nikah 3

Katakan YA untuk Menikah

Duh, lagi-lagi seorang gadis, berjilbab putih, menangis di kursi konsultansi :

“Lelaki yang kucintai tak mau menungguku untuk menyelesaikan Studi S3-ku untuk menikah denganku. Kini ia meninggalkanku. Hiks…”

Dan ternyata deritanya nggak sampai di situ :

“Lalu aku berkenalan dengan lelaki lain, baru beberapa bulan. Ia bersedia menikah denganku, asal kelak aku hanya menjadi ibu rumahtangga saja. Dan ketika aku tolak, dia meninggalkapannku”.

Gadis di depanku, ia sangat ingin menikah. Namun tampaknya ia tak siap untuk berkorban besar demi sebuah pernikahan. Mungkin menurutnya gelar doktor dan karir yang menjanjikan di masa depan terlalu besar untuk dikorbankan demi sebuah mahligai. Atau, mungkin dia tak paham seberapa besar arti sebuah pernikahan itu sendiri.

Pernikahan, sungguh besar. Dari sanalah lahirnya kehidupan, kemanusiaan, lalu peradaban. Maka, ia patut memperoleh perhatian besar dan pengorbanan besar. Harga mahal untuk sebuah manfaat kemanusiaan yang besar adalah pantas, bahkan itulah yang adil. Rasulullah SAW menimbangnya sebagai “setengah agama”. Karena, separuh dari perintah agama yang bermacam ragam ini dapat diwujudkan dengan satu kata : “menikah !”. Pada pernikahan ada cinta, taat, ikhlas, syukur, istiqamah, ikhtiar, sabar, berbakti, jihad, manfaat, mendidik, ridha dsb. Bukankah itu setengah agama ?

Alhasil, orang yang patut menikah hanyalah orang yang mengutamakan pernikahan itu sendiri, lebih dari yang lain. Saya dapat mengijinkan orang yang belum siap menikah karena butuh waktu mempersiapkannya. Tapi saya tak pernah tertarik memproses pernikahan seseorang yang berkata :

“Tunggu dulu, kebetulan karirku lagi bagus-bagusnya”

Bukan apa-apa. Orang semacam ini kalau toh menikah, usia pernikahannya sulit tahan lama. Karena ia tak berani mengorbankan yang terbaik dari dirinya, demi sesuatu yang terbaik bagi peradaban.

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Berkata “Ya !” pada pernikahan, adalah mahar atas pernikahan itu sendiri. Dan karena mahar itu seringkali menuntut pengorbanan, maka kata “ya” bahkan berubah menjadi “Aku terima…” : Qabiltu…

Sebegitu berat dan menyakitkankah pengorbanan bagi pernikahan itu, sehingga banyak yang tidak siap bahkan menampiknya ?

Mungkin… Ia mungkin seberat pengorbanan yang harus dipikul nabiyullah Ibrahim as yang diminta untuk menyembelih sang putra yang telah ia nanti kehadirannya sejak lama. Tapi, percayalah… Seringkali pengorbanan yang Allah minta hanyalah sebuah “gertak” untuk menguji keseriusan hambanya. Sebagaimana Ismail as yang tak jadi disembelih, pengorbanan yang Allah tantang juga sering tak jadi Allah tagih. Bahkan Allah balas dengan sebuah karunia besar.

Jadi, keputusan menikah adalah keputusan jenial yang gemilang

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Sumber : Pak Adriano Rusfi Pembina Islamic Humanity

2 thoughts on “Katakan YA untuk Menikah”

  1. mnrt mas,saya harusnya bahagia atau tidak menikahi wanita yg sedang s3 ini.
    istriku jg sbntr lgi lulus s3,tp sprtinya ia lbh memilih berkarir drpd anak dan suami. ia sgt marah ketika ada postingan yg menyebutkn ibu RT yg lulusan s2/s3 tp mendedikasikan diri dan hidupnya utuh utk anak&suami. istriku bahkan tega meninggalkan anak dg pembantu/nenek mertua dan memberi susu formula hrg mahal tnp ASI.Ia bs berjam2 diluar rmh demi mengajar(dosen),kursus,dan kuliah s3. Saya prnh memintanya utk pending s3 sampai anak usia 2thn tp ia menolak mentah2&marah2. Pdhl saya sndr resign dri pekerjaan diluarjawa demi menikahinya&spy dekat tdk LDR,tp kenyataannya malah stlh menikah brjauhan,istri lbh mementingkan bkrja sbg dosen dilain kota,alhasil saya membujang lagi.

    Istri berfikir bhwa ibunya pun berkarir sbg guru SD dan mampu mendidiknya dg cerdas,shg tdk mslh jika ia meniru ibunya utk bekerja dan menitipkan anak dipengasuh/neneknya.

    Kebetulan wtk kcl istriku diasuh nenek dri ibunya,krn msh satu kampung.
    Ia mampu mendidik mahasiswanya,tapi ia tak mampu merawat,menyusui,mendidik anak kami.Mgkn diluar ia hebat krn lulusan DD LN tapi dirumah nilainya NOL BESAR!Aku tdk iri dg keberhasilan istri&aku mendukungnya,hanya saja aku ingin istriku lbh cerdas dan bijaksana mengambil keputusan terpenting.

    1. Dear Ayah Muda,
      Pertama ana ingin sampaikan mhn maaf baru sempat mereply dan terima kasih atas kepercayaan bapak kpd saya dalam hal ini.

      Kedua, mari kita menjadi pribadi yang sama2 bersyukur dl. Semoga dengan segala takdir yang kita sedang jalani saat ini, Allah tetap ridlo dan memampukan kita utk ridlo dengan ketetapanNya.

      Ketiga. Sy coba menjawab kegundahan bapak. Meski saya mungkin belum bisa memberikan solusi yang sempurna, semoga jawaban saya ini bisa membantu.

      Bapak, kebahagiaan versi manusia itu kan sebenarnya rumusan dari keinginan yg menjadi kenyataan. Dulu tentu bapaklah yang memilih beliau utk mjdi pendamping hidup. Seharusnya bapak bahagia krn Allah telah kabulkan harapan bapak, perjuangan keras bapak mendapatkan beliau dg segala pengorbanan.

      Nah, dalam menikah seyogyanya sudah membicarakan komitmen ke depannya. Baik masalah pekerjaan maupun pendidikan, juga tentang pengasuhan anak, lalu domisili yang akan dipilih.

      Saat ini, kenyataan yang terjadi tentang bapak sudah tidak sesuai dengan ideal menurut bapak sendiri. Baiknya, coba komunikasi baik-baik dengan istri. Coba tetap support dia hgg selesai s3 nya. Setelah itu baru membicarakan kembali komitmen berumahtangganya. Pembagian amanah dan menyiasati pekerjaan.

      Istri bapak menjadi lulusan s3 nanti proyeksinya sgt baik. Justru peluang untuk konsentrasi di rumah sangat banyak. Memang harus ada sedikit pemahaman dan pandangan yang perlu diluruskan tentang karier n pekerjaan. Tapi caranya adalah mungkin melembutkan hatinya dulu. Coba ambil hatinya dulu, lalu masukkanlah pengertian ketika keadaan dimana ia benar2 merasa nyaman dengan bapak.

      Mohon bapak juga menambahkan wawasan agama tentang kerumahtanggaan dengan bahasa2 agama yang lembut dan akhirat oriented. Semoga Allah mudahkan kebaikan dan keharmonisan rumah tangga bapak. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s