<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mujahid Kecil</title>
	<atom:link href="http://agastya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agastya.wordpress.com</link>
	<description>..berbagi hikmah..</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 09:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agastya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mujahid Kecil</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agastya.wordpress.com/osd.xml" title="Mujahid Kecil" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agastya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keadilan yang penuh hikmah</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/keadilan-yang-penuh-hikmah/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/keadilan-yang-penuh-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 14:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Tadabbur pada kamis malam, 22 Desember 2011 dimulai pada pukul 20.00 wib. Materi pertemuan ini adalah lanjutan dari materi pertemuan kamis malam minggu lalu, yaitu tentang cerita nenek moyang kita, Adam as dan Hawa yg tercantum dalam surat 2 : 36. Namun pembukaan dimulai dengan sebuah pertanyaan out of topic, yang rasanya Ustad Bachtiar Nasir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=765&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ombak-lautan.jpg"><img class="size-medium wp-image-771 alignleft" title="ombak-lautan" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ombak-lautan.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Tadabbur pada kamis malam, 22 Desember 2011 dimulai pada pukul 20.00 wib. Materi pertemuan ini adalah lanjutan dari materi pertemuan kamis malam minggu lalu, yaitu tentang cerita nenek moyang kita, Adam as dan Hawa yg tercantum dalam surat 2 : 36.</p>
<p>Namun pembukaan dimulai dengan sebuah pertanyaan <em>out of topic</em>, yang rasanya Ustad Bachtiar Nasir (UBN) memang ingin menyampaikan hikmah pada setiap insan yang haus akan ilmu malam hari ini.</p>
<p>Baik, untuk para ikhwan, UBN memberikan pertanyaan berikut, <span id="more-765"></span></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>“di mana letak keadilan Allah? Makanan kucing adalah ikan, sedangkan kucing takut dengan air? Bagaimana bisa?”.</em></p>
<p>Untuk para akhwat, diberikan pertanyaan,</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>“di mana letak keadilan Allah? Pada cicak yang makanannya adalah nyamuk, sedangkan cicak nggak punya sayap?”.</em></p>
<p>Dari ke dua pertanyaan tersebut, beliau rasanya hendak memberikan stimulus otak kita agar pola berfikirnya mampu melihat lebih dalam dengan mentadabburi fenomena alam.. UBN menyebutnya dengan Tadabbur Alam. Saya pun tersenyum, karena metode tadabbur alam ini juga pernah saya dapatkan semasa saya masih aktif di Forum Silaturahim Santri Lamongan dulu. Tadabbur memang kunci untuk mendalami ilmu Allah.</p>
<p>Lalu, bagaimana kelanjutan dari 2 pertanyaan di atas? Inilah beberapa point hasil diskusi antara UBN dengan peserta kajian, antara lain :</p>
<ol>
<li>Kucing – ikan. Allah memberikan hikmah bahwa, dalam sebuah proses, ada pihak ketiga yang menjadi perantara. Kasus kucing memakan ikan, adalah bentuk contoh simpel di mana ada peran manusia atau yg lainnya sebagai perantara kucing menjemput/mendapatkan rizkinya dari Allah. contoh lain adalah seperti pembuahan tumbuhan, ada yang dibantu oleh lebah, ada yang dibantu oleh angin.. inilah proses, alam, kesimbangan ekosistem dalam populasi kehidupan &#8230;</li>
<li>Cicak – nyamuk. Ternyata Allah memberikan hikmah kepada manusia (keilmuan sains) bahwa, ada ekosistem yang di dalamnya terdapat sebuah rantai makanan antara cicak dan nyamuk, di sanalah tercipta keseimbangan alam jagad raya ini karena sudah Allah tempatkan segala sesuatunya (penciptaan) pada tempatnya (‘adl), dan..</li>
<li>Allah tidak akan menciptakan sesuatu makhluk pun kecuali Dia telah menetapkan rizki atasnya, Allah telah jamin rizkinya.</li>
</ol>
<p>Hikmah lain, salah satu peserta menyebutkan, kalau cicak punya sayap, nyamuk bisa pada habis, sehingga pabrik baygon tutup, dan banyak pekerja kehilangan pekerjaannya.. haha =D, lumayan menggelitik cara pandang ini, namun tentunya ini tak salah, tak ada yang meleset. Hikmah-hikmah lain pun masih bisa untuk kita petik, seperti dari sisi kesehatan, nyamuk yang penyebab sakit, sehingga bisa diteliti obatnya, lalu dari sana diketahui berbagai macam virus dangue penyebab-penyebab sakit, dan masih banyak lagi.. inilah hikmah, begitu luas, saling terkait, dan telah Allah tempatkan pada tempatnya (‘adl) hingga Allah sendiri mengutarakan dalam QS. 31 : 26 – 27 :</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah<strong><sup>[1183]</sup></strong>. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em></p>
<p>Subhanallaah,  Allahuakbar..</p>
<p>Memaknai adil memang sesuai pada tempatnya.. bukan pada cara pandang tiap2 orang yang amat terbatas ilmunya, tapi pada cara pandang ilmu Allah.. =)</p>
<p>semoga bermanfaat..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/765/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=765&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/keadilan-yang-penuh-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ombak-lautan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ombak-lautan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Ikhwan dan Akhwat</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/memaknai-ikhwan-dan-akhwat-dengan-adl/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/memaknai-ikhwan-dan-akhwat-dengan-adl/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 07:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/memaknai-ikhwan-dan-akhwat-dengan-adl/</guid>
		<description><![CDATA[Memaknai Ikhwan dan Akhwat dengan &#8216;Adl (sesuai makna &#8211; sesuai pada tempatnya). Artikel ini berusaha menyuguhkan fenomena yang terjadi dalam dunia kita khususnya bagi teman2 yang semangat untuk belajar dan berdakwah.. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=755&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ikhwan.jpg"><img class="size-full wp-image-769 alignleft" title="IKhwan" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ikhwan.jpg?w=600" alt=""   /></a>Memaknai Ikhwan dan Akhwat dengan &#8216;Adl (sesuai makna &#8211; sesuai pada tempatnya). Artikel ini berusaha menyuguhkan fenomena yang terjadi dalam dunia kita khususnya bagi teman2 yang semangat untuk belajar dan berdakwah..</p>
<p><em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.</em></p>
<p>(QS. Al-Hujuraat [49]: 13).</p>
<p>Saya mengutip artikel dari akhi Eko, berikut artikelnya.. <span id="more-755"></span></p>
<p>Seorang kawan dekat yang aktivis dakwah di kampus bercerita tentang temannya yang mengaku belum pantas menjadi seorang ‘ikhwan’ karena belum memiliki ilmu agama yang cukup dan belum menjalankan ajaran agama dengan sempurna. Kawan saya bilang kalau dia ingin tertawa mendengar pengakuan temannya itu. Begitu juga saya. Ada juga kawan, seorang aktivis dakwah juga, yang menulis di sebuah <em>blog</em> bahwa dia merasa geli ketika mendengar teman-temannya sesama aktivis yang ngomong seperti ini: “dia itu rajin shalat tahajjud lho, padahal dia bukan ikhwan,” atau “dia itu meski bukan ikhwan, tapi pinter ngaji lho..” nah lhoo.. </p>
<p>Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.</p>
<p>Secara <em>lughowi</em> (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari <em>akhun, </em>yang<em> </em>artinya saudara. Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari <em>ukhtun</em> dengan arti yang sama. Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst.</p>
<p>Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai di kalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis di dalamnya ataukah hanya sekedar pilihan, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan <em>brother</em> atau <em>sister.</em> Yang jelas, dengan mamakai bahasa apapun, jika pemaknaannya sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan akidah, tentu akan menjadi masalah.</p>
<p>Kembali kepada cerita kawan saya di atas. Berdasarkan pengakuan teman dari kawan saya itu, tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat di kalangan para aktivis. Menariknya lagi, sepertinya ada lebih dari satu <strong>pergeseran makna di sana</strong>;</p>
<p>pertama, ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai di sini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.</p>
<p>Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini adalah seperti yang dipahami oleh teman dari kawan saya di atas. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dst.</p>
<p><strong>&gt; Perubahan Makna</strong></p>
<p>Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar (dalam psikologi kognitif ada istilah <em>primary effect, hallo effect, </em><em>f</em><em>undamental attribution error</em><em> </em>dan<em>confirmation bias</em> untuk menjelaskan hal tersebut). <strong>Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.</strong></p>
<p>Dalam ilmu linguistik, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.</p>
<p>Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah, misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.</p>
<p><strong>&gt; Simbol dan Hakikat</strong></p>
<p>Apa yang dapat kita pelajari dari bincang-bincang kita tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.</p>
<p>Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka, untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi kenalilah, selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata ‘kecil’ dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW. datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu di sisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.</p>
<p>Maka dari itu Nabi SAW bersabda: <em>Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu.</em> (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)</p>
<p>***</p>
<p>Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, maka itu telah melampaui batas.</p>
<p><strong>&gt; Kesimpulan</strong></p>
<p><em>Yap, Akhirul kalam</em>, baik saya dan akhi eko, memiliki cara pandang yang sama&#8230; saudara-saudara yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ , atau istilah apapun dari bahasa apapun, ya <strong>silahkan diteruskan</strong>. Apalagi <strong>kalau</strong> itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda. <strong>Tapi harus diingat</strong>, sebelum menggunakan istilah tersebut, antum semua <strong>harus mengetahui dan memahami </strong><strong>makna asli dan tujuan </strong>penggunaan istilah tersebut<strong>, </strong>agar<strong> tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar, karena jika tidak, </strong>akan dikhawatirkan pergeserannya hingga sampai pemaknaan<strong> secara hakikat, ini gawat. </strong>kenapa bisa begitu? <strong>karena </strong>setiap insan itu berbeda maqam ilmu dan pemahamannya, alangkah lebih baiknya jika menempatkan makna sesuai pada tempatnya (&#8216;adl : adil ) sehingga tidak memberikan pemahaman yang telah bergeser (kurang tepat) thd orang awwam yang mengakibatkan terbangunnya persepsi yang menyempit (baca : bergeser dari makna asli) pemahamannya. Ya, bukankah Allah itu mengajarkan utk berbuat adil? dan ketahuilah, ukuran terberat setelah keimanan <strong>seseorang sbg pemimpin (khalifah fil ardh) </strong>adalah rasa &#8216;adl (keadilan) terhadap apapun sesuai yang Allah gariskan.</p>
<p>Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.</p>
<p><em>Wallahu A’lam.</em></p>
<p><em>by </em><em>Abu Naashir</em></p>
<p><em>inspired by A.B. Eko Prasetyo  </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/755/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=755&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/12/23/memaknai-ikhwan-dan-akhwat-dengan-adl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/12/ikhwan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IKhwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan Inipun Pasti Berlalu</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/11/17/dan-inipun-pasti-berlalu/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/11/17/dan-inipun-pasti-berlalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 05:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/2011/11/17/dan-inipun-pasti-berlalu/</guid>
		<description><![CDATA[Ada renungan bagus untuk dibaca &#8230;semoga menjadi berkah dan berhikmah buat kita semua, ada seorang raja yg terkenal dgn kebijaksanaannya. Dan pada suatu hari, sang raja meminta kpd tukang emasnya yg sudah tua renta utk menuliskan sesuatu di dlm cincinnya. Raja berpesan, &#8220;Tuliskanlah sesuatu yg bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman &#38; perjalanan hidupmu, spy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=715&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/11/dan-inipun-pasti-beralalu1.jpg"><img class="size-full wp-image-716 alignleft" title="dan inipun pasti beralalu" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/11/dan-inipun-pasti-beralalu1.jpg?w=600" alt=""   /></a>Ada renungan bagus untuk dibaca &#8230;semoga menjadi berkah dan berhikmah buat kita semua,</p>
<p>ada seorang raja yg terkenal dgn kebijaksanaannya.</p>
<p>Dan pada suatu hari, sang raja meminta kpd tukang emasnya yg sudah tua renta utk menuliskan sesuatu di dlm cincinnya.</p>
<p>Raja berpesan, &#8220;Tuliskanlah sesuatu yg bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman &amp; perjalanan hidupmu, spy itupun bisa menjadi pelajaran utk hidup saya&#8221;.</p>
<p>Berbulan2 si tukang emas yg tua itu membuat cincinnya, lalu lebih sulitnya menuliskan apa yg penting di cincin emas yg kecil itu.<br />
Akhirnya setelah berdoa &amp; berpuasa, si tukang emas itupun menyerahkan cincinnya pd sang raja.<br />
Dan dgn tersenyum, sang raja membaca tulisan kecil di cincin itu. Bunyinya,<br />
&#8220;THESE TOO, WILL PASS&#8221;<br />
(&#8220;DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU&#8221;). <span id="more-715"></span></p>
<p>Awalnya sang raja tdk terlalu paham dgn apa yg tertulis di sana.<br />
Tp, suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan kerajaan yg pelik, akhirnya ia membaca tulisan di cincin itu &amp; ia pun menjadi lebih tenang,<br />
“Dan inipun akan berlalu.”</p>
<p>Dan tatkala ia sedang ber-senang2,<br />
ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu, lantas ia menjadi rendah hati kembali.</p>
<p>Betul!<br />
Ketika Anda lagi punya masalah besar ataupun sedang lagi kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat itu,<br />
&#8220;Dan inipun akan berlalu.&#8221;</p>
<p>Kalimat ini, kalau direnungkan dgn bijak akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup.<br />
Tdk ada satupun yg langgeng.<br />
Jadi, ketika Anda punya masalah,<br />
tdklah perlu terlalu bersedih.<br />
Tp, tatkala Anda lagi senang, bersyukurlah dan nikmati selagi anda bisa senang</p>
<p>Ingatlah&#8230;.<br />
Apapun yg kau hadapi saat ini,<br />
semuanya akan berlalu.</p>
<p>Jadilah orang yang:<br />
• tetap SEJUK di tempat yg Panas&#8230;<br />
• tetap MANIS di tempat yg begitu Pahit&#8230;<br />
• tetap merasa KECIL meskipun telah menjadi Besar&#8230; &amp;<br />
• tetap TENANG di tengah Badai yg paling Hebat&#8230;. serta<br />
• tetap MENGANDALKAN ALLAH SWT dalam segala Perkara&#8230;</p>
<p>Inspired by Aisyah R Amalia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/715/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=715&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/11/17/dan-inipun-pasti-berlalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/11/dan-inipun-pasti-beralalu1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dan inipun pasti beralalu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepada Engkau yang Mencintaiku&#8230;</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/05/10/kepada-engkau-yang-mencintaiku-2/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/05/10/kepada-engkau-yang-mencintaiku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 04:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini, penulis akan berbagi sebuah hikmah untuk sesiapa saja yang sedang dalam merasakan &#8220;fitrahNya&#8221; sebagai manusia.. Jadi ingat dengan artikel penulis hebat Salim A Fillah yang menyampaikan &#8220;Menangani hati menanti pasangan yang dinanti&#8221; ..kali ini penulis akan menyampaikan dalam bentuk bahasa yang lain.. Jom(ay0k), senantiasa bersabar dan husnudzan terhadap apapun ketetapanNya.. lihat segalanya lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=686&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/05/kepada-engkau1.jpg"><img class="size-medium wp-image-692 alignleft" title="kepada engkau" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/05/kepada-engkau1.jpg?w=300&#038;h=285" alt="" width="300" height="285" /></a></p>
<p>Kali ini, penulis akan berbagi sebuah hikmah untuk sesiapa saja yang sedang dalam merasakan &#8220;fitrahNya&#8221; sebagai manusia..<br />
Jadi ingat dengan artikel penulis hebat Salim A Fillah yang menyampaikan &#8220;<em>Menangani hati menanti pasangan yang dinanti</em>&#8221; ..kali ini penulis akan menyampaikan dalam bentuk bahasa yang lain..</p>
<p><em>Jom(ay0k)</em>, senantiasa bersabar dan husnudzan terhadap apapun ketetapanNya.. lihat segalanya lebih dekat, insyallah ada keindahan dariNya.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>nah, sebait dua bait kata yang dirangkai tersebut, boleh kita resapi dengan judul &#8220;<strong>Kepada Engkau yang Mencintaiku</strong>&#8220;..<span id="more-686"></span></p>
<p><em>Kepada siapapun engkau yang mencintaiku…</em></p>
<p><em>Aku ingin berucap padamu</em></p>
<p><em>Terima kasih telah menjadikanku seseorang yang berarti dalam hidupmu</em></p>
<p><em>Terima kasih telah menjadikanku bermakna padamu</em></p>
<p><em>Terima kasih telah membuat kehadiranku tak sia-sia</em></p>
<p><em>Terima kasih telah kau bangunkan di hatimu untukku sebuah kamar istimewa</em></p>
<p><em>Terima kasih telah membuatku merasakan fitrah manusia yang merupakan ujian terberat untuk melawan nafsu duniaNya</em></p>
<p><em>Kepadamu yang mencintaiku……..</em></p>
<p><em>Kumohon jagalah lisanmu……</em></p>
<p><em>Jagalah pandanganmu……..</em></p>
<p><em>Jagalah segala perbuatanmu</em></p>
<p><em>Dan jagalah hatimu……</em></p>
<p><em>Dari bermaksiat padaNya…</em></p>
<p><em>Jagalah hatimu yang tertinggi hanya untukNya….</em></p>
<p><em>Kepadamu yang mencintaiku…</em></p>
<p><em>Janganlah melanggar batas yang telah ditetapkanNya</em></p>
<p><em>Janganlah engkau terbawa hawa nafsu yang akan membawa kita pada penyesalan di akhirnya</em></p>
<p><em>Kepadaku yang mencintaimu…</em></p>
<p><em>Kan ku paksa hati yang telah condong kepadamu</em></p>
<p><em>Kan ku paksa mata yang selalu mencari bayangmu</em></p>
<p><em>Kan kupaksa segala imajinasi yang berlayar padamu</em></p>
<p><em>Kan ku paksa segala sesak di dada ketika pikiranku penuh dengan namamu</em></p>
<p><em>Kan kupaksa diriku untuk menahan segala rasa ketika kau tersenyum lembut padaku</em></p>
<p><em>Kan kupaksa dengan segala daya agar diri ini hanya ada untukNya</em></p>
<p><em>Kan kupaksa diri ini dengan percaya pada janjiNya</em></p>
<p><em>Bahwa bila pada saatnya tiba</em></p>
<p><em>Bahwa bila engkaulah sang belahan jiwa</em></p>
<p><em>Akan ada saatnya saat berucap kata</em></p>
<p><em>“saya terima …” dari bibirmu bersama dengan tasbih kepadaNya</em></p>
<p><em>saat itulah kan kuberi segala asa, bahagia, suka dan segala rasa di hati ini hanya kepadamu…</em></p>
<p><em>Kepadaku yang mencintaimu</em></p>
<p><em>Dan kepadamu yang mencintaiku</em></p>
<p><em>Bila pun suatu saat, aku bukanlah yang tertulis untuk menjadi imammu</em></p>
<p><em>Dan engkau bukanlah orang yang akan membangun bersamaku istana yang penuh dengan tasbih untukNya</em></p>
<p><em>Maka hal itulah yang terbaik untukmu</em></p>
<p><em>Maka hal itulah yang terbaik untukku</em></p>
<p><em>Maka hal itulah yang terbaik untuk agama kita</em></p>
<p><em>Maka hal itulah yang terbaik untuk masa depan kita</em></p>
<p><em>Maka hal itulah yang terbaik untuk semuanya…</em></p>
<p><em>Karena ketidakpastian itulah wahai engkau yang mencintaiku dan aku yang mencintaimu</em></p>
<p><em>Entah siapapun engkau</em></p>
<p><em>Janganlah membiarkan rasa yang mungkin kini telah ada</em></p>
<p><em>Janganlah engkau memupuk bunga cinta yang bukan karenaNya</em></p>
<p><em>Janganlah engkau memperbesar segala asa yang ada</em></p>
<p><em>Mari kita mundur selangkah</em></p>
<p><em>Demi seseorang yang kita tidak tahu siapa</em></p>
<p><em>Yang akan menjadi belahan jiwa kita di dunia dan di jannahNya</em></p>
<p><em>Meski hati ini ingin berdoa engakaulah orangnya…</em></p>
<p><em>Karena aku ingin mendapati kamar hati bidadariku</em></p>
<p><em>Karena aku ingin mendapati tempat terspesial di hati aisyahku</em></p>
<p><em>Hanya dengan namaku</em></p>
<p><em>Karena itu…</em></p>
<p><em>Akan kujaga kamar yang suatu saat akan menjadi miliknya</em></p>
<p><em>Berusaha menghalau sekuat tenaga</em></p>
<p><em>Segala rasa yang ingin mengisinya</em></p>
<p><em>Dan mengisinya hanya dengan namanya</em></p>
<p><em>Dan menghiasinya dengan senyum dan kehangatannya</em></p>
<p><em>Dalam janji suci dengan ALLAH sebagai saksinya….</em></p>
<p><em>Tulisan ini dipersembahkan…</em></p>
<p><em>kepada seseorang yang semoga engkau tetap beristiqomah dijalanNya..</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=686&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/05/10/kepada-engkau-yang-mencintaiku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/05/kepada-engkau1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kepada engkau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya Ghibah</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/03/06/bahaya-ghibah/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/03/06/bahaya-ghibah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 01:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Saatnya sharing lagi.. pembelajarn hidup.. Sesungguhnya lisan merupakan organ tubuh yang sangat penting karena ialah yang menta’bir (mengungkapkan) apa yang terdapat dalam hati seseorang. Lisan tidak mengenal lelah dan tidak pernah bosan berucap, jika seseorang membiarkannya bergerak mengucapkan kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, adapun jika ia membiarkannya mengucapkan keburukan-keburukan maka ia akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=680&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/menjaga-lisan1.jpg"><img class="size-medium wp-image-682 alignleft" title="menjaga lisan" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/menjaga-lisan1.jpg?w=300&#038;h=282" alt="" width="300" height="282" /></a>Saatnya sharing lagi.. pembelajarn hidup..</p>
<p>Sesungguhnya lisan merupakan organ tubuh yang sangat penting karena ialah yang menta’bir (mengungkapkan) apa yang terdapat dalam hati seseorang. Lisan tidak mengenal lelah dan tidak pernah bosan berucap, jika seseorang membiarkannya bergerak mengucapkan kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, adapun jika ia membiarkannya mengucapkan keburukan-keburukan maka ia akan ditimpa dengan bencana dan malapetaka, dan inilah yang lebih banyak terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</p>
<p>أكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ</p>
<p><em>Mayoritas dosa seorang anak Adam adalah pada lisannya[1]</em></p>
<p>Oleh karena itu lisan merupakan salah satu sebab yang paling banyak menjerumuskan umat manusia ke dalam api neraka.<span id="more-680"></span></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</p>
<p>أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ</p>
<p><em>Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.[2]</em></p>
<p>Sesungguhnya penyakit-penyakit yang timbul karena lisan yang tidak terkendali sangatlah banyak, namun di sana ada sebuah penyakit yang paling merajalela dan menjangkiti kaum muslimin. Penyakit tersebut terasa sangat ringan di mulut, lezat untuk diucapkan, dan nikmat untuk didengarkan[3] (bagi orang-orang yang jiwa mereka telah terasuki hawa syaitan), namun dosanya sangatlah besar….penyakit tersebut adalah ghibah (menyebut kejelekan saudara sesama muslim)[4]</p>
<p>Betapa banyak persahabatan dua sahabat karib yang akhirnya terputus karena diakibatkan ghibah…???</p>
<p>Betapa banyak kedengkian yang tumbuh dan berkobar di dada-dada kaum muslimin dikarenakan ghibah&#8230;???</p>
<p>Betapa banyak permusuhan terjadi diantara kaum muslimin diakibatkan sebuah kalimat ghibah…???</p>
<p>Dan betapa banyak pahala amalan seseorang yang sia-sia dan gugur diakibatkan oleh ghibah yang dilakukannya…???</p>
<p>Serta betapa banyak orang yang disiksa dengan siksaan yang pedih dikarena ghibah yang dilakukannya…???<br />
Namun perkaranya adalah sangat menyedihkan sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi, “Ketahuilah bahwasanya ghibah merupakan perkara yang terburuk dan terjelek serta perkara yang paling tersebar di kalangan manusia, sampai-sampai tidaklah ada yang selamat dari ghibah kecuali hanya sedikit orang”.[5] -Semoga Allah menjadikan kita menjadi “sedikit orang” tersebut yang selamat dari penyakit ghibah. Amiiin-</p>
<p>Banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah ta&#8217;ala dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis, namun…..mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah</p>
<p>Berkata Ibnul Qoyyim, “Dan merupakan perkara yang aneh adalah mudah bagi seseorang untuk menjaga dirinya dari memakan makanan yang haram, menjauhkan dirinya dari perbuatan dzolim, zina, mencuri, memimum minuman keras, memandang pada perkara-perkara yang diharamkan baginya, dan perkara-perkara haram yang lainnya, namun sulit baginya untuk menjaga gerak-gerik lisannya. Sampai-sampai ada diketahui orang yang terpandang dan merupakan contoh dalam permasalahan agama, zuhud, dan ibadah, namun ia mengucapkan sebuah kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dan dia tidak perduli dengan ucapannya tersebut sehingga iapun terperosok ke neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat hanya dikarenakan satu kalimat. Betapa banyak orang yang engkau lihat bersikap wara’ dalam menjauhi perbuatan-perbuatan keji, perbuatan dzolim namun lisannya ceplas-ceplos menjatuhkan harga diri orang-orang yang masih hidup maupun yang telah wafat dan dia tidak perduli dengan ucapannya tersebut.”[6]</p>
<p>Berkata Al-Ghozaali, “Dan sebagian mereka berkata, “Kami mendapati para salaf, dan mereka tidaklah memandang sebuah ibadah (yang hakiki) pada puasa dan tidak juga pada sholat, akan tetapi mereka memandangnya pada sikap menahan diri dari (melecehkan) harkat dan harga diri manusia”[7]</p>
<p>Sebagian orang yang dikenal berpegang teguh dengan sunnah dan berdakwah menyeru kepada sunnah, serta memiliki semangat untuk membantah ahlul bid’ah –yang hal ini merupakan perkara yang sangat dituntut dalam syariat- namun yang sangat disayangkan, mereka tatkala terbiasa membantah ahlul bid’ah dan membicarakan kejelekan-kejelekan mereka, akhirnya terbiasa pula dengan bergihbah ria membicarakan kejelekan-kejelekan saudara-saudara mereka sendiri sesama ahlus sunnah. Sebagaimana perkara mengghibah ahlul bid’ah merupakan hal yang biasa akhirnya menggibah saudara-saudara merekapun sesama ahlus sunnah menjadi hal yang lumrah dan biasa, seakan-akan bukanlah sesuatu yang berbahaya. Mereka lupa bahwa mengghibah ahlul bid’ah merupakan rukhsoh yang diberikan oleh syari’at karena ada kemaslahatan yang diperoleh dan itupun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at, dan hal ini tidaklah bisa disamakan dengan mengghibah sesama Ahlus sunnah.</p>
<p>Oleh karena itu penulis mencoba untuk menjelaskan bahaya penyakit ini dan hukum-hukum seputar penyakit ini untuk mengingatkan penulis pribadi akan bahaya ghibah dan juga mengingatkan para saudaraku kaum muslimin.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala benar-benar telah mencela penyakit ghibah dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Berkata Syaikh Nasir As-Sa’di : “Kemudian Allah ta&#8217;ala menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. Allah ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p>}وَلاَ يغتبَْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ{</p>
<p><em>Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih. (Al Hujurat 12)</em></p>
<p>Allah ta&#8217;ala telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang digibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”.[8] Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Amru bin Al-‘Ash radliyallahu ‘anhu:</p>
<p>عنْ قَيْسٍ قَالَ : مَرَّ عَمْرُو بْنُ العَاصِ عَلَى بَغْلٍ مَيِّتٍ, فَقَال: وَاللهِ لأََنْ يَأْكُلَ أَحَدُكُمْ مِنْ لَحْمِ هَذَا (حَتَّى يمْلَأََ بَطْنَهُ) خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ (الْمُسْلِم)</p>
<p>Dari Qois berkata : ‘Amru bin Al-‘Ash radliyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata :”Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”[9]. Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “..Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan untuk bani Adam secara tabi’at walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan, bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudara engkau seagama ?, sesungguhnya rasa kebencian dan jijiknya semakin bertambah. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan, akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” [10]<br />
Definisi ghibah</p>
<p>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِصلى الله عليه و سلم  قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ</p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh radliyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.[11]</em></p>
<p>Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu:</p>
<p>عَنْ حَمَّاد عَنْ إبْرَاهِيْمَ قَالَ : كَانَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ  tيَقُوْلُ : الْغِيْبَةُ أَنْ تَذْكُرَ مِنْ أَخِيْكَ مَا تَعْلَمُ فِيْهِ. وَإِذَا قُلْتَ مَا لَيْسَ فِيْهِ فَذَاكَ الْبُهْتَانُ</p>
<p><em>Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” [12]</em></p>
<p>Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. Dan hadits ini umum mencakup apa saja yang dibenci oleh saudaramu[13]. Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya, tentang anaknya, saudaranya, atau istrinya. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir). Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau), oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat, karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ”[14].</p>
<p>Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya, misalnya engkau berkata pada saudaramu itu : “Dia buta”, “Dia tuli”, “Dia sumbing”, “Perutnya besar”, “Pantatnya besar”, “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”, “Dia juling”, “Dia hitam”, “Dia itu orangnya bodoh”, “Dia itu agak miring sedikit”, “Dia kurus”, “Dia gendut”,  “Dia pendek” dan lain sebagainya.</p>
<p>عَنْ أَبِيْ حُذَيْفَةَ عَنْ عَائِشَةَ, أَنَّهَا ذَكَرَتِ امْرَأَةً فَقَالَتْ :إِنَّهَا قَصِيْرَةٌ&#8230;.فَقَالَ النَّبِيُّ r: اِغْتَبْتِيْهَا</p>
<p>Dari Abu Hudzaifah dari ‘Aisyah bahwasanya beliau (‘Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau (‘Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”….maka Nabi</p>
<p>shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” [15]</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ  صلى الله عليه و سلمحَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّة كَذَا وَ كَذَا قَالَ بَعْضُ الرُّوَاةُ : تَعْنِيْ قَصِيْرَةٌ, فَقَالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ.</p>
<p>Dari ‘Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. Sebagian rowi berkata :”’Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” [16]</p>
<p>عَنْ جَرِيْرِ بْنِ حَازِمٍ قَالَ : ذَكَرَ ابْنُ سِيْرِيْنَ رَجُلاً فَقَألَ : ذَاكَ الرَّجُلُ الأَسْوَدُ. ثُمَّ قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللهَ, إِنِّيْ أَرَانِيْ قَدِ اغْتَبْتُهُ</p>
<p>Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”, sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu”[17]</p>
<p>Ibnu Sirin pernah berkata, “Jika seseorang benci jika engkau berkata kepadanya, “Rambutmu keriting” maka janganlah engkau menyebutkan hal itu”[18]</p>
<p>Adapun pada nasab misalnya engkau berkata :”Dia dari keturunan orang rendahan”, “Dia keturunan maling”, “Dia keturunan pezina”, “Bapaknya orang fasik”, dan lain-lain. Adapun pada akhlaknya, misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”, “Dia sombong, tukang cari muka (cari perhatian)”, “Dia penakut”, “Dia itu orangnya lemah”, “Dia itu hatinya lemah”, “Dia itu tempramental”.</p>
<p>Adapun pada agamanya, misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”, “Dia pendusta”, “Dia peminum khomer”, “Dia pengkhianat”, “Dia itu orang yang dzolim, tidak mengeluarkan zakat”, “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku’ kalau sholat”, “Dia tidak berbakti kepada orang tua”, dan lain-lain. Dan menggibahi seseorang dengan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan agamanya merupakan ghibah yang sangat keji.</p>
<p>Berkata Al-Qurthubhi, “..Para ulama sejak masa awal dari kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in setelah mereka, tidak ada ghibah yang lebih parah menurut mereka dari ghibah yang berkaitan dengan agama (seseorang), karena aib yang berkaitan dengan agama merupakan aib yang terberat. Setiap orang mukmin lebih benci jika disinggung kejelekan agamanya daripada jika disinggung (cacat) tubunya”[19]</p>
<p>Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya engkau berkata : “Tukang makan”, “Tidak punya adab”, “Tukang tidur”, “Tidak ihtirom kepada manusia”, “Tidak memperhatikan orang lain”, “Jorok”, “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain.</p>
<p>Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin, dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”, aku berkata :”Benar”. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan, mintalah resep kepadanya”, (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah, menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. [20]</p>
<p>Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing, atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits :</p>
<p>قَالَتْ : وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ : مَا أُحِبُّ أَنِّيْ حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَ إِنَّ لِيْ كَذَا</p>
<p>‘Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” [21]</p>
<p>Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”, dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Maka hal ini adalah harom. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti, atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent), maka hal ini bukanlah ghibah, bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian.</p>
<p>Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama’ah- demikian-demikian…, dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran dan semisalnya”, maka hal ini bukanlah ghibah. Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama’ah tertentu. [22]</p>
<p>Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya, yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain. Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah ta&#8217;ala yang telah menjaga kita dari sifat pelit”, atau “Semoga Allah ta&#8217;ala melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”, atau yang lainnya, sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek.[23] Bahkan lebih parah lagi, perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah, tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya’. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/680/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=680&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/03/06/bahaya-ghibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/menjaga-lisan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menjaga lisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidupku, Bukuku</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/03/04/hidupku-bukuku/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/03/04/hidupku-bukuku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Mar 2011 04:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[uhhm.. sudah beberapa saat ini, lika liku kehidupan tanpa lelah mengajariku untuk terus mengenali  hikmah.. semoga tidak hanya sekedar tahu akan hikmahnya, namun mampu memahaminya&#8230; tak ada yang memungkiri, bahwa kehidupan itu bak roda yang menggelinding, kadang berada di atas, dan pernah berada di bawah.. Apapun itu bentuknya, demi dzat yang menggam hatiku, bersyukurlah, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=671&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/buku.jpg"><img class="size-medium wp-image-675 alignleft" title="buku" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/buku.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>uhhm.. sudah beberapa saat ini, lika liku kehidupan tanpa lelah mengajariku untuk terus mengenali  hikmah.. semoga tidak hanya sekedar tahu akan hikmahnya, namun mampu memahaminya&#8230;</p>
<p>tak ada yang memungkiri, bahwa kehidupan itu bak roda yang menggelinding, kadang berada di atas, dan pernah berada di bawah.. Apapun itu bentuknya, demi dzat yang menggam hatiku, bersyukurlah, karena dengan peliknya masalah kehidupan yang kita rasakan sampai saat ini, entah sedang posisi di bawah atau di atas, semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya, sebagai ujian dan tentu saja ladang amal bagi insan-insan yang mengharap pertemuan denganNya kelak..<span id="more-671"></span></p>
<p>Bagi saya, hidup ini seperti buku, di mana cover buku adalah tanggal atau waktu kelahiran kita.. dan ajaib memang, kita tak pernah menyangka kalau kita dulu adalah ruh yang bersaksi dihadapanNya atas ke Esa-annya dan pengakuan atas satu-satunya Tuhan semesta alam.. (pada ga sadar kan??!! saya juga..hhe <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ), dan tentu saja kita tak pernah <em>request </em> untuk dilahirkan, dan mau lahir dari rahim siapa.. skenarioNya adalah takdirNya.. yap.. ketika kelahiran itu ada, di sanalah kehidpuan itu dimulai.. dan .. di waktu itulah, Buku Kehidupan kita dicetak .. dengan cover yang bersih, dan &#8216;jumlah halaman&#8217; yang telah di tentukan olehNya.. ada yang tebal,  ada yang sedang, ada yang tipis &#8230; ya.. lagi lagi, kita tak bisa request tentang ketebalan buku kehidupan kita.. dan kita pun tak bisa mengetahui, berapa halaman yang diberikan kepada kita..</p>
<p>Nah, halaman demi halaman itu adalah hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan kita. sebelum dewasa, halaman-halamn bersih itu harus ditulis dan diwarnai oleh orang tua kita, guru-guru kita, dan lingkungan kita.. hmm, jadi ingat hadist ini :</p>
<p><em>&#8220;Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi&#8221; (H.R.Bukhari &amp; Muslim)</em></p>
<p>Setelah menginjak masa dewasa, akhirnya kita pun mengerti dan memiliki hak penuh untuk menulis dan mewarnainya.. seiring berkembangnya zaman, bertambahnya ilmu pengetahuan yang kita miliki, buku itu pun semakin padat dengan tulisan dan warna yang semakin kompleks.. ada yang semakin rapih dan indah, hingga begitu menarik untuk dibaca dan dinikmati.. namun ada pula yang tak beraturan, membosankan dan tak sedap untuk dibaca bahkan dilihat sekalipun&#8230; *uhhmm..naudzubillah..  :(</p>
<p>Semua hal itu, tak bisa kita pungkiri, karena kembali ke takdir Allah, kita sudah mulai menulisnya, dan tak bisa berhenti menulisi buku kita.. Namun, janganlah berputus asa.. Allah begitu maha pengasih.. untuk hamba-hambaNya yang belum bisa menulis dan mewarnai dg yang baik, Allah selalu menyediakan halaman buku yang baru dan bersih tanpa cacat di setiap harinya.. seburuk apapun catatan kita sebelumnya, selalu tersedia halaman berikutnya yang bersih &#8230; begitulah .. Allah selalu menyediakan hari-hari yang baik untuk hambaNya untuk selalu memperbaiki diri, dan melanjutkan alur cerita dalam buku kehidupan kita sesuai dengan ketetapanNya.. hingga tiba pada akhir kehidupan yaitu memenuhi panggilan-Nya…yang tak dapat ditunda dan tak dapat dipercepat…namun pasti kan tiba..</p>
<p>Nikmati, isi dengan hal2 yang baik dan jangan lupa untuk selalu bertanya kepada Tuhan tentang apa yang harus ditulis tiap2 harinya…Semoga isi coretan halaman buku kehidupan kita, mampu menorehkan segaris senyuman dan kebanggan bagi  orang2 yang kita cintai, dan tentu saja .. kebanggaan bagi Allah pemilik kehidupan ini..</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11</em></p>
<p>Semoga senantiasa meningkatkan ikhtiar utk menjadi lebih baik.. =)</p>
<p>Smgt..!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/671/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/671/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=671&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/03/04/hidupku-bukuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/03/buku.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">buku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2011 Indonesian Arts And Culture Scholarship Programme: Short Term Programme</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/02/10/2011-indonesian-arts-and-culture-scholarship-programme-short-term-programme/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/02/10/2011-indonesian-arts-and-culture-scholarship-programme-short-term-programme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 07:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Beasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[A. BACKGROUND The Indonesian Arts and Culture Scholarship has been conducted since 2003 and was initially offered to and participated by member countries of the South West Pacific Dialogue (SwPD); Australia, New Zealand, Papua New Guinea, the Philippines,Timor-Leste, and the host Indonesia. &#160; Bearing in mind the significance and advantages obtained from the program, the offer was expanded [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=663&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. BACKGROUND</strong></p>
<p>The Indonesian Arts and Culture Scholarship has been conducted since 2003 and was initially offered to and participated by member countries of the South West Pacific Dialogue (SwPD); Australia, <a title="New Zealand" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/new-zealand/" target="_blank">New Zealand</a>, <a title="Papua New Guinea" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/papua-new-guinea/" target="_blank">Papua New Guinea</a>, the <a title="Philippines" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/philippines/" target="_blank">Philippines</a>,<a title="Timor-Leste" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/timor-leste/" target="_blank">Timor-Leste</a>, and the host Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bearing in mind the significance and advantages obtained from the program, the offer was expanded over the years to include member countries of ASEAN, ASEAN+3, and PIF, as well as India and <a title="South Africa" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/south-africa/" target="_blank">South Africa</a>. In 2008, Indonesia welcomed the participation of Azerbaijan, the <a title="Netherlands" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/netherlands/" target="_blank">Netherlands</a>, the <a title="United Kingdom" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/uk/" target="_blank">United Kingdom</a>, and the United States. Since 2009, Austria has joined the program and in 2010 the Government of Indonesia has given the opportunity for participants from France, Germany, Italy, Russia, Spain and Suriname. This year, Indonesia will invite participant from Hungary, Poland, the <a title="Czech Republic" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/czech-republic/" target="_blank">Czech Republic</a>and Turkey to join the program.<span id="more-663"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Due to the limited space and the vast amount of interestin the program, the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia in cooperation with Indonesian embassies and consulates overseas, hold a series of selection process. Taken into considerations are, among others, the participants’ background, gender and regional representation.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>In order to deepen the participants’ understanding of Indonesian arts and culture, and to enhance their skills for the final performance, participants will be divided and assigned by the organising committee to different arts centers for the duration of approximately two and a half month. The arts centers are located in Bandung, West Java; Denpasar, Bali; Solo, Central Java; Surabaya, East Java; and Bandar Lampung, Lampung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Participants will live within or around the arts centers, allowing for the chance to experience the local heritage and interact with the local community. Synergy between theory and practices shared inside and outside the art centers would undoubtedly become the driving force for shaping <a title="international" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/international/" target="_blank">international</a> cultures and norms, and will eventually strengthen regional as well as global understanding and cooperation at a people-to-people level.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. OBJECTIVE</strong><br />
The program serves to demonstrate Indonesia’s commitment in advancing the social culture cooperation of various countries in the world. The program also has an objective to encourage better understanding amongst participants Indonesia’s immensely diverse art and cultural heritage. Finally, the programme aims to cultivate a cultural of cooperation, emerging from direct contact and sharing of cultures amongst people involved in the program, leading to thriving diplomatic relations in the region and worldwide.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. PARTICIPANTS</strong><br />
Participants of the 2011 IACS include 50 awardees of regional organizations of the SWPD, PIF, as well as from Austria, Azerbaijan, China, France, Germany, Hungary, India, Italy, Japan, Poland, Russia, South Africa, <a title="South Korea" rel="nofollow" href="http://www.scholarshipsgrantsloan.com/tag/south-korea/" target="_blank">South Korea</a>, Spain, Suriname, The Czech Republic, The Netherlands, The United States, Turkey, and United Kingdom.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. TIME</strong><br />
The non-degree arts and culture scholarship is offered for three months period of time, starting on 25 April to 29 July 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>E. LOCATION</strong><br />
The participants will be divided into five groups and assigned to the five arts centers (sanggar) located in Bandar Lampung, Lampung; Bandung, West Java; Denpasar, Bali; Solo, Central Java and Surabaya, East Java.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>F. LIST OF COURSES</strong><br />
In Bandung, West Java, participants will learn Sundanese art and culture namely the production, maintenance and appreciation to angklung; karawitan, wayang golek, and traditional dance of Sunda. They will also learn Sundanese and Indonesian Language as a component of the culture.</p>
<p>The participants will learn Javanese art and culture such as the process of batik and its significance; karawitan; traditional Javanese dance; and Javanese language and culture in Solo and Surabaya.</p>
<p>In Bali, the participants will learn Balinese art and culture, namely Balinese dance and gamelan. Each art centre will also arrange special visit to several historic as well as renowned tourist destinations for participants.</p>
<p>In Bandar Lampung, Lampung, the participants will learn Sumateran art and culture such as selected Sumatera dance and traditional instruments. The center will also arrange extra-curricular activities, excursions and field study.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prior to their residency at art centres, the participants will undertake 10 days of orientation in Jakarta and will learn issues such as the Aim and Objectives of the Scholarship; Introduction to Indonesian Culture; Information about Bandung, Solo, Surabaya, Denpasar and Bandar Lampung.</p>
<p>The scholarship covers:</p>
<ul>
<li>Tuition fee (including extra-curricular activities);</li>
<li>A round trip economy class ticket;</li>
<li>Accommodation (board and lodging);</li>
<li>Health insurance;</li>
<li>Monthly allowance of Rp. 1.500.000,-.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>G. ADDRESS </strong><br />
For the Indonesian applicants, the application form could be sent to:<br />
<strong>THE MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS</strong></p>
<p><strong> </strong><br />
Directorate of Public Diplomacy<br />
Tower Building, 12<sup>th</sup> Floor<br />
Jl. Taman Pejambon no. 6<br />
Jakarta 10110</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>For the foreign applicants, the application form could be sent to:<br />
<strong>The Embassy/the Consulate General of Indonesia in respective countries</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>H. CLOSING DATE</strong><br />
<strong>All applications should be received by the Ministry of Foreign Affairs of Indonesia on 20 March 2011, at the latest.</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>I. OTHER MATTERS</strong><br />
1. Application Form*<br />
2. The Scholarship Committee E-mail: iacs2011@yahoo.com</p>
<p><strong>Terms and Conditions:</strong></p>
<p>1. Candidates should preferably be between the ages of <strong>21 to 30 years-old</strong> with at least a high school diploma;<br />
2. Candidates should possess high interest and talent in arts. Arts students or those with an academic history on Indonesian culture are encouraged to apply;<br />
3. Bearing in mind the intensity of the program, candidates are highly advised to ensure prime physical conditions, particularly for female candidates to ensure that they do not conceive prior and during the program;<br />
4. Candidates must complete the application form (attached) and submit it along with the followings:</p>
<p>1) 3 (three) passport-sized photographs;<br />
2) A photo-copy of passport with validity period at least two years;<br />
3) A photo-copy of academic diploma;<br />
4) A photo-copy of the latest valid health certification from a qualified medical practitioner. On the day of leaving the origin country, participants should equipped themselves with a valid health certification from a qualified medical practitioner;<br />
5) A letter of recommendation;<br />
6) A personal statement declaring the following:</p>
<p>a. the willingness to be subject to Indonesian laws and regulations during his/her stay in Indonesia;<br />
b. the willingness to follow all the rules and regulations set up by the organizing committee and art centers;<br />
c. the willingness to accept the facilities provided by the organizing committee and arts centers and stay at the designated accommodations;<br />
d. not to work or be employed for financial benefits during the program;<br />
e. the willingness to follow the travel arrangements arranged by the organizing committee to and from Indonesia;<br />
f. the willingness to participate in all the program arranged by the organizing committee and art centers, unless, during the program, declared unfit by a qualified medical practitioner;<br />
g. the willingness to leave Indonesia immediately after the closing ceremony, at a date determined by the organizing committee.</p>
<p>5. The programme will include Indonesian language lessons. A minimum skill in <em>Bahasa Indonesia</em> or English will be an advantage for candidates, but is not a main criterion for the programme.</p>
<p>Programme:<br />
I. Orientation programme in Jakarta, 25 April – 1 May 2011<br />
Bahasa Indonesia courses;<br />
Introduction to Indonesian history, culture and foreign policy;<br />
Visits to museums and other Indonesian tourism landmarks;<br />
An outbound training.</p>
<p>II. Indonesian Arts and Cultural Training, May – July 2011</p>
<p>Sundanese culture (in Bandung)<br />
a. <em>Angklung</em> and <em>arumba</em> (traditional Sundanese instruments);<br />
b. Wayang golek (traditional Sundanese puppetry);<br />
c. Selected Sundanese dances;<br />
d. <em>Pencak silat</em> (traditional Sundanese martial arts);<br />
e. Extra-curricular activities, excursions and field study.</p>
<p>Javanese culture (in Solo and Surabaya)<br />
a. Selected Javanese dances;<br />
b. <em>Karawitan</em> musical arts;<br />
c. Extra-curricular activities, excursions and field study.</p>
<p>Balinese culture (in Denpasar)<br />
a. Selected Balinese dances;<br />
b. Gamelan (traditional Balinese instruments);<br />
c. Extra-curricular activities, excursions and field study.</p>
<p>Sumateran culture (in Bandar Lampung)<br />
a. Selected Sumatera dances;<br />
b. Traditional Sumatera instruments;<br />
c. Extra-curricular activities, excursions and field study.<br />
*Application form can be downloaded here:<br />
<a rel="nofollow" href="http://yogaslavianarmy.wordpress.com/2011/02/09/2011-indonesian-arts-and-culture-scholarship-programme-short-term-programme/" target="_blank">http://yogaslavianarmy.wordpress.com/2011/02/09/2011-indonesian-arts-and-culture-scholarship-programme-short-term-programme/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=663&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/02/10/2011-indonesian-arts-and-culture-scholarship-programme-short-term-programme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencintai Penanda Dosa</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2011/01/19/mencintai-penanda-dosa/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2011/01/19/mencintai-penanda-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 05:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata. Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=655&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.</p>
<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2011/01/mncintai-penanda-dosa1.jpg"><img class="size-full wp-image-659 alignleft" title="mncintai penanda dosa" src="http://agastya.files.wordpress.com/2011/01/mncintai-penanda-dosa1.jpg?w=600" alt=""   /></a>Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.</p>
<p>“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.<span id="more-655"></span></p>
<p>Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh  haru memohonkan keberkahan.</p>
<p>Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.</p>
<p>Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ad dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada  lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.</p>
<p>***</p>
<p>“Ah, surga masih jauh.”</p>
<p>Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?</p>
<p>Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat  lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.</p>
<p>Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan  bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan  berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?</p>
<p>Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.</p>
<p>“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.</p>
<p>“Ah, surga masih jauh.”</p>
<p>Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.</p>
<p>Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.</p>
<p>Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.</p>
<p>“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”</p>
<p>“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”</p>
<p>“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”</p>
<p>Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”</p>
<p>Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.</p>
<p>Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.</p>
<p>“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”</p>
<p>Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.</p>
<p>“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.</p>
<p>“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”</p>
<p>“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.</p>
<p>“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”</p>
<p>“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.</p>
<p>Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.</p>
<p>Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn  Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”</p>
<p>Salim A. Fillah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=655&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2011/01/19/mencintai-penanda-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2011/01/mncintai-penanda-dosa1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mncintai penanda dosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenali Karakter Manusia</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2010/10/08/mengenali-karakter-manusia/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2010/10/08/mengenali-karakter-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 16:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengetahuan Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Sering kali kita berbicara dengan beberapa orang, lalu merasa perbedaan cara bicara, dalam menghadapi masalah juga, seringkali kita menemui orang-orang yang berbeda dalam menyikapi masalah yang sama. &#8220;karakter&#8221;, ya.. itulah karakter manusia, yang menjadikan manusia itu unik, dan sangat menarik untuk dipelajari. Dalam ilmu psikologi, karakter manusia dibagi menjadi 4 katagori karakter secara general, antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=651&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2010/10/enneagram.jpg"><img src="http://agastya.files.wordpress.com/2010/10/enneagram.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" title="enneagram" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-652" /></a></p>
<p>Sering kali kita berbicara dengan beberapa orang, lalu merasa perbedaan cara bicara, dalam menghadapi masalah juga, seringkali kita menemui orang-orang yang berbeda dalam menyikapi masalah yang sama. &#8220;karakter&#8221;, ya.. itulah karakter manusia, yang menjadikan manusia itu unik, dan sangat menarik untuk dipelajari.</p>
<p>Dalam ilmu psikologi, karakter manusia dibagi menjadi 4 katagori karakter secara general, antara lain adalah Sangunis (yang populer), Koleris (yang kuat), Melankolis (yang sempurna), dan Plegmatis (yang damai). berikut ini adalah rincian dari nilai positif dan negatif dari masing-masing karakter. <span id="more-651"></span></p>
<p>KOLERIS pada umumnya mempunyai:</p>
<p>KEKUATAN:</p>
<p>* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif</p>
<p>* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan</p>
<p>* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target</p>
<p>* Bebas dan mandiri</p>
<p>* Berani menghadapi tantangan dan masalah</p>
<p>* &#8220;Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini&#8221;.</p>
<p>* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat</p>
<p>* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas</p>
<p>* Membuat dan menentukan tujuan</p>
<p>* Terdorong oleh tantangan dan tantangan</p>
<p>* Tidak begitu perlu teman</p>
<p>* Mau memimpin dan mengorganisasi</p>
<p>* Biasanya benar dan punya visi ke depan</p>
<p>* Unggul dalam keadaan darurat</p>
<p>KELEMAHAN:</p>
<p>* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)</p>
<p>* Senang memerintah</p>
<p>* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai</p>
<p>* Menyukai kontroversi dan pertengkaran</p>
<p>* Terlalu kaku dan kuat/ keras</p>
<p>* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik</p>
<p>* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci</p>
<p>* Sering membuat keputusan tergesa-gesa</p>
<p>* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain</p>
<p>* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan</p>
<p>* Workaholics (kerja adalah &#8220;tuhan&#8221;-nya)</p>
<p>* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf</p>
<p>* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer</p>
<p>kalau MELANKOLIS:</p>
<p>KEKUATAN:</p>
<p>* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran</p>
<p>* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal</p>
<p>* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat &amp; puitis)</p>
<p>* Sensitif</p>
<p>* Mau mengorbankan diri dan idealis</p>
<p>* Standar tinggi dan perfeksionis</p>
<p>* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)</p>
<p>* Hemat</p>
<p>* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)</p>
<p>* Kalau sudah mulai, dituntaskan.</p>
<p>* Berteman dengan hati-hati.</p>
<p>* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.</p>
<p>* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi</p>
<p>* Sangat memperhatikan orang lain</p>
<p>KELEMAHAN:</p>
<p>* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)</p>
<p>* Mengingat yang negatif &amp; pendendam</p>
<p>* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah</p>
<p>* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan</p>
<p>* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah</p>
<p>* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)</p>
<p>* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan</p>
<p>* Hidup berdasarkan definisi</p>
<p>* Sulit bersosialisasi</p>
<p>* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya</p>
<p>* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)</p>
<p>* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)</p>
<p>* Memerlukan persetujuan</p>
<p>kalau PLEGMATIS:</p>
<p>KEKUATAN:</p>
<p>* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh</p>
<p>* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik</p>
<p>* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana</p>
<p>* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)</p>
<p>* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi</p>
<p>* Penengah masalah yg baik</p>
<p>* Cenderung berusaha menemukan cara termudah</p>
<p>* Baik di bawah tekanan</p>
<p>* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan</p>
<p>* Rasa humor yg tajam</p>
<p>* Senang melihat dan mengawasi</p>
<p>* Berbelaskasihan dan peduli</p>
<p>* Mudah diajak rukun dan damai</p>
<p>KELEMAHAN:</p>
<p>* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru</p>
<p>* Takut dan khawatir</p>
<p>* Menghindari konflik dan tanggung jawab</p>
<p>* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)</p>
<p>* Terlalu pemalu dan pendiam</p>
<p>* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)</p>
<p>* Kurang berorientasi pada tujuan</p>
<p>* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri</p>
<p>* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat</p>
<p>* Tidak senang didesak-desak</p>
<p>* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.</p>
<p>kalau SANGUINIS:</p>
<p>KEKUATAN:</p>
<p>* Suka bicara</p>
<p>* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif</p>
<p>* Antusias dan ekspresif</p>
<p>* Ceria dan penuh rasa ingin tahu</p>
<p>* Hidup di masa sekarang</p>
<p>* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)</p>
<p>* Berhati tulus dan kekanak-kanakan</p>
<p>* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)</p>
<p>* Umumnya hebat di permukaan</p>
<p>* Mudah berteman dan menyukai orang lain</p>
<p>* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian</p>
<p>* Menyenangkan dan dicemburui orang lain</p>
<p>* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)</p>
<p>* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan</p>
<p>* Menyukai hal-hal yang spontan</p>
<p>KELEMAHAN:</p>
<p>* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)</p>
<p>* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian</p>
<p>* Susah untuk diam</p>
<p>* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)</p>
<p>* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele</p>
<p>* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)</p>
<p>* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)</p>
<p>* Mudah berubah-ubah</p>
<p>* Susah datang tepat waktu jam kantor</p>
<p>* Prioritas kegiatan kacau</p>
<p>* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas</p>
<p>* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya</p>
<p>* Egoistis</p>
<p>* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama</p>
<p>* Konsentrasi ke &#8220;How to spend money&#8221; daripada &#8220;How to earn/save money&#8221;</p>
<p>jadii, karaktermuu apa ya?? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=651&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2010/10/08/mengenali-karakter-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2010/10/enneagram.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">enneagram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersabar Bukan Berarti Diam</title>
		<link>http://agastya.wordpress.com/2010/09/30/bersabar-bukan-berarti-diam/</link>
		<comments>http://agastya.wordpress.com/2010/09/30/bersabar-bukan-berarti-diam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 06:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agastyaharjunadhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agastya.wordpress.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Sahabatku, tentunya sudah tahu kalau hidup di dunia ini adalah penuh dengan masalah. Satu masalah selesai, yang lainnya datang..karena sesungguhnya makna dari kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapi masalah. Masalah dalam kehidupan sehari-hari ini adalah tantangan akan mengklasifikasi mana orang-orang baik dan tidak baik, mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah. Orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=647&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agastya.files.wordpress.com/2010/09/sabar-dan-sholat.jpg"><img class="size-medium wp-image-648 alignleft" title="sabar-dan-sholat" src="http://agastya.files.wordpress.com/2010/09/sabar-dan-sholat.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Sahabatku, tentunya sudah tahu kalau hidup di dunia ini adalah penuh dengan masalah. Satu masalah selesai, yang lainnya datang..karena sesungguhnya makna dari kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapi masalah. Masalah dalam kehidupan sehari-hari ini adalah tantangan akan mengklasifikasi mana orang-orang baik dan tidak baik, mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah. Orang mukmin akan selalu beruntung, karena ia bersyukur ketika memperoleh keberuntungan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan.<span id="more-647"></span></p>
<p>Sebaliknya orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh keberuntungan ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan.</p>
<p>Untuk dapat bersabar, Islam mengajarkan kiat bersabar sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Tahan ketika menghadapi hantaman pertama. Rasulullah pernah bersabda &#8220;Innamassabru indassad matil uulaa&#8221;, artinya.. Sabar yang sesungguhnya ialah ketika menghadapi hantaman pertama.</li>
<li>Ketika ditimpa musibah, segera mengingat Allah dan mohon ampunannya. Firman Allah SWT:<br />
(<em>Orang-orang yang sabar ialah)  mereka yang ketika ditimpa musibah, berkata; sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya</em>. (al Baqarah: 156)</li>
<li>Tidak menampakkan musibahnya kepada orang lain, seperti yang dicontohkan oleh istri Abu Talkhah (Ummu Sulaim) ketika anaknya meninggal dunia. (dikisahkan dalam hadis Riwayat Muslim).</li>
<li>Sabar menghadapi semua cobaan dengan ikhlas kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam hadis Qudsy:<br />
Hambaku yang mukmin, yang bersabar dengan pasrah kepadaKu ketika kekasihnya Aku panggil kembali (mati), kepadanya tak ada balasan yang layak dari Ku selain sorga. (HR. Bukhari).</li>
</ol>
<p>Bersabar bukan berdiam diri. Bersabar adalah siratan optimisme penuh semangat, sebuah kepercayaan besar akan Kekuatan dari Yang Maha Kuat, bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. teman saya sebut saja Bunder (karena badannya gemuk) mengatakan klo sabar itu harus diam, dan menjelaskan panjang lebar smpai pada hal bersikap keras dll.., Nah, saya akan menjelaskan dl yang  &#8221;bukan berdiam diri&#8221;, maksudnya &#8220;bukan berdiam diri&#8221; di sini adalah hatinya.. mungkin secara lisan memang diam, tapi hatinya harus selalu terpaut dengan kesyukuran dan juga tawakkal padaNya..hatinya percaya, bahwa masalah ini adalah dari Allah, dan selalu berhusnudzan padaNya, optimis terhadap segala ketentuannya bahwa semuanya akan ada hikmah dan baik untuk diri kita..meski kadang kita tidak suka&#8230;</p>
<p>Sabar menjadi lebih indah dengan syukur&#8230; sebenernya sabar aja juga udah indah&#8230;karena sabar adalah bentuk cinta&#8230;karena sabar artinya percaya&#8230;sabar bukan berarti pasif&#8230;sabar menyiratkan optimisme dan semangat untuk aktif merealisasikan harapan.. Oleh karena itu, mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat [Q.S  2: 153].</p>
<p>lalu, percayalah&#8230; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94:5-6).</p>
<p>nice.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>inspired by : aisyah rahma h</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agastya.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agastya.wordpress.com/647/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agastya.wordpress.com&amp;blog=357095&amp;post=647&amp;subd=agastya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agastya.wordpress.com/2010/09/30/bersabar-bukan-berarti-diam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/21c0d73f4526241d5fe05e846948639b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agastya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agastya.files.wordpress.com/2010/09/sabar-dan-sholat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sabar-dan-sholat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
