Balada Naiknya Harga BBM

Oleh: Renny Yunita Aulia. (penulis berbakat)

Jadi per hari ini BBM naik.
Aaaahhh.., how poor i am!
Aku menatap redup huruf E yg terletak pada meteran tangki motorku.
Bukan apa2 jarumnya tepat menunjuk huruf E yg berarti bensinku empty. Bagus!
Sebenarnya sudah dari semalam aku berencana antri BBM di SPBU sebelah rumahku. Menikmati detik2 terakhir harga 6500.
Tapi tak disangka2 semua berubah ketika satu makhluk menawan yg sudah lama kuincar mendadak mengirimkan pesan singkat.
Namanya?
Rahasia deh, nanti minta kenalan lagi..
Jadi malam itu otomatis aku lupa tujuan awalku mengantri BBM.
Dan seperti anak muda telat mengulum cinta, aku buru2 membaca pesannya.

‘Eh, SPBU samping rumahmu panjang tidak antriannya?’

Ya elah, yg ditanya SPBU dan aku tetap melayang2.
Bagaimana jika dia bertanya seperti ini,
‘Eh, hatimu panjang tidak antriannya?’
Iya iya aku tahu, ngarepdotcom sih.

‘Lumayan, mau antri disini? kesini saja, nanti aku temani antrinya.’ balasku.
Ini sih judulnya memang aku ingin bertemu dia.๐Ÿ˜€

Tak lama dia membalas.
‘Oke, aku jalan kesana.’
Yesss! Mendadak aku girang dan serasa berdansa salsa tanpa musik.
Thanks God, BBM naik 2ribu!
Hahaa..! Sorry to say, Indonesian people..
Untunglah harga BBM naik, jika tidak, belum tentu dia menemuiku malam ini.
Yak, selalu ada pelangi dibalik hujan badai.

Jadi sebelum makhluk menawan ini tiba, aku berdandan ria secukupnya.
Kujatuhkan pilihan pada kaos kuning cerah pemberian ibuku 2 tahun lalu.
Kata ibu, aku terlihat cantik jika menggunakan warna ini. Tuhan, semoga malam ini secerah kaosku.

Aku menunggu di teras rumah sambil sesekali menoleh ke SPBU samping rumah. Antriannya semakin panjang & tentunya semakin bagus (bagiku), sehingga makin lama dia bersamaku.
Aku terkikik sendiri.
Lalu tibalah dia, si makhluk menawan. Wajahnya tampak lelah, seperti baru melewati hari yg padat. Namun tatapannya masih mampu memukauku.
Andai pikiranku kala itu tak jernih, bisa jadi persediaan tunggal kata “I Love U” di hatiku terlontar malam itu.

“Bagaimana siap menemani aku antri?” ujarnya
Haaa… rasanya ingin sekali loh menjawab, seumur hidup juga aku mau..
Ya lupakan dulu jawaban itu.

“Yuk, biar tidak kemalaman juga.” kataku
Jadi kami menuju SPBU itu dan antriannya sudah hampir mencapai 15 meter. Lumayanlah.

“Darimana? Kamu terlihat lelah.” tanyaku
“Menemui Diana.”
Jegeeerrr…, serasa ada yang ditikam perlahan tepat di jantung. Sakitnya tuh disini, saudara2..

“Menemui Diana membuatmu lelah?” tanyaku
Hormon kepo ku meninggi seketika.

Dia tertawa kecil sembari menggiring motornya maju. Antrian tinggal 12 meter.
“Diana & BBM itu sama..”
Aku tidak paham.

“Anu, maksudnya bagaimana?”

“Hukum ekonomi berlaku dikeduanya. Kau paham mengapa banyak orang selalu meluncur ke jalan, protes dengan kenaikan harga BBM?”

Aku ingin menjawab, namun dia buru2 melanjutkan teorinya, “Prinsipnya sama. Pada dasarnya manusia itu ingin mendapatkan hasil semaksimal mungkin dengan pengorbanan secukupnya. Ketika BBM naik, kurva permintaan tak akan turun drastis. Dia tetap dibutuhkan. Kurva penawaran juga tak akan serta merta membentuk gelombang pasang karena dia terbatas. Jadi, Diana itu bisa dikatakan sedang naik harga, dan aku masih membutuhkan dia, sementara dia terbatas, dia satu2nya.”

“Lalu, apa rencanamu? Menambah pengorbanan agar tercapai hasil maksimal? Prinsip dasar ekonomi juga bukan?”

Dia menggeleng seperti kehilangan semua yg kupandang sempurna.
“Kau lupa. Diana itu seperti BBM. Bukankah kau yg bilang?” aku menaikkan nadaku.

Dia mengatupkan bibirku erat2, sedikit mengerutkan dahi, lalu menggiring kembali motornya kedepan. Antrian tinggal 5 meter.
Kali ini giliranku mengemukakan teori, “Senyawa kehidupan paling esensial seperti minyak juga tersedia substitusinya. Energi alternatif, lebih murah, lebih sehat, dan tentunya dengan rantai karbon minimal. Publik menyebutnya senyawa masa depan & ini lebih menjanjikan. Gas, biogas, energi surya, kinetis, magnetik, second oil, bahkan air. Rekayasa yg menakjubkan bukan? Mereka semua kini bisa menjadi semacam senyawa kehidupan.”

Makhluk menawan itu terdiam lagi. Dan aku masih berceloteh panjang.
“Diana senyawa hidupmu bukan? Substitute, please! You can’t see your kinetics energy or another alternative energy and also u still keep your old energy. It doesn’t work properly. Life need a commitment.”

Makhluk menawan ini tersenyum ringan terhadapku. Dia meletakkan tangan hangatnya tepat di atas kepalaku, sedikit menggosokkan rambutku.

“Ya, kau benar. Dan harus ada yg mengingatkan si energi kinetik bukan bahwa ia pun ternyata senyawa kehidupan?”

“Itu pekerjaan ilmuwan..” kataku

Aku merasa wajahku ditimpa rasa hangat yg menyenangkan, mungkin wajahku sedikit memerah. Mudah2an dia tidak menyadarinya. Detik inilah aku merasa SPBU yg ramai hanya milik kami berdua, sementara yg lain tim hore. Tak pelak lagi, aku jatuh cinta, saudara2..

Antrian tinggal 2 motor lagi sebelum akhirnya bertambah 3 motor. Ibu2 berbadan bongsor menyelak antrian kami. Belum sempat aku mengomel, dia memegang pundakku.
“Mungkin ia buru2. Anggap saja sedekah.”
Baiklah, aku menyerah sebelum pundakku meleleh kelamaan dia sentuh.

Kami menyisakan antrian tipis ini tanpa kata. Aku asyik sendiri dalam kerianganku berada di sampingnya, sementara dia? Berpikir tentang Diana, mungkin.

Tepat pukul 23.00 ia mendapatkan motornya full tank, mengantarku kembali ke rumah & berterima kasih karena aku menjadi teman antrinya.

Masih jelas aku mengingat, kalimat terakhirnya,
“Kinetics energy masih belum sadar bukan?”

Dan dia melenggang pergi sebelum aku mau menjawab dia harus baca jurnal di google karena energi kinetik sedang dikembangkan menjadi bahan bakar.

Ya, kembali lagi ke aku yg hari ini menatap galau motorku sendiri, nyaris empty. Mestinya semalam aku antrikan bersama motor dia..
Eh?
Mendadak aku ingat sesuatu.
Tunggu sebentar..
Tapi..
Masak iya?
Melibas rasa penasaran, maka aku berlari antusias, mengambil ponselku.
Jangan-jangan…
Aku buru2 menelepon Ujang.
“Ujang!” aku setengah memekik.
“Ya ampun. Kaget! Biasa aja deh suaranya, sejak kapan jadi penyanyi soprano?”
“Motormu dimana semalam?” tanyaku.
“Dibawa gebetanmu. Baik lo dia semalam mendadak pinjam motor katanya mau diisi penuh.”
“Oh God!”
“Kenapa? Ada yg salah? Dia pulang2 juga jadi melantur sih..”
“Maksudnya Jang?”
“Dia bilang, si energi kinetik belum sadar..”

Aku sukses melongo, menikmati debaran jantung yg kian meningkat.
Jadi, kebetulan apalagi yg lebih indah selain menyadari ada maksud yg sama sedang ia usahakan terhadapku..

Aku energi kinetik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s