Category Archives: Catatan ku

Nasihat Orang-orang Shaleh

Apa Nasehat Emas Enam Perkara Dari Orang-Orang Sholeh

1. Umar bin Khattab Ra. berkata, Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara:

a. Merasahasiakan ridha di dalam ketaatan seorang muslim, sehingga ia akan mengerjakan setiap hal yang diperintahkan Allah.

b. Merahasiakan marah-nya di dalam perbuatan maksiat seseorang. Sehingga ia akan berusaha menjauh dari segala perbuatan maksiat.

c. Merahasiakan lailatul qadar didalam bulan ramadhan, supaya setiap orang selalu giat di dalam mencarinya.

d. Merahasiakan wali-Nya dari pandangan orang awam, supaya mereka tidak menghina dan merendahkan semua orang. Karena jika yang direndahkan itu sebenarnya wali Allah, tentu yang menghina akan mendapatkan ancaman yang menakutkan dari Allah.

e. Merahasiakan umur sesorang, agar setiap orang bersiap-siap untuk menghadapi kematian.

f. Merahasiakan shalat wustha, agar setiap orang berusaha mencarinya di dalam semua shalat lima waktu.

Continue reading Nasihat Orang-orang Shaleh

Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Pagi ini sejenak sambil sarapan menu favorit kami di daerah Manggarai, +- 7-8 menit dari kediaman kami di Menteng (kapan2 jika berkenan akan saya traktir sahabat di rumah makan ini;), saya bercengkrama dengan istri tentang fenomena peradaban saat ini dan berusaha melukis bagaimana peradaban masa depan kami. Terkait generasi dan karakter. Kadang kami berkaca dan bahas pada diri kami masing-masing, banyak sekali kekurangan yang musti diperbaiki, banyak ilmu yang musti dipelajari.

Beberapa fase diskusi, pernah istri berkomentar mengapa saya begitu emosional jika berkaitan dengan dakwah dan islam. Juga berkaitan dengan izzah dan iffah (kemuliaan & kehormatan). Setahun dua tahun yang lalu juga sering saya obrolkan bab kemuliaan dan kehormatan ini bersama seorang sahabat. Dan selalunya… emosional. Di sini, emosional bermaksud yang melibatkan ghirah, suatu dzauq atau sense yang mayoritas umat islam kini kehilangannya.

Bagaimana contoh ghirah yang tertanam dalam karakter itu? Ini kisahnya. Saya kutip dari BC artikel oleh Ust Budi Azhari. Berjudul “UNTUK ANJING ROMAWI”

Continue reading Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Bertemu dan berfoto bareng Presiden Turki, Erdogan, adalah hal yang di luar dugaan saya sama sekali. Dan justru pertemuan itu terjadi di Indonesia, pekan lalu (Sabtu, 01/08/2015). Tak bisa saya ungkapkan rasa kebahagiaan ini seperti apa. Mungkin ini yang diibaratkan ‘nyes’nya seorang pengagum bertemu langsung dengan yang dia kagumi.

Bukan tanpa alasan saya mengagumi Erdogan. Hal ini berawal ketika saya mulai tertarik dengan dunia kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan itu tahun 2006. Saya mulai memperhatikan setiap pemimpin kontemporer di dunia. Tentu saja tak lupa dengan Indonesia, yang pernah melahirkan pemimpin besar sekaliber Soekarno yang diakui dunia sebagai orator ulung. Lalu mempelajari kembali sejarah dalam berbagai sudut pandang ternyata saya menemukan sosok yang menurut saya hebat dan patut dijadikan teladan adalah HOS. Cokroaminoto, dan sosok-sosok hebat lain era sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Buku-buku tentang kepemimpinan dan pemimpin-pemimpin besar lain di Indonesia dan dunia mulai memenuhi agenda baca saya. Bahkan kerap saya baca beberapa tokoh dan karya-karyanya, meski tokoh tersebut bukan presiden. Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dll. Menurut saya, selain harus cerdas, pemimpin adalah pelaku perubahan dengan kekuatan ilmu, dan lebih beruntung lagi jika ia juga memegang kekuatan kekuasaan.

Erdogan, saya mengenalnya dari media sejak 2010. Ketika itu ia sudah menjadi Perdana Menteri Turki periode ke dua. Ia adalah pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai muslim 2 paling berpengaruh di dunia (sumber: [www.rissc.jo] The 500 Most Influential Muslims 2010] )

Saya mulai menaruh perhatian yang cukup mendalam kepada beliau ini. Majalah TIME New York menobatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh tahun 2011. TIME memuat beliau dengan judul “Turkey’s pro-islamic Leader has built his (secular, democracy, and western friendly).

Pemimpin Turkey yang pro-Islam, ini telah sukses membangun negaranya sebagai negara adi daya. Banyak yang berharap ia menjadi teladan bagi pemimpin negara Arab lainnya,” tulis Times.

Continue reading Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Agastya Bertemu Erdogan

erdogan

Kunjungan Erdogan ke Indonesia menjadi buah bibir tersendiri. Erdogan yang pernah dinobatkan menjadi orang paling berpengaruh di dunia tahun 2011 majalah TIME Newyork ini menjadi salah satu faktor daya tarik yang sangat kuat dan tak berlebihan jika seluruh umat Islam termasuk di negeri ini begitu antusias untuk mengikuti setiap agenda beliau di Jakarta, bahkan sangat ingin untuk bertemu dengan salah satu pemimpin dunia yang paling disegani dan berpengaruh di dunia ini.

Setelah memenuhi beberapa agenda silaturahim dengan para petinggi Negara seperti DPR, Presiden dan Wapres serta memberikan kuliah umum di Lemhanas, Erdogan sempat mengunjungi Taman Makam Pahlawan dan bersolat jumat di Istiqlal. Terakhir Erdogan bertemu dengan Bapak BJ. Habibie di Ritz Carlton, Jakarta.

Dalam kesempatan terakhir alhamdulillaah saya sempat bertemu dengan beliau, bersalaman, dan sedikit mendekap dan bercakap.. :’)

Benar kata YM, kharisma beliau membuat kita segan, hormat, nyaman. Gesturenya sangat menunjukkan karakternya yang kuat dan tegas. Barakallaah Erdogan.

Kami beruntung bisa bertemu sapa denganmu. dan..

Kami Indonesia merindukan pemimpin sepertimu. Doakan. :)

erdogan---agast

Surat Terbuka Untuk Pak JK

Kami Menggugah Anda, Pak JK

Assalaamu’alaykum wr wb.

Kepada ayahanda kami, Jusuf Kalla yang kami hormati.

Bulan ramadhan yang baru saja berlalu, adalah sebuah momentum kita untuk semakin dekat dengan Allah karena buah dari berpuasa selama satu bulan penuh tersebut adalah pribadi yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Pribadi muttaqin adalah pribadi yang senantiasa memperhatikan apa yang ia lakukan. Apakah Tuhannya ridlo dengan apa yang sedang ia upayakan, ia amalkan. Hati, lisan, dan perbuatan seluruhnya ia berhati-hati agar tidak sia-sia bahkan menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Semua ia lakukan karena ketaqwaannya (ketakutannya) kepada Tuhannya.

Pak JK yang kami sayangi,

Tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan asasi bagi setiap insan. Insan beriman – apapun agamanya – akan berusaha memuliakan sebaik-baiknya tempat di mana ia bisa beribadah dan menguatkan keimanannya, tempat di mana ia adalah simbol kehormatan dan identitas dirinya, tempat di mana ia mampu berharap menjadi pribadi yang membaik untuk membangun negerinya serta semakin membuatnya dekat kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan jika tempat ibadah saudara muslim kita di Tolakara menjadi terbakar karena diricuhkan dan diserang sekelompok kristian / oknum yang tak bertanggung jawab.  Sungguh toleransi negeri yang mayoritas muslim ini ternoda kembali. Dan itu terjadi justru ketika umat Islam merayakan hari raya dan ibadah Jumat 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT. Padahal telah menyejarah pasal 29 UUD 1945 memaktubkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Pak JK yang kami banggakan,

Syawal adalah bulan di sebagian ulama memaknakan sebagai bulan yang (naik) meningkat. Meningkat kualitas pribadi, meningkat kualitas iman, meningkat derajat kedekatan kita kepada Tuhan. Salah satu tandanya adalah dengan semakin baiknya ia bertutur kata, semakin bijaknya ia memecahkan masalah, semakin teguhnya ia berpihak kepada agamanya. Bulan ini pembuktian awal dari hasil pendidikan / tarbiyah di bulan ramadhan. Sudah sepantasnya ia menjaga jiwa yang mengharapkan kebaikan untuk dirinya dengan cara membela agamanya.

Pak JK yang kami rindu ketegasannya,

Ketika kerusuhan telah terjadi, muslim jelas menjadi korban. Adalah sakit hati ini ketika tak kunjung ada ketegasan dari sosok pemimpin yang pernah menjadi cahaya dakwah Islam di nusantara ini. Sosok yang menjadi kebanggaan para dai dengan kepemimpinannya di Dewan Masjid Indonesia. Saudara-saudara sebangsa kita dari sebagian kelompok kristiani telah melakukan pembakaran ke ruko-ruko ketika saudara-saudara semiman kita sedang melaksanakan shalat ied. Terkaget dengan teriakan dan berhamburan membubar karena hujanan lemparan batu sehingga api yang membakar menjalar mengenakan mushallaah yang ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Kejadian ini menyebabkan para saudara muslim kita bersedih tak dapat melaksanakan shalat idul fitri dengan khusyuk. Dan kesedihan yang lebih pedih adalah kejadian ini dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kami tak henti-hentinya meminta kepada para tokoh, pemuka agama untuk mampu meredakan situasi karena kami faham betul masyarakat Tolikara dan rakyat Papua adalah pecinta damai. Tidak mungkin ada kerusuhan kecuali ada provokasi dari pihak tertentu.

Pak JK,

Ternyata benar. Setelah kami teliti oleh rekan dakwah seperjuangan kami, dan juga telah kami konfirmasi kepada tokoh dai di Papua, kerusuhan tersebut adalah buah dari provokasi sistematik dan terencana. Telah diadakan pertemuan rahasia di hutan oleh segenap misionaris dari Ambon, Maluku, dan lainnya yang hasilnya adalah instruksi pelarangan shalat ied kepada umat islam di wilayah Tolikara. Kami kira Pimpinan GIDI juga terlibat terbukti dengan adanya surat edaran tertembus kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, Danramil Tolikara. Dari sini kami merasa lebih sakit nan teriris-iris di mana praktik intoleran tak mampu dibendung padahal tertembuskan informasi kejahatan tersebut kepada pihak-pihak yang secara konstitusi seharusnya mampu menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kami menuntut agar seluruh pelaku dan oknum-oknum yang terlibat dalam insiden ini ditangkap dan diberikan hukuman yang adil. Kami juga meminta kepada Menteri agama untuk mengganti Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Papua yang ada di wilayah bagian Papua karena itu bagian dari kejahatan yang tidak mampu mereka cegah.

Pak JK yang kami rindu ketangkasannya dari dulu,

Ada sebuah kisah, terjadi ketika masa Nabi Ibrahim as. Seekor burung pipit dengan susah payah menyimpan air di paruhnya, ketika sang Raja Namrud dengan gagah nan angkuhnya sedang membakar Ibrahim as.  Semua heran dan dalam suatu riwayat diceritakan adalah malaikat bertanya “Wahai burung pipit, untuk apa kamu membawa butiran air kecil itu? Tidak akan ada gunanya dibandingkan dengan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim as”. Lalu dengan penuh tangkas nan tenang serta jernih sang semut itu menjawab “Memang air ini tak akan bisa memadamkan api itu. Tapi dengan ini paling tidak semua tahu bahwa aku di pihak yang mana. Dan inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan”.

Pak JK, bapak kami,
Teringat nasihat Dai Salim A Fillah kepada bapak beberapa bulan yang lalu, betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Ketika kerusuhan itu terjadi, masyarakat membutuhkan jawaban dan sikap dari seorang bapak, seorang pemimpin yang mengayomi dan menenangkan. Betapapun kami telah tahu menurut bapak adalah sebuah speaker menjadi penyebab kerusuhan itu, tapi kami tak tahu apakah bapak telah sempat meninjau lokasi? Masjid dan bangunan kios yang sudah terbakar menjadi debu. Kami membutuhkan keberpihakan bapak yang memiliki otoritas lebih besar, sebagai seorang muslim, mukmin, seperti La Ma’daremmeng, Raja Bone XIII, sebelum masa kepemimpinan Sultan Hassanuddin, semoga Allah menyayanginya, yang kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Bapak,
Kini muslim di sana tidak lagi merasa aman, nyaman dan tentram dalam beribadah. Mereka membutuhkan keberpihakan kita dalam bahu membahu membantu membangun kembali apa yang telah dirusak. Kami menggugah kepada segenap muslim nusantara, juga kepada Pak JK untuk berpihak dan peduli. Muslim di sana membutuhkan uluran tangan kita untuk meneguhkan hati, mengeratkan ukhuwah Islamiah, bukan opini dan pernyataan-pernyataan yang memanas. Muslim di sana butuh kita untuk turun tangan menguatkan cahaya Islam di Negeri Nuu War (Papua). Muslim di sana butuh pemimpin Negara yang adil dan terdepan menegakkan hukum kebenaran. Semua ini demi mengokohnya persatuan bangsa, menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai luhur PANCASILA.

Salam hormat dari kami,
Agastya Harjunadhi
Kendal, 19 Juli 2015.

dimuat di Islampos, dan media islam lainnya.

Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Melihat judulnya saja tentu kita yang belum mengikuti berita terkini akan bingung. Lho ada apa dengan Sherina? aktor fav pemirsa Indonesia dahulu yang sukses dengan film Petualangan Sherina dengan nyanyian-nyanyiannya kok ditajuk menjadi “indahnya keluarga tanpa sherina”?

Berikut ini tulisan menarik dari @opiniym untuk mengetengahkan duduk persoalan tentang Sherina, keluarga dan isu yang sedang ia bawa. Menarik ulasannya.

SEORANG rekan semasa kuliahnya begitu menyukai Sherina Munaf. Kala itu, nama penyanyi ini tengah melambung seusai membintangi filmPetualangan Sherina. Rekan saya ini mengagumi kualitas vokal berikut pelbagai bakat seni yang melekat pada sang bintang cilik.

Saya tidak tahu apakah dia menggemari sang bintang hingga berangan kelak anak-anaknya mengikuti jejak ataukah tidak. Kemampuan musikal teman saya memang memadai, termasuk kesungguhannya belajar biola. Sebuah keterampilan seni yang sepintas jarang diambil oleh para aktivis dakwah, apatah lagi kalangan Muslimah. Klik seni yang kuat, ditambah kecerdasan si bintang cilik, menguatkan asumsi saya bahwa dia bisa saja mengikuti segala perkembangan ‘idolanya’ semasa kuliah ini. Bukan buat dirinya, melainkan bagi buah hatinya. Continue reading Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Syair Yang Membuat Imam Ahmad Menangis

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ditanya oleh muridnya Abu Hamid Al Khulqani mengenai syair. Bagaimana pendapat beliau terhadap syair-syair yang menyebutkan tentang surga dan neraka.

Imam Ahmad rahimahullah balik bertanya, “Seperti apa contohnya..?”

Lalu Abu Hamid Al Khulqani melantunkan syair…

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني ؟

و تخفي أذنب عن خلقي و بالعصيان تأتيني؟

Usai dua bait tersebut Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Coba kau bacakan lagi..!”
Maka Abu Hamid mengulangi kembali bait yang telah dia bacakan sebelumnya, yang artinya adalah :

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak…
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepada-Ku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-Ku…
Sedangkan dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

Setelah itu Imam Ahmad rahimahullah masuk ke rumahnya. Beliau tutup pintu dibelakangnya.
Kata Abu Hamid, “Aku mendengar beliau menangis, sembari beliau mengulang melantunkan bait-bait itu.”

“Kami mendengar tangisan Imam seolah-olah beliau akan mati,” muridnya meriwayatkan.

Lengkapnya syair tersebut adalah sebagai berikut.

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني..؟

وتخفي الذنب من خلقي و بالعصيان تأتيني..؟

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak,
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepadaku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-makhluk-Ku,
Sedang dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

فكيف أجيب يا ويحي ومن ذاسوف يحمين..؟

Maka bagaimanakah aku bisa menjawabnya, dan siapakah yang bisa melindungiku..?

أسلي النفس بالآ مال من حين الى حيني…

وأئس ما وراء الموت ما ذ ايعد تكفيني..؟

Aku sentiasa menenangkan perasaanku dengan angan-angan dari waktu ke waktu,

Sedangkan aku lupa apa yang terjadi selepas kematian, apakah yang cukup untukku..?

كأني قد ضمنت العيش ليس الموت يأتيني…

Seolah-olah aku telah dapat menjamin akan terus hidup, dan ajal tidak akan datang…

وجاءت سكرة الموت الشديدة من سيحميني..؟

Apabila tiba saatnya maut itu datang, siapalah yang dapat mencegahnya dariku..?

نظرت الى الؤجوه أليس منهم من سيفديني..؟

Aku hanya mampu melihat wajah-wajah didepanku…
Adakah seseorang diantara mereka yang bisa menebusku..?

سأ سأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني.

Aku akan ditanya apa yang telah aku persembahkan di duniaku dahulu yang dapat menyelamatkanku.

فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني…

Bagaimana jawabanku setelah aku lupakan urusan agamaku…

ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني..؟

Oh, celakanya..! Apakah aku tidak pernah mendengar kalam Allah yang menyeruku..?

ألم أسمع لما قد جاء في قاف و يس..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar kandungan Surah Qaf dan Surah Yasin..?

ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar tentang hari berhimpun, perkumpulan, dan hari pembalasan..?

ألم أسمع منادي الهوت يدعوني يناديني..؟

Tidakkah pernah aku mendengar penyeru kematian yang mengajakku dan memanggilku..?

فيارباه عبد تائب من ذاسيؤويني..؟

Wahai Rabb-ku, inilah seorang hamba yang bertaubat, siapakah yang sanggup menerimanya..?

سوى رب غفور واسع للحق يهديني.

Kecuali Allah yang Maha Pengampun, yang luas ampunan-Nya, yang sentiasa memberikan pedoman ke jalan kebenaran.

أتيت إليك فارحمني وثقل في موازيني.

Aku datang kepada-Mu, maka beratkanlah neraca timbanganku.

وخفف في جزائي أنت أرجى من يجازيني.

Ringankanlah pembalasanku karena kepada-Mu sajalah paling diharapkan kebaikan apabila melakukan pembalasan.

(Dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad hal. 205 oleh Ibnul Jauzi)

Doa Nabi Ibrahim as

Nabi Ibrahim as termasuk salah seorang nabi-nabi besar Ilahi. Beliau as adalah salah seorang pemuka penyeru tauhid sepanjang sejarah dan merupakan bapak dari banyak para nabi.

Beliau as diutus ketika umat berada dalam penyembahan berhala, menghambakan diri kepada berbagai patung dan menghormatinya. Beliau as berdialog dengan umat dan menjelaskan ketidakbergunaan dan kehampaan berhala-berhala tersebut kepada mereka. Di hadapan ucapan-ucapan penuh hikmah dan argumentasi nabi Ibrahim as mereka mengatakan: “Sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.”[1] Continue reading Doa Nabi Ibrahim as

Ekstase Mi’raj

Sekiranya ku menjadi Muhammad
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ’Arsyi
-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-

Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya. Continue reading Ekstase Mi’raj

Trik Menulis Shalawat dengan Benar

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar sahabat semua, semoga senantiasa sehat wal afiat. Sehat harmonisnya antara kekuatan fisik dan psikis, wal afiat harmonisasi antara jasmani dan ruhani yang dimudahkan berbuat taat kepadaNya. :)

Kali ini penulis akan sharing catatan ringan. Sesuatu yang sangat sederhana dan mungkin sering dianggap info seliwer sambil lalu. Beberapa sahabat pembaca tentu sudah pernah dapatkan ini dari BC Whatsapp atau yang lainnya lalu berkata “ooo” dan mencoba. Tapi tak sedikit pula yang setelah itu lupa. Termasuk saya hehe. Continue reading Trik Menulis Shalawat dengan Benar