Satu Rindu

Terinspirasi dari perkongsian dengan sahabat Malaysia, rupa-rupanye ade budak yang buat saye ni cemburu sangat. Dia adalah Ahmad Ammar. Budak 20 Tahun ini telah mendahului kita beberapa minggu lalu karena kecelakaan. Namun “kematiannya membawa kehidupan” begitu ayahnya cakap pada laman resmi fanpage. Kematiannya disangka syahid karena dalam masa menuntut ilmu di Turki.

Kepergian Ammar yang dimakamkan di pemakaman Turki bersama Abu Ayyub Al Anshari dan 60 sahabat rasulullah shalallaahu’alay wasallam lainnya ini membuat begitu iri dan harunya hati. Bagaimana tidak, sama seperti kita apabila meninggal dan berwasiat dimakamkan di taman makam pahlawan / kompleks kenegaraan, Ammar justru mendapat ‘karunia’ Allah SWT penghargaan tertinggi bersanding dengan makam para sahabat rasulullaah shalallaahu’alayhi wasallam. Makam di pinggiran kota Konstantinopel, tempat di mana orang Turki bermimpi untuk dimakamkan di sana pun tak pernah saking tingginya. Subhanallaah. Akhirnya, kesedihan keluarga yang ditinggal menjadi haru. Hati kita yang melihatnya pun tak hanya haru, namun rindu dibuatnya. Satu rindu yang dirindukan para perindu di jalan Allah. Meninggal dengan mulia, jalanNya. Semoga syahid insya Allah.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya berada di belakang Nabi saw – dalam kendaraan atau membonceng – pada suatu hari, lalu beliau bersabda: “Hai anak, sesungguhnya saya hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yaitu: Peliharalah Allah – dengan mematuhi perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya, pasti Allah akan memeliharamu, peliharalah Allah, pasti engkau akan dapati Dia di hadapanmu.

Jikalau engkau meminta, maka mohonlah kepada Allah dan jikalau engkau meminta pertolongan, maka mohonkanlah pertolongan itu kepada Allah pula.

Ketahuilah bahwasanya sesuatu ummat – yakni makhluk seluruhnya – ini, apabila berkumpul – bersepakat – hendak memberikan kemanfaatan padamu dengan sesuatu – yang dianggapnya bermanfaat untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan kemanfaatan itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu.

Juga jikalau ummat-seluruh makhluk – itu berkumpul – bersepakat – hendak memberikan bahaya padamu dengan sesuatu – yang dianggap berbahaya untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan bahaya itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat – maksudnya ketentuan – ketentuan telah ditetapkan – dan lembaran-lembaran kertas telah kering – maksudnya catatan-catatan di Lauh Mahfuzh sudah tidak dapat diubah lagi.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Hadist tersebut di atas juga diriwayatkan dari jalur lain yang hasan shahih.

#Tadabbur

Banyak sekali sisi hadist ini yang bisa ditadabburi. Dikaitkan dengan peristiwa kepergian Ammar, tentu sangat banyak hikmah. Salah satunya yang ingin coba kita bahas di sini adalah tentang satu rindu. “pena telah di angkat, lembaran kertas telah kering”. Apa yang terjadi, semua telah menjadi ketetapanNya. Sungguh tiada kebetulan.

Satu rindu di antara kita, syahid di jalanNya. Rindu-rindu kita ini telah terukir sejak dulu, dan bersyukurlah apabila engkau ada dalam lingkaran satu rindu itu. Satu rindu dengan berkomitmen Qul hadzihi sabilii, ad’uu ilallaah.. seruan bagi mereka ‘thaifah’ yang meniti di jalan Rabbnya. Rindu berjumpa di medan juang, rindu berjumpa karena satu visi dan tujuan.

Jalan ini memang panjang dan belum bahkan tak terluhat ujungnya. Namun satu rindu inilah yang menjadi keyakinan yang mengurai peluh dan air mata menjadi irama yang indah di setiap sisinya. Dan semakin indah jika satu rindu bersanding dengan satu kata kunci perubahan, pergerakan dan kebangkitan. Pemuda.

Masa muda adalah masa yang menjadi simbol perjuangan dan perubahan. Rasulullah saw memuliakan masa muda sehingga memasukkan ke dalam salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah kelak di hari tiada naungan selain naunganNya. Masa muda, yang disertai dengan ilmu, berjuang untuk menegakkan Islam.

Mungkin di dunia, rindu ini seolah tanpa hias. Namun kami yakin kelak Allah hiaskan rindu ini dengan keindahan yang tak terbayangkan berbalas.

Satu rindu, syahid. qul haadzihi sabiili ad’u ilallaah. 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah..” (QS. Yusuf : 108)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s