Asyura, Syiah dan Gejolak Perpecahan dalam Sejarah Kepemimpinan Islam (2)

Sampai disini , saya ingin membawa pikiran dan perasaan kita semua tentang kondisi sulit kala itu, bisa kita bayangkan khalifah Ali bin Abu thalib ra berada pada posisi yg dilematis karena beberapa alasan :

1.Pertama tuntutan bani Umayyah diawal beliau menjabat adalah menuntut darah Utsman yang “para pembunuhnya” berada dan berlindung dibalik Ali bin Abi thalib. Karena fakta yang terjadi adalah ribuan orang yang mengepung rumah khalifah Utsman ra berhari-hari dan berujung terbunuhnya beliau.

Setelah itu berbondong-bondong mereka mendatangi Ali dan ingin membaiatnya. Sejak awal beliau sadar kondisi ini akan menjadi fitnah, seakan-akan beliau melindungi pembunuh Utsman ra atau memang itu strategi yang dipakai oleh para pembunuh khalifah Utsman untuk “cuci tangan” dibalik Ali bin Abu thalib ra.

2.kedua, para gubernur yang paling senior kala itu adalah Muawiyyah bin Abi Sufyan ra, beliau adalah sahabat Rasulullah saw kendati masuk Islamnya dibelakang.
Faktanya adalah beliau telah menjadi gubernur Syam atau Damaskus sejak zaman khalifah Abu bakar ra, jadi walaupun khalifah sudah 3 kali berganti namun posisinya sebagai gubernur Syam tak tergantikan.

Kebijakannya saat memimpin disana disukai oleh warga, itu yg menjadi salah satu motif juga Umar ra dan Utsman ra. tak menggantinya.

Dan bisa kita katakan wilayah Syam atau Damaskus menjadi basis dukungan politik bagi Muawiyyah ra dan masalah darah Utsman melebar menjadu isu politik di Syam, bukan lagi masalah nasab bani Umayyah saja, tapi menjadi isu politik terhadap khalifah yang dianggap tidak menegakkan hukum Qishas.

3. Isu darah Utsman ra membuat para sahabat juga terbelah tentang ijtihad. Termasuk bunda Aisyah ra yang berijtihad bahwa Ali ra wajib menghukum pembunuh utsman bin Affan.

Namun beberapa sahabat juga ada yang mendukung kebijakan Ali ra, bahwa integritas khilafah harus diatas segala-galanya, pemerintah harus jalan tanpa perlu di dikte, seperti sahabat ‘Ammar bin yasir ra.Jadi masalah ini menyeret beberapa sahabat dalam berbeda pendapat.

Meletusnya perang Siffin harus kita terima secara akal sehat dikarenakan perbedaan ijtihad ini.
Kubu Muawiyyah merasa khalifah tidak menegakkan hukum qisas atas kematian Utsman ra dan pihak Ali ra menggap institusi khilafah harus tegak dan terhindar dari rongrongan internal dan semua ancaman bughot harus dilawan.

Itulah perang yg menyedihkan dalam sejarah peradaban Islam, saya tak jarang menangis baca kisah ini, betapa tidak korban yang meninggal mengalahkan jumlah pasukan kafir selama berperang di jaman Rasulullah saw. Ini justru sahabat dikedua belah pihak banyak terbunuh karena saling membunuh.

4. Munculnya faksi politik baru yaitu kaum Khawarij, membuat barisan Ali ra sedikit guncang. Mereka kecewa dengan Ali ra dan akhirnya membangun kekuatan di daerah Bashrah. dengan alasan memurnikan agama mereka mengkafirkan semuanya.

Masa pemerintahan khalifah Ali ra hanya bertahan 5 tahun lebih, beliau terbunuh pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah di Kuffah. Paska wafatnya beliau, kondisi politik yang kita telah bahas belum berubah.

Warga Kuffah langsung membaiat cucu Rasulullah saw yaitu Hassan bin Ali ra sebagai khalifah di Kuffah saat itu dan warga kota Syam atau Damaskus juga membaiat Muawiyyah bin Abu Sufyan ra sebagai khalifah.

Dan itu adalah sejarah pertama kaum muslimin memiliki dua orang khalifah bersamaan, bagaimana dengan kota Madinah dan Makkah saat itu?.

Dua kota suci memang setelah wafatnya Rasulullah saw, beberapa sahabat ada yang memilih menetap di Madinah, di Makkah dan begitu juga di Kuffah dan Syam.

Di Makkah ada sahabat Abdullah bin Zubair yang juga didorong menjadi khalifah. Disana juga tinggal bunda Aisyah ra, tapi dua kota suci relatif gejolak politiknya tidak dinamis.

Beberapa sahabat memilih pindah dari Madinah, karena mereka melihat “pembunuh” Utsman dominan bahkan sholat di Masjid Nabi.

Atas pembaiatan dua khalifah tersebut menuai konflik perbedaan dikalangan beberapa sahabat, beberapa diantaranya pro ke Muawiyyah ra dan lainnya mendukung Hassan ra.

Namun dalam penguasaan komunikasi politik, Muawiyyah ra jauh lebih handal dari Hassan ra, ini terbukti Muawwiyah jauh lebih dahulu mendatangi Madinah dan meminta para sahabat Rasulullah saw yang tinggal disana untuk membaiatnya.

Muawiyyah ra jauh lebih menguasai kekuatan militer ketimbang Hassan ra yang lebih didukung karena dorongan emosianal warga Kuffah, namun belum tentu dengan militernya yang kalah jauh dengan Muawiyyah. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s