bg

Menjawab Keimanan dan Keadilan Pemimpin

Telah sama-sama kita ketahui bahwa tidak ada kepemimpinan kecuali adanya sebuah keyakinan yang diwujudkan. Tidak ada kepemimpinan kecuali didasari oleh ideologi yang tegas ditegakkan. Sebuah keyakinan yang menjiwai gerak langkah seseorang untuk memperjuangkan hingga tetes darah penghabisan.

Ideologi akan mendorong seseorang memiliki kepercayaan (iman). Iman adalah sebuah kondisi jiwa yang yakin akan sebuah janji. Keimanan akan diwujudkan dalam menghujamnya kemantapan hati, lisan dan perbuatan. Kesesuaian antara hati lisan dan perbuatan inilah yang membuat setiap pemimpin diikuti. Ia tidak munafik, apalagi khianat.

Silih berganti kepemimpinan negeri ini telah terjadi, namun keadaan bangsa belum seperti yang dicita-citakan. Padahal kita telah merasakan kemerdekaan dan kemandirian pemerintaahn sejak tahun 1945. Lebih dari 60 tahun pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia seolah masih saja jauh belum terlaksana secara merata.

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul Inilah Presidenku Nanti, penulis memasukkan kriteria pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan memimpin masyarakat yang plural, memahami kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini membutuhkan keadilan sejati. Ia tegas dan konsisten penjagaannya terhadap prinsip-prinsip masing-masing golongan. Ia pemimpin yang adil, bukan pemimpin plural. Dan perlu diketahui bahwa tidak ada konsep keadilan sejati yang terbaik selain dari konsep Islam. Pemahaman tersebut juga bersyarat bahwa hanya orang berimanlah yang mampu menerapkan keadilan bagi seluruh golongan.

Sebagai bukti, apakah anda mampu menjawab bangsa mana yang memiliki toleransi melebihi bangsa Indonesia? Di mana mayoritas berpenduduk muslim namun sangat menghormati prinsip agama dan golongan lain?

Di Indonesia, orang kafir (non muslim) diberikan hak untuk berprestasi dan berkarya yang sama. Sesuai kapasitas diberikan kesempatan menjabat sebagai pejabat pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang islam. Apakah ada di Negara barat atau eropa yang mayoritas non muslim, umat Islam diberikan kewenangan untuk duduk bersama dalam parlemen atau kursi pemerintahan?

Sangat jelas bahwa ketika muslim menjadi minoritas, terjadi diskriminasi. Bahkan yang kita tahu hingga ada pembersihan etnis muslim di Afrika tengah, Suriah, Myanmar, dll. Namun dunia dan PBB bungkam. ini jelas menjadi bukti bahwa Tuhan ternyata tidak memberikan karunia sifat adil yang sejati kepada pemimpin yang non muslim. Ada dimensi iman yang tak mampu dipahami oleh orang kafir apalagi mereka yang tidak percaya tuhan. Padahal bangsa kita tegas menjadikan ideologi sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Esa adalah tunggal, dan tiada Tuhan yang tunggal selain Allah.

Nah pemimpin yang mampu menghormati, menjaga dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa yang majemuk adalah pemimpin yang adil, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Islam diturunkan sebagai agama rahmatan lil aalamiin yang adil, yang menegakkan kemaslahatan bagi seluruh elemen. Pemimpin yang beriman, menjaga keimanannya dengan bertakwa, ia akan dituntun oleh Tuhannya untuk tidak berbuat sia-sia apalagi aniaya/dzalim. Pemimpin yang beriman, yang adil akan menjamin 5 hal diantaranya adalah:

Pertama, menjaga agama. Ini adalah dharuriyat tertinggi dalam Islam. Islam akan menjaga agama agar tidak tercampuraduk antara yang haq dan yang bathil. Islam menghormati pilihan setiap orang untuk memeluk Islam maupun menolak Islam dengan syarat tidak memusuhi dan berbuat kerusakan (adu domba, penodaan agama). Islam tidak boleh memaksakan kehendak beragama, karena dalam Islam setiap amal harus ikhlas dan tanpa intervensi dari pihak-pihak lain. Saya yakin, selain Islam, tidak ada yang secara adil menjaga agama. Ini terbukti dengan terjadinya kasus-kasus yang saya sebutkan di atas.

Ke dua, menjaga jiwa. Konsep Islam tegas mengharamkan pembunuhan, yaitu menumpahkan darah sesama muslim, menumpahkan darah dzimmah (orang kafir yang hidup berdampingan dan tidak memusuhi islam)  serta mu’ahid (orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan muslim dengan persyaratan tertentu). Tuhan kami umat Islam yaitu Allah, mengancam keras bagi yang melanggar dengan ancaman dimasukkan ke neraka jahannam dan kekal di dalamnya. Tidak hanya itu, Allah juga menyediakan azab yang besar bagi si pelaku pembunuhan jiwa. (QS. 4:93)

Ke tiga, menjaga akal. Islam diturunkan untuk menjaga akal manusia. Perintah pertama dalam Islam adalah iqra, ilmu. Maka dengan ilmulah manusia dijaga oleh Allah akalnya sehingga mampu memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dari ilmu dan akal inilah muslim mengetahui halal dan haram, sehingga mencegah perbuatan yang merusak dan merugikan kepentingan orang lain apalagi kepentingan Negara.

Ke empat, menjaga harta. Islam menjaga keutuhan dan hak harta pada setiap individunya yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dalam konsep islam juga dididik bahwa mengumpulkan harta selain untuk kehormatan dan kemapanan hidup, juga untuk dikeluarkan zakatnya. Dengan ini, tidak akan terjadi kesenjangan sosial, si kaya dan si miskin mampu hidup harmonis menikmati kesejahteraan secara adil dan merata.

Selain itu, yakin bahwa apabila harta dikumpulkan oleh  orang-orang kafir maka digunakan untuk kepentingan penguasaan. Faham kapitalisme yang telah identik dengan sistem liberal yang didengung-dengungkan peradaban barat telah membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Yang kaya bisa melakukan apa saja. Ada memang sebagian orang kafir baik, tapi ketidakfahaman mereka tentang adanya hari hisab kelak membuat mereka tidak lepas dari kehidupan bersenang-senang yang identik dengna miras, prostitusi, keserakahan eksploitasi alam, menghalalkan segala cara, dll.

Di tangan orang beriman, harta akan berputar pada pusaran-pusaran kebaikan. Contoh zakat, infaq, sedekah, dakwah, pembangunan sarana publik, dan benar-benar utk kesejahteraan bersama.

Ke lima, menjaga nasab (keturunan). Islam melarang penganutnya untuk melakukan pergaulan bebas,  zina seperti yang difahami oleh paham liberal. Islam melarang muslim melakukan kawin sejenis,  dan berperilaku tidak semestinya sesuai gender. Islam menjaga kejelasan status seorang anak dengan ikatan perkawinan yang sah disaksikan oleh segenap orang yang beriman dan direstui oleh Tuhan.

Nah, itulah konsep keadilan yang berketuhanan yang maha esa dengan iman. Orang seperti inilah yang berhak menjadi pemimpin negeri ini. Yaitu orang beriman, yang memahami bahwa dia memimpin bukan semata-mata untuk kepentingan partai dan konstituennya, tapi  untuk kepentingan rakyat. Ia yang memahami bahwa pengabdian menjadi pemimpin adalah pelayan umat, menjamin kesejahteraan rakyat, melakukan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya adalah ibadah kepada Tuhannya. Ia akan menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan nasab untuk semua golongan. Insya Allah Indonesia akan damai, sejahtera, makmur dan sentosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s