Category Archives: Nasihat

Ghirah

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.

Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh
Oleh : Dr Agus Setiawan

“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

Advertisements

Doa Empat Ribu Tahun

“Ya RasulaLlah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

Continue reading Doa Empat Ribu Tahun

Surat Untuk Presiden: SIKLUS PACEKLIK DAN CELAH-CELAH BERKAH

Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia

Keselamatan, kasih sayang Allah, dan kebaikan yang tiada henti bertambah semoga dilimpahkan ke atas Ayahanda Presiden,

Sungguh benar bahwa cara terbaik menasehati pemimpin adalah dengan menjumpainya empat mata, menggandeng tangannya, duduk mesra, dan membisikkan ketulusan itu hingga merasuk ke dalam jiwa.

Tapi tulisan ini barangkali tak layak disebut nasehat. Yang teranggit ini hanya uraian kecil yang semoga menguatkan diri kami sendiri sebagai bagian dari bangsa ini untuk menghela badan ke masa depan yang temaram.

Mengapa ia di-kepada-kan untuk Ayahanda; harapannya adalah agar huruf-huruf ini kelak menjadi saksi di hadapan Allah dan semesta akan cinta kami kepada Indonesia. Syukur-syukur jika ia mengilhami para pemimpin yang berwenang-berdaulat, untuk melakukan langkah-langkah yang perlu bagi kemaslahatan kami. Dan bermurah hatilah mendoakan kami Ayahanda, agar jikapun kami hanya rumput yang kisut, ia tetap dapat teguh lembut dan tak luruh dipukul ribut bahkan ketika karang pelindung kami rubuh lalu hanyut. Continue reading Surat Untuk Presiden: SIKLUS PACEKLIK DAN CELAH-CELAH BERKAH

Nasihat Orang-orang Shaleh

Apa Nasehat Emas Enam Perkara Dari Orang-Orang Sholeh

1. Umar bin Khattab Ra. berkata, Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara:

a. Merasahasiakan ridha di dalam ketaatan seorang muslim, sehingga ia akan mengerjakan setiap hal yang diperintahkan Allah.

b. Merahasiakan marah-nya di dalam perbuatan maksiat seseorang. Sehingga ia akan berusaha menjauh dari segala perbuatan maksiat.

c. Merahasiakan lailatul qadar didalam bulan ramadhan, supaya setiap orang selalu giat di dalam mencarinya.

d. Merahasiakan wali-Nya dari pandangan orang awam, supaya mereka tidak menghina dan merendahkan semua orang. Karena jika yang direndahkan itu sebenarnya wali Allah, tentu yang menghina akan mendapatkan ancaman yang menakutkan dari Allah.

e. Merahasiakan umur sesorang, agar setiap orang bersiap-siap untuk menghadapi kematian.

f. Merahasiakan shalat wustha, agar setiap orang berusaha mencarinya di dalam semua shalat lima waktu.

Continue reading Nasihat Orang-orang Shaleh

Surat Terbuka Untuk Pak JK

Kami Menggugah Anda, Pak JK

Assalaamu’alaykum wr wb.

Kepada ayahanda kami, Jusuf Kalla yang kami hormati.

Bulan ramadhan yang baru saja berlalu, adalah sebuah momentum kita untuk semakin dekat dengan Allah karena buah dari berpuasa selama satu bulan penuh tersebut adalah pribadi yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Pribadi muttaqin adalah pribadi yang senantiasa memperhatikan apa yang ia lakukan. Apakah Tuhannya ridlo dengan apa yang sedang ia upayakan, ia amalkan. Hati, lisan, dan perbuatan seluruhnya ia berhati-hati agar tidak sia-sia bahkan menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Semua ia lakukan karena ketaqwaannya (ketakutannya) kepada Tuhannya.

Pak JK yang kami sayangi,

Tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan asasi bagi setiap insan. Insan beriman – apapun agamanya – akan berusaha memuliakan sebaik-baiknya tempat di mana ia bisa beribadah dan menguatkan keimanannya, tempat di mana ia adalah simbol kehormatan dan identitas dirinya, tempat di mana ia mampu berharap menjadi pribadi yang membaik untuk membangun negerinya serta semakin membuatnya dekat kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan jika tempat ibadah saudara muslim kita di Tolakara menjadi terbakar karena diricuhkan dan diserang sekelompok kristian / oknum yang tak bertanggung jawab.  Sungguh toleransi negeri yang mayoritas muslim ini ternoda kembali. Dan itu terjadi justru ketika umat Islam merayakan hari raya dan ibadah Jumat 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT. Padahal telah menyejarah pasal 29 UUD 1945 memaktubkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Pak JK yang kami banggakan,

Syawal adalah bulan di sebagian ulama memaknakan sebagai bulan yang (naik) meningkat. Meningkat kualitas pribadi, meningkat kualitas iman, meningkat derajat kedekatan kita kepada Tuhan. Salah satu tandanya adalah dengan semakin baiknya ia bertutur kata, semakin bijaknya ia memecahkan masalah, semakin teguhnya ia berpihak kepada agamanya. Bulan ini pembuktian awal dari hasil pendidikan / tarbiyah di bulan ramadhan. Sudah sepantasnya ia menjaga jiwa yang mengharapkan kebaikan untuk dirinya dengan cara membela agamanya.

Pak JK yang kami rindu ketegasannya,

Ketika kerusuhan telah terjadi, muslim jelas menjadi korban. Adalah sakit hati ini ketika tak kunjung ada ketegasan dari sosok pemimpin yang pernah menjadi cahaya dakwah Islam di nusantara ini. Sosok yang menjadi kebanggaan para dai dengan kepemimpinannya di Dewan Masjid Indonesia. Saudara-saudara sebangsa kita dari sebagian kelompok kristiani telah melakukan pembakaran ke ruko-ruko ketika saudara-saudara semiman kita sedang melaksanakan shalat ied. Terkaget dengan teriakan dan berhamburan membubar karena hujanan lemparan batu sehingga api yang membakar menjalar mengenakan mushallaah yang ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Kejadian ini menyebabkan para saudara muslim kita bersedih tak dapat melaksanakan shalat idul fitri dengan khusyuk. Dan kesedihan yang lebih pedih adalah kejadian ini dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kami tak henti-hentinya meminta kepada para tokoh, pemuka agama untuk mampu meredakan situasi karena kami faham betul masyarakat Tolikara dan rakyat Papua adalah pecinta damai. Tidak mungkin ada kerusuhan kecuali ada provokasi dari pihak tertentu.

Pak JK,

Ternyata benar. Setelah kami teliti oleh rekan dakwah seperjuangan kami, dan juga telah kami konfirmasi kepada tokoh dai di Papua, kerusuhan tersebut adalah buah dari provokasi sistematik dan terencana. Telah diadakan pertemuan rahasia di hutan oleh segenap misionaris dari Ambon, Maluku, dan lainnya yang hasilnya adalah instruksi pelarangan shalat ied kepada umat islam di wilayah Tolikara. Kami kira Pimpinan GIDI juga terlibat terbukti dengan adanya surat edaran tertembus kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, Danramil Tolikara. Dari sini kami merasa lebih sakit nan teriris-iris di mana praktik intoleran tak mampu dibendung padahal tertembuskan informasi kejahatan tersebut kepada pihak-pihak yang secara konstitusi seharusnya mampu menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kami menuntut agar seluruh pelaku dan oknum-oknum yang terlibat dalam insiden ini ditangkap dan diberikan hukuman yang adil. Kami juga meminta kepada Menteri agama untuk mengganti Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Papua yang ada di wilayah bagian Papua karena itu bagian dari kejahatan yang tidak mampu mereka cegah.

Pak JK yang kami rindu ketangkasannya dari dulu,

Ada sebuah kisah, terjadi ketika masa Nabi Ibrahim as. Seekor burung pipit dengan susah payah menyimpan air di paruhnya, ketika sang Raja Namrud dengan gagah nan angkuhnya sedang membakar Ibrahim as.  Semua heran dan dalam suatu riwayat diceritakan adalah malaikat bertanya “Wahai burung pipit, untuk apa kamu membawa butiran air kecil itu? Tidak akan ada gunanya dibandingkan dengan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim as”. Lalu dengan penuh tangkas nan tenang serta jernih sang semut itu menjawab “Memang air ini tak akan bisa memadamkan api itu. Tapi dengan ini paling tidak semua tahu bahwa aku di pihak yang mana. Dan inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan”.

Pak JK, bapak kami,
Teringat nasihat Dai Salim A Fillah kepada bapak beberapa bulan yang lalu, betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Ketika kerusuhan itu terjadi, masyarakat membutuhkan jawaban dan sikap dari seorang bapak, seorang pemimpin yang mengayomi dan menenangkan. Betapapun kami telah tahu menurut bapak adalah sebuah speaker menjadi penyebab kerusuhan itu, tapi kami tak tahu apakah bapak telah sempat meninjau lokasi? Masjid dan bangunan kios yang sudah terbakar menjadi debu. Kami membutuhkan keberpihakan bapak yang memiliki otoritas lebih besar, sebagai seorang muslim, mukmin, seperti La Ma’daremmeng, Raja Bone XIII, sebelum masa kepemimpinan Sultan Hassanuddin, semoga Allah menyayanginya, yang kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Bapak,
Kini muslim di sana tidak lagi merasa aman, nyaman dan tentram dalam beribadah. Mereka membutuhkan keberpihakan kita dalam bahu membahu membantu membangun kembali apa yang telah dirusak. Kami menggugah kepada segenap muslim nusantara, juga kepada Pak JK untuk berpihak dan peduli. Muslim di sana membutuhkan uluran tangan kita untuk meneguhkan hati, mengeratkan ukhuwah Islamiah, bukan opini dan pernyataan-pernyataan yang memanas. Muslim di sana butuh kita untuk turun tangan menguatkan cahaya Islam di Negeri Nuu War (Papua). Muslim di sana butuh pemimpin Negara yang adil dan terdepan menegakkan hukum kebenaran. Semua ini demi mengokohnya persatuan bangsa, menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai luhur PANCASILA.

Salam hormat dari kami,
Agastya Harjunadhi
Kendal, 19 Juli 2015.

dimuat di Islampos, dan media islam lainnya.

Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Melihat judulnya saja tentu kita yang belum mengikuti berita terkini akan bingung. Lho ada apa dengan Sherina? aktor fav pemirsa Indonesia dahulu yang sukses dengan film Petualangan Sherina dengan nyanyian-nyanyiannya kok ditajuk menjadi “indahnya keluarga tanpa sherina”?

Berikut ini tulisan menarik dari @opiniym untuk mengetengahkan duduk persoalan tentang Sherina, keluarga dan isu yang sedang ia bawa. Menarik ulasannya.

SEORANG rekan semasa kuliahnya begitu menyukai Sherina Munaf. Kala itu, nama penyanyi ini tengah melambung seusai membintangi filmPetualangan Sherina. Rekan saya ini mengagumi kualitas vokal berikut pelbagai bakat seni yang melekat pada sang bintang cilik.

Saya tidak tahu apakah dia menggemari sang bintang hingga berangan kelak anak-anaknya mengikuti jejak ataukah tidak. Kemampuan musikal teman saya memang memadai, termasuk kesungguhannya belajar biola. Sebuah keterampilan seni yang sepintas jarang diambil oleh para aktivis dakwah, apatah lagi kalangan Muslimah. Klik seni yang kuat, ditambah kecerdasan si bintang cilik, menguatkan asumsi saya bahwa dia bisa saja mengikuti segala perkembangan ‘idolanya’ semasa kuliah ini. Bukan buat dirinya, melainkan bagi buah hatinya. Continue reading Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Syair Yang Membuat Imam Ahmad Menangis

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ditanya oleh muridnya Abu Hamid Al Khulqani mengenai syair. Bagaimana pendapat beliau terhadap syair-syair yang menyebutkan tentang surga dan neraka.

Imam Ahmad rahimahullah balik bertanya, “Seperti apa contohnya..?”

Lalu Abu Hamid Al Khulqani melantunkan syair…

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني ؟

و تخفي أذنب عن خلقي و بالعصيان تأتيني؟

Usai dua bait tersebut Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Coba kau bacakan lagi..!”
Maka Abu Hamid mengulangi kembali bait yang telah dia bacakan sebelumnya, yang artinya adalah :

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak…
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepada-Ku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-Ku…
Sedangkan dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

Setelah itu Imam Ahmad rahimahullah masuk ke rumahnya. Beliau tutup pintu dibelakangnya.
Kata Abu Hamid, “Aku mendengar beliau menangis, sembari beliau mengulang melantunkan bait-bait itu.”

“Kami mendengar tangisan Imam seolah-olah beliau akan mati,” muridnya meriwayatkan.

Lengkapnya syair tersebut adalah sebagai berikut.

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني..؟

وتخفي الذنب من خلقي و بالعصيان تأتيني..؟

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak,
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepadaku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-makhluk-Ku,
Sedang dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

فكيف أجيب يا ويحي ومن ذاسوف يحمين..؟

Maka bagaimanakah aku bisa menjawabnya, dan siapakah yang bisa melindungiku..?

أسلي النفس بالآ مال من حين الى حيني…

وأئس ما وراء الموت ما ذ ايعد تكفيني..؟

Aku sentiasa menenangkan perasaanku dengan angan-angan dari waktu ke waktu,

Sedangkan aku lupa apa yang terjadi selepas kematian, apakah yang cukup untukku..?

كأني قد ضمنت العيش ليس الموت يأتيني…

Seolah-olah aku telah dapat menjamin akan terus hidup, dan ajal tidak akan datang…

وجاءت سكرة الموت الشديدة من سيحميني..؟

Apabila tiba saatnya maut itu datang, siapalah yang dapat mencegahnya dariku..?

نظرت الى الؤجوه أليس منهم من سيفديني..؟

Aku hanya mampu melihat wajah-wajah didepanku…
Adakah seseorang diantara mereka yang bisa menebusku..?

سأ سأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني.

Aku akan ditanya apa yang telah aku persembahkan di duniaku dahulu yang dapat menyelamatkanku.

فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني…

Bagaimana jawabanku setelah aku lupakan urusan agamaku…

ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني..؟

Oh, celakanya..! Apakah aku tidak pernah mendengar kalam Allah yang menyeruku..?

ألم أسمع لما قد جاء في قاف و يس..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar kandungan Surah Qaf dan Surah Yasin..?

ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar tentang hari berhimpun, perkumpulan, dan hari pembalasan..?

ألم أسمع منادي الهوت يدعوني يناديني..؟

Tidakkah pernah aku mendengar penyeru kematian yang mengajakku dan memanggilku..?

فيارباه عبد تائب من ذاسيؤويني..؟

Wahai Rabb-ku, inilah seorang hamba yang bertaubat, siapakah yang sanggup menerimanya..?

سوى رب غفور واسع للحق يهديني.

Kecuali Allah yang Maha Pengampun, yang luas ampunan-Nya, yang sentiasa memberikan pedoman ke jalan kebenaran.

أتيت إليك فارحمني وثقل في موازيني.

Aku datang kepada-Mu, maka beratkanlah neraca timbanganku.

وخفف في جزائي أنت أرجى من يجازيني.

Ringankanlah pembalasanku karena kepada-Mu sajalah paling diharapkan kebaikan apabila melakukan pembalasan.

(Dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad hal. 205 oleh Ibnul Jauzi)

Ekstase Mi’raj

Sekiranya ku menjadi Muhammad
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ’Arsyi
-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-

Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya. Continue reading Ekstase Mi’raj

Penjelasan Sederhana Bacaan Quran Lagam Jawa

Pembacaan alquran dengan lagam Jawa di Istana negara dalam rangka peringati Isra Mi’raj baru-baru ini ramai dibicarakan dan menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Dari kalangan intelektual yang berkapasitas juga saling bersuara mengambil sikap. Ada yang pro, ada yang kontra. Menag pun angkat bicara dan mengaku bahwa ini adalah idenya dengan berpendapat bahwa bacaan quran dengan lagam Jawa secara hukum boleh.

Tapi, apakah boleh itu berarti perlu bahkan harus dilakukan?

Continue reading Penjelasan Sederhana Bacaan Quran Lagam Jawa

Kami Muak dan Bosan

“Kami Muak dan Bosan”.

Dahulu di abad-abad yang silam
Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian
Alamnya indah,gunung dan sungainya rukun berdampingan,
pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan
Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan
Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan
Dan kesetiakawanan
Semuanya ini fondasinya adalah
Keimanan

Tapi,
Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok,
Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu
Negeri penyogok dan koruptor,
Negeri yang banyak omong,
Penuh fitnah kotor
Begitu banyak pembohong
Tanpa malu mengaku berdemokrasi
Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi
Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji
Continue reading Kami Muak dan Bosan