Petani – Guru

Anak saya bisa-bisanya nyeletuk, “kok petani itu tua-tua, ya, Pak?”. Mungkin karena dia memperhatikan usiatetangga-tetangganya yang jadipetani. Kalau masih muda, biasanya bukan petani. Entah buruh seperti bapaknya, entah pedagang seperti pamannya, entah profesi yang lain.

Saya penasaran, apa yang dipikirkannya. “Emang kenapa, Zu?””sawahnya luasss, kalau sudah tua, bukannya capek? Nanti kalau meninggal, siapa yang menanam padi?”Kekhawatiran yang beralasan. Mungkin karena Zuhdi kadang mencuri dengar pembicaraan Bapaknya.

Sebelumnya, saya memang sempat bergosip dengan tetangga yang umumnya berprofesi petani. Mereka mengeluh. Sulit sekali mencari tenaga tani sekarang. Untuk buruh tanam, tinggal ada satu grup berisi lima orang nenek. Utuk grup membajak, cuma ada dua orang kakek. Kalau mereka semua sudah kundur kepada Gustinya, apa masih ada yang dinamakan petani?

Beginilah akibatnya bila sebuah profesi semata-mata dikaitkan dengan rejeki. Ada atau tidaknya orang yang memilih profesi tersebut, ditentukan oleh banyak tidaknya pundi-pundi. Buruh tani adalah salah satu contohnya. Berapa sih yang diterima buruh tani? Sedikiiiit! Sehari paling 10 ribu plus beberapa bungkus supermie sebagai upah. Masa tanamnya setiap 3 sampai 4 bulan. Dalam periode itu, tidak setiap hari mereka dikontrak. Untuk jaman ini, uang sebesar itu bisa buat apa?

Dengan kondisi begitu, profesi petani saya golongkan dalam profesi yang terancam punah dan harus dilindungi.

Nah, bagaimana dengan profesi guru? Bila paradigmanya masih sekitar pundi-pundi, beberapa tahun lagi, profesi ini pun akan punah. “Sekarang masih banyak, kok. Itu masih pada ngantri…”. Menurut opini saya, ini cuma karena masih banyak saudara kita yang belum sejahtera. Untuk umat yang begini, dalam paradigma penghasilan semata, profesi guru masih berada dalam status “jauh lebih baik dari pada tidak berprofesi”. Tunggu saja beberapa tahun lagi. “Yen ana rejaning jaman”, saat bangsa ini sudah makmur, bila profesi ini masih dipandang sebagai sumber pendapatan, insyaAllohakan punah. Karena memang secara alamiah, profesi ini bukan profesi untuk hidup. Seperti kata Bapak Pendidikan,”diurip-urip, dudu dianggo urip”(-dihidupkan, bukan untuk hidup), ini adalah profesi penuh pengorbanan.

Dalam kasus petani, solusinya cukup sederhana. Tingkatkanlah kesejahteraan petani. Secara alamiah, orang akan berbondong-bondong menjadi petani. Selesai. Caranya bagaimana… bukan pokok bahasan cerita ini.

Namun dalam kasus guru, tidak bisa semudah itu. Meningkatkan kesejahteraan guru hanya secara finansial tidak lantas menghidupkan ghirah per-guru-an. Apalagi bilacaranya dilakukan dengan pelecehan seperti TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU. Yang akan semakin besar dengan cara itu adalah semangat berprofesi sebagai guru.

Apa bedanya? Sejak dahulu kala, orang-orang yang berkhidmat sebagai pengajar, yang mengabdikan diri untuk ilmu, tidak pernah berasal dari golongan yang silau terhadap harta. Masih ada pemeo dalam golongan santri bahwa mereka belajar supaya bisa mengajar.

Dalam kondisi ekstreem, masih lestari tradisi di kalangan mereka bahwa bila mengajar, tidak boleh dibayar. Dengan premis ini, meningkatkan pendapatan guru sebagai satu-satunya instrumen kesejahteraan, tidak akan menyelesaikan masalah per-guruan-secara berkelanjutan. Pada satu generasi, mungkin bisa menjadi obat. Tapi generasi berikutnya, profesi ini akan diisi oleh gelombang guru yang memilih profesi ini sebagai sumber penghidupan. Apa tidak boleh? Boleh, kok. Tapi dijamin, pelakunya akan kecewa. Sebab profesi ini adalah profesi yang sangat jauh dari sejahtera dan glamour sebesar apapun gajinya. Kalau toh para pelakunya tampak bahagia, sejahtera, dan kaya, itu karena mereka, para guru, sudah sejiwa dengan profesinya. Gaji yang diterima, berapapun nilainya, dicukupkan dengan syukur. Karenanya, berkah langit turun dengan derasnya. Kami sejahtera dalam kekurangan karena belas kasih Ilahi.

Tapi bila dinilai dengan gaji semata, dibandingkan dengan teman-teman kami seangkatan, yang dulu saat kuliah nilainya setara, tentu akan berbeda bagai bumi dan langit. Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang akhir-akhir ini sedang berusaha mendaftar sebagai dosen PNS.

Bersiaplah untuk kecewa bila yang anda cari dari profesi guru itu cuma sekedar pendapatan. Sebab gaji kami ini tidak seberapa. Kalau ingin kaya, pergilah ke dunia swasta atau setidaknya pegawai BUMN. Kalau anda cari santai, jadi petani saja.

Tidak ada ceritanya jadi dosen itu santai. Kami ini mirip dokter. Tidak punya waktu libur bahkan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar.

Bila yang anda cari adalah berhidmat untuk pengetahuan maka gaji, tunjangan, pangkat itu cuma semat yang tidak penting. Sebab bos anda, pemerintah, tidak pernah peduli dengan hal itu.

Kami, para guru cuma dipandang sebagai angka nun jauh di atas sana oleh para executive dan legistative. Naik pangkat anda akan sulit sehebat apapun anda kecuali anda masuk dunia politik.

Status “Dadi masinis wae po, Yo? Kata Pak Jonan, “Gaji Masinis Sekarang Bisa Rp 13 Juta, Penjaga Pintu Rp 6,5 Juta”. Ora usah kuliah S2 apa maneh S3. Punya hari libur. Pulang kerja langsung tidur. Dosen, S3, Golongan IIIB paling 6 juta sebulan termasuk sertifikasi. Tidak punya libur, pulang masih lembur. Naik Pangkat sulit tak Teratur.Dadi Masinis wae po, yo? Dadi Masinis wae po, yo?” adalah sindiran satiris terhadap kondisiini.

Semoga yang memang sudah mantap melamar menjadi dosen PNS dengan niyat berhidmat untuk ilmulah yang diterima. Salam menjadi guru๐Ÿ˜€

Oleh: Dosen Jteti Ft Ugm – dari group Madrasah Peradaban.

2 thoughts on “Petani – Guru”

  1. Pendidikan Adalah Perjuangan dan Sumber Penghidupan Guru

    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dunia Pendidikan terlahir dari sebuah keniscayaan tentang kebutuhan manusia untuk belajar hal-hal baru serta mengasah apa yang telah dimiliki. Pendidikan tidak dapat dilakukan secara asal-asalan atau ala kadarnya, sebab dipastikan jika pendidikan dilakukan ala kadarnya, maka hasilnya tidak akan pernah memuaskan. Jadi dalam hal ini, pendidikan memerlukan perjuangan yang keras dan total dari insan-insan yang terlibat di dalamnya. Pendidikan adalah sebuah perjuangan untuk dapat mewujudkan tujuan dan maknanya.

    Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebagai sebuah tenaga profesional, maka guru (baca: PNS dan GT) memiliki hak untuk mendapat kesejahteraan yang sama dengan atau di atas rata-rata tenaga kerja lainnya, sehingga guru tidak perlu mencari nafkah dari sumber lain, misalnya berdagang atau ngojek. Guru wajib untuk menjadikan pendidikan sebagai kehidupannya secara total, sebab ia tahu persis bahwa pendidikan adalah sumber penghidupan dan satu-satunya sumber penghidupan. Bahkan dengan kesadaran ini, ia mesti memiliki jiwa dan kesadaran untuk membentuk dirinya sebagai guru yang berkompeten, yang menguasai segala hal yang diperlukan sebagai seorang pendidik.

    Pendidikan adalah perjuangan, dan satu-satunya sumber penghidupan guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s