Asyura, Syiah dan Gejolak Perpecahan dalam Sejarah Kepemimpinan Islam

Dalam pergolakan kepemimpinan, adalah suatu hal yang wajar adanya rasa ketidakpuasan terhadap suatu keputusan tertentu yang dibuat oleh sang pemimpin. Namun, akan menjadi fatal apabila masing-masing pihak yang tidak puas memaksakan kehendak untuk memenuhi keinginan. Apa yang akan terjadi jika masing-masing bersikukuh? ialah sebuah perpecahan.

Fenomena yang paling kelihatan sekarang adalah dualisme kepemimpinan di DPR RI kita. Sungguh disesalkan sebagai wakil rakyat tidak memiliki kedewasaan dalam berpolitik. Alih-alih dewasa, etika para pemimpin ini pun telah mencapai kata sulit dan tidak layak untuk diteladani.

Bagaimanapun, menurut saya persatuan adalah prinsip dari ajaran Islam. Jika di sana ada perpecahan, pasti karena syahwat baik fanatisme maupun kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Adapula pengaruh ghuluw dan acuh yang terlewat batas.

Dalam kisah kepemimpinan Islam, tak semuanya juga berjalan mulus. Dengan mentaati dan menegakkan syariat, tak serta merta semua berjalan lancar-lancar saja. Ada ujian-ujian yang dahsyat untuk menguji keimanan pemimpin dan ummat di setiap zaman.

Dikisahkan dalam sirah sahabat, Umar ra Utsman ra dan Ali ra adalah pemimpin-pemimpin hebat sepanjang sejarah Islam yang memiliki level keimanan dan ilmu tingkat tertinggi dari umat Muhammad saw. Mereka juga termasuk golongan yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT.

Namun, manusia tetaplah manusia yang terhukumi sunnatullah yang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Diantaranya adalah adanya kebijakan yang kurang memuaskan pihak terntentu, tidak diterima dengan lapang dada oleh pengikutnya. Kepemimpinan mereka pun berakhir tragis, terbunuh oleh kelompok tertentu tersebut. Sekali lagi, ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Islam biasanya memang karena syahwat fanatisme, ghuluw dan acuh serta hembusan kebencian dari orang-orang kafir harbiy. Semua itu menjadi syarat yang cukup untuk menjadikan mereka bersikap “kurang bijaksana”. Atau biasanya saya menyebutnya “kurang berhikmah”.

Setelah kematian Umar, misteri tak terungkapnya pembunuhan Utsman oleh Khalifah Ali, drama terbunuhnya pribadi agung berlanjut kepada wafatnya Ali ra.. berlanjut kepada terbunuhnya Husain bin Ali ra.

Akibat tumpahnya darah pemimpin-pemimpin ini menjadi gejolak pula dalam peta umat hingga kini menuju akhir zaman. Menggali khazanah dan hikmah mari kita simak sedikit tulisan yang bisa membawa kita dalam pemahaman yang adil insya Allah dari Bapak Syukri Wahid.

Kali ini konteks pembahasan mengkolerasikan dengan hari Asyura, adalah tiga darah terakhir yang telah tumpah. Karena di 3 tragedi kematian ini menjadi titik simpang sejarah sampai hari ini. Yakni darah khalifah Utsman bin Affan, darah khalifah Ali bin Abi thalib, darah Husain bin Ali.

Semua literatur akan membahasnya dari sudut yg berbeda. Bagi saya sejak awal Syiah itu murni gerakan politik yang menyokong utama kepemimpinan Ali bin Abi thalib, sebelum dia bergeser menjadi gerakan akidah dan lain.

Bagi muslim yg berasal bani Umayyah, salah satu PR besar khalifah Ali adalah tidak mengqisas pembunuh utsman, dan sampai wafatnya Ali, beliau belum sempat menegakkan hukum tersebut, yg membuat luka bagi bani umayyah atau klan dari keluarga Ustman bin Affan

Siapa yg membunuh ?
Kenapa mereka membunuh?
Dan mengapa khalifah Ali tidak menegakkan hukum qisas kepada pembunuh ustman?
Semua ada jawabannya

Saat khalifah Ali dibunuh di Kuffah, itu juga menjadi titik krusial dalam semua literatur tentang motif dan latar belakangnya. namun kubu yg kecewa terhadap khalifah Ali bin Abi thalib bukan saja dari keluarga utsman bani Umayyah. Tapi mantan pendukung setianya, yaitu mereka yg dinamakan kaum khawarij setelah mereka keluar resmi dari kubu Ali, kaum khawarij menyalahkan Ali dan juga menyalahkan Muawiyah bahkan mereka mengkafirkannya paska perang Siffin yang berujung pada arbritase atau tahkim.

Khawarij tidak menerima keputusan tersebut, menyesalkan mengapa khalifah Ali mau menyetujui proses tahkim dan akhirnya mereka membuat madzhab politik sendiri dengan semboyan utamanya “laa hukmu illallah “. Referensi yg paling kuat atau rajih pembunuh Khalifah Ali adalah seorang yg berfiliasi Khawarij ini. wallahualam bshwb,

(Bersambung)

One thought on “Asyura, Syiah dan Gejolak Perpecahan dalam Sejarah Kepemimpinan Islam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s