Category Archives: Munakahat Notes

Rahasia Cium Tangan dan Cium Kening

Tahukah kawan..
Kenapa lelaki musti mencium kening istri dan lalu…. istri musti mencium tangan suaminya?

Sedikit penjelasan ini akan membuat kehidupan rumah tangga kita semakin harmonis dalam dekapan keimanan nan ketaatan. 🙂

Continue reading Rahasia Cium Tangan dan Cium Kening

Advertisements

Nak, Ibu Ingin Bicara soal Memilih Perempuan

Allaahu yaa Rahmaan, yaa rahiim. Dia lah sumber inspirasi kasih sayang tiada batas dan tanpa menuntut balas. Dalam terminolgi asmaus sifat, 2 asma Allah tersebut tadi bersumber dari 1 kata sifat yakni Rahmah.. Yang secara sederhana berarti kasih sayang yang (memberi walau tak diminta, memberi melebihi yang diminta, dan memberi tanpa mengharap imbalan).

Berikut ini adalah Surat dari seorang ibu, untuk anaknya. Sang Ibu bukan seorang muslim, tapi fitrahnya sebagai manusia makhluk ciptaan Allah yaa rahmaan yaa rahiim, menuntun hatinya menuturkan nasihat untuk anaknya. Mari ambil yang baik, nilai-nilai universal yang sesuai dengan agama kita, dan tinggalkan yang kurang berkenan. Ditulis oleh Ellen Maringka pada kompasiana muda, yuk simak.

Nak,

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki-laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more…

Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh.

Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that.

Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu  :Contohilah ayahmu.

Soal cewek, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.

Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini…

Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.

Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan.

Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki…

Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life.

Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah. Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya.

Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…

–  Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.

Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik….  Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…

Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya.

Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?.

Perlu waktu untuk menilai ini semua. Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buruTake your time… give time enough time.

– Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.

Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi….

Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian.

Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary…

Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair…

Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan.

– Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you.

Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna.

Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.

For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)

Hmm.. Yap, nasihat ini penuh kejujuran hati seorang ibu. Siapapun ibu, pasti memiliki rasa yang sama terhadap anaknya. Semoga nilai-nilai baik mampu dipetik hikmahnya dengan penuh ketawadhu’an, penuh penghormatan. Dan yang sesuai dengan agama kita, kita ikuti penuh ketaatan, baik tentang etika adab menghormati Ibu (ortu), maupun dalam memilih calon ibu bagi anak-anak kita, semata-mata karena Allah SWT dan rasulNya saw telah tuntunkan. Barakallaah. *ntms

Nasihat: Dialogku denganmu

Jikapun harus berproses, tak hentinya si musuh nyata (setan) mengusik dan membayang. Setiap sisi kehidupan akan coba ia gelincirkan kita dari petunjukNya dengan berbagai macam cara. Sisi pernikahan pun tak luput, bahkan menjadi fitnah (ujian) terbesar. Maka, untukmu yang ku cinta walau sebenarnya cinta itu pun sulit untuk ku definisikan dan kumengerti sendiri. Ketahuilah, logika ini serasa lumpuh.

Meski begitu, misteri hati dan waktu memiliki domain yang tak kalah rumit mendifiniskannya. Aku pun tak pernah kuasa memahami ujung jari Ar Rahmaan yang membolak balikkan hati dan menguasai waktu. Apapun itu, untukmu sekali lagi… untukmu yang ku cintai, izinkan dalam lisanku terbilang apa yang pernah Ust Felix sampaikan…

01. maukah engkau menjadi istriku dan kelak ibu bagi anak-anakku? | “pertanyaan itu aku tak tahu jawabannya sekarang, mungkin nanti..”

02. bukan bermaksud memaksa namun jawabmu adalah penenang bagi hatiku | penghapus asa bila tidak dan penambat harap bila iya

03. “kita tidak saling mengenal” | benar, namun siapapun yang mengenal Tuhannya akan saling mengenal

04. “engkau belum mengetahui semua tentang diriku” | benar, namun sebagian kecil yang sudah kuketahui sudah cukup bagi diriku

05. “engkau dan aku berbeda segala-galanya” | biarlah perbedaan jadi penambah rahmat, asalkan sama-sama kita dalam taat

06. “entahlah aku belum pasti, aku belum yakin” | ini pernikahan yang kita berdua belum pernah menjalaninya, kita sama dalam rasa

07. “bila nanti kita hidup susah?” | susah bersamamu dalam taat akan jadi cerita indah, nikmat maksiat sekarang akan jadi sesalan musibah

08. “aku takut, ragu, gundah” | ragu, gundah, takut, risau itu ujian, sedangkan pengetahuan itu obatnya, bertanyalah pada-Nya

09. “mengapa harus aku?” | tidak harus engkau, hanya saja manusia bisa memilih, dan akupun juga boleh memilih

10. “apa yang engkau harapkan dariku?” | mempercayaiku dalam jalan Allah, mendukungku dalam taat, patuh padaku dalam syariat, itu cukup

11. “bila satu saat aku membantahmu?” | aku mungkin akan marah, namun aku akan bersabar padamu, aku haramkan tanganku atas wajahmu

12. “bila satu saat aku mengecewakanmu?” | Rasulullah mengajarkan berbaik padamu, mengajarmu dengan lisan Al-Qur’an dan sunnah Nabi

14. “apa yang engkau larang dariku?” | semua yang dilarang Rasulullah saw

15. “bagaimana engkau memperlakukan diriku kelak?” | aku akan memperlakukanmu sebagaimana ayahmu menjagamu, menyayangimu, mendidikmu

16. bagaimana denganmu? apa yang engkau pinta dariku? sekarang dan kelak? | “dengarkan hamba Allah..”

17. “uang, harta, kemewahan, popularitas, semua bukan sebabku menikah, namun taat, patuhlah pada Allah | maka akupun padamu begitu”

18. “bila ada bagian dunia yang Allah titipkan padamu maka jadikanlah ia bagian dakwah | kita hidup hanya sementara dan tak lama”

19. “bila ada panggilan Allah maka tinggalkanlah aku | InsyaAllah aku berharap ada waktu bersamamu selama-lamanya nanti”

20. “aku akan mendukungmu saat ada disampingku | mempercayaimu saat engkau terpisah dariku”

21. “percayakan bagiku anak-anakmu untuk kujaga dan kudidik | begitu juga harta dan kehormatanmu aman bersamaku”

22. “jadilah lelaki pemberani menghadapi manusia tapi takutlah pada Allah | muliakan aku sebagaimana engkau muliakan ibumu”

23. “jangan kecewakan amanah dari ayahku | didiklah aku, peringatkan aku | namun mohon dengan lisan kelembutan”

24. “jangan cintai aku karena aku bisa saja berubah | cintai Tuhanku dan minta Tuhanku untuk mengajariku mencintaimu”

25. “sesungguhnya aku hendak membuat bidadari-bidadari surga cemburu kepadaku | maka bantulah aku…”

Jika dialog di atas telah terbilang, dan kau setuju. Maka, mari melangkah dengan basmallaah …

Katakan YA untuk Menikah

Duh, lagi-lagi seorang gadis, berjilbab putih, menangis di kursi konsultansi :

“Lelaki yang kucintai tak mau menungguku untuk menyelesaikan Studi S3-ku untuk menikah denganku. Kini ia meninggalkanku. Hiks…”

Dan ternyata deritanya nggak sampai di situ :

“Lalu aku berkenalan dengan lelaki lain, baru beberapa bulan. Ia bersedia menikah denganku, asal kelak aku hanya menjadi ibu rumahtangga saja. Dan ketika aku tolak, dia meninggalkapannku”.

Gadis di depanku, ia sangat ingin menikah. Namun tampaknya ia tak siap untuk berkorban besar demi sebuah pernikahan. Mungkin menurutnya gelar doktor dan karir yang menjanjikan di masa depan terlalu besar untuk dikorbankan demi sebuah mahligai. Atau, mungkin dia tak paham seberapa besar arti sebuah pernikahan itu sendiri.

Pernikahan, sungguh besar. Dari sanalah lahirnya kehidupan, kemanusiaan, lalu peradaban. Maka, ia patut memperoleh perhatian besar dan pengorbanan besar. Harga mahal untuk sebuah manfaat kemanusiaan yang besar adalah pantas, bahkan itulah yang adil. Rasulullah SAW menimbangnya sebagai “setengah agama”. Karena, separuh dari perintah agama yang bermacam ragam ini dapat diwujudkan dengan satu kata : “menikah !”. Pada pernikahan ada cinta, taat, ikhlas, syukur, istiqamah, ikhtiar, sabar, berbakti, jihad, manfaat, mendidik, ridha dsb. Bukankah itu setengah agama ?

Alhasil, orang yang patut menikah hanyalah orang yang mengutamakan pernikahan itu sendiri, lebih dari yang lain. Saya dapat mengijinkan orang yang belum siap menikah karena butuh waktu mempersiapkannya. Tapi saya tak pernah tertarik memproses pernikahan seseorang yang berkata :

“Tunggu dulu, kebetulan karirku lagi bagus-bagusnya”

Bukan apa-apa. Orang semacam ini kalau toh menikah, usia pernikahannya sulit tahan lama. Karena ia tak berani mengorbankan yang terbaik dari dirinya, demi sesuatu yang terbaik bagi peradaban.

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Berkata “Ya !” pada pernikahan, adalah mahar atas pernikahan itu sendiri. Dan karena mahar itu seringkali menuntut pengorbanan, maka kata “ya” bahkan berubah menjadi “Aku terima…” : Qabiltu…

Sebegitu berat dan menyakitkankah pengorbanan bagi pernikahan itu, sehingga banyak yang tidak siap bahkan menampiknya ?

Mungkin… Ia mungkin seberat pengorbanan yang harus dipikul nabiyullah Ibrahim as yang diminta untuk menyembelih sang putra yang telah ia nanti kehadirannya sejak lama. Tapi, percayalah… Seringkali pengorbanan yang Allah minta hanyalah sebuah “gertak” untuk menguji keseriusan hambanya. Sebagaimana Ismail as yang tak jadi disembelih, pengorbanan yang Allah tantang juga sering tak jadi Allah tagih. Bahkan Allah balas dengan sebuah karunia besar.

Jadi, keputusan menikah adalah keputusan jenial yang gemilang

Maka, katakanlah “Ya !” pada pernikahan…

Sumber : Pak Adriano Rusfi Pembina Islamic Humanity

Menikahlah

Sekedar berbagi nikmat yang dikaruniakan Allah, sekaligus menguatkan Mukmin yang menikah betul-betul karena Allah. Jangan pikir nikah itu mudah, dan jangan pikir semua indah. Justru sesudah nikah sebaliknya malah, harus lebih sabar dan istiqamah. Tapi tentu juga nggak sesulit yang dikatakan, yang jelas perlu ilmu dan keikhlasan

Saya jadi Muslim tahun 2002 dan baru 2006 menikah. Jadi 4 tahun ditempa dan bersabar sebelum menikah. Selama 4 tahun itulah saya halqah, dakwah, dan dibebani amanah, belajar jadi pemimpin di organisasi, bersiap untuk hari depan.

Niat saya menikah di tahun 2002 setelah Muslim kandas, karena kedua orangtua merasa saya belum pantas. Maka dari 2002 itulah saya serius menyiapkan diri bukan hanya untuk menikah, memburu ilmu menjadi seorang imam, suami dan ayah.

Semua buku keteladanan Rasul sebagai suami saya lahap, juga belajar dari senior dakwah yang sudah menikah dan jadi teladan. Alhamdulillah tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Dakwah menghantarkan saya berjumpa Ummu Alila.

Dengan uang 1,5 juta di tangan berikut 5 juta hibah papi-mami, majulah saya ke jenjang pernikahan yang sudah dinanti. Setelah menikah hasilnya luar biasa, tak terduga. 1,5 juta hanya cukup sampai 2 bulan saja.

Bulan ke-3 saya dan Ummu Alila gelandangan tunakarya. Biasanya cari kerja begitu mudah, Allah uji saya apply kerja kemana-mana ditolak. Sampai-sampai Ummu Alila yang sudah biasa jadi guru les privat, terpaksa saya terjunkan lagi untuk apply bantu cari duit.

Walhasil, Ummu Alila yang sudah 4 tahun berpengalaman jadi guru privat, juga ditolak ketika apply di 2 perusahaan, behh… rasanya. “Ini ujian Allah”, saya sampaikan pada Ummu Alila, sementara tagihan-tagihan bulanan terus berdatangan tak peduli.

Pagi pergi bawa map apply kerja sampai sore, pulang Ummu Alila menanti dan kita tetep kere. Akhirnya pas 3.5 bulan setelah nikah menjelang lebaran, Allah memberikan jua yang dinanti-nanti, penghasilan. Nggak tanggung-tanggung, saya jadi pedagang emas, waktu itu oktober 2006, dan emas yang saya jual emas kawin Ummu Alila.

Saya inget betul, emas kawin berupa gelang dan beberapa cincin, laku 2.3 juta kita jual di Toko Emas “Cong”, Gabus, Pati Jawa Tengah. Kita jalani lagi hidup dari hasil jualan emas kawin namun justru Ummu Alila bertambah menawan 

Jujur saya malu jadi suaminya Ummu Alila saat itu, nggak mampu menafkahi lahir dengan mencukupi, tapi Ummu Alila selalu menguatkan komitmen nikahnya, “ummi akan selalu mendukung dan menurut pada abi”

Tentu sebagai suami saya tidak berdiam diri, segala koneksi dihubungi, cara dicoba, namun Allah rupanya masih kehendak menguji. Ditengah-tengah semua itu saya mendapatkan kabar gembira, Ummu Alila hamil! masyaAllah saktinya saya. “Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan”, terngiang-ngiang ayat Allah, terasa begitu istimewa berbarengan kabar itu, “aku akan jadi seorang abi!”

Kita periksakan kehamilannya setiap minggu, walau uang untuk makan saja tak cukup seminggu. Ketika pemeriksaan yang kedua, dokter berkata “ehm.. (something wrong nih), pak, bu, saya menemukan keanehan pada kehamilan. Kehamilan ibu disinyalir “blighted ovum”. Langsung lemes saya, nggak perlu tau artinya saya langsung lemes.

“Janinnya hampir 2 bulan pak, tapi nggak bertumbuh dan nggak ada detak jantung”, kali ini saya bener-bener lemes. Kita cari 3 dokter kehamilan untuk second dan third opinion, semua sama, bayi yang ada di perut Ummu Alila sudah tak bernyawa.

Sepulang dari 3 dokter dan beberapa kali pemeriksaan medis Ummu Alila kontan menangis agar bisa terima realita. Anaknya harus dikuret, perlu uang 3 juta lagi. Pertanyaannya dari mana? tabungan nggak ada? kerjaan nggak punya? MasyaAllah ternyata turunnya bantuan sekali lagi lewat papi-mami. Kita dikasi pinjeman lunak (nggak tau sampe kapan bayarnya) 3 juta.

Kebayang nggak malunya lelaki? sudah nikah masih merepotkan orangtua? Rasanya nggak ada harganya, bener-bener hina. Sepulang Ummu Alila dikuret, kita jatuh bangkrut lagi. Apalagi yang mau dijual? Masak mas kawin cincin juga mau dijual?

Saya lupa ceritakan, saat nikah Ummu Alila punya motor honda impressa. Dia beli second dengan harga 6 juta. Motor itulah yang juga saya jual, honda impressa bobrok tapi motor dakwah, sudah ratusan kilo mengantar saya dakwah. Honda impressa tahun 2000, laku 3 juta saja sudah ok.

Sering saya dan Ummu Alila mengais-ngais laci mencari keping-keping 500, melengkapi lembar ribuan lusuh buat ditukar nasi padang. Anak nggak jadi punya, penghasilan nggak ada, sedih sih iya tapi nggak sempet depresi, kita masih inget Allah.

Halaqah terus dilanjut setiap minggunya, darimana uang bensin? Alhamdulillah saat itu saya dibayar 50.000/bulan mengajar kajian kitab. Bahkan tahun 2007 saya dapat jatah zakat. “Lix, ini saya ada uang 400 ribu buat antum, semoga manfaat”. Terdiam saya. Terdiam bukan apa tapi mikir, mau nerima malu nggak nerima perlu. Akhirnya saya jawab “Jazakallah, Allah balas yang lebih baik”.

Dari situ saya mengetahui Allah memang Maha Memberi Rezeki, dan kebanyakan lewat tangan orang lain yang jarang kita syukuri. Adakalanya saya berpikir “bener nggak jalan yang sudah saya pilih? jalan dakwah?” Apalagi saat ketemu sanak saudara yang udah kaya. Ada yang sudah jadi kepala cabang, ada yang sudah jadi manager, sementara Felix? yang masuk Islam itu? gelandangan!

“Terlalu idealis sih!” “kamu aneh sih, asuransi nggak mau, bunga nggak mau”. Liat mereka sudah mapan semua, minder rasanya. Namun ketika bertemu dengan para ustadz kembali diingatkan, “Terus kalau udah punya semua mau apa? inget Lix, bedain mana sarana mana tujuan!”

Sampai suatu hari saya masih inget juga, ada anak baru pindahan dari bogor ke JKT. Saya ajak nemenin saya ngisi di senen. Di boncengan motor belakang saya dia bilang, “Mas, terus kalo mas nggak kerja dan dakwah mulu, keluarga makannya gimana?”. Saya berusaha tenang, “Bukannya nggak mau kerja mas, mungkin Allah belum kasih (dalam hati saya mengingat semua penolakan kerja). Tapi yakin deh, Allah pasti kasih jalan”. Saya menutup diskusi itu, getir.

Sore itu dia menemani saya, jadi MC di acara kajian salah satu STIE di senen. Waktu itu materinya “The Way To Belief”. Sepulang kajian, direktur operasionalnya menemui saya, “Ustadz Felix mau ngajar disini?”

Kayak disiram air, dihati bersorak, Alhamdulillah, “Bisa pak, insyaAllah bisa”. “Ustadz Felix bisa ngajar apa?”. “Apa aja pak!”. Ngajar Matematika Dasar bisa pak?”. “InsyaAllah pak, kapan mulainya?”. “Besok interview ya pak!”. Ya Allah, secercah harapan.

Sepulangnya saya mampir di kramat kwitang, buku second murah, beli “Matematika Dasar” seharga 25.000, saya pelajari ulang. Kelak modal 25.000 itulah saya jadi dosen favorit Matematika Dasar dan mengantongi 2 juta honor pertama saya bulan depannya. Allah selalu kasih jalan selama Dia masih izinkan kita hidup. Kalau sudah nggak dikasi berarti Allah pengen ketemu kita  simpel kan?.

Singkat cerita, waktu demi waktu kehidupan semakin membaik, ada jalan selama ada sabar, dan usaha terbaik. Menikah pasti banyak halangan dan hambatan, karenanya ilmu agama wajib jadi bekal kedepan. Penuhi kewajiban kepada Allah, juga penuhi hukum sebab-akibat di dunia.

Lelaki yang memahami agama, tentu nggak akan lemah terhadap dunia. Uang bisa dicari bila ada ilmunya, ketidakpastian di masa depan pernikahan jadi ringan karena paham agama. Dengan ilmu ujian jadi pelajaran, dengan ilmu kesulitan jadi penguat keimanan.

Singkat cerita, hari ini berlalu sudah 5 tahun semenjak saya jual motor istri saya. Alhamdulillah hari ini saya bisa mengganti motor Ummu Alila, tunai tanpa leasing, ganti motor yang terjual karena lemahnya saya.

felix

Hari ini bukan motor yang jadi cerita, tapi ucapan terimakasih atas segenap cinta. Terimakasih Ummu Alila atas kesabaran dan penerimaan, atas kesempatan boleh memimpinmu dalam jalan kehidupan. Demikian Allah beri ganti 4 anak atas 1 yang diambil, 3 di foto 1 di kandungan, dan kenikmatan tiada tara.

(Kisah Ustadz Felix Siauw).

Nadzar tak sekedar Ta’aruf

Nazhar (nadzor), melihat langsung sang calon.

Sebuah pernikahan yang dimulai dengan hanya mengandalkan rasa saling percaya di dalam suatu masyarakat menjadi penuh resiko di kelak kemudian hari. Apalagi hari ini, ketika kita mudah oleng, tak teguh berpijak pada wahyu dan nurani. Beberapa halaman lewat, pada tajuk Berkelana dalam Pilihan kita sudah menyimak kisah Habibah binti Sahl yang akhirnya memilih mengajukan pisah dari suaminya, Tsabit ibn Qais. Mengapa? Habibah mengukur kekuatan dirinya yang ia rasa takkan sanggup bersabar atas kondisi suaminya yang menurutnya, ”Paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya.”

Ya, masalahnya adalah Habibah belum pernah melihat calon suaminya itu. Belum pernah. Sama sekali belum pernah. Mereka baru bertemu setelah akad diikatkan oleh walinya. Sebelum berjumpa, dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. Dan harapan itu, karena ketidaksiapannya, karena ia belum pernah melihat sebelumnya, menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan. Mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum pernikahan terjadi. Ia punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk bersiap. Ia punya waktu untuk, kata Sang Nabi, ”Menemukan sesuatu yang menarik hati pada dirinya.”

Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn ’Abdillah mendengar RasulullahShallallaahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang membawanya menuju pernikahan.” Maka ketika Jabir hendak meminang, ia rahasiakan maksudnya, dan ia melihat kepada wanita Bani Salamah yang hendak dinikahinya. Ia menemukannya. Hal-hal yang menarik hati pada wanita itu, yang mebuatnya memantapkan hati untuk menikahi.

Al Mughirah ibn Syu’bah Radhiyallaahu ’Anhu, sahabat Rasulullah yang masyhur karena kehidupan rumahtangganya yang sering dilanda prahara sejak zaman jahiliah, suatu hari ingin meminang seorang shahabiyah, seorang wanita shalihah. Maka Sang Nabi pun berkata padanya, ”Lihatlah dulu kepadanya, suapaya kehidupan kalian berdua kelak lebih langgeng.”

Subhanallah, inilah pernikahan terakhir Al Mughirah yang lestari hingga akhir hayatnya. Padahal sebelumnya entah berapa puluh wanita yang pernah menemani hari-harinya. Penuh dinamika dalam nikah dan cerai. Itu di antaranya disebabkan ia tak pernah melihat calon isterinya sebelum mereka menikah. Maka dengan menjalani sunnah Sang Nabi, Al Mughirah mendapatkan doa beliau, mendapatkan ikatan hati yang langgeng dan mesra. Demikian disampaikan kepada kita oleh Imam An Nasa’i, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi.

Dari mereka kita belajar bahwa syari’at mengajari kita untuk nazhar. Melihat. Melihat untuk menemukan sesuatu yang membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Melihat untuk menemukan sebuah ketertarikan. Itu saja. Bukan mencari aib. Bukan menyelidiki cela. Bukan mendetailkan data-data. Lihatlah kepadanya. Itu saja. Tentu dengan mestarikan prasangka baik kita kepada Allah, kepada diri, dan kepada sesama.

Di jalan cinta para pejuang, kita melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya..

Keluarkan Kucing dari Karungnya

jangan kau kira cinta datang

dari keakraban dan pendekatan yang tekun

cinta adalah putera dari kecocokan jiwa

dan jikalau itu tiada

cinta takkan pernah tercipta,

dalam hitungan tahun, bahkan millenia

-Kahlil Gibran-

Jika nazhar telah kita lakukan, sungguh kita telah mengeluarkan kucing dari karungnya. Tak lagi membeli kucing dalam karung. Karena kucing juga tak suka dimasukkan dalam karung. Karena kita juga tak ingin menikah dengan kucing.

Tapi nazhar itu cukuplah sedikit saja.

Adalah Malcolm Gladwell, wartawan The New Yorker yang setelah sukses dengan buku Tipping Point-nya, lalu berkelana penjuru Amerika untuk menulis dan merilis buku barunya, Blink: The Power of Thinking without Thinking. Buku tentang berfikir tanpa berfikir. Buku tentang dua detik pertama yang menentukan. Yang dengan pertimbangan dua detik itu, keputusan yang dihasilkan seringkali jauh lebih baik dari riset yang menjelimet. Dalam bukunya, Gladwell membentangkan puluhan riset yang kuat validitasnya dari berbagai ilmuwan terkemuka untuk menjabarkan tesisnya.

Dua detik pertama mencerap dengan indera itu menentukan. Mahapenting.

Sejalan dengan riset-riset yang dibabarkan Malcolm Gladwell, Kazuo Murakami, ahli genetika peraih Max Planck Award 1990 itu berkisah bahwa para ilmuwan yang begitu tekun belajar untuk menguasai disiplin ilmunya hingga ke taraf ahli, acapkali tak pernah menghasilkan penemuan besar. Justru ilmuwan yang ‘tak banyak tahu’ seringkali menghasilkan dobrakan-dobrakan mengejutkan. Penemuan akbar.

“Mengapa terlalu banyak tahu terkadang menghalangi kita?”, kata Murakami dalam buku The Divine Message of The DNA. “Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.”

Padahal seringkali dengan banyaknya informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang berguna dan mana yang tak bermakna menjadi menurun. Otak kita bingung menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah. Sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi adalah kunci dari semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu banyak hal. Cukup mengetahui yang penting saja.

Begitu juga tentang calon isteri, calon suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang penting saja.

Alkisah, seorang lelaki hendak menikah. Maka satu hal saja yang ia persyaratkan untuk calon isterinya; memiliki tiga kelompok binaan pengajian yang kompak padu. Ketika mereka bertemu untuk nazhar sekaligus merencanakan pinangan, sang wanita berkata, “Maaf, saya tidak bisa memasak.” Ini ujian Allah, batin si lelaki. Bukankah dia hanya meminta yang memiliki binaan pengajian? Mengapa harus mundur, ketika sang calon tak bias memasak?

“Insyaallah di Jogja banyak rumah makan”, begitu jawabnya sambil menundukkan senyum.

“Dan saya juga tidak terbiasa mencuci.”

Kali ini senyumnya ditahan lebih dalam. Kebangetan juga sih. Tapi ia tahu, ini ujian. Maka katanya, “Insyaallah di Jogja banyak laundry.”

Ia, sang lelaki tahu apa yang penting. Kejujuran. Keterbukaan. Itu sudah ditunjukkan oleh sang wanita dengan sangat jelas, sangat ksatria. Ia berani mengakui tak bisa memasak dan tak bisa mencuci. Tanpa diminta. Dua hal yang kadang membuat lelaki rewel. Tetapi dia adalah lelaki yang berupaya selalu memiliki visi dan misi. Maka dia mendapatkan sesuatu yang berharga; seorang wanita yang memiliki tiga kelompok binaan kompak padu. Dan itu sangat berarti bagi visi dan misinya dalam membangun keluarga. Selebihnya, siapa juga yang mencari tukang cuci dan tukang masak? Yang dia cari adalah seorang isteri, bukan kedua macam profesi itu.

Dan tahukah anda? Setelah pernikahan berjalan beberapa waktu, ketika merasa diterima apa adanya oleh suami tercinta, sang isteripun mencoba memasak. Ternyata ia pandai. Hanya selama ini ia tak pernah mencoba. Masakannya lezat, jauh melebihi harapan sederhana sang suami. Begitu juga dalam hal-hal lain. Banyak kejutan yang diterima sang suami. Jauh melebihi harapan-harapannya. Dulu, dia memang tak terlalu banyak tahu tentang calon isterinya. Ia cukup mengetahui yang terpenting saja.

Dua detik itu sangat menentukan. Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama. Segera. Jangan ditunda-tunda.

by. @salimafillah

Sholeh dan Shalehah Dahulu

memeDalam fase dua-puluh-an ini, pernikahan adalah salah satu topic yang amat sering dan penting dalam setiap perbincangan. Kadang, apabila kita sibuk bercakap soal ini dan itu, apa saja temanya, ternyata berakhirnya sering sekali pada hal menikah. Kapan nikah? Sudah nikah apa belum? Dan berbagai soal yang berkaitan dengan hal itu (-_-) J.

Ya, begitulah kehidupan, mungkin ibarat buah yang telah masak, telah sampai waktunya itu dipetik.

Akhil balig, sering disinonimkan dengan kedewasaan dan pernikahan. Yap, katanya sudah sampailah masanya. Lagi-lagi, memperbincangkan topik ini memang Seru !

Tapi, bukan soal kita lantas bisa menikah begitu saja setelah baligh, karena haruslah dibarengi dengan ilmu bab munakahat (pernikahan) itu sendiri agar nantinya tidak kesulitan dalam memahami amanah hak dan kewajiban setelah menikah.

Continue reading Sholeh dan Shalehah Dahulu

Calon Pendamping Surga

Kami, bukan pribadi yang tanpa cela. Bukan pula malaikat, yang selalu taat. Aql ini dikaruniakan sebagai ujian sekaligus menjadi alat untuk mengukur derajat kesyukuran kita kepada Dzat yang menggenggam nyawa pemilik jiwa, hingga menggolongkan diri ini menjadi golongan orang-orang yang bertaqwa.

Sedikit share catatan dari sang pemilik hati yang lembut, untuk mereka yang masih membelajari hatinya agar melembut.

*

“Bila dirimu sekarang sedang menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju ridha-Nya, bersabarlah dengan keistiqamahan. Demi Allah dia tidak datang karena kecantikan, ketampanan, kepintaran ataupun kekayaanmu. Akan tetapi Allahlah yang akan menggerakkan hatinya. Janganlah tergesa-gesa untuk mengekspresikan cinta kepada dia sebelum Allah mengizinkan. Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu. Siapakah yang lebih mengetahui selain Allah? Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap hati rapat-rapat. Allah akan menjawab dengan lebih indah, pada saat yang tepat.”

Continue reading Calon Pendamping Surga

Barangkali Kitalah Penyebabnya

Bismillah..

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalani aktifitas kita sehari-hari..
Nah, teman2, kali ini saya akan memuat sebuah catatan, yang insya Allah akan memberikan hikmah dan juga penyegaran bagi pembaca..insya Allah.. kali ini, pembahasannya adalah tentang Munakahat,,

“Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah”

Seminar Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Continue reading Barangkali Kitalah Penyebabnya

Mahar Paling Indah

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah saudariku muslimah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.

Maraji:
Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),
Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)

***

Artikel http://www.muslimah.or.id