Menjadi Pembicara Terbaik II

Menjadi pendengar terbaik, tentunya bukan hanya mengandalkan sikap tubuh saja tapi juga attitude (perilaku kita) ketika kita sedang berbicara. Berikut ini beberapa attitude yang harus di pertahankan ketika sedang berlatih menjadi pendengar yang terbaik.

Pertama, memulai percakapan dan memberi senyum. Menjadi pendengar terbaik bukan artinya kita bersikap pasif, justru sebaliknya kitalah yang lebih dahulu menegur dan memberi senyum. Sikap ini klop dan pas sekali dengan ajaran Rasulullah yang menekankan keutamaan orang yang memberi salam lebih dahulu dan juga memberi senyum.

Kedua, memperhatikan dengan seksama apa yang sedang lawan bicara kita lakukan dan bicarakan. Sebagai contoh; kalau dia bicara tentang masalah rambut, maka kita ikuti saja pembicaraan tentang rambut, kalau dia bicara tentang jalan-jalan, maka kita ikuti saja permbicaraan tentang jalan-jalan atau kalau dia sedang mau menuju kelas, maka kita tanyakan apa mata kuliahnya saat ini, bagaimana dosennya, bagaimana pelajarannya. Kalau dia sedang mau pulang ke rumahnya, maka kita tanyakan biasanya naik apa, berapa lama naik kendaraan ke rumahnya, berapa lama sudah tinggal di rumahnya, dan seterusnya sepanjang ada kaitan dengan hal yang di sampaikan.

Ketiga, Tidak memotong pembicaraan lawan bicara. Kadang-kadang kita bosan sekali mendengar keterangan lawan bicara ataupun kita merasa bahwa lawan berbicara kita itu berbicara melantur dan hanya menghabiskan waktu saja. Nah, di sinilah kesabaran kita itu di uji untuk tidak memotong lawan pembicaraan dan terus memperhatikan dengan seksama apa yang di bicarakan. Di situlah kita paksa diri kita untuk melihat dari sisi orang yang sedang menyampaikan. Kenapa ya, kok dia bisa berpikir seperti ini? Apakah benar yang dia sampaikan? Apapun yang terjadi , jangan memotong pembicaraan lawan bicara.

Keempat, selama berlatih menjadi pendengar terbaik kita tidak boleh memberi komentar ataupun memberi nasehat-nasehat. Tugas kita hanya mendengarkan saja. Ini juga termasuk salah satu yang berat karena biasanya kita suka sekali sok tahu dan suka memberi nasehat-nasehat. Sebagai contoh, kalau ada seseorang yang menyampaikan sesuatu dan berbohong kepada kita, misalnya dia bilang bahwa di al Azhar sekarang ada 21 cinema. Kita tahu bahwa itu tidak benar, tetap saja kita ladeni menjadi pendengar terbaik. Kita katakan.. oh iya.. ya.. hebat juga sekarang di al Azhar sudah ada 21 cinema.. ada berapa studio di dalamnya?… . lalu di jawab ada 4 studio.. kita teruskana saja bertanya lagi.. Filmnya apa saja ya?… filmnya adalah… demikian di jawab sama orang itu. Jadi apapun yang terjadi posisi kita tidak menyalah benarkan ataupun memberi nasehat-nasehat. Berat pasti, tapi itulah bagian dari menjadi pendengar terbaik.

Kita belum bisa menjadi pendengar terbaik, sepanjang hal-hal yang di atas belum bisa kita lakukan. Kita berarti masih gagal mejadi pendengar terbaik. Oleh karenanya untuk menjadi pendengar terbaik itu memang benar-benar menguras stamina. Mencampur adukkan emosi yang ada di dalam diri kita. Beberapa dari teman-teman ketika berbicara dengan lawan bicara yang baru pertama kali berbincang, terasa sekali hanyut ikut merasakan kondisi emosi di dalam diri lawan berbicaranya. Seolah-olah mereka ikut merasakan pengalaman dan keadaan bathin lawan berbicaranya. Kondisi inilah yang sebenarnya di namakan sebagai KEMAMPUAN BER EMPATI. Pada saat itu mulai timbul dalam diri kita kemampuan untuk ber empati, yaitu bisa merasakan dan bisa mengetahui apa sesungguhnya yang ada dalam lawan bicara kita sehingga dengan demikian kita juga berupaya melakukan komunikasi yang sebaik-baiknya dengan dia.

Tentunya, kalau Cuma berlatih sekedarnya, empati ini tidak akan menjadi sebuah skill atau keahlian. Dia Cuma akan menjadi sesuatu yang kadang ada pada diri kita, kadang juga tidak ada pada diri kita. Nah, dengan melakukan latihan dengan frequensi yang konsisten dan dosis yang tepat, Empati ini bukan hanya menjadi sekedar kebetulan saja tapi juga menjadi skill bahkan menjadi bagian dari hidup kita yang benar-benar penting.

Bayangkan, kalau kita mau di interview, namun kita sudah bisa mengetahui apa yang ada di dalam perasaan dan pikiran orang yang mau interview kita, apa tidak mudah bagi kita untuk memberikan kesan dan pesan yang tepat. Bayangkan, kalau kita hendak mencari sponsor yang besar dan kita bisa mengetahui apa yang di inginkan dari diri dia kepada kita, apakah proposal kita tidak akan menjadi tepat. Itulah antara lain apa yang bisa di raih dengan kemampuan ber empati.

Kemampuan berempati yang telah menjadi tacit knowledge, atau benar-benar masuk menjadi bagian dari diri kita memiliki level yang berbeda. Pada taraf tertentu, kita bisa mengetahui dan merasakan setelah sedikit mendengar lawan kita berbicara. Pada taraf lebihย  tinggi lagi, hanya dengan memandang sorot mata dan sikap tubuh tanpa orang itu berbicara kita sudah mengetahui dan merasakan apa yang ada dalam diri dir. Pada taraf lebih tinggi lagi, bahkan hanya dengan melihat bagaimana orang itu berjalan kita sudah mengetahui apa dan bagaimana orang tersebut.

Kemampuan ini bisa di raih karena, sekali lagi karena di dalam diri kita sudah tersedia referensi yang banyak setelah berlatih bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Tanpa latihan dengan porsi yang benar, seenak-enaknya, maka lebih cenderung seperti kebanyakan orang, orang ini tidak akan bisa memiliki kemampuan ini. Mungkin saja orang ini tahu secara teori, namun secara praktek dia tidak bisa. Kalaupun dia memaksakan diri untuk berbicara, kita lebih bisa katakana orang ini sebenarnya sok tahu dan sok bisa.

Semakin lama kita tidak memenuhi target dalam latihan, maka semakin lama juga kita akan benar-benar lulus dari posisi menjadi pendengar terbaik menjadi memiliki kemampuan berempati yang tinggi.

Kalau kita benar-benar berniat menjadi pendengar terbaik, maka kita harus perhatikan sikap tubuh dan perilaku kita dan berlatih dengan dosis yang benar. Kalau itu tidak tercapai, maka tentunya kita bukan bersikap diam. Tapi mengevaluasi diri, kenapa? Kenapa tidak sanggup mencapai itu? Itulah yang harus di bedah.. kenapa tidak sanggup? Itulah yang harus di diskusikan. Tanpa melalui porsi yang tepat dan latihan yang sebaik-baiknya maka kita sebenarnya sedang menyia-nyiakan waktu saja.

By : Sam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s