Category Archives: Catatan ku

Saya dan Orang Tercinta

<Data ini ditulis oleh mbak saya no.1, pada tahun 2006>

Dianika Wisnu Wardhani, nama lengkap kakak pertama saya. Tetapi lebih sering mbakQ menulisnya Dianika W Wardhani. Perempuan biasa-biasa saja, alumnus Fakultas Sastra Universitas Jember. Lahir di Lamongan, Jawa Timur. Bercita-cita ingin jadi penulis dan pemilik media. Berharap untuk bisa menjadi matahari lain, dengan cara berbagi cerita. Matahari lain bagi diri sendiri dan orang lain. Menjadi penyemangat diri sendiri. Dan semoga bisa menjadi hikmah bagi orang lain.

Dyan Ratih Kamaladevi. Saya sih memanggilnya mbak ipi. Bapak memanggilnya Pipi. Bue memanggilnya Pipok. mbak din memanggilnya de’epik. Si tengah ini sejak kecil pengen jadi dokter. Ini anak rame banget, beda ma adiknya. Kalau cerita-cerita pasti heboh karena seringkali diperagakan. Tetapi ia selalu merasa kalau ia bukan sosok supel. Pertanyaan yang pernah diajukan kepada mbak din, sewaktu ngobrol ringan di beranda tentang tips2 berkenalan dengan orang.. ”Ngono iku ngomong opo se Mbak nek karo konco?” terjemahan bebasnya begini, emang kalo kenalan dan ngobrol ama orang lain itu apa sih yang diomongin? Nyatanya kini penggila hal-hal berbau Jepang dan komik ini punya teman banyak. Ia sekarang udah diangkat jadi PNS sebagai dokter di salah satu desa di Nganjuk.
Continue reading Saya dan Orang Tercinta

Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Tadabbur Al-Ma`idah 48 – 52

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الكريم الرحمن علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان.
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله.
اللهم فصل وسلِّم وبارك على نبينا وحبيبنا وشفيعنا وقائدنا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم.
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأتنم مسلمون.
Sidang Jum’ah rahimakumullah
Keberhasilan kita dalam forum jum’atan ini diukur dari tingkat ketakwaan kita setelah ini. Kalau tambah ketaatan kita kepada Allah, maka berhasillah shalat Jumat kita dan insyaallah satu Jumat kita akan berbahagia. Tapi jika prosentasi ketakwaan kita tidak bertambah kepada Allah subhanahu wataala dalam keseharian kita, maka sengsaralah kita. Sengsara tanpa panduan ayat-ayat Allah subhanahu wataala.
Khutbah Jumat pada hari ini adalah memahami kembali tentang Surah Al-Ma`idah, khususnya Al-Ma`idah ayat 51 yang tadinya menjadi perbincangan yang hangat, dan bahkan bisa mengarah kepada perubahan arah kalau kita tidak sungguh-sungguh memahami ayat dan peristiwa ini secara baik. Nanti setelah ini para jamaah shalat Jumat silakan membaca dari Surah Al-Ma`idah ayat 48 yang akan saya bacakan secara jelas- sampai ayat 52 minimal.  Continue reading Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Sulitnya Membenarkan Kebenaran (Kritik Halus untuk Pelata Proyek Densus)

Kritik yg halus nan tajam kepada kelompok yg membela Densus 88:

Ia, Terberani dari Kokohnya Gunung

Tidak ada yang meragukan kecintaan Khalifah al-Ma’mun Abu Ja’far bin Harun ar-Rasyid pada ilmu pengetahuan. Di eranya berkuasalah terlahir Bayt al-Hikmah yang tersohor itu. Sebuah institusi prestisius yang disebut oleh Firas Alkhateeb (peneliti sejarah Islam di Universal School Illinois)  tempat universitas, perpustakaan, badan penerjemahan, dan lab penelitian ada dalam satu kampus.

Kabarnya, tulis Alkhateeb dalam Lost Islamic History (2014), jika seorang cendekiawan menerjemahkan buku apa pun dari bahasa asli ke bahasa Arab, ia akan mendapat emas seberat buku itu. Cendekiawan terkenal, Muslim dan non-Muslim, dari seluruh dunia berkumpul di Baghdad sebagai bagian dari proyek al-Ma’mun.

Kecintaan sang Khalifah pada pengetahuan Yunani mendorongnya sebagai pemimpin yang akrab dengan filsafat. Sudah tentu, filsafat identik dan lekat dengan penggunaan rasio. Karya Aristoteles seperti Categories, Hermeneutica dan Rhetorica mampu bertahan dan dikaji oleh generasi kita sekarang, tidak terlepas dari andil al-Ma’mun dengan proyek penerjemahan tadi.

Dengan keluasan alam berpikir tersebut sang Khalifah diandaikan mudah menenggang ragam pendapat di kalangan cendekiawan ataupun ulama. Sayangnya, yang ada malah paradoks bahkan tragedi keilmuan. Continue reading Sulitnya Membenarkan Kebenaran (Kritik Halus untuk Pelata Proyek Densus)

HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

“..kabar-kabar tentang Paduka telah sampai pada kami bersinar bagai permata. Tetapkanlah hati. Paduka akan beruntung jika Paduka bekerja semata karena takwa pada Allah. Janganlah takut akan kemalangan dan jauhilah segala perbuatan jahat. Jika orang melakukan yang demikian, akan dia temukan surga tanpa awan dan bumi tanpa kotoran..”

Surakarta, 1772.

Tiga surat berbahasa Arab beserta bendera bertulis “La ilaha illallah” yang diserahkan Patih Kasunanan, Raden Adipati Sasradiningrat itu menggemparkan kediaman Residen F.C. Van Straalendorff. Salinan terjemah dari salah satu nawala yang kemudian dikirim ke Batavia bahkan membuat Gubernur Jenderal VOC, Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) sukar tidur, meski Sasradiningrat bersumpah bahwa tak seorang Jawapun yang telah membaca surat itu selain dia dan carik (sekretaris)-nya.

Continue reading HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

Nasihat Orang-orang Shaleh

Apa Nasehat Emas Enam Perkara Dari Orang-Orang Sholeh

1. Umar bin Khattab Ra. berkata, Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara:

a. Merasahasiakan ridha di dalam ketaatan seorang muslim, sehingga ia akan mengerjakan setiap hal yang diperintahkan Allah.

b. Merahasiakan marah-nya di dalam perbuatan maksiat seseorang. Sehingga ia akan berusaha menjauh dari segala perbuatan maksiat.

c. Merahasiakan lailatul qadar didalam bulan ramadhan, supaya setiap orang selalu giat di dalam mencarinya.

d. Merahasiakan wali-Nya dari pandangan orang awam, supaya mereka tidak menghina dan merendahkan semua orang. Karena jika yang direndahkan itu sebenarnya wali Allah, tentu yang menghina akan mendapatkan ancaman yang menakutkan dari Allah.

e. Merahasiakan umur sesorang, agar setiap orang bersiap-siap untuk menghadapi kematian.

f. Merahasiakan shalat wustha, agar setiap orang berusaha mencarinya di dalam semua shalat lima waktu.

Continue reading Nasihat Orang-orang Shaleh

Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Pagi ini sejenak sambil sarapan menu favorit kami di daerah Manggarai, +- 7-8 menit dari kediaman kami di Menteng (kapan2 jika berkenan akan saya traktir sahabat di rumah makan ini;), saya bercengkrama dengan istri tentang fenomena peradaban saat ini dan berusaha melukis bagaimana peradaban masa depan kami. Terkait generasi dan karakter. Kadang kami berkaca dan bahas pada diri kami masing-masing, banyak sekali kekurangan yang musti diperbaiki, banyak ilmu yang musti dipelajari.

Beberapa fase diskusi, pernah istri berkomentar mengapa saya begitu emosional jika berkaitan dengan dakwah dan islam. Juga berkaitan dengan izzah dan iffah (kemuliaan & kehormatan). Setahun dua tahun yang lalu juga sering saya obrolkan bab kemuliaan dan kehormatan ini bersama seorang sahabat. Dan selalunya… emosional. Di sini, emosional bermaksud yang melibatkan ghirah, suatu dzauq atau sense yang mayoritas umat islam kini kehilangannya.

Bagaimana contoh ghirah yang tertanam dalam karakter itu? Ini kisahnya. Saya kutip dari BC artikel oleh Ust Budi Azhari. Berjudul “UNTUK ANJING ROMAWI”

Continue reading Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Bertemu dan berfoto bareng Presiden Turki, Erdogan, adalah hal yang di luar dugaan saya sama sekali. Dan justru pertemuan itu terjadi di Indonesia, pekan lalu (Sabtu, 01/08/2015). Tak bisa saya ungkapkan rasa kebahagiaan ini seperti apa. Mungkin ini yang diibaratkan ‘nyes’nya seorang pengagum bertemu langsung dengan yang dia kagumi.

Bukan tanpa alasan saya mengagumi Erdogan. Hal ini berawal ketika saya mulai tertarik dengan dunia kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan itu tahun 2006. Saya mulai memperhatikan setiap pemimpin kontemporer di dunia. Tentu saja tak lupa dengan Indonesia, yang pernah melahirkan pemimpin besar sekaliber Soekarno yang diakui dunia sebagai orator ulung. Lalu mempelajari kembali sejarah dalam berbagai sudut pandang ternyata saya menemukan sosok yang menurut saya hebat dan patut dijadikan teladan adalah HOS. Cokroaminoto, dan sosok-sosok hebat lain era sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Buku-buku tentang kepemimpinan dan pemimpin-pemimpin besar lain di Indonesia dan dunia mulai memenuhi agenda baca saya. Bahkan kerap saya baca beberapa tokoh dan karya-karyanya, meski tokoh tersebut bukan presiden. Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dll. Menurut saya, selain harus cerdas, pemimpin adalah pelaku perubahan dengan kekuatan ilmu, dan lebih beruntung lagi jika ia juga memegang kekuatan kekuasaan.

Erdogan, saya mengenalnya dari media sejak 2010. Ketika itu ia sudah menjadi Perdana Menteri Turki periode ke dua. Ia adalah pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai muslim 2 paling berpengaruh di dunia (sumber: [www.rissc.jo] The 500 Most Influential Muslims 2010] )

Saya mulai menaruh perhatian yang cukup mendalam kepada beliau ini. Majalah TIME New York menobatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh tahun 2011. TIME memuat beliau dengan judul “Turkey’s pro-islamic Leader has built his (secular, democracy, and western friendly).

Pemimpin Turkey yang pro-Islam, ini telah sukses membangun negaranya sebagai negara adi daya. Banyak yang berharap ia menjadi teladan bagi pemimpin negara Arab lainnya,” tulis Times.

Continue reading Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Agastya Bertemu Erdogan

erdogan

Kunjungan Erdogan ke Indonesia menjadi buah bibir tersendiri. Erdogan yang pernah dinobatkan menjadi orang paling berpengaruh di dunia tahun 2011 majalah TIME Newyork ini menjadi salah satu faktor daya tarik yang sangat kuat dan tak berlebihan jika seluruh umat Islam termasuk di negeri ini begitu antusias untuk mengikuti setiap agenda beliau di Jakarta, bahkan sangat ingin untuk bertemu dengan salah satu pemimpin dunia yang paling disegani dan berpengaruh di dunia ini.

Setelah memenuhi beberapa agenda silaturahim dengan para petinggi Negara seperti DPR, Presiden dan Wapres serta memberikan kuliah umum di Lemhanas, Erdogan sempat mengunjungi Taman Makam Pahlawan dan bersolat jumat di Istiqlal. Terakhir Erdogan bertemu dengan Bapak BJ. Habibie di Ritz Carlton, Jakarta.

Dalam kesempatan terakhir alhamdulillaah saya sempat bertemu dengan beliau, bersalaman, dan sedikit mendekap dan bercakap.. :’)

Benar kata YM, kharisma beliau membuat kita segan, hormat, nyaman. Gesturenya sangat menunjukkan karakternya yang kuat dan tegas. Barakallaah Erdogan.

Kami beruntung bisa bertemu sapa denganmu. dan..

Kami Indonesia merindukan pemimpin sepertimu. Doakan.🙂

erdogan---agast

Surat Terbuka Untuk Pak JK

Kami Menggugah Anda, Pak JK

Assalaamu’alaykum wr wb.

Kepada ayahanda kami, Jusuf Kalla yang kami hormati.

Bulan ramadhan yang baru saja berlalu, adalah sebuah momentum kita untuk semakin dekat dengan Allah karena buah dari berpuasa selama satu bulan penuh tersebut adalah pribadi yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Pribadi muttaqin adalah pribadi yang senantiasa memperhatikan apa yang ia lakukan. Apakah Tuhannya ridlo dengan apa yang sedang ia upayakan, ia amalkan. Hati, lisan, dan perbuatan seluruhnya ia berhati-hati agar tidak sia-sia bahkan menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Semua ia lakukan karena ketaqwaannya (ketakutannya) kepada Tuhannya.

Pak JK yang kami sayangi,

Tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan asasi bagi setiap insan. Insan beriman – apapun agamanya – akan berusaha memuliakan sebaik-baiknya tempat di mana ia bisa beribadah dan menguatkan keimanannya, tempat di mana ia adalah simbol kehormatan dan identitas dirinya, tempat di mana ia mampu berharap menjadi pribadi yang membaik untuk membangun negerinya serta semakin membuatnya dekat kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan jika tempat ibadah saudara muslim kita di Tolakara menjadi terbakar karena diricuhkan dan diserang sekelompok kristian / oknum yang tak bertanggung jawab.  Sungguh toleransi negeri yang mayoritas muslim ini ternoda kembali. Dan itu terjadi justru ketika umat Islam merayakan hari raya dan ibadah Jumat 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT. Padahal telah menyejarah pasal 29 UUD 1945 memaktubkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Pak JK yang kami banggakan,

Syawal adalah bulan di sebagian ulama memaknakan sebagai bulan yang (naik) meningkat. Meningkat kualitas pribadi, meningkat kualitas iman, meningkat derajat kedekatan kita kepada Tuhan. Salah satu tandanya adalah dengan semakin baiknya ia bertutur kata, semakin bijaknya ia memecahkan masalah, semakin teguhnya ia berpihak kepada agamanya. Bulan ini pembuktian awal dari hasil pendidikan / tarbiyah di bulan ramadhan. Sudah sepantasnya ia menjaga jiwa yang mengharapkan kebaikan untuk dirinya dengan cara membela agamanya.

Pak JK yang kami rindu ketegasannya,

Ketika kerusuhan telah terjadi, muslim jelas menjadi korban. Adalah sakit hati ini ketika tak kunjung ada ketegasan dari sosok pemimpin yang pernah menjadi cahaya dakwah Islam di nusantara ini. Sosok yang menjadi kebanggaan para dai dengan kepemimpinannya di Dewan Masjid Indonesia. Saudara-saudara sebangsa kita dari sebagian kelompok kristiani telah melakukan pembakaran ke ruko-ruko ketika saudara-saudara semiman kita sedang melaksanakan shalat ied. Terkaget dengan teriakan dan berhamburan membubar karena hujanan lemparan batu sehingga api yang membakar menjalar mengenakan mushallaah yang ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Kejadian ini menyebabkan para saudara muslim kita bersedih tak dapat melaksanakan shalat idul fitri dengan khusyuk. Dan kesedihan yang lebih pedih adalah kejadian ini dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kami tak henti-hentinya meminta kepada para tokoh, pemuka agama untuk mampu meredakan situasi karena kami faham betul masyarakat Tolikara dan rakyat Papua adalah pecinta damai. Tidak mungkin ada kerusuhan kecuali ada provokasi dari pihak tertentu.

Pak JK,

Ternyata benar. Setelah kami teliti oleh rekan dakwah seperjuangan kami, dan juga telah kami konfirmasi kepada tokoh dai di Papua, kerusuhan tersebut adalah buah dari provokasi sistematik dan terencana. Telah diadakan pertemuan rahasia di hutan oleh segenap misionaris dari Ambon, Maluku, dan lainnya yang hasilnya adalah instruksi pelarangan shalat ied kepada umat islam di wilayah Tolikara. Kami kira Pimpinan GIDI juga terlibat terbukti dengan adanya surat edaran tertembus kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, Danramil Tolikara. Dari sini kami merasa lebih sakit nan teriris-iris di mana praktik intoleran tak mampu dibendung padahal tertembuskan informasi kejahatan tersebut kepada pihak-pihak yang secara konstitusi seharusnya mampu menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kami menuntut agar seluruh pelaku dan oknum-oknum yang terlibat dalam insiden ini ditangkap dan diberikan hukuman yang adil. Kami juga meminta kepada Menteri agama untuk mengganti Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Papua yang ada di wilayah bagian Papua karena itu bagian dari kejahatan yang tidak mampu mereka cegah.

Pak JK yang kami rindu ketangkasannya dari dulu,

Ada sebuah kisah, terjadi ketika masa Nabi Ibrahim as. Seekor burung pipit dengan susah payah menyimpan air di paruhnya, ketika sang Raja Namrud dengan gagah nan angkuhnya sedang membakar Ibrahim as.  Semua heran dan dalam suatu riwayat diceritakan adalah malaikat bertanya “Wahai burung pipit, untuk apa kamu membawa butiran air kecil itu? Tidak akan ada gunanya dibandingkan dengan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim as”. Lalu dengan penuh tangkas nan tenang serta jernih sang semut itu menjawab “Memang air ini tak akan bisa memadamkan api itu. Tapi dengan ini paling tidak semua tahu bahwa aku di pihak yang mana. Dan inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan”.

Pak JK, bapak kami,
Teringat nasihat Dai Salim A Fillah kepada bapak beberapa bulan yang lalu, betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Ketika kerusuhan itu terjadi, masyarakat membutuhkan jawaban dan sikap dari seorang bapak, seorang pemimpin yang mengayomi dan menenangkan. Betapapun kami telah tahu menurut bapak adalah sebuah speaker menjadi penyebab kerusuhan itu, tapi kami tak tahu apakah bapak telah sempat meninjau lokasi? Masjid dan bangunan kios yang sudah terbakar menjadi debu. Kami membutuhkan keberpihakan bapak yang memiliki otoritas lebih besar, sebagai seorang muslim, mukmin, seperti La Ma’daremmeng, Raja Bone XIII, sebelum masa kepemimpinan Sultan Hassanuddin, semoga Allah menyayanginya, yang kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Bapak,
Kini muslim di sana tidak lagi merasa aman, nyaman dan tentram dalam beribadah. Mereka membutuhkan keberpihakan kita dalam bahu membahu membantu membangun kembali apa yang telah dirusak. Kami menggugah kepada segenap muslim nusantara, juga kepada Pak JK untuk berpihak dan peduli. Muslim di sana membutuhkan uluran tangan kita untuk meneguhkan hati, mengeratkan ukhuwah Islamiah, bukan opini dan pernyataan-pernyataan yang memanas. Muslim di sana butuh kita untuk turun tangan menguatkan cahaya Islam di Negeri Nuu War (Papua). Muslim di sana butuh pemimpin Negara yang adil dan terdepan menegakkan hukum kebenaran. Semua ini demi mengokohnya persatuan bangsa, menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai luhur PANCASILA.

Salam hormat dari kami,
Agastya Harjunadhi
Kendal, 19 Juli 2015.

dimuat di Islampos, dan media islam lainnya.