Ilmu, Baitul Hikmah dan Peradaban Islam

Karakter dari peradaban Islam adalah menyebarkan kebaikan seluas-luasnya untuk seluruh penduduk dunia. Dari titik kecil di jazirah Arab, dalam kurun 100 tahun mampu meluas hingga Eropa Timur sampai perbatasan Cina.
Islam tidak mengenal penjajahan, melainkan futuhat. Futuhat artinya penerangan dan pencerahan. Selama 100 tahun (sampai kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz), wilayah yang masuk ke dalam futuhat Islam menjadi tercerahkan.

Seluruh wilayah yang hidup dalam futuhat Islam menyaksikan kebaikan kepemimpinan umat Islam. Selama 700 tahun setelahnya, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menyamai atau menggantikan kekuatan Islam. Barat yang menggantikan posisi kepemimpinan ini tertatih-tatih dalam menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam. Mereka butuh waktu hingga 500 tahun hanya untuk menerjemahkannya.
Buku kedokteran karya Fakhrudin Ar-Razi dipakai di Prancis selama 400 tahun.
Ilmuwan Eropa mengatakan: Kami mengalami Renaissance (pencerahan). Mereka mengakui bahwa sebelumnya berada dalam kondisi kegelapan, dan baru tercerahkan setelah menerjemahkan karya ulama dan ilmuwan Islam.
Sayangnya, Barat hanya mengambil aspek keduniaan saja, ilmu agamanya (ruhiyah) ditinggalkan.

Seluruh masyarakat dunia merasakan manfaat atas kepemimpinan umat Islam. Bukan hanya umat Islam saja, namun juga ahlu dzimmah (nonmuslim yang hidup dalam wilayah kekuasaan Islam). Bahkan, kuda tua yang sudah tidak terurus dan kucing liar yang telantar pun dipelihara oleh Muslimin melalui dana wakaf.

Orang Eropa manusiawi saat mereka berada di wilayah Eropa. Di luar wilayah Eropa mereka kehilangan kemanusiaannya.

Namun Islam berbeda dengan Eropa. Risalah Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik di mana pun dan kapan pun.

Ada kisah menarik saat Said bin Zubair ditangkap, sebelum ia diserahkan pada Hajjaj bin Yusuf. Ketika berhenti di suatu tempat yang terkenal dengan singa-singa buas, pasukan yang menahan Said mencari tempat yang aman dari singa, namun Said tidak mau ikut. Ia ingin menunggu di luar.
Saat singa menghampirinya, Said bin Zubair berkata, “Singa, engkau hamba Allah dan aku pun hamba Allah.” Akhirnya, singa itu malah menjaga Said hingga subuh.

Ada perbedaan cara pandang saat umat Islam memasuki wilayah futuhat. Mereka memandang karya Aristoteles, Plato, dst. dalam posisi pemenang, tidak rendah diri.

Kecerdasan tidak tergantung pada etnis. Allah menganugerahkan potensi kecerdasan pada seluruh manusia, tidak memandang berasal dari etnis mana.
Al-Farabi mengambil pemikiran Aristoteles yang terbaik, kemudian disederhanakan dan dijelaskan, hingga Eropa dapat mengambil manfaat darinya.

Islam mengambil ilmu yang terbaik dari tiap peradaban terdahulu. Ilmu tersebut bukan hanya disalin dan dikutip, namun juga ditimbang dan disesuaikan dengan pola pikir Islami.

Baitul Hikmah bukan sekadar perpustakaan. Baitul Hikmah merupakan komplek yang lengkap dan terintegrasi unitnya. Di antara unitnya adalah:

1. Akses karya langkah
Saat gencatan senjata di Perang Siprus, Al-Makmun mensyaratkan buku-buku yang dimiliki Siprus pada penguasa Siprus.
Khalifah Islam mengirimkan ilmuwan yang paham manuskrip untuk mencari buku-buku yang terbaik.
Di zaman Nuruddin Zanki, terdapat showroom penukaran kendaraan bagi musafir yang kendaraannya bermasalah.
Di wilayah kekuasaan Islam, ada semacam perlombaan di antara para Gubernur untuk mengumpulkan buku langka.
Penerjemah di zaman Al-Makmun menukar buku yang berhasil diterjemahkannya dengan emas.

2. Layanan perpustakaan
Perpustakaan bukan hanya sekadar layanan membaca dan peminjaman buku, namun juga terkait dengan kenyamanan pengunjung Baitul Hikmah.
-Kualitas buku Baitul Hikmah sangat baik. Sampul buku Baitul Hikmah terbuat dari kulit berkualitas tinggi. Tulisan di sampul bukunya ada yang disepuh dengan emas.
-Ada ruangan Guru Besar bagi masyarakat yang ingin bertanya tentang ilmu. Gaji Guru Besar tersebut ada yang sampai 1000 dinar per bulan.
-Pena dan tinta digratiskan, makanan dan minuman juga disediakan.
-Penyalin Baitul Hikmah memiliki kapasitas keilmuan. Ibnu Nadim adalah ‘tukang fotokopi’, namun menghasilkan karya yang besar.

3. Pusat penerjemahan karya asing
Buku asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (bahasa umat Islam). Tujuannya agar penyerapan ilmu lebih mudah dan masif. Tidak hanya diterjemahkan, namun juga dikaji.
Al-Mukmin pernah mengundang 40 ulama untuk mengkaji dan membahas masalah kenegaraan.
Umar bin Abdul Aziz  mewajibkan beberapa buku bacaan untuk rakyatnya.

4. Pusat penulisan buku

5. Layanan penyalinan buku

6. Pusat pengemban dakwah

Baitul Hikmah menjadi semacam “think tank”. Saat ada isu/propaganda yang ingin dilempar pada masyarakat, mereka berkumpul dan berdiskusi dulu di Baitul Hikmah.

7. Tempat kajian
8. Tempat diskusi dan debat ulama-ilmuwan
9. Laboratorium (untuk ilmu kedokteran dsb.) dan Observatorium (astronomi).

Pengunjung Baitul Hikmah terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, terdiri dari ulama, ilmuwan, sastrawan, khalifah dan pejabat negara, peneliti, penulis, pelajar tingkat tinggi (umumnya), kolektor buku, dan masyarakat umum.

Jenjang institusi Baitul Hikmah terdiri dari:
1. Baitul Hikmah
2. Darul Hikmah
3. Khizanah Al-Hikmah
4. Darul Ilmi

Baitul Hikmah dilahirkan dari budaya ilmu dan melahirkan budaya ilmu.
Budaya ilmu adalah warisan terdalam peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan generasi sahabat (kisah ahlu shuffah, rihlah ilmiyah untuk memastikan suatu hadist).
Ilmu menjadi pemikiran terbesar dalam masyarakat muslim. Bukan hanya sekadar ilmu, namun juga pengaruh dan dampaknya bagi masyarakat.

Bidang keilmuan Baitul Hikmah mencakup filsafat, astronomi, kedokteran, bahasa dan sastra, kalam.

Faktor kemajuan Baitul Hikmah antara lain adalah:
-Pandangan Islam tentang ilmu
Kebenaran ayat Quran bukan hanya dilihat dari bahasanya saja, namun juga terlihat dalam alam semesta melalui penemuan-penemuan para ilmuwan Islam.
-Budaya ilmu
-Dukungan dan kepentingan penguasa
-Dukungan kaum kaya
-Penghargaan pada ulama dan ilmuwan
-Perpustakaan yang mudah diakses
-Koleksi buku melimpah
-Implementasi ilmu dalam kehidupan nyata

Penutup dari Ust. Budi Ashari

Baitul Hikmah hadir di tengah kondisi umat yang sudah kebanyakan ‘hidangan’ (ceramah, tabligh, dst.), namun ‘dapurnya’ (para ahli ilmu yang fokus untuk menggali ilmu) mulai keteteran.
Baitul Hikmah aslinya hadir saat ilmu syar’i sudah mapan di masyarakat. Setelah itu, barulah mereka merambah ilmu lanjutan, utamanya kedokteran dan astronomi.

Saat ini kita memang tidak memiliki keduanya, namun kita tidak pernah menawar dengan konsep Baitul Hikmah di masa kejayaan umat Islam. Melangkahlah satu langkah, Allah akan memudahkan langkah selanjutnya dan mempertemukan dengan orang lain yang bervisi sama.
(aia)

Diskusi dan Bedah Buku “Baitul Hikmah” karya Said Ahmad ad-Diuhji
Sejarah dan Sumbangan Bait Al-Hikmah terhadap Peradaban Islam
Ust. Asep Sobari, Lc
Madrasah Al-Fatih, 1 Muharram 1436 H
baitulhikmahnusantara.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s