Galau Itu Haruss

Galau itu harus?? Lho kok bisa? Bukankah galau itu sesuatu yang nggak baik?

Ya, galau, alias (g)acau balau, alias ribet plus riweuh, adalah virus pikiran atau lebih tepatnya virus yang melanda hati, yang menjangkiti banyak remaja saat ini. Si sinyal galau itu, juga bisa datang tanpa diundang, and pergi nggak dianter, biasanya nggak jauh-jauh dari persoalan asmara, namun ada juga karena persoalan lain seperti masalah sekolah, karena tugas yang nggak selesai- selesai, atau masalah keluarga yang bikin pusing kepala, en sederet persoalan lainnya.

Next, Perasaan galau ini biasanya mudah berkembang biak menjadi sebuah perilaku yang aneh dan malah bisa saja heboh. Dari mulai jadi bahan baku curhatan lewat status FB, sampai-sampai ada julukan khusus bagi para tersangkanya, galauers. Belum selesai sampai di situ saja, galau juga menjadi bahan bakar utama buat ngerasa bete tiap hari, atau marah- marah nggak jelas.

Nah, jika definisi ‘galau’nya adalah yang seperti di atas, ya memang bener, kita nggak boleh mengikuti yang model galau kayak gitu. Apalagi sebagai seorang muslim, yang udah mengenal tauhid, memurnikannya dengan tadabbur quran..

Sebab utama galau sebenarnya adalah adanya masalah atau kekhawatiran kita terhadap sesuatu secara berlebihan dan ternyata tidak dibarengi dengan kekuatan tauhid yang kuat.. ya kalau dapat masalah dan iman kurang, apa lagi coba kalau nggak galau?

Nah, yuk berhusnudzan dalam memaknai kata galau. Kita memaknai dari sisi positif, kali ini benar adanya insyallah, bahwa sebagai seorang muslim, seharusnya dan seyogyanya ‘galau’. Lho kok gitu? Ya.. kita harus galau. Pertama : Kegalauan karena dosa pada masa lampau, karena dia telah melakukan sebuah perbuatan dosa sedangkan dia tidak tahu apakah dosa tersebut diampuni atau tidak? Dalam keadaan tersebut dia harus selalu merasakan kegalauan dan sibuk karenanya.

Kedua : Dia telah melakukan kebaikan, tetapi dia tidak tahu apakah kebaikan tersebut diterima atau tidak.

Ketiga : Dia mengetahui kehidupannya yang telah lalu dan apa yang terjadi kepadanya, tetapi dia tidak mengetahui apa yang akan menimpanya pada masa mendatang.

Keempat : Dia mengetahui bahwa Allah menyiapkan dua tempat untuk manusia pada hari Kiamat, tetapi dia tidak mengetahui ke manakah dia akan kembali (apakah ke Surga atau ke Neraka) ?

Kelima : Dia tidak tahu apakah Allah ridha kepadanya atau membencinya?

Siapa yang merasa galau dengan lima hal ini dalam kehidupannya, maka tidak ada kesempatan baginya untuk tertawa.

[Tanbiihul Ghaafiliin (I/213)]

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65: 2-3)

#pencarihikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s