Asyura, Syiah dan Gejolak Perpecahan dalam Sejarah Kepemimpinan Islam (3)

Selama 6 bulan kaum Muslim hidup dengan 2 orang khalifah sekaligus, Muawiyah ra dan Hassan ra, maka selama itu pula suasana politik semakin tegang dan dikuatirkan bermuara ke pertumpahan darah sesama muslimin.

Ditahun 41 H, akhirnya Hassan bin Ali ra cucu Rasulullah saw mengundurkan diri sebagai khalifah setelah beliau mengajukan syarat kepada Muawiyah, diantaranya adalah beliau memilih kembali tinggal di Madinah dan jangan ada yang mencaci ayahnya, karena dikeduabelah pihak tak terhindar saling mengejek baik lewat khutbah atau ceramah.

Kendati Hussen ra kecewa dengan keputusan saudaranya, namun Hassan ra berijtihad dengan akal sehatnya karena melihat kedepan konflik ini bisa menumpahkan darah lebih banyak lagi dari perang Siffin dan Jamal.

Dikemudian hari, orang baru memuji sikap ini dikarenakan maslahat yang diperoleh secara umum.

Inilah yang pernah dijanjikan Rasulullah saw :

โ€œSesungguhnya cucuku ini adalah seorang sayyid, mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin yang bertikai.โ€ (HR. Al Bukhari)

Dalam hadits di atas juga bisa dimaknai bahwa baik kelompok Ali ra. maupun kelompok Mu’awiyah ra. pada masa itu adalah sama-sama Muslim.

Maka tahun 41 H disebut sebagai ‘aam jamaah disebabkan tahun itu sebagai tahun bersatu dan berjamaah kaum muslimin hidup kembali dalam satu naungan khalifah.

Kendati demikian warga kuffah yang menjadi sentra pendukung Ali ra tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan tersebut, kendati Hassan dan Hussen pada akhirnya meninggalkan Kuffah dan memilih kembali tinggal di Madinah tetap saja warga kuffah masih selalu melakukan korespondensi dengan beliau.

Kaum Khawaarij tetap saja dengan agenda mereka, membagun kekuatannya dan tidak peduli dengan khalifah yang terpilih, bagi mereka tetap saja bathil dan yang lebih layak adalah mereka.

Hassan bin Ali ra hanya menjabat sekitar 6 bulan saja menjadi khalifah dan memilih mundur dari dunia politik kala itu.

Sampai disini sebelum kita lanjutkan, ada hal yang perlu kita ambil benang merah sebagai berikut :

Dari Sa’id bin Jamhan, dari Safinah ra , Rasulullah saw bersabda : ” sesungguhnya Khilafah Kenabian itu 30 tahun, dan kemudian Allah akan berikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki”.

Safinah berkata kepadaku, “Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun, dan sisanya Ali”. Aku berkata kepada Safinah, “Sesungguhnya mereka bilang kalau Ali bukanlah Khalifah”.
Safinah berkata, “Bani Zarqa’ (Bani Marwan) telah berbohong”, (HR. Ahmad).

Jadi sejak zaman khalifah Abu bakar ra sd Ali bin Abi thalib jumlah masa pemerintahan mereka adalah 30 tahun kurang 6 bulan, lalu beberapa ulama mencatat masa 6 bulan Hassan ra masuk dalam kategori khalifah Rasulullah saw.

Jika kita hitung sejak Rasulullah saw wafat dan Abu bakar ra diangkat jadi khalifah pada tahun 11 Hijriah sampai terjadinya tahun jama’ah pada 41 H, maka tepat 30 tahun jaraknya, ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, Subhanallah.

Setelah berhasil menyatukan kaum muslimin dalam satu naungan kekhilafan, maka Muawiyyah ra mulai melakukan berbagai kebijakan politiknya, tidak sedikit kebijakannya yang dikritisi oleh publik saat itu.

Diantara kebijakan yang kontroversial saat itu adalah tiba-tiba beliau mendeklarasikan kandidat khalifah setelahnya yang tidak lain adalah anak kandungnya Yazid bin Muawwiyah.

Membuat para sahabat bereaksi keras, bagaimana mungkin masih ada khalifah lantas sudah ada khalifah berikutnya yang harus di baiat.

Apalagi salah satu komitmen Muawiyyah saat itu adalah saat beliau jadi khalifah dan setelahnya beliau menyerahkan urusan kepada publik untuk menentukan khalifah setelahnya.

Maka sejak itulah fase baru dalam politik Islam khilafah dalam bentuk sistem kerajaan dimulai dan itulah awal dinasti bani Umayyah berdiri, ini sesuai dengan hadits diatas tadi, setelah nubuwwah, khilafah kemudian kerajaan.

Yazid bukanlah kategori sahabat Rasulullah saw, masih ada sahabat senior yang masih hidup kala itu, seperti Abdullah bin Umar di Madinah, Abdullah bin Zubair di Makkah yang menurut publik lebih layak dari seorang Yazid bin Muawiyyah.

Inilah yang juga menjadi potensi konflik dikemudian hari, kendati beberapa literatur mengungkap apa alasan Muawiyyah mengambil sikap seperti itu. (Oleh: Syukri Wahid)

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s