Pesimis Vs Realistis

Sembari menyelesaikan tugas akhir, yak,,,sempatin buat ngisi postingan di blog. Ini sebenarnya saya terinspirasi dari sebuah blog, salah satu referensi saya di dalam tugas akhir ini. nah, judul aseli-nya adalah “pesimis vs realistis, beda tipis..”. namun, saya sedikit potong, dan memang akan saya paparkan sedikit tentang hal itu.

yak, mulai.. (ketularan wigati, bilang2 “yak”.. ).. ini artikelnya..

saya pesimis karena coba realistis, saya bukan programmer yang baik: yang benar2 passionate dengan code yang efektif dan efisien, saya juga bukan system analyst yang baik : karena wawasan yang baru secuprit…..Dan lihatlah betapa jahat, pesimis ini perlahan membunuh cita cita saya, sampai satu teman berkomentar :
Maintain your strength aja, gak semua kelemahan, which is yang kau maksud ketidakmampuanmu buat jadi programmer,  meski kau ‘push’ untuk bisa,  energimu akan habis buat itu….dannn kekuatannmu, maksudnya keinginan+kemampuanmu jadi system analyst,  jadinya nanti standard2 aja.  Mending kamu gali kekuatannmu, dan cari cara untuk suppport kelemahanmu, entah lewat orang, sistem, terserah, asal catet, jangan jadi ketergantungan”…indah sekali buat saya…:D
….”Dig your mind deeply” katanya lagi menutup bengong saya yang masih termangu mendengarnya…

nah, akan saya tanggapin, bahwa artikel diatas menerangkan kalau ke-pesimisan membuat orang jadi sulit untuk mencapai sesuatu. Mind set seperti ini tidak seharusnya diizinkan untuk bersemayam di dalam fikiran kita, apalagi fikiran orang-orang yang memiliki cita-cita menjadi orang besar (bukan badannya lho ya yang besar..).Jadi, jangan pernah ada kata pesimis, okeh..

Nah, bagaimana dengan hal yang namanya realistis. Inilah yang namanya pemimpin, harus mamiliki daya analisis yang kuat, karena cenderung harus bersikam visioner (yang tingginya selangit) memotivasi anak buah, tapi juga harus realistis atas apa yang direncanakan dan dihadapi. Hubungannya apa dengan pesimis? nah misal, dalam suatu kasus, kita dihadapkan sesuatu yang memang menjadi kelemahan kita, bagaimana hayoo??

Strategi. Kata inilah yang tepat untuk menjawab itu semua.Ya, dengan adanya strategi, kelemahan-kelamahan yang biasanya mendtangkan “kepesimisan”, bisa kita hadapi dengan meminta bantuan orang atau pihak lain, jadi kita ga perlu capek2 berusaha menjadi ‘professional/ahli” pada bidang yang menjadi kelemahan kita, karena… seperti postingan saya sebelumnya, bahwa manusia biasanya lambat dan butuh waktu yang lama untuk bisa memahami (dalam pembelajaran) hal yang menjadi kelemahan kita, dan sebaliknya, ciri dari sesuatu yang menjadi kekuatan kita adalah pembelajaran anda atasnya sangat cepat, bahkan memiliki track record yang baik dan sukses. gitu deeh..

Makanya, kan dalam islam dianjurkan gotong royong, saling menolong, untuk saling melengkapi..ahli di bidangnya masing2, kayak film OnePiece kan.. apa jadinya klo Luffy bisa main pedang kayak Zoro, dan bisa ngobatin orang sakit kayak Chopper, wahh..bisa marah2 yang jadi Zoro, karena perannya diambil Luffy.. haha.. nahh.. gitu aja dulu ye..
Jadi, untuk menghadapi “pesimis vs realistis”, anda bisa menggunakan satu kata, “strategi”..

semoga bermanfaat..🙂
agastya.wh@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s