nikah 3

Menikahlah

Sekedar berbagi nikmat yang dikaruniakan Allah, sekaligus menguatkan Mukmin yang menikah betul-betul karena Allah. Jangan pikir nikah itu mudah, dan jangan pikir semua indah. Justru sesudah nikah sebaliknya malah, harus lebih sabar dan istiqamah. Tapi tentu juga nggak sesulit yang dikatakan, yang jelas perlu ilmu dan keikhlasan

Saya jadi Muslim tahun 2002 dan baru 2006 menikah. Jadi 4 tahun ditempa dan bersabar sebelum menikah. Selama 4 tahun itulah saya halqah, dakwah, dan dibebani amanah, belajar jadi pemimpin di organisasi, bersiap untuk hari depan.

Niat saya menikah di tahun 2002 setelah Muslim kandas, karena kedua orangtua merasa saya belum pantas. Maka dari 2002 itulah saya serius menyiapkan diri bukan hanya untuk menikah, memburu ilmu menjadi seorang imam, suami dan ayah.

Semua buku keteladanan Rasul sebagai suami saya lahap, juga belajar dari senior dakwah yang sudah menikah dan jadi teladan. Alhamdulillah tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Dakwah menghantarkan saya berjumpa Ummu Alila.

Dengan uang 1,5 juta di tangan berikut 5 juta hibah papi-mami, majulah saya ke jenjang pernikahan yang sudah dinanti. Setelah menikah hasilnya luar biasa, tak terduga. 1,5 juta hanya cukup sampai 2 bulan saja.

Bulan ke-3 saya dan Ummu Alila gelandangan tunakarya. Biasanya cari kerja begitu mudah, Allah uji saya apply kerja kemana-mana ditolak. Sampai-sampai Ummu Alila yang sudah biasa jadi guru les privat, terpaksa saya terjunkan lagi untuk apply bantu cari duit.

Walhasil, Ummu Alila yang sudah 4 tahun berpengalaman jadi guru privat, juga ditolak ketika apply di 2 perusahaan, behh… rasanya. “Ini ujian Allah”, saya sampaikan pada Ummu Alila, sementara tagihan-tagihan bulanan terus berdatangan tak peduli.

Pagi pergi bawa map apply kerja sampai sore, pulang Ummu Alila menanti dan kita tetep kere. Akhirnya pas 3.5 bulan setelah nikah menjelang lebaran, Allah memberikan jua yang dinanti-nanti, penghasilan. Nggak tanggung-tanggung, saya jadi pedagang emas, waktu itu oktober 2006, dan emas yang saya jual emas kawin Ummu Alila.

Saya inget betul, emas kawin berupa gelang dan beberapa cincin, laku 2.3 juta kita jual di Toko Emas “Cong”, Gabus, Pati Jawa Tengah. Kita jalani lagi hidup dari hasil jualan emas kawin namun justru Ummu Alila bertambah menawan 

Jujur saya malu jadi suaminya Ummu Alila saat itu, nggak mampu menafkahi lahir dengan mencukupi, tapi Ummu Alila selalu menguatkan komitmen nikahnya, “ummi akan selalu mendukung dan menurut pada abi”

Tentu sebagai suami saya tidak berdiam diri, segala koneksi dihubungi, cara dicoba, namun Allah rupanya masih kehendak menguji. Ditengah-tengah semua itu saya mendapatkan kabar gembira, Ummu Alila hamil! masyaAllah saktinya saya. “Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan”, terngiang-ngiang ayat Allah, terasa begitu istimewa berbarengan kabar itu, “aku akan jadi seorang abi!”

Kita periksakan kehamilannya setiap minggu, walau uang untuk makan saja tak cukup seminggu. Ketika pemeriksaan yang kedua, dokter berkata “ehm.. (something wrong nih), pak, bu, saya menemukan keanehan pada kehamilan. Kehamilan ibu disinyalir “blighted ovum”. Langsung lemes saya, nggak perlu tau artinya saya langsung lemes.

“Janinnya hampir 2 bulan pak, tapi nggak bertumbuh dan nggak ada detak jantung”, kali ini saya bener-bener lemes. Kita cari 3 dokter kehamilan untuk second dan third opinion, semua sama, bayi yang ada di perut Ummu Alila sudah tak bernyawa.

Sepulang dari 3 dokter dan beberapa kali pemeriksaan medis Ummu Alila kontan menangis agar bisa terima realita. Anaknya harus dikuret, perlu uang 3 juta lagi. Pertanyaannya dari mana? tabungan nggak ada? kerjaan nggak punya? MasyaAllah ternyata turunnya bantuan sekali lagi lewat papi-mami. Kita dikasi pinjeman lunak (nggak tau sampe kapan bayarnya) 3 juta.

Kebayang nggak malunya lelaki? sudah nikah masih merepotkan orangtua? Rasanya nggak ada harganya, bener-bener hina. Sepulang Ummu Alila dikuret, kita jatuh bangkrut lagi. Apalagi yang mau dijual? Masak mas kawin cincin juga mau dijual?

Saya lupa ceritakan, saat nikah Ummu Alila punya motor honda impressa. Dia beli second dengan harga 6 juta. Motor itulah yang juga saya jual, honda impressa bobrok tapi motor dakwah, sudah ratusan kilo mengantar saya dakwah. Honda impressa tahun 2000, laku 3 juta saja sudah ok.

Sering saya dan Ummu Alila mengais-ngais laci mencari keping-keping 500, melengkapi lembar ribuan lusuh buat ditukar nasi padang. Anak nggak jadi punya, penghasilan nggak ada, sedih sih iya tapi nggak sempet depresi, kita masih inget Allah.

Halaqah terus dilanjut setiap minggunya, darimana uang bensin? Alhamdulillah saat itu saya dibayar 50.000/bulan mengajar kajian kitab. Bahkan tahun 2007 saya dapat jatah zakat. “Lix, ini saya ada uang 400 ribu buat antum, semoga manfaat”. Terdiam saya. Terdiam bukan apa tapi mikir, mau nerima malu nggak nerima perlu. Akhirnya saya jawab “Jazakallah, Allah balas yang lebih baik”.

Dari situ saya mengetahui Allah memang Maha Memberi Rezeki, dan kebanyakan lewat tangan orang lain yang jarang kita syukuri. Adakalanya saya berpikir “bener nggak jalan yang sudah saya pilih? jalan dakwah?” Apalagi saat ketemu sanak saudara yang udah kaya. Ada yang sudah jadi kepala cabang, ada yang sudah jadi manager, sementara Felix? yang masuk Islam itu? gelandangan!

“Terlalu idealis sih!” “kamu aneh sih, asuransi nggak mau, bunga nggak mau”. Liat mereka sudah mapan semua, minder rasanya. Namun ketika bertemu dengan para ustadz kembali diingatkan, “Terus kalau udah punya semua mau apa? inget Lix, bedain mana sarana mana tujuan!”

Sampai suatu hari saya masih inget juga, ada anak baru pindahan dari bogor ke JKT. Saya ajak nemenin saya ngisi di senen. Di boncengan motor belakang saya dia bilang, “Mas, terus kalo mas nggak kerja dan dakwah mulu, keluarga makannya gimana?”. Saya berusaha tenang, “Bukannya nggak mau kerja mas, mungkin Allah belum kasih (dalam hati saya mengingat semua penolakan kerja). Tapi yakin deh, Allah pasti kasih jalan”. Saya menutup diskusi itu, getir.

Sore itu dia menemani saya, jadi MC di acara kajian salah satu STIE di senen. Waktu itu materinya “The Way To Belief”. Sepulang kajian, direktur operasionalnya menemui saya, “Ustadz Felix mau ngajar disini?”

Kayak disiram air, dihati bersorak, Alhamdulillah, “Bisa pak, insyaAllah bisa”. “Ustadz Felix bisa ngajar apa?”. “Apa aja pak!”. Ngajar Matematika Dasar bisa pak?”. “InsyaAllah pak, kapan mulainya?”. “Besok interview ya pak!”. Ya Allah, secercah harapan.

Sepulangnya saya mampir di kramat kwitang, buku second murah, beli “Matematika Dasar” seharga 25.000, saya pelajari ulang. Kelak modal 25.000 itulah saya jadi dosen favorit Matematika Dasar dan mengantongi 2 juta honor pertama saya bulan depannya. Allah selalu kasih jalan selama Dia masih izinkan kita hidup. Kalau sudah nggak dikasi berarti Allah pengen ketemu kita  simpel kan?.

Singkat cerita, waktu demi waktu kehidupan semakin membaik, ada jalan selama ada sabar, dan usaha terbaik. Menikah pasti banyak halangan dan hambatan, karenanya ilmu agama wajib jadi bekal kedepan. Penuhi kewajiban kepada Allah, juga penuhi hukum sebab-akibat di dunia.

Lelaki yang memahami agama, tentu nggak akan lemah terhadap dunia. Uang bisa dicari bila ada ilmunya, ketidakpastian di masa depan pernikahan jadi ringan karena paham agama. Dengan ilmu ujian jadi pelajaran, dengan ilmu kesulitan jadi penguat keimanan.

Singkat cerita, hari ini berlalu sudah 5 tahun semenjak saya jual motor istri saya. Alhamdulillah hari ini saya bisa mengganti motor Ummu Alila, tunai tanpa leasing, ganti motor yang terjual karena lemahnya saya.

felix

Hari ini bukan motor yang jadi cerita, tapi ucapan terimakasih atas segenap cinta. Terimakasih Ummu Alila atas kesabaran dan penerimaan, atas kesempatan boleh memimpinmu dalam jalan kehidupan. Demikian Allah beri ganti 4 anak atas 1 yang diambil, 3 di foto 1 di kandungan, dan kenikmatan tiada tara.

(Kisah Ustadz Felix Siauw).

One thought on “Menikahlah”

  1. Masya Allah, sungguh besar kuasanya… saya terharu dan bangga membaca kisah ini, semoga Allah satukan hingga kehidupan Akhirat.. (suatu janji Allah, dan Allah tak pernah ingkat ats janji-Nya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s