereka selalu mengajak kepada iman dan senantiasa mengembalikan manusia kepada iman.

PUSTAKA RUJUKAN
BUKU

- Burhanuddin, Jajat dan Fathurrahman, Oman. 2004. Tentang Perempuan Islam: Wacana danGerakan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
- Djaja, Tamar. 1980. Rohana Kudus Srikandi Indonesia : Riwayat Hidup dan Perjuangannya,Penerbit Mutiara, Jakarta.
Hamka.Ayahku. 1967. Penerbit Djajamurni, Jakarta.
- Husaini, Adian. 2012. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab,Cakrawala Publishing, Jakarta.
- M. Kamaluddin, Laode. 2010. On Islamic Civilization : Menyalakan Kembali LenteraPeradaban Islam yang Sempat Padam, Unissula Press dan penerbit Republikata Tangerang, Semarang.
- Noer, Deliar. 1982. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Pustaka LP3ESIndonesia, Jakarta.
- Rasyad, Aminuddin. 1982.Disertasi Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang : 1923-1978, Suatu Studi Mengenai Perkembangan Sistem Pendidikan Agama, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta.
- Sugihastuti, Sastriyani, Siti Hariti. 2007. Glossarium Seks dan Gender, Caravasti Books,Yogyakarta.
- Mohd Wan Daud, Wan. 2009. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib AlAttas, Mizan, Bandung.
- Yunus, Mahmud.1960. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara Sumber Widya,Jakarta.
- Zaidi, Ismail, Mohammad dan Suhaimi, Wan Abdullah Wan. 2012. Adab dan Peradaban:Karya Peng’itirafan Untuk Syed Muhammad Naquib Al-Attas, MPH Publishing, Malaysia.

JURNAL

Wahyuni, Devi. 2009. “Kebijakan Kepemimpinan Perempuan Dalam Pendidikan Islam(Refleksi Atas Kepemimpinan Rky Rahmah El Yunusiyah Sebagai Syaikhah Pertama di Indonesia)” dalam Jurnal Sawwa No. 2 Vol. III, tahun 2009

Sumber : http://thisisgender.com/mendidik-tanpa-emansipasi/

Al-Qur'an - Penghibur Jiwa

Jangan Matikan Aku Sebelum Hafal Al Qur’an

Tepatnya tanggal 5 Oktober 2008 – seorang gadis kecil Indonesia mengalami musibah yang luar biasa di negeri antah berantah nan jauh – Syria. Dia terjatuh dari ketinggian sekiar 15 meter dan terbanting-banting di anak tangga ampiteater Roma di Busrah. Akibat kecelakaan ini gadis kecil tersebut mengalami pendarahan otak yang sangat hebat, dia harus menjalani berbagai pembedahan otak dan merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya sampai berbulan-bulan kemudian. Pada saat pendarahan masih menguasai otaknya sehingga kesadarannya timbul tenggelam, gadis kecil ini lirih berdoa :
“Ya Allah, jangan matikan aku sebelum aku selesai menghafal Al-Qu’ran…”.
Dengan tekad yang luar biasa inilah gadis kecil tersebut berjuang melawan sakit di kepala yang tidak kunjung henti, terkadang dia harus menjeduk-jedukkan kepalanya di tempat tidur untuk mengimbangi rasa sakit yang sangat di dalam kepalanya.
Beratnya komitmen untuk menghafal Al-Qur’an yang dialami oleh gadis kecil ini juga jauh diatas beban manusia pada umumnya, betapa frustasinya dia ketika hafalan ayat-ayat Al-Qur’an seolah timbul tenggelam di kepalanya silih berganti dengan rasa sakit yang bisa tiba-tiba muncul kapan saja. Tetapi dia terus belajar dan terus menghafal nyaris tanpa henti, dia hanya berhenti menghafal ketika sakit kepalanya sudah tidak tahan lagi.
Allah dan para malaikat rupanya menyaksikan betapa kuat niat gadis kecil ini untuk menghafal Al-Qur’an. Pada bulan Mei 2010 oleh ustadzah-nya dia dibimbing untuk menyelesaikan ujian tahfiz setengah Al-Qur’an (15 Juz) dengan seorang syeikh Qura di Damascus.
Gadis kecil ini-pun lulus dan memperoleh syahadah (ijazah) sanad bacaan Al-Qur’an yang sampai kepada Ali bin Abi Talib Radhiallahu ‘Anhu, dan tentu saja sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam.
Tidak berhenti di sini, gadis kecil tersebut mencanangkan niatnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an penuh 30 juz pada Ramdhan 1432 H. Maka target ini hanya meleset kurang lebih 3 pekan ketika pada tanggal 19 Syawwal 1432 H /19 September 2011 kemarin gadis kecil ini menyelesaikan hafalannya yang 30 juz, diiringi sujud syukur orang tuanya. Allahu Akbar…
Atas permintaan kedua orang tuanya yang tawadhu’, saya tidak bisa ungkapkan nama gadis kecil ini. Tetapi bagi para gadis kecil – gadis kecil lainnya yang belajar Al-Qur’an di Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin Lil-Inaats (Pesantren Putri) – Jonggol, gadis kecil penghafal Al-qur’an ini kini menjadi salah satu guru atau mudarrisah ( ustadzhah) mereka.
Bahkan bukan hanya bagi anak-anak putri yang belajar Al-qur’an di madrasah tersebut dia menjadi guru, gadis kecil penghafal Al-qur’an ini juga layak untuk menjadi guru bagi kita semua para orang tua.
Guru dalam hal menyikapi musibah, guru dalam hal menghadirkan Allah dalam mengatasi persoalan kita, guru dalam mengisi hidup dengan Al-Quran, guru dalam merealisasikan niat, guru dalam menjaga komitment, guru dalam syukur dan syabar.
Bila gadis kecil dengan beban sakit kepala yang luar biasa ini bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an-nya 30 Juz dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, berapa banyak yang sudah kita hafal ?, berapa banyak yang kita niatkan untuk menghafalnya di sisa usia kita ?, seberapa kuat niat kita untuk mengamalkannya? Kita tahu persis jawabannya untuk diri kita masing-masing.
Maka memang tidak berlebihan kalau saya menyebut gadis kecil itu kini sebagai Sang Guru…!. Semoga Allah dan para malaikatNya terus mendampingimu hingga dewasa dan menjadi guru dan sumber inspirasi untuk memperbaiki anak-anak (dan para orang tua) dunia.  (sumber:http://www.pusatalquran.com)
nikah 3

Menikahlah

Sekedar berbagi nikmat yang dikaruniakan Allah, sekaligus menguatkan Mukmin yang menikah betul-betul karena Allah. Jangan pikir nikah itu mudah, dan jangan pikir semua indah. Justru sesudah nikah sebaliknya malah, harus lebih sabar dan istiqamah. Tapi tentu juga nggak sesulit yang dikatakan, yang jelas perlu ilmu dan keikhlasan

Saya jadi Muslim tahun 2002 dan baru 2006 menikah. Jadi 4 tahun ditempa dan bersabar sebelum menikah. Selama 4 tahun itulah saya halqah, dakwah, dan dibebani amanah, belajar jadi pemimpin di organisasi, bersiap untuk hari depan.

Niat saya menikah di tahun 2002 setelah Muslim kandas, karena kedua orangtua merasa saya belum pantas. Maka dari 2002 itulah saya serius menyiapkan diri bukan hanya untuk menikah, memburu ilmu menjadi seorang imam, suami dan ayah.

Semua buku keteladanan Rasul sebagai suami saya lahap, juga belajar dari senior dakwah yang sudah menikah dan jadi teladan. Alhamdulillah tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Dakwah menghantarkan saya berjumpa Ummu Alila.

Dengan uang 1,5 juta di tangan berikut 5 juta hibah papi-mami, majulah saya ke jenjang pernikahan yang sudah dinanti. Setelah menikah hasilnya luar biasa, tak terduga. 1,5 juta hanya cukup sampai 2 bulan saja.

Bulan ke-3 saya dan Ummu Alila gelandangan tunakarya. Biasanya cari kerja begitu mudah, Allah uji saya apply kerja kemana-mana ditolak. Sampai-sampai Ummu Alila yang sudah biasa jadi guru les privat, terpaksa saya terjunkan lagi untuk apply bantu cari duit.

Walhasil, Ummu Alila yang sudah 4 tahun berpengalaman jadi guru privat, juga ditolak ketika apply di 2 perusahaan, behh… rasanya. “Ini ujian Allah”, saya sampaikan pada Ummu Alila, sementara tagihan-tagihan bulanan terus berdatangan tak peduli.

Pagi pergi bawa map apply kerja sampai sore, pulang Ummu Alila menanti dan kita tetep kere. Akhirnya pas 3.5 bulan setelah nikah menjelang lebaran, Allah memberikan jua yang dinanti-nanti, penghasilan. Nggak tanggung-tanggung, saya jadi pedagang emas, waktu itu oktober 2006, dan emas yang saya jual emas kawin Ummu Alila.

Saya inget betul, emas kawin berupa gelang dan beberapa cincin, laku 2.3 juta kita jual di Toko Emas “Cong”, Gabus, Pati Jawa Tengah. Kita jalani lagi hidup dari hasil jualan emas kawin namun justru Ummu Alila bertambah menawan 

Jujur saya malu jadi suaminya Ummu Alila saat itu, nggak mampu menafkahi lahir dengan mencukupi, tapi Ummu Alila selalu menguatkan komitmen nikahnya, “ummi akan selalu mendukung dan menurut pada abi”

Tentu sebagai suami saya tidak berdiam diri, segala koneksi dihubungi, cara dicoba, namun Allah rupanya masih kehendak menguji. Ditengah-tengah semua itu saya mendapatkan kabar gembira, Ummu Alila hamil! masyaAllah saktinya saya. “Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan”, terngiang-ngiang ayat Allah, terasa begitu istimewa berbarengan kabar itu, “aku akan jadi seorang abi!”

Kita periksakan kehamilannya setiap minggu, walau uang untuk makan saja tak cukup seminggu. Ketika pemeriksaan yang kedua, dokter berkata “ehm.. (something wrong nih), pak, bu, saya menemukan keanehan pada kehamilan. Kehamilan ibu disinyalir “blighted ovum”. Langsung lemes saya, nggak perlu tau artinya saya langsung lemes.

“Janinnya hampir 2 bulan pak, tapi nggak bertumbuh dan nggak ada detak jantung”, kali ini saya bener-bener lemes. Kita cari 3 dokter kehamilan untuk second dan third opinion, semua sama, bayi yang ada di perut Ummu Alila sudah tak bernyawa.

Sepulang dari 3 dokter dan beberapa kali pemeriksaan medis Ummu Alila kontan menangis agar bisa terima realita. Anaknya harus dikuret, perlu uang 3 juta lagi. Pertanyaannya dari mana? tabungan nggak ada? kerjaan nggak punya? MasyaAllah ternyata turunnya bantuan sekali lagi lewat papi-mami. Kita dikasi pinjeman lunak (nggak tau sampe kapan bayarnya) 3 juta.

Kebayang nggak malunya lelaki? sudah nikah masih merepotkan orangtua? Rasanya nggak ada harganya, bener-bener hina. Sepulang Ummu Alila dikuret, kita jatuh bangkrut lagi. Apalagi yang mau dijual? Masak mas kawin cincin juga mau dijual?

Saya lupa ceritakan, saat nikah Ummu Alila punya motor honda impressa. Dia beli second dengan harga 6 juta. Motor itulah yang juga saya jual, honda impressa bobrok tapi motor dakwah, sudah ratusan kilo mengantar saya dakwah. Honda impressa tahun 2000, laku 3 juta saja sudah ok.

Sering saya dan Ummu Alila mengais-ngais laci mencari keping-keping 500, melengkapi lembar ribuan lusuh buat ditukar nasi padang. Anak nggak jadi punya, penghasilan nggak ada, sedih sih iya tapi nggak sempet depresi, kita masih inget Allah.

Halaqah terus dilanjut setiap minggunya, darimana uang bensin? Alhamdulillah saat itu saya dibayar 50.000/bulan mengajar kajian kitab. Bahkan tahun 2007 saya dapat jatah zakat. “Lix, ini saya ada uang 400 ribu buat antum, semoga manfaat”. Terdiam saya. Terdiam bukan apa tapi mikir, mau nerima malu nggak nerima perlu. Akhirnya saya jawab “Jazakallah, Allah balas yang lebih baik”.

Dari situ saya mengetahui Allah memang Maha Memberi Rezeki, dan kebanyakan lewat tangan orang lain yang jarang kita syukuri. Adakalanya saya berpikir “bener nggak jalan yang sudah saya pilih? jalan dakwah?” Apalagi saat ketemu sanak saudara yang udah kaya. Ada yang sudah jadi kepala cabang, ada yang sudah jadi manager, sementara Felix? yang masuk Islam itu? gelandangan!

“Terlalu idealis sih!” “kamu aneh sih, asuransi nggak mau, bunga nggak mau”. Liat mereka sudah mapan semua, minder rasanya. Namun ketika bertemu dengan para ustadz kembali diingatkan, “Terus kalau udah punya semua mau apa? inget Lix, bedain mana sarana mana tujuan!”

Sampai suatu hari saya masih inget juga, ada anak baru pindahan dari bogor ke JKT. Saya ajak nemenin saya ngisi di senen. Di boncengan motor belakang saya dia bilang, “Mas, terus kalo mas nggak kerja dan dakwah mulu, keluarga makannya gimana?”. Saya berusaha tenang, “Bukannya nggak mau kerja mas, mungkin Allah belum kasih (dalam hati saya mengingat semua penolakan kerja). Tapi yakin deh, Allah pasti kasih jalan”. Saya menutup diskusi itu, getir.

Sore itu dia menemani saya, jadi MC di acara kajian salah satu STIE di senen. Waktu itu materinya “The Way To Belief”. Sepulang kajian, direktur operasionalnya menemui saya, “Ustadz Felix mau ngajar disini?”

Kayak disiram air, dihati bersorak, Alhamdulillah, “Bisa pak, insyaAllah bisa”. “Ustadz Felix bisa ngajar apa?”. “Apa aja pak!”. Ngajar Matematika Dasar bisa pak?”. “InsyaAllah pak, kapan mulainya?”. “Besok interview ya pak!”. Ya Allah, secercah harapan.

Sepulangnya saya mampir di kramat kwitang, buku second murah, beli “Matematika Dasar” seharga 25.000, saya pelajari ulang. Kelak modal 25.000 itulah saya jadi dosen favorit Matematika Dasar dan mengantongi 2 juta honor pertama saya bulan depannya. Allah selalu kasih jalan selama Dia masih izinkan kita hidup. Kalau sudah nggak dikasi berarti Allah pengen ketemu kita  simpel kan?.

Singkat cerita, waktu demi waktu kehidupan semakin membaik, ada jalan selama ada sabar, dan usaha terbaik. Menikah pasti banyak halangan dan hambatan, karenanya ilmu agama wajib jadi bekal kedepan. Penuhi kewajiban kepada Allah, juga penuhi hukum sebab-akibat di dunia.

Lelaki yang memahami agama, tentu nggak akan lemah terhadap dunia. Uang bisa dicari bila ada ilmunya, ketidakpastian di masa depan pernikahan jadi ringan karena paham agama. Dengan ilmu ujian jadi pelajaran, dengan ilmu kesulitan jadi penguat keimanan.

Singkat cerita, hari ini berlalu sudah 5 tahun semenjak saya jual motor istri saya. Alhamdulillah hari ini saya bisa mengganti motor Ummu Alila, tunai tanpa leasing, ganti motor yang terjual karena lemahnya saya.

felix

Hari ini bukan motor yang jadi cerita, tapi ucapan terimakasih atas segenap cinta. Terimakasih Ummu Alila atas kesabaran dan penerimaan, atas kesempatan boleh memimpinmu dalam jalan kehidupan. Demikian Allah beri ganti 4 anak atas 1 yang diambil, 3 di foto 1 di kandungan, dan kenikmatan tiada tara.

(Kisah Ustadz Felix Siauw).