Biar Cinta Itu Bermuara Dengan Sendirinya

Hari ini adalah hari dimana aku diminta pelatihku untuk mengikuti perlombaan pencak silat, setelah sebelumnya memang banyak hal yang membuat aku seharusnya ndak bisa ikut kejuaraan itu, tapi, pak pelatihku membereskan semuanya. Aku tinggal datang dan bermain bagus. Yup, meski semalam cuma tidur 2 jam, tak ada alasan bagiku untuk tidak datang ke kejuaraan, karena, semua urusan administrasi sudah dibereskan. bismillaah..

Sesampai di padepokan IPSI di dekat TMII JakTim, waktu masih menunjukkan pukul 8, tapi kok blm pada mulai ya? lagi-lagi ngaret.. I was feeling sleepy.. Sambil duduk, nunggu teman, cengkluk-cengkluk kepalaku tanda ngantuk. Ternyata badanku diam2 tidak berkompromi, alias tidak enak body. Belum sarapan sih.. tapi psikologinya hari ini juga lagi ga bagus..

hah, sudahlah, aku harus main bagus. Akhirnya, pukul 10.15 aku main. Ada 8 peserta. Sampai dzuhur sudah diumumkan.. Alhamdulillah dapat medali emas.

Feels not good, aku pulang duluan. Sampai di kos, beres2. Hati tak kunjung tenang, psikologis ga bagus, padahal harusnya aku kan seneng ya, dapat juara 1, tapi kemana ya perasaan seneng itu.

Seperti biasa, selain berdoa pada Alloh, aku meminta bantuan beberapa orang terkasih untuk menenangkan hati. Siapa lagi, ibu..

Yup, ckup membantu, setelah curhat, ibu pun senang mendengar kemenanganku di kejuaraan pencak silat. Lalu, ibu sedikit bertausyahh..

Nak, hidup itu cinta,

harapan itu cinta,

kecemasan itu cinta,

perhatian itu cinta,

kasih sayang itu cinta..

dan ibu, adalah cinta padamu karena Alloh,

dan bersyukur atas anugerah terindah dari Sang Maha Menyintai..

cinta itu memilih,

memilih menjadi manfaat atau bencana,

seperti air,

bisa bermanfaat,

memberikan kecukupan kebutuhan,

kesegaran peminumnya,

kesehatan,

menyambung kehidupan..

air,

juga bisa merugikan,

menjadi sumber petaka,

membawa penyakit,

racun bagi yang meminumnya,

pemutus kehidupan..


Nah, apakah akan menjadi manfaat atau bencana,

itu tergantung pada kita,

bagaimana mengolah air tersebut..

begitu juga dengan cinta,

Maka, biarlah seperti air,

biar cinta itu bermuara dengan sendirinya..

sendirinya adalah,

dengan kita mengolah dan menempatkan pada tempatnya,

ya, menempatkan pada tempatnya,

mengolahnya dengan benar,

dan selalu berharap bermuara kepadaNya..


Maka,

lihatlah,

rasakanlah,

cinta akan bermuara pada hatimu,

dengan sendirinya..

Mendengar hal itu, diri ini sangat bangga memiliki ibu yang begitu bijak menyikapi dan memberikan hikmah pada putranya..lalu aku menjawab..

Iya ibu,

dengan begini hidup menjadi lebih tenang,

karena semua bermuara padaNya..

aku pun bisa berkata,

bahwa cinta itu memilih,

bahwa aku memilihmu.. ibu,

memilihmu,

untuk mencitaimu… karenaNya,

selamanya..

Yup, hati menjadi lumayan tenang, aku sedikit membayangkan kejadian akhir-akhir ini, bahwa memang, hidup itu adalah cinta, pak pelatihku, mau membereskan urusan administrasi yang rumit mungkin karena dia juga cinta, entah padaku apa pada pencak silat perguruanku, juga seperti puisi sahabatku minggu lalu, bahwa keteracuhan yang berlebihan, kecemasan, kebencian terhadap sesuatu, kegelisahan tentang sesuatu, adalah bentuk-bentuk ungkapan cinta, baginda Muahmmad juga menangis di akhir hayatnya karena cinta, ya..cinta pada umatnya,,

Hikmah yang luar biasa, aku menutup pembicaraanku dengan ibu, dengan sedikit perpuitisasi.. (mesra dg ibu sendiri..hhe๐Ÿ™‚ .. )

dan sekarang,

kita hidup,

kita penuh dengan cinta,

suka dukanya,

pahit getirnya,

nikmati saja..

karena hidup..

must go on..

bukan begitu ?

I love u mom..

—————————-

— Catatan Hati Seorang Ikhwan —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s