Istimewanya Khadimul Quran

Hari ini saya diizinkan oleh Allah berkunjung ke Ma’had Sulaiman, salah satu Ma’had terbesar yang menerapkan metode Utsmani dalam menghafal Al Quran di Turkey.

Ma’had ini memberikan beasiswa penuh kepada seluruh santrinya yang telah selesai menghafal 30 juz. Hampir dari seluruh dunia ada di ma’had ini. Mereka santri-santri dengan usia rata-rata 15-20 tahun.

Di Turkey, budaya hizmet (khidmah) kepada sesama muslim untuk beberapa komunitas kajian sangat kental. Apalagi hizmet kepada khadimul quran. Mereka meyakini dan memang seperti itulah rasulullaah saw mengajarkan bahwa para penghafal quran ini adalah keluarga Allah, dan mampu menjadi asbab turunnya rahmat dari Allah subhanahu wata’ala kepada kerabat dan alam sekitarnya.

Negeri yang diberkahi adalah negeri yang memuliakan para pelayan, penjaga dan penghafal quran. Setidaknya program itulah 10 tahun terakhir yang digalakkan oleh bangsa Turkey. Bagaimana dengan negeriku, Indonesia?

Ada kisah haru yang saya dapatkan dari whatsapp tertulis oleh Ust Yusuf Mansur, seketika saya berpamitan dengan para hufadz/hafidz di Ma’had Sulaiman.

Sepasang ayah ibu menaiki panggung wisuda tahfidz Ma’had Ustmani, sudah dalam keadaan menangis.

Di panggung sudah berdiri ananda yang akan di wisuda sebagai hafidzah 30 juz. Di antara yang diwisuda, ada Ibu Ismah. Sekitar 4-5 tahun yang lalu mulai menghafal Alquran. Saat beliau bertemu dengan saya saat itu baru mulai menghafal Alquran. Begitu kata gurunya, KH Effendi Anwar, pimpinan Ma’had Tahfidz Ustmani.

Ibu Ismah ini, kemarin ikut diwisuda sebagai Hafidzah. Sudah menyelesaikan hafalan 16 juz. Sudah lulus tes tajwidnya juga. Kalau sekadar hafal, mungkin sudah langsung selesai 30 juz. Tapi ibu ini sekalian ngebenerin bacaan dan pemahamannya.

Bu Ismah lahir pada 1952 atau 62 tahun lalu. “Saya masih semangat nuntasin hafalan sampe30 juz. Nggak apa-apa saat selesai, umur saya barangkali nanti 70 tahun,” kata Bu Ismah. Bagaimana dengan kita?

Sehari-harinya untuk setoran hafalan dan membenarkan bacaannya, Bu Ismah, naik angkot sebanyak empat kali bolak-balik dari Cipayung ke Condet.

Di Ma’had Utsmani, Condet, wisuda 30 juz itu berat. Sebab selain benar hafalannya, juga kudu(harus) benar tajwid (bacaannya), dan sedikit memahami.

Selain Bu Ismah, Ananda Afifa juga berhasil melewati itu. Saat Ananda berdiri di panggung, bersama ayah dan ibunya yang sejak awal sudah menangis duluan sebelum naik panggung.

KH Effendi Anwar mengizinkan saya yang memberikan Ijazah Tahfidz. Gurunya beliau yang mengalungkan bunga. Tibalah saat yang mengharukan.

Kawan-kawan Ma’had Utsmani membuat replika mahkota. Ananda Afifa mengambil mahkota tersebut dan secara santun ia memakaikan ke atas kepala ayahnya.

Tangis ayah-ibu ini pecah. Ayah-ibu ini memeluk Afifa. Seperti ini nanti kejadian di Surga. Allah sendiri yang mewisuda dan memakaikan mahkota, kepada ayah-ibu yang memiliki anak seorang penghafal Alquran. Disaksikan bukan oleh manusia lagi, tapi seluruh malaikat-Nya.
Adapun anak-anak penghafal  Alquran, yang yatim, piatu, atau malah yatim piatu, alias tak berayah tak beribu, mereka pastinya lebih rindu lagi memakaikan mahkota penghafal Alquran untuk ayah ibu yang tak lagi berkumpul bersama mereka.

Sebagian anak-anak calon penghafal Alquran yang yatim, piatu, dan yang sudah yatim piatu, tidak seberuntung Ananda Afifa yang diwisuda, tapi masih bisa disaksikan ayah ibunya langsung, sebab masih hidup.

Sebagian dari anak-anak ini bahkan juga tidak mengenal dan tidak mengetahui seperti apa rupa ayah-ibu mereka. Tapi mereka tahu, Allah akan mengumpulkannya. Dan sekalian berkumpul di surga Allah. Langsung dibawakan mahkota para penghafal Alquran.

Semoga kita dipilih Allah juga, selain sama-sama berjuang untuk ikutan hafal Alquran, memiliki anak-anak keturunan dan keluarga penghafal Alquran, juga semoga bisa menjadi jalan mewujudkan anak-anak yatim, piatu, dan yang yatim piatu, menyiapkan, membawa, dan mempersembahkan mahkota penghafal Alquran, untuk ayah ibu mereka.

Sekarang, saatnya kita memulai. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan saja, satu hari satu ayat, lalu istiqamah melaksanakannya. Insya Allah, 10 tahun akan hafal plus dengan maknanya. Dan Insya Allah, penghafal Alquuran akan mampu member syafaat 10 anggota keluarganya.

Masya Allah, begitulah apabila Allah sudah berkehendak, tiada yang mustahil. Melihat negeri kita yang tak henti-hentinya mendapatkan cobaan, mari sebisa mungkin kita membantu meringankan. Selain dengan sedekah, mari kita budayakan quran di dalam diri kita dan keluarga. Inilah cara paling ampuh mendatangkan rahmat Allah.

Iya, kita mungkin berfikiran untuk menolong Indonesia dengan menjadi ahli politik, ekonomi, teknologi, dan lain-lain namun jika kita masih mengacuhkan Al Quran, tidak mau menjadi ahli Quran, bahkan alquran kita tinggalkan maka akan percuma.

Khalifah Allah seharusnya adalah orang yang paling terdepan dan semangat ingin menjadi bagian dari keluarga Allah. Hafidzahullaah. Setiap hafidz akan memberikan syafaat dan keberkahan, kepada ahlinya (keluarganya) sebanyak 70 orang, kepada lingkungannya sehingga terhindar dari musibah yang mencelakakan.

Dalam sebuah hadith diterangkan apabila Allah sudah mencintai seorang hamba, Allah akan menjadi matanya saat hamba tersebut melihat, menjadi telinganya saat mendengar, menjadi kakinya saat ia melangkah.

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49)

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim)

Dari Abdillah bin Amr bin ’Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (QS. al-Qamar:17)

Wallahu’alam bishawab.

#latepost
Istanbul, 31 Desember 2014
Mekah, 03 Januari 2015
@agastyaharjuna

3 thoughts on “Istimewanya Khadimul Quran”

  1. Ya Allah hadiah yg paling dinanti2 kedua org tua yaa..
    Semoga Allah SWT beri sy kemampuan membaca dan menghafal Al Quran serta menguasai ilmu yg terkandung didalamnya.. Aamiiin ya Allah

    Bismillaah :’)

    Syukran tulisanny mas agas

  2. Smg Allah SWT memberi kesempatan kita untuk Menghafal dan Mengamalkan isi Alqur.an dgn kaffah, sblm ajal menjemput. Aamiin.
    Allahummarhamnaa bil Qur’an ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s