Yang Berbolak-Balik

Hati manusia, yang dalam al-Quran disebut dengan 4 (empat) macam sebutan: shadr (mufrad) atau shudûr (jama’), qalb (mufrad) atau qulûb (jama’); fuâd (mufrad) atau af-idah (jama’) dan al-bâb (jama’ dari lubb) sebanyak 208 (duaratus delapan) kali sebutan. Masing-masing dengan sebutan shadr (mufrad) sebanyak 10 (sepuluh) kali; shudûr (jama’) sebanyak 33 (tigapuluh tiga) kali; qalb (mufrad) sebanyak 21 (duapuluh satu) kali; qulûb (jama’) sebanyak 112 (seratus duabelas) kali; fuâd (mufrad) sebanyak 5 (lima) kali; af-idah (jama’) sebanyak 10 (sepuluh) kali dan a-bâb (jama’ dari lubb) sebanyak 16 (enambelas) kali. Oleh karenanya, hati memiliki makna yang beragam, selaras dengan sebutan-sebutannya.

Ketika hati manusia disebut dengan sebutan shadr (mufrad) atau shudûr (jama’), maka dalam kaitannya dengan diri manusia makna hati itu adalah wilayah paling luar dari hati manusia (dalam pengertian umum), yang di dalamnya (shadr atau shudûr) terjadi pertempuran antara kekuatan positif dan negatif, tempat di mana manusia diuji dengan kecenderungan-kecenderungan negatif. Ketika kekuatan positif manusa cukup memadai untuk menghadapi kecenderungan-kecenderungan negatif yang menantangnya, maka hati (shadr) manusia akan dipenuhi oleh cahaya (nûr) dan berada di bawah naungan cahaya (nûr) Allah, yang terletak lubuk hati yang terdalam. Di sisi lain, bila pembawaan negatif masuk ke dalam hati (shadr) atau jika hati (shadr) diliputi oleh kesedihan dan penderitaan yang berlangsung lama, maka hati (shadr) manusia akan dikitari atau dilingkupi dengan kegelapan-kegelapan (zhulumât), Maka, yang terjadi, hati (shadr) manusia pun akan mengeras, dan – dengan sendirinya — cahaya (nûr) Allah pun akan meredup.

Ketika hati disebut dengan qalb (mufrad) atau qulûb (jama’), atau dalam bahasa Indonesia sering disebut qalbu, yang berarti “senantiasa berbolak-balik, tidak pernah berada dalam keadaan tetap, maka yang dimaksudkan adalah lapisan hati yang yang telah dibersihkan dan telah terbuka, di mana manusia – dengan hatinya — telah dianggap mampu untuk melampaui permukaan luar dan merasakan apa yang tersembunyi di dalam dirinya. Ketika itu manusia telah menyadari ketertupannya dikarenakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip al-akhlâq al-karîmah, seperti: kesabaran, kerendah-hatian, kejujuran dan keikhlasan). Kadang-kadang hati (qalb) manusia berada dalam keadaan bersih, kuat-iman, bercahaya, lemah lembut, tetapi suatu saat menjadi kotor, lemah-iman, gelap-gulita, buta, keras-membatu terhadap kebenaran. Di antara penyebab hati (qalb) yang kotor adalah ketiadaan iman kepada al-Quran dan banyak berbuat kesesatan.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

أَلَمْ يَرَوْاْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاء عَلَيْهِم مِّدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأَنْهَارَ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang Telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) Telah kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah kami berikan kepadamu, dan kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, Kemudian kami binasakan mereka Karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS al-An’âm [6]: 10).

Orang yang hati (qalb)-nya kotor dan sakit akan mudah digoda setan yang sealalu berusaha menjerumuskannya kepada perbuatan maksiat, dosa, dan kezaliman.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

“Agar dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat.” (QS al-Hajj [22]: 53).

Orang yang kotor hatinya karena perbuatan dosa dan jahat, hatinya menjadi buta dan tidak dapat menerima pelajaran dan peringatan. Akhirnya, hilanglah rasa percaya atau iman, dan orang itu akan selalu mengikuti kehendak nafsunya.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأَرْضَ مِن بَعْدِ أَهْلِهَا أَن لَّوْ نَشَاء أَصَبْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS al-A’râf [7]: 100).

Sebaliknya, beruntunglah orang yang menyucikan hatinya dengan cahaya iman, rasa percaya, dan amal saleh. Hati yang suci yang akan selalu mendapatkan petunjuk Allah dan tidak mudah digoda setan untuk berbuat mungkar atau maksiat, akhirnya diri-manusia pun akan tetap tenang. Dan iman yang baik dan senantiasa mengingat Allah membuat orang menjadi tenteram hatinya.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]: 28).

Orang yang senantiasa membersihkan hati dari berbagai penyakitnya akan tampil sebagai orang yang mukhlish, yaitu orang yang ikhlas menjalankan ibadah dan semua aktivitas kehidupan. Segala hal yang ia lakukan hanya dipersembahkan kepada Allah. Orang seperti ini sulit digoda dan disesatkan oleh setan.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٨٢) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٨٣)

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish (orang-orang yang telah diberi taufiq untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah subhânahu wa ta’âlâ) di antara mereka.” (QS Shâd [38]: 82-83).

Hati yang bersih bersemai di dalamnya taqwa kepada Allah. Taqwa inilah yang mendorong orang selalu menjalankan perintah Allah dan menghentikan segala larangan-Nya. Dan oleh karenanya, agar hati (qalb) selalu membimbing kita kepada kebaikan, maka ia (qalb) harus selalu disucikan dari berbagai penyakitnya dan dosa-dosa yang kita lakukan.

Ketika hati disebut dengan fuâd (mufrad) atau af-idah (jama’), maka yang dimaksud dengannya adalah hati (yang) lebih dalam, tempat di mana penglihatan batiniah dan intisari cahaya (nûr) ma’rifah menempat. Ma’rifah yang dimaksud di sini adalah: “kearifan batiniah” atau “pengetahuan hakikat spiritual”, yang dalam istilah psikologi sering disebut dengan “kecerdasan spiritual”. Penglihatan hati (yang) lebih dalam adalah penglihatan sejati, tidak berdusta dan mendustakan apa yang dilihatnya. Yang oleh karenanya, ketika hati (fuâd) seseorang manusia telah tercerahkan, maka muncullah kearifan untuk berpikir, bersikap dan bertindak. Di sinilah pangkal sikap ihsân merasuk ke dalam diri manusia. Dia (manusia) menjadi bijak dan selalu benar dan tepat dalam bersikap dan bertindak, karena pengetahuan yang dicerapnya adalah pengetahuan yang sejati, bukan pengetahuan yang terkotori oleh bias-bias kepentingan hawa nafsu.

Dalam hal ini Allah subhânahu wa ta’âlâ mengingatkan melalui firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isrâ’ [17]: 36)

Dan, yang terakhir, ketika hati disebut dengan lubb (yang di dalam ayat-ayat al-Quran disebut dengan sebutan jama’, albâb), maka yang dimaksud dengannya adalah hati yang yang terdalam, atau sering juga disebut dengan hatinya hati, intisari hati atau hati yang hakiki.

Dalam bahasa Arab, kata lubb memang dimaksudkan untuk menyebut “inti” dan oleh karenanya apa yang dicerap olehnya adalah “pengetahuan batiniah hakiki”, yang merupakan dasar hakiki “agama” (hidâyah Allah).

Lubb (lubuk hati terdalam) selalu dialiri oleh rahmat Allah, di ketika Allah menyapa manusia, (seolah) tanpa perantara, karena kedekatan sang hamba (manusia) dengan Allah (Sang Khâliq). Diri manusia – dengan segala hasrat yang dimilikinya – bahkan digambarkan tidak akan dapat mendekati dan menyapa hati (lubb)-nya. Diri manusia menjadi yang tersapa, karena kemampuan hati (lubb) manusia untuk selalu menyapa, disebabkan oleh kehadiran Allah yang senantiasa mengarahkan dirinya (manusia) – melalui hati (lubb)-nya untuk selalu mengendalikan setiap hasrat-diri, dan bukan dikendalikan.

Di dalam hati (lubb) yang telah dimiliki oleh seseorang, terpancar nûr (cahaya) Allah subhânahu wa ta’âlâ yang mengakibatkan manusia tidak memiliki kesempatan lagi untuk berkawan dengan setan, dan oleh karenanya dirinya selalu menjadi pengendali setiap hasrat dengan kemampuan untuk memadukan potensi pikir dan dzikirnya, sebagaimana yang digambarkan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ dalam firman-Nya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS Âli’Imrân [3]: 190-191)

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa dalam pandangan al-Quran, seseorang yang telah memiliki hati (Ulil Albâb) adalah mereka yang memiliki kepekaan sempurna terhadap sinyal-sinyal yang diberikan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ, yang dalam istilah populer disebut hidâyah Allah. Sehingga ia pun bisa menangkap sinyal-sinyal itu secara sempurna. Hati – dalam pengertian hakiki, dipahami sebagai rumah Allah yang berada dalam diri manusia, yang diciptakan oleh-Nya untuk menyimpan cahaya (nûr)-Nya yang “Dia” (Allah) pancarkan ke dalam setiap diri manusia. Yang oleh karenanya, laksana sebuah cermin, hati setiap manusia harus dibersihkan dari segala macam keburukan yang bisa mengotorinya, agar selalu bening dan bersih, sehingga pancaran cahaya (nûr) Allah akan dapat dicerap dengan sempurna oleh manusia, dan kemudian bisa dipancarkan ke segala penjuru – juga – dengan sempurna.

Pada akhirnya bisa kita pahami bahwa setiap diri manusia yang memiliki hati yang bersih, dirinya akan menjadi tercerahkan oleh cahaya (nûr) – hidayah — Allah dan – selanjutnya – akan menjadi seseorang yang mencerahkan karena pancaran cahaya (nûr) – hidayah – Allah yang terpancar dengan sempurna melalui hati (lubb)-nya yang bersih dan bercahaya.

by. Ustd Muhsin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s