Category Archives: Kepemimpinan

Ahok dan Rizki yang Baik

Saya ajak dan ingatkan Anda untuk gak cengeng soal isu agama ini. Saya sendiri mulai muak dengan banyak pendukung Ahok terus berkutat soal ini.

Begini cara kita melihat isu agama itu secara tak cengeng.

Jika dalam kontestasi berhadap-hadapan kandidat lelaki vs perempuan maka isu gender naik ke atas permukaan; kandidat dari suku ttt vs dari suku yang lain, isu kesukuan mencuat ke atas; kandidatnya beda agama maka isu agama mencuat. Ini sangat biasa dalam semua kontestasi di seluruh dunia. Kita sebut ini sebagai isu kontestasi antar-golongan.

Isu itu menjadi lebih intens jika isu kontestasinya berubah menjadi kontestasi mayoritas vs minoritas. Sentimen mayoritas gampang tersulut dan kalangan minoritas yang terdesak harus “kreatif” untuk bisa memenangkan kontestasi itu. Apakah ini persoalan khas Indonesia?

Continue reading Ahok dan Rizki yang Baik

Advertisements

Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Tadabbur Al-Ma`idah 48 – 52

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الكريم الرحمن علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان.
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله.
اللهم فصل وسلِّم وبارك على نبينا وحبيبنا وشفيعنا وقائدنا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم.
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأتنم مسلمون.
Sidang Jum’ah rahimakumullah
Keberhasilan kita dalam forum jum’atan ini diukur dari tingkat ketakwaan kita setelah ini. Kalau tambah ketaatan kita kepada Allah, maka berhasillah shalat Jumat kita dan insyaallah satu Jumat kita akan berbahagia. Tapi jika prosentasi ketakwaan kita tidak bertambah kepada Allah subhanahu wataala dalam keseharian kita, maka sengsaralah kita. Sengsara tanpa panduan ayat-ayat Allah subhanahu wataala.
Khutbah Jumat pada hari ini adalah memahami kembali tentang Surah Al-Ma`idah, khususnya Al-Ma`idah ayat 51 yang tadinya menjadi perbincangan yang hangat, dan bahkan bisa mengarah kepada perubahan arah kalau kita tidak sungguh-sungguh memahami ayat dan peristiwa ini secara baik. Nanti setelah ini para jamaah shalat Jumat silakan membaca dari Surah Al-Ma`idah ayat 48 yang akan saya bacakan secara jelas- sampai ayat 52 minimal.  Continue reading Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Identitas Pemimpin Orang Indonesia

“BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM”

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun …

Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati …

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya …

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.
Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks prooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Ya.. orang besar, adalah ia yang berjiwa besar..
Sikap pahlawan, hanya bisa dipahami oleh seorang pahlawan.. Ia yang menghargai jerih payah, menghargai ide gagasan, meski berbeda pendapat bahkan ideologi..Sikap kepahlawanan memang mahal..
Dan tak lupa satu lagi.. bangsa ini ditegakkan oleh darah para pahlawan, airmata para bidadari istri dan ibunda pahlawan yang tanpa henti mengetuk pintu-pintu langit munajat.. bukan uang yang mereka harapkan atas para lelaki kebanggaan mereka yang sedang berjuang.. bukan pula jabatan..

adalah KEBERKAHAN PERJUANGAN dan KOKOHnya jiwa semangat ghirah untuk mengoyak dan mengusir penjajah kapitalis, liberalis, imperialis, penguasa-penguasa lalim, pengkhianat-pengkhianat nan pengecut..

Ah.. indahnya akhlak mereka.. para orang Indonesia, bukan pendendam.. bukan perampok.. bukan pengkhianat.. entah rakyatnya, entah pemimpinnya… semuanya adil, mereka semua beradab… dua hal yang sangat identik dengan nurani dan kemanusiaan..identik dengan mereka yang berjiwa ksatria dan pahlawan..identik dengan orang Indonesia..

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung rasa adil, adab.. dan tiada mampu dua hal tersebut kecuali mereka yang menyadari Ketuhanan [hukum Tuhan] yang Maha Esa..

Sila-sila yang kokoh, penuh inspirasi, hikmah, menjulang tinggi nilai nan menghujam dalam samudra makna… Pancasila yang merupakan fondasi dan dasar hukum tertinggi bangsa kita … bangsa, orang-orang Indonesia..

Itu.. identitas pemimpin, orang Indonesia..

Lantas, jika ada pemimpin di negeri ini, atau orang-orang yang mengaku berbangsa negeri ini, namun mereka tanpa rasa adil, tiada keindahan adab, serta nilai-nilai lain dalam Pancasila itu.. apakah masih benar bisa disebut orang Indonesia?

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut. Jadi besar atau kerdil. Jadi pemaaf atau pendendam. Jadi penuh empati atau suka menghakimi. Jadi penyebar damai atau penebar fitnah. Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya. Bukan hanya siapa yang menang, tapi bagaimana sikap yang kalah.

kaifa takuunu yuwallaa ‘alaykum.. – bagaimana kamu, begitulah yang akan memimpinmu.. Pemimpin cermin rakyatnya, rakyat cermin pemimpinnya..

wallaahu’alam bishawab..

Gubahan @agastyaharjuna – untuk pemilihan pemimpin, orang Indonesia. – #PILKADA2015 serentak.

Yaa rabb, setelah kami mengupayakan, tolong sempurnakan.. pilihkan kpd kami pemimpin orang Indonesia, yang mendatangkan pertolonganMu. aamiin

Surat Untuk Presiden: SIKLUS PACEKLIK DAN CELAH-CELAH BERKAH

Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia

Keselamatan, kasih sayang Allah, dan kebaikan yang tiada henti bertambah semoga dilimpahkan ke atas Ayahanda Presiden,

Sungguh benar bahwa cara terbaik menasehati pemimpin adalah dengan menjumpainya empat mata, menggandeng tangannya, duduk mesra, dan membisikkan ketulusan itu hingga merasuk ke dalam jiwa.

Tapi tulisan ini barangkali tak layak disebut nasehat. Yang teranggit ini hanya uraian kecil yang semoga menguatkan diri kami sendiri sebagai bagian dari bangsa ini untuk menghela badan ke masa depan yang temaram.

Mengapa ia di-kepada-kan untuk Ayahanda; harapannya adalah agar huruf-huruf ini kelak menjadi saksi di hadapan Allah dan semesta akan cinta kami kepada Indonesia. Syukur-syukur jika ia mengilhami para pemimpin yang berwenang-berdaulat, untuk melakukan langkah-langkah yang perlu bagi kemaslahatan kami. Dan bermurah hatilah mendoakan kami Ayahanda, agar jikapun kami hanya rumput yang kisut, ia tetap dapat teguh lembut dan tak luruh dipukul ribut bahkan ketika karang pelindung kami rubuh lalu hanyut. Continue reading Surat Untuk Presiden: SIKLUS PACEKLIK DAN CELAH-CELAH BERKAH

26 habits of Highly Successful Leaders

By Richard Feloni
Aug 31 2015

The idea of being “successful” is ultimately a matter of personal judgment. But regardless of personality, industry, or point in history, there are timeless truths about what it takes to achieve one’s potential.
Self-made industrialist Andrew Carnegie was the wealthiest man on the planet in the early 20th century and was a student of what it takes to achieve greatness. In 1908, he met with the journalist Napoleon Hill and decided that Hill would be the vehicle for sharing his strategies with the world.

Their conversations and Hill’s research on hundreds of self-made millionaires became the basis of the 1937 book “Think and Grow Rich,” which remains one of the bestselling books of all time. In 1954, Hill held a series of lectures in Chicago that expanded on the principles explored in his book.

These lectures are now collected for the first time in print in “Your Right to Be Rich.” Below, we’ve collected his observations on what it takes to be exceptionally successful from the sixth speech in the series, on personal initiative.

Here are the habits he found the most successful people have in common. Continue reading 26 habits of Highly Successful Leaders

Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Pagi ini sejenak sambil sarapan menu favorit kami di daerah Manggarai, +- 7-8 menit dari kediaman kami di Menteng (kapan2 jika berkenan akan saya traktir sahabat di rumah makan ini;), saya bercengkrama dengan istri tentang fenomena peradaban saat ini dan berusaha melukis bagaimana peradaban masa depan kami. Terkait generasi dan karakter. Kadang kami berkaca dan bahas pada diri kami masing-masing, banyak sekali kekurangan yang musti diperbaiki, banyak ilmu yang musti dipelajari.

Beberapa fase diskusi, pernah istri berkomentar mengapa saya begitu emosional jika berkaitan dengan dakwah dan islam. Juga berkaitan dengan izzah dan iffah (kemuliaan & kehormatan). Setahun dua tahun yang lalu juga sering saya obrolkan bab kemuliaan dan kehormatan ini bersama seorang sahabat. Dan selalunya… emosional. Di sini, emosional bermaksud yang melibatkan ghirah, suatu dzauq atau sense yang mayoritas umat islam kini kehilangannya.

Bagaimana contoh ghirah yang tertanam dalam karakter itu? Ini kisahnya. Saya kutip dari BC artikel oleh Ust Budi Azhari. Berjudul “UNTUK ANJING ROMAWI”

Continue reading Islam itu Pengaruh dan Pengarah

Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Bertemu dan berfoto bareng Presiden Turki, Erdogan, adalah hal yang di luar dugaan saya sama sekali. Dan justru pertemuan itu terjadi di Indonesia, pekan lalu (Sabtu, 01/08/2015). Tak bisa saya ungkapkan rasa kebahagiaan ini seperti apa. Mungkin ini yang diibaratkan ‘nyes’nya seorang pengagum bertemu langsung dengan yang dia kagumi.

Bukan tanpa alasan saya mengagumi Erdogan. Hal ini berawal ketika saya mulai tertarik dengan dunia kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan itu tahun 2006. Saya mulai memperhatikan setiap pemimpin kontemporer di dunia. Tentu saja tak lupa dengan Indonesia, yang pernah melahirkan pemimpin besar sekaliber Soekarno yang diakui dunia sebagai orator ulung. Lalu mempelajari kembali sejarah dalam berbagai sudut pandang ternyata saya menemukan sosok yang menurut saya hebat dan patut dijadikan teladan adalah HOS. Cokroaminoto, dan sosok-sosok hebat lain era sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Buku-buku tentang kepemimpinan dan pemimpin-pemimpin besar lain di Indonesia dan dunia mulai memenuhi agenda baca saya. Bahkan kerap saya baca beberapa tokoh dan karya-karyanya, meski tokoh tersebut bukan presiden. Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dll. Menurut saya, selain harus cerdas, pemimpin adalah pelaku perubahan dengan kekuatan ilmu, dan lebih beruntung lagi jika ia juga memegang kekuatan kekuasaan.

Erdogan, saya mengenalnya dari media sejak 2010. Ketika itu ia sudah menjadi Perdana Menteri Turki periode ke dua. Ia adalah pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai muslim 2 paling berpengaruh di dunia (sumber: [www.rissc.jo] The 500 Most Influential Muslims 2010] )

Saya mulai menaruh perhatian yang cukup mendalam kepada beliau ini. Majalah TIME New York menobatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh tahun 2011. TIME memuat beliau dengan judul “Turkey’s pro-islamic Leader has built his (secular, democracy, and western friendly).

Pemimpin Turkey yang pro-Islam, ini telah sukses membangun negaranya sebagai negara adi daya. Banyak yang berharap ia menjadi teladan bagi pemimpin negara Arab lainnya,” tulis Times.

Continue reading Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Surat Terbuka Untuk Pak JK

Kami Menggugah Anda, Pak JK

Assalaamu’alaykum wr wb.

Kepada ayahanda kami, Jusuf Kalla yang kami hormati.

Bulan ramadhan yang baru saja berlalu, adalah sebuah momentum kita untuk semakin dekat dengan Allah karena buah dari berpuasa selama satu bulan penuh tersebut adalah pribadi yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Pribadi muttaqin adalah pribadi yang senantiasa memperhatikan apa yang ia lakukan. Apakah Tuhannya ridlo dengan apa yang sedang ia upayakan, ia amalkan. Hati, lisan, dan perbuatan seluruhnya ia berhati-hati agar tidak sia-sia bahkan menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Semua ia lakukan karena ketaqwaannya (ketakutannya) kepada Tuhannya.

Pak JK yang kami sayangi,

Tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan asasi bagi setiap insan. Insan beriman – apapun agamanya – akan berusaha memuliakan sebaik-baiknya tempat di mana ia bisa beribadah dan menguatkan keimanannya, tempat di mana ia adalah simbol kehormatan dan identitas dirinya, tempat di mana ia mampu berharap menjadi pribadi yang membaik untuk membangun negerinya serta semakin membuatnya dekat kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan jika tempat ibadah saudara muslim kita di Tolakara menjadi terbakar karena diricuhkan dan diserang sekelompok kristian / oknum yang tak bertanggung jawab.  Sungguh toleransi negeri yang mayoritas muslim ini ternoda kembali. Dan itu terjadi justru ketika umat Islam merayakan hari raya dan ibadah Jumat 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT. Padahal telah menyejarah pasal 29 UUD 1945 memaktubkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Pak JK yang kami banggakan,

Syawal adalah bulan di sebagian ulama memaknakan sebagai bulan yang (naik) meningkat. Meningkat kualitas pribadi, meningkat kualitas iman, meningkat derajat kedekatan kita kepada Tuhan. Salah satu tandanya adalah dengan semakin baiknya ia bertutur kata, semakin bijaknya ia memecahkan masalah, semakin teguhnya ia berpihak kepada agamanya. Bulan ini pembuktian awal dari hasil pendidikan / tarbiyah di bulan ramadhan. Sudah sepantasnya ia menjaga jiwa yang mengharapkan kebaikan untuk dirinya dengan cara membela agamanya.

Pak JK yang kami rindu ketegasannya,

Ketika kerusuhan telah terjadi, muslim jelas menjadi korban. Adalah sakit hati ini ketika tak kunjung ada ketegasan dari sosok pemimpin yang pernah menjadi cahaya dakwah Islam di nusantara ini. Sosok yang menjadi kebanggaan para dai dengan kepemimpinannya di Dewan Masjid Indonesia. Saudara-saudara sebangsa kita dari sebagian kelompok kristiani telah melakukan pembakaran ke ruko-ruko ketika saudara-saudara semiman kita sedang melaksanakan shalat ied. Terkaget dengan teriakan dan berhamburan membubar karena hujanan lemparan batu sehingga api yang membakar menjalar mengenakan mushallaah yang ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Kejadian ini menyebabkan para saudara muslim kita bersedih tak dapat melaksanakan shalat idul fitri dengan khusyuk. Dan kesedihan yang lebih pedih adalah kejadian ini dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kami tak henti-hentinya meminta kepada para tokoh, pemuka agama untuk mampu meredakan situasi karena kami faham betul masyarakat Tolikara dan rakyat Papua adalah pecinta damai. Tidak mungkin ada kerusuhan kecuali ada provokasi dari pihak tertentu.

Pak JK,

Ternyata benar. Setelah kami teliti oleh rekan dakwah seperjuangan kami, dan juga telah kami konfirmasi kepada tokoh dai di Papua, kerusuhan tersebut adalah buah dari provokasi sistematik dan terencana. Telah diadakan pertemuan rahasia di hutan oleh segenap misionaris dari Ambon, Maluku, dan lainnya yang hasilnya adalah instruksi pelarangan shalat ied kepada umat islam di wilayah Tolikara. Kami kira Pimpinan GIDI juga terlibat terbukti dengan adanya surat edaran tertembus kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, Danramil Tolikara. Dari sini kami merasa lebih sakit nan teriris-iris di mana praktik intoleran tak mampu dibendung padahal tertembuskan informasi kejahatan tersebut kepada pihak-pihak yang secara konstitusi seharusnya mampu menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kami menuntut agar seluruh pelaku dan oknum-oknum yang terlibat dalam insiden ini ditangkap dan diberikan hukuman yang adil. Kami juga meminta kepada Menteri agama untuk mengganti Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Papua yang ada di wilayah bagian Papua karena itu bagian dari kejahatan yang tidak mampu mereka cegah.

Pak JK yang kami rindu ketangkasannya dari dulu,

Ada sebuah kisah, terjadi ketika masa Nabi Ibrahim as. Seekor burung pipit dengan susah payah menyimpan air di paruhnya, ketika sang Raja Namrud dengan gagah nan angkuhnya sedang membakar Ibrahim as.  Semua heran dan dalam suatu riwayat diceritakan adalah malaikat bertanya “Wahai burung pipit, untuk apa kamu membawa butiran air kecil itu? Tidak akan ada gunanya dibandingkan dengan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim as”. Lalu dengan penuh tangkas nan tenang serta jernih sang semut itu menjawab “Memang air ini tak akan bisa memadamkan api itu. Tapi dengan ini paling tidak semua tahu bahwa aku di pihak yang mana. Dan inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan”.

Pak JK, bapak kami,
Teringat nasihat Dai Salim A Fillah kepada bapak beberapa bulan yang lalu, betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Ketika kerusuhan itu terjadi, masyarakat membutuhkan jawaban dan sikap dari seorang bapak, seorang pemimpin yang mengayomi dan menenangkan. Betapapun kami telah tahu menurut bapak adalah sebuah speaker menjadi penyebab kerusuhan itu, tapi kami tak tahu apakah bapak telah sempat meninjau lokasi? Masjid dan bangunan kios yang sudah terbakar menjadi debu. Kami membutuhkan keberpihakan bapak yang memiliki otoritas lebih besar, sebagai seorang muslim, mukmin, seperti La Ma’daremmeng, Raja Bone XIII, sebelum masa kepemimpinan Sultan Hassanuddin, semoga Allah menyayanginya, yang kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Bapak,
Kini muslim di sana tidak lagi merasa aman, nyaman dan tentram dalam beribadah. Mereka membutuhkan keberpihakan kita dalam bahu membahu membantu membangun kembali apa yang telah dirusak. Kami menggugah kepada segenap muslim nusantara, juga kepada Pak JK untuk berpihak dan peduli. Muslim di sana membutuhkan uluran tangan kita untuk meneguhkan hati, mengeratkan ukhuwah Islamiah, bukan opini dan pernyataan-pernyataan yang memanas. Muslim di sana butuh kita untuk turun tangan menguatkan cahaya Islam di Negeri Nuu War (Papua). Muslim di sana butuh pemimpin Negara yang adil dan terdepan menegakkan hukum kebenaran. Semua ini demi mengokohnya persatuan bangsa, menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai luhur PANCASILA.

Salam hormat dari kami,
Agastya Harjunadhi
Kendal, 19 Juli 2015.

dimuat di Islampos, dan media islam lainnya.

Kaidah Bermuamalah dengan Pemimpin

Islam adalah agama yang begitu mulia. Setiap syariat dan syarahnya memiliki kedalaman. Tak hanya ilmu, namun juga adab yang dari sanalah basis peradaban dibangun. Peradaban adalah satu kesatuan tatanan sosial yang berketuhanan dan berkeadilan, menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempat dan menempuh perjuangan, proses taqwa dan mujahadah sesuai dengan kaidahnya.

Continue reading Kaidah Bermuamalah dengan Pemimpin

Sunan Kalijaga dan Kehormatan Pemimpin

Tahukah kita bahwa sunan Kalijaga adalah salah satu sunan yang melakukan dakwah Islam dengan metode akulturasi. Yakni mengkombinasikan kearifan lokal, paribasan (peribahasa), tembang lan tembung, dll. Warisan sastra jawa dengan bahasa yang sarat akan makna, nilai moral dan nasihat ini sangat menarik dan mudah diterima penduduk jawa ketika itu. Tembang yang sangat mahsyur adalah tentang Lir Ilir. Insya Allah akan saya post di tulisan berikutnya.

Nah, seperti halnya lir ilir, nyanyian Gundul-gundul Pacul juga memiliki makna yang mendalam. Ini adalah sebuah isyarat tentang kepemimpinan. Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

“Gundul gundul pacul-cul, gembelengan.
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…”

Maknanya kurang lebih seperti ini:

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasihat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

GUNDUL-GUNDUL PACUL CUL artinya orang yang di kepalanya sudah kehilangan 4 indera di atas yang mengakibatkan sikapnya berubah jadi GEMBELENGAN congkak).

NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).

Sumber : http://www.islampos.com/gundul-gundul-pacul-lagu-untuk-pem…/