Tag Archives: pemimpin

Saya & Orang-orang Tercinta PilihanNya

Akad Nikah di Kendal
Akad Nikah, Kendal, Jumat, 30 Januari 2015
Jpeg
Keluarga Kendal
img_7829
International Conference sekaligus Honey Moon di Turkey
Jpeg
Wisuda Sarjana Strata 2, Master of Accounting, Universitas Indonesia
12119006_10207696431226076_7797281786182009655_n
Lahirnya Muhammad Alfatih Harjunadhi, 9 November 2015
Now He is growing, be a good servant of Allah, aamiin
Now He is growing, Muhammad Alfatih Harjunadhi be a good servant of Allah, aamiin
Advertisements

Identitas Pemimpin Orang Indonesia

“BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM”

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun …

Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati …

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya …

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.
Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks prooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”.

Ya.. orang besar, adalah ia yang berjiwa besar..
Sikap pahlawan, hanya bisa dipahami oleh seorang pahlawan.. Ia yang menghargai jerih payah, menghargai ide gagasan, meski berbeda pendapat bahkan ideologi..Sikap kepahlawanan memang mahal..
Dan tak lupa satu lagi.. bangsa ini ditegakkan oleh darah para pahlawan, airmata para bidadari istri dan ibunda pahlawan yang tanpa henti mengetuk pintu-pintu langit munajat.. bukan uang yang mereka harapkan atas para lelaki kebanggaan mereka yang sedang berjuang.. bukan pula jabatan..

adalah KEBERKAHAN PERJUANGAN dan KOKOHnya jiwa semangat ghirah untuk mengoyak dan mengusir penjajah kapitalis, liberalis, imperialis, penguasa-penguasa lalim, pengkhianat-pengkhianat nan pengecut..

Ah.. indahnya akhlak mereka.. para orang Indonesia, bukan pendendam.. bukan perampok.. bukan pengkhianat.. entah rakyatnya, entah pemimpinnya… semuanya adil, mereka semua beradab… dua hal yang sangat identik dengan nurani dan kemanusiaan..identik dengan mereka yang berjiwa ksatria dan pahlawan..identik dengan orang Indonesia..

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung rasa adil, adab.. dan tiada mampu dua hal tersebut kecuali mereka yang menyadari Ketuhanan [hukum Tuhan] yang Maha Esa..

Sila-sila yang kokoh, penuh inspirasi, hikmah, menjulang tinggi nilai nan menghujam dalam samudra makna… Pancasila yang merupakan fondasi dan dasar hukum tertinggi bangsa kita … bangsa, orang-orang Indonesia..

Itu.. identitas pemimpin, orang Indonesia..

Lantas, jika ada pemimpin di negeri ini, atau orang-orang yang mengaku berbangsa negeri ini, namun mereka tanpa rasa adil, tiada keindahan adab, serta nilai-nilai lain dalam Pancasila itu.. apakah masih benar bisa disebut orang Indonesia?

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut. Jadi besar atau kerdil. Jadi pemaaf atau pendendam. Jadi penuh empati atau suka menghakimi. Jadi penyebar damai atau penebar fitnah. Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya. Bukan hanya siapa yang menang, tapi bagaimana sikap yang kalah.

kaifa takuunu yuwallaa ‘alaykum.. – bagaimana kamu, begitulah yang akan memimpinmu.. Pemimpin cermin rakyatnya, rakyat cermin pemimpinnya..

wallaahu’alam bishawab..

Gubahan @agastyaharjuna – untuk pemilihan pemimpin, orang Indonesia. – #PILKADA2015 serentak.

Yaa rabb, setelah kami mengupayakan, tolong sempurnakan.. pilihkan kpd kami pemimpin orang Indonesia, yang mendatangkan pertolonganMu. aamiin

Barat: Dosa-Dosa Erdogan, Pemimpin Islam Era Baru

The Brightest Rising Star of Islamic World Leader. Rasanya julukan ini tak berlebihan untuk beliau, yang membangun negara paling sekuler di dunia menjadi negeri yang begitu harmoni dengan suasana islami. Presiden Turki.

erdogan

Namun dunia barat tak pernah berhasil mencintainya. Telah lama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dipandang sebelah mata oleh pihak yang berseberangan dengan Islam. Ia dikatai “bodoh”, bahkan “pendosa”. Untuk mengetahui “kebodohan dan dosa-dosa” apa saja yang dilakukan Erdogan, berikut Tim Arrahmah kutipkan dari artikel penulis Yordan, Ihsan Al Faqih, 26 Desember lalu pada media Achahed. Continue reading Barat: Dosa-Dosa Erdogan, Pemimpin Islam Era Baru

Kaidah Bermuamalah dengan Pemimpin

Islam adalah agama yang begitu mulia. Setiap syariat dan syarahnya memiliki kedalaman. Tak hanya ilmu, namun juga adab yang dari sanalah basis peradaban dibangun. Peradaban adalah satu kesatuan tatanan sosial yang berketuhanan dan berkeadilan, menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempat dan menempuh perjuangan, proses taqwa dan mujahadah sesuai dengan kaidahnya.

Continue reading Kaidah Bermuamalah dengan Pemimpin

Kami Muak dan Bosan

“Kami Muak dan Bosan”.

Dahulu di abad-abad yang silam
Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian
Alamnya indah,gunung dan sungainya rukun berdampingan,
pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan
Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan
Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan
Dan kesetiakawanan
Semuanya ini fondasinya adalah
Keimanan

Tapi,
Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok,
Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu
Negeri penyogok dan koruptor,
Negeri yang banyak omong,
Penuh fitnah kotor
Begitu banyak pembohong
Tanpa malu mengaku berdemokrasi
Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi
Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji
Continue reading Kami Muak dan Bosan

Sunan Kalijaga dan Kehormatan Pemimpin

Tahukah kita bahwa sunan Kalijaga adalah salah satu sunan yang melakukan dakwah Islam dengan metode akulturasi. Yakni mengkombinasikan kearifan lokal, paribasan (peribahasa), tembang lan tembung, dll. Warisan sastra jawa dengan bahasa yang sarat akan makna, nilai moral dan nasihat ini sangat menarik dan mudah diterima penduduk jawa ketika itu. Tembang yang sangat mahsyur adalah tentang Lir Ilir. Insya Allah akan saya post di tulisan berikutnya.

Nah, seperti halnya lir ilir, nyanyian Gundul-gundul Pacul juga memiliki makna yang mendalam. Ini adalah sebuah isyarat tentang kepemimpinan. Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

“Gundul gundul pacul-cul, gembelengan.
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…”

Maknanya kurang lebih seperti ini:

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasihat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

GUNDUL-GUNDUL PACUL CUL artinya orang yang di kepalanya sudah kehilangan 4 indera di atas yang mengakibatkan sikapnya berubah jadi GEMBELENGAN congkak).

NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).

Sumber : http://www.islampos.com/gundul-gundul-pacul-lagu-untuk-pem…/

Tuhan Hanya Satu, Sementara Pintu Keluar Tidaklah Satu

Dalam roda kehidupan Allah telah tetapkan takdir terhadap hambaNya. Sejak zaman azali dan  semua telah ada Qadar (ukurannya) dan semua akan terjadi sesuai dengan kehendakNya.

Allah yang paling tahu kita, Dialah yang paling mengerti siapa kita, dan skenarioNya lah yang terbaik untuk kita. Tak perlu takut ataupun putus asa karena Allah selalu bersama hambaNya yang senantiasa berserah diri kepadaNya.

Di suatu zaman ada kisah salah seorang raja menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang tukang kayu yang tidak jelas kesalahannya apa.

Berita tentang keputusan itu bocor kepada si tukang kayu sebelum pengumuman resmi keluar. Akibatnya ia tidak bisa memejamkan mata untuk tidur di malam itu.

Istrinya menasehati: “Tidurlah di malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Tuhan itu hanya satu, sementara pintu keluar dari suatu masalah sangat banyak”.

Kalimat yang menentramkan itu tepat masuk ke dalam hatinya, hingga ia bisa menenangkan diri, dan ia pun bisa tidur di malam itu. Dia baru terbangun di pagi hari ketika pintu rumahnya diketuk oleh beberapa orang prajurit.

Wajahnya langsung menjadi pucat. Dia melihat kepada istrinya dengan pandangan putus asa, menyesal, dan sedih karena telah mempercayai kata-katanya semalam.

Dia membuka pintu dengan kedua tangan menggigil. Dia ulurkan tangannya ke arah pengawal supaya diikat.

Para pengawal yang datang itu berkata kepadanya penuh keheranan: “Raja sudah wafat, kami meminta kamu untuk membuatkan sebuah peti mati untuk baginda”.

Waktu itu juga wajahnya berubah karena tidak jadi dihukum mati. Kemudian ia melemparkan pandangan tanda mohon maaf ke arah istrinya.

Istrinya tersenyum.

Hikmahnya,  kadangkala seorang hamba sampai letih karena berfikir, sementara Allah yang memiliki semua rencana dan aturan. Kita sebagai orang beriman hendaknya bertaqwah dan bertawakkal kepada Allah untuk segala urusan yang kita tidak mampu kuasai dan tidak kita ketahui. Al quran telah memberikan contoh kisah, yang sebagai seorang mukmin kita harus mengambilnya.

Untuk para mukmin dan terlebih pemimpin, siapa yang merasa hebat karena jabatan, hendaklah ia mengingat Fir’aun. Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia mengingat Qarun. Siapa yang merasa hebat karena keturunan, hendaklah ia mengingat Abu Lahab.

Kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Allah satu-satunya. Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia cabut dari siapa yang Dia kehendaki juga.

Nasihat lain utk penulis dan untukmu saudara-saudaraku… dalam kehidupan sehari-hari kita menghadapi berbagai macam ujian dan masalah. Jangan hukum masa depanmu dengan kondisi hari ini, Allah Maha Kuasa merubahnya dalam waktu sekejap. Tugas kita hanya berusaha dan terus berdo’a.

Diambil dari tulisan Mila Azkiyah, dari Zulfi Akmal. Disesuaikan tanpa mengurangi makna dan pesan yang disampaikan.

doa dan doa

“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)

Doa yang perlu kita dawamkan dari rasulullah saw.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي
فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)

Menjawab Keimanan dan Keadilan Pemimpin

Telah sama-sama kita ketahui bahwa tidak ada kepemimpinan kecuali adanya sebuah keyakinan yang diwujudkan. Tidak ada kepemimpinan kecuali didasari oleh ideologi yang tegas ditegakkan. Sebuah keyakinan yang menjiwai gerak langkah seseorang untuk memperjuangkan hingga tetes darah penghabisan.

Ideologi akan mendorong seseorang memiliki kepercayaan (iman). Iman adalah sebuah kondisi jiwa yang yakin akan sebuah janji. Keimanan akan diwujudkan dalam menghujamnya kemantapan hati, lisan dan perbuatan. Kesesuaian antara hati lisan dan perbuatan inilah yang membuat setiap pemimpin diikuti. Ia tidak munafik, apalagi khianat.

Silih berganti kepemimpinan negeri ini telah terjadi, namun keadaan bangsa belum seperti yang dicita-citakan. Padahal kita telah merasakan kemerdekaan dan kemandirian pemerintaahn sejak tahun 1945. Lebih dari 60 tahun pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia seolah masih saja jauh belum terlaksana secara merata.

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul Inilah Presidenku Nanti, penulis memasukkan kriteria pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan memimpin masyarakat yang plural, memahami kemajemukan bangsa. Kemajemukan ini membutuhkan keadilan sejati. Ia tegas dan konsisten penjagaannya terhadap prinsip-prinsip masing-masing golongan. Ia pemimpin yang adil, bukan pemimpin plural. Dan perlu diketahui bahwa tidak ada konsep keadilan sejati yang terbaik selain dari konsep Islam. Pemahaman tersebut juga bersyarat bahwa hanya orang berimanlah yang mampu menerapkan keadilan bagi seluruh golongan.

Sebagai bukti, apakah anda mampu menjawab bangsa mana yang memiliki toleransi melebihi bangsa Indonesia? Di mana mayoritas berpenduduk muslim namun sangat menghormati prinsip agama dan golongan lain?

Di Indonesia, orang kafir (non muslim) diberikan hak untuk berprestasi dan berkarya yang sama. Sesuai kapasitas diberikan kesempatan menjabat sebagai pejabat pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang islam. Apakah ada di Negara barat atau eropa yang mayoritas non muslim, umat Islam diberikan kewenangan untuk duduk bersama dalam parlemen atau kursi pemerintahan?

Sangat jelas bahwa ketika muslim menjadi minoritas, terjadi diskriminasi. Bahkan yang kita tahu hingga ada pembersihan etnis muslim di Afrika tengah, Suriah, Myanmar, dll. Namun dunia dan PBB bungkam. ini jelas menjadi bukti bahwa Tuhan ternyata tidak memberikan karunia sifat adil yang sejati kepada pemimpin yang non muslim. Ada dimensi iman yang tak mampu dipahami oleh orang kafir apalagi mereka yang tidak percaya tuhan. Padahal bangsa kita tegas menjadikan ideologi sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Esa adalah tunggal, dan tiada Tuhan yang tunggal selain Allah.

Nah pemimpin yang mampu menghormati, menjaga dan menciptakan keharmonisan kehidupan berbangsa yang majemuk adalah pemimpin yang adil, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Islam diturunkan sebagai agama rahmatan lil aalamiin yang adil, yang menegakkan kemaslahatan bagi seluruh elemen. Pemimpin yang beriman, menjaga keimanannya dengan bertakwa, ia akan dituntun oleh Tuhannya untuk tidak berbuat sia-sia apalagi aniaya/dzalim. Pemimpin yang beriman, yang adil akan menjamin 5 hal diantaranya adalah:

Pertama, menjaga agama. Ini adalah dharuriyat tertinggi dalam Islam. Islam akan menjaga agama agar tidak tercampuraduk antara yang haq dan yang bathil. Islam menghormati pilihan setiap orang untuk memeluk Islam maupun menolak Islam dengan syarat tidak memusuhi dan berbuat kerusakan (adu domba, penodaan agama). Islam tidak boleh memaksakan kehendak beragama, karena dalam Islam setiap amal harus ikhlas dan tanpa intervensi dari pihak-pihak lain. Saya yakin, selain Islam, tidak ada yang secara adil menjaga agama. Ini terbukti dengan terjadinya kasus-kasus yang saya sebutkan di atas.

Ke dua, menjaga jiwa. Konsep Islam tegas mengharamkan pembunuhan, yaitu menumpahkan darah sesama muslim, menumpahkan darah dzimmah (orang kafir yang hidup berdampingan dan tidak memusuhi islam)  serta mu’ahid (orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan muslim dengan persyaratan tertentu). Tuhan kami umat Islam yaitu Allah, mengancam keras bagi yang melanggar dengan ancaman dimasukkan ke neraka jahannam dan kekal di dalamnya. Tidak hanya itu, Allah juga menyediakan azab yang besar bagi si pelaku pembunuhan jiwa. (QS. 4:93)

Ke tiga, menjaga akal. Islam diturunkan untuk menjaga akal manusia. Perintah pertama dalam Islam adalah iqra, ilmu. Maka dengan ilmulah manusia dijaga oleh Allah akalnya sehingga mampu memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dari ilmu dan akal inilah muslim mengetahui halal dan haram, sehingga mencegah perbuatan yang merusak dan merugikan kepentingan orang lain apalagi kepentingan Negara.

Ke empat, menjaga harta. Islam menjaga keutuhan dan hak harta pada setiap individunya yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dalam konsep islam juga dididik bahwa mengumpulkan harta selain untuk kehormatan dan kemapanan hidup, juga untuk dikeluarkan zakatnya. Dengan ini, tidak akan terjadi kesenjangan sosial, si kaya dan si miskin mampu hidup harmonis menikmati kesejahteraan secara adil dan merata.

Selain itu, yakin bahwa apabila harta dikumpulkan oleh  orang-orang kafir maka digunakan untuk kepentingan penguasaan. Faham kapitalisme yang telah identik dengan sistem liberal yang didengung-dengungkan peradaban barat telah membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Yang kaya bisa melakukan apa saja. Ada memang sebagian orang kafir baik, tapi ketidakfahaman mereka tentang adanya hari hisab kelak membuat mereka tidak lepas dari kehidupan bersenang-senang yang identik dengna miras, prostitusi, keserakahan eksploitasi alam, menghalalkan segala cara, dll.

Di tangan orang beriman, harta akan berputar pada pusaran-pusaran kebaikan. Contoh zakat, infaq, sedekah, dakwah, pembangunan sarana publik, dan benar-benar utk kesejahteraan bersama.

Ke lima, menjaga nasab (keturunan). Islam melarang penganutnya untuk melakukan pergaulan bebas,  zina seperti yang difahami oleh paham liberal. Islam melarang muslim melakukan kawin sejenis,  dan berperilaku tidak semestinya sesuai gender. Islam menjaga kejelasan status seorang anak dengan ikatan perkawinan yang sah disaksikan oleh segenap orang yang beriman dan direstui oleh Tuhan.

Nah, itulah konsep keadilan yang berketuhanan yang maha esa dengan iman. Orang seperti inilah yang berhak menjadi pemimpin negeri ini. Yaitu orang beriman, yang memahami bahwa dia memimpin bukan semata-mata untuk kepentingan partai dan konstituennya, tapi  untuk kepentingan rakyat. Ia yang memahami bahwa pengabdian menjadi pemimpin adalah pelayan umat, menjamin kesejahteraan rakyat, melakukan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya adalah ibadah kepada Tuhannya. Ia akan menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan nasab untuk semua golongan. Insya Allah Indonesia akan damai, sejahtera, makmur dan sentosa.

Inilah Presidenku Nanti

Indonesia adalah Negara yang amat luas, beragam etnic, agama, budaya dan masih banyak lagi. Kekayaan alam dan SDM ini membutuhkan intelektual yang cakap dalam pemanfaatannya secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat. Kekayaan etnic dan ragam agama pun akhirnya membutuhkan kepemimpinan yang handal dalam harmonisasi kehidupan bermasyarakatnya. Selama ini, pemerintahlah yang mengatur dan memberdayakan semua yang berkaitan dengan pembangunan bangsa.

Tahun ini adalah tahun kepemimpinan. Pesta demokrasi 5 tahunan yang menghabiskan dana kurang lebih 170 Triliyun untuk memilih pemimpin-pemimpin yang mewakili aspirasi rakyat akan segera dihelat. Alangkah sayang jika dalam pemilu ini tidak menghasilkan pemimpin yang tepat. Oleh karena itu, izinkan saya memberikan gambaran kriteria pemimpin Indonesia nanti.

Pertama, Indonesia butuh sosok pemimpin yang mampu memahami kemajemukan (pluralistik) bangsa. Plural adalah keadaan di mana perbedaan secara prinsip tidak bisa dihindarkan, namun keharmonisan hidup wajib dihadirkan. Masyarakat plural membutuhkan pemimpin yang adil, bukan pemimpin yang plural.

Pemimpin yang adil konteks ini adalah yang menghormati pluralistik secara konsisten dengan cara yang konsisten. Maksudnya adalah bahwa masyarakat diberikan aturan sedemikian rupa sehingga saling menghargai prinsip masing-masing tanpa meminta untuk diikuti, membiarkan prinsip masing-masing tanpa ada motif secara paksa untuk mempengaruhi. Jika aturan tersebut dilanggar atas nama apapun, pemimpin harus tegas memberikan sanksi hukum yang menjerakan. Maka pemimpin yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Selain itu, kriteria kedua yang harus dimiliki oleh calon pemimpin di Indonesia adalah yang memiliki determenasi sosial tinggi. Ia mampu membaca peta perubahan sosial Indonesia maupun dunia.

Yang ketiga, pemimpin Indonesia harus memiliki kapasitas membawa Indonesia menuju masyarakat yang terjamin pendidikan dan adabnya. Karena pendidikan tanpa adab hanya akan menghasilkan masyarakat yang tak bermoral. Ujung ujungnya menghasilkan pemimpin yang banyak gelar tapi miskin hikmah dan rendah moralnya.

Terakhir pemimpin Indonesia nanti harus memiliki kapasitas membangun Indonesia secara ekonomi dan geopolitik menuju Indonesia yang mandiri.

Dalam menjalankan semua amanah tersebut, harus dilandasi rasa cinta kepada bangsa, Negara dan agama. Dengan begitu, pemimpin Indonesia akan teguh menjaga kehormatan bangsa Negara dan agama, dan tidak mudah menggadaikan identitas ideologi hanya demi kucuran uang dana bantuan.

Sungguh negeri ini kaya dan berdaya jika dipimpin oleh pemimpin yang tangguh dan amanah.

Ulama dan Umara

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".
Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I’tiqad.

Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qal’i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: “Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain”.

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari’at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi”. (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama’) berkata: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I’tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: “Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: “Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara’, dan sebaik-baik umara’ adalah orang yang mendekati ulama”. Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa’ rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: “Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur’an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara’, KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: “Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi”.

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: “Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana’ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya’bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Ditulis oleh : Henri Shalahudin (mustanir.net)