Category Archives: Pemikiran Islam

Ghirah

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.

Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh
Oleh : Dr Agus Setiawan

“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Melihat judulnya saja tentu kita yang belum mengikuti berita terkini akan bingung. Lho ada apa dengan Sherina? aktor fav pemirsa Indonesia dahulu yang sukses dengan film Petualangan Sherina dengan nyanyian-nyanyiannya kok ditajuk menjadi “indahnya keluarga tanpa sherina”?

Berikut ini tulisan menarik dari @opiniym untuk mengetengahkan duduk persoalan tentang Sherina, keluarga dan isu yang sedang ia bawa. Menarik ulasannya.

SEORANG rekan semasa kuliahnya begitu menyukai Sherina Munaf. Kala itu, nama penyanyi ini tengah melambung seusai membintangi filmPetualangan Sherina. Rekan saya ini mengagumi kualitas vokal berikut pelbagai bakat seni yang melekat pada sang bintang cilik.

Saya tidak tahu apakah dia menggemari sang bintang hingga berangan kelak anak-anaknya mengikuti jejak ataukah tidak. Kemampuan musikal teman saya memang memadai, termasuk kesungguhannya belajar biola. Sebuah keterampilan seni yang sepintas jarang diambil oleh para aktivis dakwah, apatah lagi kalangan Muslimah. Klik seni yang kuat, ditambah kecerdasan si bintang cilik, menguatkan asumsi saya bahwa dia bisa saja mengikuti segala perkembangan ‘idolanya’ semasa kuliah ini. Bukan buat dirinya, melainkan bagi buah hatinya. Continue reading Indahnya Keluarga Tanpa Sherina Munaf

Pendidikan Islam untuk Keluarga di Era Globalisasi

Catatan Kajian Malam Selasa tanggal 4 Mei 2015 di Masjid Jogokaryan bersama Dr. Adian Husaini.

Masalah pendidikan Islam menjadi perkara yg aktual. Inilah jantung kebangkitan Islam.

Kita masuk dalam globalisasi yg luar biasa. Kata seorang ulama dari India, belum pernah umat islam mengalami ujian iman seperti saat ini. Padahal beliau mengatakan ini di tahun 70-an. Kalau sekarang?

Continue reading Pendidikan Islam untuk Keluarga di Era Globalisasi

Di Balik Fatwa Buya Hamka tentang Natal

Beberapa waktu lalu, aksi kristenisasi di Indonesia menuai berbagai kecaman dan meresahkan masyarakat, terutama umat Islam. Masih hangat di ingatan kita, seorang nenek berjilbab yang sedang berjalan kaki dalamCar Free Day (CFD), tiba-tiba dijegat dan dipaksa berdoa kepada Yesus oleh misionaris.[1] Kemudian pada kasus lain, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) tidak menyetujui aturan Polri tentang pemakaian jilbab bagi Polwan.[2] Tampaknya kristenisasi di Indonesia bak barang bekas yang terus didaur ulang.

Sebab sejak masa penjajahan, negeri muslim terbesar di dunia ini dibidik sebagai sasaran empuk oleh Misi Kristen. Ketika penjajah Portugis berhasil menduduki Malaka, Panglima Perang Alfonso Dalbuquerque berpidato,

 “Adalah suatu pemujaan yang sangat suci dari kita untuk Tuhan dengan mengusir dan mengikis habis orang Arab dari negeri ini, dan dengan menghembus padam pelita pengikut Muhammad sehingga tidak akan ada lagi cahayanya di sini buat selama-lamanya,”

Kemudian disambungnya,” Sebab saya yakin kalau perniagaan di Malaka ini telah kita rampas dari tangan kaum muslimin, habislah riwayat Kairo dan Mekkah, dan Venesia tidak akan dapat lagi berniaga rempah-rempah kalau tidak berhubungan dengan Portugis.”[3] Continue reading Di Balik Fatwa Buya Hamka tentang Natal

Akar UIN yang Terlupakan

Siapa sangka, awal berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) -sekarang UIN- di Indonesia, tak lepas darigentlement agreement (perjanjian luhur) bangsa ini yang dinamakan Piagam Jakarta. Pada tahun 1960, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.11 tentang pembentukan IAIN yang dalam Perpres ini tercantum pertimbangan pertamanya sebagai berikut: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut, untuk memperbaiki dan memadjukan pendidikan tenaga ahli agama Islam guna keperluan Pemerintah dan masjarakat dipandang perlu untuk mengadakan  Institut Agama Islam Negeri.” [1]

Seperti diketahui, bunyi Piagam Jakarta kita sebagai berikut:

“Pembukaan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa , dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannnya. Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk  memajukan kesejahteran umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.”[2]

Menurut Perpres 11/1960, IAIN adalah merupakan penggabungan antara Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (Jogjakarta) No.34 tahun 1950, dengan Akademi Dinas Ilmu agama (ADIA), yang dibentuk atas Penetapan Menteri Agama No.1 tahun 1957.

Tujuan pembentukan IAIN sendiri disebutkan dalam pasal 2, Perpres 11/1960 yaitu “IAIN tersebut bermaksud untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam.

Dalam Perpres ini juga dijelaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang mayoritas muslim sangat penting menerima pendidikan agama Islam. Sebab bagi Indonesia, Islam selain sebagai agama, juga “merupakan dan sudah meluluh  adat-istiadat jang meresapi segala aspek hidup dan kehidupannja. Dengan demikian mempertinggi taraf pendidikan dalam lapangan  Agama dan Ilmu pengetahuan Islam adalah berarti mempertinggi taraf kehidupan bangsa Indonesia dalam lapangan kerochanian (spirituil) dan ataupun dalam taraf intellektualismenja.”

Hingga pada tanggal 2 Rabi’ul Awal 1380 H bertepatan dengan 24 Agustus 1960, Menteri Agama K.H. Wahib Wahab meresmikan pembukaan IAIN “al-Djami’ah al-Islamijah al Hukumijah di sebuah tempat yang dahulu menjadi ibukota negara ini dan dijuluki Kota Universitas, yaitu Yogyakarta.

Dalam acara peringatan sewindu IAIN pada tahun 1968. K.H. M.Dachlan, Menteri Agama  yang juga Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kala itu, memberikan pidatonya yang begitu menggugah dan mencerahkan. K.H. M.Dachlan katakan:

“Institut Agama Islam Negeri  pada permulaannja merupakan suatu tjita-tjita jang selalu bergelora di dalam djiwa para Pemimpin Islam jang didorong oleh hadjat-kebutuhan terhadap adanja sebuah Perguruan Tinggi jang dapat memelihara dan mengemban adjaran2  Sjariat Islam dalam tjorak dan bentukjna jang sutji murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian jang mendalam tentang hukum-hukum Islam sebagaimana jang dikehendaki oleh Allah Jang Maha Pengasih dan Penjajang . ”

K.H. M.Dachlan juga menyebutkan tujuan lain IAIN adalah untuk membasmi tahayul dan khurafat yang telah ditimbulkan oleh kelalaian kita akan ajaran Allah dan kurangnya pengertian generasi kita terhadap tujuan Islam yang suci murni.

Lebih dari itu, K.H. M.Dachlan menegaskan pentingnya memelihara semangat untuk melawan penjajahan dalam dunia pendidikan.

“Di dalam rapat2 sering kami djelaskan, bahwa di masa pendjadjahan kita telah berhidjrah (non Cooperation/tidak kerdja sama) dengan pendjadjah, akibat sikap yang demikian itu kita tidak menjekolahkan anak2 kita di dalam Sekolah2  jang diadakan oleh Kaum Pendjadjah. Sebaliknja anak-anak kita semuanja beladjar dan mendapatkan pendidikan di Sekolah2 Agama (Madrasah2 dan Pesantren jang kita adakan sendiri) karena kita mendjaga djangan sampai anak2 kita keratjunan dengan pendidikan/peladjaran yang diberikan oleh pendjadjah dimasa itu, dimana anak2 ditjiptakan untuk menjadi hamba2 pendjadjah untuk menjadi orang-orang jang membantu pendjadjah di dalam usahanja  memprodusir manusia2 robot untuk kepentingan mereka,” kata K.H. M.Dachlan.

Mengapa institut ini diikuti nama ‘Islam’? kata K.H. M.Dachlan:

“Nama Islam jang dihubungkan dengan Institut ini, djuga merupakan suatu manifestasi tentang adanja suatu ikatan jang kokoh kuat dan jang telah berakar-berurat didalam djiwa kita semuanja, jaitu dalam hubungan seorang Muslim dengan sesama saudaranja, jang tak dapat dipisahkan karena berlainan darah, berlainan bahasa, berlainan warna, berlainan tanah air (Negara) dan sebagainja, hal mana telah mengikat kesatuan Ummat Islam satu dengan lainnja, sehingga Agama, kehormatan dan harakat-martabat Ummat Islam terlindung oleh ikatan jang teguh kuat itu, jang menjebabkan orang2 dan penguasa tyrani dimasa lampau tak berani menjentuh badan djasmani kita dengan suatu siksaan atau pukulan, karena kita telah menjadi satu badan, bilamana suatu anggota tubuh badan itu ditjubit orang, maka seluruh badan tersebut akan merasakan pedih dan sakitnja.”

Dalam kesempatan itu, K.H. M.Dachlan  membeberkan tantangan dan rintangan yang berat dalam upaya mendirikan IAIN yang menurutnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak menghendaki kemajuan Islam. Oleh karena itu, K.H. M.Dachlan mengingatkan bahwa sejak awal dilahirkan, IAIN senantiasa berusaha dan bekerja keras untuk mengisi otak dan jiwa angkatan muda dengan mental Islam dan membeberkan kepada mereka sejarah Islam yang sebenarnya, karena generasi muda telah melalaikan atau belum mengetahuinya.[3]

Begitu berkobar-kobar tokoh Islam memperjuangkan agamanya dalam pembentukan IAIN ini. Begitu besar harapan mereka kepada generasi muda agar kelak menjadi cendekiawan dan ulama yang tinggi ilmu dan kuat mental Islamnya.

Tapi kini apa yang terjadi di IAIN/UIN? Mengejutkan! Pada tanggal 27 September 2004 di Fakultas Ushuluddin IAIN Bandung diadakan acara ta’aruf mahasiswa baru. Sejak mahasiswa baru memasuki ruangan fakultas ini dan menaiki panggung, seorang mahasiswa yang menjadi pembawa acara untuk fakultas itu menyambut dengan perkataan “Selamat bergabung di area bebas tuhan.”

Tak kalah heboh saat jurusan sosiologi agama menyambut juniornya. “Mahasiswa sosiologi agama adalah insan kreatif inovatif yang sosialis demokratis. Beri kesempatan kepada teman-teman kami yang senantiasa mencari tuhan,” kata ketua himpunan jurusan sosiologi agama. Pernyataan lainnya keluar dari mulut salah satu di antara mereka. “Kami tidak ingin punya tuhan yang takut dengan akal manusia,” katanya.

Yang lebih menyeramkan, pernyataan dari seorang mahasiswa jurusan aqidah filsafat. “Kita berdzikir bersama anjing hu akbar,” teriaknya lantang sambil mengepalkan tangan.

Lain halnya dengan Sumanto Al-Qurtuby ketika menjadi mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang.  Sumanto  pernah memimpin sebuah jurnal bernama Justisia yang terbit atas izin pimpinan Fakultas. Pada tahun 2004, jurnal ini menulis sebuah cover story dengan judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dalam pengantar judul ini dikatakan bahwa hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.

Baru ini, spanduk bertuliskan “Tuhan Membusuk; Rekonstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan”menyambut mahasiswa baru saat Ospek Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kita bertanya-tanya sambil menggelengkan kepala dan mengelus dada, mengapa kampus yang menyandang nama ‘Islam’ ini justru membiarkan pemikiran yang menyimpang bahkan melecehkan Islam malah berkembang?

Ternyata dulu IAIN diusahakan menjadi pusat studi Islam yang unggul dan bertaraf internasional. Salah satu usaha itu dilakukan oleh Prof. Harun Nasution. Tidak ada yang salah sampai sini. Namun sayangnya usaha Harun tidak sesuai dengan cita-cita awal IAIN ini didirikan. Upaya Prof. Harun Nasution tertangkap dalam bukunya, yang berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” disingkat IDBA dan mengubah kurikulum IAIN.

Buku IDBA ini oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi  dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia. Setelah buku itu dicetak, muncul kritik yang tajam dari seorang Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, Prof. Dr. M. Rasjidi.

Pada tanggal 3 Desember 1975, Rasjidi menuliskan laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Departemen Agama (Depag). Rasjidi bercerita:

“Mula-mula saya tidak mau melakukan koreksi tersebut di muka umum. Pada tanggal 3 Desember 1975, saya menuliskan laporan rahasia kepada  Saudara Menteri Agama dan beberapa orang staf eselon tertinggi di Kementrian Agama.  Laporan rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik pasal demi pasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi  dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

Laporan Rasjidi tidak digubris sama sekali oleh Departemen Agama (Depag). Menurutnya ada dua kemungkinan sikap Depag ini: (a) Pihak Departemen Agama, Khususnya Diperta, setuju dengan isi buku tersebut dan ingin mencetak sarjana IAIN menurut konsepsi Dr. Harun Nasution tentang Islam. (b) Pihak-pihak tersebut di atas tidak mampu menilai buku tersebut dan bahayanya bagi eksistensi Islam di Indonesia serta umatnya. “Kedua kemungkinan di atas tidak memberi harapan yang baik,” katanya.  Apa mau dikata, penguasa ikut mempengaruhi dan menentukan.

Selama satu tahun lebih, surat Rasjidi tidak mendapat tanggapan Depag. Akhirnya Rasjidi meyampaikan kritiknya terhadap buku Harun tersebut dengan menulis sebuah buku yang berjudul “Koreksi terhadap Dr.Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.”

 “Tulisan ini akan membuka cakrawala baru bagi cara berpikir umat Islam Indonesia dalam menghadapi aliran-aliran dan ideoogi-ideologi yang bermacam-macam yang serentak kita hadapi semuanya,”  harapannya.[4]

Bila Rasjidi bersikap sangat kritis terhadap pemikiran orientalis[5], lain halnya dengan Harun. Harun mengakui bahwa dirinya mengerti Islam dari orientalis. Harun bercerita:

“Sewaktu di Belgia setiap ada uang, aku pergi ke toko buku. Mencari buku-buku Islam. Aku membeli, lalu kubaca. Aku tahu di Belanda banyak buku mengenai Islam. Karena Belanda dekat, aku pun pergi kesana. Kebetulan ada temanku di Kedutaan Indonesia di Den Hagg. Dia yang membawaku ke toko buku. Aku mencari buku-buku mengenai Islam. Banyak buku Islam yang ditulis oleh orang orientalis. Itu kubaca dan baru aku mengerti Oh ini Islam.

Aku semakin tertarik. Aku membaca buku-buku itu dan mempelajarinya. Kemudian aku mencari majalah-majalah berbahasa Inggris, yang dikarang oleh Islam. Yang kudapatkan adalah surat-surat kabar Ahmadiyah terbitan London. Nah, disana aku menemukan Islam yang rasional. Di situ aku mulai tertarik sama Islam.”

Harun juga merasa tidak puas dengan pendidikan Islam di tempatnya dulu menuntut ilmu di Mesir. Harun justru mengaku benar-benar puas belajar Islam di Mc. Gill University.[6]

“Di situlah aku betul-betul puas belajar Islam. Aku mendapat beasiswa selama beberapa tahun. Di sana juga aku memperoleh pandangan Islam yang luas. Bukan Islam yang diajarkan di Al-Azhar Mesir. Di Mc. Gill aku punya kesempatan baik secara ekonomi maupun waktu. Aku mebeli buku-buku modern, karangan orang Pakistan atau orang orientalis. Baik dalam bahasa Inggris, Prancis, atau Belanda. Di sana liberal. Bebas. Jadi, mudah mencarinya.

Di sana baru kulihat Islam bercorak nasional. Bukan Islam irasional seperti didapatkan di Indonesia, Mekah, dan Al-Azhar. Aku bisa mengerti kalau orang berpendidikan Barat mengenal Islam dengan baik melalui buku-buku karangan orientalis. Bisa kumengerti mengapa orang tertarik Islam karena karangan orientalis.

Aku memang tidak tertarik dengan karangan orang Islam sendiri. Kecuali yang modern seperti Ahmad Amin. Tapi bagaimana intelektual kita? Mana bisa membaca serupa buku-buku dari Inggris, Pakistan, India, dan sebagainya? Karangan dari Indonesia tak ada yang menarik… Di Mc Gill itulah aku sadar: pengajaran Islam di dalam dan di luar Islam berbeda betul. Kuliah dengan dialog. Semua mata kuliah diseminarkan. Aku benar-benar merasakan manfaatnya. Aku tak hanya menerima pelajaran, tetapi terlibat untuk mengerti.  Di situlah aku baru mengerti Islam ditinjau dari berbagai aspeknya.”[7]

Proyek Harun mendapat dukungan dari Menteri Agama, Mukti Ali yang juga lulusan Mc.Gill University. Harun lebih leluasa menerapkan ide-idenya setelah dikokohkan sebagai rektor IAIN Jakarta. Kata Harun:

“Langkah pertama kami di IAIN adalah mengubah kurikulum. Kami para rektor IAIN mengadakan pertemuan di Ciumbuleuit. Pengantar Ilmu Agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, metodologi riset kita masukkan pula.

Semula usulku untuk mengadakan pembaharuan kurikulum ditolak para rektor tua. Oleh H.Isma’il Ya’kub, oleh K.H. Bafaddal. Tapi dalam perkembangan selanjutnya aku didukung oleh kalangan atas seperti Mulyanto Sumardi ketika menjadi Direktur Jenderal Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama. Juga Zarkawi Suyuti sebagai sekretaris Dirjen Bimas Islam.”[8] 

Begitulah Harun Nasution yang silau dengan orientalis. Pantas saja Rasjidi ingin memakaikan kaca mata Islam ke Harun. Rasjidi mengoreksi buku IDBA dari banyak aspek diantaranya tentang agama dan pengertian agama dalam berbagai bentuknya, kemudian Islam dalam pengertian yang sebenarnya, lalu soal ibadat, latihan spirituil dan ajaran moral, sejarah dan kebudayaan, politik, lembaga kemasyarakatan, hukum, teologi, filsafat, mistisme, dan pembaharuan dalam Islam. Ini menunjukkan bahwa buku IDBA memiliki banyak kekeliruan.

Dari semua aspek yang ada, menurut Rasjidi, yang sangat negatif dari buku IDBA adalah aspek filsafat. Harun membicarakan filsafat Al-Razi, orang yang hidup sebelum zaman Al-Ghazali sehingga filsafatnya termasuk dikritik oleh Al-Ghazali. Kata Harun dalam bukunya di halaman 69:

“Al-Razi seorang rasionalis, yang hanya percaya pada akal dan tidak percaya pada wahyu. Menurut keyakinannya, akal manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu, Nabi dan Rasul tidak perlu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua agama ia kritik. Al-Qur’an baik dalam bahasa maupun isinya bukanlah mu’jizat.”[9] 

Aspek lainnya dalam buku IDBA yang negatif adalah masalah keaslian hadits dan agama monoteisme[10]. Kata Harun dalam bukunya, jilid 1 halaman 29 sebagai berikut:

“Karena hadits tidak dihafal dan dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadits yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadits yang dibuat-buat… Tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinilan semua hadits dari Nabi.”

Menurut Rasjidi, keterangan Prof.Harun Nasution tersebut sudah cukup untuk memasukkan rasa goyah dalam keimanan generasi muda kita, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh kaum orientalis yang tidak suka Islam menjadi kuat.

“Sunnah Nabi atau hadits begitu penting dalam Islam. Al-Qur’an penting karena ia adalah wahyu dan barang siapa yang membacanya dengan mengerti bahasa dan maknanya, ia akan hidup dalam suasana kerohanian yang tinggi… Tetapi, orang yang tidak suka kepada Islam mencoba untuk menyerang sumber kedua, yakni al-sunnah, karena jika didiskreditkan, maka akan kuranglah sumber kekuatan Islam. Cara mendiskreditkan hadits adalah pertama menunjukkan bahwa ada kemungkinan hadits itu dibuat-buat atau dipalsukan dan memang hal itu terjadi, khususnya ketika terjadi sengketa politik dan perebutan kekuasaan,” terang Rasjidi, seorang lulusan Sorbonne.[11]

Kemudian tentang agama monoteisme, Harun mengatakan dalam bukunya di halaman 19: “Agama monoteisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu.” Dan di halaman 22: “Monoteisme Kristen dengan paham Trinitas dan monoteisme Hindu dengan paham politeisme[12] yang banyak terdapat di dalamnya, tidak dapat dikatakan monoteisme murni.”

Pernyataan tersebut ditentang oleh Rasjidi. Kata Rasjidi:

 “Kata-kata tersebut di atas adalah kata-kata lidah yang tidak bertulang, yang tersirat di dalamnya adalah bahwa semua agama itu sama, sedikitnya bagi bangsa Indonesia. Agama Kristen diberi penjelasan Protestan dan Katolik. Padahal di samping Protestan dan Katolik ada lagi kelompok besar, lebih besar dari Protestan, yaitu kelompok ortodoks yang terdapat di Rusia, Eropa Timur, Asia Barat, dan Abbyssinia. Agama Hindu yang merupakan agama alamiah disejajarkan dengan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dan ini sama sekali tak dapat diterima oleh orang Islam.

Kemudian Dr. Harun Nasution mengakui bahwa Kristen dengan Trinitasnya dan Hindu dengan politeismenya tidak dapat dikatakan monoteisme murni. Jadi soalnya dijadikan begitu ringan, bukan prinsip monoteisme atau bukan monoteisme, tetapi monoteisme murni atau monoteisme tidak murni. Semuanya monoteisme dan semuanya agama.

Uraian Dr. Harun Nasution yang berselubung uraian ilmiah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya; jika soalnya agar terdapat jiwa toleransi di antara bangsa Indonesia, maka Islam sudah lengkap dengan toleransinya yang diakui oleh sarjana-sarjana Barat sendiri. Tetapi janganlah menyamaratakan segala agama dan mengatakan segala agama itu sama, seperti yang sering kita dengar dari orang-orang yang tak pernah menyelidiki agama.”[13]

Akan tetapi kritik-kritik Rasjidi atas seperti itu tidak diperhatikan oleh petinggi Depag dan IAIN. Akibatnya selama 33 tahun, buku IDBA masih dijadikan sebagai buku pegangan dalam mata kuliah pengantar studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal kesalahannya begitu nyata dan fatal.

Setelah 40 tahun berlalu, peringatan Rasjidi tentang metode orientalis yang dapat mencetak ‘sarjana ragu-ragu’ terhadap Islam telah menjadi kenyataan. Harun bagaikan menabur angin pemikiran orientalis yang kini menjadi badai liberalisasi yang memporak-porandakan arena studi Islam di Indonesia. Akibatnya tidak sedikit sarjananya yang aktif mengkampanyekan keraguan dan penghancuran terhadap Islam.

Menurut peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS),  Dr.Adian Husaini, Harun Nasution ini ibarat orang yang telah membuka pintu, kemudian berjubellah para mahasiswa atau doktor, dan guru besar dalam studi Islam yang berlomba-lomba menjadi ekstrem dalam menyerang dan meragukan kebenaran Islam, jauh lebih ekstrem daripada Harun Nasution sendiri.[14]

Sementara dosen pascasarjana UIN Gunung Djati Bandung, Dr. Daud Rasyid menilai Harun sebagai induk dari segala pemikiran sekular dan liberal di Indonesia.[15]

Bahkan buku berjudul “IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia” yang diterbitkan atas kerjasama Canadian Internasional Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama mengakui sendiri bahwa Harun berusaha meliberalkan IAIN.

Seperti diceritakan dalam buku tersebut, ketika Harun menjadi direktur pascasarjana UIN Jakarta, liberalisasi Islam dimulai dari pascasarjana UIN Jakarta, kemudian dikembangkan ke perguruan tinggi umum melalui dosen-dosen agama yang diberi kesempatan untuk mengambil S2 dan S3 di IAIN Jakarta. “Dosen-dosen mata kuliah agama di perguruan tinggi umum  dipersilakan mengambil program S2 dan S3 di IAIN Jakarta, dimana Harun Nasution sebagai direktur. Dari sinilah kemudian paham Islam rasional dan liberal yang dikembangkan Harun Nasution mulai berkembang juga di lingkungan perguruan tinggi umum.”[16] Maka jangan heran bila guru agama di peguruan tinggi umum saat ini berpikiran liberal.

Oleh karena itu, maka ide Rasjidi yang dilemparkan ke tong sampah Depag, mari kita pungut. Mari kembalikan UIN sesuai cita-cita awalnya dulu yaitu Perguruan Tinggi jang dapat memelihara dan mengemban adjaran2 Sjariat Islam dalam tjorak dan bentukjna jang sutji murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian jang mendalam tentang hukum-hukum Islam sebagaimana jang dikehendaki oleh Allah Jang Maha Pengasih dan Penjajang. Dan kita sebagai generasi muda, seperti dinasihatkan oleh Tokoh Muhammadiyah Buya Hamka, harus tegak menantang dan membendung propaganda paham materialisme dan segala isme-isme (paham) baru yang diimpor dari Barat untuk menyebarkan rasa keragu-raguan atau melemahkan dalam Islam. [17] Wallahu a’lam.

Oleh : Andi Ryansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

[1] Dikutip oleh Adian Husaini, IAIN DULU DAN SEKARANG, Jurnal Islamia Vol.III. No.3, 2008, hlm. 54 dari BukuSewindu Institut Agama Islam Negeri Al-Djami’ah Al-Islamijah Al Hukumijah “Sunan Kalidjaga” Jogjakarta 1960-1968, Yogyakarta:IAIN Sunan Kalidjaga, 1968

[2] Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan Sejarah Konsensus Nasional antara Nasionalis Islami dan Nasionalis “Sekular” tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1945-1959, Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1981, hlm. 27

[3] Dikutip oleh Adian Husaini, Ibid, hlm. 54-56 dari Buku Sewindu Institut Agama Islam Negeri Al-Djami’ah Al-Islamijah Al Hukumijah “Sunan Kalidjaga” Jogjakarta 1960-1968, Yogyakarta:IAIN Sunan Kalidjaga, 1968

[4] Rasjidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Depok:Kalam Ilmu Indonesia, 1434, hlm. 17-18

[5] Orang-orang Barat yang mengkaji Islam.

[6] Universitas yang didirikan oleh Wilfred Cantwell Smith, seorang Presbyterian yakni seorang Kristen penganut tokoh reformis John Calvin (1509-64).

[7] Dikutip oleh Adian Husaini, hlm.58-59 dari Buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam:70 Tahun Harun Nasution, Jakarta:LSAF, 1989, hlm. 34 

[8] Dikutip oleh Adian Husaini hlm.59 dari Buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam:70 Tahun Harun Nasution, Jakarta:LSAF, 1989, hlm. 41-50

[9] Rasjidi hlm. 144-145

[10] Ajaran agama yang mempercayai adanya satu Tuhan

[11] Rasjidi hlm. 39-40

[12] Ajaran agama yang mempercayai adanya lebih dari satu Tuhan

[13] Rasjidi, Ibid, hlm. 28-29

[14] Adian Husaini, Ibid, hlm. 62

[15] Prolog dalam Rasjidi, Ibid, hlm. 7

[16] Adian Husaini, Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012, hlm. 208

[17] Buya Hamka, Dari Hati ke Hati Tentang Agama, Sosial-Budaya, Politik, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 141