Tag Archives: Indonesia

Identitas Pemimpin Orang Indonesia

“BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM”

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun …

Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati …

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya …

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.
Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks prooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Ya.. orang besar, adalah ia yang berjiwa besar..
Sikap pahlawan, hanya bisa dipahami oleh seorang pahlawan.. Ia yang menghargai jerih payah, menghargai ide gagasan, meski berbeda pendapat bahkan ideologi..Sikap kepahlawanan memang mahal..
Dan tak lupa satu lagi.. bangsa ini ditegakkan oleh darah para pahlawan, airmata para bidadari istri dan ibunda pahlawan yang tanpa henti mengetuk pintu-pintu langit munajat.. bukan uang yang mereka harapkan atas para lelaki kebanggaan mereka yang sedang berjuang.. bukan pula jabatan..

adalah KEBERKAHAN PERJUANGAN dan KOKOHnya jiwa semangat ghirah untuk mengoyak dan mengusir penjajah kapitalis, liberalis, imperialis, penguasa-penguasa lalim, pengkhianat-pengkhianat nan pengecut..

Ah.. indahnya akhlak mereka.. para orang Indonesia, bukan pendendam.. bukan perampok.. bukan pengkhianat.. entah rakyatnya, entah pemimpinnya… semuanya adil, mereka semua beradab… dua hal yang sangat identik dengan nurani dan kemanusiaan..identik dengan mereka yang berjiwa ksatria dan pahlawan..identik dengan orang Indonesia..

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung rasa adil, adab.. dan tiada mampu dua hal tersebut kecuali mereka yang menyadari Ketuhanan [hukum Tuhan] yang Maha Esa..

Sila-sila yang kokoh, penuh inspirasi, hikmah, menjulang tinggi nilai nan menghujam dalam samudra makna… Pancasila yang merupakan fondasi dan dasar hukum tertinggi bangsa kita … bangsa, orang-orang Indonesia..

Itu.. identitas pemimpin, orang Indonesia..

Lantas, jika ada pemimpin di negeri ini, atau orang-orang yang mengaku berbangsa negeri ini, namun mereka tanpa rasa adil, tiada keindahan adab, serta nilai-nilai lain dalam Pancasila itu.. apakah masih benar bisa disebut orang Indonesia?

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut. Jadi besar atau kerdil. Jadi pemaaf atau pendendam. Jadi penuh empati atau suka menghakimi. Jadi penyebar damai atau penebar fitnah. Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya. Bukan hanya siapa yang menang, tapi bagaimana sikap yang kalah.

kaifa takuunu yuwallaa ‘alaykum.. – bagaimana kamu, begitulah yang akan memimpinmu.. Pemimpin cermin rakyatnya, rakyat cermin pemimpinnya..

wallaahu’alam bishawab..

Gubahan @agastyaharjuna – untuk pemilihan pemimpin, orang Indonesia. – #PILKADA2015 serentak.

Yaa rabb, setelah kami mengupayakan, tolong sempurnakan.. pilihkan kpd kami pemimpin orang Indonesia, yang mendatangkan pertolonganMu. aamiin

Advertisements

Ghirah

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.

Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh
Oleh : Dr Agus Setiawan

“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

“..kabar-kabar tentang Paduka telah sampai pada kami bersinar bagai permata. Tetapkanlah hati. Paduka akan beruntung jika Paduka bekerja semata karena takwa pada Allah. Janganlah takut akan kemalangan dan jauhilah segala perbuatan jahat. Jika orang melakukan yang demikian, akan dia temukan surga tanpa awan dan bumi tanpa kotoran..”

Surakarta, 1772.

Tiga surat berbahasa Arab beserta bendera bertulis “La ilaha illallah” yang diserahkan Patih Kasunanan, Raden Adipati Sasradiningrat itu menggemparkan kediaman Residen F.C. Van Straalendorff. Salinan terjemah dari salah satu nawala yang kemudian dikirim ke Batavia bahkan membuat Gubernur Jenderal VOC, Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) sukar tidur, meski Sasradiningrat bersumpah bahwa tak seorang Jawapun yang telah membaca surat itu selain dia dan carik (sekretaris)-nya.

Continue reading HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Bertemu dan berfoto bareng Presiden Turki, Erdogan, adalah hal yang di luar dugaan saya sama sekali. Dan justru pertemuan itu terjadi di Indonesia, pekan lalu (Sabtu, 01/08/2015). Tak bisa saya ungkapkan rasa kebahagiaan ini seperti apa. Mungkin ini yang diibaratkan ‘nyes’nya seorang pengagum bertemu langsung dengan yang dia kagumi.

Bukan tanpa alasan saya mengagumi Erdogan. Hal ini berawal ketika saya mulai tertarik dengan dunia kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan itu tahun 2006. Saya mulai memperhatikan setiap pemimpin kontemporer di dunia. Tentu saja tak lupa dengan Indonesia, yang pernah melahirkan pemimpin besar sekaliber Soekarno yang diakui dunia sebagai orator ulung. Lalu mempelajari kembali sejarah dalam berbagai sudut pandang ternyata saya menemukan sosok yang menurut saya hebat dan patut dijadikan teladan adalah HOS. Cokroaminoto, dan sosok-sosok hebat lain era sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Buku-buku tentang kepemimpinan dan pemimpin-pemimpin besar lain di Indonesia dan dunia mulai memenuhi agenda baca saya. Bahkan kerap saya baca beberapa tokoh dan karya-karyanya, meski tokoh tersebut bukan presiden. Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dll. Menurut saya, selain harus cerdas, pemimpin adalah pelaku perubahan dengan kekuatan ilmu, dan lebih beruntung lagi jika ia juga memegang kekuatan kekuasaan.

Erdogan, saya mengenalnya dari media sejak 2010. Ketika itu ia sudah menjadi Perdana Menteri Turki periode ke dua. Ia adalah pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai muslim 2 paling berpengaruh di dunia (sumber: [www.rissc.jo] The 500 Most Influential Muslims 2010] )

Saya mulai menaruh perhatian yang cukup mendalam kepada beliau ini. Majalah TIME New York menobatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh tahun 2011. TIME memuat beliau dengan judul “Turkey’s pro-islamic Leader has built his (secular, democracy, and western friendly).

Pemimpin Turkey yang pro-Islam, ini telah sukses membangun negaranya sebagai negara adi daya. Banyak yang berharap ia menjadi teladan bagi pemimpin negara Arab lainnya,” tulis Times.

Continue reading Turki, Erdogan dan Inspirasi untuk Indonesia

Agastya Bertemu Erdogan

erdogan

Kunjungan Erdogan ke Indonesia menjadi buah bibir tersendiri. Erdogan yang pernah dinobatkan menjadi orang paling berpengaruh di dunia tahun 2011 majalah TIME Newyork ini menjadi salah satu faktor daya tarik yang sangat kuat dan tak berlebihan jika seluruh umat Islam termasuk di negeri ini begitu antusias untuk mengikuti setiap agenda beliau di Jakarta, bahkan sangat ingin untuk bertemu dengan salah satu pemimpin dunia yang paling disegani dan berpengaruh di dunia ini.

Setelah memenuhi beberapa agenda silaturahim dengan para petinggi Negara seperti DPR, Presiden dan Wapres serta memberikan kuliah umum di Lemhanas, Erdogan sempat mengunjungi Taman Makam Pahlawan dan bersolat jumat di Istiqlal. Terakhir Erdogan bertemu dengan Bapak BJ. Habibie di Ritz Carlton, Jakarta.

Dalam kesempatan terakhir alhamdulillaah saya sempat bertemu dengan beliau, bersalaman, dan sedikit mendekap dan bercakap.. :’)

Benar kata YM, kharisma beliau membuat kita segan, hormat, nyaman. Gesturenya sangat menunjukkan karakternya yang kuat dan tegas. Barakallaah Erdogan.

Kami beruntung bisa bertemu sapa denganmu. dan..

Kami Indonesia merindukan pemimpin sepertimu. Doakan. 🙂

erdogan---agast

Di Balik Fatwa Buya Hamka tentang Natal

Beberapa waktu lalu, aksi kristenisasi di Indonesia menuai berbagai kecaman dan meresahkan masyarakat, terutama umat Islam. Masih hangat di ingatan kita, seorang nenek berjilbab yang sedang berjalan kaki dalamCar Free Day (CFD), tiba-tiba dijegat dan dipaksa berdoa kepada Yesus oleh misionaris.[1] Kemudian pada kasus lain, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) tidak menyetujui aturan Polri tentang pemakaian jilbab bagi Polwan.[2] Tampaknya kristenisasi di Indonesia bak barang bekas yang terus didaur ulang.

Sebab sejak masa penjajahan, negeri muslim terbesar di dunia ini dibidik sebagai sasaran empuk oleh Misi Kristen. Ketika penjajah Portugis berhasil menduduki Malaka, Panglima Perang Alfonso Dalbuquerque berpidato,

 “Adalah suatu pemujaan yang sangat suci dari kita untuk Tuhan dengan mengusir dan mengikis habis orang Arab dari negeri ini, dan dengan menghembus padam pelita pengikut Muhammad sehingga tidak akan ada lagi cahayanya di sini buat selama-lamanya,”

Kemudian disambungnya,” Sebab saya yakin kalau perniagaan di Malaka ini telah kita rampas dari tangan kaum muslimin, habislah riwayat Kairo dan Mekkah, dan Venesia tidak akan dapat lagi berniaga rempah-rempah kalau tidak berhubungan dengan Portugis.”[3] Continue reading Di Balik Fatwa Buya Hamka tentang Natal

Setuju BBM Naik, Tapi dengan Syarat

Sekitar pukul 21.00 WIB, Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Mendikbud Anies Baswedan, dan sejumlah menteri lainnya, resmi mengumumkan kenaikan BBM secara sebesar RP. 2000,- berlaku mulai tanggal 18 November pukul 00.00 WIB. Dengan kenaikan tersebut, premium saat ini mencapai harga Rp. 8500/liter sedangkan Solar Rp. 7500,-/liter. Sontak saja seketika itu antrian di hampir seluruh pom bensin membeludak. Rakyat ingin mengisi penuh tangki kendaraannya sebelum harga naik.

Di sisi lain, harga minyak dunia yang sedang turun sebesar 30% dari 105 dolar/barel menjadi sekitar 74 dolar/ barel membuat sikap pemerintahan Jokowi semakin mendapat kritikan keras. Tak hanya dari rakyat tapi juga sejumlah tokoh seperti Yusril Izha Mahendra. Fadli Zon dan juga Komisi VII DPR RI pun menyayangkan dan menolak kenaikan BBM karena Jokowi dinilai tidak menjelaskan alasannya.

Dari kasus ini pun akhirnya Jokowi terbukti bahwa janji manisnya dahulu telah ia ingkari. Sebagai seorang pemimpin tentu sikap inkonsistensi ini sangat merusak kepercayaan rakyat. Jokowi sebaiknya menjelaskan alasannya dengan jelas kepada publik. Continue reading Setuju BBM Naik, Tapi dengan Syarat

Dusta, Pintu Kehancuran Sebuah Bangsa

Ketika Pak Habibie ditanya: Lebih suka jadi presiden atau bikin pesawat?

Beliau menjawab:

Saya lebih suka bikin pesawat. Semua rasional dan tidak ada pikiran yang tidak jujur dan tidak transparan, karena jikalau ada manipulasi, pesawat terbang akan jatuh!

***

Manipulasi dan ketidak jujuran pada pesawat akan membawa dampak instan, langsung kelihatan akibatnya. Makanya tidak ada orang yang berani manipulasi dan dusta dalam membuat pesawat.

Beda dengan memimpin sebuah negara, sekalipun dustanya sudah menyesak sampai ke langit dan ke dasar bumi, mengeruhkan seluruh air laut, mengotori seluruh udara, namun dampaknya tidak akan langsung terasa.

Oleh karena itu, orang tidak segan dan malu berdusta dalam masalah ini. Bahkan tidak ada kecemasan dan ketakutan. Padahal kehancuran sebuah pesawat, bahkan seribu pesawat sekalipun tidaklah lebih berbahaya daripada hancurnya sebuah bangsa atau peradaban.

Sementara dusta dapat merusak dan memporak porandakan sendi-sendi akhlak atau moral anak bangsa. Dan bila akhlak itu sudah hilang maka tidak ada arti keberadaan fisik sebuah peradaban.

Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Ahmad Syauqi:

إنما الأمم أخلاق ما بقيت فإن همو ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Sebuah peradaban itu akan tetap terjaga eksistensinya selama akhlaknya masih ada. Apabila akhlaknya telah lenyap maka lenyap pulalah peradaban itu.

Bagaimana kabar bangsaku? Bagaimana kabar akhlak dan adab bangsaku? Bagaimana kabar kepemimpinan ilmu dan agama bangsaku? Masihkah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ini dijunjung tinggi? Masihkah Persatuan Indonesia menjadi sebuah harga yang harus dijaga? Masihkah Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan menjadi haluan kepemimpinan? Sudahkah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ini terpenuhi?

Empat hari sudah, kepemimpinan baru negeri ini berjalan. Namun pesona kerja dan kinerja yang membangkitkan semangat perbaikan tak kunjung datang Justru kerugian beratus bahkan milyar terbilang. Diawal, justru kedustaan telah nampak mengambang.

Benar lho ternyata.. kita ini tidak cukup hanya sekedar menjadi orang jujur, tapi kita harus melawan ketidakjujuran itu. Jangan biarkan, jangan diamkan, apalagi ikut mendukung dan membenarkan.

Kalau tidak, kita akan kehilangan generasi, kita akan kehilangan bangsa, kita akan kehilangan peradaban.

**
Disarikan dari pesan brodkes, disesuaikan tanpa mengurangi makna yang sebenarnya.

Mega Mendung, 24 Oktober 2014.
@agastyaharjuna

Pilkada Langsung dan Demokrasi Pancasila

Ramainya pemberitaan tentang pro kontra UU Pilkada yang telah ditetapkan oleh DPR saat ini begitu menguras energi dan perhatian publik. Demo dan respon di dunia maya yang menghebohkan hingga presiden SBY pun memberikan tanggapan khusus.

Sebagai pemuda Indonesia yang berpegang teguh pada Pancasila, ideologi dan haluan tata bernegara kita, saya melihat keputusan DPR mengembalikan pilkada menjadi melalui DPRD ini justru kemajuan demokrasi kita. Kenapa?

Mari kita lihat. Mari kita sama-sama belajar agar rakyat Indonesia cerdas dengan tidak menghabiskan energi hanya karena ketidakfahaman kita terhadap pola konstitusi dan makna Pancasila, ideologi Indonesia. Berikut ini pemaparan kawan saya Prayudi Azwar.

Pernah kita bertanya kenapa negara ikon demokrasi seperti Amerika, Inggris dan Australia menerapkan pemilu secara tidak langsung (sistem perwakilan)? Mari sama-sama belajar agar rakyat Indonesia cerdas dengan tidak menghabiskan energi saling membully. Bukankah saling respek meski berbeda pendapat itu justru esensi demokrasi?

Rakyat Australia memilih pemimpin tidak secara langsung, tapi melalui anggota dewan (senator) yang mereka pilih. Para anggota dewan inilah yang kemudian dipercayakan memilih Prime Minister (PM) dan para pemimpin wilayah (Premiers). Tentu ada diantara anggota dewan yang tidak amanah, tapi penegakan hukum dilakukan atau mereka tidak dipilih kembali. Mekanisme ini berjalan terus sehingga kualitas anggota dewan terseleksi semakin baik.

Sistem pemilihan presiden di Amerika yang telah berlangsung dua abad juga melalui mekanisme tidak langsung. 270 dari 538 suara anggota dewan pemilih (semacam MPR) yang menjadi menjadi penentu kemenangan presiden Amerika dalam sistem electoral college ini. Sekali lagi, Amerika memilih presiden BUKAN melalui pemilu langsung atau yg dikenal dengan istilah popular vote.

Pemilu di Inggris juga dilakukan tidak secara langsung. 310 dari 326 distrik di Inggris menerapkan pilkada tidak langsung. Rakyat Inggris memilih anggota dewan, yang mereka sebut councillor.
Anggota dewan membentuk city council yang berwenang memutuskan pemimpin di distrik masing-masing. Sistem ini dikenal sebagai sistem “leader cabinet”.

Melihat best practice di negara-negara “mbah”-nya demokrasi, apakah ada diantara kita yang berani bilang, sistem demokrasi di negara-negara ikon demokrasi tersebut meniru orde baru? Apa kita akan katakan rakyat di Amerika, Inggris dan Australia sebagai terbelakang (dibandingkan rakyat Indonesia)? Sanggup kita berorasi bahwa di negara-negara tersebut “demokrasi telah mati”, karena mempercayakan pemilihan pemimpin melalui wakil rakyat? Lantas dengan gegabah kita ramai-ramai menuduh para wakil rakyat di negara-negara melanggar HAM, dengan tuduhan telah merampok hak konstitusi (suara) rakyat ?

Ayolah, saatnya kita menjadi rakyat yang cerdas. Boleh jadi memang sistem demokrasi Indonesia telah ‘kebablasan’, ini bisa kita ulas tersendiri. Juga sekali-kali kita bertanya, kenapa media asing menggugat pengesahan pilkada tidak langsung di Indonesia sementara mereka tidak pernah menggugat pemilu tidak langsung yang dilaksanakan di negara mereka? Ayo, kita bertanya, ada apa?

Bahkan Mike Barnes, pemimpin Labour Group Stoke Concil dan seorang politisi senior di Inggris mengingatkan rakyat Inggris untuk tidak menggunakan sistem pilkada langsung untuk memilih pemimpinnya. Itu disebabkan mereka sangat paham tingginya biaya kampanye yang dibutuhkan. Menelan sumber daya dan menyebabkan pemenang hanya orang yang punya banyak modal atau orang yang dimodali (diganduli kepentingan) pemodal besar.

Barnes mengingatkan Inggris akan menyesal dan mengalami kerugian besar bila memaksakan memilih melalui pemiliu langsung. Ia menyarankan sistem councillor (perwakilan) karena diyakini ideal, dan rekam jejak serta kedekatan para councillors dengan warga yang diwakilinya dapat terjalin secara lebih baik.

Di tanah air, FITRA (lembaga Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) mencatat “Biaya pilkada, diluar biaya kampanye dan politik uang, untuk kabupatan/kota menelan setidaknya Rp25 miliar, dan untuk pilkada provinsi Rp100 miliar. Keseluruhan pilkada di Indonesia menelan setidaknya Rp17 triliun”.

Besarnya biaya pilkada langsung di 500 propinsi/kota/kabupaten sangat membebani keuangan negara dan menjadi sumber kerugian yang besar bagi ekonomi Indonesia. Hal ini diperburuk oleh data Kementerian Dalam Negeri, yang mencatat 330 (86,22%) kepala daerah hasil pemilihan langsung tersangkut perkara korupsi. Korupsi menjadi keniscayaan karena tekanan kebutuhan menutupi besarnya biaya kampanye atau untuk membayar jasa para kapitalis/pemodal melalui penjatahan proyek-proyek bernilai miliaran/triliunan, yang membebani APBD dan menurunkan kualitas layanan publik.

Disamping best practice negara maju yang telah matang dalam demokrasi, bangsa Indonesia perlu kembali menggali akar sejarah bangsa. Tanpa kita menyadari, leluhur kita para pendiri bangsa Indonesia telah dengan sangat cerdas dan elegan melahirkan konsep demokrasi yang paling sesuai dengan jati diri Indonesia. Dasar negara Indonesia, Pancasila, merupakan hasil kedalaman dan kebijaksanaan berpikir para negarawan pejuang kemerdekaan.

Bahkan sang proklamator pada tanggal 13 September 1960 mendapatkan sambutan luar biasa dan standing applaus saat memaparkan Pancasila dalam sidang umum PBB (tontonlah you tube-nya, maka sahabat akan kembali bangga dengan Indonesia). Hanya sayangnya, generasi muda Indonesia masih kurang dapat menghargai dan menjaga warisan nilai dan gagasan luhur ini.

Sejarah Indonesia juga mencatat bahwa Indonesia, dibawah kepemimpinan sang proklamator pernah melakukan eksperimen demokrasi yang mahal ini, yaitu sistem pemilihan langsung. Namun akhirnya bung Karno mencabut UU No. 1 tahun 1957 yang mengatur Pilkada Langsung dengan pertimbangan undang-undang tersebut tidak sesuai dengan jati diri bangsa dan demokrasi asli Indonesia.

Artinya, eksperimentasi pilkada langsung atau tidak langsung telah dilakukan di zaman bung Karno, dan tidak pantas kita stigmakan itu sebagai orba. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, pesan bung Karno dalam pidato “jasmerah”.

Di hari Kesaktian Pancasila ini ada baiknya kita luangkan waktu menelisik kata demi kata yang tercantum dalam sila ke-4 Pancasila, “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.

Kata “hikmat” melambangkan ketinggian spritualitas dan keluhuran budi pekerti .

Kata “kebijaksanaan”, melambangkan kecerdasan, keseimbangan dan kedewasaan dalam berpikir.

Kata “permusyaratan” mendorong kebersamaan sebagai satu bangsa dan menepis keegoan personal.

Sedangkan kata “perwakilan” menjelaskan dengan gamblang tata cara berdemokrasi yang asli Indonesia.

Generasi muda yang terdidik wajib mengingatkan seluruh rakyat Indonesia untuk memilih wakil rakyat, yang terdiri dari orang-orang yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan yang lebih unggul, dari yang diwakili. Rakyat justru perlu didorong untuk cermat memilih wakilnya yang memiliki integritas, wawasan dan kemampuan berpikir yang jauh ke depan. Yang mampu menatap bangsa dalam perspektif jangka panjang, tidak yang terjerat oleh kepentingan sempit berjangka pendek.

Bayangkan kegaduhan bila sistem demokrasi yang kita bangun memaksa rakyat memilih wakil rakyat dan juga memilih pemimpin daerah secara sekaligus. Kepala daerah meremehkan saran dan pengawasan yang dilakukan DPRD, meski mereke memiliki hak legal formal untuk melakukan check and balance. Sebaliknya, DPRD yang merasa rakyat apatis terhadap mereka akan merasa bebas dan tanpa diawasi oleh rakyat sehingga perilakunya menjadi tidak terkontrol.

Adapun rakyat tidak memiliki mekanisme (kanal/channel) untuk menagih janji atau mengontrol perilaku menyimpang dari kepala daerah, kecuali melalui demonstrasi yang melelahkan, menurunkan produktivitas bangsa dan bahkan mengandung resiko berubah anarki.

Efektivitas pengawasan korupsi dan money politik dalam pemilu langsung justru sulit dilakukan. Mengawasi tindak korupsi atau money politik dari wakil rakyat yang berjumlah lebih sedikit akan jauh lebih mudah. Penegak hukum, baik Kejagung, KPK atau PPATK, lebih mudah mengawasi segelintir rakyat yang ditunjuk jadi wakil rakyat dibandingkan mengawasi money politik yang melibatkan masyarakat secara luas pada mekanisme pemilihan langsung.

Sengketa dari 500 pilkada langsung yang menjadi beban MK yang berjumlah 9 hakim konstitusi jelas menguras biaya, waktu dan energi bangsa. Bahkan sidang umumnya gagal menghadirkan putusan adil dan berkualitas karena terbatasnya waktu dan tenaga yang dimiliki MK.

Penghematan anggaran setidaknya Rp 41 Triliun setiap tahun dapat dialokasikan untuk menambah ruang fiskal bagi pemerintah sehingga memungkinkan pemerintah menjalankan program-program kebangsaan yang membantu menghilangkan kemiskian dan mengurangi ketimpangan kesejahteraan (Gini ratio sudah lampu merah, mencapai indeks 0.41).

Akar dari masalah demokrasi kita perlu kita pahami, terletak pada kualitas wakil rakyat dan partai politik. Tapi perlu kita sadari sepenuhnya, para wakil rakyat ini, kita suka atau tidak suka, adalah lembaga pembuat perundangan yang sah di republik tercinta ini. Mereka juga yang memiliki legitimasi yang sah dalam memilih figur-figur paling kompeten menjabat posisi-posisi strategis seperti panglima TNI, Kapolri, Ketua MK/ MA/BPKPK/PPATK, Gubernur BI, Komisioner OJK. Semua figur-figur lembaga negara itu adalah pemimpin-pemimpin bangsa, yang lahir dari pilihan-pilihan wakil-wakil rakyat Indonesia.

Maka tepat bila pengesahan UU pilkada via DPRD ini kita sebut sebagai era kembalinya demokrasi asli Indonesia. Rakyat yang semakin kritis dicerdaskan untuk berhati-hati dan selektif memilih wakil rakyat untuk dipercayakan duduk di DPR atau DPRD. Figur-figur berintegritas dan berkualitas harus bersedia masuk ke partai politik. Partai politik juga perlu semakin menyadari bahwa perekrutan putra-putra terbaik bangsa merupakan keniscayaan agar partai menjadi modern dan diterima masyakarat luas. Dengan ini, segala stigma negatif yang melekat kepada partai politik dan lembaga wakil rakyat dapat sama-sama kita benahi.

Peran wakil rakyat dalam bangunan demokrasi perlu kita perkuat, benahi dan terus sempurnakan. Bukan dengan hujatan, apalagi mencabut kewenangannya dalam sistem demokrasi kita. Benahi dengan ketulusan niat, kebeningan batin dan kearifan pikir. Maka kita akan mendapatkan sistem demokrasi yang efisien dalam biaya dan energy tapi efektif menghasilkan wakil rakyat berkualitas, yang menjadi penentu lahirnya pimimpin-pemimpin penuh integritas, profesional dan amanah di seluruh lembaga-lembaga negara.
Jika para pendiri bangsa dapat melahirkan gagasan besar, Pancasila. Kenapa kita, para generasi muda, tidak mampu mewujudkan gagasan besar kebangsaan itu secara bersama-sama?

Mari sebagai anak negeri kita WAJIB sinergi dan bersatu untuk Indonesia yang lebih baik. Selamat merayakan hari Kesaktian Pancasila. INDONESIA JAYA!

Jangan Menghalangi Kami Bangkit

Setelah Musa yang hafidz 30 Juz di usia 5,5 tahun, bangsa ini telah melahirkan anak yang luar biasa lagi yaitu Syeikh Rasyid, di usia 6 bulan sudah berucap Allah, dan di usianya yg masih kecil ini sudah bisa bahasa arab sendiri, tanpa ada yang mengajari. cek -> https://www.youtube.com/watch?v=Txf30h4zgvI

Allaahummarhamna bil quran 3x..

Melihat Indonesia, ini adalah pertanda baik. Setelah menjamurnya ODOJ, berbondong-bondong kegiatan menghafal quran menjadi trend. Tempat kajian islam semakin dilirik para anak muda dan bertadabbur quran pun telah menjadi gaya hidup.

Ada hal lain yang tak kalah menarik dalam perkembangan peradaban negeri ini. Tentang Indonesia.

Memahami sejarah bangsa ini ternyata menjadi sebuah keniscayaan. Saya benar-benar merasa tertipu dengan pelajaran sejarah selama ini di bangku sekolah. Tapi sekaligus berterima kasih karena dengan begitu saya bisa mengetahui mana yang benar. Ini tentang sejarah nasional kita.

Kita hidup ini secara tak langsung adalah kumpulan waktu demi waktu mengukir sejarah kehidupan. Baik pribadi, maupun sejarah yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Banyak cara untuk mengukir sejarah hidup secara manis dan baik. Agama kita pun mengajarkan bagaimana cara kita mengukir sejarah hidup kita. Lihat QS. Ar-Ra’ad :13, QS. Al Hisyr: 18.

Kekiniannya bagaimana?

Saya coba arahkan ke kontestasi kepemimpinan dan keadaan politik di Indonesia. Yu lihat. Bapak Anies Baswedan pernah bilang “Undang pakai rupiah cara pintas mobilisasi massa. Mempesona ditulis di berita, memalukan saat ditulis sejarahwan” (cek : https://www.facebook.com/aniesbaswedan/photos/a.184628331574161.32084.182838371753157/677041718999484/?type=1&theater ). Berhubungan dengan itu, izinkan saya menulis hal yang mirip, bahwa :

(mengerahkan) membuat citra, image, mencari simpati publik, meraih kehormatan, dengan cara menggunakan uang dan memanfaatkan kekuasaan (jabatan)- memang mempesona ditulis di media massa atau kolom berita. Namun sungguh memalukan saat ditulis oleh sejarahwan, memalukan saat dikenang oleh anak dan keturunan!

Ini nasihat untuk diri sendiri, juga untuk teman-teman seperjuangan mengabdi kepada negeri. Mari mengukir sejarah hidup dengan jujur, jernih.

Masih banyak orang baik dan jujur yang memiliki kejernihan jiwa. Hati yang bersih akan mudah menjernihkan jiwa. Cirinya apa? ia tenang, santun, tegas tanpa menjatuhkan. Sebab satu hal alasan kenapa seseorang hendak dan mau menjatuhkan, adalah adanya penyakit hati yakni iri, hasad, dengki.

Ksatria itu jujur, melahirkan ketulusan sikap. Ia jernih, dari hati. Nah itu datang dari dalam internal diri. Bukan topeng dan polesan.

Buktinya apa?

Attraction. Arruhul junnudum mujannadah. Teman-teman pasti setuju kan jika apa yang dari hati pasti sampai ke hati. Itulah ketulusan, dan setiap orang memilikinya. Dan sesiapa yang memiliki frekuensi yang sama, ia akan segera bersepakat. Mereka semua segera merapat. Karena ruh dulu pernah bertemu, ia mencari sekutunya di dunia ini. Yang baik dengan yang baik. Sehati, sevisi.

Mereka yang sehati, saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama.

Ok. Saya akan ambil contoh lagi dari perkataan Pak Anies Baswedan. “Perilaku pendukung mewakili yang didukung”. Nah itulah bentuk seiya-sekata-nya ruh yang saling bersepakat, sesandi dan se-frequensi hati. Maka izinkan kami menjelaskan ‘wujud konkretnya dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang politik’ -> http://chirpstory.com/li/216911.

Contoh lain, saya juga mengelola salah satu akun anonim. Pernah saya bilang dengan hashtag . Maka lihat pula moral para pendukungnya, begitulah moral dan mental ‘mayoritas’ yang didukung. Saya tidak katakan semua, tapi mungkin banyak. Mungkin di sinilah akan ada pro kontra. 🙂

Ala kulli hal, dari semua cerita di atas. kami hendak bangkit. Sudah sekian lama kami terlena dengan sistem sekuler liberal yang seolah-olah memberikan kemajuan pesat untuk intelektual kami. Terima kasih atas pengajarannya kepada bangsa ini.

Apalagi jika pemimpinnya MAU dan MAMPU (Qawiyyun) serta amiinun (amanah) menjaga keharmonisan masyarakat yang bhineka ini, MURNI setiapnya pada jalannya. Mau dan mampu menjaga dan menguatkan simpul kebangsaan. Bukan menyalahi, melanggari, menyesati, menghinai dan menistai satu sama lain.

Para founding fathers bangsa ini telah sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dijiwai oleh Piagam Djakarta (yang dari naskah itu pula-lah Pancasila lahir) yang di dalamnya pula termaktub kalimat pernyataan “atas berkat rahmat Allah …” lah kemerdekaan dan kebangkitan bangsa ini tercapai.

Ya, bagi saya, menurut saya… jiwa dan simpul kebangsaan itu ada pada Piagam Djakarta tertanda dan tersaksikan oleh 9 orang perumusnya pada tanggal 22 Juni 1945, yang selanjutnya menjadi mukadimah UUD 1945. Mereka TELAH dan SELESAI BERSEPAKAT! ini simpul kebangsaan yang FINAL. (monggo disimak Piagam Djakarta, 22 Juni 1945. Mereferensi pada buku “Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusi Islam”). Lihat pula ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966. Memorandum DPRGR 1966 mengenai sumber tertib Hukum RI ditingkatkan menjadi keputusan MPRS Nomor XX/MPRS/1966, di dalam keputusan ini ditegaskan kembali bawasanya bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Berikut ini adalah Piagam Djakarta tertada panitia 9, 22 Juni 1945.

Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945
Piagam Djakarta (Djakarta Charter) 22 Juni 1945

Satu lagi. Saya kutip dari tulisan Dr. Adian Husaini. Balasan surat untuk Franz Magnis Suseno, tokoh katolik terkenal. Kutipan itu adalah :

Usul agar Indonesia menjadi negara sekuler dengan mengubah Mukaddimah UUD 1945,  misalnya, pernah diajukan oleh seorang Tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandono, melalui artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 tidak Sakral” di Harian Suara Pembaruan, 9 Februari 2004. Soedjati mengusulkan agar Indonesia secara terbuka menjadi dan mengaku sebagai sebuah “negara sekuler”.

Artikel Soedjati itu ditanggapi dengan sangat tajam oleh Prof. Franz Magnis-Suseno, melalui sebuah artikelnya berjudul “Mukaddimah UUD 1945 Tidak Boleh Diganti!”.   Franz Magnis menulis: “Lebih serius lagi, Soedjati mau membongkar salah satu tabu paling kental dalam politik Indonesia: ia menuntut agar Indonesia menjadi, dan mengaku menjadi, sebuah negara sekuler. Menurut saya, Soedjati di sini main api, dan itu terlalu mahal.” (Lihat, Franz Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa, 2006:224-229).

Itu mungkin sedikit pengakuan seseorang yg berfikir secara konsisten, memakai iman versi keimanannya, menempatkan sesuatu yang seharusnya dihormati secara terhormat.

Maka saya katakan tegas kepada semua pihak yang culas, dan dengki melihat bangsa ini untuk berjaya “STOP!! Berhentilah melarang bangsa kami untuk merdeka. Berhentilah menghalang-halangi bangsa ini untuk bangkit dan berjaya!. Kalian akan menghadapi ribuan patriot yang cinta dan siap jadi abdi untuk izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) agama, bangsa dan negara.

68 tahun sudah usia bangsa ini. Simpul kebangsaan anak negeri ini telah melampaui hampir 70 tahun lamanya. Seorang profesor dari Havard University pernah menuliskan bahwa suatu negara akan ditentukan bangkit dan berjaya atau hancur tenggelam setelah melalui fase usia 70 tahun. Ngga perlu percaya sepenuhnya juga :), namun yang terpenting menurut saya adalah dengan memahami sejarah perjuangan baik islam maupun nasional… maka …. semakin lama dan tua usia suatu bangsa atau negara, memang sudah seharusnya semakin dekat dengan cita-cita para pejuangnya, para founding father nya. Bener kan?

Ya, 2014 saat ini sederhananya kami bangsa Indonesia menemukan memontum itu.. bangsa ini hendak bangkit. Antara waktu, perjuangan dan zaman, sejarah dan peradaban, negeri ini tertemukan simpul perjuangannya, simpul kebangsaannya. Negeri ini memiliki banyak pejuang, banyak patriot dan putra terbaik yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Sejak berabad-abad silam. Simpul kebangsaan kami secara tabu dan sederhana telah terpaparkan di atas.

Dan saat ini segenap anak negeri ingin memperkuat simpul kebangsaan itu. Kami hendak bangkit. Kami ingin meraih cita-cita, memenuhi janji-janji kemerdekaan para pejuang dan pahlawan. Dan benang dari simpul itu semua mampu tertali dengan kuat dan sempurna oleh Islam. Bagi saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, kita memiliki simpul kebangsaan yang kuat yang kita telah bersepakat yakni Piagam Jakarta, Pancasila, UUD 1945.

“pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya”, (Ir. Soekarno)

soekarnoJangan menghalangi kami BANGKIT!
Nyuwun sewu.. #kalem 🙂

Kembali kepada Musa dan Syeikh Rasyid, semoga semakin banyak generasi anak negeri ini yang seperti kalian. Mewujudkan peradaban Indonesia yang unggul, berjaya, merdeka dan bermartabat dengan izzah dari al quran, Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin.

(Rangkaian simpul dari Istanbul, Doha, Jakarta), 4 Juli 2014. Ramadhan ke-7.