oke

Negara Yang “Bocor” dan Tergadai

Senin, 23 Juni 2014 adalah hari ke-2 konferensi intelektual muda Islam (pemuda) dari seluruh dunia. Saya katakan pemuda karena hampir semua peserta masih berusia di bawah 40 tahun. Sedikit sharing yang saya coba berikan dalam presentasi perkembangan dakwah dan perjuangan pemuda Islam di Indonesia salah satu point penting adalah tentang ketahanan nasional bangsa kita yang rapuh.  Selain keberadaan pangkalan militer yang sudah mengelilingi nusantara, point penting lain adalah tentang kebocoran sumber daya alam negara kita.

southeast-asia-political-map
Pangkalan militer amerika dan sekutunya di ASEAN

Lalu qadarullah di lini masa saya muncul catatan ini dari seorang WNI di Belanda bernama Tasniem Fauzia setelah sebelumnya membaca pula status facebook yang ditulis oleh Prayudhi Azwar, seorang mahasiswa PhD yang sedang belajar Monetary Economics di The University of Western Australia (UWA) dengan judul “Kutatap tulus cinta dimatanya”.

Mereka berdua adalah 2 dari warga negara Indonesia yang sangat peduli dengan perbaikan bangsa ini, apalagi momen pilpres 2014 sangat tepat dan penting dalam memilih pemimpin agar negeri ini bisa bangkit. Berikut ulasannya :

10407000_513797057916_8108719900847534131_n

Jika anda masih tertawa mendengar kata bocor yang selalu didengung-dengungkan oleh capres nomer 1, maka sungguh, anda akan menyesal, karna anda berarti sedang menertawakan keadaan negara anda sendiri yang sedang menangis, anda berarti belum mengerti tentang keadaan pedih negara kita saat ini.

Saya memang cuman Ibu rumah tangga, tapi saya mau membaca.
Mari teman-teman kita perbanyak membaca supaya kita bisa mengerti duduk permasalahan bangsa kita saat ini yang sangat urgent.

Saat ini Indonesia memang sudah merdeka, tapi mengapa rakyatnya masih miskin? Mengapa bangsa kita kok selalu tertindas di negeri yang kaya raya ini ? Ini karna kita sedang dijajah, tapi memang bukan dalam bentuk penjajahan fisik seperti jaman dulu, penjajahan yang ada sekarang ini adalah dalam bentuk korporatokrasi internasional di negara-negara berkembang salah satunya Indonesia.

Negara kita sudah puluhan tahun dijajah oleh korporatokrasi asing, dan kita memang butuh pemimpin yang berani melawan korporatokrasi asing ini.

Apa itu Korporatokrasi asing? Korporatokrasi adalah sebuah sistem kekuasaan yang di kontrol oleh korporasi besar, bank internasional dan pemerintahan. (Noam Chomsky, Media Control, Second Edition: The Spectacular Achievements of Propaganda, 2002)

Korporatokrasi adalah pengendalian suatu negara adidaya di suatu negara berkembang, salah satunya dengan memberikan bantuan pinjaman uang dan menguasai kekayaan alamnya. Korporatokrasi besar tersebut akan dengan leluasa mengarahkan kebijakan suatu negara demi mendapatkan keuntungan maksimal. (Bisa di-google dengan memasukkan kata sandi “Corporatocracy in Indonesia”, ngenes banget kondisi kita saat ini)

Bayangkan, di foto ini kita bisa lihat kekayaan sumber daya alam di Indonesia yang telah dikuasai oleh korporatokrasi internasional.

Kalau dulu sebelum kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945, kolonialisme adalah berbentuk penyiksaan fisik, sekarang ini di jaman globalisasi, penjajahan kepada negara-negara berkembang adalah bentuk dominasi negara asing dan negara adidaya di negara-negara berkembang. Kekayaan kita dikuras dan digerus terus oleh pihak asing, uangnya mengalir ke asing, dan negara kita tidak dapat apa-apa.

Kalau jaman VOC dan jaman penjajahan Belanda dulu ada Amangkurat I dan Amangkurat II yang berkhianat kepada negara dengan menjadi antek Belanda, untuk memperkaya dirinya sendiri, sekarang pun tidak ada bedanya. Ada elite-elite politik yang memang berkhianat dan menjadi antek aseng.

Ditambah lagi ini terjadi karna pemimpin saat ini yang kurang tegas dengan kekuatan negara asing. Harus ada pemimpin yang berani untuk melawan korporatokrasi dunia yang berusaha mengacak-ngacak kesatuan negara kita.

Indonesia harus bisa belajar dari negara-negara bermartabat seperti Malaysia, Iran, Venezuela, Argentina, Bolivia, China, Ekuador dan India yang berani menolak untuk bergantung kepada asing, menolak tawaran pinjaman dari IMF dan World Bank yang sangat mengikat dan merugikan negara.

Indonesia merindukan pemimpin yang berani dan tegas, seperti Soekarno dulu, yang tidak tunduk kepada asing.Mari teman-teman kita berdoa, semoga Indonesia masih bisa diselamatkan.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh pemimpinannya. Ke mana dia akan membawa kita 5 tahun ke depan. Jika Prabowo Subianto menjadi presiden kita 2014-2019 nanti, insya Allah Indonesia akan bisa keluar dari cengkraman dan kungkungan korporasi asing di negara kita, tidak ada lagi penjualan kekayaan alam, mulai dari hasil hutan, laut, pertambangan, dan energi ke pihak asing yang merugikan negara. Karna dia 100% bisa dibuktikan kesetiaannya kepada negara, tidak ada korporatrokrasi asing yang mem-back up dia saat ini. Dia hanya mengabdi untuk negara dan rakyat Indonesia. Bukan untuk negara asing. (20 Juni 2014 – Nijmegen, Belanda)

Itu adalah penggalan sudut pandang kecintaan terhadap tanah air dari seorang ibu rumah tangga. Maka bagaimana dengan anda? Maaf jika kurang berkenan menyebut nama salah satu capres, tapi demi Allah, beliaulah yang saat ini secara kualitas dan kapasitas insya Allah yang sedang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Mari membuktikan bahwa ibu pertiwi Indonesia masih melahirkan banyak patriot-patriot yang siap mengabdi kepada negerinya tanpa pamrih! Mari buktikan bahwa negeri ini mampu mandiri!

Biz gerçekten dünyada işgale karşı oldu! Kita benar-benar sedang (serius) melawan penjajahan… mari berjuang!

Agastya Harjunadhi,
Sakarya, 25 Juni 2014.
Ditulis di pagi hari yang cerah, ditemani mentari yg bersinar semangat nan Indah.

One thought on “Negara Yang “Bocor” dan Tergadai”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s