Sulitnya Membenarkan Kebenaran (Kritik Halus untuk Pelata Proyek Densus)

Kritik yg halus nan tajam kepada kelompok yg membela Densus 88:

Ia, Terberani dari Kokohnya Gunung

Tidak ada yang meragukan kecintaan Khalifah al-Ma’mun Abu Ja’far bin Harun ar-Rasyid pada ilmu pengetahuan. Di eranya berkuasalah terlahir Bayt al-Hikmah yang tersohor itu. Sebuah institusi prestisius yang disebut oleh Firas Alkhateeb (peneliti sejarah Islam di Universal School Illinois)  tempat universitas, perpustakaan, badan penerjemahan, dan lab penelitian ada dalam satu kampus.

Kabarnya, tulis Alkhateeb dalam Lost Islamic History (2014), jika seorang cendekiawan menerjemahkan buku apa pun dari bahasa asli ke bahasa Arab, ia akan mendapat emas seberat buku itu. Cendekiawan terkenal, Muslim dan non-Muslim, dari seluruh dunia berkumpul di Baghdad sebagai bagian dari proyek al-Ma’mun.

Kecintaan sang Khalifah pada pengetahuan Yunani mendorongnya sebagai pemimpin yang akrab dengan filsafat. Sudah tentu, filsafat identik dan lekat dengan penggunaan rasio. Karya Aristoteles seperti Categories, Hermeneutica dan Rhetorica mampu bertahan dan dikaji oleh generasi kita sekarang, tidak terlepas dari andil al-Ma’mun dengan proyek penerjemahan tadi.

Dengan keluasan alam berpikir tersebut sang Khalifah diandaikan mudah menenggang ragam pendapat di kalangan cendekiawan ataupun ulama. Sayangnya, yang ada malah paradoks bahkan tragedi keilmuan.

DEKAT DENGAN RASIO dan filsafat bersama para alim Mu’tazilah yang ditetapkan sebagai rujukan negara, al-Ma’mun justru jauh dari kata bertoleransi terhadap kalangan ulama yang tidak sepemikiran. Terutama ketika kebijakan tabbani Khalifah dalam soal status Al-Quran; kalamullah nan qadim ataukah makhluk? Tema ini malah mendorong al-Ma’mun seperti diktator yang jauh dari kesan mengayomi dunia pengetahuan. Gambaran Bayt al-Hikmah untuk semua mazhab, sepertinya tidak berlaku ketika konteksnya pemikiran kedudukan Quran. Al-Ma’mun menetapkan keyakinan tentang kemakhlukan Al-Quran sebagai anutan seluruh rakyat negerinya pula. Tidak boleh ada pendapat berbeda. Agar seragam, al-Ma’mun membuat hukuman berat (ta’zir) dan vonis penjara. Di sinilah sikap ironi sang Khalifah yang dalam soal filsafat dan pengetahuan sains begitu menggebu lagi terbuka.

Kebijakan, dan apalagi keyakinan, al-Ma’mun sebenarnya ditentang banyak ulama di Baghdad. Namun dera yang berat membuat banyak ulama tidak butuh waktu lama memilih. Dalam terpaksa dan berpura-pura, mayoritas ulama memilih mengikuti qaul al-Ma’mun. Menyatakan bahwa kalamullah adalah makhluk meski isi hati menjerit keras. Dari sekira 3500 ulama Baghdad masa itu, hanya tinggal 4 orang yang masih bertahan dengan keyakinan lama sesuai manhaj para sahabat Rasulullah—bahwa Al-Quran itu qadim, bukan makhluk. Empat ulama itu Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Nuh, Ubaidillah al-Qawariri, dan Sujaddah bin Abdullah. Empat ulama itu harus menerima konsekuensi akibat sikap berbeda dengan penguasa.

Tapi penjara berikut hukuman penyertanya suatu waktu membuat dua nama tadi berubah. Bukan karena meyakini kebenaran keyakinan al-Ma’mun. Siksa di penjara membuat Ubaidillah al-Qawariri dan Sujaddan bin Abdullah memilih berkompromi. Tapi bukan serta-merta tunduk sebagaimana ribuan ulama di luar penjara. Besarnya siksaan algojo al-Ma’mun di satu sisi, dan keengganan untuk mengubah suara hati di sisi berbeda, menjadikan taktik bermain kata-kata ditempuh. Semata untuk selamatkan nyawa.

“Tadi malam sangatlah sulit bagiku,” ujar al-Qawariri seraya menunjuk ke penjara. “Aku mengatakan apa yang Amirul Mukminin katakan dan semoga Allah mengampuniku.” Alhasil, selamatlah al-Qawariri dari siksaan.

Cukup dengan diplomasi kata-kata “Aku mengatakan apa yang Amirul Mukminin katakan”, yakni Al-Quran itu makhluk. Apakah “mengatakan” secara otomatis “mengikuti”? Tidak mesti demikian. Ini hanya cara bersilat lidah menghindari bahaya besar di depan mata. Namun sadar akan pilihan sulitnya yang bisa jadi ditafsirkan salah oleh umat kelak, al-Qawariri pun tidak lupa menyebutkan “semoga Allah mengampuniku”. Yakni dari cara berdiplomasi demi selamat dari vonis rezim al-Ma’mun.

Ketika gilirannya tiba, Sujaddah bin Abdullah mengeluhkan punggungnya yang sakit akibat siksaan. Ia pun mengikuti cara sahabatnya barusan. Di kemudian hari tersingkap alasan yang terpaksa ditempuhnya. “Saya merasa Imam Qawariri mengambil kebolehan yang berasal dari as-Sunnah, yakni yang dilakukan oleh Ammar bin Yasir. Dan Rasulullah menerimanya. Tidak ada salahnya bagiku menerima keringanan dari Rasulullah ini.”

Tinggal dua nama ulama yang masih memegang pendapatnya meski sudah disiksa. Dua nama yang malah membuat al-Ma’mun kian murka dan beringas. Lahirlah perintah untuk membunuh siapa pun yang menolak pendapat bahwa Al-Quran itu makhluk. Naas bagi Khalifah, sebelum melihat dua ulama itu tunduk di hadapannya, ajal lebih dulu menjemput.

Kebijakan memusuhi Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh masih berlanjut manakala al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid naik takhta. Al-Mu’tashim juga amat mencintai ilmu pengetahuan. Di masanya berkuasa, para filosof dihargai sedemikian rupa. Sampai seorang filosof yang namanya harum hingga kini, al-Kindi, mengucapkan dedikasi pada Khalifah di salah satu karyanya, al-Falsafah al-Ula. Lain hal dengan Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh, terus dianggap musuh penting negara. Sebelum dihadapkan dalam eksekusi, Muhammad bin Nuh dipanggil Allah saat dalam perjalanan ke istana Khalifah. Tinggal seorang Ahmad bin Hanbal yang jadi lawan mazhab Khalifah.

AL-MU’TASHIM AWALNYA MEMILIH JALAN lunak. Diutuslah pamanda Ahmad bin Hanbal yang bernama Ishaq. Tujuannya jelas, yakni membujuk sang keponakan agar mengikuti putusan negara.

“Mengapa engkau memilih jalan yang sulit? Mengapa engkau tidak memakai jalan taqiyyah?” tanya sang paman.

Sekadar menyebut Al-Quran itu makhluk dengan niat bahwa yang dimaksud tak lain wujud tercetak di lembaran kertas, sesungguhnya tidaklah salah. Ini bisa jadi celah untuk menyelamatkan diri dari hukuman. Ahmad bergeming. Dalam Ahlus-Sunnah wal Jamaah: Their Belief, Attributes, and Qualities (terjemah Indonesia oleh Ummu Fauzi), Omar Bakri Muhammad, menuliskan jawaban Imam Ahmad berikut ini:

“Wahai Pamanku, jika seorang ulama mengatakan dengan lisannya apa yang dibenci hatinya dan orang-orang awam tidak mengetahuinya bagaimana kebenaran akan menang? Bagaimana orang-orang di masa depan kelak belajar?” tanya balik Ahmad, membela putusannya.

“Jika aku seorang Rasul,” tambah Ahmad, “aku akan tahu bahwa Allah akan mengirim seorang rasul lain untuk meluruskan umat. Tetapi aku bukanlah seorang rasul, dan tidak ada rasul setelah Rasulullah Saw. Aku berada di masa ketika para ulama berpaling, aku lebih suka menyuruh mereka membunuhku daripada mereka menyuruhku mengatakan kebohongan!”

Upaya al-Mu’tashim untuk “menyadarkan” Ahmad pun berganti. Dihadirkannya para ulama yang menyokong pendapatnya untuk berdebat dengan Ahmad bin Hanbal. Ulama penguasa, Ibnu Abi Dawud tampil ke depan. Sang ulama ini bukan Abu Dawud, nama periwayat hadits yang menjadi rujukan umat hingga kini. Amat menarik akhlak yang ditampilkan ulama al-Mu’tashim ini saat Ahmad masuk ke ruangan.

“Telah datang musuh Allah orang yang tersesat. Musuh negara, musuh Khalifah, ini waktu bagimu untuk bertobat. Kalau tidak, kepalamu akan berpisah dari lehermu!”

Sungguh tajam, kasar, dan mengintimidasi kata-kata ulama penguasa itu. Sungguh sayang, tajamnya ancaman tidak disertai dengan antisipasi bagaimana lawan debatnya bukanlah sosok sembarangan. Hujah-hujah Ibnu Abi Dawud yang cerdas, logis, dan kokoh ternyata berhasil dipatahkan Ahmad.

Al-Mu’tashim masih belum mau kehilangan muka. Kali ini cara halus ditempuh lagi. Dihadirkan Aburrahman bin Ishaq, sahabat dari gurunda Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi’i.

“Imam Syafi’i akan menyukaimu dan menghormatimu sebagai orang terpelajar di Baghdad. Jangan sampai kamu dipanggil orang-orang sebagai seorang yang mati murtad,” nasihat Ibnu Ishaq, seperti dicatat Omar Bakri dalam karyanya di atas.

Ahmad bin Hanbal tentulah menghormati gurunya, apalagi dirinya sering dipandang sebagai murid pilihan juga kesayangan sang Imam. Tapi Ahmad yang menimba langsung ilmu dari Imam Syafi’i tentu mampu membedakan bagaimana sikap guru tercinta atas pilihannya disandingkan dengan kata-kata orang lain yang menyandarkan kepada sang guru. Ahmad tidak beringsut dari sikapnya, meski untuk itu ia tinggal satu-satunya ulama di Baghdad yang berbeda dengan suara penguasa.

Mengetahui ketetapan hati lawannya itu, al-Mu’tashim tanpa ragu memvonis murtad dan memerintahkan pertobatan Ahmad bin Hanbal. Kelak dalam penjara selama 28 bulan, Ahmad bin Hanbal melahirkan banyak karya emasnya, termasuk yang menyejarah dan abadi: al-Musnad. Dari dalam penjara ini umat mereguk nikmatnya ilmu yang dituliskan dalam karya-karya Ahmad bin Hanbal. Hadits teriwayat hingga jadi pedoman umat menelusuri perjalanan peradaban. Dari kerasnya cambukan algojo, barakah ilmu yang ditinggalkan  pewaris sejati para nabi masih bisa dipetiki.

“BERAPA BANYAK UANG YANG dibutuhkan Muhammadiyah untuk program deradikalisasi ini?” Sekonyong-konyong kata-kata ini keluar dari Saud Usman Nasution, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI.

Kata-kata Saud di hadapan Ketua Umum Muhammadiyah (saat itu), Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, mirip sebuah tantangan ketimbang pertanyaan tulus. Tanyanya itu semacam pamungkas setelah berceramah selama dua jam di hadapan Din Syamsuddin dan beberapa pengurus Muhammadiyah.

Saud menggebu mengajak Muhammadiyah dari ancaman terorisme berkedok agama (Islam), yang bahkan sebagian di antaranya sudah menyasar kalangan remaja ormas yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan itu. Untuk meyakinkan Din, Saud yang selesai menjabat pada Maret 2016, menyebutkan respons ormas-ormas Islam lainnya.

“Semua ormas Islam sudah menerima program deradikalisasi. Termasuk ormas sebelah. Jadi, tinggal Muhammadiyah,” bujuk Saud, yang redaksi ini saya peroleh dari Mustafa Nahrawardaya, saksi langsung pertemuan itu, ketika berbicara soal terorisme di Masjid Jogokariyan pada 3 April 2016.

Din yang sejak diceramahi sudah tampak tidak kerasan duduk, ingin segera menjawab. Begitu Saud selesai presentasi, ia pun berkata, “Sudah selesai, Pak? Mohon maaf, Muhammadiyah tidak tertarik ikut program deradikalisasi. Silakan Anda pulang.”

Butuh beberapa menit semua yang hadir, termasuk Saud dan tim BNPT, mencerna kata-kata tandas, lugas, tapi tidak dinyana bakal keluar seperti itu. Suasana pertemuan di gedung Muhammadiyah itu jadi senyap beberapa saat.

“Muhammadiyah berdiri sejak 1912, jauh sebelum Republik ini berdiri, apalagi BNPT. Kami sudah berpengalaman menangani soal radikalisme,” papar Din.

Banyak pihak yang menilai kekritisan Muhammadiyah belakangan ini dalam soal penanganan terorisme adalah gara-gara tidak mendapatkan jatah proyek bernilai fantastis. Ketika ormas Islam berpengaruh tanpa malu memperlihatkan kemesraan bersama BNPT dan Densus 88 Polri, Muhammadiyah menempuh suara beda. Orang pun menilai ini pasti karena tidak dapat jatah. Salah besar ternyata. Jauh dari fakta sebenarnya bahwa Muhammadiyah bukan tidak diberi proyek, melainkan menolak proyek yang banyak menghadirkan teror kemanusiaan bagi sesama anak bangsa sendiri.

Maka, entah kebetulan atau tidak, selepas penolakan itu, beberapa kader atau simpatisan yang dekat dengan aktivitas Muhammadiyah diciduk aparat. Sangkaannya mengerikan: teroris kelompok ini dan itu. Terbaru adalah Siyono, yang sebetulnya bukan anggota Muhammadiyah tapi ada kesamaan agenda dakwah di tempat tinggalnya yang dikepung kalangan non-Muslim. Kematian mencurigakan sang imam masjid di perdusunan Klaten itu diadvokasi Muhammadiyah setelah mendapat mandat keluarga Siyono.

Saya teringat di desa sebelah rumah saya, di Seyegan, Sleman, pada 9 Agustus 2013 ketika warga setempat bernama Bayu diciduk bersama iparnya, Saiful, oleh Densus 88. Tuduhan kepada keduanya adalah menyiapkan teror bom di kedutaan besar Myanmar di Jakarta. Bayu disebut-sebut banyak berkegiatan di Muhammadiyah di tempatnya. Tidak berbeda dengan sang ipar. Belakangan ketika Muhammadiyah turun tangan mengadvokasi, kasus Bayu dianggap tuntas. Hanya berdasarkan bukti flashdisk tertinggal milik seorang tamu, keduanya jadi bulan-bulanan aparat dan media.

GENDERANG PERANG MELAWAN TERORISME sudah ditabuh penuh semangat tinggi. Kalangan islamis jadi sasaran, sayangnya dengan standar operasi yang jauh dari kata manusiawi. Meninggalnya tidak kurang 121 orang Islam (termasuk Siyono) dalam operasi kontra-terorisme sering menyisakan tragedi dan keganjilan berlogika. Ini betul-betul menumpas dan mencegah teroris ataukah memelihara proyek terorisme?

Sejak melawan terorisme jadi isu global, Polri seperti bermain dengan tumpukan batangan emas. Ada jutaan potensi yang tidak ingin didiamkan. Digandeng Amerika Serikat dan Australia jadi berkah tersendiri. Belum lagi alokasi dari dalam negeri, baik dari dana swasta yang bersimpati maupun uang rakyat. Jadilah negara lewat BNPT dan Densus 88 seperti kumandang al-Ma’mun dan al-Mu’tashim saat ingin pendapat diri dan kelompoknya jadi pegangan semua orang. Mengampanyekan ada kalangan teroris dengan ciri-ciri begini dan begitu kepada khalayak.

Sejatinya para ulama akan mudah membaca kebijakan dalam permainan dua alat negara itu. Semudah bagaimana para ulama era al-Ma’mun dan al-Mu’tashim menilai pandangan Al-Quran itu makhluk. Sangat lemah, hanya bersandarkan pada spekulasi filsafat satu pihak belaka. Dan begitulah ketika narasi melawan teroris dibangun. Seolah jadi ancaman mahadahsyat dengan pintalan fakta-fakta ala kedua lembaga penerima dana asing. Tidak peduli kenyataan yang ada hanya manipulasi, rekayasa, atau hiperalitas. Agenda melawan terorisme sebenarnya bisa dengan mudah dinilai apakah bagian dari—meminjam istilah kunci Jean Baudrillard—simulasi dan simulakra ataukah bukan.

Maka, inilah pentingnya teladan keberanian Ahmad bin Hanbal untuk kita sekarang. Berbeda bukan untuk sekadar berdiplomasi kata agar selamatkan nyawa. Sebab bila berpura-pura, seperti saran beberapa pihak, siapakah yang akan tahu isi hatinya? Sebab umat, kapan pun itu, hanya bakal lihat di babak sejarah bahwa Ahmad melisankan pengakuan Quran sebagai makhluk, meski isi hatinya menolak keras. Umat hanya melihat yang tampak (lisan); bukan yang abstrak, niat di dada.

Bagaimana arti penting teladan Ahmad? Membeda dalam kata lugas bukanlah pilihan normal ketika situasi kekuasaan begitu haus dengan penyeragaman. Tidak ada kompromi untuk menghukum meski dalam keseharian tabiat penguasa dikenal cinta pengetahuan. Tipikal al-Ma’mun dan al-Mu’tashim jadi pelajaran berharga. Bahkan warisan sains yang dikenang abadi hingga kini harus dinodai dengan ambisi dalam ranah teologi tadi. Andaikan saja ada kearifan untuk menenggang beda. Bila sekelas al-Ma’mun dan al-Mu’tashim yang dikelilingi filosof dan ulama saja seperti itu, apatah lagi ketika alat negara berambisi menegakkan agenda latah negara lain. Karena itu, dalam konteks deradikalisasi, Muhammadiyah justru menempuh langkah “tidak waras”; semata membela keyakinan dan kemantapan hati.

Yang kemudian jadi tanda tanya adalah tentang di mana letak kita. Cara kita menyikapi saat negara memaksa sebuah agenda dengan sekian dera dan stigma. Imam Ahmad dan Muhammadiyah sudah berikan teladan. Mihnah di era al-Ma’mun dan al-Mu’tashim mengharuskan semua satu suara berkata: Al-Quran itu makhluk, tak ubahnya kita jua. Kini, semua orang harus mengamini maunya BNPT dan Densus 88: ada teroris dengan ciri-ciri dan agenda begini dan begitu.

Menariknya, tiap mihnah ternyata hadirkan beragam respons. Lebih banyak memilih bungkam, mengikuti kemauan penguasa, atau bahkan beranjak lebih jauh lagi sebagai juru bicara. Bukan menenggang toleransi terhadap saudara seagama yang menempuh jalur beda, melainkan justru seturut dalam barisan menghina dan menganggap saudaranya di golongan sesat nista. Ilmu-ilmu yang digadang jadi pegangan di luar kepala, teruji ketika ada ancaman penguasa semacam al-Ma’mun dan al-Mu’tashim. Dan hanya amat sedikit bisa menatap mata penguasa lewat suara berbeda. Kayaknya kajian kitab, gigihnya menyebut diri ahlus-sunnah ataupun pengikut manhaj salaf, kehilangan makna begitu para alim tersebut berjamaah jadi peserta proyek deradikalisasi. Tidak ada risih menjadi staf ahli dalam kapasitas penafsir ayat dan hadits yang sejalan agenda penguasa.

Bersyukur kita, selepas Ahmad bin Hanbal yang tidak ingin kata di hati lebih mengemuka dibandingkan lisannya di hadapan timbangan umat nan awam, masih ada orang-orang berhimpun dalam persyarikatan Muhammadiyah. Meski untuk itu ada cerca, prasangka, dan tentu saja serangan balik di balik meja. Tidak, tidak mesti dari langsung dari BNPT ataupun Densus 88, kadang malah digegapgempita oleh mereka para ulama dan anak didiknya yang memilih membela alat penguasa.

Ada yang ringan kaki membela agenda-agenda indah tertulis redaktur media, dari toleransi sampai hak asasi. Teriak siap pasang badan demi jihad seturut tafsiran junjungan agung, manakala ada perayaan agama lain. Pas panggilan Qurani hadir, suara militan itu entah ke mana berada. Saat dibutuhkan pasang badan mengkritisi agenda kekuasaan yang zalim, justru bungkam. Kadang tidak saja bungkam, malah mencela saudaranya yang memilih suara berbeda untuk mengkritisi penguasa.

“Kalau sebuah ormas mengadvokasi satu orang Siyono yang kita juga belum tahu pasti sepak terjangnya. Dan asatidz ahlus-sunnah mengadvokasi agama Islam dan seluruh Muslim yang berpenampilan dan menegakkan sunnah dari stempel buruk ulah kaum khawarij yang menodai indahnya Islam dan sunnah dengan tabligh akbar bersama pemerintah,” cetus seorang penimba ilmu di barisan ulama penyetia penguasa.

Sungguh, kata-kata ini tidak tebersit dipertontonkan oleh sosok tegar semacam Ahmad bin Hanbal. Mendaku penerus garis dakwah salaf yang dirintis Ahmad bin Hanbal tapi saat yang sama membelakanginya dengan menjadi pembela alat kekuasaan, sungguh hanya Allah yang tahu ada apa gerangan di dada para ulama tersebut.

Ternyata kata-kata ala Ibnu Abu Dawud serasa hadir di masa kita berada. “Teroris negara” tersemat pada Ahmad bin Hanbal, ironisnya disematkan pendaku qaul-nya di era kita kepada orang-orang yang memilih enggan mengikuti jalan stigma ala penguasa. Hanya karena tidak mau mengakui tafsir radikalisme dan terorisme penguasa, ada ulama yang angkat bicara meremehkan saudaranya di luar sana.

Jabatan selaku panasihat BNPT dan lembaga kajian seagenda sepertinya belum cukup untuk sekadar diam. Atau berpura-pura lantaran terpaksa demi uzur beratnya stigma kala menolak tawaran penguasa. Sayang sungguh sayang, mereka sadar sesadar-sadarnya untuk menerapkan cetak biru pemikiran yang ternyata sejalan dengan penguasa. Walau tanpa sadar melupakan ingatan pada sang imam anutan di puncak keemasan Abbasyiah: Ahmad bin Hanbal.

Tiba-tiba ingatan saya tertuju pada sajak “Laila Seribu Purnama” karya Sutardji Calzoum Bachri (dimuat dalam Ulumul Qur`an 02/XXI/2012). Salah satu baitnya begitu membahana di kepala:

Kami yang dianggap
lebih berani dari gunung
Dan disegani malaikat
Mana mungkin kami tak
menghargai diri sendiri
Maka hanya pada langitlah
kami layak mencari
dan pantas mendapat

@Yusuf Maulana (penulis buku & editor http://www.islampos.com)

One thought on “Sulitnya Membenarkan Kebenaran (Kritik Halus untuk Pelata Proyek Densus)”

  1. Someday, we’ll run into each other again, I know it.
    Maybe I’ll be older and smarter and just plain better. If that happens,
    that’s when I’ll deserve you. But now, at this moment, you can’t hook
    your boat to mine, because I’m liable to sink us both. KrinSports

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s