Menjadi Pembicara Terbaik IV

Lumayan juga, ada juga yang bertanya tentang apa kaitan antara Pendengar terbaik dengan pembicara terbaik. Apa tulisan ini salah judul? atau enggak nyambung? Terima kasih buat Agas yang sudah memperhatikan.

Bagaimana sih rasanya kalau kita berbicara dengan orang yang mau mendengarkan cerita kita? Kelihatannya tulus, sungguh-sungguh mendengarkan. Enggak menilai. Enggak sok-sokan kasih saran. Setiap kali kita berbicara, orang itu kayaknya mengerti banget perasaan kita. Senang banget kan ?

Berapa banyak orang bilang yang bilang.. capek deh gw, gw sudah jelasin.. dia enggak ngerti-ngerti juga. Lebih capek lagi yang sedang dilanda jalinan asmara , sampai ngelamun – ngelamun di rumah.. kok kayaknya dia enggak ngerti gw.. enggak mau dengarin gw.. maunya menang sendiri. Oleh karena itu adalah idaman setiap orang kalau kita berbicara dengan mereka, kita mengerti mereka, merasakan apa yang mereka rasakan dan lebih lagi, memberi perhatian kepada apa yang mereka bicarakan. Siapa sih yang enggak senang di perhatikan? Kita dandan, pakai baju bagus-bagus atau apapun ujung2nya kan untuk mencari perhatian.

Enggak percaya? Coba kalau ada yang bilang hari ini agas ganteng.. pasti agas langsung berbunga-bunga. Kalau misal ada yang bilang asma bajunya bagus hari ini, pasti jalannya jadi miring-miring enggak kayak biasanya karena ke geeran mungkin. He he he. Itu tandanya sebenarnya kita memang mencari perhatian. hanya masalahnya enggak ada yang merhatiin aja! Sekalinya ada.. langsung terekam di dalam diri kita.

Oleh karena itu pembicara terbaik bukanlah orang yang banyak bicara dan tidak berhenti-henti bicaranya. Salah satu syarat mutlak untuk menjadi pembicara terbaik adalah dimulai dengan menjadi pendengar terbaik. Itu syarat mutlak. Bayangkan, bagaimana kita bisa maju ke tingkat berikutnya.. misalnya Persuasi atau bujukan. Bagaimana bisa membujuk orang, kalau kita Cuma memperhatikan diri sendiri bukan memperhatikan apa kebutuhan orang yang mau kita bujuk? Apa kita bisa berhasil..? pasti  akan gagal! Apalagi kalau bicara tentang bentuk komunikasi yang lain seperti retorika, lebih akan gagal total lagi. Bayangkan, ada seseorang berbicara di depan ratusan orang yang dia bicarakan adalah dirinya sendiri, siapa saya…. Maunya saya… perasaan saya.. apa orang mau dengarkan? Baru mulai 10 menit. Orang-orang sudah bubar. Sebaliknya apabila, orang yang berbicara di depan ribuan orang, mengucapkan kata-kata yang memang menjadi kebutuhan orang banyak, mengucapkan kata-kata yang meliputi perasaan orang banyak, tidak ragu-ragu lagi, orang-orang yang hadir akan terpikat dan tergerak untuk mengikuti ucapan-ucapan sang orator.

Kita tidak perlu bermimpi untuk menjadi seorang orator, ataupun seseorang yang bisa membujuk, selama kita belum lulus dari level empaty dan belum lulus dari level menjadi pendengar terbaik.

Lapor, saya sudah latihan kenalan 10 orang setiap hari. Semua sudah saya lakukan. Walaupun ada laporan seperti ini, belum tentu juga orang ini sudah lulus dari menjadi pendengar terbaik. Tolong di check dan di catat dalam2, selama kita masih mendominasi pembicaraan, porsi kita lebih dari 30% ketika berbicara dengan orang, berarti kita masih gagal menjadi pendengar terbaik. Selama kita masih berbicara… kalau saya begini.. kalau menurut saya begini…. berarti masih gagal menjadi pendengar terbaik.

Contoh: B.s beberapa hari lalu bertemu dengan seorang klien baru. Namanya Mr A. badannya besar, matanya menantang. Suaranya, lantang dan jelas. Di tangannya ada garis bekas jahitan panjang sekali.  Ketika B.s Bertemu dengan dia, B.s tidak bercerita tentang seberapa besar perusahaan, seberapa bagus perusahaan tempat b.s bekerja. B.s Hanya bertanya dan bertanya lagi dan mendengarkan dengan seksama.

Dalam pengalaman B.s, orang-orang yang matanya menantang suka sekali kalau bertemu dengan orang-orang tidak takut untuk menantang balik mata mereka. Jadi b.s pun menantang balik tatapan matanya ketika sedang berbicara dengan dia. Sedetikpun b.s tidak berkedip.

B.s bertanya kabar, mendengar cerita-cerita tentang bisnisnya. Setelah dia bercerita-bercerita , maka b.s bertanya kepada Mr. A. ..saya dengar suara aksen anda lain, bukan seperti orang-orang sini. Darimana anda berasal?.. maka dia jawab dengan tegas From Kiev , From Russia .

O pantas kamu berbeda, tau enggak salah satu film favorit saya, film yang paling memukau bagi saya adalah cerita tentang pahlawan dari Russia . Judul Filmnya Enemy at The gates….

O, I don’t know that movie…

Film itu, kata b.s lagi, bercerita tentang kota staliningrad yang hampir jatuh di tangan jerman, tapi kemudian Russia punya seorang sniper jitu yang luar biasa.

O, yes now I remember that movie. Maka diapun mulai bercerita tentang kebesaran Russia . Lalu b.s bertanya-tanya tentang isu-isu update bagaimana pandangan dia tentang Georgia yang milih bersekutu dengan nato. Lalu b.s bertanya lagi dan tentunya juga memuji2 kepemimpinan Vladimir putin yang bisa mengangkat kembali Russia (nah, di sinilah gunanya banyak membaca, mau bicara apapun.. akan selalu bisa menyambung). Dia tanya. B.s jawab sedikit, sisanya b.s tanya dia dan di jawab dengan cerita panjang lebar.

Sampai di salah satu kesempatan, dia menanggapi pembicaraan b.s lalu bercerita kenapa tangannya ada luka jahitan yang panjang.

Saya sedang berjalan menuju mobil, tiba-tiba seorang laki2 sudah mencengkram baju saya, dia berusaha merampok saya sambil teriak bangsat… pisaunya yang besar sudah mau menghunjam ke dada saya. Saya pikir saya sudah akan mati di tusuk waktu itu. Tapi ternyata dia mengancam saya dulu, saya tidak sempat berpikir lagi, saya ambil pistol di celana saya dengan tangan kiri.. Bum… dia rubuh, mati.

Tiba-tiba tangan saya sebelah kanan, terasa seperti sudah hilang, darah muncrat karena mengenai arteri saluran darah saya. Rupanya dari belakang, teman sang penodong sudah menembak dan mengenai tangan saya. Saya roboh, jatuh menimpa sang penembak. Segera saya tembak juga, mati orang tersebut. Orang ke tiga lari. Karenanya luka tembak mengenai arteri tangan saya, saya kehilangan banyak darah. Setelah sampai di rumah sakit, saya koma selama 10 hari antara hidup dan mati.

B.s ketika mendengarkan cerita ini, b.s dengarkan dengan seksama. Posisi duduk merapat kepada dia, memberi komentar seperti.. you are crazy.. wow.. apapun yang dia bicarakan b.s tanggapi dengan setulusnya, ketika dia menunjukkan luka-luka bekas jahitan. Tangannya pun b.s pegang. B.s raba-raba.

Dia menerangkan lagi setelah mendengar pertanyaan-pertanya an b.s, saya pernah 4 tahun ikut masuk jadi tentara di Russia . Jadi, itu sebabnya saya berespon dengan cepat. Ceritanya panjang, tapi kejadiannya tidak lebih dari 5 detik. Semua terjadi begitu saja. Waktu itu tahun 1999.

Setelah cerita panjang, tentang anak-anaknya, keluarganya, pengalaman hidupnya, hobbynya dia yang pergi main ice skating, kemudian aktivitas dia sekarang yang main boxing (tinju) maka B.s sampaikan bahwa b.s admire Courage/ hargai keberanian… dari lubuk hati yang paling dalam sangat senang bisa berjumpa orang yang punya keberanian. B.s sampaikan lagi.. You don’t know who you are, until you face the moment of the truthand in your case, you are a man of steel. That’s what you are made of. I really admire it.. tentu dengan anggukan-anggukan kepala seperti yang maulana sering tiru-tiru itu.

Ya begitulah kurang lebih menjadi pendengar terbaik sekaligus pembicara yang terbaik.. hm.. b.s enggak cerita banyak tentang b.s, enggak sibuk juga tentang nawarin bisnis. Tapi mau tau enggak apa respon dan tanggapan dia tentang b.s

Pertama, ini kutipan email yang dia kirim ke b.s “I will definitely will do trial business with you as I like you as a person.I had to fly to Germany to see my mom to sort some problem here,flying back on Sunday,so if we can postpone it for week after I will really appreciate it.”

Kedua, ketika b.s berbicara dengan dia, dia bilang belum pernah bisnis dengan negara Indonesia dan selalu dengan China . Sehingga kemudian b.s promosikan salah satu pabrik terbesar di Indonesia dan b.s kenalkan dengan regional managernya yang mengatur seluruh penjualan dari berbagai kantor di dunia. Setelah beberapa email dia merespon sebagai berikut  “Dear  Mr C., thank you very much for your kind offer , I accept it as I trust S. and he spoke very highly about you

Orang menjadi mau bisnis, mau mengambil dari Indonesia dasarnya karena apa, karena percaya sama b.s. Dasarnya apa percaya? Simple, Cuma gara-gara jadi pendengar terbaik saja. Can you do that?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s