Category Archives: Catatan ku

Metode Cerdas Dalam Menghukum Anak

Hadiah Bagi Para Orang Tua: Metode Cerdas Dalam Menghukum Anak ๏‘ถ
Cara cerdas untuk menjadikan “perang” antara anak dengan orang tua menjadi: Antara anak dengan kesalahannya sendiri.

Seorang ibu berkata:
“Saya punya dua anak, pertama berusia enam tahun dan kedua sembilan tahun. Saya sampai bosan menghukum mereka saking seringnya. Semuanya seolah tidak ada gunanya. Kira-kira apa yang harus saya lakukan?”
Saya berkata:
“Sudah mencoba metode memilih hukuman?”
Dia menjawab: “Saya tidak tahu. Bagaimana?”
Saya berkata: “Sebelum saya jelaskan idenya, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perangai anak yang kita sepakati. Yaitu: Setiap jenjang usia memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak kita akan membutuhkan berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, Anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan hasilnya positif sekali.
Sebelum kita menerapkan metode ini, kita harus memastikan apakah anak sengaja ataukah tidak melakukan kesalahan tersebut, agar nantinya pelajaran yang kita berikan memberikan manfaat.
Jika tidak sengaja, maka tidak perlu diberi hukuman, cukup ingatkan saja apa kesalahannya.
Adapun jika kesalahannya terulang terus atau sengaja, maka kita bisa memberinya pelajaran dengan berbagai metode, diantaranya: Tidak memberikannya hak-hak istimewa, atau memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan dan jangan memukul.
Kita juga bisa menggunakan metode memilih hukuman. Idenya begini:
Kita minta dia untuk merenung dan memikirkan tiga hukuman yang akan dia ajukan kepada kita. Katakanlah misalnya: Tidak mendapat uang saku, atau tidak boleh main ke rumah teman selama sepekan, atau handphone miliknya disita.
Lalu kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.
Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua…contohnya: Tidur, atau diam selama satu jam atau membersihkan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.
Saya mengenal beberapa keluarga yang telah mencobanya dan ternyata sukses. Sebab ketika seorang anak memilih hukumannya sendiri, kita telah menjadikannya berperang melawan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya disamping kita bisa menjaga ikatan kasih sayang orang tua dengan anak.

Selain itu kita juga telah menghormati pribadinya dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.
Ibu itu menyela: “Tapi, tidak menutup kemungkinan hukuman yang diajukan tidak bisa mengobati kemarahanku.”
Saya menjawab: “Kita wajib membedakan antara mengajar dengan menghajar. Tujuan memberi pelajaran adalah meluruskan perangai anak. Ini butuh kesabaran, pengawasan, komunikasi dan arahan yang berkesinambungan.
Adapun kita teriak-teriak di hadapannya atau memukulnya dengan keras, ini adalah menyiksa bukan mendidik. Ketika kita menghukum anak, kita tidak menghukum mereka sesuai kadar kesalahan, namun kita memberikan hukuman lebih, sebab disertai oleh kemarahan. Disebabkan banyaknya tekanan atas diri kita, akhirnya anak yang menjadi korban. Karena itulah kita menyesal setelah menghukumnya. Emosi membuat kita lupa diri, sebab itu ketika telah tenang kita menyesal telah tergesa-gesa.”

Kemudian saya berkata kepada ibu itu:
“Saya tambahkan hal penting, yaitu ketika Andaย  berkata kepada anak Anda: Masuk kamar, merenung dan pikirkan lah tiga hukuman yang akan ibu pilih untukmu”, sikap seperti ini merupakan pendidikan. Sebab ia akan menjadi komunikasi batin antara anak yang telah melakukan kesalahan dengan dirinya sendiri. Ini bagus untuk meluruskan perangai dan introspeksi diri, selain termasuk pembelajaran yang memberikan hasil.”
Ibu itu berkata: “Demi Allah, ide yang cerdas. Saya akan coba.”
Saya berkata: “Saya sendiri telah mencobanya dan berhasil. Banyak juga keluarga yang saya ketahui mencobanya dan berhasil.
Penghargaan kepada anak tetap ada selama itu dalam rangka memberikan pelajaran.

Ibu itu pun pergi dan kembali sebulan kemudian. Dia berkata: “Metode itu sukses. Sekarang saya jarang emosi. Mereka sendiri yang memilih hukuman. Saya berterima kasih atas ide ini. Tapi saya mau bertanya dari mana Anda mendapatkan ide luar biasa ini?”
Saya menjawab: “Dari metode Al-Quran. Sesungguhnya Allah memiliki perumpamaan paling tinggi. Allah memberikan tiga pilihan kepada orang yang melakukan kesalahan dan dosa, seperti perintah dalam kafarat sumpah dan lainnya, yaitu: Memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Pilihan bagi pelaku kesalahan ini merupakan metode yang luar biasa.”
Ibu itu berkata: “Jadi ini adalah metode pendidikan Al-Quran.”
Saya berkata: “Benar, Al-Quran dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan luar biasa untuk memperbaiki perilaku manusia, kecil dan besar. Sebab Allah yang telah menciptakan jiwa-jiwa. Dia Maha Mengetahui apa yang pantas mereka dan apa metode yang sesuai untuk meluruskan dan menjaganya.”

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๏Œน๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๏Œน๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๏Œน๏Œน๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Inspirative Housewife Story

agastya harjunadhi:

Ilmu adalah petunjuk. Dengannya Allah karuniakan inspirasi, komitmen. Dengannya Allah mudahkan kesabaran, dan lapangkan hidayah kepada siapa saja yang Allah kehendaki termasuk pada seorang ibu yang berkomitmen dalam membina dan membangun peradaban. Apa itu peradaban? Teman-teman bisa cek di tulisan saya sebelumnya. Lalu salah satu implementasi konkretnya dalam kehidupan kita adalah seperti paparan artikel ini. Selamat membaca..

Originally posted on Pojok Biru:

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, thatโ€™s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife. Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah

View original 1,422 more words

Definisi Adab dan Peradaban

Adab adalah kata dasar yang membangun konstruksi peradaban. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adab memiliki definisi adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: Contoh kalimat : Ayahnya terkenal sebagai orang yg tinggi — nya; berยทaยทdab; mempunyai adab; mempunyai budi bahasa yg baik; berlaku sopan.

Maka kata adab dalam contoh kalimat lain adalah seperti ini >> Perbuatannya seperti kelakuan orang yang tidak ~;

Adab juga didefiniskan sebagai sebuah keadaan yang telah maju tingkat kehidupan lahir batinnya. Contoh : bangsa-bangsa yg telah ~; mengยทaยทdabi v memperlakukan dengan sopan; menghormati: sebagai orang sopan kita harus ~ sesama manusia;

Kata adab dengan tambahan pe-an maka menjadi >> perยทaยทdabยทan n 1 kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya; 2 hal yg menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa;

Kata adab dengan tambahan me-kan menjadi >> memยทperยทaยทdabยทkan; ialah mengusahakan supaya beradab; meningkatkan taraf hidup; membudayakan: Pemerintah berusaha ~ suku-suku bangsa terasing; keยทaยทdabยทan n ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin; kebaikan budi pekerti (budi bahasa dsb): melanggar ~ manusia.

Secara sederhana maka, ketika melihat orang yang berlaku tidak seperti / tidak sesuai dengan definisi adab di atas, disebut tidak beradab atau dalam bahasa Yunani ditambah bi menjadi biadab.

**

Ukuran sopan setiap orang juga berbeda. Ini dipengaruhi oleh standarisasi dan ukuran keilmuan yang difahami dan diyakini. Ideologi yang menjadi keyakinan pun akan sangat memberikan pengaruh terhadap standar kesopanan suatu peradaban.

Kita sebagai muslim, tentu menggunakan cara pandang hidup peradaban sesuai dengan nilai Islam. Dari sanalah standarisasi bisa kita sepakati dan bisa kita nilai sejauh mana kita telah menjadi manusia yang beradab, atau sebaliknya. :)

Insya Allah next artikel lebih dalam kupas tuntas tentang adab, peradaban Islam dan perbandingannya dengan barat. Semoga dimudahkan oleh Allah.

Tebet, 27 Okt 2014
@agastyaharjuna

Anak Sukses? Bermula dari Bangun Pagi

Orang tua mana yang tak menginginkan anak-anaknya sukses? Orantua mana yang tak menginginkan putra putrinya menjadi pribadi yang unggul? Berikut ini ada tips untuk para orang tua dan calon orangtua dalam mendidik putra-putrinya menjadi generasi terbaik insya Allah.

1| Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dgn kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk)

2| Kebiasaan bangun pagi hendaklah dimulai dari usia dini. Peran Ayah amat dinanti. Ayah yg peduli tak abai dalam urusan bangun pagi buah hati

3| Jika anak terbiasa bangun siang. Maka keberkahan hidup melayang. Aktivitas ruhani menjadi jarang. Perilaku menjadi jalang

4| Mulailah dengan malam yang berkualitas. Anak tidak terjaga di ambang batas. Harus buat peraturan tegas. Kapan terjaga dan kapan pulas

5| Sehabis isya jangan ada aktivitas fisik berlebihan. Upayakan aktivitas yang menenangkan. Membaca atau bercerita yg berkesan

6| Biasakan berbagi perasaan. Mulai dengan cerita aktivitas harian. Evaluasi jika ada yang tidak berkenan. Sekaligus sarana pengajaran

7| Buat kesepakatan bangun jam berapa. Lantas anak mau dibangunkan bagaimana. Jadikan ini sebagai modal membangunkan di pagi harinya

Tutuplah aktivitas malam dengan dengarkan tilawah. Agar anak tidur membawa kalimat Allah Pemberi Rahmah. Terekam dalam memorinya sepanjang hayah

9| Pagi pun datang. Jalankan kesepakatan yang dibuat sebelum tidur menjelang. Bangunkan anak penuh kasih sayang. Bangunkan dengan cara yg ia bilang

10| Jika anak menolak tuk beranjak, ingatkan akan kesepakatan semalam. Anak siap terima konsekuensi tanpa diancam. Batasi kesenangan yg ia idam

11| Bangunkan anak dengan kalimat Ilahi. Agar paginya diberkahi. Jika perlu adzan di telinga kanan dan kiri. Bisikan dengan lembut tembus ke hati

12| Jika ia segera bangun, jangan lupa apresiasi. Hadiahi dengan doa dan kecupan di pipi. Tak lupa bertanya tentang mimpi. Anak butuh transisi

13| Jika anak telah terjaga, siapkan aktivitas olah jiwa dan raga. Agar fisik anak bergerak tak kembali ke kasur yg menggoda. Mudah-mudahan jadi pola

14| Jalankan pola ini minimal 2 pekan. Agar lama-lama jadi kebiasaan. InsyaAllah anak bangun pagi dengan kesadaran. Sebab tubuhnya telah menyesuaikan

15| Jika ayah tak sempat membangunkan, karena harus segera ke kantor kejar setoran, mintalah ibu berganti peran. Agar anak tak merasa diabaikan

16| Jangan sampai anak tumbuh remaja, punya kebiasaan yang tidak mulia. Bangun pagi selalu tertunda. Sholat shubuh di waktu dhuha. Banyak melamun tak ada guna

17| Jika terlanjur anak bangun kesiangan. Buatlah rencana bersama pasangan. Konsisten dan tidak saling menyalahkan. Fokus kepada upaya perbaikan

18| Sebelum terlambat, segera bertindak cepat. Agar masa depan anak selamat. Fokuslah kepada perbaikan pola tidur yg sehat

19| Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami

20| So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi. Selamat beraksi

Oleh : Ajo Bendri Jaysyurrahman

Ilmu, Baitul Hikmah dan Peradaban Islam

Karakter dari peradaban Islam adalah menyebarkan kebaikan seluas-luasnya untuk seluruh penduduk dunia. Dari titik kecil di jazirah Arab, dalam kurun 100 tahun mampu meluas hingga Eropa Timur sampai perbatasan Cina.
Islam tidak mengenal penjajahan, melainkan futuhat. Futuhat artinya penerangan dan pencerahan. Selama 100 tahun (sampai kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz), wilayah yang masuk ke dalam futuhat Islam menjadi tercerahkan.

Seluruh wilayah yang hidup dalam futuhat Islam menyaksikan kebaikan kepemimpinan umat Islam. Selama 700 tahun setelahnya, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menyamai atau menggantikan kekuatan Islam. Barat yang menggantikan posisi kepemimpinan ini tertatih-tatih dalam menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam. Mereka butuh waktu hingga 500 tahun hanya untuk menerjemahkannya.
Buku kedokteran karya Fakhrudin Ar-Razi dipakai di Prancis selama 400 tahun.
Ilmuwan Eropa mengatakan: Kami mengalami Renaissance (pencerahan). Mereka mengakui bahwa sebelumnya berada dalam kondisi kegelapan, dan baru tercerahkan setelah menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam.
Sayangnya, Barat hanya mengambil aspek keduniaan saja, ilmu agamanya (ruhiyah) ditinggalkan.

Seluruh masyarakat dunia merasakan manfaat atas kepemimpinan umat Islam. Bukan hanya umat Islam saja, namun juga ahlu dzimmah (nonmuslim yang hidup dalam wilayah kekuasaan Islam). Bahkan, kuda tua yang sudah tidak terurus dan kucing liar yang telantar pun dipelihara oleh Muslimin melalui dana wakaf.

Orang Eropa manusiawi saat mereka berada di wilayah Eropa. Di luar wilayah Eropa mereka kehilangan kemanusiaannya.

Namun Islam berbeda dengan Eropa. Risalah Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik di mana pun dan kapan pun.

Continue reading

Hijrah, Ruang Perubahan

Seluruh permukaan Bumi adalah medan Hijrah, dan seluruh ruang waktu adalah MOMENTUM berhijrah.

HIJRAH adalah ENERGI perubahan hidup menuju kelapangan dan kesenangan. TIDAK BERHIJRAH berarti hidup sampai mati dalam tempurung kegelapan.

BERHIJRAH adalah ritual membuka pintu rahmat MAHA PENCIPTA SEMESTA, TIDAK BERHIJRAH akan hidup tertatih-tatih.

Berhijrah adalah proses hidup menjadi orang SUKSES, karena sudah beruntung sejak langkah pertamanya.

Jiwa orang berhijrah tak akan pernah TERKUBUR, spiritnya seperti air mengalir Yang Suci dan Mensucikan.

Ya Allah …
Kami telah yaqin …
Dari ENGKAU kami berasal, dan kepada ENGKAU jua pasti kami kan kembali.

(Bachtiar Nasir)

Maka, kepada setiap insan mari berjalan. Walau kira kita apa yang kita tinggalkan adalah terangnya dunia.. mari haqqul yaqin memperjalankan jiwa kita menuju kepada benderangnya akhirat..

Salam hijrah 1436
@agastyaharjuna
MM, 25 Okt 2014

Dusta, Pintu Kehancuran Sebuah Bangsa

Ketika Pak Habibie ditanya: Lebih suka jadi presiden atau bikin pesawat?

Beliau menjawab:

Saya lebih suka bikin pesawat. Semua rasional dan tidak ada pikiran yang tidak jujur dan tidak transparan, karena jikalau ada manipulasi, pesawat terbang akan jatuh!

***

Manipulasi dan ketidak jujuran pada pesawat akan membawa dampak instan, langsung kelihatan akibatnya. Makanya tidak ada orang yang berani manipulasi dan dusta dalam membuat pesawat.

Beda dengan memimpin sebuah negara, sekalipun dustanya sudah menyesak sampai ke langit dan ke dasar bumi, mengeruhkan seluruh air laut, mengotori seluruh udara, namun dampaknya tidak akan langsung terasa.

Oleh karena itu, orang tidak segan dan malu berdusta dalam masalah ini. Bahkan tidak ada kecemasan dan ketakutan. Padahal kehancuran sebuah pesawat, bahkan seribu pesawat sekalipun tidaklah lebih berbahaya daripada hancurnya sebuah bangsa atau peradaban.

Sementara dusta dapat merusak dan memporak porandakan sendi-sendi akhlak atau moral anak bangsa. Dan bila akhlak itu sudah hilang maka tidak ada arti keberadaan fisik sebuah peradaban.

Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Ahmad Syauqi:

ุฅู†ู…ุง ุงู„ุฃู…ู… ุฃุฎู„ุงู‚ ู…ุง ุจู‚ูŠุช ูุฅู† ู‡ู…ูˆ ุฐู‡ุจุช ุฃุฎู„ุงู‚ู‡ู… ุฐู‡ุจูˆุง

Sebuah peradaban itu akan tetap terjaga eksistensinya selama akhlaknya masih ada. Apabila akhlaknya telah lenyap maka lenyap pulalah peradaban itu.

Bagaimana kabar bangsaku? Bagaimana kabar akhlak dan adab bangsaku? Bagaimana kabar kepemimpinan ilmu dan agama bangsaku? Masihkah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ini dijunjung tinggi? Masihkah Persatuan Indonesia menjadi sebuah harga yang harus dijaga? Masihkah Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan menjadi haluan kepemimpinan? Sudahkah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ini terpenuhi?

Empat hari sudah, kepemimpinan baru negeri ini berjalan. Namun pesona kerja dan kinerja yang membangkitkan semangat perbaikan tak kunjung datang Justru kerugian beratus bahkan milyar terbilang. Diawal, justru kedustaan telah nampak mengambang.

Benar lho ternyata.. kita ini tidak cukup hanya sekedar menjadi orang jujur, tapi kita harus melawan ketidakjujuran itu. Jangan biarkan, jangan diamkan, apalagi ikut mendukung dan membenarkan.

Kalau tidak, kita akan kehilangan generasi, kita akan kehilangan bangsa, kita akan kehilangan peradaban.

**
Disarikan dari pesan brodkes, disesuaikan tanpa mengurangi makna yang sebenarnya.

Mega Mendung, 24 Oktober 2014.
@agastyaharjuna

Dosa Tak Akan Terhapus dari Lembaran Catatan Amal

Dosa kita tak akan terhapus sekalipun taubat kita telah diterima oleh Allah.
Al-Hafizh Ibnu Rojab rohimahulloh:

Berkata al-al-Hasan (al-Bashri):

“Maka seorang hamba yang berbuat dosa, kemudian dia bertaubat, dan memohon ampun: maka akan diberikan ampunan baginya, akan tetapi dosa-dosa itu tak kan terhapus dari catatannya sebelum dihadapkan kepadanya, kemudian ditanyakan kepadanya, kemudian al-Hasan pun menangis sejadi-jadinya, seraya berkata: dan kalaulah sekiranya kita tidak menangis kecuali karena malu terhadap tempat tersebut (yakni yaumul hisab, pent) , tentulah sepantasnya bagi kita untuk menangis.”

๎Œ„ Dan berkata Bilal bin Sa’ad:

“Sesungguhnya Alloh akan mengampuni semua dosa, akan tetapi tidak akan menghapusnya dari catatan amal hingga dia dihadapkan kepada pemiliknya di hari kiamat sekalipun dia telah bertaubat (darinya). “

๎Œฎ Berkata Abu Huroiroh rodhiallohu ‘anhu:

“Alloh akan mendekatkan setiap hamba di hari kiamat, maka akan diletakkan pada hamba tersebut sayapnya (malaikat), sehingga menutupi hamba tersebut dari makhluk-makhluk semuanya, dan menyodorkan kepada hamba tersebut catatan amalnya di balik sayap tersebut, dan berkata: bacalah wahai anak Adam catatanmu, kemudian dia pun membacanya, dan melintasi catatan kebaikan sehingga menjadi putih bersinar lah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi gembira karenanya, maka Alloh pun berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, kemudian Alloh berfirman: sesungguhnya Aku menerimanya darimu, maka sujudlah dia, kemudian Alloh berfirman: angkatlah kepalamu dan kembalilah kepada catatan amalmu, maka dia pun membacanya hingga melewati catatan kejelekan, maka menjadi menghitamlah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi takut karenanya, dan bergetarlah seluruh tubuhnya, dan mulailah dia malu kepada Robb nya apa yang tidak diketahui oleh lainnya, kemudian Alloh berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, wahai Robb ku, dan Alloh berfirman: sungguh telah Aku ampuni dosa-dosa itu untukmu, maka dia pun bersujud, dan tidak ada makhluk yang melihatnya kecuali sujudnya hingga satu sama lainnya saling bersahutan mengatakan: berbahagialah bagi setiap hamba yang tidak pernah berbuat maksiat kepada Alloh sedikitpun, dan mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dalam perjumpaan antara hamba tersebut dengan Robb nya dari apa yang telah dihadapkan kepadanya.”

๎€ฒ Dan berkata Abu ‘Utsman an-Nahdiy dari Salman:

📈 setiap orang akan diberi catatan amalnya di hari kiamat, maka dia pun membaca bagian atasnya, dan ternyata dia jumpai kejelekan-kejelekannya, dan dikala itu hampir-hampir saja dia berburuk sangka, dia pun melihat ke bagian bawahnya, dan ternyata didapati kebaikan-kebaikannya, kemudian dia melihat di bagian atasnya, dan ternyata telah diganti dengan catatan kebaikan-kebaikan.”

📚 Jami’ul ‘ulum wal hikam hal. 453.

__

๎„ฃ ุงู„ุฐู†ูˆุจ ู„ุง ุชู…ุญู‰ ู…ู† ุงู„ุตุญูŠูุฉ ุญุชู‰ ูŠูˆู‚ูู‡ ุนู„ูŠู‡ุง ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆุฅู† ุชุงุจ…

๎„Ÿ ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธ ุงุจู† ุฑุฌุจ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ :

๎Œ… ู‚ุงู„ ุงู„ุญุณู† :
ูุงู„ุนุจุฏ ูŠุฐู†ุจุŒ ุซู… ูŠุชูˆุจุŒ ูˆูŠุณุชุบูุฑ: ูŠุบูุฑ ู„ู‡ุŒ ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠู…ุญุงู‡ ู…ู† ูƒุชุงุจู‡ ุฏูˆู† ุฃู† ูŠู‚ูู‡ ุนู„ูŠู‡ุŒ ุซู… ูŠุณุฃู„ู‡ ุนู†ู‡ุŒ ุซู… ุจูƒู‰ ุงู„ุญุณู† ุจูƒุงุก ุดุฏูŠุฏุงุŒ ูˆู‚ุงู„: ูˆู„ูˆ ู„ู… ู†ุจูƒ ุฅู„ุง ู„ู„ุญูŠุงุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ุงู„ู…ู‚ุงู…ุŒ ู„ูƒุงู† ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู†ุง ุฃู† ู†ุจูƒูŠ.

๎Œ„ ูˆู‚ุงู„ ุจู„ุงู„ ุจู† ุณุนุฏ :
ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุบูุฑ ุงู„ุฐู†ูˆุจุŒ ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠู…ุญูˆู‡ุง ู…ู† ุงู„ุตุญูŠูุฉ ุญุชู‰ ูŠูˆู‚ูู‡ ุนู„ูŠู‡ุง ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆุฅู† ุชุงุจ.

๎Œฎ ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ :
ูŠุฏู†ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุจุฏ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉุŒ ููŠุถุน ุนู„ูŠู‡ ูƒู†ูู‡ุŒ ููŠุณุชุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงุฆู‚ ูƒู„ู‡ุงุŒ ูˆูŠุฏูุน ุฅู„ูŠู‡ ูƒุชุงุจู‡ ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุณุชุฑุŒ ููŠู‚ูˆู„: ุงู‚ุฑุฃ ูŠุง ุงุจู† ุขุฏู… ูƒุชุงุจูƒุŒ ููŠู‚ุฑุฃุŒ ููŠู…ุฑ ุจุงู„ุญุณู†ุฉ ููŠุจูŠุถ ู„ู‡ุง ูˆุฌู‡ู‡ุŒ ูˆูŠุณุฑ ุจู‡ุง ู‚ู„ุจู‡ุŒ ููŠู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡: ุฃุชุนุฑู ูŠุง ุนุจุฏูŠุŸ ููŠู‚ูˆู„: ู†ุนู…ุŒ ููŠู‚ูˆู„: ุฅู†ูŠ ู‚ุจู„ุชู‡ุง ู…ู†ูƒุŒ ููŠุณุฌุฏุŒ ููŠู‚ูˆู„: ุงุฑูุน ุฑุฃุณูƒ ูˆุนุฏ ููŠ ูƒุชุงุจูƒุŒ ููŠู…ุฑ ุจุงู„ุณูŠุฆุฉุŒ ููŠุณูˆุฏ ู„ู‡ุง ูˆุฌู‡ู‡ุŒ ูˆูŠูˆุฌู„ ู„ู‡ุง ู‚ู„ุจู‡ุŒ ูˆุชุฑุชุนุฏ ู…ู†ู‡ุง ูุฑุงุฆุตู‡ุŒ ูˆูŠุฃุฎุฐู‡ ู…ู† ุงู„ุญูŠุงุก ู…ู† ุฑุจู‡ ู…ุง ู„ุง ูŠุนู„ู…ู‡ ุบูŠุฑู‡ุŒ ููŠู‚ูˆู„: ุฃุชุนุฑู ูŠุง ุนุจุฏูŠุŸ ููŠู‚ูˆู„: ู†ุนู…ุŒ ูŠุง ุฑุจุŒ ููŠู‚ูˆู„: ุฅู†ูŠ ู‚ุฏ ุบูุฑุชู‡ุง ู„ูƒุŒ ููŠุณุฌุฏุŒ ูู„ุง ูŠุฑู‰ ู…ู†ู‡ ุงู„ุฎู„ุงุฆู‚ ุฅู„ุง ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุญุชู‰ ูŠู†ุงุฏูŠ ุจุนุถู‡ู… ุจุนุถุง: ุทูˆุจู‰ ู„ู‡ุฐุง ุงู„ุนุจุฏ ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ูŠุนุต ุงู„ู„ู‡ ู‚ุทุŒ ูˆู„ุง ูŠุฏุฑูˆู† ู…ุง ู‚ุฏ ู„ู‚ูŠ ููŠู…ุง ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุฑุจู‡ ู…ู…ุง ู‚ุฏ ูˆู‚ูู‡ ุนู„ูŠู‡.

๎€ฒ ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุนุซู…ุงู† ุงู„ู†ู‡ุฏูŠ ุนู† ุณู„ู…ุงู† : ูŠุนุทู‰ ุงู„ุฑุฌู„ ุตุญูŠูุชู‡ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉุŒ ููŠู‚ุฑุฃ ุฃุนู„ุงู‡ุงุŒ ูุฅุฐุง ุณูŠุฆุงุชู‡ุŒ ูุฅุฐุง ูƒุงุฏ ูŠุณูˆุก ุธู†ู‡ุŒ ู†ุธุฑ ููŠ ุฃุณูู„ู‡ุงุŒ ูุฅุฐุง ุญุณู†ุงุชู‡ุŒ ุซู… ู†ุธุฑ ููŠ ุฃุนู„ุงู‡ุงุŒ ูุฅุฐุง ู‡ูŠ ู‚ุฏ ุจุฏู„ุช ุญุณู†ุงุช.

📚 [ุฌุงู…ุน ุงู„ุนู„ูˆู… ูˆ ุงู„ุญูƒู…ุŒ (ูคูฅูฃ) ]

โœฐ ~ Al-‘Ilmu | ุงู„ุนู„ู… 🌠

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. [Rahmat Idris]

Smoga mnjadi bahan renungan dan pembelajaran. (Hilman Rosyad S.)

Ulama dan Akhlaq

Imam Adz-Dzahabi berkata: โ€œPenuntut ilmu yang datang di majelis Imam Ahmad 5.000 orang atau lebih, 500 menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliauโ€.
(Syiar Aโ€™lamunnubalaโ€™:11/316).

Berkata Abu Bakar Bin Al-Muthowiโ€™i: โ€œSaya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anakยฒnya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliauโ€.
(Siyar Aโ€˜lamunNubalaโ€™:11/316).

Berkata Sufyan bin Saโ€™id Ats-Tsauri-rohimahulloh-: โ€œMereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahunโ€.
(Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361).

Berkatalah Abdullah bin Mubarak-rohimahulloh-: โ€œAku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmuโ€. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446).

Dan beliau juga berkata: โ€œHampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmuโ€. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120).

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rohimahulloh-): โ€œMereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmuโ€. (Hilyah: 17. Jamiโ€™li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Samiโ€™ 1/49).

Berkata Abdulloh bin Mubarok: โ€œBerkata kepadaku Makhlad bin Husain-rohimahulloh-: โ€œKami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit drpd hadits walaupun banyakโ€.
(Jamiโ€™ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Samiโ€™ 1/80).

Mengapa demikian ucapan para ‘Ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yg masuk kepada seseorang yg memiliki adab yg baik akan bermafaat baginya & kaum muslimin.

Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari-rohimahulloh-:
โ€œIlmu tanpa adab spt api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu spt jasad tanpa ruhโ€. (Jamiโ€™ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Samiโ€™ 1/80)

Saya pernah menyampaikan ini di beberapa kesempatan pertemuan bahwa ilmu tanpa didahului adab, ia lemah, bagai orang buta dan bahkan percuma. Kepintaran yang diperolehnya justru menggelincirkan diri sendiri dan berdampak kerusakan kepada orang lain.

Bagi insan muslim, mukmin, muslih, muhsin.. akhlaq yang baik adalah wajib. Itulah kenapa rasul sawa mengisyaratkan “Qul khairan aw liyasmuth”, karena akhlaq ucapan yang baik didengarkan oleh seluruh manusia. Dan beginilah bagaimana cara berdakwah mendahulukan kebaikan menuju tahapan-tahapan kebenaran.

Mempelajari dan berakhlaq yang baik bahkan menurut ulama mendahului pentingnya berilmu itu sendiri. Rasulullaah shalallaahualayhi wasallaam telah mencontohkan, sebelum diutus menjadi rasul beliau terlebih dahulu meneladankan akhlaqul kariimah selama 40 tahun hingga beliau wafat.

Wallaahualam bishawab. (Tebet, A.H 10/10/2014)