Menjadi Pendengar Terbaik I

Tanpa terasa, sudah 4 bulan sejak leadership camp ke 2 berlalu. Masih segar di ingatan bang sam tentang janji –janji dan banyaknya komitmen-komitmen yang di berikan dengan suara lantang dan gagah berani. Bahkan, katanya saat itu, itulah di mulai era baru  dengan membuka lembaran kejujuran bagi diri sendir dan Stop berbohong kepada diri sendiri.

Kesuksesan memang mahal harganya. Sebagai seorang muslim yang hidup di era globalisasi, kita di tuntut untuk bisa hidup dengan sukses. Sukses di dunia dan sukses di akhirat. Namun apalah arti sukses tersebut, kalau kita dapatkan dengan cara-cara berbohong. Kita akan sulit misalnya, kalau  belum apa-apa saja, kita sudah memulai dengan berbohong kepada diri kita sendiri. Oleh karenanya di leadership camp, kejujuran terhadap diri sendiri memang merupakan kunci awal dari perjalanan panjang toward global leader

Nabi Muhammad adalah orang jujur, orang yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong. Dia antithesis dari karakter bohong. Jadi, kalau kita masih juga memupuk terus kebohongan-kebongan terhadap diri kita, sebenarnya kita masih memupuk perlawanan diri kita kepada Nabi Muhammad dan membangun istana kekafiran dalam diri kita.

Apa benar kita sudah jalankan kata-kata kita? Janji kita? Komitmen kita? Mungkin kita bisa bersikap seolah-olah kita tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menjadi janji dan komitmen kita, tapi Allah kan tidak buta, tidak tuli dia Maha Menyaksikan dan Maha mendengar.

Beberapa teman-teman yang sudah mencoba praktek komunikasi dan berlatih terus, memberi pertanyaan kepada B.s. apakah saya sudah menjadi pembicara terbaik? Bagaimanakah ciri-cirinya?

Secara fisik, ciri-ciri pendengar terbaik ini bisa di perhatikan dari hal-hal sikap tubuh.

Pertama, eye contact. Mata itu memandang orang yang sedang berbicara dengan kita. Jadi kalau benar-benar menjadi pendengar terbaik, maka mata itu tidak boleh lirik kanan, lirik kiri. Mata kita hanya tertuju kepada orang yang sedang berbicara kepada kita. Ingat enggak, betapa kita sering sebal kalau bicara sama orang, orang itu matanya malah kemana-mana ketika kita sedang berbicara. Jadi kalau kita sedang berbicara sama orang, pastikan dia memang merasa kita beri perhatian sepenuhnya. Di mulai dari eye contact itu

Kedua, sikap tubuh. Waktu kita berbicara kepada orang, yang terbaik pastikan posisi tubuh kita menghadap orang yang berbicara dengan kita. Jadi. Sebisa mungkin tubuh kita posisinya menghadap orang yang berbicara sama kita. Bagaimana kalau kita di metro? Di angkot misalnya? Ya, itulah dia, ketika kita berupaya menghadapkan tubuh kita ke lawan bicara, walaupun tidak full, sedikit saja. Tapi lawan bicara kita menjadi tahu,bahwa kita benar2 berusaha mendengarkan dia dengan baik.

Ketiga, Anggukan kepala (head nodd). Maul sering kali meniru-niru bang sam dengan cara angguk-anggukan kepala. Padahal angguk-anggukan kepala itu bukan ada rahasia apa-apa melainkan itu sebagai sebuah feedback. Bayangkan misalnya kalau maul cerita, terus yang mendengarkan tidak memberi respon apa-apa. Diam , statis. Sulitkan? Tapi dengan memberi tanda anggukan saja itu sudah termasuk salah satu cara memberi feed back bahwa kita memahami yang sedang terjadi.

Keempat, Kaki. Perhatikan juga, bahwa ketika sedang berbicara , kakinya jangan di goyang-goyang. Selain mengganggu orang yang sedang berbicara, gerakan ini juga memberi kesan bahwa kita tidak serius mendengarkan orang yang sedang berbicara

Kelima, tangan. Tangan sesekali boleh di gerakkan, misalnya menggaruk2 kepala untuk memberi respon.. wah ini susah sekali ya.. wah ini perlu pikiran berat… dan lain sebagainya untuk menguatkan ekspressi bahwa kita bersungguh-sungguh mendengarkan cerita orang yang ada di hadapan kita. Namun jangan juga berlebih-lebihan. Tips paling anyar tahun ini adalah, kalau sudah niat berlatih komunikasi untuk menjadi pendengar terbaik. Silahkan simpan hp anda di kantong dan tolong di beri mode silent. Jangan sekali-kali tengak tengok hp anda atau ketika sedang berbicara , tiba-tiba hp berdering. Beri silent mode atau kalau perlu off. Jadi tangan jangan kegatelan kutak-katik hp kita di lawan berbicara.

Nah, coba di evaluasi lagi dan saling mengingatkan apakah sikap tubuh sudah mencerminkan bahwa kita adalah seorang pendengar terbaik? Cari kelemahan diri sendiri dan bukan mencari-cari kelemahan orang lain. Itulah yang paling penting saat ini.

by : Sam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s