Menjadi Pembicara Terbaik III

Bagaimanakah rasanya ketika kita yang tadinya seorang pendiam, atau seorang yang biasanya pasif berbicara atau bahkan sama sekali tergagap-gagap dalam berbicara, atau bahkan seorang yang over bicara, dengan kecepatan tinggi dan biasanya ngomongnya tidak bisa di tangkap temannya, tiba-tiba di wacanaka agar bisa menjadi pembicara di mulai dengan pembicara terbaik?

Rasanya tentunya, campur aduk! Antara bisa dan tidak bisa. Antara ragu iya atau tidak. Maju dan mundur. Kalau lagi semangat maju, kalau lagi down – ya mundur. Apalagi kalau di dalam diri kita, kita merasa bahwa latihan ini benar-benar bukan diri kita. Bukan gue banget. Sudah deh maka seribu macam imaginasi pikiran akan timbul dalam diri kita.

Bagi yang pendiam dan  cenderung reaktif, tentu untuk berkenalan dengan 5 orang susah. Satu orang saja susah, apalagi 5 orang. Maka otakpun kemudian bekerja, berpikir-pikir dan mulai berhitung-hitung. Kalau kita belajar tentang bagaimana cara otak kita bekerja, di sana di terangkan banyak hal. Dari conscious mind sampai subconscious mind. Dari zona comfort sampai zona uncomfort. Secara natural, otak mayoritas manusia tentu mengedepankan zona comfortnya. Apa artinya? Artinya kalau sudah comfort atau nyaman, maka kita tidak akan mau keluar dari situ. Lebih-lebih, nah ini perlu di catat, kalau kegiatan atau hal yang kita lakukan masuk ke zona un-comfort atau tidak nyaman. Spontan maka akan ada perlawanan dalam otak kita kepada diri kita sendiri. Otak langsung mengirimkan sinyal-sinyal kepada seluruh tubuh untuk tidak menuruti keinginan kita yang membawa diri kita kepada zona tidak nyaman tadi.

Contoh, yang kecil-kecil misalnya orang yang tidak biasa sholat, mulai mengerjakan sholat. Itu saja otak memberikan perlawanan, timbul segala macam alasan. Rasa malas. Rasa ngantuk. Pokoknya ada saja. Contoh lain, memakai jilbab. Bagi yang tidak biasa, ketika memulai memakai jilbab itu. Timbul perlawanan di dalam otak dan mengirim sinyal-sinyal ke tubuh sehingga Timbul rasa minder, rasa enggak yakin, rasa ragu-ragu. Contoh paling kecil dan kalau mau diingat, adalah ketika di LC, kemudian Indy sampai sebegitu bingungnya hanya untuk mematahkan pompa dragon dengan kepala. Yang terjadi di dalam diri Indy sebenarnya adalah, otak indy mengirim sinyal-sinyal kepada seluruh tubuhnya begitu melihat zona tidak nyaman yang akan di masukinya. Berbagai pikiran terlintas, berkecamuk. Itulah hasil kerja otak yang cenderung ingin tetap pada zona comfort. Otak itu berkata kamu tidak bisa. Kamu tidak bisa. Ini berat. Ini berat. Kamu tidak akan sanggup. Itulah cara otak berbicara kepada diri kita. Toh, pada saat itu juga terbukti otak berkata tidak benar. Ternyata indy bisa mematahkan pompa dragon itu. Begitu juga dengan Asma.

Bagi yang cenderung aktif, ngomongnya seperti kereta, tentu kebalikan. Otaknya itu mengirimkan sinyal-sinyal penolakan ketika orang tersebut berlatih untuk lebih tenang, lebih diplomatis, lebih banyak berpikir dahulu daripada berbicara yang cenderung tidak jelas ujung dan pangkalnya. Akibat sinyal-sinyal itu, maka seakan-akan badan menjadi cacing di rebus hidup-hidup, bawaaannya menjadi resah dan gelisah, tidak sabar ingin berbicara bukan hanya sebatas mendengarkan. Bahasa inggrisnya itu adalah Gregetan.

Semakin dalam kita tidak mampu berkomunikasi , apalagi tidak ada bakat menjadi pendengar terbaik maka semakin beratlah perjalanan kita ini. Kenapa berat? Karena yang kita lawan sekali lagi adalah otak kita sendiri yang terus mendoktrin diri kita untuk tetap bertahan dalam zona nyamannya.

Oleh karena itu sekali lagi, di Pemuda Al Azhar ada tiga kunci utama yang menjadi pokok-pokok dalam rangka mengatasi kendala ini.

Pertama, Sesuai janjinya musuh terbesar adalah diri sendiri. Yang di lawan pada fase ini adalah otak yang bekerja di zona nyamannya. Ingat enggak ketika kita baru belajar jalan? Ingat enggak ketika kita baru belajar naik sepeda? Berapa kali harus terjatuh. Berapa kali harus merasa sakit. Tapi toh kenyataannya kita bisa. Walau dalam perjalanan harus benjol atau memar-memar dulu sedikit. Kalau kita turuti zona nyaman otak kita, mungkin seumur hidup kita jalannya harus ngesot, mirip-mirip suster ngesot karena apa? Karena takut belajar jalan bisa jatuh nanti. Jadi kalau ketika kita mulai berlatih, terus otak mengirimkan sinyal-sinyal negatif, kamu akan di tolak, kamu enggak bisa, kamu enggak mampu, maka segera bunuh sinyal itu. Katakan kepada otak, ini tidak benar. Bismillah, segera eksekusi latihan. Tidak ada kata tidak bisa. Laa hawla Wala Quwwata illa billah. Ingat, musuh kita adalah diri sendiri.

Kedua, Kata kunci dalam keberhasilan adalah KEMAUAN. Itu karenanya berulang kali di tanyakan mau atau tidak? Mau atau tidak? Semakin besar kemauan maka semakin besar peluang kita untuk mengalahkan diri kita sendiri. Kalau kemauan kita lemah, carilah dan berkumpullah dengan orang-orang yang semangatnya besar.  Carilah orang-orang yang bisa memberi semangat. Jangan berkumpul dengan orang-orang yang tidak punye kemauan, nanti kita tambah hilang kemauannya. Kalau kemauan kita mengecil, maka ingatlah kembali sukses yang akan di peroleh kalau bisa nanti. Besarkan hatinya. Itu karenanya kemauan yang sudah ada di dalam diri kita itu harus di patri benar-benar untuk menjadi BAJA. Berhasil atau mati. Itulah tekad kemauan yang sudah menjadi BAJA.

Ketiga, rubah karakter model ayam sayur di dalam diri kita. Guru mengaji Bang sam berkata “orang sukses adalah orang yang berani”. Kata seseorang bijak “ dunia ini adalah milik para pemberani”. Bahkan bendera warna bangsa kita berwarna merah yang melambangkan keberanian. Kalau mau lihat bangsa-bangsa besar di dunia, mereka semua punya mental keberanian. Bangsa Skandinavia, penakluk daratan es. Beraninya luar biasa. Bangsa Cina, tidak bahasa inggris tapi kemana-mana di arungi sama dia. Berani!. Lihat orang-orang besar… semua mentalnya memiliki keberanian. Oleh karena itu, Salah satu karakter dasar Pemuda Al Azhar adalah Berani. Tanpa keberanian, kita sebenarnya sudah kalah sebelum bertempur. Tanpa keberanian, kita sudah mati walau masih bernafas. Jadi kalau di dalam diri anda, masih ada juga rasa takut, gentar, katakan kepada diri anda. Saya adalah Pemberani. Baca doa yang banyak. Baca Syahadat. Baca Laa Hawla wala quwwata illa billah dan eksekusi latihan. Jangankan kenalan dengan tukang becak, dengan presiden Negara manapun kita lakukan.

Jangan kalah sama diri –nya sendiri. Merdeka!!!

by : Sam

One thought on “Menjadi Pembicara Terbaik III”

  1. Many Online Backup Reviews services will have a Flash drive capable of saving lot of electrical energy, these systems will prove to be useful for
    photographers for backing up and how often will I be using it.
    These services can protect the business from data loss
    by recovering the files lost due to natural disaster, house fire, or even real-time synchronization.
    Mountains of data is dealt with on a daily basis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s