Surat Terbuka untuk Karni Ilyas Terkait ILC Episode Syiah Sampang

Yth. Bapak Karni Ilyas
Di Tempat

Terkait acara ILC 2 hari lalu dengan tema “Syiah diusir, Negara ke mana?” telah mengakibatkan sejumlah tokoh islam dan aktivis geram. Pasalnya, dalam acara yang ditonton oleh jutaan rakyat Indonesia tersebut, sangat sarat dengan aroma advokasi keberadaan Syiah sebagai aliran yang notabene telah menistakan agama Islam (melanggar pasal 156a KUHP). Analisis tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh wartawan sebuah media Islam, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi dalam akun twitternya @PizaroNT.
“Minimal ada enam catatan yang bisa kita suguhkan untuk mengkritik acara ILC malam ini :

  1. Dari Judul yg dipilih Karni Ilyas dalam Indonesia Lawyers Club yang disiarkan Tv One.
    Judul “Syiah Diusir, Negara Kemana” jelas menunjukkan Tv One berada dalam posisi mengadvokasi Syiah. Dengan posisi ini, Tv One berpihak kepada Syiah tanpa melihat fakta penodaan ajaran agama yang dilakukan Syiah di Sampang. Makanya dari awal aneh, acara yang biasanya banyak dihadiri pengacara tiba-tiba saja berubah dengan dominasi tokoh-tokoh Syiah, Padahal jika Karni fair, dia seharusnya mengundang tim ahli untuk membahas penodaan agama oleh kelompok Syiah di Sampang.
  2. Dari awal Karni Ilyas sudah mempersempit peluang terungkapnya kebenaran.
    Dengan memblock ILC untuk tidak membahas perbedaan ajaran Islam-Syiah, maka sumber utama konflik tidak disentuh sama sekali. Padahal perbedaan ajaran inilah yang jadi akar masalah sampang. Selama ini tidak diungkap, persoalan Sampang tidak akan selesai.
  3. Ketidakadilan dalam membagi suara kepada narasumber.
    Alokasi waktu untuk para ulama Sampang yang mengetahui sejarah kasus Syiah sangat sedikit. Berbeda dengan Syiah yang sangat leluasa bersuara. Harusnya Karni dapat lebih adil untuk memberikan hak suara dari kalangan ulama yang menangani kasus ini dari tahun 2004. Kenapa? Karena jauh sebelum ada Kontras dan ABI, Ulama Madura sudah mengawal kasus ini sejak tahun 2004.
  4. Tidak adanya lembaga yang dihadirkan Tv One dari kalangan Ahlussunah untuk menjelaskan kasus Sampang secara berimbang. Berbeda dengan kalangan Syiah dimana ada Kontras. Ahlusunnah hadir tanpa ada pembelaan dari lembaga yang concern meneliti kasus Sampang. Padahal MIUMI telah mengeluarkan buku tentang akar kasus Sampang. Buku ini sangat valid karena berasal dari penelitian langsung di Sampang.
  5. Karni Ilyas tidak memberikan ruang bagi narasumber Ahlussunah untuk melakukan konfirmasi sepadan atas pernyataan kalangan Syiah. Berbeda dengan Syiah yang diberikan kesempatan konfirmasi oleh Karni Ilyas. Dengan leluasa mereka bebas mendiskreditkan para ulama. Ulama bukannya ingin membantah klaim-klaim kelompok Syiah. Namun apa daya, Karni lebih suka memberikan mic kepada kalangan Syiah.
  6. Tv One mengundang narsum yang tidak kompeten seperti tokoh Kristen (Romo Benny) yang sama sekali tidak mewakili agama Islam. Seakan-akan umat Islam tidak bisa menyelasaikan masalahnya sendiri dengan harus melibatkan tokoh Kristen. Ini jelas penghinaan bagi Umat Islam.

Padahal banyak pihak terkait yg lebih layak diundang TV One seperti MUI Jatim, MUI Sampang, LPPI, Rois Al Hukuma (Adiknya Tajul).

Dalam lanjutan tanggapan isu, pada tanggal 28 Juni kemarin, saya mendapatkan sms dari wartawan juga yang isinya berasal twit dari @karniilyas >> “Kalau Prof. bisa buktikan, ILC saya bubarkan”, dan sudah saya kroscek langsung ke akun bapak.

Pak Karni yang terhormat, sikap seorang muslim terhadap kesesatan yang menistakan agamanya itu harus non tolerir, dan ini menjadi masalah ketika bapak melakukan point kedua yang disampaikan Pizaro di atas. Inilah pokok masalah ILC malam itu. Di awali dengan kesalahan, maka tidak mungkin selesai pada solusi masalah.

Jika saya asumsikan bapak Karni paham Syiah ini sesat kerena ajarannya dan Syiah kriminil karena tindakannya (penistaan agama) di Negara hukum ini, maka apa sebenarnya tujuan bapak mengadakan diskusi dengan judul tersebut?

Lalu, maaf, saya sebagai aktifis mungkin belum melakukan kroscek terhadap statement Prof. DR. H. Mohammad Baharun, SH., MA perihal Blocking Time. Tapi, sebagai sesama muslim, saya perlu mengingatkan kepada Pak Karni, agar bapak memposisikan diri pula sebagai seorang muslim yang seiman, sehingga ayat yang bapak bacakan kepada KH. Djafar Shodiq menjadi berlaku antara bapak dan kami para aktifis islam yang keberatan tentang acara ILC. (QS Al-Hujurat: 10).

Perdebatan di media yang berdampak lanjutan via media harus dituntaskan pula melalui media, jadi dengan hormat, saya meminta bapak mengadakan ILC kembali dalam konteks klarifikasi ILC yang berjudul “Syiah diusir, Negara kemana?”.

Saya percaya bapak pemilik buku “Karni Ilyas, lahir untuk Berita” ini sangat paham dengan kode etik jurnalistik, di mana salah satu pasalnya berbunyi “Semua perilaku, ucapan dan karya jurnalistik wartawan harus senantiasa dilandasi, dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta oleh nilai-nilai luhur Pancasila, dan mencerminkan ketaatan pada Konstitusi Negara.” Maka, jika keimanan dan ketaqwaan bapak saat ini ada dalam konteks Islam, seharusnya bapak tidak melakukan hal yang bisa melukai hati umat Islam dengan memfasilitasi atau bahkan terkesan mengadvokasi aliran sesat Syiah. (point 1 dan 6 dari Pizaro)

Berlanjut pada statemen bapak menanggapi gugatan Prof. DR. H. Mohammad Baharun, SH., MA., bahwa Syiah telah melakukan Blocking time, bapak justru merespon dengan nada yang menantang di akun resmi twitter bapak, mengajak masuk ranah hukum kriminal KUHP pasal fitnah.

Bapak Karni, mungkin bapak jauh lebih paham pula tentang hukum di Indonesia, dan justru kefahaman bapak itu, mendatangkan amanah besar untuk bertindak secara benar dan adil tidak untuk kepentingan tertentu. Tapi dalam Islam, konflik Syiah-Islam ini adalah konflik Akidah yang membutuhkan orang berkompeten dalam menyelesaikannya, yaitu para ulama. Jika bapak mampu profesional memposisikan diri menghormati hukum di Indonesia, maka seharusnya bapak jauh lebih profesional lagi dalam memposisikan diri sebagai orang yang awam tentang agama dengan cara menghormati ulama. Yusuf Qardhawi pemimpin ulama dunia saat ini saja sudah berfatwa bahwa Syiah itu sesat, berikut para ulama terdahulu seperti imam Bukhari, Syafi’i, Ahmad, Malik dan lain-lain, tentu derajat kita dalam ilmu agama jauh di bawah mereka. Maka saya himbau bapak agar profesional dalam bersikap. Tidak bijak dan tidak demokratis rasanya memandang sebelah mata urusan agama dalam kancah politik dalam negeri.

Jika bapak juga berdalih kami sudah mengundang KH. Aqil Shirad dari NU, mohon maaf bapak berdasarkan tinjauan ulama MIUMI yang mengikuti hujjah dari para Imam 4 Mazhab tentang Syiah, kami sampaikan bahwa beliau sudah tidak lagi jernih pemikirannya dalam memandang Ahlussunnah. Demi Allah perlu 1 hari penuh bahkan lebih acara semacam ILC untuk membahas khusus dunia Islam di Indonesia dengan segala macam pergolakan partai dan kepentingan penguasa.

Oleh karena itu, permintaan saya dan teman-teman pemuda aktivis Islam, bapak tidak perlu membubarkan ILC, tapi bapak wajib melakukan klarifikasi acara ILC tersebut, sampaikan permintaan maaf kepada publik karena telah salah dalam memilih topik ILC sehingga mengakibatkan kesan menghina melukai umat Islam. Lalu berikan kesempatan pada ulama untuk melakukan penjelasan yang benar dalam menyikapi konflik Sampang, serta bapak juga wajib memperbaiki konsep penyelenggaraan ILC kedepan sesuai dengan azas Pancasila dan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa (sesuai yang tertuang dalam kode etik jurnalistik).

Sekian surat ini saya perbuat atas nama pribadi tidak mewakili lembaga, hanya mewakili pemuda-pemuda muslim yang keberatan dengan acara ILC (25/06/2013), mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Marhaban yaa Ramadhan.

Agastya Harjunadhi
Sekjen Young Islamic Leaders.

One thought on “Surat Terbuka untuk Karni Ilyas Terkait ILC Episode Syiah Sampang”

  1. Tidak adanya lembaga yang dihadirkan Tv One dari kalangan Ahlussunah untuk menjelaskan kasus Sampang secara berimbang.

    Para kiai yang datang bukan dari ahlusunah? Wakil Nahdlatul Ulama juga bukan ahlusunah? Syafii Maarif yang dikenal dari Muhammadiyah juga bukan ahlusunah? Wakil dari MUI juga bukan ahlusunah?

    Siapa ahlusunah? Siapa salafi-Wahabi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s