Tag Archives: ulama

HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

“..kabar-kabar tentang Paduka telah sampai pada kami bersinar bagai permata. Tetapkanlah hati. Paduka akan beruntung jika Paduka bekerja semata karena takwa pada Allah. Janganlah takut akan kemalangan dan jauhilah segala perbuatan jahat. Jika orang melakukan yang demikian, akan dia temukan surga tanpa awan dan bumi tanpa kotoran..”

Surakarta, 1772.

Tiga surat berbahasa Arab beserta bendera bertulis “La ilaha illallah” yang diserahkan Patih Kasunanan, Raden Adipati Sasradiningrat itu menggemparkan kediaman Residen F.C. Van Straalendorff. Salinan terjemah dari salah satu nawala yang kemudian dikirim ke Batavia bahkan membuat Gubernur Jenderal VOC, Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) sukar tidur, meski Sasradiningrat bersumpah bahwa tak seorang Jawapun yang telah membaca surat itu selain dia dan carik (sekretaris)-nya.

Continue reading HAJI: MANUSIA BERBAHAYA

Tujuan Berilmu

Kajian IU Sabtu 22 Nov 2014
bersama Ust Farid Okbah.

Allah menurunkan Nabi dengan Ilmu bukan dengan harta. Surat an Nisa ayat 113. Ilmu ini adalah ilmu yang harus kita raih.

Apa yang diperoleh dari Allah dan RasulNya adalah absolute
Tidak mungkin dapat ilmu dari Allah itu diperoleh melainkan dari contoh Rasulullah SAW, seperti contohnya pada surat Al An’am 82 di mana para sahabat khawatir atas keamanan atas hidayah.

Diterangkan oleh Rasulullah dengan surat Luqman ayat 13. Para sahabat mempunyai pengertian dzalim yg dimengerti di ayat itu adalah dzalim kepada diri sendiri dimana pengertian sebenarnya dijelaskan dari Rasulullah adalah dzalim kepada Allah.

Itulah kenapa ilmu agama yg dijelaskan tanpa melalui Rasulullah shalallahu’alayhi wassalam pasti sesat.

Dzalim ada 3:
– Dzalim kepada Allah
– Dzalim kepada manusia
– Dzalim kepada diri sendiri

Contoh lain adalah ayat aqiimushshalat, dimana Nabi SAW menjelaskan dari awal s/d akhir. Contoh lain nya adalah ilmu waris.

Karena hanya Nabi SAW yg diberikan otoritas membawa petunjuk dan agama Allah, Al Qaf 9

Landasan agama harus al Qur’an dan Sunnah. Ilmu yang bersumber dari al Qur’an dan hadith2 Nabi yang merupakan wahyu dari Allah juga, tetapi disampaikan melalui ekspresi Nabi SAW

Sumber2 utama agama Islam:
– AL Qur’an
– Hadith Nabawiyah
– Hadith Qudsi -> Makna dari Allah, lafadznya dari Nabi SAW

Tujuan belajar ilmu, untuk menghindari dari kebodohan, Ilmu itu belajar tetapi berubah dan bermanfaat spt surat Ash Shura 52

Belajar ilmu ada tiga macam: (Ibnu Rajab al Hanbali)
1 Tidak pernah berubah sejak belajar ilmu, tidak ada realisasinya. Ini contoh dimana ilmunya akan menjadi ancaman.
2 Diawal tidak tahu dan ia belajar ilmu, sehingga ada perubahan di dirinya, namun masih batasan yang wajib-wajib. Disebut nya adalah Ashabul yamin
3 Diawal tidak mengerti dan belajar ilmu, sehingga ia bertotalitas untuk merubah dirinya dengan sami’na wa atho’na. Disebut dengan al Muqarrabun

Ulama ada tiga jenis:

1. Ulama yang memahami kebenaran ilmu al Qur’an dan Sunnah. Aalimun billah wa aalimun bi syariatillah. Dan ia berkomitmen menegakkan hal tersebut sekuat tenaganya
2. Ulama yang paham hubungan kepada Allah, tetapi tidak memahami syariat Allah. Aalimun billah.
3. Aalimun laa bisyariatillah. Ilmunya sebatas pemahaman namun tidak diaplikasikan

Ukuran Ulama, al Fatir 28, yaitu takut kepada Allah…

Mendalami ilmu agama adalah keharusan, untuk diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain….Surat Al Ashr…

Ilmu agama yang harus kita pegang, ada 8 point (Ilmu Al Qur’an & Sunnah):
1. Keyakinan bahwa Syariat Allah lah yang paling benar, yg diridhai oleh Allah sampai di hari kiamat.
2. Kesempurnaan Islam, yang tidak boleh ditambah maupun dikurangi.-> menerima Islam secara utuh, tidak perlu ditambah maupun dikurangin
3. Haram mengedepankan pikiran kita terhadap al Qur’an dan Sunnah
QS: Al Hujuraat: 1
4. Tunduk patuh secara totalitas. QS An Nisa 65
5. Wajib kembali al Qur’an dan Sunnah ketika terjadi perbedaan. QS An Nisa 59
6. Harus menolak segala ketentuan hukum yang bertentangan dengan Syariat.
7. Menutup segala pintu penambahan dalam Agama Islam
8. Amar ma’ruf Nahi Munkar

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya perumpaan hidayah dan ilmu yang Allah utusku dengannya adalah seperti hujan yang turun ke bumi, diantara bumi terdapat tanah yang baik, yang menyerap air lalu ia menumbuhkan padang gembala dan rerumputan yang tebal, diantara bumi terdapat tanah yang keras yang menampung air, maka dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia sehingga mereka bisa minum, memberi minum, dan bercocok tanam. Hujan itu juga turun diatas  tanah yang lain yang merupakan tanah tandus yang tidak menampung air dan tidak menumbuhkan padang gembala. Itulah perumpamaan orang yang memahmi Agama Allah, Allah memberinya manfaat dari apa yang Dia mengutusku dan perumpaan orang yang tidak sudi mengangkat kepala dengannya dan tidak menerima hidayah yang dengannya aku diutus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Umat Manusia dalam menyikapi Islam:

Mu’min, berapa pun petunjuk yang diterima, ditampung dan dipraktekkan/dijalani/disampaikan. Ibarat tanah yang subur. QS Ibrahim 24-25. Pohon kurma, tidak pernah tumbang karena hujan, buahnya dapat dikonsumsi sepanjang tahun. Tanahnya adalah hatinya, akarnya adalah iman, buahnya adalah akhlak mulia.

*maaf ya hanya point2nya saja. Kurang naratif.. sedang belum sempat re-write.. :p

Ulama dan Akhlaq

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Penuntut ilmu yang datang di majelis Imam Ahmad 5.000 orang atau lebih, 500 menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliau”.
(Syiar A’lamunnubala’:11/316).

Berkata Abu Bakar Bin Al-Muthowi’i: “Saya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anak²nya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliau”.
(Siyar A‘lamunNubala’:11/316).

Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri-rohimahulloh-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”.
(Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361).

Berkatalah Abdullah bin Mubarak-rohimahulloh-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446).

Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120).

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rohimahulloh-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Hilyah: 17. Jami’li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49).

Berkata Abdulloh bin Mubarok: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain-rohimahulloh-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit drpd hadits walaupun banyak”.
(Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80).

Mengapa demikian ucapan para ‘Ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yg masuk kepada seseorang yg memiliki adab yg baik akan bermafaat baginya & kaum muslimin.

Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari-rohimahulloh-:
“Ilmu tanpa adab spt api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu spt jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Saya pernah menyampaikan ini di beberapa kesempatan pertemuan bahwa ilmu tanpa didahului adab, ia lemah, bagai orang buta dan bahkan percuma. Kepintaran yang diperolehnya justru menggelincirkan diri sendiri dan berdampak kerusakan kepada orang lain.

Bagi insan muslim, mukmin, muslih, muhsin.. akhlaq yang baik adalah wajib. Itulah kenapa rasul sawa mengisyaratkan “Qul khairan aw liyasmuth”, karena akhlaq ucapan yang baik didengarkan oleh seluruh manusia. Dan beginilah bagaimana cara berdakwah mendahulukan kebaikan menuju tahapan-tahapan kebenaran.

Mempelajari dan berakhlaq yang baik bahkan menurut ulama mendahului pentingnya berilmu itu sendiri. Rasulullaah shalallaahualayhi wasallaam telah mencontohkan, sebelum diutus menjadi rasul beliau terlebih dahulu meneladankan akhlaqul kariimah selama 40 tahun hingga beliau wafat.

Wallaahualam bishawab. (Tebet, A.H 10/10/2014)

Kaderisasi Ulama Dunia – Robithoh ‘alam Islamy

Dalam rangka kaderisasi ulama, Ma’had ‘Idad aimmah wa du’at, Mekkah Al mukarromah, di bawah bimbingan Robithoh ‘alam Islamy, membuka Program Satu Tahun. (Program Diplom ‘Aam – Dirosat ‘Ulya, Pasca Sarjana). Bagi teman-teman yang berminat, bisa langsung cek dan penuhi persyaratannya ya.

I. Persyaratan:

  1. FotoCopy ijazah S1 yg sudah dilegalisir, atau scanan ijazah berwarna (ijazah bukan arab, harus diterjemahkan melalui penerjemah resmi)
  2. Scan Paspor warna
  3. Tazkiyah 2 orang (DDII, Muassasah Ta’limiyah, Dosen, Asatidz, tokoh agama dll)
  4. Pas foto 4×6 (4 lembar) pendaftaran ini untuk angkatan ke (37), insya Allah, kalo keterima berangkatnya hajian 2015.

II. Materi kuliah untuk dua semester:

  1. Tafsir
  2. Hadis.
  3. Siroh.
  4. Fiqih
  5. Ushul dakwah
  6. Fiqh dakwah
  7. Khitobah
  8. Adyan wa firoq
  9. Hafalan alquran (Juz 27 & 28)
  10. Tsaqofah Islamiyah
  11. Hadlir ‘Alam Islamy
  12. Aqidah.
  13. Mu’awwiqa�t fi dakwah.
  14. dll

III. Fasilitas:

  1. Mukafaah bulanan 850 Real.
  2. Asrama plus makan.
  3. Tiket Pesawar PP (untuk berangkat, dibawar sendiri terlebih dahulu, kemudian akan mendapat penggantian)
  4. Haji bersama Para Tamu undangan Robithah alam Islamy.
  5. lokasi dekat masjidil harom, memungkinkan untuk sholat berjama’ah dan umrah setiap saat.
  6. Ada daurah-daurah tambahan, dan kajian Ulama-ulama di Masjidil Harom bagi yang ingin menambah ilmu tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
  7. Kitab-kitab gratis. 8. dll IV: Cara pendaftaran: Semua berkas dikirimkan melalui kantor pos, ditujukan ke alamat ma’had (tertera di bawah formulir) V. Batas akhir: Tidak ada batas akhir, karena ini adalah program tahunan Robithoh alam islamy. Semua berkas yang masuk ke idaroh qobul Ma’had akan ditampung lalu dirapatkan untuk penentuan kelulusan.

http://www.itimams.net/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=51&Itemid=92

Barakallaah.

Ulama dan Umara

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".
Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syariat Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I’tiqad.

Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qal’i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: “Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain”.

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari’at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi”. (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama’) berkata: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Talib berwasiat: “Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya”.

Namun demikian, imam al-Ghazali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I’tiqad bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan akidah. Lebih lanjut beliau berkata: “Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syeikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:

Fudhail berkata: “Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umara’, dan sebaik-baik umara’ adalah orang yang mendekati ulama”. Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.

Umar bin Abdil Aziz yang bergelar khalifah kelima dari khulafa’ rasyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahran: “Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkhalwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur’an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:

  • Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

  • Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umara’, KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: “Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi”.

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: “Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qana’ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syeikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatraf fi kulli fannin Mustazhraf. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya’bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Ditulis oleh : Henri Shalahudin (mustanir.net)

Apart of Them – MIUMI

Bismillaah alhamdulillaah.. melibatkan diri dengan sekumpulan ulama muda dan intelektual Indonesia.. Begitu banyak sekali inspirasi yang didapatkan..

“kenalkan dirimu kepada saudara-saudaramu seiman dan seperjuangan walaupun engkau tidak diminta, sebab azas dakwah kita adalah mahabbah (kecintaan) dan saling mengenal.”

Bagi saya, itulah azas berukhuwah dalam dakwah. Jangan malu, jangan menunggu. Beranilah dan proaktiflah utk berperan di dalamnya.

Alhamdulillaah, penulis diamanahkan untuk mensukseskan acara Deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Sebagai aktifis organisasi, bukan hal asing lagi memegang sebuah acara, namun sebagai aktifis dakwah, terlibat dengan ulama-ulama besar negeri ini adalah momen yang tak bisa dilewatkan. Acara alhamdulillah sukses dengan diliput banyak media baik online tv maupun cetak. Continue reading Apart of Them – MIUMI