Category Archives: Tentang Hikmah

This is The True Khutbah Jum’at 212

KHUTBAH SANG HABIB

Nama tenarnya adalah Habib Rizieq. Saya pasti tahu beliau (tentunya dari media), tapi tidak kenal, belum pernah ketemu. Beliau adalah Imam Besar FPI (Front Pembela Islam). Saya aktivis PERSIS (Persatuan Islam), Ormas Islam yang lahir awal abad ke 19, segenerasi dengan Muhammadiyyah (1912), Persis (1923), NU (1926). Tahun 1930-an Persis banyak mengkritik tradisi para Sayyid dan Habaib, tapi pada Aksi Bela Islam III 212, Persis hadir dengan 25.000 jamaah yang oleh pimpinannya dibolehkan, bahkan diwajibkan membawa atribut Jam’iyyah. Mereka duduk khusyu’ menjadi makmum Habib Rizieq, menyimak dengan hidmat khutbah Jum’at Sang Habib. Indahnya Ukhuwwah Islamiyyah. Inilah khutbah sebenar-benar khutbah jum’at, kata teman saya yang Persis itu.

Teman saya benar. Habib Rizieq berkhutbah dengan suara penuh dan pesan yang jelas. Tampaknya beliau berusaha keras meniru khutbah Jum’at Rasul yang jelas dan tegas. Khutbah Jum’at Sang Habib menjadi lebih bermakna karena disampaikan dihadapan jamaah istimewa, yaitu Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dan juga para menteri. Momen ini benar-benar luar biasa. Pak Jokowi – JK khusyu dan ikhlas di imami Sang Habib yang kata sebagian orang Islam garis keras. Berarti Pak Jokowi-JK Islam garis keras dong? Aaah nggak perlu di dengar lah yang gitu mah, kagak produktif. Kata Mas Nganu dari Melbourne (ini demi UU ITE yah, padahal saya juga ikut merancang UU ITE lho, tapi nggak ikutan bikin pasal-pasal pidananya), yang datang ke Monas pada 2 Desember adalah orang bodoh dan umat Islam kaliber buih. Gawat, berarti Pak Jokowi dan Pak JK bodoh dan buih dong? Menghina kepala negara nih mas Nganu van Melbourne.

Lima point penting Khutbah Sang Habib ingin saya sampaikan disini. Pertama, kewajiban menegakkan hukum Allah. Tidak ada yang lebih tinggi dari hukum Allah. Dengan sedikit menyindir ucapan Mas Nganu van Jakarta, Sang Habib mengatakan, “Ayat suci lebih tinggi dari ayat-ayat konstitusi”. Menurut saya Sang Habib tidak sedang melanggar konstitusi, tapi justru memperkuat konstitusi. Disini tampaknya Sang Habib mengerti makna konstitusi dibanding Mas Nganu. Konstitusi bukan hanya sekedar deretan pasal-pasal, melainkan juga berisi sejarah, aspirasi, kegelisahan, dan harapan suatu bangsa. Kalau zaman Orba, Sang Habib pasti diturunkan dari mimbar. Pak Jokowi dan Pak JK tidak melakukannya, karena beliau berdua mengerti makna konstitusi. Salam hormat untuk Pak Jokowi dan Pak JK.

Point kedua Sang Habib menyampaikan keharusan untuk menegakkan hukum dan keadilan. Dengan berbahasa Inggris Sang Habib mengatakan, “justice for all” (keadilan untuk semua). Habib benar, memang harus begitu. Tampaknya Habib menyampaikan pesan jelas dan kuat kepada Pak Jokowi – JK mengenai kasus penodaan agama. Saya pikir Habib tidak mendorong intervensi kekuasaan karena itu haram dilakukan dalam penegakan hukum. Habib tidak sedang melakukan public pressure (tekanan publik), tapi menyampaikan aspirasi publik. Ingat, aspirasi publik adalah bahan hukum yang paling asli.

Point ketiga Sang Habib menyampaikan keyakinannya akan tetap mengamalkan titah QS.Al-Maidah: 51. Habib benar, itu adalah kalam dan titah Allah. Bukan rasis dan anti keragaman. Bagi umat Islam, itu adalah perintah untuk menjadikan dirinya umat yang berkualitas agar senantiasa melahirkan pemimpin yang berkualitas. Nggak perlu nyari-nyari keluar gitu lho.

Point ke empat Sang Habib menegaskan bahwa tidak boleh ada penodaan terhadap agama-agama di Indonesia. Habib benar, agama adalah fondasi dalam berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Sila Ketuhanan dalam Pancasila jelas-jelas merujuk kepada agama. Penistaan agama bermakna menista Pancasila. Kira-kira begitu pengertiannya.

Point kelima Sang Habib menegaskan bahwa Islam dan umat Islam tidak anti keragaman karena itu Sunnatullah. Yang dimintakan umat Islam dalam Aksi Bela Islam 212 adalah penegakan hukum dan keadilan terhadap penista agama. Tampaknya Habib ingin menegaskan bahwa ekspresi ke-Islaman tidak boleh dimaknai sebagai anti keragaman apalagi sebagai sikap yang tidak nasionalis, karena Islam dan kaum Muslimin adalah pilar utama bangsa dan negara Indonesia, masa iya mau merusak rumahnya sendiri.
Semua pesan itu disampaikan dengan jelas dan tegas dan Insya Allah jauh dari rasa benci dan dengki dihadapan umara (para pejabat) dan saya yakin para pemimpin itu menyimak dengan penuh keikhlasan. This is the true khutbah Jum’at.

Atip Latipulhayat, Ph. D.
#aksibelaislam3 #AksiSuperDamai212 #belaquran #KamiAlumni212 #212itukami

Advertisements

Aku Bukan Muslim Cicak

Sewaktu ditanya perihal video viral di medsos soal Pendeta Timotius Arifin Tedjasukmana (dengan kesaksian Ibu Yully) yang mengarahkan jemaatnya kaum kristiani untuk memilih Ahok sebagai Gubernur DKI pada Pilkada 2017 nanti (bahkan terus berlanjut sampai ke kursi RI 1 pada tahun 2019), saya bilang itu hal yang lumrah dan alami dan itu bukanlah masalah SARA. Itu artinya Pdt. Timotius dan Jemaatnya yang memilih Ahok pada saat Pilkada nanti adalah Pemeluk Kristiani yang taat dan baik.

Karena memilih Ahok yang seiman dengan mereka adalah hal yang bisa difahami baik secara psikologis apalagi secara agamis.

Kalau Made, Wayan, atau Nyoman memilih I Made Mangku Pastika sebagai Gubernur mereka itu menandakan bahwa mereka adalah pemeluk agama Hindu yang baik. Itu naluri alamiah dan bukan SARA . Continue reading Aku Bukan Muslim Cicak

Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Tadabbur Al-Ma`idah 48 – 52

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الكريم الرحمن علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان.
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله.
اللهم فصل وسلِّم وبارك على نبينا وحبيبنا وشفيعنا وقائدنا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم.
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأتنم مسلمون.
Sidang Jum’ah rahimakumullah
Keberhasilan kita dalam forum jum’atan ini diukur dari tingkat ketakwaan kita setelah ini. Kalau tambah ketaatan kita kepada Allah, maka berhasillah shalat Jumat kita dan insyaallah satu Jumat kita akan berbahagia. Tapi jika prosentasi ketakwaan kita tidak bertambah kepada Allah subhanahu wataala dalam keseharian kita, maka sengsaralah kita. Sengsara tanpa panduan ayat-ayat Allah subhanahu wataala.
Khutbah Jumat pada hari ini adalah memahami kembali tentang Surah Al-Ma`idah, khususnya Al-Ma`idah ayat 51 yang tadinya menjadi perbincangan yang hangat, dan bahkan bisa mengarah kepada perubahan arah kalau kita tidak sungguh-sungguh memahami ayat dan peristiwa ini secara baik. Nanti setelah ini para jamaah shalat Jumat silakan membaca dari Surah Al-Ma`idah ayat 48 yang akan saya bacakan secara jelas- sampai ayat 52 minimal.  Continue reading Tadabbur Q.s Al-Maidah : 51

Ghirah

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.

Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh
Oleh : Dr Agus Setiawan

“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

Hijrah

Hijrah tidak hanya sebuah kejadian dilakukan Rasulullah Saw yang peristiwanya telah berakhir dan hanya ‘membekas’ dalam buku-buku. Akan tetapi hijrah adalah peristiwa sejarah, sekaligus sebuah pemahaman yang sarat makna di balik peristiwa itu. Artinya, hijrah harus tetap berlangsung dilakukan kaum muslimin hingga saat ini. Hijrah ke mana dan seperti apa dalam konteks sekarang? Seperti dijelaskan dalam sebuah hadis, “Hijrah belum berakhir sehingga berakhirnya taubat, dan taubat tidak akan berakhir sehingga matahari terbit dari sebelah barat.” (HR Ahmad).

Sebagai sebuah konsep, hijrah maksudnya perpindahan perbuatan dari keburukan menuju kebaikan. Dari kekalahan menuju kemenangan.

Continue reading Hijrah

Doa Empat Ribu Tahun

“Ya RasulaLlah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.

Continue reading Doa Empat Ribu Tahun

Surat Terbuka Untuk Pak JK

Kami Menggugah Anda, Pak JK

Assalaamu’alaykum wr wb.

Kepada ayahanda kami, Jusuf Kalla yang kami hormati.

Bulan ramadhan yang baru saja berlalu, adalah sebuah momentum kita untuk semakin dekat dengan Allah karena buah dari berpuasa selama satu bulan penuh tersebut adalah pribadi yang muttaqin (la’allakum tattaqun). Pribadi muttaqin adalah pribadi yang senantiasa memperhatikan apa yang ia lakukan. Apakah Tuhannya ridlo dengan apa yang sedang ia upayakan, ia amalkan. Hati, lisan, dan perbuatan seluruhnya ia berhati-hati agar tidak sia-sia bahkan menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Semua ia lakukan karena ketaqwaannya (ketakutannya) kepada Tuhannya.

Pak JK yang kami sayangi,

Tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan asasi bagi setiap insan. Insan beriman – apapun agamanya – akan berusaha memuliakan sebaik-baiknya tempat di mana ia bisa beribadah dan menguatkan keimanannya, tempat di mana ia adalah simbol kehormatan dan identitas dirinya, tempat di mana ia mampu berharap menjadi pribadi yang membaik untuk membangun negerinya serta semakin membuatnya dekat kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan jika tempat ibadah saudara muslim kita di Tolakara menjadi terbakar karena diricuhkan dan diserang sekelompok kristian / oknum yang tak bertanggung jawab.  Sungguh toleransi negeri yang mayoritas muslim ini ternoda kembali. Dan itu terjadi justru ketika umat Islam merayakan hari raya dan ibadah Jumat 17 Juli 2015 pukul 07.00 WIT. Padahal telah menyejarah pasal 29 UUD 1945 memaktubkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Pak JK yang kami banggakan,

Syawal adalah bulan di sebagian ulama memaknakan sebagai bulan yang (naik) meningkat. Meningkat kualitas pribadi, meningkat kualitas iman, meningkat derajat kedekatan kita kepada Tuhan. Salah satu tandanya adalah dengan semakin baiknya ia bertutur kata, semakin bijaknya ia memecahkan masalah, semakin teguhnya ia berpihak kepada agamanya. Bulan ini pembuktian awal dari hasil pendidikan / tarbiyah di bulan ramadhan. Sudah sepantasnya ia menjaga jiwa yang mengharapkan kebaikan untuk dirinya dengan cara membela agamanya.

Pak JK yang kami rindu ketegasannya,

Ketika kerusuhan telah terjadi, muslim jelas menjadi korban. Adalah sakit hati ini ketika tak kunjung ada ketegasan dari sosok pemimpin yang pernah menjadi cahaya dakwah Islam di nusantara ini. Sosok yang menjadi kebanggaan para dai dengan kepemimpinannya di Dewan Masjid Indonesia. Saudara-saudara sebangsa kita dari sebagian kelompok kristiani telah melakukan pembakaran ke ruko-ruko ketika saudara-saudara semiman kita sedang melaksanakan shalat ied. Terkaget dengan teriakan dan berhamburan membubar karena hujanan lemparan batu sehingga api yang membakar menjalar mengenakan mushallaah yang ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Kejadian ini menyebabkan para saudara muslim kita bersedih tak dapat melaksanakan shalat idul fitri dengan khusyuk. Dan kesedihan yang lebih pedih adalah kejadian ini dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kami tak henti-hentinya meminta kepada para tokoh, pemuka agama untuk mampu meredakan situasi karena kami faham betul masyarakat Tolikara dan rakyat Papua adalah pecinta damai. Tidak mungkin ada kerusuhan kecuali ada provokasi dari pihak tertentu.

Pak JK,

Ternyata benar. Setelah kami teliti oleh rekan dakwah seperjuangan kami, dan juga telah kami konfirmasi kepada tokoh dai di Papua, kerusuhan tersebut adalah buah dari provokasi sistematik dan terencana. Telah diadakan pertemuan rahasia di hutan oleh segenap misionaris dari Ambon, Maluku, dan lainnya yang hasilnya adalah instruksi pelarangan shalat ied kepada umat islam di wilayah Tolikara. Kami kira Pimpinan GIDI juga terlibat terbukti dengan adanya surat edaran tertembus kepada Bupati Kabupaten Tolikara, Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, Danramil Tolikara. Dari sini kami merasa lebih sakit nan teriris-iris di mana praktik intoleran tak mampu dibendung padahal tertembuskan informasi kejahatan tersebut kepada pihak-pihak yang secara konstitusi seharusnya mampu menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kami menuntut agar seluruh pelaku dan oknum-oknum yang terlibat dalam insiden ini ditangkap dan diberikan hukuman yang adil. Kami juga meminta kepada Menteri agama untuk mengganti Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Papua yang ada di wilayah bagian Papua karena itu bagian dari kejahatan yang tidak mampu mereka cegah.

Pak JK yang kami rindu ketangkasannya dari dulu,

Ada sebuah kisah, terjadi ketika masa Nabi Ibrahim as. Seekor burung pipit dengan susah payah menyimpan air di paruhnya, ketika sang Raja Namrud dengan gagah nan angkuhnya sedang membakar Ibrahim as.  Semua heran dan dalam suatu riwayat diceritakan adalah malaikat bertanya “Wahai burung pipit, untuk apa kamu membawa butiran air kecil itu? Tidak akan ada gunanya dibandingkan dengan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim as”. Lalu dengan penuh tangkas nan tenang serta jernih sang semut itu menjawab “Memang air ini tak akan bisa memadamkan api itu. Tapi dengan ini paling tidak semua tahu bahwa aku di pihak yang mana. Dan inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan”.

Pak JK, bapak kami,
Teringat nasihat Dai Salim A Fillah kepada bapak beberapa bulan yang lalu, betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Ketika kerusuhan itu terjadi, masyarakat membutuhkan jawaban dan sikap dari seorang bapak, seorang pemimpin yang mengayomi dan menenangkan. Betapapun kami telah tahu menurut bapak adalah sebuah speaker menjadi penyebab kerusuhan itu, tapi kami tak tahu apakah bapak telah sempat meninjau lokasi? Masjid dan bangunan kios yang sudah terbakar menjadi debu. Kami membutuhkan keberpihakan bapak yang memiliki otoritas lebih besar, sebagai seorang muslim, mukmin, seperti La Ma’daremmeng, Raja Bone XIII, sebelum masa kepemimpinan Sultan Hassanuddin, semoga Allah menyayanginya, yang kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Bapak,
Kini muslim di sana tidak lagi merasa aman, nyaman dan tentram dalam beribadah. Mereka membutuhkan keberpihakan kita dalam bahu membahu membantu membangun kembali apa yang telah dirusak. Kami menggugah kepada segenap muslim nusantara, juga kepada Pak JK untuk berpihak dan peduli. Muslim di sana membutuhkan uluran tangan kita untuk meneguhkan hati, mengeratkan ukhuwah Islamiah, bukan opini dan pernyataan-pernyataan yang memanas. Muslim di sana butuh kita untuk turun tangan menguatkan cahaya Islam di Negeri Nuu War (Papua). Muslim di sana butuh pemimpin Negara yang adil dan terdepan menegakkan hukum kebenaran. Semua ini demi mengokohnya persatuan bangsa, menerapkan asas Bhineka Tunggal Ika, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai luhur PANCASILA.

Salam hormat dari kami,
Agastya Harjunadhi
Kendal, 19 Juli 2015.

dimuat di Islampos, dan media islam lainnya.

Syair Yang Membuat Imam Ahmad Menangis

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ditanya oleh muridnya Abu Hamid Al Khulqani mengenai syair. Bagaimana pendapat beliau terhadap syair-syair yang menyebutkan tentang surga dan neraka.

Imam Ahmad rahimahullah balik bertanya, “Seperti apa contohnya..?”

Lalu Abu Hamid Al Khulqani melantunkan syair…

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني ؟

و تخفي أذنب عن خلقي و بالعصيان تأتيني؟

Usai dua bait tersebut Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Coba kau bacakan lagi..!”
Maka Abu Hamid mengulangi kembali bait yang telah dia bacakan sebelumnya, yang artinya adalah :

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak…
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepada-Ku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-Ku…
Sedangkan dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

Setelah itu Imam Ahmad rahimahullah masuk ke rumahnya. Beliau tutup pintu dibelakangnya.
Kata Abu Hamid, “Aku mendengar beliau menangis, sembari beliau mengulang melantunkan bait-bait itu.”

“Kami mendengar tangisan Imam seolah-olah beliau akan mati,” muridnya meriwayatkan.

Lengkapnya syair tersebut adalah sebagai berikut.

إذا ما قال لي ربي أ ما استحييت تعصيني..؟

وتخفي الذنب من خلقي و بالعصيان تأتيني..؟

Ketika Rabb-ku berkata kepadaku kelak,
Tidakkah engkau malu berbuat maksiat kepadaku..?

Dan engkau sembunyikan dosa-dosamu dari makhluk-makhluk-Ku,
Sedang dengan dosa-dosa itu engkau datang menjumpai-Ku..?

فكيف أجيب يا ويحي ومن ذاسوف يحمين..؟

Maka bagaimanakah aku bisa menjawabnya, dan siapakah yang bisa melindungiku..?

أسلي النفس بالآ مال من حين الى حيني…

وأئس ما وراء الموت ما ذ ايعد تكفيني..؟

Aku sentiasa menenangkan perasaanku dengan angan-angan dari waktu ke waktu,

Sedangkan aku lupa apa yang terjadi selepas kematian, apakah yang cukup untukku..?

كأني قد ضمنت العيش ليس الموت يأتيني…

Seolah-olah aku telah dapat menjamin akan terus hidup, dan ajal tidak akan datang…

وجاءت سكرة الموت الشديدة من سيحميني..؟

Apabila tiba saatnya maut itu datang, siapalah yang dapat mencegahnya dariku..?

نظرت الى الؤجوه أليس منهم من سيفديني..؟

Aku hanya mampu melihat wajah-wajah didepanku…
Adakah seseorang diantara mereka yang bisa menebusku..?

سأ سأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني.

Aku akan ditanya apa yang telah aku persembahkan di duniaku dahulu yang dapat menyelamatkanku.

فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني…

Bagaimana jawabanku setelah aku lupakan urusan agamaku…

ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني..؟

Oh, celakanya..! Apakah aku tidak pernah mendengar kalam Allah yang menyeruku..?

ألم أسمع لما قد جاء في قاف و يس..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar kandungan Surah Qaf dan Surah Yasin..?

ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني..؟

Apakah aku tidak pernah mendengar tentang hari berhimpun, perkumpulan, dan hari pembalasan..?

ألم أسمع منادي الهوت يدعوني يناديني..؟

Tidakkah pernah aku mendengar penyeru kematian yang mengajakku dan memanggilku..?

فيارباه عبد تائب من ذاسيؤويني..؟

Wahai Rabb-ku, inilah seorang hamba yang bertaubat, siapakah yang sanggup menerimanya..?

سوى رب غفور واسع للحق يهديني.

Kecuali Allah yang Maha Pengampun, yang luas ampunan-Nya, yang sentiasa memberikan pedoman ke jalan kebenaran.

أتيت إليك فارحمني وثقل في موازيني.

Aku datang kepada-Mu, maka beratkanlah neraca timbanganku.

وخفف في جزائي أنت أرجى من يجازيني.

Ringankanlah pembalasanku karena kepada-Mu sajalah paling diharapkan kebaikan apabila melakukan pembalasan.

(Dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad hal. 205 oleh Ibnul Jauzi)

Pembuktian Iman Kepada Al Quran

لَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَـٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿١٢١

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al Al Baqarah : 121)

Saya dapatkan dalam kajian tadabbur bahwa makna dari  حَقَّ تِلَاوَتِهِ  adalah memiliki makna bahwa tidak cukup kita menyangka diri sendiri bahwa kita sudah beriman kepada quran, tapi harus ada pengakuan dari quran sebagaimana dijelaskan dalam kalimat ..أُولَـٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ…..

Menurut Dr. Amir Faishol Fath, pembuktian beriman kepada quran harus meliputi. Continue reading Pembuktian Iman Kepada Al Quran