Akhlak Ideal

Yang terbaik akhlaqnya, adalah yang kukuh imannya.

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat suatu perumpamaan. Kalimat yang baik adalah umpama pohon yang baik. Akarnya teguh dan cabangnya sampai ke langit. Ia memberikan buahnya di setiap musim dengan izin Rabbnya..” (Ibrahim : 24-25)

Bangunan iman kita seperti pohon ini. Ada aqidah yang menghujam, teguh, terpatri dalam benak. Ia tersembunyi. Tetapi eksis. Keyakinan yang teguh pada Allah, mengakar ke sumber kehidupannya. Ada ibadah yang pengaruhnya dinikmati banyak orang. Shalat yang mencegah keji dan mungkar. Puasa yang mengajarkan empati pada sesama. Zakat yang mengajak semua untuk berbagi. Dan haji, yang membuat kita semua saling sinergi, merasa kecil dihadapan Allah Yang Maha Besar. Dahan-dahan ibadah ini ke langit, menjulang menyadarkan.

Nah, sekarang buah itu. Akhlak. Seorang mukmin memberikan buahnya pada setiap musim, pada segala kondisi dengan izin Allah. Siratan yang indah tentang manisnya kemanfaatan bergaul bersamanya. Semua sisi hidupnya manis dinikmati orang-orang sekitarnya. Ia, bermanfaat, kapan saja, dalam kondisi apapun.

Diamnya bermanfaat, bicaranya apa lagi…Cemberutnya bermaanfaat, senyumnya bermanfaat, tawanya bermanfaat, tangisnya bermanfaat. Gembiranya bermanfaat, sedihnya bermanfaat. Sabarnya bermanfaat, marahnya memberi pelajaran. Duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat. Dalam tidurnya ada manfaat, terjaganya lebih-lebih lagi. Berjalannya memberi manfaat, berhentinya memberi manfaat,. Saat ada banyak nikmat menyambangi, ia berbagi. Saat musibah menimpa, ada banyak pelajaran dari dirinya. Saat luang, ia memberi manfaat sebagaimana saat sibuk. Saat muda memberi manfaat, sampai pun saat tua. Saat sehat memberi manfaat, begitupula saat sakit. Saat kaya memberi manfaat, tak kurang juga di saat miskin. Saat hidup memberi manfaat, begitupun saat wafat, memberi banyak hikmah. Semua sisinya memberikan manfaat bagi sekelilingnya.

Ah, akhlaq. Betapa jauh kita darinya. Tetapi memberi acuan setidak-tidaknya, “seorang mukmin itu adalah seseorang, di mana orang lain senantiasa merasa aman dari lisan dan tangannya”. Nah, itulah mukmin. Jikapun ‘belum berbuah‘, minimal kita tidak berduri dan tidak beracun.

Dikutip dari “Gue Never Die”.

Salim A. Fillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s