Menejeman Konflik (ringkas)

Kalau kita mau bicara jujur sama diri kita, siapa sih yang mau mencari-cari konflik. Rasanya malas dan kerajinan saja cari-cari konflik. Namun dalam realitanya, siapakah di dunia ini orang yang tidak pernah merasakan berkonflik.

Konflik itu pasti ada dan akan selalu ada. Tinggal masing-masing orang mengambil sikapnya masing-masing. Ada orang yang ketika mengalami konflik dia kabur, dia lari,atau berlagak tidak tahu. ada juga yang dengan gagah berani menciptakan konflik dan dia sendiri mati akibat konflik itu. Ada juga yang bersikap hati-hati dengan konflik, dan berusaha mencari jalan tengah. Tiap-tiap orang tentunya memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

Kalau anda orang yang ikut organisasi, terus terang, saja, sangat tidak mungkin menghindari konflik. Bayangkan, sama diri sendiri saja, kita kadangkala ada konflik bathin. Apalagi di dalam organisasi, yang orangnya berbeda-beda dan jumlahnya banyak. Pastilah, konflik itu ada. Karena konflik itu ada, maka perlu di kuasai ilmu tersendiri ,khusus, yang di sebut sebagai manajemen konflik.

Bagi para pemimpin, ketika konflik timbul, maka di sinilah kepiawaian pemimpin tersebut di dalam mengatur/me-manage konflik yang ada. Konflik tidak perlu di hindari, bahkan kadang-kadang perlu di ciptakan agar organisasi dapat lebih maju lagi ke depan.

A.      Kenapa ada Konflik?

Konflik lahir dari adanya perbedaan. Entah perbedaan aspirasi, perbedaan keinginan, maupun perbedaan pandangan. Hanya saja, setiap orang memiliki batas-batas tertentu dalam memberi toleransi kepada hal-hal yang menjadi sumber perbedaan tersebut.
Hal-hal yang di luar batas toleransi dalam perbedaan tersebut apabila di eskalasikan maka akan menjadi konflik.

B.      Jenis Konflik

Konflik pada dasarnya di bagi menjadi dua, yaitu yang pertama konflik yang membangun dan konflik yang tidak membangun.
Seperti apakah konflik yang membangun. Konflik yang membangun contohnya adalah ketika misalnya pemilihan presiden amerika serikat, masing-masing pihak mengutarakan pandangannya tentang pengelolaan program Negara. Di situlah konflik tercipta, namun di situ pula terlihat bahwa masing-masing pihak berupaya untuk membangun negaranya
Konflik yang membangun lainnya adalah kalau kita umpamanya mengadu strategi, mengadu program, mengadu konsep-konsep dan teknis-teknis pelaksanaan organisasi, itulah konflik yang sifatnya membangun organisasi.
Konflik yang tidak membangun contohnya adalah meributkan soal –soal pribadi, bertengkar tentang jabatan. Konflik-konflik sama sekali tidak memiliki dampak apapun terhadap organisasi.
Seorang pemimpin di tuntut untuk mampu mengidentifikasi jenis konflik yang ada dan bisa membawa organisasi ke arah konflik yang sifatnya membangun.  Terkadang seorang pemimpin justru di tantang untuk menciptakan konflik guna membangun organisasi yang di bangunnya

C.      Apa manfaat konflik?

Dengan kemampuan pengidentifikasian yang benar, seorang pemimpin dapat mengambil manfaaat dari konflik yang membangun. Dengan konflik inilah, setiap orang di dalam organisasi di paksa untuk berpikir. Di paksa untuk kreatif dan juga di paksa untuk mencari jalan keluar.
Tentunya syarat mutlak lain, seorang pemimpin harus jeli dan lihay dalam memanage konflik tersebut juga. Tidak jarang, sebuah fase dramatis harus di lalui guna menggapai manfaat dari konflik tersebut.

D.      Ilmu dan karakter Yang berkaitan dengan manajemen Konflik

Untuk bisa menguasai konflik dan mengatur konflik maka di butuhkan penguasaan beberapa ilmu lain, seperti, dalam ilmu komunikasi, ketrampilan menjadi pendengar terbaik, empati, persuasi dan retorika juga terkadang di butuhkan. Minimal bisa menjadi pendengar terbaik dan persuasi. Dalam ilmu lain, di butuhkan juga ketrampilan problem solving, atau analisis pengambilan keputusan. Ilmu lain yang di perlukan adalah berpikir sistematik/berpikir tertib, dan terakhir tentunya adalah ilmu  psikologi persidangan, yang berkaitan dengan pemetaan sebelum menetapkan strategi yang akan di ambil.
Karakter keberanian itu menjadi penentu dalam soal manajemen konflik, kadang2 semua ketinggian ilmu, iman, dan semuanya menjadi sirna, ketika mental takut dan pengecut itu mendominasi semua isi tubuh seseorang. Oleh karenanya, karakter berani itu menjadi syarat mutlak bagi seorang pemberani. Dalam sebuah epik terkenal, William Wallace, dikatakan “People follow Courage” dan itu memang benar. Contoh 1 juta orang tewas dalam perang semesta jawa mengikuti Pangeran diponegoro.

Sebagai penutup bagi seorang pemimpin, maka tidak perlu takut akan adanya konflik. Setiap konflik yang akan timbul justru harus di cermati dengan jeli, apakah konflik ini akan membawa manfaat bagi organisasi atau tidak. Apabila jawabannya iya, maka tidak perlu ragu agar konflik itu segera di kelola dengan sungguh-sungguh agar bisa menghasilkan sesuatu yang positif bagi organisasi tersebut.

by : sam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s