Category Archives: Leadership and Manajerial

AYLI

Ahok dan Rizki yang Baik

Saya ajak dan ingatkan Anda untuk gak cengeng soal isu agama ini. Saya sendiri mulai muak dengan banyak pendukung Ahok terus berkutat soal ini.

Begini cara kita melihat isu agama itu secara tak cengeng.

Jika dalam kontestasi berhadap-hadapan kandidat lelaki vs perempuan maka isu gender naik ke atas permukaan; kandidat dari suku ttt vs dari suku yang lain, isu kesukuan mencuat ke atas; kandidatnya beda agama maka isu agama mencuat. Ini sangat biasa dalam semua kontestasi di seluruh dunia. Kita sebut ini sebagai isu kontestasi antar-golongan.

Isu itu menjadi lebih intens jika isu kontestasinya berubah menjadi kontestasi mayoritas vs minoritas. Sentimen mayoritas gampang tersulut dan kalangan minoritas yang terdesak harus “kreatif” untuk bisa memenangkan kontestasi itu. Apakah ini persoalan khas Indonesia?

Continue reading Ahok dan Rizki yang Baik

26 habits of Highly Successful Leaders

By Richard Feloni
Aug 31 2015

The idea of being “successful” is ultimately a matter of personal judgment. But regardless of personality, industry, or point in history, there are timeless truths about what it takes to achieve one’s potential.
Self-made industrialist Andrew Carnegie was the wealthiest man on the planet in the early 20th century and was a student of what it takes to achieve greatness. In 1908, he met with the journalist Napoleon Hill and decided that Hill would be the vehicle for sharing his strategies with the world.

Their conversations and Hill’s research on hundreds of self-made millionaires became the basis of the 1937 book “Think and Grow Rich,” which remains one of the bestselling books of all time. In 1954, Hill held a series of lectures in Chicago that expanded on the principles explored in his book.

These lectures are now collected for the first time in print in “Your Right to Be Rich.” Below, we’ve collected his observations on what it takes to be exceptionally successful from the sixth speech in the series, on personal initiative.

Here are the habits he found the most successful people have in common. Continue reading 26 habits of Highly Successful Leaders

Bung Natsir

BUNG NATSIR!

DARI balik lemari yang menjadi sekat ruang tamu, Sitti Muchliesah bersama empat adik dan sepupunya mencuri dengar pembicaraan ayahnya, Mohammad Natsir, dengan seorang tamu dari Medan. Hati remaja-remaja itu berbunga ketika mendengar si tamu hendak menyumbangkan mobil buat ayah mereka.

Lies panggilan Siti menyangka mobil Chevrolet Impala yang sudah terparkir di depan rumahnya di Jalan Jawa 28 (kini Jalan H.O.S. Cokroaminoto), Jakar-ta Pusat, itu akan menjadi milik keluarganya. Sedan besar- buatan Amerika ini tergolong “wah” pada 1956. Saat itu Natsir, yang pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri, hanya punya mobil pribadi bermerek DeSoto yang sudah kusam.

Aba-demikian anak-anaknya memanggil Natsir-ketika itu masih anggota parlemen dan memimpin Fraksi Masyumi. “Dia ingin membantu Aba karena mobil yang ada kurang memadai,” kata putri tertua Natsir yang saat itu baru masuk usia 20 tahun.

Harapan anak-anak naik mobil Impala buyar saat ayah mereka menolak tawaran dengan amat halus agar tidak menyinggung perasaan tamunya. “Mobil itu bukan hak kita. Lagi pula yang ada masih cukup,” Lies menirukan ucapan ayahnya ketika mereka bertanya.

Nasihat itu begitu membekas di hati Lies, kini 72 tahun. Aba dan Ummi Nurnahar-ibunda Lies-selalu berpesan kepada anak-anaknya, “Cukupkan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat.”

Ketika sang ayah menjadi Menteri Penerangan pada awal 1946, Lies mengenang mereka tinggal seadanya di rumah milik sahabat Natsir, Prawoto Mangkusasmito, di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sewaktu pusat pemerintah pindah ke Yogyakarta, keluarga Natsir menumpang di paviliun milik Haji Agus Salim di Jalan Gereja Theresia, sekarang Jalan H Agus Salim.

Periode menumpang di rumah orang baru berakhir ketika mereka menempati rumah di Jalan Jawa pada akhir 1946. Rumah tanpa perabotan ini dibeli pemerintah dari seorang saudagar Arab dan kemudian diserahkan untuk Menteri Penerangan. “Kami mengisi rumah itu dengan perabot bekas,” kata Lies.

Selama menjadi menteri, Natsir jarang bertemu dengan keluarga karena lebih banyak berdinas di Yogyakarta. Di sana pula dia pertama berjumpa dengan guru besar dari Universitas Cornell, George McTurnan Kahin. “Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan,” tulis Kahin dalam buku memperingati 70 tahun Mohammad Natsir.

Dia melihat sendiri Natsir mengenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah butut. Kahin, yang mendapat info dari Haji Agus Salim me-ngenai sosok Natsir, belakangan tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.

Penampilan Natsir tidak berubah saat menjadi Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia pada Agustus 1950. Keluarga Natsir menempati rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur (sekarang Tugu Proklamasi), Jakarta Pusat. Rumah di Jalan Jawa yang sempit dan kusam di-nilai tidak layak buat pemimpin pemerintah. Rumah di Jalan Proklamasi itu lengkap dengan perabot-an sehingga Natsir dan keluarganya hanya membawa koper berisi pakaian dari Jalan Jawa.

Pada masa ini kehidupan keluarga Natsir sudah dibatasi protokoler. Rumah dijaga polisi dan sang Perdana Menteri selalu didampingi pengawal. -Pemerintah juga menyediakan pembantu yang membenahi rumah, tukang cuci dan masak, serta tukang kebun. “Semua fasilitas tidak membuat kami manja dan besar kepala,” ujar Lies.

Putri tertua Natsir yang saat itu duduk di kelas II sekolah me-nengah pertama tersebut tetap naik sepeda ke sekolah karena jarak-nya dekat. Adik-adiknya antar-jemput dengan mobil DeSoto yang dibeli dari uang sendiri. Ibunya masih melanjutkan belanja ke pasar dan kadang masak sendiri. Lies mengatakan keluarganya tidak pernah memanfaatkan fasilitas pemerintah, misalnya perjalanan dinas.

Contoh lain kejujuran Natsir selama menjadi pejabat negara didengar pula oleh Amien Rais, bekas Ketua Umum Muhammadiyah. Ketika masih mahasiswa, ia mendengar cerita Khusni Muis yang pernah menjadi Ketua Muhammadiyah Kalimantan Selatan.
Syahdan, Khusni menuturkan, ia pernah datang ke Jakarta untuk urusan partai (saat itu Muhammadiyah merupakan anggota istimewa Masyumi). Ketika hendak pulang ke Banjarmasin, ia mampir ke rumah Natsir. Tujuannya meminjam uang untuk ongkos pulang. Tapi Natsir menjawab tidak punya uang karena belum gajian. Natsir lalu meminjam uang dari kas majalah Hikmah yang ia pimpin. “Bayangkan, Perdana Menteri tidak memegang uang. Kalau sekarang, tidak masuk akal,” ujar Amien.

Tatkala Natsir mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri pada Maret 1951, sekretarisnya, Maria Ulfa, menyodorkan catatan sisa dana taktis. Sal-donya lumayan banyak. Maria mengatakan dana itu menjadi hak perdana menteri. Tapi Natsir menggeleng. Dana itu akhirnya dilimpahkan ke koperasi karyawan tanpa sepeser pun mampir ke kantong pemiliknya.

Dia juga pernah meninggalkan mobil dinasnya di Istana Presiden. Setelah itu, ia pulang berboncengan sepeda dengan sopirnya. Keluarganya pindah lagi ke rumah di Jalan Jawa setelah Natsir turun dari jabatan perdana menteri. “Kami kembali ke kehidupan semula,” kata Lies.

Pola hidup sederhana itu pula yang membuat anak-anak Natsir mampu bertahan saat suratan takdir mengubah hidup mereka dari kelompok “anak Menteng” menjadi “anak hutan” di Sumatera ketika meletus pemberontakan Pemerintahan Revolusio-ner Republik Indonesia/Perju-angan Rakyat Semesta.

Setelah periode hidup di hutan dan Natsir mendekam dari satu penjara ke penjara yang lain selama 1960-1966, keluarga mereka kehilangan rumah di Jalan Jawa, termasuk mobil DeSoto. Harta itu diambil alih seorang kerabat seorang pejabat pemerintah.

Mereka menjalani “kehidupan nomaden,” terus berpindah kontrakan, dari paviliun di Jalan Surabaya sampai rumah petak di Jalan Juana, di belakang Jalan Blora, Jakarta Pusat. Rumah itu cuma terdiri atas satu kamar tidur, ruang tamu kecil, dan ruang makan merangkap dapur.

Setelah Natsir bebas dari Rumah Tahanan Militer Keagung-an Jakarta pada 1966, ia membeli rumah milik kawannya, Bahartah, di Jalan Jawa 46 (sekarang Jalan H. O.S. Cokroaminoto), Jakarta Pusat. Rumah itu sebetulnya dijual dengan “harga teman”, tapi Natsir tetap tidak mempu-nyai uang. Alhasil, ia harus mengais pinjaman dari sejumlah kawan dan dicicil selama bertahun-tahun.

Teladan kesederhanaan tetap ia tunjukkan saat memimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada masa Orde Baru. Bekas Menteri-Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, yang ketika itu pernah menjadi anggota staf Natsir, menuturkan betapa bosnya acap ke kantor mengenakan kemeja itu-itu saja. Kalau tidak baju putih yang di bagian kantongnya ada noda bekas tinta, kemeja lain adalah batik berwarna biru.

Saat ulang tahun ke-80, Natsir memberikan wasiat kepada anak-anaknya supaya menjaga rumah keluarga di Jalan Cokro-aminoto 46 dan buku-buku karyanya. Lima tahun kemudian ia menutup mata selamanya. Setahun sepeninggalnya, kelima anaknya, Lies, Asma Faridah, Hasnah Faizah, Aisyahtul Asriah, dan Fauzie Natsir, sepakat menjual rumah peninggalan almarhum: mereka tidak sanggup membayar pajaknya.
sumber : islampos.com

Kecerdasan Umar bin Khattab Mengelola Keberanian

Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraisy. Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu, mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di tanah suci.

Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan Quraisy pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.

Continue reading Kecerdasan Umar bin Khattab Mengelola Keberanian

Menjadi Pemimpin, Perhatikanlah Ini

Ketika saya mengetikkan sebuah status di FB tentang keinginan saya menjadi salah satu pemimpin masa depan, saya mendapatkan salah satu link dari seseorang untuk membaca sebuah note dari seorang motivator handal saat ini, Mario Teguh. Saya ingin mengabadikan note ini, karena catatan ini adalah sebuah inspirasi bagi saya.

Di samping itu adalah foto dari dua sahabat kita yang saya ambil gambarnya dalam perjalanan dari Sukabumi ke Jakarta beberapa saat yang lalu. Mereka sedang asyik berbincang, yang mungkin berkenaan dengan kebaikan kehidupan yang ingin mereka sebabkan bagi keluarga dan masyarakat di mana mereka tinggal.

Super Note ini adalah dugaan saya mengenai esensi dari perbincangan ramah mereka, yang akan tetap memelihara kesantunan – bahkan dalam perbedaan prinsip yang krusial bagi kebaikan kehidupan bersama.

Please kindly enjoy, absorb, and apply

Jika engkau ingin menjadi pemimpin, jangan pernah mengabaikan keharusanmu untuk melayani bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang kau pimpin. Continue reading Menjadi Pemimpin, Perhatikanlah Ini

Menejeman Konflik (ringkas)

Kalau kita mau bicara jujur sama diri kita, siapa sih yang mau mencari-cari konflik. Rasanya malas dan kerajinan saja cari-cari konflik. Namun dalam realitanya, siapakah di dunia ini orang yang tidak pernah merasakan berkonflik.

Konflik itu pasti ada dan akan selalu ada. Tinggal masing-masing orang mengambil sikapnya masing-masing. Ada orang yang ketika mengalami konflik dia kabur, dia lari,atau berlagak tidak tahu. ada juga yang dengan gagah berani menciptakan konflik dan dia sendiri mati akibat konflik itu. Ada juga yang bersikap hati-hati dengan konflik, dan berusaha mencari jalan tengah. Tiap-tiap orang tentunya memiliki keyakinan yang berbeda-beda.
Continue reading Menejeman Konflik (ringkas)

Menjadi Pembicara Terbaik IV

Lumayan juga, ada juga yang bertanya tentang apa kaitan antara Pendengar terbaik dengan pembicara terbaik. Apa tulisan ini salah judul? atau enggak nyambung? Terima kasih buat Agas yang sudah memperhatikan.

Bagaimana sih rasanya kalau kita berbicara dengan orang yang mau mendengarkan cerita kita? Kelihatannya tulus, sungguh-sungguh mendengarkan. Enggak menilai. Enggak sok-sokan kasih saran. Setiap kali kita berbicara, orang itu kayaknya mengerti banget perasaan kita. Senang banget kan ?

Berapa banyak orang bilang yang bilang.. capek deh gw, gw sudah jelasin.. dia enggak ngerti-ngerti juga. Lebih capek lagi yang sedang dilanda jalinan asmara , sampai ngelamun – ngelamun di rumah.. kok kayaknya dia enggak ngerti gw.. enggak mau dengarin gw.. maunya menang sendiri. Oleh karena itu adalah idaman setiap orang kalau kita berbicara dengan mereka, kita mengerti mereka, merasakan apa yang mereka rasakan dan lebih lagi, memberi perhatian kepada apa yang mereka bicarakan. Siapa sih yang enggak senang di perhatikan? Kita dandan, pakai baju bagus-bagus atau apapun ujung2nya kan untuk mencari perhatian.

Enggak percaya? Coba kalau ada yang bilang hari ini agas ganteng.. pasti agas langsung berbunga-bunga. Kalau misal ada yang bilang asma bajunya bagus hari ini, pasti jalannya jadi miring-miring enggak kayak biasanya karena ke geeran mungkin. He he he. Itu tandanya sebenarnya kita memang mencari perhatian. hanya masalahnya enggak ada yang merhatiin aja! Sekalinya ada.. langsung terekam di dalam diri kita.

Oleh karena itu pembicara terbaik bukanlah orang yang banyak bicara dan tidak berhenti-henti bicaranya. Salah satu syarat mutlak untuk menjadi pembicara terbaik adalah dimulai dengan menjadi pendengar terbaik. Itu syarat mutlak. Bayangkan, bagaimana kita bisa maju ke tingkat berikutnya.. misalnya Persuasi atau bujukan. Bagaimana bisa membujuk orang, kalau kita Cuma memperhatikan diri sendiri bukan memperhatikan apa kebutuhan orang yang mau kita bujuk? Apa kita bisa berhasil..? pasti  akan gagal! Apalagi kalau bicara tentang bentuk komunikasi yang lain seperti retorika, lebih akan gagal total lagi. Bayangkan, ada seseorang berbicara di depan ratusan orang yang dia bicarakan adalah dirinya sendiri, siapa saya…. Maunya saya… perasaan saya.. apa orang mau dengarkan? Baru mulai 10 menit. Orang-orang sudah bubar. Sebaliknya apabila, orang yang berbicara di depan ribuan orang, mengucapkan kata-kata yang memang menjadi kebutuhan orang banyak, mengucapkan kata-kata yang meliputi perasaan orang banyak, tidak ragu-ragu lagi, orang-orang yang hadir akan terpikat dan tergerak untuk mengikuti ucapan-ucapan sang orator.

Kita tidak perlu bermimpi untuk menjadi seorang orator, ataupun seseorang yang bisa membujuk, selama kita belum lulus dari level empaty dan belum lulus dari level menjadi pendengar terbaik.

Lapor, saya sudah latihan kenalan 10 orang setiap hari. Semua sudah saya lakukan. Walaupun ada laporan seperti ini, belum tentu juga orang ini sudah lulus dari menjadi pendengar terbaik. Tolong di check dan di catat dalam2, selama kita masih mendominasi pembicaraan, porsi kita lebih dari 30% ketika berbicara dengan orang, berarti kita masih gagal menjadi pendengar terbaik. Selama kita masih berbicara… kalau saya begini.. kalau menurut saya begini…. berarti masih gagal menjadi pendengar terbaik.

Contoh: B.s beberapa hari lalu bertemu dengan seorang klien baru. Namanya Mr A. badannya besar, matanya menantang. Suaranya, lantang dan jelas. Di tangannya ada garis bekas jahitan panjang sekali.  Ketika B.s Bertemu dengan dia, B.s tidak bercerita tentang seberapa besar perusahaan, seberapa bagus perusahaan tempat b.s bekerja. B.s Hanya bertanya dan bertanya lagi dan mendengarkan dengan seksama.

Dalam pengalaman B.s, orang-orang yang matanya menantang suka sekali kalau bertemu dengan orang-orang tidak takut untuk menantang balik mata mereka. Jadi b.s pun menantang balik tatapan matanya ketika sedang berbicara dengan dia. Sedetikpun b.s tidak berkedip.

B.s bertanya kabar, mendengar cerita-cerita tentang bisnisnya. Setelah dia bercerita-bercerita , maka b.s bertanya kepada Mr. A. ..saya dengar suara aksen anda lain, bukan seperti orang-orang sini. Darimana anda berasal?.. maka dia jawab dengan tegas From Kiev , From Russia .

O pantas kamu berbeda, tau enggak salah satu film favorit saya, film yang paling memukau bagi saya adalah cerita tentang pahlawan dari Russia . Judul Filmnya Enemy at The gates….

O, I don’t know that movie…

Film itu, kata b.s lagi, bercerita tentang kota staliningrad yang hampir jatuh di tangan jerman, tapi kemudian Russia punya seorang sniper jitu yang luar biasa.

O, yes now I remember that movie. Maka diapun mulai bercerita tentang kebesaran Russia . Lalu b.s bertanya-tanya tentang isu-isu update bagaimana pandangan dia tentang Georgia yang milih bersekutu dengan nato. Lalu b.s bertanya lagi dan tentunya juga memuji2 kepemimpinan Vladimir putin yang bisa mengangkat kembali Russia (nah, di sinilah gunanya banyak membaca, mau bicara apapun.. akan selalu bisa menyambung). Dia tanya. B.s jawab sedikit, sisanya b.s tanya dia dan di jawab dengan cerita panjang lebar.

Sampai di salah satu kesempatan, dia menanggapi pembicaraan b.s lalu bercerita kenapa tangannya ada luka jahitan yang panjang.

Saya sedang berjalan menuju mobil, tiba-tiba seorang laki2 sudah mencengkram baju saya, dia berusaha merampok saya sambil teriak bangsat… pisaunya yang besar sudah mau menghunjam ke dada saya. Saya pikir saya sudah akan mati di tusuk waktu itu. Tapi ternyata dia mengancam saya dulu, saya tidak sempat berpikir lagi, saya ambil pistol di celana saya dengan tangan kiri.. Bum… dia rubuh, mati.

Tiba-tiba tangan saya sebelah kanan, terasa seperti sudah hilang, darah muncrat karena mengenai arteri saluran darah saya. Rupanya dari belakang, teman sang penodong sudah menembak dan mengenai tangan saya. Saya roboh, jatuh menimpa sang penembak. Segera saya tembak juga, mati orang tersebut. Orang ke tiga lari. Karenanya luka tembak mengenai arteri tangan saya, saya kehilangan banyak darah. Setelah sampai di rumah sakit, saya koma selama 10 hari antara hidup dan mati.

B.s ketika mendengarkan cerita ini, b.s dengarkan dengan seksama. Posisi duduk merapat kepada dia, memberi komentar seperti.. you are crazy.. wow.. apapun yang dia bicarakan b.s tanggapi dengan setulusnya, ketika dia menunjukkan luka-luka bekas jahitan. Tangannya pun b.s pegang. B.s raba-raba.

Dia menerangkan lagi setelah mendengar pertanyaan-pertanya an b.s, saya pernah 4 tahun ikut masuk jadi tentara di Russia . Jadi, itu sebabnya saya berespon dengan cepat. Ceritanya panjang, tapi kejadiannya tidak lebih dari 5 detik. Semua terjadi begitu saja. Waktu itu tahun 1999.

Setelah cerita panjang, tentang anak-anaknya, keluarganya, pengalaman hidupnya, hobbynya dia yang pergi main ice skating, kemudian aktivitas dia sekarang yang main boxing (tinju) maka B.s sampaikan bahwa b.s admire Courage/ hargai keberanian… dari lubuk hati yang paling dalam sangat senang bisa berjumpa orang yang punya keberanian. B.s sampaikan lagi.. You don’t know who you are, until you face the moment of the truthand in your case, you are a man of steel. That’s what you are made of. I really admire it.. tentu dengan anggukan-anggukan kepala seperti yang maulana sering tiru-tiru itu.

Ya begitulah kurang lebih menjadi pendengar terbaik sekaligus pembicara yang terbaik.. hm.. b.s enggak cerita banyak tentang b.s, enggak sibuk juga tentang nawarin bisnis. Tapi mau tau enggak apa respon dan tanggapan dia tentang b.s

Pertama, ini kutipan email yang dia kirim ke b.s “I will definitely will do trial business with you as I like you as a person.I had to fly to Germany to see my mom to sort some problem here,flying back on Sunday,so if we can postpone it for week after I will really appreciate it.”

Kedua, ketika b.s berbicara dengan dia, dia bilang belum pernah bisnis dengan negara Indonesia dan selalu dengan China . Sehingga kemudian b.s promosikan salah satu pabrik terbesar di Indonesia dan b.s kenalkan dengan regional managernya yang mengatur seluruh penjualan dari berbagai kantor di dunia. Setelah beberapa email dia merespon sebagai berikut  “Dear  Mr C., thank you very much for your kind offer , I accept it as I trust S. and he spoke very highly about you

Orang menjadi mau bisnis, mau mengambil dari Indonesia dasarnya karena apa, karena percaya sama b.s. Dasarnya apa percaya? Simple, Cuma gara-gara jadi pendengar terbaik saja. Can you do that?

Menjadi Pembicara Terbaik III

Bagaimanakah rasanya ketika kita yang tadinya seorang pendiam, atau seorang yang biasanya pasif berbicara atau bahkan sama sekali tergagap-gagap dalam berbicara, atau bahkan seorang yang over bicara, dengan kecepatan tinggi dan biasanya ngomongnya tidak bisa di tangkap temannya, tiba-tiba di wacanaka agar bisa menjadi pembicara di mulai dengan pembicara terbaik?

Rasanya tentunya, campur aduk! Antara bisa dan tidak bisa. Antara ragu iya atau tidak. Maju dan mundur. Kalau lagi semangat maju, kalau lagi down – ya mundur. Apalagi kalau di dalam diri kita, kita merasa bahwa latihan ini benar-benar bukan diri kita. Bukan gue banget. Sudah deh maka seribu macam imaginasi pikiran akan timbul dalam diri kita.

Bagi yang pendiam dan  cenderung reaktif, tentu untuk berkenalan dengan 5 orang susah. Satu orang saja susah, apalagi 5 orang. Maka otakpun kemudian bekerja, berpikir-pikir dan mulai berhitung-hitung. Kalau kita belajar tentang bagaimana cara otak kita bekerja, di sana di terangkan banyak hal. Dari conscious mind sampai subconscious mind. Dari zona comfort sampai zona uncomfort. Secara natural, otak mayoritas manusia tentu mengedepankan zona comfortnya. Apa artinya? Artinya kalau sudah comfort atau nyaman, maka kita tidak akan mau keluar dari situ. Lebih-lebih, nah ini perlu di catat, kalau kegiatan atau hal yang kita lakukan masuk ke zona un-comfort atau tidak nyaman. Spontan maka akan ada perlawanan dalam otak kita kepada diri kita sendiri. Otak langsung mengirimkan sinyal-sinyal kepada seluruh tubuh untuk tidak menuruti keinginan kita yang membawa diri kita kepada zona tidak nyaman tadi.

Contoh, yang kecil-kecil misalnya orang yang tidak biasa sholat, mulai mengerjakan sholat. Itu saja otak memberikan perlawanan, timbul segala macam alasan. Rasa malas. Rasa ngantuk. Pokoknya ada saja. Contoh lain, memakai jilbab. Bagi yang tidak biasa, ketika memulai memakai jilbab itu. Timbul perlawanan di dalam otak dan mengirim sinyal-sinyal ke tubuh sehingga Timbul rasa minder, rasa enggak yakin, rasa ragu-ragu. Contoh paling kecil dan kalau mau diingat, adalah ketika di LC, kemudian Indy sampai sebegitu bingungnya hanya untuk mematahkan pompa dragon dengan kepala. Yang terjadi di dalam diri Indy sebenarnya adalah, otak indy mengirim sinyal-sinyal kepada seluruh tubuhnya begitu melihat zona tidak nyaman yang akan di masukinya. Berbagai pikiran terlintas, berkecamuk. Itulah hasil kerja otak yang cenderung ingin tetap pada zona comfort. Otak itu berkata kamu tidak bisa. Kamu tidak bisa. Ini berat. Ini berat. Kamu tidak akan sanggup. Itulah cara otak berbicara kepada diri kita. Toh, pada saat itu juga terbukti otak berkata tidak benar. Ternyata indy bisa mematahkan pompa dragon itu. Begitu juga dengan Asma.

Bagi yang cenderung aktif, ngomongnya seperti kereta, tentu kebalikan. Otaknya itu mengirimkan sinyal-sinyal penolakan ketika orang tersebut berlatih untuk lebih tenang, lebih diplomatis, lebih banyak berpikir dahulu daripada berbicara yang cenderung tidak jelas ujung dan pangkalnya. Akibat sinyal-sinyal itu, maka seakan-akan badan menjadi cacing di rebus hidup-hidup, bawaaannya menjadi resah dan gelisah, tidak sabar ingin berbicara bukan hanya sebatas mendengarkan. Bahasa inggrisnya itu adalah Gregetan.

Semakin dalam kita tidak mampu berkomunikasi , apalagi tidak ada bakat menjadi pendengar terbaik maka semakin beratlah perjalanan kita ini. Kenapa berat? Karena yang kita lawan sekali lagi adalah otak kita sendiri yang terus mendoktrin diri kita untuk tetap bertahan dalam zona nyamannya.

Oleh karena itu sekali lagi, di Pemuda Al Azhar ada tiga kunci utama yang menjadi pokok-pokok dalam rangka mengatasi kendala ini.

Pertama, Sesuai janjinya musuh terbesar adalah diri sendiri. Yang di lawan pada fase ini adalah otak yang bekerja di zona nyamannya. Ingat enggak ketika kita baru belajar jalan? Ingat enggak ketika kita baru belajar naik sepeda? Berapa kali harus terjatuh. Berapa kali harus merasa sakit. Tapi toh kenyataannya kita bisa. Walau dalam perjalanan harus benjol atau memar-memar dulu sedikit. Kalau kita turuti zona nyaman otak kita, mungkin seumur hidup kita jalannya harus ngesot, mirip-mirip suster ngesot karena apa? Karena takut belajar jalan bisa jatuh nanti. Jadi kalau ketika kita mulai berlatih, terus otak mengirimkan sinyal-sinyal negatif, kamu akan di tolak, kamu enggak bisa, kamu enggak mampu, maka segera bunuh sinyal itu. Katakan kepada otak, ini tidak benar. Bismillah, segera eksekusi latihan. Tidak ada kata tidak bisa. Laa hawla Wala Quwwata illa billah. Ingat, musuh kita adalah diri sendiri.

Kedua, Kata kunci dalam keberhasilan adalah KEMAUAN. Itu karenanya berulang kali di tanyakan mau atau tidak? Mau atau tidak? Semakin besar kemauan maka semakin besar peluang kita untuk mengalahkan diri kita sendiri. Kalau kemauan kita lemah, carilah dan berkumpullah dengan orang-orang yang semangatnya besar.  Carilah orang-orang yang bisa memberi semangat. Jangan berkumpul dengan orang-orang yang tidak punye kemauan, nanti kita tambah hilang kemauannya. Kalau kemauan kita mengecil, maka ingatlah kembali sukses yang akan di peroleh kalau bisa nanti. Besarkan hatinya. Itu karenanya kemauan yang sudah ada di dalam diri kita itu harus di patri benar-benar untuk menjadi BAJA. Berhasil atau mati. Itulah tekad kemauan yang sudah menjadi BAJA.

Ketiga, rubah karakter model ayam sayur di dalam diri kita. Guru mengaji Bang sam berkata “orang sukses adalah orang yang berani”. Kata seseorang bijak “ dunia ini adalah milik para pemberani”. Bahkan bendera warna bangsa kita berwarna merah yang melambangkan keberanian. Kalau mau lihat bangsa-bangsa besar di dunia, mereka semua punya mental keberanian. Bangsa Skandinavia, penakluk daratan es. Beraninya luar biasa. Bangsa Cina, tidak bahasa inggris tapi kemana-mana di arungi sama dia. Berani!. Lihat orang-orang besar… semua mentalnya memiliki keberanian. Oleh karena itu, Salah satu karakter dasar Pemuda Al Azhar adalah Berani. Tanpa keberanian, kita sebenarnya sudah kalah sebelum bertempur. Tanpa keberanian, kita sudah mati walau masih bernafas. Jadi kalau di dalam diri anda, masih ada juga rasa takut, gentar, katakan kepada diri anda. Saya adalah Pemberani. Baca doa yang banyak. Baca Syahadat. Baca Laa Hawla wala quwwata illa billah dan eksekusi latihan. Jangankan kenalan dengan tukang becak, dengan presiden Negara manapun kita lakukan.

Jangan kalah sama diri –nya sendiri. Merdeka!!!

by : Sam

Menjadi Pembicara Terbaik II

Menjadi pendengar terbaik, tentunya bukan hanya mengandalkan sikap tubuh saja tapi juga attitude (perilaku kita) ketika kita sedang berbicara. Berikut ini beberapa attitude yang harus di pertahankan ketika sedang berlatih menjadi pendengar yang terbaik.

Pertama, memulai percakapan dan memberi senyum. Menjadi pendengar terbaik bukan artinya kita bersikap pasif, justru sebaliknya kitalah yang lebih dahulu menegur dan memberi senyum. Sikap ini klop dan pas sekali dengan ajaran Rasulullah yang menekankan keutamaan orang yang memberi salam lebih dahulu dan juga memberi senyum.

Kedua, memperhatikan dengan seksama apa yang sedang lawan bicara kita lakukan dan bicarakan. Sebagai contoh; kalau dia bicara tentang masalah rambut, maka kita ikuti saja pembicaraan tentang rambut, kalau dia bicara tentang jalan-jalan, maka kita ikuti saja permbicaraan tentang jalan-jalan atau kalau dia sedang mau menuju kelas, maka kita tanyakan apa mata kuliahnya saat ini, bagaimana dosennya, bagaimana pelajarannya. Kalau dia sedang mau pulang ke rumahnya, maka kita tanyakan biasanya naik apa, berapa lama naik kendaraan ke rumahnya, berapa lama sudah tinggal di rumahnya, dan seterusnya sepanjang ada kaitan dengan hal yang di sampaikan.

Ketiga, Tidak memotong pembicaraan lawan bicara. Kadang-kadang kita bosan sekali mendengar keterangan lawan bicara ataupun kita merasa bahwa lawan berbicara kita itu berbicara melantur dan hanya menghabiskan waktu saja. Nah, di sinilah kesabaran kita itu di uji untuk tidak memotong lawan pembicaraan dan terus memperhatikan dengan seksama apa yang di bicarakan. Di situlah kita paksa diri kita untuk melihat dari sisi orang yang sedang menyampaikan. Kenapa ya, kok dia bisa berpikir seperti ini? Apakah benar yang dia sampaikan? Apapun yang terjadi , jangan memotong pembicaraan lawan bicara.

Keempat, selama berlatih menjadi pendengar terbaik kita tidak boleh memberi komentar ataupun memberi nasehat-nasehat. Tugas kita hanya mendengarkan saja. Ini juga termasuk salah satu yang berat karena biasanya kita suka sekali sok tahu dan suka memberi nasehat-nasehat. Sebagai contoh, kalau ada seseorang yang menyampaikan sesuatu dan berbohong kepada kita, misalnya dia bilang bahwa di al Azhar sekarang ada 21 cinema. Kita tahu bahwa itu tidak benar, tetap saja kita ladeni menjadi pendengar terbaik. Kita katakan.. oh iya.. ya.. hebat juga sekarang di al Azhar sudah ada 21 cinema.. ada berapa studio di dalamnya?… . lalu di jawab ada 4 studio.. kita teruskana saja bertanya lagi.. Filmnya apa saja ya?… filmnya adalah… demikian di jawab sama orang itu. Jadi apapun yang terjadi posisi kita tidak menyalah benarkan ataupun memberi nasehat-nasehat. Berat pasti, tapi itulah bagian dari menjadi pendengar terbaik.

Kita belum bisa menjadi pendengar terbaik, sepanjang hal-hal yang di atas belum bisa kita lakukan. Kita berarti masih gagal mejadi pendengar terbaik. Oleh karenanya untuk menjadi pendengar terbaik itu memang benar-benar menguras stamina. Mencampur adukkan emosi yang ada di dalam diri kita. Beberapa dari teman-teman ketika berbicara dengan lawan bicara yang baru pertama kali berbincang, terasa sekali hanyut ikut merasakan kondisi emosi di dalam diri lawan berbicaranya. Seolah-olah mereka ikut merasakan pengalaman dan keadaan bathin lawan berbicaranya. Kondisi inilah yang sebenarnya di namakan sebagai KEMAMPUAN BER EMPATI. Pada saat itu mulai timbul dalam diri kita kemampuan untuk ber empati, yaitu bisa merasakan dan bisa mengetahui apa sesungguhnya yang ada dalam lawan bicara kita sehingga dengan demikian kita juga berupaya melakukan komunikasi yang sebaik-baiknya dengan dia.

Tentunya, kalau Cuma berlatih sekedarnya, empati ini tidak akan menjadi sebuah skill atau keahlian. Dia Cuma akan menjadi sesuatu yang kadang ada pada diri kita, kadang juga tidak ada pada diri kita. Nah, dengan melakukan latihan dengan frequensi yang konsisten dan dosis yang tepat, Empati ini bukan hanya menjadi sekedar kebetulan saja tapi juga menjadi skill bahkan menjadi bagian dari hidup kita yang benar-benar penting.

Bayangkan, kalau kita mau di interview, namun kita sudah bisa mengetahui apa yang ada di dalam perasaan dan pikiran orang yang mau interview kita, apa tidak mudah bagi kita untuk memberikan kesan dan pesan yang tepat. Bayangkan, kalau kita hendak mencari sponsor yang besar dan kita bisa mengetahui apa yang di inginkan dari diri dia kepada kita, apakah proposal kita tidak akan menjadi tepat. Itulah antara lain apa yang bisa di raih dengan kemampuan ber empati.

Kemampuan berempati yang telah menjadi tacit knowledge, atau benar-benar masuk menjadi bagian dari diri kita memiliki level yang berbeda. Pada taraf tertentu, kita bisa mengetahui dan merasakan setelah sedikit mendengar lawan kita berbicara. Pada taraf lebih  tinggi lagi, hanya dengan memandang sorot mata dan sikap tubuh tanpa orang itu berbicara kita sudah mengetahui dan merasakan apa yang ada dalam diri dir. Pada taraf lebih tinggi lagi, bahkan hanya dengan melihat bagaimana orang itu berjalan kita sudah mengetahui apa dan bagaimana orang tersebut.

Kemampuan ini bisa di raih karena, sekali lagi karena di dalam diri kita sudah tersedia referensi yang banyak setelah berlatih bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Tanpa latihan dengan porsi yang benar, seenak-enaknya, maka lebih cenderung seperti kebanyakan orang, orang ini tidak akan bisa memiliki kemampuan ini. Mungkin saja orang ini tahu secara teori, namun secara praktek dia tidak bisa. Kalaupun dia memaksakan diri untuk berbicara, kita lebih bisa katakana orang ini sebenarnya sok tahu dan sok bisa.

Semakin lama kita tidak memenuhi target dalam latihan, maka semakin lama juga kita akan benar-benar lulus dari posisi menjadi pendengar terbaik menjadi memiliki kemampuan berempati yang tinggi.

Kalau kita benar-benar berniat menjadi pendengar terbaik, maka kita harus perhatikan sikap tubuh dan perilaku kita dan berlatih dengan dosis yang benar. Kalau itu tidak tercapai, maka tentunya kita bukan bersikap diam. Tapi mengevaluasi diri, kenapa? Kenapa tidak sanggup mencapai itu? Itulah yang harus di bedah.. kenapa tidak sanggup? Itulah yang harus di diskusikan. Tanpa melalui porsi yang tepat dan latihan yang sebaik-baiknya maka kita sebenarnya sedang menyia-nyiakan waktu saja.

By : Sam

Menjadi Pendengar Terbaik I

Tanpa terasa, sudah 4 bulan sejak leadership camp ke 2 berlalu. Masih segar di ingatan bang sam tentang janji –janji dan banyaknya komitmen-komitmen yang di berikan dengan suara lantang dan gagah berani. Bahkan, katanya saat itu, itulah di mulai era baru  dengan membuka lembaran kejujuran bagi diri sendir dan Stop berbohong kepada diri sendiri.

Kesuksesan memang mahal harganya. Sebagai seorang muslim yang hidup di era globalisasi, kita di tuntut untuk bisa hidup dengan sukses. Sukses di dunia dan sukses di akhirat. Namun apalah arti sukses tersebut, kalau kita dapatkan dengan cara-cara berbohong. Kita akan sulit misalnya, kalau  belum apa-apa saja, kita sudah memulai dengan berbohong kepada diri kita sendiri. Oleh karenanya di leadership camp, kejujuran terhadap diri sendiri memang merupakan kunci awal dari perjalanan panjang toward global leader

Nabi Muhammad adalah orang jujur, orang yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong. Dia antithesis dari karakter bohong. Jadi, kalau kita masih juga memupuk terus kebohongan-kebongan terhadap diri kita, sebenarnya kita masih memupuk perlawanan diri kita kepada Nabi Muhammad dan membangun istana kekafiran dalam diri kita.

Apa benar kita sudah jalankan kata-kata kita? Janji kita? Komitmen kita? Mungkin kita bisa bersikap seolah-olah kita tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menjadi janji dan komitmen kita, tapi Allah kan tidak buta, tidak tuli dia Maha Menyaksikan dan Maha mendengar.

Beberapa teman-teman yang sudah mencoba praktek komunikasi dan berlatih terus, memberi pertanyaan kepada B.s. apakah saya sudah menjadi pembicara terbaik? Bagaimanakah ciri-cirinya?

Secara fisik, ciri-ciri pendengar terbaik ini bisa di perhatikan dari hal-hal sikap tubuh.

Pertama, eye contact. Mata itu memandang orang yang sedang berbicara dengan kita. Jadi kalau benar-benar menjadi pendengar terbaik, maka mata itu tidak boleh lirik kanan, lirik kiri. Mata kita hanya tertuju kepada orang yang sedang berbicara kepada kita. Ingat enggak, betapa kita sering sebal kalau bicara sama orang, orang itu matanya malah kemana-mana ketika kita sedang berbicara. Jadi kalau kita sedang berbicara sama orang, pastikan dia memang merasa kita beri perhatian sepenuhnya. Di mulai dari eye contact itu

Kedua, sikap tubuh. Waktu kita berbicara kepada orang, yang terbaik pastikan posisi tubuh kita menghadap orang yang berbicara dengan kita. Jadi. Sebisa mungkin tubuh kita posisinya menghadap orang yang berbicara sama kita. Bagaimana kalau kita di metro? Di angkot misalnya? Ya, itulah dia, ketika kita berupaya menghadapkan tubuh kita ke lawan bicara, walaupun tidak full, sedikit saja. Tapi lawan bicara kita menjadi tahu,bahwa kita benar2 berusaha mendengarkan dia dengan baik.

Ketiga, Anggukan kepala (head nodd). Maul sering kali meniru-niru bang sam dengan cara angguk-anggukan kepala. Padahal angguk-anggukan kepala itu bukan ada rahasia apa-apa melainkan itu sebagai sebuah feedback. Bayangkan misalnya kalau maul cerita, terus yang mendengarkan tidak memberi respon apa-apa. Diam , statis. Sulitkan? Tapi dengan memberi tanda anggukan saja itu sudah termasuk salah satu cara memberi feed back bahwa kita memahami yang sedang terjadi.

Keempat, Kaki. Perhatikan juga, bahwa ketika sedang berbicara , kakinya jangan di goyang-goyang. Selain mengganggu orang yang sedang berbicara, gerakan ini juga memberi kesan bahwa kita tidak serius mendengarkan orang yang sedang berbicara

Kelima, tangan. Tangan sesekali boleh di gerakkan, misalnya menggaruk2 kepala untuk memberi respon.. wah ini susah sekali ya.. wah ini perlu pikiran berat… dan lain sebagainya untuk menguatkan ekspressi bahwa kita bersungguh-sungguh mendengarkan cerita orang yang ada di hadapan kita. Namun jangan juga berlebih-lebihan. Tips paling anyar tahun ini adalah, kalau sudah niat berlatih komunikasi untuk menjadi pendengar terbaik. Silahkan simpan hp anda di kantong dan tolong di beri mode silent. Jangan sekali-kali tengak tengok hp anda atau ketika sedang berbicara , tiba-tiba hp berdering. Beri silent mode atau kalau perlu off. Jadi tangan jangan kegatelan kutak-katik hp kita di lawan berbicara.

Nah, coba di evaluasi lagi dan saling mengingatkan apakah sikap tubuh sudah mencerminkan bahwa kita adalah seorang pendengar terbaik? Cari kelemahan diri sendiri dan bukan mencari-cari kelemahan orang lain. Itulah yang paling penting saat ini.

by : Sam