Ada Kaidah dalam Kepemimpinan

Hari yang begitu berkesan, tak banyak memang yang terjadi, tapi memang memberikan kesan yang cukup baik. Diskusi brainstorming dan penyatuan persepsi masing-masing kepala sungguh tak mudah, apalagi organisasi kepemimpinan yang basicly berkumpul karena kerelaan dan keikhlasan, tak ada hal lain kecuali inginnya mengaktualisasikan diri dalam medan dakwah dan proyek peradaban. Pemuda dan Kepemimpinan.

Dinamika organisasi memang unik, di sana ada sebuah jabatan yang bernama pimpinan, namun ada juga sebuah identitas yang bernama pemimpin. Mari kita maknai masing-masing dulu.

Pimpinan, adalah sebuah jabatan, dia diangkat karena musyawarah atau kesepakatan bersama. Biasanya diangkatnya seorang menjadi pimpinan karena simbolisasi sebuah perkumpulan agar lebih teratur dalam beraktifitas dan biasanya secara pribadi, dia memiliki keunggulan serta wise yang lebih dari yang lain.

Nah kalau pemimpin adalah identitas, yang dimiliki oleh notabene semua insan. Merujuk dalam sebuah hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

Kepimpinan adalah sebuah sistem, mekanisme dalam perkumpulan manusia agar terjadi keteraturan sehingga mentransformasi, dari yang hanya suatu perkumpulan manusia saja, menjadi suatu barisan manusia yang rapi lagi kokoh serta bertanggung jawab terhadap amanah masing-masing.

Berbicara tentang pimpinan, pemimpin dan kepemimpinan, mari kita simak sebuah kisah Abu Bakar berikut untuk kita ambil hikmahnya.

Pasca Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih dan disepakati oleh kaum Muslimin melalui musyawarah untuk menjadi pemimpin menggantikan posisi Rasulullah SAW.

Dapat dibayangkan kesulitan Abu Bakar dalam memimpin umat yang sebelumnya kuat dilandasi oleh ikatan kekerabatan (kabilah), tidak mengenal aturan, buta huruf, pelanggaran kehormatan, dan penyerangan terhadap saudara maupun kerabat.

Dapat pula dibayangkan beratnya Abu Bakar dalam mentransformasikan konsep “Jamaah Islamiyah” menjadi “Daulah Islamiyah”.

Sadar bahwa suatu bangsa tidak mungkin menjadi besar kecuali telah melampaui proses ratusan tahun, satu jalan alternatif untuk mempercepat akselerasi kebesaran itu antara lain dengan menjalin kesatuan hati dan pemahaman yang sama tentang konsep kekuasaan.

Maka Abu Bakar menerapkan konsep kepemimpinan yang benar, yaitu pemimpin yang ditaati kendati terkadang terdapat perbedaan pandangan dalam melihat beberapa permasalahan.

Program pertama yang digagas Abu Bakar adalah memerangi orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) pascawafatnya Rasulullah SAW. Guna menyukseskan gagasan tersebut, Abu Bakar melakukan berbagai rangkaian pendekatan dan konsultasi kepada para sahabat. Sebagian kecil sahabat setuju, sementara sebagian besarnya menentang.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan berbeda pendapat dengan lugas, kemudian tidak menaati Abu Bakar. Mereka tetap taat kepada Abu Bakar karena sadar, sekiranya mereka berselisih, maka Islam tidak akan berdiri tegak.

Perselisihan hanya akan membawa orang-orang murtad menyerang Islam dan melumpuhkan kekuatannya. Oleh karenanya, ketaatan kepada pemimpin menjadi perkara yang wajib bagi para sahabat karena mengandung kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan.

Dalam perjalanannya Abu Bakar menunjuk Usamah memimpin pasukan kaum Muslimin. Sebagian sahabat lagi-lagi kurang setuju dengan penunjukan tersebut. Akan tetapi, ketika Abu Bakar meyakinkan pandangannya dan bertekad melaksanakancgagasannya, semua sahabat tanpa kecuali taat dan menjalankan perintahnya.

Tidak ada seorang pun dari sahabat yang berkata bahwa pendapatnya berbeda secara diametral lalu menentang Abu Bakar. Para sahabat tetap mengambil posisi taat kepada pemimpin karena rahasia kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan yang terkandung di dalamnya.

Perselisihan hanya akan membawa orang-orang murtad menyerang Islam dan melumpuhkan kekuatannya. Oleh karenanya, ketaatan kepada pemimpin menjadi perkara yang wajib bagi para sahabat karena mengandung kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan.

Hikmahnya.

Memberikan nasihat kepada pemimpin adalah hak orang yang dipimpin. Namun di dalam pelaksanaan hak dan kewajiban sesungguhnya terdapat pertimbangan kepatutan, sehingga dalam menyampaikan kritik membangun diperlukan cara-cara santun dan proporsional agar tetap patut dan tidak melahirkan cibiran orang.

Disisi lain, hikmah cerita di atas adalah bahwa, taat kepada keputusan Abu Bakar sebagai pimpinan (amir) dan pemimpin adalah hal yang mutlak. Para sahabat tetap mengambil posisi taat kepada pemimpin karena rahasia kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan yang terkandung di dalamnya (ketaatan untuk persatuan).ย Begitulah dalam beroganisasi. Selama pada hal yang ma’ruf, berbeda pendapat itu wajar, tapi taat kepada keputusan pemimpin yang ma’ruf itu lebih utama.

One thought on “Ada Kaidah dalam Kepemimpinan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s