Mendidik Tanpa Emansipasi

MENDIDIK TANPA EMANSIPASI
(REFLEKSI PERJUANGAN RAHMAH EL-YUNUSIYYAH DALAM PENDIDIKAN)
Oleh: Sarah Larasati Mantovani

ABSTRAK

Sejak awal,Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu dan berpendidikan tinggi, asalkan ia tidak melupakan kewajibannya sebagai perempuan, seperti Rahmah El-Yunusiyyah yang mendirikan perguruan Diniyyah Puteri School Padang Panjang. Sebagai perempuan, Rahmah sangat tahu dan memahami posisi kaumnya saat itu yang masih sulit mendapatkan ilmu pengetahuan dan akses pendidikan. Namun, ia tidak pernah putus asa, ia berusaha memahamkan masyarakat saat itu dengan membangun sekolah khusus perempuan. Ia juga ingin menunjukkan pada masyarakat di daerahnya bahwa pendidikan mempunyai arti yang sangat penting bagi perempuan. Ia menyadari benar, mendidik seorang perempuan seperti mendidik sebuah keluarga, terlebih perempuan akan menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya kelak. Membangun sekolah khusus perempuan bukan berarti Rahmah ingin ada persamaan hak dalam segala bidang, seperti yang dilakukan pejuang emansipasi.Karena itu, Rahmah tetap memasukkan pendidikan keperempuanan dalam kurikulum sekolahnya, seperti kerumahtanggaan dan menjahit. Seorang pendidik juga bukan hanya sekadar mengajarkan teori, melainkania harus mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Sebagai pendidik dan pengajar, Rahmah mampu menjadikan dirinya sebagai telada.Ia juga mampu memadukan pendidikan keperempuanan dengan pendidikan formal dan memadukan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. Inilah yang disebut dengan mendidik tanpa emansipasi, yaitu mendidikperempuan agar tetap pada fitrahnya, pada jalur yang semestinya.

Kata Kunci: Pendidikan, Perempuan, Emansipasi

ABSTRACT

Since the beginning, Islam has never prohibited a woman to be knowledgeable and high educated. As long as, she does not forget her duties as a woman, such as Rahmah El-Yunusiyyah who has founded the college of Diniyyah Puteri School Padang Panjang. As a woman, Rahmah really knew and understood the position of her people in west Sumatra while it was still difficult to obtain knowledge and access to education because of the indigenous ban. However, she is never give up, she tried to make the society at that time understand by building a school for girls. She also wanted to show people surrounded her that education had a very important meaning for women. She truly realized that educating a woman was like educating a family, moreover a woman would become a mother for her children someday. Building a school for girls does not mean Rahmah wants equal rights in all fields like fighters emancipation did. Therefore, Rahmah keeps including womanhood education in her school curriculum, such as domesticity and sewing. An educator should not only teach the theory, but also he or she should be able to educate their students to be faithful and pious people. As an educator and a teacher, Rahmah is able to make herself a role model, she is also able to combine feminity (womanhood) with formal education and integrate religious sciences with general sciences. This is called educating without emancipation – educating women to remain in their nature, the track.

Keywords: Education, Woman, Emancipation

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sejak awal,Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu dan berpendidikan tinggi, asalkan ia tidak melupakan fitrahnya sebagai perempuan. Seperti yang dilakukanRahmah El-Yunusiyyah, ia tidak segan menimba ilmu pada para ulama Minangkabau saat itu.Bahkan menurut Hamka, Rahmahlah pelopor perempuan belajar agama.

Rahmah menyadari pendidikan sangat penting artinya bagi perempuan. Terlebih, saat itu masih banyak perempuan di daerahnya yang belum mendapatkan pendidikan seperti yang ia rasakan. Atas dasar inilah, ia mendirikan sekolah khusus perempuan dengan model pesantren. Tidak lupa, ia memasukkan pendidikan keperempuanan dalam kurikulum sekolahnya agar perempuan tidak melupakan hak dan kewajibannya.

Kontribusi dan perjuangan Rahmah yang begitu besar puntidak lepas dari sorotan para feminis.Oleh mereka, ia diklaim sebagai tokoh emansipasi, salah satunya seperti dalam sebuah jurnal yang diterbitkan institusi agama Islam negeri di Jawa Tengah,ia digambarkan sebagai sosok wanita yang prokesetaraan gender, padahal Rahmah tidak seperti demikian. Sebagaimana ini terlihat pada 1 Februari 1937, ia mendirikan Kulliyatul Mu’allimat El-Islamiyah (KMI), sekolah yang didirikan untuk mempersiapkan  guru agama wanita karena menurut Rahmah, guru adalah pekerjaan yang sesuai dengan kodrat wanita.

PEMBAHASAN

  1. A.    Sekilas Tentang Rahmah El-Yunusiyyah

Rahmah lahir di Padang Panjang, 29 Desember 1900.Ia merupakan bungsu dari lima bersaudara.Rahmah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat adat dan agama. Walaupun adat sangat kuat, keluarganya tidak mempertentangkan antara adat dan agama. Jika terdapat pertentangan antara adat dan agama maka aturan agama yang mereka utamakan.Karena begitu kuatnya pengaruh agama dalam lingkungan keluarganya, Rahmah tidak disekolahkan di luar lingkungan rumahnya.

Di Surau Jembatan Besi, Rahmah dan ketiga temannya (Rasuna Said, Nanisah,dan Djawana Basjir) belajar fikih, tasawuf, bahasa Arab, ilmu falak, sejarah Islam, tauhid dan tafsir al-Qur’an. Pada Syaikh Abdul Karim Amrullah juga Rahmah memperdalam masalah agama dan perempuan secara privat di rumahnya di Gatangan.

Bersama dengan kakak perempuannya, Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri.Murid-murid pertamanya saat itu berjumlah 71 orang yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu rumah tangga muda, dengan pelajaran diberikan setiap hari selama tiga jam di sebuah Masjid Pasar Usang, Padang Panjang, dengan sistem halaqah.Dalam perkembangannya, sekolah ini menjadi pesantren dan hanya menerima murid perempuan yang belum menikah.

Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri karena selain ingin memajukan pendidikan perempuan, khususnya pendidikan agama.Ia melihat banyak masalah hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan tidak dibahas mendalam oleh guru-guru di daerahnya. Menurutnya, segala hal yang berkaitan dengan perempuan perlu dikaji agar perempuan tahu akan hak dan kewajibannya.

Tidak hanyaDiniyyah Puteri, Rahmah juga mendirikan lembaga pendidikan Menyesal School untuk kaum Ibu yang belum bisa baca-tulis, kemudianFreubel School (taman kanak-kanak), Junior School (setingkat HIS), Diniyah School Puteri 7 tahun secara berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (4 tahun), dan Tsanawiyah (3 tahun).

  1. B.     Mendidik Dengan Metode 3M

Selain mempelajari ilmu-ilmu agama, Rahmahmempelajari ilmu-ilmu lain yang berguna untuk diajarkan pada murid-murid perempuannya kelak, seperti ilmu kesehatan dan kebidanan yang kemudian menjadikannya sebagai seorang bidan,juga olahraga seperti senam dan renang.

Karena bagi Rahmah, guru tidak hanya dipersiapkan menguasai satu bidang ilmu saja, tetapi juga harus menguasai ilmu-ilmu yang lain.Maka,oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daudinilah yang disebut dengan tradisi keilmuan Islam. Tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat spesialisasi buta. Ilmuwan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang ilmu.

Kemudian saat Rahmah menjadi guru, ia tidak hanya sekadar membagi atau mengajarkan ilmu yang sudah ia pelajari dan pahami pada murid-muridnya, namun lebih dari itu. Kunci mendidik Rahmah terletak pada 3M, yaitu mendidik denganketeladanan, mendidik bukan hanya mengajar, dan mendidik tanpa emansipasi, yang akan dijelaskan pada poin-poin berikut:

  1. Mendidik Dengan Keteladanan

Sebelum maupun sesudah menjadi guru, Rahmah telah banyak memberikan keteladanan, tidak hanya pada anak-anak didiknya, namun juga masyarakat sekitar.Iabanyak memberikan keteladanan melalui kepribadian dan perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Salah satunya keteladanan itu adalah kedisiplinan.Ia selalu memberi contoh pada murid-muridnya bagaimana disiplin itu harus dijalankan dan dipatuhi, seperti jadwal kegiatan sejak bangun tidur pukul 05.00 pagi sampai tidur kembali pukul 22.30.

Kemudian,saat Rahmah harus ditahan oleh Belanda karena menentang kebijakan Belanda yang melarang memasukkan kurikulum Islam ke dalam sekolah dan harus menerapkan pendidikan secara sipil.Kepribadiannya yang sabar dan pantang menyerah juga ia buktikan saat sekolah yang baru tiga tahun didirikannya runtuh oleh gempa pada 1926, beliau tidak putus asa dan bangkit kembali mencari dana bantuan bersama pamannya hingga ke Selat Malaka.

Menurut Mohammad Natsir yang pernah dekat dengan Rahmah, Rahmah tidak mempunyai sifat buruk sangka kepada orang lain. Dalam dirinya tidak terdapat sifat ananiyah, yaitu sifat egois yang mementingkan diri sendiri.Selain itu, ia mempunyai kepribadian yang sederhana, lemah lembut, dan tawadhu.

  1. Mendidik Bukan Hanya Mengajar

Menurut Rahmah, guru bukan hanya sebagai pengajar, namun ia juga merupakan seorang pendidik. Fauziah Fauzan, cicit Rahmah yang kini Pimpinan Diniyyah Puteri School pernah menyampaikan,

guru adalah pengajar dan pendidik. Oleh karenanya, guru hendaklah mampu melaksanakan kedua fungsi tersebut dengan seimbang dan optimal dalam menyiapkan generasi.

Sebagai pendidik, Rahmah ingin menunjukkan bahwa mendidik bukan hanya mengajarkan teori, melainkan lebih dari itu.Seorang pendidik harus mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang beriman dan bertakwa.

  1. Mendidik Tanpa Emansipasi

Meski menolak pembatasan mencari ilmu bagi perempuan,Rahmah tidak menyetujui emansipasi seperti yang digaungkan oleh feminis.Rahmah ingin perempuan tetap pada fitrahnya dan anak didiknya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.Karena itu,  ia tetap memasukkan pendidikan rumah tangga, seperti menjahit, memasak, dan keterampilan rumah tangga lainnya ke dalam kurikulum sekolahnya.

Ini terlihat saat materi kurikulum sekolahnya sarat dengan berbagai mata pelajaran (sehingga jumlah pelajaran dalam satu minggu mencapai 45 jam). Mengingat pentingnya pelajaran keterampilan dan kerumahtanggaan maka pelajaran tersebut oleh Rahmah diberikan pada sore harinya.

Karena menurut Rahmah, masyarakat bisa baik bila rumah tangga dari masyarakat tersebut juga baik karena rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam.Ia menginginkan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangganya, masyarakat, dan sekolah. Menurut Rahmah, hal ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

  1. C.    Konsep Pendidikan Adab Rahmah

Berdasarkan tujuan pendirian Diniyyah Puteri yang ingin membentuk putri  berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air  atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.

Maka,Rahmah jugamemasukkan pelajaran Adab dalam kurikulum sekolahnya, hal ini terlihat pada1928, dimana kelas satu hingga kelas enam Ibtidaiyah (sekolah dasar) mendapatkan pelajaran Adab.

Pelajaran Adab merupakan pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan.Imam Abu Hamid Al-Ghazali menafsirkan adab sebagai pendidikan diri jasmani dan rohani (ta’dib al-zahir wa’l batin) yang meliputi empat perkara: perkataan, perbuatan, akidah,dan niat seseorang. Maka, proses untuk melahirkan insan mulia ini dikatakan ta’dib atau pendidikan dalam Islam.

Menurut sarjana-sarjana terdahulu, kandungan ta’dib adalah akhlak.Hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh hadis Nabi yang menyatakan bahwa misinya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan proses pendidikan yang sebenarnya karena ia memasukkan empat ciri penting pendidikan:

  1. 1.      Proses penyempurnaan insan secara berperingkat (al-tarbiyah).
  2. 2.      Pengajaran dan pembelajaran (al-ta’lim wa’l ta’allum), yaitu bertumpu pada aspek kognitif, kecerdasan, dan akidah seorang murid.
  3. 3.      Disiplin diri (riyadah al-nafs) yang meliputi jasad, ruh, dan akal.
  4. 4.      Proses penyucian dan pemurnian akhlak (tahdhib al-akhlaq).

Mengingat pentingnya pelajaran Adab ini maka pada 1933, kelas satu hingga kelas tiga Tsanawiyah (sekolah mengenah pertama) juga mendapat pelajaransama.

SIMPULAN

Pada saat kurikulum studi gender masih diterapkan di beberapa perguruan tinggi, salah satunya perguruan tinggi Islam negeri, Rahmah dengan sekolah yang didirikannya mempu mengintegrasikan, menyatukan, dan menerapkan pendidikan umum, pendidikan agama, serta pendidikan keperempuanan dalam satu kurikulum dan sistem pesantren. Sehingga, bisa disimpulkan, Diniyyah Puterilah pelopor integrasi tiga pendidikan tersebut.

Sebagai seorang guru, Rahmah mendidik para muridnya dengan akhlak yang bisa dijadikan teladan, seperti kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, kesederhanaan, dan sikap optimistis.Keteladanan akhlak inilah yang hilang dari banyak guru saat ini.

Kemudian,Rahmah juga mampu mendidik tanpa emansipasi,tanpa menuntut kesetaraan gender bagi perempuan dalam segala bidang kehidupan.Ia merasa perlu mendidik tanpa emansipasi karena menyadari pentingnya peran perempuan sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak.

Selain itu, apa yang dilakukan Rahmah El-Yunusiyyah sejalan dengan keinginanmantan Rektor Unissula Semarang, M. Rofiq Anwar, yaitu ingin melahirkan anak-anak dididiknya menjadi generasi khairu ummah, yaitu generasi yang berpotensi memimpin dunia untuk kerahmatan. Ciri-ciri khairuummah adalah mereka selalu mengajak kepada iman dan senantiasa mengembalikan manusia kepada iman.

PUSTAKA RUJUKAN
BUKU

– Burhanuddin, Jajat dan Fathurrahman, Oman. 2004. Tentang Perempuan Islam: Wacana danGerakan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
– Djaja, Tamar. 1980. Rohana Kudus Srikandi Indonesia : Riwayat Hidup dan Perjuangannya,Penerbit Mutiara, Jakarta.
Hamka.Ayahku. 1967. Penerbit Djajamurni, Jakarta.
– Husaini, Adian. 2012. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab,Cakrawala Publishing, Jakarta.
– M. Kamaluddin, Laode. 2010. On Islamic Civilization : Menyalakan Kembali LenteraPeradaban Islam yang Sempat Padam, Unissula Press dan penerbit Republikata Tangerang, Semarang.
– Noer, Deliar. 1982. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Pustaka LP3ESIndonesia, Jakarta.
– Rasyad, Aminuddin. 1982.Disertasi Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang : 1923-1978, Suatu Studi Mengenai Perkembangan Sistem Pendidikan Agama, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta.
– Sugihastuti, Sastriyani, Siti Hariti. 2007. Glossarium Seks dan Gender, Caravasti Books,Yogyakarta.
– Mohd Wan Daud, Wan. 2009. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib AlAttas, Mizan, Bandung.
– Yunus, Mahmud.1960. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara Sumber Widya,Jakarta.
– Zaidi, Ismail, Mohammad dan Suhaimi, Wan Abdullah Wan. 2012. Adab dan Peradaban:Karya Peng’itirafan Untuk Syed Muhammad Naquib Al-Attas, MPH Publishing, Malaysia.

JURNAL

Wahyuni, Devi. 2009. “Kebijakan Kepemimpinan Perempuan Dalam Pendidikan Islam(Refleksi Atas Kepemimpinan Rky Rahmah El Yunusiyah Sebagai Syaikhah Pertama di Indonesia)” dalam Jurnal Sawwa No. 2 Vol. III, tahun 2009

Sumber : http://thisisgender.com/mendidik-tanpa-emansipasi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s