Penyesalan Selalu di Belakang

[edisi curhat]. Pagi ini, ada sebuah kejadian yang banyaaak sekali hikmah. Walau mata hati inii sedang tumpul, futur terasa kering iman, tapi tetap ingin berusaha memperbaiki keadaan. Bukankah tidak ada seseorang kecuali menginginkan keadaan yang lebih baik..?

Penyesalan ini menjadi sangat berarti bagi saya, karena ketidaksabaran saya dalam menetapi adab dalam berdiskusi. Sederhana sebenarnya tujuannya, yaitu menyampaikan materi/sharing ilmu #ADAB. Qadarullaah pas banget dihadirkan kasus. Akhirnya, semangatlah saya menyampaikan.

Nah saking semangatnya menyampaikan, malah saya yg terpeleset tidak memperhatikan adab itu sendiri. -______-” (saya pun tiba2 jadi ekspresif begini &#S*E5%$).

Sebenarnya akan benar ketika saya sudah terposisikan seperti Tuan Guru atau siapa yg ilmu dan otoritasnya sudah baik di mata umat, juga secara usia jauh lebih seniorr, tapi ketika ditarik dalam ranah kasus kecil yang secara usia juga rata2 tidak beda jauh seperti ini, tertangkaplah persepsi seolah beda pendapat, debat, dll. Apalagi ada kesalahan diksi yang menyebabkan timbul stigma judgement. fatal !  Astaghfirullaah. Di sinilah point kesalahan besarnya.

Yasudah, terjadilah situasi yang agak tegang. (kayak tali yg sedang ditarik di lomba tarik tambang :p ). hmmm.. Untuk kali ini, benar memang saya akui, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan/ketikan di BBM tidak bisa ditarik kembali. Yang ada adalah wajibnya klarifikasi.

Dari dulu memang saya paling tidak suka bbm-an dalam menyampaikan sesuatu yg panjang dan lebar. Karena beberapa kali salah dan fatal. Semoga ini yang terakhir. 

Akhirnya, saling klarifikasilah, baik di group maupun personal japri. Alhamdulillaah karena memang pribadi2 di group tsb adalah orang2 muslihuun (dari kata islah) yang selalu ingin kebaikan, damai dan aman sentosa, semuanya segera paham. IN SHAA ALLAAH. Secara hukuman, adalah adil jika tampar dibalas tampar, tapi memaafkan itu lebih baik tentunya.

Terlepas itu semua. Catatan untuk dinamika komunikasi dan kehidupan bersosial kita dg saudara kita dalam bermasyarakat, bahwa, ketika orang beriman itu melakukan kesalahan besar, sudah bisa dipastikan dia sedang futur imannya.

Bersegera untuk meminta maaf dan memaafkan. Bersegera untuk memohon ampun kepada Allah.
Bagi orang2 yang lembut hatinya, sensitif dan terlalu peka, kejadian seperti ini bisa sangat memukul sekali. Tapi bagi orang2 yang beriman, kelembutan akhlaqnya dan keteguhan aqidahnya akan selalu menjadikan diri sebagai orang yang muslihuun. Pribadi yang mendamaikan dan selalu memaafkan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali Imron: 133-134).

*note :
– khusus. pelajaran yg sangat2 berarti utk orang2 melankolis koleris. Kenapa bisa begitu? next ya sharingnya. #ntms
– Mencontoh Umar ra. Ada dhiyat yg berlaku bagi saya, nanti malam (8/04/2013) datang ke AQL deh, member group yg datang, akan ditraktir makan malam di maida resto🙂. Dhiyat lain in shaa Allah ada infaq utk FIVE (5) RADIO. Semoga Allah ridlo. aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s