kami-ingin-bangkit

Jangan Menghalangi Kami Bangkit

Setelah Musa yang hafidz 30 Juz di usia 5,5 tahun, bangsa ini telah melahirkan anak yang luar biasa lagi yaitu Syeikh Rasyid, di usia 6 bulan sudah berucap Allah, dan di usianya yg masih kecil ini sudah bisa bahasa arab sendiri, tanpa ada yang mengajari. cek -> https://www.youtube.com/watch?v=Txf30h4zgvI

Allaahummarhamna bil quran 3x..

Melihat Indonesia, ini adalah pertanda baik. Setelah menjamurnya ODOJ, berbondong-bondong kegiatan menghafal quran menjadi trend. Tempat kajian islam semakin dilirik para anak muda dan bertadabbur quran pun telah menjadi gaya hidup.

Ada hal lain yang tak kalah menarik dalam perkembangan peradaban negeri ini. Tentang Indonesia.

Memahami sejarah bangsa ini ternyata menjadi sebuah keniscayaan. Saya benar-benar merasa tertipu dengan pelajaran sejarah selama ini di bangku sekolah. Tapi sekaligus berterima kasih karena dengan begitu saya bisa mengetahui mana yang benar. Ini tentang sejarah nasional kita.

Kita hidup ini secara tak langsung adalah kumpulan waktu demi waktu mengukir sejarah kehidupan. Baik pribadi, maupun sejarah yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Banyak cara untuk mengukir sejarah hidup secara manis dan baik. Agama kita pun mengajarkan bagaimana cara kita mengukir sejarah hidup kita. Lihat QS. Ar-Ra’ad :13, QS. Al Hisyr: 18.

Kekiniannya bagaimana?

Saya coba arahkan ke kontestasi kepemimpinan dan keadaan politik di Indonesia. Yu lihat. Bapak Anies Baswedan pernah bilang “Undang pakai rupiah cara pintas mobilisasi massa. Mempesona ditulis di berita, memalukan saat ditulis sejarahwan” (cek : https://www.facebook.com/aniesbaswedan/photos/a.184628331574161.32084.182838371753157/677041718999484/?type=1&theater ).ย Berhubungan dengan itu, izinkan saya menulis hal yang mirip, bahwa :

(mengerahkan) membuat citra, image, mencari simpati publik, meraih kehormatan, dengan cara menggunakan uang dan memanfaatkan kekuasaan (jabatan)- memang mempesona ditulis di media massa atau kolom berita. Namun sungguh memalukan saat ditulis oleh sejarahwan, memalukan saat dikenang oleh anak dan keturunan!

Ini nasihat untuk diri sendiri, juga untuk teman-teman seperjuangan mengabdi kepada negeri. Mari mengukir sejarah hidup dengan jujur, jernih.

Masih banyak orang baik dan jujur yang memiliki kejernihan jiwa. Hati yang bersih akan mudah menjernihkan jiwa. Cirinya apa? ia tenang, santun, tegas tanpa menjatuhkan. Sebab satu hal alasan kenapa seseorang hendak dan mau menjatuhkan, adalah adanya penyakit hati yakni iri, hasad, dengki.

Ksatria itu jujur, melahirkan ketulusan sikap. Ia jernih, dari hati. Nah itu datang dari dalam internal diri. Bukan topeng dan polesan.

Buktinya apa?

Attraction. Arruhul junnudum mujannadah. Teman-teman pasti setuju kan jika apa yang dari hati pasti sampai ke hati. Itulah ketulusan, dan setiap orang memilikinya. Dan sesiapa yang memiliki frekuensi yang sama, ia akan segera bersepakat. Mereka semua segera merapat. Karena ruh dulu pernah bertemu, ia mencari sekutunya di dunia ini. Yang baik dengan yang baik. Sehati, sevisi.

Mereka yang sehati, saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama.

Ok. Saya akan ambil contoh lagi dari perkataan Pak Anies Baswedan. “Perilaku pendukung mewakili yang didukung”. Nah itulah bentuk seiya-sekata-nya ruh yang saling bersepakat, sesandi dan se-frequensi hati. Maka izinkan kami menjelaskan ‘wujud konkretnya dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang politik’ -> http://chirpstory.com/li/216911.

Contoh lain, saya juga mengelola salah satu akun anonim. Pernah saya bilang dengan hashtag . Maka lihat pula moral para pendukungnya, begitulah moral dan mental ‘mayoritas’ yang didukung. Saya tidak katakan semua, tapi mungkin banyak. Mungkin di sinilah akan ada pro kontra.๐Ÿ™‚

Ala kulli hal, dari semua cerita di atas. kami hendak bangkit. Sudah sekian lama kami terlena dengan sistem sekuler liberal yang seolah-olah memberikan kemajuan pesat untuk intelektual kami. Terima kasih atas pengajarannya kepada bangsa ini.

Apalagi jika pemimpinnya MAU dan MAMPU (Qawiyyun) serta amiinun (amanah) menjaga keharmonisan masyarakat yang bhineka ini, MURNI setiapnya pada jalannya. Mau dan mampu menjaga dan menguatkan simpul kebangsaan. Bukan menyalahi, melanggari, menyesati, menghinai dan menistai satu sama lain.

Para founding fathers bangsa ini telah sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dijiwai oleh Piagam Djakarta (yang dari naskah itu pula-lah Pancasila lahir) yang di dalamnya pula termaktub kalimat pernyataan “atas berkat rahmat Allah …” lah kemerdekaan dan kebangkitan bangsa ini tercapai.

Ya, bagi saya, menurut saya… jiwa dan simpul kebangsaan itu ada pada Piagam Djakarta tertanda dan tersaksikan oleh 9 orang perumusnya pada tanggal 22 Juni 1945, yang selanjutnya menjadi mukadimah UUD 1945. Mereka TELAH dan SELESAI BERSEPAKAT! ini simpul kebangsaan yang FINAL. (monggo disimak Piagam Djakarta, 22 Juni 1945. Mereferensi pada buku “Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusi Islam”). Lihat pula ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966. Memorandum DPRGR 1966 mengenai sumber tertib Hukum RI ditingkatkan menjadi keputusan MPRS Nomor XX/MPRS/1966, di dalam keputusan ini ditegaskan kembali bawasanya bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Berikut ini adalah Piagam Djakarta tertada panitia 9, 22 Juni 1945.

Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945
Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945

Satu lagi. Saya kutip dari tulisan Dr. Adian Husaini. Balasan surat untuk Franz Magnis Suseno, tokoh katolik terkenal. Kutipan itu adalah :

Usul agar Indonesia menjadi negara sekuler dengan mengubah Mukaddimah UUD 1945,ย  misalnya, pernah diajukan oleh seorang Tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandono, melalui artikelnya berjudul โ€œMukaddimah UUD 1945 tidak Sakralโ€ di Harian Suara Pembaruan, 9 Februari 2004. Soedjati mengusulkan agar Indonesia secara terbuka menjadi dan mengaku sebagai sebuah โ€œnegara sekulerโ€.

Artikel Soedjati itu ditanggapi dengan sangat tajam oleh Prof. Franz Magnis-Suseno, melalui sebuah artikelnya berjudul โ€œMukaddimah UUD 1945 Tidak Boleh Diganti!โ€.ย ย  Franz Magnis menulis: โ€œLebih serius lagi, Soedjati mau membongkar salah satu tabu paling kental dalam politik Indonesia: ia menuntut agar Indonesia menjadi, dan mengaku menjadi, sebuah negara sekuler. Menurut saya, Soedjati di sini main api, dan itu terlalu mahal.โ€ (Lihat, Franz Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa, 2006:224-229).

Itu mungkin sedikit pengakuan seseorang yg berfikir secara konsisten, memakai iman versi keimanannya, menempatkan sesuatu yang seharusnya dihormati secara terhormat.

Maka saya katakan tegas kepada semua pihak yang culas, dan dengki melihat bangsa ini untuk berjaya “STOP!! Berhentilah melarang bangsa kami untuk merdeka. Berhentilah menghalang-halangi bangsa ini untuk bangkit dan berjaya!. Kalian akan menghadapi ribuan patriot yang cinta dan siap jadi abdi untuk izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) agama, bangsa dan negara.

68 tahun sudah usia bangsa ini. Simpul kebangsaan anak negeri ini telah melampaui hampir 70 tahun lamanya. Seorang profesor dari Havard University pernah menuliskan bahwa suatu negara akan ditentukan bangkit dan berjaya atau hancur tenggelam setelah melalui fase usia 70 tahun. Ngga perlu percaya sepenuhnya juga๐Ÿ™‚, namun yang terpenting menurut saya adalah dengan memahami sejarah perjuangan baik islam maupun nasional… maka …. semakin lama dan tua usia suatu bangsa atau negara, memang sudah seharusnya semakin dekat dengan cita-cita para pejuangnya, para founding father nya. Bener kan?

Ya, 2014 saat ini sederhananya kami bangsa Indonesia menemukan memontum itu.. bangsa ini hendak bangkit. Antara waktu, perjuangan dan zaman, sejarah dan peradaban, negeri ini tertemukan simpul perjuangannya, simpul kebangsaannya. Negeri ini memiliki banyak pejuang, banyak patriot dan putra terbaik yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Sejak berabad-abad silam. Simpul kebangsaan kami secara tabu dan sederhana telah terpaparkan di atas.

Dan saat ini segenap anak negeri ingin memperkuat simpul kebangsaan itu. Kami hendak bangkit. Kami ingin meraih cita-cita, memenuhi janji-janji kemerdekaan para pejuang dan pahlawan. Dan benang dari simpul itu semua mampu tertali dengan kuat dan sempurna oleh Islam. Bagi saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, kita memiliki simpul kebangsaan yang kuat yang kita telah bersepakat yakni Piagam Jakarta, Pancasila, UUD 1945.

“pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya”, (Ir. Soekarno)

soekarnoJangan menghalangi kami BANGKIT!
Nyuwun sewu.. #kalem๐Ÿ™‚

Kembali kepada Musa dan Syeikh Rasyid, semoga semakin banyak generasi anak negeri ini yang seperti kalian. Mewujudkan peradaban Indonesia yang unggul, berjaya, merdeka dan bermartabat dengan izzah dari al quran, Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin.

(Rangkaian simpul dari Istanbul, Doha, Jakarta), 4 Juli 2014. Ramadhan ke-7.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s